SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 28 Maret 2017   -HARI INI-
  Senin, 27 Maret 2017
  Minggu, 26 Maret 2017
  Sabtu, 25 Maret 2017
  Jumat, 24 Maret 2017
  Kamis, 23 Maret 2017
  Rabu, 22 Maret 2017
POKOK RENUNGAN
Cinta Yesus kepada manusia adalah cinta yang tulus dan tidak mengenal diskriminatif.
DITULIS OLEH
Pdt. Victor Y. Nugraha
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kisah Cinta Yesus Kepada Manusia
Kisah Cinta Yesus Kepada Manusia
Selasa, 28 Maret 2017
Kisah Cinta Yesus Kepada Manusia
Yohanes 3:14-21

Tale as old as time [Kisah yang sudah setua waktu]
Song as old as rhyme [Lagu yang sudah setua irama]
Beauty and the beast [Wanita cantik dan si buruk rupa]

Teks di atas merupakan beberapa kata terakhir dari lirik lagu film “Beauty and The Beast” yang beberapa hari ini telah ditayangkan di bioskop-bioskop di seluruh dunia. Kisah Beauty and The Beast adalah kisah tentang seorang wanita cantik yang mencintai sosok pria yang buruk rupa yang menyerupai moster jahat. Sebuah kisah yang tidak lazim dalam pandangan masyarakat umum....selengkapnya »
Tidak bisa dibayangkan betapa susah dan sedihnya bu Bibit karena hari ini merupakan hari terakhirnya bisa makan nasi dan lauk tahu, sebab besok sudah tidak ada lagi makanan yang dapat dimakan. Sudah tiga minggu ini suaminya yang bekerja sebagai buruh serabutan tidak ada panggilan untuk bekerja. Uang hasil kerja seminggu yang lalu sudah habis. Akhirnya bu Bibit bersama suaminya hanya bisa bersyukur dan berserah serta mohon belas kasihan Allah supaya ada pekerjaan buat suaminya. Hari pertama dengan tidak bisa masak mulai mereka lewati. Tidak sesuatupun yang terjadi. Memasuki hari kedua, pada tengah hari ada sepasang suami istri yang dahulu pernah ditolong suami bu Bibit datang ke rumah untuk memberi pekerjaan dan sekaligus membawa sedikit bahan makanan. Betapa bersyukurnya mereka sebab hari itu mereka bisa makan dan besok suami mulai bekerja sehingga ada penghasilan untuk menjalani hidupnya ke depan. Nats renungan pagi ini berbicara tentang sebuah perintah Allah yang agak tidak terbiasa bagi seorang nabi bernama Elia. Nabi Elia disuruh menyampaikan pesan penting kepada Raja Ahab. Pesan itu bukan berita sukacita namun berita dukacita sebab berisi tentang hukuman yang Allah jatuhkan atas Israel. Dalam waktu dekat negeri mereka akan ditimpa kekeringan. Pasti bisa dibayangkan betapa seriusnya bahaya kelaparan yang akan mereka alami dalam wktu dekat. Namun Allah tidak kekurangan cara untuk memelihara hidup hamba-nya, Nabi Elia ketika harus melewati masa paceklik. Agar bisa tetap hidup, Allah memakai burung gagak untuk memberi makan Nabi Elia di gunung Kerit. Hampir setiap hari di musing kering itu burung gagak membawa roti dan daging untuk dimakan Nabi Elia sampai air sungai Kerit menjadi kering dan tidak ada lagi air yang bisa dipergunakan untuk minum. Dari pengalaman hidup Nabi Elia kita bisa belajar bahwa Allah di dalam Yesus Kristus memiliki seribu satu macam cara dan jurus untuk memelihara hidup kita yang sedang menghadapi masa ‘paceklik atau kekeringan’. Hal ini mengingatkan kita bahwa sesungguhnya Allah adalah sumber kehidupan kita, sumber rejeki kita, sumber makanan kita sehingga tidak perlu kita merasa kuatir andaikata saat ini kita sedang memasuki masa paceklik order atau keuangan atau makanan. Allah suatu saat pasti akan mengirim rejeki melalui ‘burung gagak’ ke rumah kita sehingga hidup kita tetap terpelihara. Maka sikap yang penting untuk meresponi bila situasi ini terjadi dalam hidup kita adalah tetaplah bersyukur, berharap dan percaya bahwa Allah pasti akan memelihara hidup kita. Dan peganglah Firman Allah yang terdapat dalam Filipi 4:6, 19 yang merupakan janji Allah kepada kita.
Yakobus 1:22 menyatakan “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” Ayat ini tidak bermaksud mengadakan pembedaan antara pelaku dan pendengar firman. Kata-kata ‘...dan bukan pendengar saja’ menunjukkan bahwa siapa pun orang Kristen tidak hanya berhenti pada mendengar firman saja. Memang mendengar firman adalah awal yang benar, tetapi belum selesai sebab kalau hanya sampai di situ saja, firman Tuhan berkata ‘..kamu menipu diri sendiri’. Kepala manggut-manggut, wajah berseri, mulut tertawa, mata terbelalak lebar ketika mendengarkan firman sebagai bentuk umpan balik. Pertanda bahwa firman telah ditangkap dengan baik, pengkhotbah pun lega. Tetapi ketika keluar dari kebaktian semua yang didengarnya dengan cepat terlupakan, dan kembali hidup dalam kebiasaan lama yang tidak sesuai firman yang didengarnya, itulah menipu diri sendiri. Tetapi ada juga ekstrim kedua: ketika jam ibadah, kagak pernah dengerin firman. Kalaupun duduk maka melakukan aktivitas lain. Ada saja yang dilakukan. Tetapi kalau soal angkat-angkat kursi, angkut-angkut barang, persiapan bagian perlengkapan dalam acara program gereja jangan tanya tiada duanya, rajin luar biasa. Tipe seperti ini sangat disukai banyak orang karena semua dikerjakan dengan baik. Banyak acara kelar dan setiap kali ada acara gereja selalu saja ada tipe seperti ini. Salahkah? Tidak! Tetapi tidak cukup berhenti sampai di situ saja. Lalu bagaimana? Tentu saja pada saat-saat tertentu kita harus bisa bersikap seperti Maria, yaitu duduk tenang mendengar firman Tuhan, tetapi di lain waktu kita harus bisa bersikap seperti Marta. Artinya kita juga memiliki semangat mengerjakan banyak hal, namun demikian harus ada urutan yang tepat. Yang pertama, kita harus bersedia bersikap seperti Maria, yaitu mendengar firman Tuhan. Dan kedua, kita harus berusaha keras untuk melakukan apa yang kita dengar, yaitu firman Tuhan itu. Dengan demikian hal ini bukan satu pilihan di antara dua, tetapi dua-duanya harus kita lakukan, yaitu mendengar firman dan kemudian kita melakukannya.
Tulisan “HARAP TENANG” pada waktu yang lalu banyak kita jumpai di kantor-kantor, di ruang tunggu praktek dokter dan di rumah sakit. Tentunya tulisan itu dipasang sebagai public notice dengan harapan di dalam tenang ada keteduhan, ada kesejukan hati. Dan itu akan memberi kenyamanan kerja, kenyamanan pasien yang menunggu panggilan dokter untuk diperiksa. Sekarang tulisan itu sulit kita temukan. Dalam gedung gereja kita yang lama, di kiri kanan mimbar dipasang tulisan: “DIAM & BERDOA, TUHAN HADIR”. Tulisan itu cukup memberkati jemaat, mereka masuk ruang ibadah, duduk, diam dan berdoa menikmati kehadiran Tuhan sambil menunggu kebaktian dimulai. Bahkan di hari-hari biasa, pagi hari, tidak ada kebaktian, ada jemaat yang datang, duduk sendiri di depan mimbar berdiam diri berdoa. Entah apa yang mereka sampaikan kepada Tuhan tidak ada orang yang yang tahu tapi saya yakin Tuhan hadir menjamah mereka. Firman Tuhan [1 Petrus 4:7] menasihatkan “kuasailah diri, jadilah tenang supaya kamu dapat berdoa”. Daud adalah manusia yang sarat dengan masalah. Lebih-lebih sejak ia diurapi menjadi raja menggantikan Saul. Karena iri hati Saul, Daud ada dalam kejaran pedang, diburu, terancam bahaya maut, kesesakan dan ketakutan bertubi-tubi datang dalam hidupnya. Daud mendapatkan ketenangan sewaktu ia datang pada Allah yang hidup mencurahkan segala isi hatinya. Masalah datang setiap saat dalam hidup kita tanpa diundang. Tetap saja rasa panik dan bingung lebih cepat menyergap kita daripada ide cemerlang untuk mengatasi masalah itu. Semua itu hal yang wajar dan manusiawi tapi perlu kita ingat bahwa kita punya tempat yang tepat untuk mencurahkan semua gundah gulana kegalauan hati kita. Harap tenang, hampiri Allah, sapalah Dia dalam doa. Allah mengerti apa yang sedang terjadi. Dia sudah mempersiapkan jalan keluar bagi kita. Datang, sujud di hadapan-Nya dan berdoa. Mintalah dan terimalah kelegaan dari-Nya.
Dalam sebuah pameran lukisan terdapat sebuah lukisan yang cukup besar dan menarik banyak orang. Lukisan yang menggambarkan badai topan disertai hujan lebat di lautan. Gelombang air laut yang sangat tinggi dan kilat yang menakutkan di tengah kegelapan. Ada dua buah kapal yang sedang terombang-ambing. Di tengah suasana yang mencekam itu ada seekor burung pipit yang sedang bersiul dengan gembira di sebuah lubang pada batu karang yang kokoh. Di ujung kanan bawah lukisan tertulis “TENANG”. Daud seorang raja pilihan Allah, selalu menang dalam setiap peperangan, memiliki harta yang melimpah, dihormati dan dikagumi oleh rakyatnya. Tetapi Daud tidak bebas dari masalah, pernah hidup sebagai seorang buronan yang akan dibunuh oleh Saul. Anak kandungnya memberontak, terusir dari istana dan menjadi pelarian. Di tengah masalah yang sangat berat, dia bisa tenang karena dekat dengan Allah. Baginya Allah adalah gunung batu dan kota benteng yang memberi keselamatan dan harapan. Dia tidak mencari pertolongan dari orang lain karena dia yakin pertolongan datang dari Tuhan. Dia percaya kepada Allah dan mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan setiap saat. Setiap masalah akan membuat kita cemas, takut, marah, gelisah dan bisa menimbulkan depresi. Dengan kekuatan dan usaha kita sendiri tidak mungkin kita bisa tenang pada saat sedang mempunyai masalah. Kita bisa belajar dari Daud, percaya penuh kepada Allah dan mempunyai hubungan intim dengan Tuhan melalui saat teduh di mana kita bisa mencurahkan isi hati kita kepada-Nya. Tuhan bukan hanya ada pada waktu kita butuh tetapi setiap saat Dia adalah batu karang dan kita ada di dalam-Nya. Setiap saat kita rasakan kehadiran-Nya, dengan demikian tenang di saat badai akan terwujud.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jangan Gagal Fokus
21 Maret '17
Balok Dan Selumbar
03 Maret '17
Peluang
22 Maret '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang