SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 23 Mei 2017   -HARI INI-
  Senin, 22 Mei 2017
  Minggu, 21 Mei 2017
  Sabtu, 20 Mei 2017
  Jumat, 19 Mei 2017
  Kamis, 18 Mei 2017
  Rabu, 17 Mei 2017
POKOK RENUNGAN
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” [Kisah Para rasul 1:8]
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Paskah Menjadi Gaya Hidup
Paskah Menjadi Gaya Hidup
Selasa, 23 Mei 2017
Paskah Menjadi Gaya Hidup
Keluaran 12:24-27
Perayaan Paskah sudah kita lalui. Ketika merayakan Paskah beberapa waktu yang lalu, kita ibadah jam 5 pagi, tidak seperti biasanya jam 6 pagi. Sudah berapa kali kita merayakan Paskah? Tentu sudah lebih dari lima kali. Makna dan pesan apa yang yang kita peroleh di setiap perayaan Paskah? Kiranya bukan sekedar mendapat telur Paskah.
Jauh sebelum kita merayakan Paskah, umat Yahudi sudah merayakannya [Yohanes 13:1a] dan perayaan Paskah merupakan perintah Tuhan sejak zaman Musa, sebagaimana tertulis di nats pembacaan Alkitab di atas. Umat Israel tidak cuma merayakan Paskah dengan ”berpesta“, tetapi juga ada pesan yang harus dilakukan umat Israel, yaitu menceritakan perbuatan-perbuatan yang besar dan ajaib yang dilakukan Tuhan untuk melepaskan bangsa Israel dari perbudakan dan pe...selengkapnya »
Pepatah Rusia kuno berkata “milikilah mental baja, bukan mental kaca”. Ambilah palu, hantamkan pada kaca pasti akan pecah. Tapi ketika palu menghantam baja apalagi kalau dipanaskan, baja pasti akan membentuk. Jangan jadi kaca, jadilah baja. Jika kita bermental kaca ketika “palu” masalah menghantam, kita akan mudah putus asa, frustasi, kecewa, marah dan hancur remuk redam. Mental baja adalah mental yang selalu positif bahkan bisa tetap bersyukur di saat masalah dan keadaan sulit benar-benar menghimpit. Alkitab dan sejarah tradisi gereja mencatat para Rasul yang bermental baja. Mereka memperjuangkan iman dan menjadi saksi dari Tuhan Yesus Kristus yang hidup. Mereka setia mati syahid sebagai martir. Yakobus dibunuh raja Herodes dengan pedang, Petrus disalib terbalik membentuk posisi “X” di Roma, Matius mati martir di Etiopia terbunuh karena pedang, Bartolomeus mati martir dicambuk ketika berkotbah di Armenia, Andreas disalib berbentuk “X” di Yunani, Tomas ditikam tombak dalam perjalanan misi mendirikan jemaat di India, Matias dirajam dan dipenggal, Rasul Paulus disiksa dan dipenggal Kaisar Nero. Sampai sekarang barisan ini terus diperpanjang oleh orang-orang yang berani bermental baja memperjuangkan iman dan menjadi saksi Kristus yang hidup. Mungkin kita bertanya, “Bagaimana kita bisa punya mental baja? Bagaimana kita bisa mengubah pribadi yang mudah hancur menjadi pribadi yang kuat dan tegar?” Rasul Paulus salah satu tokoh bermental baja memberi kesaksian bagaimana ia ditindas namun tidak terjepit, habis akal namun tidak putus asa, dianiaya namun merasa tidak ditinggalkan, dihempaskan namun tidak binasa. Rasul Paulus yang sangat lemah bagaikan tanah liat namun tetap kuat memberi kuncinya: 1. Ia selalu mengandalkan dan menikmati kekuatan Allah yang diterima melalui imannya [ayat 13]. 2. Ia memiliki semangat hidup di dalam Kristus, menjadi saksi Kristus dan siap menerima risiko seorang saksi Kristus [ayat 14]. 3. Ia selalu menerima segala keadaan dengan mengucap syukur sehingga hidup yang berat terasa ringan [ayat 15]. Mari kita menjadi orang-orang yang bermental baja oleh karena penyertaan dan kekuatan dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Yesus Kristus tidak berkata, ”Pergilah dan selamatkan jiwa-jiwa.” Karena keselamatan jiwa adalah pekerjaan supranatural Allah. Tetapi Dia berkata, ”Pergilah jadikan semua bangsa muridKu....” Kita tidak dapat memuridkan orang lain jika kita sendiri bukan seorang murid. Ketika para murid kembali dari perjalanan misi pertama, mereka dipenuhi sukacita karena setan-setan pun tunduk kepada mereka. Namun Yesus menyatakan agar mereka jangan bersukacita karena sekedar pelayanan yang berhasil, tetapi bersukacita karena memiliki relasi yang benar dengan Yesus [lihat Lukas 10:17-20]. Hal terpenting bagi seorang utusan [murid] adalah tetap setia pada panggilan Tuhan, menyadari satu-satunya tujuannya hanyalah memuridkan semua orang bagi Kristus. Di dalam memuridkan kita harus memiliki belas kasih dari Allah terhadap jiwa-jiwa. Ingatlah dan berhati-hatilah, bahwa ada belas kasihan terhadap jiwa-jiwa yang bukan berasal dari Allah, melainkan dari hasrat kita sendiri untuk mempertobatkan orang lain berdasarkan perspektif kita. Tantangan bagi seorang utusan bukan muncul dari kenyataan bahwa orang-orang sulit dibawa kepada keselamatan, atau orang-orang yang mundur imannya sulit ditarik kembali, atau adanya rintangan berupa ketidakpedulian. Tidak! Tantangan itu muncul dari perspektif tentang persekutuan pribadi seorang utusan [murid] dengan Yesus Kristus. “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” [Matius 9:28]. Tuhan kita terus mengajukan pertanyaan itu tanpa ragu dan hal itu menjadi tantangan bagi kita dalam setiap situasi yang kita jumpai. Tantangan terbesar kita adalah apakah saya mengenal Tuhan yang telah bangkit? Apakah saya mengenal kuasa Roh-Nya yang tinggal di dalam diri saya? Apakah saya cukup berhikmat dalam pandangan Allah untuk percaya kepada apa yang Yesus katakan? Ataukah saya sedang meninggalkan keyakinan yang supranatural dan tidak terbatas dari Yesus yang sesungguhnya merupakan satu-satunya panggilan Allah untuk kita sebagai utusan? Jika mengikuti cara apapun yang lain berarti saya sedang meninggalkan cara yang telah ditentukan Tuhan kita. “KepadaKu telah diberikan segala kuasa....karena itu pergilah...” [Matius 28:18-19]. [HAW]
Dalam bacaan Injil Markus 5:21-43 menunjukkan ada dua kejadian di mana Yesus membuat mujizat kepada dua orang. Mujizat pertama, Tuhan Yesus menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan selama dua belas tahun. Perempuan itu percaya, “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Dan mujizat terjadi. Mujizat kedua, Yesus menghidupkan kembali anak Yairus, kepala rumah ibadat, yang sudah mati karena sakit keras. Mujizat kesembuhan dan hidup kembali dari mati terjadi karena ada iman percaya kepada Yesus. Perempuan yang mengalami sakit pendarahan selama dua belas tahun mengalami mujizat Tuhan karena iman percaya bahwa hanya Yesus yang sanggup menyembuhkan. Dan Yairus diajar Tuhan untuk tidak takut dan percaya saja, maka anaknya yang sudah mati dihidupkan kembali. Kunci kemenangan dari segala persoalan dalam hidup ini adalah iman dan percaya saja. Sakit penyakit, segala persoalan adalah sesuatu beban berat yang sudah seharusnya kita hadapi selagi kita sedang dihampirinya. Orang percaya janganlah takut dan merasa kalah dengan semua sakit-penyakit dan beban persoalan apapun sebab tidak ada kemenangan iman tanpa perjuangan untuk mengalahkannya. Sakit-penyakit dan persoalan apapun hanyalah “alat” untuk membuktikan bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar, asal percaya saja dan jangan takut!. Saudara kekasih Tuhan, di dalam hidup ini manusia sering menghadapi apa yang namanya penderitaan sakit-penyakit, juga perasaan kehilangan yang mendalam. Kita sudah menjaga tubuh kita supaya tetap bugar dan hidup sehat, menjaga pola makan, berolah raga dan istirahat teratur. Tetapi bisa saja sakit-penyakit tanpa kita harapkan datang menghampiri kita, dan mau tidak mau kita harus menghadapinya dengan tabah. Lain lagi, banyak orang berusaha, kerja keras, sudah hati-hati menggunakan uang, hemat dan ketika keuntungan demi keuntungan sudah terkumpul cukup banyak tiba-tiba semua ludes: ditipu orang, untuk berobat yang berkepanjangan, dll. Kehilangan! Hidup ini sering mengecewakan: sakit, kehilangan. Tetapi tahukah Saudara bahwa Yesus yang bangkit itu sanggup memberikan pertolongan, seperti perempuan yang dua belas tahun menderita pendarahan [sakit] dan anak Yairus yang mati [kehilangan], mereka ditolong Tuhan. Yesus adalah pemberi pengharapan, Dia sumber pengharapan dalam hidup ini. Yesus adalah pemberi kepastian dan menyanggupkan siapa saja untuk melanjutkan kehidupan ini dengan berani dan berpengharapan. Di dalam Yesus kita sanggup melihat hidup yang penuh pengharapan seperti apa yang dikatakan para bijak “bahwa tidak selamanya hari adalah malam yang gelap, tetapi akan datang fajar merekah yang menyongsong hadirnya sang mentari yang memberi kehidupan”.
Hidup di masa sekarang bisa dikatakan gampang-gampang susah. Yang kuat dalam pengendalian diri akan bisa mempertahankan kehidupan yang benar dan tetap berpegang teguh kepada Tuhan. Namun bagi yang mudah terpengaruh, akan terseret dengan arus kesesatan yang menjerumuskan. Beberapa hari yang lalu, saya berjumpa dengan seorang anak yang beranjak remaja. Merasa bahwa dirinya sudah besar, maka banyak hal yang dicoba-coba untuk dilakukan. Bahkan tak segan-segan membohongi orangtuanya untuk tujuan tertentu. Mulai dari hidup bermalas-malasan sampai bermain ke rumah temannya hingga larut malam dengan berbagai macam alasan. Sementara ia merasa bahwa hal itu baik-baik saja ketika tidak diketahui oleh orangtuanya. Tetapi ketika tidak ada batasan yang jelas dan kesadaran diri, bisa jadi kehidupannya akan menjadi buruk, bahkan tidak mempunyai masa depan yang jelas ketika hanya memikirkan kesenangan diri yang hanya sesaat. Dalam surat Petrus yang kedua, Rasul Petrus memberikan nasihat supaya saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan tidak tersesat dengan kesesatan yang dibawa oleh orang-orang yang belum mengenal Tuhan. Lebih lanjut lagi ia menegaskan bahwa setiap orang yang telah percaya dalam Yesus harus tetap berpegang teguh kepada kebenaran di dalam Kristus. Di zaman akhir ini akan banyak orang yang hidup menuruti hawa nafsunya [3:3], banyak yang mementingkan dirinya sendiri tanpa memperdulikan kehidupan orang lain. Apa yang pantas bagi dirinya dikejar sedemikian rupa, namun tidak pernah melihat cara yang dipakai untuk mendapatkannya. Tidak peduli orang lain terluka, jatuh, bahkan hancur, yang penting dirinya berhasil. Rasul Petrus mengingatkan dalam menantikan Tuhan di zaman akhir ini, setiap orang yang percaya harus tetap berusaha mempertahankan kehidupan yang bersih, tidak bercacat dan tidak bernoda. Sehingga kita terus bertumbuh dalam kasih karunia dan pengenalan akan Kristus, Sang Juruselamat. Jemaat yang terkasih, mari kita tetap bertumbuh dalam kasih karunia Tuhan yang telah mengaruniakan kita iman percaya kepada-Nya dan pengenalan lebih lagi di dalam Kristus Yesus. Sebab dengan demikian kita mampu mempertahankan kehidupan kita di dalam Tuhan. Sekuat apapun arus dunia menyeret kita, percayalah bahwa kuasa Tuhan akan tetap melindungi kehidupan kita. Seberapa banyak kesesatan datang menggoda kita, tetapi di dalam Yesus kita mampu melewati dan mengalahkannya. Oleh sebab itu, tetaplah mengenal Tuhan dan kuasa-Nya supaya iman kita tetap bertumbuh.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mati dan Bangkit Bersama Kristus
30 April '17
Kuatkan Dan Teguhkan Hatimu
07 Mei '17
Kasih Yang Berkualitas
29 April '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang