SEPEKAN TERAKHIR
  Rabu, 28 September 2016   -HARI INI-
  Selasa, 27 September 2016
  Senin, 26 September 2016
  Minggu, 25 September 2016
  Sabtu, 24 September 2016
  Jumat, 23 September 2016
  Kamis, 22 September 2016
POKOK RENUNGAN
Berbuat baik yang mungkin dianggap kecil masih jauh lebih baik daripada tidak berbuat baik sama sekali.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Gadis Berhati Mulia
Gadis Berhati Mulia
Rabu, 28 September 2016 | Tema: Jemaat Yang Tersusun Rapi
Gadis Berhati Mulia
Roma 15:1-6

Suzhou, Tiongkok, inilah tempat di mana kisah nyata tentang seorang gadis berhati mulia ini terjadi. Seperti biasa, seorang pengemis tua duduk di atas papan beroda miliknya. Sambil menjulurkan tempat sedekah miliknya, pengemis yang ternyata cacat tersebut terus memerhatikan orang yang lalu lalang di depannya. Tiba-tiba saja hujan turun. Pengemis itu bingung, tetapi apa mau dikata, dia tidak bisa lekas beranjak. Dengan sangat pelan dia mulai berpindah, tentu saja gerakannya ini tidak cukup untuk menghindar dari guyuran air hujan.

Namun sebelum hujan semakin bertambah deras, seorang gadis berlari dari pinggir toko di mana dia berdiri, membawa payung yang sudah dia buka dan mema...selengkapnya »
Dalam suatu acara apapun baik rapat, pertemuan, pernikahan, bahkan sampai perkabungan dalam pelaksanaannya selalu ada urutan acara yang harus dikerjakan. Misalnya seperti salam pembukaan, lalu sambutan-sambutan, baru kemudian diteruskan dengan isi acara, lalu kemudian penutup. Di sini menunjukkan bagaimana sebuah acara tersebut ditata dengan cermat dan teratur supaya jangan sampai ada hal yang terlewat atau ada hal yang janggal. Demikian juga dalam suatu kegiatan yang dilakukan untuk Tuhan baik dalam persekutuan ataupun ibadah. Adanya keteraturan menunjukkan bahwa ada kesungguhan dan penghargaan kita kepada Tuhan karena ibadah atau persekutuan ditujukan kepada Allah untuk memuliakan dan meyukakan Tuhan bukan diri kita sendiri. Kalau itu dilakukan dengan kesungguhan akan berdampak pada kedewasaan iman dan sukacita umat. Niat baik tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa ibadah kita sudah benar, oleh sebab itu dalam ibadah perlu adanya keteraturan karena keteraturan bermanfaat untuk membangun ibadah yang benar di hadapan Tuhan. Inilah yang dimaksud Paulus untuk dilakukan oleh jemaat Korintus supaya dalam menjalankan ibadah atau persekutuan bersuasana gembira, namun juga tertib dan hormat. Karena dalam suatu ibadah akan selalu ada pelayanan berbagai karunia rohani oleh masing-masing anggota jemaat, namun harus dengan bergilir secara teratur dan tertib bukan dengan menonjolkan karunia masing-masing bahwa karunia yang dimiliki lebih dari yang lain sehingga dapat mengakibatkan perpecahan. Ibadah/persekutan dalam jemaat seharusnya terpusat kepada Tuhan dan seharusnya setiap anggota yang hadir lebih mengutamakan yang lain ketimbang dirinya. Karena setiap anggota memiliki sesuatu dari Roh Allah yang perlu ia bagikan demi keutuhan dan membangun iman jemaat, bukan membanggakan karunia yang ia miliki lebih dari yang lain. Jadi Fokus ibadah bukanlah manusia tapi Allah. Ketika itu dilakukan, maka ketertiban dan keteraturan terwujud.
Dalam realitas dijumpai orang kristen yang melayani Tuhan dengan motif yang berbeda. Bagi orang Kristen baru, belum dewasa rohani karena belum memahami kebenaran Injil secara memadai, bisa berpola pikir “memanfaatkan Tuhan”. Mereka rajin ke gereja, terlibat dalam aktivitas rohani gereja dengan tujuan supaya Tuhan memberkati hidupnya, kebutuhan jasmani dipenuhi, problem dalam hidup cepat dan mudah mendapat solusi, bila sakit segera mendapat kesembuhan secara mujizat, dsb. Mereka berpikir bahwa kalau sudah percaya pada Tuhan Yesus, maka Tuhan bertanggung jawab atas kehidupannya, sehingga selalu mengharapkan bagian Tuhan digenapi. Fokus hidup seperti ini, yaitu menggunakan kebaikan dan kuasa Tuhan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani akan berakibat: • Hidup tidak bertanggung jawab, memikul kewajiban dengan bekerja keras [Kejadian 1:28]. • Fokus hidupnya tidak ditujukan pada Kerajaan Surga dan cenderung terus mencintai hal-hal fana/duniawi [Matius 6:31-32]. • Tidak membangun sikap berjaga-jaga menghadapi musuh yang sangat cerdik [1 Petrus 5:8]. Di dalam ayat bacaan kita temukan pengajaran Tuhan Yesus supaya kita sebagai hamba Tuhan terus belajar melayani Tuhan dengan asas devosi, yaitu dengan kesetiaan, ketaatan, dan kasih yang dalam [pengabdian tanpa batas dan tidak bersyarat]. Untuk itu diperlukan pemahaman yang dalam dan kesadaran penuh bahwa: • Hidup kita telah ditebus dari kesia-siaan dengan harga yang sangat mahal [1 Petrus 1:18-19]. • Hidup kita bukan milik kita sendiri [1 Korintus 6:19-20]. • Kita berhutang untuk hidup menurut Roh, yaitu hidup sesuai dengan kehendak Allah [Roma 8:12-13] dan tidak sekedar mentaati hukum. Jadi kita sebagai pengikut Kristus harus terus bertumbuh menjadi murid Kristus yang rela dididik supaya dewasa rohani [tidak sekedar dewasa mental]. Sebagai seorang hamba yang menyadari posisinya di hadapan Tuhan, siap setiap saat melakukan kewajiban yang dilandasi sikap rendah hati. Hal ini akan menyenangkan hati Tuhan sebagai pemilik hidup kita dan majikan yang harus kita layani.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam membangun adalah bekerjasama. Membangun apa saja tentu diperlukan suatu kerjasama. Siapa pun yang mengerjakan apa saja jikalau dikerjakan sendiri akan berbeda hasilnya dibandingkan dengan bekerjasama. Hasilnya akan jauh lebih baik dan sempurna. Apakah itu membangun rumah, jembatan ataupun membersihkan kampung. Bahkan untuk mengerjakan sesuatu yang sifatnya pribadi pun tetap membutuhkan uluran tangan orang lain atau setidaknya masih terkait dengan orang lain. Misalnya: mengerjakan skripsi, tesis, tugas akhir, dsb. Demikian juga dalam kehidupan berjemaat dalam membangun tubuh Kristus, kita harus saling bekerjasama dan saling tolong menolong dalam segala hal. Mengapa harus bekerjasama dan saling tolong-menolong dalam membangun tubuh Kristus? Rasul Paulus memberikan beberapa alasan kepada jemaat Galatia terkait masalah ini. Pertama, semua orang [termasuk orang kristen] tidak kebal terhadap pencobaan [ayat 1]. Ketika rekan kita sedang menghadapi masalah atau pelanggaran maka tugas kita yang kuat adalah memberi pertolongan dengan cara memimpin kepada jalan yang benar dengan roh yang lemah lembut, sambil menjaga diri sendiri. Kedua, karena kita semua mengasihi Tuhan [ayat 2-3]. Kita menolong saudara kita yang sedang menghadapi persoalan dengan semangat kasih Kristus. Dengan demikian kita disadarkan bahwa kalau kita bisa menolong itu bukan kuat dan gagah kita, tetapi hanya karena Tuhan saja sehingga jangan ada yang merasa kuat tanpa Tuhan [ayat 3]. Ketiga, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah [ayat 7]. Artinya dengan saling menolong maka kita mengikuti kehendak Tuhan. Kita terhindar dari dosa mementingkan diri sendiri dan berbagai dosa kedagingan [ayat 8]. Tuhan tidak menghendaki orang-orang yang telah lahir baru jatuh dalam dosa kedagingan. Keempat, apa yang kita lakukan akan kita tuai [ayat 9]. Apa yang kita lakukan, yaitu sikap kita terhadap pertumbuhan tubuh Kristus itu kelak akan kita tuai. Saudara, mari kita memperhatikan dengan baik ke empat alasan hal di atas. Semua itu merupakan landasan praktis yang bisa kita wujudkan demi pembangunan tubuh Kristus. Mari kita bersemangat untuk menghidupinya mumpung masih ada kesempatan [ayat 10].
Tanggal 18 Agustus menjadi tanggal yang saya nanti-nantikan di masa kecil. Mengapa? Karena ditanggal itu ada karnaval dalam rangka merayakan kemerdekaan negara kita. Rasa sukacita menanti saat-saat menonton karnaval itu masih bisa saya rasakan sampai saya dewasa. Banyak hal yang bisa menghibur saya dan masyarakat ketika menyaksikan acara itu. Orang-orang berpakaian adat, bermacam kesenian daerah, pertunjukan musik dll. Tapi ada satu yang saya tunggu-tunggu, yaitu parade drum band dari Akademi Militer. Mereka selalu berada di depan, memimpin acara karnaval itu. Drum band itu mampu menyihir masyarakat dengan penampilannya, dengan ketrampilan memainkan alat-alat musik, menggerak-gerakkan tubuh dengan kompak, ditunjang kerapihan dan keahlian baris berbarisnya. Tidak ada yang salah atau melenceng, selalu berlalu dengan sempurna. Waktu itu saya selalu terkagum-kagum dengan penampilan mereka. Setelah dewasa, saya mulai menyadari bahwa tidaklah mudah bagi anggota drum band itu menyuguhkan penampilan yang sempurna. Dibutuhkan kerja keras, bahkan sangat keras, disiplin yang tinggi, latihan yang rutin dan tak kenal lelah. Dan sudah barang tentu teguran-teguran dari atasan, didikan yang terus menerus, sudah menjadi makanan mereka setiap hari. Dan hasilnya… kerapihan, keteraturan, dan keindahan bisa dinikmati oleh orang lain. 1 Korintus 14:19, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.” Segala sesuatu yang tersusun rapi lebih enak dinikmati daripada yang amburadul. Kerapihan menciptakan kenyamanan dan menimbulkan damai sejahtera. Demikian juga dengan gereja. Gereja yang tersusun rapi akan membuat jemaat tenang dan nyaman dalam beribadah. Hamba Tuhan dan pengerja dapat melakukan pelayanan dengan nyaman dan terfokus dengan benar. Untuk menghasilkan gereja yang tersusun rapi dibutuhkan kerelaan dari anggotanya untuk belajar hidup tertib dan teratur. Datang ibadah tepat waktu, tertib ketika mengikuti jalannya ibadah, menjaga ketenangan, tidak mengganggu jemaat yang lain, itu salah satu kontribusi kita untuk menjadikan gereja yang tersusun rapi. Bagi jemaat yang sudah ambil bagian dalam pelayanan, dibutuhkan lebih dari itu. Mengerjakan tugas-tugas pelayanan sesuai dengan bagian masing-masing dengan sebaik-baiknya, menerima dengan segala kerendahan hati setiap didikan atau teguran yang bertujuan meningkatkan kualitas iman dan pelayanan akan membuat kita menjadi pribadi yang mampu menempatkan diri menjadi jemaat yang tersusun rapi. Dan pasti akan menjadi kenangan yang manis dan menjadi berkat bagi orang yang melihat.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ibadah Yang Selaras Dan Teratur
15 September '16
Hidup Sesuai Dengan Panggilan Kita
06 September '16
Terlibat Sesuai Kemampuan
07 September '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang