SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 05 Desember 2016   -HARI INI-
  Minggu, 04 Desember 2016
  Sabtu, 03 Desember 2016
  Jumat, 02 Desember 2016
  Kamis, 01 Desember 2016
  Rabu, 30 November 2016
  Selasa, 29 November 2016
POKOK RENUNGAN
“Siapkanlah diri kita dengan sungguh-sungguh untuk menanti hadirnya Sang Raja kembali supaya janji Allah dalam Firman-Nya menjadi bagian dalam hidup kita.”
DITULIS OLEH
Pdt. Y. Agus Santoso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Berjaga-jaga Siang dan Malam
Berjaga-jaga Siang dan Malam
Senin, 05 Desember 2016 | Tema: Siap Menyambut KedatanganNya
Berjaga-jaga Siang dan Malam
1 Tesalonika 5:1-11

Pada waktu terjadi erupsi gunung Merapi beberapa tahun yang lalu, orang yang tersibuk adalah mereka yang berada di wilayah ring satu. Di mana mereka selama berhari-hari tanpa mengenal lelah terus menerus memantau perkembangan gunung Merapi. Dengan menggunakan Seismograf, mereka secara cermat dapat memprediksi kapan gunung tersebut mengeluarkan ledakan. Begitu juga masyarakat yang tinggal di wilayah ring satu sampai tiga yang pada waktu itu sudah mengungsi di wilayah aman, mereka juga terus menerus waspada dan berjaga-jaga karena erupsi bisa saja terjadi secara tiba-tiba seperti yang terjadi ketika rombongan peduli bencana Merapi GIA Dr. Cipto berkunjung ke tempat pengungsi di wilayah Klaten. Siang hari sebelum rombongan pulang, erupsi kembali terjadi. Suasana sangat mencekam...selengkapnya »
Pada suatu hari saya makan di sebuah warung makan yang sudah sering saya kunjungi. Karena hampir setiap minggu saya makan di tempat tersebut, saya menjadi kenal dan cukup dekat dengan penjualnya. Si penjual bercerita mengenai salah satu anak kostnya yang memiliki sifat kekanak-kanakan di usianya yang sudah dapat dikatakan cukup dewasa. Si anak kost tersebut saat itu sedang menempuh kuliah yang sudah dijalani sekitar 7 tahunan dan belum selesai. Dalam usianya tersebut, ia masih sering merengek-rengek ketika permintaannya tidak dituruti. Bahkan karena merasa tidak nyaman, teman-teman kostnya sering meninggalkan saat bepergian, sehingga kadang sampai menangis sambil berguling-guling tanpa rasa malu. Tentu sudah tidak lazim lagi kelakuan si anak kost tersebut. Sebagai jemaat Tuhan yang mengaku percaya kepada Yesus Kristus, jemaat Efesus telah diingatkan bahwa hal yang terutama untuk menjadi dewasa adalah hidup di dalam kasih Kristus. Kasih Kristus yang memenuhi ruangan hati akan terpancar melalui perbuatan sehingga segala kecemaran, keserakahan, perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono tidak ada dalam hidup orang percaya. Karena jika hal-hal tersebut masih ada dalam hidup kita, maka kita disamakan seperti penyembah berhala [ayat 5]. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menjadi dewasa dalam Kristus? Pertama, hendaklah kita tidak berkawan dengan yang disebut penyembahan berhala. Menjauhkan diri dari segala sesuatu yang berkaitan dengan kegelapan. Kedua, bertindak sebagaimana orang yang arif. Orang yang memiliki buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Memiliki hikmat dari Tuhan. Ketiga, rendah hati dalam takut akan Tuhan. Menghargai sesama dalam segala hal terlebih lagi dalam hal pelayanan sehingga dengan demikian kedewasaan dalam Kristus terpenuhi dalam kehidupan ini. Setiap mahkluk hidup mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Bertambah usia itu dialami oleh semua mahkluk. Menjadi tua itu juga hal yang wajar. Namun pertanyaannya adalah apakah bertambahnya usia tersebut dibarengi dengan kedewasaan rohani? Mari kita menjadi jemaat yang mencapai kedewasaan sesuai dengan kepenuhan Kristus. Mengalami Tuhan dan berbuah, bukti bahwa kita telah mencapai kedewasaan dalam Kristus Yesus.
Suatu realitas yang pasti bahwa setiap manusia, juga orang percaya, akan berakhir hari-hari hidupnya di bumi ini. Pada saat itu tiba, orang akan pindah dari kehidupan fana di bumi ke dalam masa kekekalan yang sangat dahsyat. Terminalnya hanya ada dua, di Langit Baru Bumi Baru bersama dengan Tuhan Yesus atau binasa di api kekal. Orang akan menjumpai bahwa dirinya telah keluar dari suatu mimpi [Mazmur 73:19-20]. Isi mimpi tersebut pada hakekatnya adalah apa yang telah dilakukannya selama hidup di bumi ini [2 Korintus 5:10]. Masing-masing orang bisa merajut mimpi di mana Tuhan bisa memberi predikat pada saat ‘terbangun’ di kekekalan, apakah rupa kita dipandang hina atau mulia [Mazmur 73:20, Matius 25:21]. Hidup di dunia ini [yang sangat singkat dibanding kekekalan] adalah satu-satunya kesempatan untuk merajut mimpi. Untuk itu perlu memperhatikan dua hal: Pertama, Jangan hidup seperti orang fasik [Mazmur 73:6, 9, 11, 12] yang berkalungkan kecongkakan, berpakaian kekerasan, melawan, meremehkan Tuhan dan suka membual, serta terbelenggu oleh kekayaan dunia. Orang yang meremehkan Tuhan biasanya merasa kuat secara finansial dan memiliki relasi dengan “orang penting”. Pengalaman dapat meloloskan diri dari berbagai kesulitan hidup membentuk cara berpikir meremehkan keadaan dan juga meremehkan Tuhan. Bagi mereka uang adalah segalanya. Mencari kepuasan diri dengan berbagai fasilitas materi dan hormat dari manusia. Dari kacamata dunia bisa saja tampak sebagai orang baik dan wajar, tetapi di mata Tuhan, tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Bapa. Tuhan Yesus berkata bahwa hidup manusia tidak tergantung pada kekayaannya [Lukas 12:15], dan orang yang mengandalkan kekayaannya, sukar masuk sorga [Matius 19:23]. Demikian juga dengan orang yang miskin harta yang ingin jadi kaya dengan harapan bahwa kekayaannya dapat membahagiakan hidupnya. Kedua, Terus berjuang mengenakan hidup baru yang sesungguhnya. Percaya kepada Yesus adalah belajar suatu gaya hidup baru yang berkualitas tinggi yang diteladankan-Nya Falsafah hidupnya adalah “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” [Yohanes 4:34]. Hidup baru di dalam Kristus tidak cukup dengan menjadi aktivis gereja, melakukan hukum/norma, bermoral baik di mata manusia, namun yang melakukan segala hal sesuai dengan kehendak Allah. Dengan mengenakan gaya hidup baru seperti Tuhan Yesus, kita akan bisa menjadi “saksi-Nya”, membawa keselamatan bagi orang yang belum percaya. [GL] Pokok Renungan: Dengan tekad yang kuat, komitmen tinggi dan pertolongan Roh Kudus, kita akan dimampukan merajut mimpi indah pada waktunya.
Sepeninggal Benay, tak ada kabar tentangnya. Apakah ia sehat? Masih hidup atau mati? Tidak ada seorang pun yang tahu. Termasuk Sambey pun tidak tahu kondisi sahabat karibnya itu. Namun yang membedakan Sambey dengan Pdt. Itong, Pdt. Andrey, Mbah Wanidy, dan orang-orang lainnya adalah kenangannya kepada Benay. Jika begitu mudahnya orang-orang lain melupakan Benay, tidak demikian dengan Sambey. Sosok berkulit hitam, pendek dan gendut itu tersimpan baik dalam ingatannya. Kiprahnya dalam pelayanan, semangatnya dalam berbagai kegiatan, kekonyolan dan kesederhanaannya dalam menjalani hidup memiliki nilai tersendiri bagi Sambey. Tapi entah sampai kapan kenangan yang berharga itu akan tersimpan baik dalam ingatannya? Sambey tidak dapat menjaminnya. “Semua adalah sia-sia”, kata Sambey pada dirinya sendiri, “Semangat, pengorbanan, pelayanan, dan berbagai kebajikan akan tinggal kenangan yang akan segera dilupakan. Cobalah perhatikan para pahlawan. Bukankah mereka adalah orang-orang yang berjasa besar. Pengorbanan mereka tak perlu disangsikan lagi. Bukan saja harta, jika panggilan ibu pertiwi menuntut nyawa pun mereka siap. Dan para pahlawan telah membuktikannya. Namun ini pun sia-sia. Penghormatan kepada mereka hanyalah sebatas nama jalan, di samping jl.badak, jl.belimbing, jl.merapi, dll; dikenang sekian detik dalam pengheningan cipta di tiap upacara bendera; atau sekedar dihafalkan namanya oleh murid-murid SD agar dapat nilai yang baik dalam tes. Sungguh semuanya sia-sia.” Apakah kiprah, semangat, dan teladan hidup yang diberikan Benay akan sia-sia? Toh Benay bukan tokoh besar? Ia bukan pahlawan yang namanya tercatat pada buku sejarah. Ia bukan tokoh besar pendiri sebuah gereja. Ia hanyalah sebutir debu tambun yang sempat ada dan sekarang mungkin telah tiada. Jika tokoh-tokoh besar saja segera dilupakan, apalagi Benay? “Apakah dengan demikian hidup dan pelayanan Benay sia-sia saja?” tanya Sambey dalam lubuk hatinya yang terdalam. Beberapa saat kemudian Sambey tenggelam dalam keheningan, menelisik, mencari jawaban. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca. Beberapa butir air matanya mengalir lembut di pipi. Bersamaan dengan itu hatinya diselimuti oleh perasaan sukacita yang tak terkatakan. Sambey telah mendapatkan jawaban yang dicarinya. “Hidupmu tidak sia-sia, Ben!” kata Sambey, “Aku mengenalmu sebagai orang yang tidak mencari muka dari semua yang kamu lakukan. Maka apakah saat ini orang akan mengenangmu dan segera melupakanmu, itu tidak penting bagimu! Bagimu hidup bukan untuk mengejar penghormatan diri, tetapi sebaliknya memberi hormat pada Sang Pemberi Kehidupan. Sungguh hidupmu tidak sia-sia, sahabatku. TUHAN pasti memberikan ganjaran atas jerih lelahmu, pelayan tulusmu, dan teladanmu selama ini.” Jemaat yang terkasih, biarlah hidup dan pelayanan kita tidak sia-sia. Maka hidup dan melayanilah bukan untuk mencari kesombongan diri, tetapi semata-mata hanya untuk kemuliaan TUHAN.
’Dia bertobat lantaran kesaksianku!’ ’Penyakitnya sembuh karena aku yang mendoakan!’ ’Dia kembali ke gereja karena aku yang gigih mengajaknya!’ Pernyataan-pernyataan semacam itu kerap dilontarkan oleh orang-orang yang belum dewasa di dalam Kristus. Meskipun sudah puluhan tahun menyatakan diri sebagai umat Kristiani. Meskipun sudah malang melintang dalam pelayanan di gereja. Meskipun ada yang sudah menyandang predikat rohaniwan. Tetap saja sering terlontar pernyataan yang menggambarkan sikap ketidakdewasaan. ’Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.’ demikian ujar Paulus dalam 1 Korintus 3:6. Kadang orang beriman lupa bahwa di dalam melayani Tuhan, ia tidak bekerja sendirian. Apabila seseorang bertobat karena kesaksian seorang Kristen, bukan berarti itu adalah hasil jerih lelah satu orang saja. Besar kemungkinan ia pernah mendengar tentang Injil jauh sebelumnya. Pernah mendengar pesan yang menyentuh dari lagu rohani, entah lewat radio atau dari CD player tetangga. Pernah dibawa dalam doa oleh orang-orang Kristen lain juga. Dan yang terpenting adalah Tuhan yang menjamah hatinya. Semua itu berperan dalam pertobatannya. Seorang Kristen yang dewasa adalah orang yang menyadari bahwa pekerjaan Tuhan adalah ’team work’, bukan ’one man show’. Setiap orang bahu-membahu mengerjakan pekerjaan Tuhan. Setiap orang melakukan bagiannya dalam pelayanan. Keberhasilan adalah hasil usaha bersama, bukan jasa satu atau dua orang saja. Dan yang terpenting adalah Allah-lah yang menjadi penentu keberhasilan atas segala yang kita kerjakan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Menahan Ego dan Bersatu
09 November '16
Jangan Tolak Makanan Keras
21 November '16
Berani Bertumbuh Dewasa
19 November '16
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang