SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 27 Juli 2017   -HARI INI-
  Rabu, 26 Juli 2017
  Selasa, 25 Juli 2017
  Senin, 24 Juli 2017
  Minggu, 23 Juli 2017
  Sabtu, 22 Juli 2017
  Jumat, 21 Juli 2017
POKOK RENUNGAN
Hindari kesombongan rohani dengan selalu membandingkan pencapaian rohani kita dengan moral dan karakter Kristus, yang bermotto: ”Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia [Allah Bapa] yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” [Yohanes 4:34]
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Waspada Terhadap Kesombongan Rohani
Waspada Terhadap Kesombongan Rohani
Kamis, 27 Juli 2017
Waspada Terhadap Kesombongan Rohani
Lukas 18:9-14

Dalam perumpamaan ini Tuhan Yesus mengkontraskan antara orang Farisi dan pemungut cukai. Pada masa itu orang Farisi mewakili golongan orang yang mempunyai moral baik, sebaliknya orang berdosa diwakili oleh pemungut cukai. Farisi adalah golongan imam Yahudi yang mendalami, mengajarkan dan mentaati secara kaku dan legalistik, yaitu melakukan hukum Taurat hanya sesuai dengan bunyinya saja dan sangat mendetail. Mereka merasa dirinya lebih baik dari pada orang lain. Mereka tidak melakukan pelanggaran moral umum, misalnya: mencuri, merampok, berzinah, menipu, dll. Mereka juga menuntut penghormatan dari manusia lain.

Di zaman ini bisa dijumpai orang Farisi modern, yang merasa puas diri dengan sudah menjadi “orang baik” karena tidak melanggar hukum. Merasa telah menjalankan hidup keagamaannya dengan telah ikut mengambil bagian dalam kegiatan rohani di gereja dan puas dengan keadaan rohaninya. Mereka membandingkan kualitas moralnya dengan orang di luar gereja. Orang Farisi modern biasanya bersikap moralis, suka menghakimi, menghukum orang lain tanpa belas kasihan.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa standar moralitas orang ...selengkapnya »
Beberapa puluh tahun yang lalu ada seorang pemuda yang pekerjaannya mencuri. Berbagai macam barang pernah ia curi. Pernah tertangkap polisi dan masuk penjara, tetapi setelah bebas dari penjara, ia tetap melakukan pencurian. Suatu saat di hari minggu, ia lewat di sebuah gereja dan melihat banyak sepeda diparkir di situ. Ia masuk halaman gereja yang tidak terlalu luas dan memilih sebuah sepeda yang akan dicuri. Tiba-tiba ia mendengar suara, bertobatlah jangan hidup di dalam kegelapan, mencuri, merampok, mabuk dan jalanlah dalam terang. Ia tidak jadi mengambil sepeda dan mendengarkan khotbah sampai selesai. Minggu depannya ia kembali ke gereja bukan untuk mencuri tetapi ikut kebaktian. Ia bertobat, meninggalkan kehidupan lama dan menjadi hamba Tuhan yang dipakai Allah seumur hidupnya. Dahulu kita hidup dalam kegelapan, karena anugerah Kristus saat ini kita hidup dan berjalan dalam terang. Terang akan berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Melakukan perbuatan yang berkenan kepada-Nya. Jangan turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Bahkan malu bila memperbincangkan hal-hal kegelapan. Bangkitlah, terangilah setiap kegelapan karena cahaya Kristus ada dalam hidup kita. Bila kita mendengar atau melihat berita di sekitar, banyak orang yang demikian mudahnya melakukan hal-hal kegelapan, merugikan orang lain, korupsi, fitnah, pembunuhan karakter melalui medsos. Jangan terpengaruh untuk melakukannya karena kita seharusnya hidup dan jalan dalam terang yang berdampak kebaikan, keadilan dan kebenaran. Bila ikut-ikutan menyebar berita melalui medsos yang berisi ujaran kebencian, fitnah yang tidak tahu kebenarannya, berarti kita telah ikut hidup dalam kegelapan. Marilah tinggalkan kegelapan, jalanlah dalam terang karena banyak orang yang membutuhkan terang di jalan hidupnya.
Ada seorang tukang becak sempat dimarahi teman-temannya, dan bahkan istrinya pun pernah memarahinya. Penyebabnya yaitu, ketika awal memulai pekerjaannya sebagai tukang becak, dia tidak pernah mematok tarip kepada setiap penumpangnya. Dia selalu menerima berapapun yang dibayarkan oleh penumpangnya. Ternyata kebiasaannya yang sempat membuat marah sesama tukang becak ini membuahkan hasil. Setiap orang yang pernah diantarnya, menjadi pelanggan setianya. Dan ketika membayar pun selalu memberi dengan uang lebih. Yang membahagiakan bapak becak adalah ketika hari-hari raya dia kebanjiran berkat yang bermacam-macam bentuknya. Melalui cerita pengalaman di atas, saya teringat dengan keberanian Rahab ketika ia menyembunyikan para pengintai dari Israel [Yosua 1:1-24]. Ia telah banyak mendengar tentang Allah orang Israel. Hal itu seringkali membuat batinnya berkecamuk, tetapi pikirannya terus bekerja. Apa yang harus dilakukannya kepada kedua orang pengintai itu? Ia memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat muncul. Jika ia ketahuan menyembunyikan para pengintai, maka kematiannya dan keluarganya yang akan diperolehnya. Namun ia tahu bahwa ia harus mengambil keputusan yang tepat dengan berani. Akhirnya ia memutuskan untuk menyembunyikan kedua pengintai itu di bawah timbunan batang rami yang ditebarkan di atas sotoh rumahnya. Tentunya keberanian menolong dua pengintai dengan segala resikonya patut menerima upah yang sepadan. Rahab, si perempuan sundal itu, tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga seluruh anggota keluarganya [Yosua 2:12-14]. Dan upah keberanian Rahab, yaitu ketika Yerikho direbut Israel, maka ia dan seluruh kaum keluarganya mendapat pembebasan dan tinggal di tengah-tengah orang Israel [Yosua 6:25]. Apa yang dilakukan Rahab seperti pernyataan Salomo [Pengkhotbah 11:1], “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatnya kembali lama setelah itu.” Ini adalah salah satu kunci sukses yang dimiliki oleh Salomo. Dia menjadi Raja yang kaya raya karena kesungguhannya ketika berbuat sesuatu. Artinya, apa yang kita usahakan dengan sungguh, segenap hati, dan ikhlas akan membuahkan keberhasilan. Walaupun mungkin dianggap sesuatu yang remeh, tetapi ketika kita melakukannya dengan niat baik tulus, maka suatu saat, tanpa kita harapkan, akan mendatangkan manfaat bagi diri kita. Bagaimana dengan kita sekarang, sudahkah memiliki keberanian dalam bertindak? Dalam setiap usaha, pergumulan, pekerjaan dan apapun yang kita rindukan harus dibarengi dengan keberanian untuk bertindak walaupun ada resiko yang harus kita ambil. Tentu saja harus disertai dengan iman bahwa Tuhan yang membuat berhasil. Seberapa banyak benih yang kita tabur akan menentukan seberapa banyak yang akan kita tuai jika dilakukan dengan sepenuh hati dan penuh iman. Pendek kata, keberhasilan yang kita dapatkan akan sebanding dengan pengorbanan yang kita lakukan.
“Wauw....seger....”, ucap salah seorang pengunjung rumah makan saat meneguk minuman yang menarik perhatian para pengunjung lain termasuk saya karena diucapkan cukup keras. Ternyata yang diminumnya es kelapa muda. Sambil menunggu pesanan yang belum disajikan, pikiran saya melayang jauh ke masa lampau, kehidupan masa kecil saya. Di kebun ada beberapa pohon kelapa. Saat nenek membuat sapu lidi, kami para cucu belajar buat ketupat dari daun kelapa yang masih muda. Nenek juga bercerita semua bagian dari pohon kelapa bisa digunakan. Memang benar. Sebatang pohon kelapa memiliki banyak manfaat karena semua unsur pada pohon kelapa dapat digunakan untuk keperluan manusia. Mulai dari pucuk sampai akar dapat dipergunakan untuk berbagai kebutuhan. Seperti halnya pohon kelapa, begitu juga hidup kita. Betapa indahnya jika setiap aspek dalam kehidupan kita bisa bermanfaat, meskipun mungkin kemampuan kita hanya bisa memberikan “akar”. Jangan rendah diri karena saat sang pohon masih hidup, akar sangat diperlukan untuk suplai makanan ke seluruh bagian pohon sama seperti akar pohon-pohon yang lain. Tetapi saat pohon kelapa di”panen”, akarnya pun dapat dimanfaatkan untuk bahan kerajinan tangan sebagai alat penghias rumah dan untuk benda yang bernilai seni. Tidak usah iri hati kepada mereka yang dapat mempersembahkan “ketupat, sapu lidi, es kelapa muda, minyak goreng, dsb”. Apapun diri kita, dengan pertolongan dari Tuhan, dapat bermanfaat dan memberi dampak yang baik bagi “sesama”. Alkitab menyatakan agar kita mengasihi ’sesama’ seperti diri kita sendiri [Matius 22:39]. Sesama kita tidak hanya orang yang tinggal atau bekerja di dekat kita, tetapi setiap orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan. Bersikap sopan dan peduli kepada sesama adalah prinsip rohani yang selayaknya dimiliki oleh setiap anak Tuhan. Mengapa? Karena berlaku sopan dan peduli merupakan wujud nyata dari “keramahan” sesuai dengan apa yang Firman Tuhan katakan dan tentu saja membuat nyaman suasana di mana kita berada. [Efesus 4:32]. Amin.
Anak-anak di mata Tuhan Matius 19:13-15 Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: ’Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.’ Lalu Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ. Hari ini merupakan Hari Anak Nasional. Pemerintah telah menetapkan bahwa setiap tanggal 23 Juli merupakan peringatan Hari Anak Nasional. Dalam nas bacaan di atas kita melihat sikap Yesus terhadap anak-anak. Yesus begitu menghargai anak-anak. Yesus senang jika ada anak-anak datang kepada-Nya. Tetapi justru murid-murid-Nya menjadi penghalang bagi anak-anak itu untuk datang kepada Tuhan Yesus. Mengapa anak-anak begitu berharga di mata Tuhan? 1. Mereka adalah orang-orang yang layak untuk memiliki Kerajaan Allah. Hati mereka masih murni, pikiran mereka masih polos, hati mereka tidak bercabang. Mereka percaya penuh kepada orang tuanya. 2. Mereka adalah generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan di dunia ini. Masa depan bangsa dan dunia ini ada di tangan mereka. Harapan agar dunia ini menjadi lebih baik ada di tangan mereka. Jika Tuhan begitu menghargai anak-anak, bagaimana sikap kita? 1. Kadang-kadang kita kurang menghargai anak-anak, bahkan terkadang kita menelantarkan mereka. Kita kurang memberikan perhatian yang cukup buat mereka. Kita lebih mementingkan pekerjaan, kesibukan, hobi, atau gadget kita. Padahal anak berhak untuk mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari kita sebagai orang tuanya. Ketika Tuhan berkata: ’Jangan menghalangi mereka’ artinya jangan merampas hak mereka. 2. Terkadang kita juga menjadi penghalang bagi anak-anak, sehingga anak-anak itu tidak bisa datang kepada Tuhan. Bagaimana bisa kita menjadi penghalang bagi anak-anak? Jika kita memberikan suatu contoh perbuatan yang tidak baik, kita menjadi batu sandungan bagi anak-anak, berarti kita menjadi penghalang bagi anak-anak. Anak-anak bukannya mengenal Tuhan melalui kita, tapi mengenal kejahatan melalui kita. Marilah pada hari ini kita mengingat bahwa Tuhan begitu menghargai anak-anak. Karena itu janganlah kita mengabaikan atau menyepelekan anak-anak. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bangkit dan Terus Berjuang
11 Juli '17
Hidup yang Berserah
18 Juli '17
Tiada Rotan Akarpun Jadi ?
22 Juli '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang