SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 21 November 2017   -HARI INI-
  Senin, 20 November 2017
  Minggu, 19 November 2017
  Sabtu, 18 November 2017
  Jumat, 17 November 2017
  Kamis, 16 November 2017
  Rabu, 15 November 2017
POKOK RENUNGAN
“Ajar kami Tuhan menghitung hari-hari, agar kami beroleh hati bijaksana.....”
DITULIS OLEH
Ibu Rini Handoyo
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menghitung Hari-Hari
Menghitung Hari-Hari
Selasa, 21 November 2017
Menghitung Hari-Hari
Mazmur 90:12

“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu.

Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh.

Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam set...selengkapnya »
Pakailah Medsos untuk memasyhurkan nama Tuhan Mazmur 96:3-4 Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah. Banyak diantara kita yang saya yakin adalah pemakai media sosial [medsos], entah itu Facebook, Twitter, Instagram, atau yang lainnya. Ada banyak manfaat yang bisa kita dapatkan dengan menggunakan media sosial, antara lain: - mendapatkan informasi, berita dan pengetahuan - menambah teman dan komunitas tanpa batas - mendapatkan hiburan: film, lagu-lagu, gambar-gambar, dll. - sarana promosi bisnis - sarana mengekspresikan diri - sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain Di samping itu masih ada banyak manfaat lain yang bisa kita dapatkan dari menggunakan media sosial. Tapi berapa banyak dari kita yang memanfaatkan media sosial untuk memuliakan Tuhan? Ingatkah kita bahwa kita adalah garam dan terang dunia? Bagaimana kita mengerjakan tugas itu di tengah dunia ini? Media sosial merupakan sarana yang mudah, murah dan efektif untuk menyampaikan kabar baik tentang Kristus kepada banyak orang, tanpa ada yang bisa membatasinya. Firman Tuhan berkata: ’Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.’ Mungkin kita tidak mempunyai waktu atau biaya untuk pergi ke tempat-tempat yang jauh untuk menceritakan kemuliaan Tuhan. Tapi kita bisa melakukannya dari tempat kita berada, dari rumah kita, dari ruang kerja kita, bahkan dari kamar tidur kita, melalui media sosial. Cukup hanya dengan menggunakan smart phone atau tablet, kita bisa menyampaikan kesaksian kita tentang kebaikan Tuhan kepada banyak orang dimanapun mereka berada. Yang penting anda tahu cara kerja media sosial dan anda mempunyai pengalaman tentang kebaikan Tuhan untuk diceritakan kepada orang lain. Tidak perlu takut berdiri di hadapan orang banyak. Tidak perlu keluar banyak biaya. Media sosial dan internet merupakan kesempatan yang sangat terbuka lebar untuk kita pakai untuk memuliakan Tuhan. Pakailah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
“Kekristenan kita telah termakan usia”, kata Sambey, “seperti seorang lanjut usia yang letih dan tak tahu harus berbuat apa lagi selain menunggu panggilan-Nya.” Pdt. Itong yang berada di sampingnya terusik oleh perkataan itu dan berkomentar, “Kata-katamu sangat pesimis, Sam! Tak tepat diucapkan oleh seorang muda sepertimu.” Sambey merespon dengan memandang pendeta pembinanya itu dengan tatapan penuh arti. Seolah-olah Sambey mau mengatakan bahwa Pdt. Itong telah gagal paham terhadap maksud perkataannya itu. Lagi pula mendewakan rasa optimis juga sama salah kaprahnya jika keoptimisan itu hanya tinggal diam sebagai romantisme belaka. “Sebenarnya apa yang kamu maksudkan dengan perkataanmu itu, Sam?” tanya Pdt. Itong seolah-olah telah menyadari gagal pahamnya. Sambey menghela nafas panjang. “Aku ingin menyampaikan bahwa setiap orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menghabiskan usia. Apalagi menghabiskannya dalam rangkulan dosa yang terus dipelihara. Dalam hal ini Tuhan memakai hamba-hamba-Nya untuk melayani dan memperlengkapi jemaat. Tidak pada tempatnyalah jika jemaat hanya dinina-bobokan dengan janji-janji romantis yang tidak menjawab kerasnya tantangan hidup dan pelayanan yang sangat membutuhkan kekudusan dan kedewasaan rohani.” Pdt. Itong gantian merespon Sambey dengan tatapan sayunya. Jemaat yang terkasih, bangsa Yehuda telah lama menjadi umat Allah, namun perjalanan iman mereka terus diwarnai dengan pengalaman jatuh bangun. Dan pada zaman Nabi Yeremia, dosa mereka telah sangat parah. Kemerosotan hidup bangsa Yehuda tidak lepas dari andil para nabi dan imam yang gemar mendayu-mayu umat dengan janji-janji indah. Melalui nubuat mereka berkata bahwa bangsa Yehuda tidak akan mengalami perang dan kelaparan, tetapi damai sejahtera yang akan mereka alami [ayat 13]. Allah menyebut nabi dan imam seperti ini sebagai nabi dan imam yang bernubuat palsu. Karena janji-janji indah itu tidak selaras dengan hidup sehari-hari bangsa Yehuda yang telah bobrok dalam genangan lumpur dosa. Syukur kepada Allah. Dalam situasi yang demikian ini, Allah tidak tinggal diam dalam murka-Nya. Melalui Nabi Yeremia, Allah kembali menyatakan rahmat pemulihan-Nya setelah proses pertobatan dialami bangsa ini. Yaitu janji bahwa masa depan masih ada. Dan Allah sendiri merancangkan damai sejahtera yang menjadikan secercah harapan itu masih ada. Jemaat yang terkasih, jika dari tahun ke tahun hidup kekristenan kita tidak bertumbuh; pelayanan kita tidak berdampak; maka menjadi risaulah. Ini lebih baik daripada mengharapkan janji-janji romantisme kosong dari balik mimbar nan suci sekalipun. Inilah saat bagi kita untuk melihat diri dan membiarkan Roh Tuhan memulihkan dan membaharui kita. Relakanlah diri kita untuk menerima teguran dan nasihat yang membangun dari saudara-saudara seiman dan para hamba Tuhan. Niscaya damai sejahtera dari Tuhan akan menggairahkan hidup dan pelayanan kita kembali. Selamat mengalami secercah harapan.
Gereja ada untuk sebuah misi Yohanes 20:19-23 Maka kata Yesus sekali lagi: ’Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’ [ayat 21] Sebuah perusahaan kosmetik mencantumkan pernyataan misinya seperti ini: ’untuk mempercantik wanita Indonesia.’ Sekarang ini hampir setiap lembaga, organisasi maupun perusahaan mempunyai visi dan misi. Bahkan seorang yang mau menjadi pejabat harus memaparkan visi dan misinya. Mengapa setiap organisasi, lembaga, bahkan setiap orang, harus mempunyai visi dan misi? Visi dan misi berfungsi untuk menjelaskan alasan keberadaan dari sebuah organisasi atau seorang pribadi: Mengapa dia harus ada di dunia ini. Jika tidak ada alasannya, maka keberadaan organisasi atau orang itu akan percuma saja. Jika organisasi sekuler saja harus mempunyai visi dan misi, apalagi gereja. Bahkan sebenarnya, yang pertama kali memakai kata ’misi’ adalah gereja. Sejak berabad-abad yang lalu gereja sudah mengerjakan misinya, memberitakan Injil, mengutus para misionaris untuk menyampaikan kabar baik kepada bangsa-bangsa di dunia ini. Gereja mempunyai misi oleh karena diutus oleh Tuhan Yesus sendiri. Dia berkata: ’Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’ Kata misi itu sendiri berasal dari bahasa Latin ’misio’, yang mempunyai arti ’pengutusan’. Kata misi itu sejak semula sudah melekat erat dengan kata gereja, karena gereja ada untuk sebuah misi. Bagaimana dengan gereja masa kini? Apakah gereja jelas dengan misinya? Gereja ada untuk sebuah misi berarti gereja ada bukan untuk dirinya sendiri. Kalau gereja hanya mengerjakan hal-hal untuk dirinya sendiri, membesarkan dirinya sendiri, mengejar kesuksesan dirinya sendiri, membangun untuk kenyamanan dirinya sendiri, maka gereja itu tidak mengerti misinya. Dengan kata lain, gereja itu tidak tahu alasan kehadirannya di dunia ini. Mungkin gereja itu punya visi dan misi, tapi visi dan misinya tidak sesuai dengan amanat yang diberikan oleh Sang pendiri gereja, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Kristus mendirikan gereja bukan untuk kepentingan gereja itu sendiri, tapi untuk Kerajaan Allah dan untuk keselamatan orang-orang berdosa. Jemaat yang dikasihi Tuhan, apakah kita mengerti dengan benar untuk apa gereja kita hadir di dunia ini? Sadarkah kita bahwa gereja kita ada untuk sebuah misi dari Tuhan, bukan untuk kepentingan dan kenyamanan orang-orang di dalam gereja itu? Pdt. Goenawan Susanto
Petrus dan Yohanes ditangkap dan dihadapkan ke Mahkamah Agama. Setelah berdebat, Mahkamah Agama melarang rasul-rasul itu untuk mengajar dalam nama Yesus. Mereka menolak larangan itu dengan mengatakan bahwa mereka lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Di hadapan Mahkamah Agama, mereka mengatakan bahwa Allah telah meninggikan Yesus Kristus yang telah disalibkan dan menjadi Juruselamat supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Anggota Mahkamah Agama marah, mereka disesah sebelum dilepaskan. Mereka menguasai diri untuk bertahan dalam penderitaan dan menganggap penderitaan itu layak mereka terima oleh karena nama Yesus. Paulus memberi nasihat kepada Timotius untuk menguasai diri dalam segala hal sehingga sabar menderita pada waktu menjadi pemberita Injil dan menunaikan pelayanan. Orang tidak lagi dapat menerima ajaran sehat dan kesukaannya mengundang guru-guru sesuai kehendaknya untuk memuaskan telinganya. Dalam situasi seperti itu yang walaupun tidak baik waktunya, tetaplah memberitakan Firman. Nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Saat ini sangat sulit untuk mengajak orang untuk mengenal Kristus. Mereka lebih menyukai berita-berita gosip yang sangat banyak di media sosial. Orang lebih mudah diajak bicara masalah politik, ekonomi, entertainment daripada mendengar berita kebenaran. Firman Tuhan dianggap sesuatu yang tidak relevan untuk menjawab kebutuhan manusia di zaman ini. Di tengah situasi ini kita berada dan hidup sebagai murid Kristus. Kita harus bisa menguasai diri untuk menghadapi sakit hati, cemoohan, penolakan dan tetap sebagai saksi-Nya. Walaupun dalam keadaan tidak baik, kita harus dengan sabar tetap memberitakan Firman melalui sikap hidup, perbuatan dan perkataan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Diam Dalam Rumah Tuhan
27 Oktober '17
Mengalami Peristiwa Luar Biasa
07 November '17
Kabar Baik Yang Diceritakan
21 Oktober '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang