SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 24 Januari 2017   -HARI INI-
  Senin, 23 Januari 2017
  Minggu, 22 Januari 2017
  Sabtu, 21 Januari 2017
  Jumat, 20 Januari 2017
  Kamis, 19 Januari 2017
  Rabu, 18 Januari 2017
POKOK RENUNGAN
Supaya kita yang percaya kepada-Nya dibimbing untuk memiliki kasih yang tulus kepada Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Memebentuk Kasih Yang Tulus
Memebentuk Kasih Yang Tulus
Selasa, 24 Januari 2017
Memebentuk Kasih Yang Tulus
Ibrani 2:9; Yesaya 53:2

Sekarang ini kita hidup pada zaman teknologi canggih. Manusia dimanjakan dengan teknologi sehingga segala sesuatunya menjadi serba cepat, akurat dan sangat menyenangkan. Semua menjadi enak, mudah dan selalu memiliki daya tarik. Semakin hari banyak orang secara pelan-pelan meninggalkan yang tradisional karena dianggap “ribet” dan tidak praktis. Sehingga masyarakat modern sekarang ini menjadi masyarakat yang menyukai segala sesuatu yang serba instan, enak, gampang dan menyenangkan. Itulah kehidupan di zaman ini, kita semua dipola untuk menjadi seperti itu. Tetapi kita perlu mengingat bahwa manusia pertama jatuh dalam dosa karena tertarik pada sesuatu yang enak untuk dimakan da...selengkapnya »
Seorang perempuan tengah baya duduk termenung dalam ibadah tutup tahun. Derai air mata membuat sinar lampu hiasan pohon natal semakin menyilaukan matanya. Kesepian mencekam hatinya di tengah-tengah sorak-sorai pujian umat Tuhan. Tahun lalu dia duduk dalam ibadah bersama suaminya di bangku yang sama, dia juga mendengar ucapan selamat Natal dan Tahun Baru dari putra tunggal tercinta yang tinggal nun jauh di sana tetapi sekarang dia sendiri tidak punya apa-apa dan siapa-siapa. Tuhan mengambil mereka dari dirinya. Hanya sebuah pertanyaan yang dia punya, “Mengapa ini semua harus terjadi Tuhan?” Pertanyaan yang sama mungkin saja keluar dari mulut kita. Dalam Alkitab sering pertanyaan serupa itu dilontarkan kepada Tuhan. Dari bangsa Israel yang bersungut-sungut ketika tidak ada makanan dan minuman sampai kepada Paulus yang mempunyai duri dalam daging. Sejarah umat manusia sarat dengan kisah tentang umat Tuhan yang tidak luput dari masalah. Salah satunya adalah kisah Ayub, laki-laki yang taat kepada Tuhan. Ayub bertanya kepada Tuhan mengapa masalah itu menimpa dirinya. Ayub ingin membela diri mengajukan perkaranya kepada Tuhan berkeluh kesah bahwa dia tidak sepatutnya mengalami masalah yang menimpa dirinya [ayat 2-7]. Tuhan seakan diam tidak memberi jawaban yang melegakannya [ayat 8-9]. Para sahabat menyalahkannya dan menganggap dia kena tulah karena berbuat dosa. Namun di tengah-tengah kebimbangan dan keraguannya ada satu pengakuan yang mengandung kepastian bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi dirinya. Jika Tuhan mengujinya, ia akan menjadi seperti emas murni [ayat 10]. Dia punya pengharapan dan keyakinan yang teguh. Kiranya pengharapan dan keyakinan Ayub juga menjadi pengharapan dan keyakinan kita di awal tahun ini. Di tengah-tengah terpaan masalah yang mungkin sempat membuat kita bimbang dan ragu, kita tetap yakin dan percaya bahwa Tuhan tahu jalan hidup yang terbaik bagi kita. Dia tidak akan meninggalkan kita, namun Dia sedang membentuk kita menjadi emas yang semakin murni.
Belum genap sebulan di awal tahun 2017, kita sudah menikmati kenaikan harga di berbagai bidang. Biaya pengurusan surat-surat kendaraan bermotor naik! Harga bahan bakar minyak [BBM] naik! Subsidi listrik 900 watt dari sebagian pelanggan rencananya akan dicabut! Beriringan dengan itu harga-harga kebutuhan pokok mulai ancang-ancang tak mau ketinggalan. Teringatlah akan sepenggal lagu lawas Iwan Fals “...orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi...” Namun apa boleh buat, kenyataannya memang demikian. Subsidi bisa ditarik sewaktu-waktu dan harga-harga menjadi menanjak tinggi atau sebaliknya bisa turun. Demikian konsekwensi sistem ekonomi pasar yang dianut pemerintah kita. Hanya jalan umum di Gombel dari arah Ungaran ke Semarang yang dari dahulu tidak pernah menanjak/naik. Kondisi ini bagi warga negara berbendapatan rendah dapat dipastikan menambah berat beban hidup mereka. Tuan Joko Ndokondo punya nasihat. Dikelilingi khalayak jemaat dari berbagai golongan usia dan jenis kelamin, di ruang interaksi gereja, tuan Joko Ndokondo memberikan wejangannya. Para Bhikku Buddhis mempunyai ajaran bahwa kemelekatan adalah sumber kesengsaraan manusia. Dalam pada itu, tujuan hidup manusia adalah lepas dari segala kemelekatan. “Berisi adalah kosong, kosong adalah berisi” demikian ajaran yang mungkin pernah kita dengar. Ajaran ini tidak sama persis dengan kekristenan. Namun ada kemiripannya. Dalam Kitab Habakuk tertulis bahwa ketika pohon ara tak berbuah, panen anggur gagal, kambing-domba tak ada lagi di kandang. Ngluyur entah kemana. Tetapi Nabi Habakuk tetap akan beria-ria di hadapan Tuhan. Wow...bukankah ini bukti ketidakmelekatan nabi pada harta milik dan kondisi yang terjadi. Rupanya semakin kuatnya kemelekatan kita pada Tuhan selalu berarti semakin kurangnya kemelekatan kita pada pada segala yang fana. Inilah kunci penemuan sukacita yang sejati. Dan seperti biasa “Ssstttt....jangan bilang siapa-siapa, ya?” ungkap tuan Joko Ndokondo menutup penuturannya. Jemaat yang terkasih, apakah kita termasuk pada orang-orang yang sedang terganggu karena kenaikan harga-harga? Ataukah tidak terganggu? Marilah kita uji hati kita dengan saksama. Darimanakah sumber kekuatiran atau ketenangan itu? Apakah kekuatiran dan ketenangan itu muncul karena kemelekatan kita pada materi? Pendapatan kita rendah karenanya kita kuatir? Sebaliknya pendapatan kita berlimpah maka damailah hati kita? Ini wajar tetapi sekaligus tantangan bagi kita yang mau menemukan sukacita sejati di dalam Tuhan. Oleh karena itu marilah kita bersama-sama belajar dari berbagai kondisi yang kita alami untuk mengalami sukacita karena kemelekatan kita pada Tuhan yang kita yakini pasti punya maksud baik bagi umat-Nya.
Orang-orang memanggilnya Tuan Joko Ndokondo karena selalu mengakhiri pembicaraan dengan kata-kata “jangan bilang siapa-siapa ya”. Meski terkesan aneh, orang-orang senang mendengarkan obrolan-obrolan ringannya. Tak terkecuali di awal tahun 2017 ini. Beberapa orang tertarik untuk mengetahui ulasannya mengenai tahun ini. Mereka hanya ingin mendengar pendapatnya tanpa punya maksud memperlakukan Tuan Joko Ndokondo seperti seorang dukun sakti mandraguna. Dukun yang kini diperhalus menjadi paranormal sehingga terkesan tidak angker dan lebih modern. Bahkan ada yang menyebut lebih mentereng sebagai penasihat spiritual. Pada awal tahun seperti ini, para dukun laris manis meraup rejeki dari orang-orang yang sekedar butuh kepastian. Apalagi kondisi tahun 2016 yang juga tidak lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Korupsi tak kunjung reda. Bahaya narkoba masih hasilkan korban-korban baru. Radikalisme agama dan intoleransi coba menghancurkan kebhinnekaan kita. Hantaman krisis ekonomi dunia tahun 2008 juga masih terasa dampaknya. Ancaman teroris terus mengintip menunggu peluang untuk melakukan aksi biadab. Dan berbagai bentuk kejahatan lainnya dan bencana alam mewarnai tahun yang sudah kita lalui itu. Kondisi tak stabil ini mendorong orang-orang, tak terkecuali para selebriti, pelaku bisnis, hingga para politisi datang ke para dukun pribadi mereka. Mereka minta diberi petunjuk sukses, “pegangan” atau setidaknya wejangan yang menentramkan hati dalam menapaki tahun yang baru. Lalu apa kata Tuan Joko Ndokondo? Tahun 2017 masih menjadi tahun perjuangan bagi Indonesia dan dunia. Perjuangan untuk mengatasi ancaman-ancaman tersebut di atas dan mewujudkan pemerintahan yang sehat, kondisi ekonomi yang berkeadilan bagi seluruh rakyat, dan kepribadian yang luhur. Menyikapi hal ini orang-orang percaya dilarang mengandalkan dukun atau jutawan atau penguasa sekalipun. Orang-orang percaya dipanggil untuk mengandalkan TUHAN dan menaruh harapan pada-NYA. Sebab TUHAN sajalah penguasa sejati, pencipta jagad raya, dan yang memegang hidup setiap orang. Mengandalkan dan berharap pada TUHAN berarti kita siap menapaki tahun 2017 dengan berani menghadapi tantangan dan percaya pada kuat kuasa TUHAN yang menyertai kita. Dan lagi-lagi “Stttt....tt, jangan bilang siapa-siapa ya?” kata Tuan Joko Ndokondo mengakhiri perkataannya. Jemaat yang terkasih, janganlah dilemahkan oleh kondisi yang belum membaik. Janganlah kita terlalu takut dan kuatir. Tetapi marilah berlutut dan merendahkan diri di kaki TUHAN. Berdoalah! Andalkan TUHAN dalam hidup kita! Sebab DIA-lah TUHAN pengharapan kita. Dan jalanilah hidup dengan berani dan penuh sukacita!
Orang percaya dikatakan sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang. Dalam hal apa? ’Dalam semuanya itu’, yaitu dalam penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya dan pedang. Bagaimana kita bisa menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang dalam hal-hal di atas? Paulus memberikan tiga kunci agar kita dapat hidup sebagai pemenang-pemenang dalam pergumulan hidup kita sehari-hari. Pertama, hiduplah dalam pertobatan yang sungguh. Roma 8:1-4 berbicara mengenai kemerdekaan sejati yang kita peroleh melalui karya penebusan Yesus di kayu salib. Setiap orang yang mau hidup berkemenangan, maka ia harus mengalami pertobatan dan perjumpaan dengan Yesus. Bila seseorang masih hidup dalam pertobatan yang semu, sekalipun ia rajin ke gereja atau melayani, maka ia tidak akan mengalami kemenangan demi kemenangan. Kita harus sungguh-sungguh hidup dalam pertobatan yang benar : tidak ada lagi dusta, fitnah, kebohongan dan gosip. Berhenti berjudi, stop narkoba, tidak lagi mabuk-mabukan, juga dengan tegas meninggalkan dosa-dosa seksual. Kedua, hiduplah dalam pimpinan Roh. Roma 8:5-17 berbicara mengenai hidup yang dipimpin oleh Roh. Setiap orang percaya yang mau hidupnya selalu berkemenangan haruslah peka untuk mendengarkan suara Penolongnya. Ia harus mengikuti semua arahan dan petunjuk yang diberikan oleh Roh Kudus. Baca dan renungkan Firman Tuhan, maka kita akan mendapat tuntunan bagi jalan hidup kita. Ketiga, hiduplah dalam pengharapan [Roma 8:18-30]. Bagaimana kita bisa hidup dalam pengharapan? Tidak ada cara lain selain kita harus dapat melihat dengan jelas apa yang menanti kita di kekekalan. Rasul Paulus dapat melihat hal itu sehingga dengan berani ia berkata, ’Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.’ Orang Kristen yang tidak bisa melihat apa yang menantinya di sorga, cenderung mudah kehilangan iman, kasih dan pengharapannya di dunia ini karena matanya melihat apa yang ada di dunia ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siap Sedia Selalu !
13 Januari '17
Berjalan di dalam Terang
07 Januari '17
Menemukan Sukacita Sejati
23 Januari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang