SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Februari 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Februari 2017
  Minggu, 26 Februari 2017
  Sabtu, 25 Februari 2017
  Jumat, 24 Februari 2017
  Kamis, 23 Februari 2017
  Rabu, 22 Februari 2017
POKOK RENUNGAN
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” [1 Petrus 2:9]
DITULIS OLEH
Pdt. Victor Y. Nugraha
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Baru Di Dalam Yesus
Hidup Baru Di Dalam Yesus
Selasa, 28 Februari 2017
Hidup Baru Di Dalam Yesus
1 Petrus 2:9-10

Optimus Prime sang pemimpin autobots [kumpulan robot berwatak baik] pun terus terdesak oleh serangan dari para deceptions [kumpulan robot jahat]. Megatron sebagai pemimpin tertinggi Decepticons terus menyerang, memukul dan bahkan memojokkan Optimus Prime. Saat terburuk yang tidak diinginkan pun benar-benar terjadi. Optimus Prime terbunuh oleh Megatron, sang pemimpin Decepticons. Untuk menghidupkan kembali Optimus Prime diperlukan tenaga baru dari sebuah “lempengan baterai” yang langka. Demi menghidupkan sang pemimpin, para autobots mencari “lempengan baterai” langka tersebut ke berbagai tempat. Setelah ditemukan, “lempengan baterai langka” tersebut berhasil menghidupkan Optimus Prime. Bahkan tidak hanya itu, berkat kekuatan “lempengan baterai” tersebut, sang pem...selengkapnya »
Mengalami Tuhan 5 Kisah Para Rasul 9:1-20 Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ’Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?’ Jawab Saulus: ’Siapakah Engkau, Tuhan?’ Kata-Nya: ’Akulah Yesus yang kauaniaya itu.’ Orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan pasti akan mengalami perubahan di dalam hidupnya. Saulus, seorang yang tadinya melawan Kristus dan aktif dalam membinasakan para pengikut Kristus, telah berjumpa dengan Kristus di jalan menuju Damsyik dan hidupnya berubah secara drastis. Tadinya hendak membinasakan iman kepada Kristus, setelah bertemu Kristus dia menjadi seorang yang memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah. Saulus ada dalam perjalanan menuju Damsyik untuk menangkap orang-orang yang percaya kepada Kristus. Dia melakukan aktivitas itu dengan penuh semangat, ’dengan hati berkobar-kobar.’ Apa yang dia kerjakan itu dia kerjakan dengan sepenuh hati, seolah-olah sedang mengerjakan suatu yang ditugaskan oleh Tuhan sendiri [walaupun sebenarnya bukan]. Rupanya Tuhan tertarik dengan orang-orang semacam ini, yang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati dan dengan penuh keyakinan. Tuhan ingin mengubah dan memakai orang yang seperti Saulus ini. Tuhan mengubah pikiran Saulus. Tadinya dia menganggap Yesus sebagai seorang manusia biasa. Setelah berjumpa dengan Yesus dia mengerti bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan apa yang selama ini dia kerjakan ternyata salah. Dia telah menganiaya pengikut Yesus dan itu berarti menganiaya Yesus sendiri. Pada saat itu terjadilah perubahan di dalam dirinya. Sebelumnya semangat dan segenap energinya dia arahkan untuk sesuatu yang tidak benar, tetapi setelah bertemu dengan Yesus dia mengerahkan segenap kekuatannya untuk memberitakan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat bagi segala bangsa. Setelah berjumpa dengan Yesus, Saulus mengalami perubahan total dalam hidupnya. Tuhan yang telah mengubah hidup Saulus adalah Tuhan yang masih bekerja hingga sekarang. Jika kita mengalami pengalaman yang otentik dengan Dia, maka hidup kita pun akan menjadi baru. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Setiap orang pasti pernah berbohong. Sebuah universitas mengadakan riset tentang kebohongan. Riset itu mengatakan bahwa 70% anak-anak telah berbohong sebelum mencapai usia 2,5 tahun. Sebelum 7 tahun, 100% anak-anak pernah berbohong. Riset juga mengatakan kepada siapa mereka berbohong. 86% kepada orangtua, 73% kepada saudara sekandung, 69% kepada suami/isteri, 81% berbohong tentang perasaannya dan 43% berbohong tentang keuangan dan pendapatannya. Kebohongan bisa merembet menjadi sebuah penipuan, seperti cerita yang terjadi di sebuah restoran. Seorang ibu bersama seorang gadis kecil masuk ke sebuah restoran dan setelah makan pada waktu ke kasir ibu itu berkata, ’Aduh dompetku ketinggalan di mobil. Nak, kamu tunggu di sini dulu ya. Pak, saya mau mengambil dompet, titip anak saya ya, sebentar saya kembali.’ Tanpa menunggu jawaban dari sang kasir, si ibu segera berjalan keluar sambil membawa makanan yang telah dibungkus. Sang kasir menunggu sampai lama tetapi si ibu tidak juga datang, bahkan sampai lebih dari satu jam. Ketika itu kecurigaan mulai timbul di hati sang kasir dan akhirnya ia bertanya kepada anak itu. ’Nak, tadi mamamu memarkir mobilnya di mana?’ ’Dia bukan mama saya dan saya tidak mengenalnya. Tadi sewaktu saya berdiri di parkiran, ibu itu mengajak saya untuk makan di restoran ini,’ kata anak itu menjelaskan. Akhirnya kasir itu mengerti bahwa wanita itu adalah seorang penipu. Sepertinya kebohongan telah merasuki hampir semua aspek kehidupan manusia, baik di rumah, di kantor, dalam pergaulan, bahkan di gereja pun kita menemukan ketidakjujuran. Banyak orang yang membela dirinya dengan cerita kebohongan, tetapi sesungguhnya ia tidak menyadari bahwa ia akan terus berada di bawah kuk kebohongan itu. Apakah dengan berbohong keadaan yang kita hadapi akan semakin baik? Tidak, kebohongan justru selalu akan memperburuk keadaan. Kebohongan yang tidak diselesaikan dengan pengakuan dan pertobatan akan menimbulkan masalah-masalah lainnya. Memang tidak mudah untuk menjadi pribadi yang jujur, tetapi Firman Tuhan mengharuskan kita untuk hidup jujur dan kenyataannya dunia sangat membutuhkan orang-orang yang jujur. Ingatlah janji Firman Tuhan yang mengatakan: ’Karena orang jujurlah akan mendiami tanah dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ.’
Seringkali orang percaya salah fokus dalam melihat kehidupan para bapa leluhur umat Israel, yaitu Abraham, Ishak, dan Yakub. Orang percaya ingin diberkati seperti halnya para bapa leluhur tersebut. Bahkan mereka ingin memperoleh berkat Abraham, Ishak, dan Yakub. Cita-cita tersebut semakin terpupuk subur dengan pengajaran-pengajaran yang lebih menekankan berkat dan berkat saja. Semangatnya ketika belajar tentang kehidupan para bapa leluhur lebih pada yang materi daripada yang rohani. Yang ingin ditemukan adalah bagaimana kiat-kiat untuk memperoleh berkat bapa-bapa leluhur. Akhirnya apa? Yang rohani, misalnya: ketaatan, kesetiaan, hidup takut akan Allah, dan sebagainya hanya menjadi sarana atau jalan untuk meraih keberhasilan secara materi. Tentunya jika seperti itu sudah salah kaprah, kebolak-balik. Penulis surat Ibrani mengutip kehidupan para bapa leluhur [Ibrani 11:8-10, 17-19], khususnya Abraham, bukan ditekankan pada perkara lahiriah tetapi pada perkara spiritual, yaitu iman. Surat Ibrani menegaskan bahwa kepercayaan Abraham kepada Allah sudah teruji dan terbukti, sehingga ia menjadi salah satu tokoh iman yang layak dan patut diteladani. Begitu juga Paulus menyoroti bahwa orang yang percaya kepada Kristus turut menerima berkat Abraham. Ia menegaskan bahwa mereka yang hidup dari iman akan diberkati bersama-sama Abraham [Galatia 3:7-9]. Berkat apa yang dimaksudkan oleh Paulus? Apakah berkat kekayaan yang melimpah seperti halnya Abraham dalam Kejadian 13:2, “Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya.” Tentu bukan. Berkat yang dimaksud oleh Paulus bukan bersifat materi, tetapi secara rohani. Penggenap berkat yang dijanjikan itu adalah Kristus [band. Galatia 3:14, 16]. Kalau begitu apakah iman kristen anti kekayaan ataupun berkat-berkat secara lahiriah. Tidak sama sekali! Kita harus menyadari bahwa di dalam keimanan kristen, kekayaan [berkat secara jasmani] memang penting, tetapi bukanlah yang utama dan bukan penentu keselamatan kita. Prinsip itu pun sangat ditegaskan oleh Tuhan Yesus. ‘Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi sebab ngengat dan karat merusakkannya, dan pencuri membongkar serta mencurinya’ [Matius 7:19]; ‘Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga...’ [Matius 19:21]; ‘Hidup seseorang tidak tergantung pada kekayaannya....’ [Lukas 12:15]. Saudara yang terkasih, hendaknya kita memiliki fokus yang tepat dan benar ketika menjadi pengikut Kritus. Fokus hidup kita bukan pada yang lahiriah, tetapi yang rohaniah. Bukan pada yang fana, tetapi pada yang kekal. Bukan pada yang di bumi, tetapi pada yang di sorga. Bukan mengabdi kepada Mamon, tetapi kepada Kristus.
Seorang nenek, di usianya yang semakin bertambah, begitu setia beribadah kepada Tuhan. Sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah sekalipun keadaan hujan atau panas dan tubuh tuanya juga seringkali mengalami kesakitan. Ia tidak melupakan hari Minggu untuk tetap beribadah karena sang nenek berpikir bahwa saat beribadah, ia sedang bertemu dengan Tuhannya. Tetangga yang melihat apa yang dilakukan nenek tersebut begitu tertarik. Sampai suatu ketika tetangga nenek tersebut yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupan sang nenek. Seringkali kita berpikir kalau menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet atau dari saku kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini kita bisa menjadi berkat kepada atau lewat siapa saja tanpa kita sadari. Contoh kisah nenek di atas namun lebih khusus lagi melalui bibir mulut kita bisa memberkati orang lain. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar kita memuji-muji dan memuliakan Allah karena kebaikannya akan senang mendengarkannya. Contoh Paulus dan Silas sekalipun di penjara [KPR 16:25]. Ucapan syukur yang kita keluarkan dari bibir mulut kita sekalipun menghadapi masalah dan tantangannya, tentu akan membuat orang lain mendapatkan semangat baru dalam kehidupan ini. Saat kita belajar mengucap syukur melalui bibir mulut ini, tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Mari kita bawa hidup ini, khususnya melalui perkataan kita, menjadi berkat bagi orang lain. Sehingga seperti perintah Tuhan supaya Abraham diberkati dan menjadi berkat, demikianlah juga kita menikmati berkat Abraham dalam kehidupan kita ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengalami Tuhan 4
05 Februari '17
Mengalami Tuhan
10 Februari '17
Mulut Yang Membawa Berkat !
21 Februari '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang