SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 23 Juni 2017   -HARI INI-
  Kamis, 22 Juni 2017
  Rabu, 21 Juni 2017
  Selasa, 20 Juni 2017
  Senin, 19 Juni 2017
  Minggu, 18 Juni 2017
  Sabtu, 17 Juni 2017
POKOK RENUNGAN
Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada kita, hanya saja terkadang kita gagal memahaminya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Yang Terbaik
Yang Terbaik
Jumat, 23 Juni 2017
Yang Terbaik
Matius 7:11

Tak semua yang kita anggap baik, itu baik juga di mata orang lain. Demikian juga halnya soal memberi. Kita mungkin menganggapnya sebagai pemberian terbaik, namun bisa saja orang yang menerima pemberian kita itu tidak berpikir demikian. Pengalaman seperti ini saya alami ketika hendak memberikan kado ulang tahun untuk anak saya. Saya berusaha mencari kado terbaik. Saya pikir anak saya akan membuka kado tersebut dan wajahnya akan berbinar-binar begitu mengetahui apa yang ada di dalamnya. Namun ternyata tidaklah demikian. Anak saya tetap mengucapkan terima kasih, tapi dari ekspresi wajahnya saya tahu bahwa ia sebenarnya tidak begitu menyukai ha...selengkapnya »
Pelayanan yang benar adalah buah dari pendewasaan rohani yang melahirkan jiwa hamba seperti Yesus. Pelayanan kepada Tuhan adalah semua tindakan, baik yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Pelayanan tidak dimulai dari kegiatan dalam lingkungan gereja. Pelayanan dimulai dari sikap hati dan cara berpikir serta gaya hidup atau perilaku yang selalu sesuai dengan keinginan Tuhan setiap hari. Dengan demikian dapat sungguh-sungguh memuaskan atau menyenangkan hati Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Pusat kegiatan pelayanan orang percaya bukan di lingkungan gereja, tetapi di aktivitas hidup sehari-hari: di rumah tangga, di sekolah, di kampus universitas, di toko, di kantor, di pasar, di ladang, dll. Dalam ayat-ayat tersebut tidak tersirat adanya upah sebagai motivasi seseorang melakukan tugas atau kewajiban yang diberikan. Kita tidak boleh mengharapkan atau menantikan upah dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Seperti juga rasul Paulus menyatakan dalam 1 Korintus 9:18, upah [yang berkaitan dengan kebutuhan jasmani] tidak boleh menjadi dorongan dalam pelayanan. Bahkan dia menganggap bahwa melayani/memberitakan Injil tanpa upah adalah suatu hak istimewa yang diterimanya. Alasannya adalah kita telah berhutang nyawa, berhutang keselamatan kepada Tuhan Yesus. Hutang ini tidak dapat kita bayar dengan apapun. Diperkenan melayani Tuhan merupakan kehormatan yang luar biasa. Meskipun kewajiban melayani Tuhan melekat pada diri umat tebusan, namun Tuhan tidak pernah melupakan “pengorbanan” orang-orang yang melayani Tuhan dengan motif yang benar. Tuhan tetap memperhitungkan dengan teliti dan memberi upah di dalam Kerajaan-Nya [Lukas 22:28-30]. Inilah berkat abadi yang tidak ternilai yang Tuhan sediakan. Jadi melayani Tuhan dengan motif yang benar adalah kesempatan membalas kebaikan Tuhan, suatu ekspresi cinta kita kepada Tuhan dan pasti suatu hari nanti kita akan menuai apa yang kita tabur. Kewajiban melayani Tuhan harus kita terima sebagai suatu kehormatan, sehingga kita melakukannya bukan sebagai tugas, tapi sebagai hak istimewa yang membangkitkan kesukaan.
Pada hari-hari ini setiap murid, semua tingkat sekolah, disibukkan dengan ujian atau test akhir studi. Dalam menghadapinya mereka harus melupakan hobi dan waktu bermain untuk bersusah payah belajar. Mereka harus melewati masa itu untuk dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi karena tidak ada cara lain untuk naik tingkat. Usaha mereka yang sungguh-sungguh akan membuahkan kelulusan dan kebanggaan bisa berada di kelas yang lebih tinggi di tahun ajaran baru. Segala susah payah beberapa minggu tidak akan diingat lagi ketika sukacita di kelas baru meliputi mereka. Itulah gambaran seorang murid sejati. Seorang murid setiap pagi akan mempertajam pendengarannya akan Firman Tuhan dan diberi lidah agar setiap perkataannya memberi semangat kepada orang lain, khususnya bagi yang letih lesu. Tuhan membuka telinga murid agar tidak memberontak dan berpaling ke belakang. Murid siap selalu untuk memberi punggung dan pipinya menerima pukulan dari orang lain. Siap dipermalukan bila ada yang menodai dan meludahi. Pada waktu menderita dan dipermalukan, Allah senantiasa memberi pertolongan dan meneguhkan hati seperti gunung batu untuk menanggung semua itu. Banyak orang di sekitar kita yang saat ini lelah menghadapi berbagai permasalahan dan putus asa. Sebagai seorang murid, tanpa diminta hendaklah kita memberi penghiburan dan semangat dengan Firman yang setiap hari dibaca dan direnungkan. Memberitakan Firman melaui sikap hidup, perbuatan dan perkataan. Tetap bersukacita pada waktu tidak diterima dan disakiti saat menyuarakan kebenaran. Firman Tuhan membuat dirinya tetap menjadi saksi di mana saja dan tidak pernah mengingat kejadian masa lalu yang menyakitkan. Dengan demikian profil murid Kristus dalam diri kita akan dilihat oleh semua orang.
Saksi butuh keberanian Kisah Para Rasul 4:19-20 Tetapi Petrus dan Yohanes menjawab mereka: ’Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah. Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.’ Untuk menjadi saksi dibutuhkan keberanian. Banyak orang yang menolak untuk menjadi saksi karena takut akan risiko yang akan dihadapinya. Orang yang menjadi saksi bisa mendapat ancaman atau mengalami kesulitan. Maka banyak orang lebih memilih untuk diam atau menyembunyikan kebenaran, daripada mengungkap kebenaran. Menjadi saksi adalah sebuah tanggung jawab. Orang yang mengetahui apa yang sebenarnya harus mengungkapkan kebenaran itu. Orang yang memiliki integritas adalah orang mau mengungkap kebenaran. Murid Kristus diminta untuk tidak takut atau malu mengatakan kebenaran atau mengakui Kristus di hadapan manusia. Yesus berkata: ’Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.’ [Markus 8:38] Rasul Paulus berkata: ’Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban. Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.’ [2 Timotius 1:7-8] Allah tidak memberi kita roh ketakutan. Bila orang Kristen dikuasai ketakutan maka berarti Roh Allah tidak ada di dalam dirinya. Orang yang dikuasai [dipenuhi] oleh Roh Allah akan mengalahkan ketakutannya dan menjadi saksi yang berani. Kisah Para Rasul 4:31 mengatakan, ’Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.’ Karena itu yang kita perlukan hari-hari ini adalah kuasa yang berasal dari Roh Kudus. Roh Kudus memberi kuasa sehingga murid Kristus memiliki keberanian untuk menjadi saksi Kristus. Mintalah kepada Tuhan agar Tuhan memenuhi hidup Anda dengan Roh Kudus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
“Ambisi dan ambisius“, begitu mendengar dua kata itu biasanya kita memaknainya secara negatif. Sebenarnya kata “ambisi” berasal dari kata latin “ambifio” yang artinya adalah berkeliling untuk memperoleh dukungan. Dengan kata lain “ambisi” berarti keinginan untuk maju. Jadi orang yang berambisi berarti orang yang ingin maju. Salahkah orang semacam itu? Saya kira tidak. Semua orang pasti ingin maju: sekolah lebih maju, bisnis dan pekerjaan lebih maju, perekonomian lebih maju dst. Sedangkan orang yang ambisius adalah orang yang berkeinginan kuat untuk tampil teratas tanpa menggunakan etika dan moral yang benar. Seorang yang ambisius biasanya menggunakan prinsip “tujuan menghalalkan cara”. Sudah pasti kita tidak suka orang yang ambisius. Elisa bukan orang yang ambisius tapi orang yang memiliki ambisi untuk bisa maju melayani Tuhan. Apa rahasianya? Bukan dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuannya sendiri, melainkan dengan Roh Allah yang telah bekerja di dalam dan melalui nabi Elia, seniornya. Ia telah menyaksikan betapa banyak mujizat, kemajuan dan kemenangan diperoleh ketika Elia melayani dalam kuasa Roh Kudus. Maka Elisa pun tidak ragu-ragu untuk meminta agar kepadanya diberikan 2 kali lipat. Orang-orang yang ingin maju seperti Elia ini biasanya melebihi rata-rata. Sementara nabi-nabi lainnya merasa cukup puas dengan pelayanan mereka selama ini, Elisa ingin lebih lagi. Kerinduan ini disukai Tuhan. Itulah sebabnya permohonan Elisa dikabulkan dan ia melayani dalam pimpinan Roh yang begitu luar biasa. Bagaimana dengan anda? Sudah cukup puaskah anda dengan semua hasil pelayanan anda selama ini? Tidakkah anda ingin lebih maju lagi? Mintalah agar Roh Kudus-Nya memakai hidup anda lebih dari waktu-waktu sebelumnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Paskah Menjadi Gaya Hidup
23 Mei '17
Jangan Membunuh
19 Juni '17
Pentakosta1
04 Juni '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang