SEPEKAN TERAKHIR
  Sabtu, 23 Februari 2019   -HARI INI-
  Jumat, 22 Februari 2019
  Kamis, 21 Februari 2019
  Rabu, 20 Februari 2019
  Selasa, 19 Februari 2019
  Senin, 18 Februari 2019
  Minggu, 17 Februari 2019
POKOK RENUNGAN
Ketika engkau mulai merangkul kasih karunia Allah dan berjalan dalam pengampunan, sebenarnya engkau sedang menghancurkan benteng kepahitan dan manifestasinya.
DITULIS OLEH
Pdt. Nathanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Tetap Hidup Dalam Kasih Karunia
Tetap Hidup Dalam Kasih Karunia
Sabtu, 23 Februari 2019
Tetap Hidup Dalam Kasih Karunia
Ibrani 12:15

Kasih merupakan gairah untuk bersatu. Sedang kepahitan ditandai dengan kurangnya kasih. Kasih yang dingin ini merupakan suatu benteng yang jahat. Dalam generasi kita, kasih yang dingin ini semakin terlihat dan menjadi biasa. Kasih yang dingin menutup kuasa doa dan menghalangi aliran kesembuhan serta penyelamatan. Apabila ada suatu penolakan untuk mengampuni pada diri seseorang ataupun gereja, maka dunia kejahatan mempunyai akses yang lapang. [Matius 18:34]

Firman Tuhan berkata bahwa sebuah akar kepahitan yang kecil sekalipun bisa bertumbuh dan merusak banyak orang [Ibrani 12:15]. Kepahitan adalah dendam yang tak terpenuhi. Suatu tindakan yang tak terpikir ataupun suatu kekejaman bisa menyebabkan luka yang dalam. Memang tidak bisa dihindari bahwa dalam dunia yang semakin keras dan kejam kita bisa menjadi terluka. Tetapi kalau engkau gagal bereaksi dalam kasih dan pengampunan, kalau engkau mau tetap memperhitungkan hutang orang lain dalam rohmu, maka kemarahanmu itu akan merampok kemampuan hatimu untuk mengasihi. Tanpa sadar engkau akan menjadi anggota dari kelompok mayoritas Kristen akhir jaman yang kasihnya sudah menj...selengkapnya »
KASIH..... Kata yang sangat indah, dambaan setiap insan ....... Jika bertepuk sebelah tangan berat hati ini menerima kenyataan...... Tak jarang pula ada motivasi terselubung yang tak terduga membuat hati kecewa. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, kita bisa membaca betapa indahnya ungkapan Rasul Paulus tentang KASIH. Kefasihan kita bicara dalam semua bahasa bahkan bahasa malaikat sekalipun akan tidak berarti kalau kita tidak mempunyai KASIH [ayat 1]. Kebanggaan kita karena memiliki karunia untuk bernubuat dan bisa mengetahui segala rahasia serta memiliki pengetahuan, juga memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi semuanya itu sama sekali tidak berguna jikalau kita tidak mempunyai KASIH. [ayat 2]. Kemurahan hati kita dalam berbagi kepada sesama, bahkan rela menyerahkan tubuh kita untuk dibakar, sedikitpun tidak ada faedahnya bagi kita jika kita tidak mempunyai KASIH [ayat 3]. Dari ketiga ayat tersebut kita mengerti bagaimana hebatnya peranan KASIH dalam kehidupan manusia. Apa saja kehebatan KASIH? Mari kita simak apa yang dikatakan Rasul Paulus tentang KASIH. KASIH itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong [ayat4]. Dari definisi ini, sudahkah KASIH ada dalam diri kita ?. KASIH itu tidak melakukan yang tidak sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain [ayat 5] – Bagaimana ? Dari definisi yang ini adakah KASIH dalam diri kita? KASIH tidak bersukacita karena ketidak adilan tetapi bersukacita karena kebenaran [ayat 6]. – adakah KASIH dalam diri kita sesuai dengan definisi ini ? KASIH menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu [ayat 7] – termasuk “bocor mulut” kah kita?? Rasul Paulus juga menuliskan suatu ungkapan luar biasa: nubuat akan berakhir, bahasa Roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap tetapi KASIH tidak berkesudahan[ayat 8] juga dikatakan, KASIH adalah TERBESAR diantara iman, pengharapan dan kasih [ayat 13] Memiliki KASIH tentu merupakan kerinduan kita semua. Mari kita hidupi definisi KASIH yang dituliskan oleh Rasul Paulus tsb dalam hidup kita sehingga benar-benar kita memiliki KASIH yang memberkati banyak orang. Amin.
Catenaccio adalah sistem taktis dalam permainan sepak bola yang menitik beratkan kekuatan pada pertahanan. Dalam bahasa Italia, catenaccio berarti ’Kunci’ sehingga dapat diartikan bahwa catenaccio adalah strategi permainan dengan pertahanan yang terorganisir dan efektif agar lawan kesulitan menyerang atau mencetak gol. Publik sepak bola Italia pertama kali melihat sistem permainan bertahan pada akhir 1940 an ketika Giuseppe Viani menempatkan seorang libero, saat mengarsiteki tim Salernitana. Strategi ini kemudian dikenal luas ketika pada tahun 1960 an Helenio Herrera menerapkannya pada tim Internazionale. Kemudian catenaccio mengalami kejayaannya di tim nasional, saat Italia berhasil menjadi juara di piala Dunia 1982. Ciri khusus dalam sistem ini adalah penempatan seorang libero yang berdiri bebas tepat di belakang tiga pemain belakang dan di depan penjaga gawang. Ciri yang kedua dari sistem ini adalah pertahanan yang kuat. Para pemain belakang yang saling pengertian, bekerja sama dan saling menopang satu dengan yang lainnya. Setiap pemain belakang, termasuk seorang libero, tidak merasa dirinya yang paling hebat. Setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat, tidak jarang berkata “Aku Mengasihi Tuhan”, atau berkata “Dengan segenap hati aku mencintai Engkau Yesus”. Di dalam bacaan kita hari ini diungkapkan bahwa mengasihi adalah hal yang wajib dilakukan. Tindakan mengasihi terwujud dalam dua hal, yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi manusia. Namun, jika direnungkan lebih lanjut, dua tindakan mengasihi tersebut adalah satu kesatuan. Artinya adalah bahwa mengasihi Tuhan harus diwujudkan dengan tindakan mengasihi sesama. Jika seseorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka dia wajib mengasihi sesamanya. Tuhan telah terlebih dahulu memberi teladan kasih kepada manusia. Oleh karena itu wajiblah kita untuk saling mengasihi. Janganlah kita merasa diri kita yang paling hebat dari yang lain. Jangan jemu-jemu untuk berhenti mengasihi. Jangan bosan untuk bekerja sama dan menghargai sesama kita. Apakah anda mengasihi Tuhan? Jika anda mengasihi Tuhan, maka buktikan itu dengan mengasihi sesama. Kasih mula-mula yang sudah kita bangun bersama dengan Tuhan, akan sempurna saat kita mengasihi sesama. Mulailah mempraktekkannya dengan mengasihi orang-orang yang terdekat dengan kita, yaitu keluarga kita. Jangan pernah kita berkata kita mengasihi Tuhan, jika kita tidak pernah mengasihi sesama kita. Sebab hal tersebut adalah dusta adanya [1Yoh 4:20].
Pada tahun 2009 simpati berdatangan kepada Prita Mulyasari, yang divonis bersalah oleh Pengadilan Tinggi Banten dan harus membayar kompensasi sebesar Rp 204 juta. Simpati itu berupa penggalangan dana ’Koin untuk Prita’. Prita Mulyasari adalah terdakwa kasus pencemaran nama baik sebuah rumah sakit di Tangerang Selatan. Dia digugat ke pengadilan karena menulis keluh kesahnya tentang buruknya pelayanan rumah sakit tersebut melalui surat elektronik. Masyarakat luas tidak tinggal diam dengan kejadian yang menimpa Prita. Berbagai aksi solidaritas dilakukan dan salah satunya ‘Koin Untuk Keadilan’. Secara sederhana, solidaritas dipahami sebagai rasa kebersamaan, rasa kesatuan kepentingan, rasa simpati, rasa setia kawan. Rasa solider tersebut muncul karena adanya rasa senasib sepenanggungan, rasa kepedulian sebagai bentuk simpati. Rasa Solidaritas ini memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan suatu tindakan nyata. Dalam pembacaan nats hari ini, Paulus menyaksikan bagaimana besarnya solidaritas yang ditunjukkan oleh jemaat di Makedonia [di antaranya jemaat Filipi, Tesalonika, dan Berea] kepada saudara-saudara seiman di Yerusalem yang dalam kondisi sangat kekurangan. Meskipun jemaat Makedonia sendiri juga sedang mengalami aniaya dan kekurangan, tetapi hal itu tidak menghalangi kerinduan mereka untuk membantu meringankan beban yang dialami jemaat Yerusalem melalui pengumpulan dana. Rasa senasib sepenanggungan, rasa simpati, rasa setia kawan telah menggerakkan mereka untuk bertindak, bahkan melebihi ekspektasi Paulus. Iman dan kasih kepada Kristus memang bukan hanya nyata melalui doa atau ibadah, tetapi juga harus tampak dalam solidaritas kepada sesama, khususnya saudara seiman. Iman dan kasih kepada Kristus itu jangan hanya di bibir saja, melainkan harus juga dinyatakan melalui tindakan praktis dan nyata. Misalnya dengan menyatakan keprihatinan, mendampingi, menolong, atau memberikan dukungan. Solidaritas yang kita tunjukkan dalam tindakan sekecil apapun mempunyai nilai yang besar bagi mereka yang dibantu. Sehingga hal itu akan menunjukkan bahwa kasih di antara saudara-saudara seiman dan sesama ada dan sungguh nyata. Solidaritas kita kepada saudara seiman tidak boleh dibatasi oleh denominasi gereja. Solidaritas kita kepada sesama tidak boleh dibatasi oleh suku, ras dan agama. Dan juga tidak seharusnya dihalangi oleh kondisi kita sendiri. Apapun dan bagimanapun keadaan kita, solidaritas itu harus tetap kita tunjukkan sebagai bukti nyata iman dan kasih kita kepada Kristus. Mari kita melihat sekitar kita, kepada saudara seiman dalam komunitas gereja kita atau komunitas Kristen secara luas dan juga kepada sesama saudara sebangsa setanah air. Apa yang bisa kita lakukan bagi mereka, khususnya yang sedang membutuhkan kepedulian kita? Tunjukkan rasa solider kita!
Tuhan Yesus menegur Petrus pada saat dia menghalangi perjalanan Yesus ke Jerusalem untuk menuntaskan misi Bapa menyelamatkan manusia. Adalah rancangan Bapa untuk Yesus menderita dan mati di kayu salib guna menebus dosa manusia. Dikatakan bahwa pikiran iblis telah menyusup ke dalam pikiran Petrus. Pikiran murid-murid Yesus adalah ingin menjadikan Yesus sebagai pembebas bagi kerajaan Israel dari penjajahan bangsa Roma. Tentunya juga supaya bangsa Yahudi bisa hidup nyaman, terpenuhi kebutuhan jasmani. [Kisah Rasul 1:6] Pada dasarnya pikiran iblis adalah semua pola pikiran yang mengarah pada tidak tergenapinya kehendak dan rancangan Bapa. Celakanya dalam praktek kehidupan sehari-hari orang percaya pikiran tersebut sering dianggap wajar-wajar saja. Beberapa contoh yang harus diwaspadai yaitu: Pertama,.Pikiran menyederhanakan makna anugerah keselamatan. Keselamatan dianggap sebagai hal yang murah dan mudah. Asal percaya pasti selamat dan mati masuk surga, padahal percaya yang dikenakan hanya sekedar pengakuan akali tentang identitas dan riwayat Yesus. Seharusnya sebagaimana Abraham, percaya atau iman adalah tindakan penyerahan kepada dan melakukan kehendak pribadi yang dipercayai, yaitu kehendak Bapa. Kedua, Pikiran yang menekankan/focus pada pemenuhan kebutuhan jasmani dan materialism, yang dikenal sebagai teologi kemakmuran [jasmani]. Hal ini sangat bertentangan dengan Kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yang mengatakan “kumpulkan bagimu harta di surga” [Matius 6:19-20]. Ketiga. Pikiran bahwa orang percaya cukup menjadi orang bermoral baik, santun, beradab, tidak melanggar hukum. Padahal Injil mengajarkan: Orang percaya harus sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus [Matius 5:48, Roma 8:29-30]. Mengalami perubahan pola pikir dan karakter, hidup kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya, yaitu mengenakan kodrat ilahi [Efesus 1:4, Ibrani 12:10]. Juga pikiran bahwa kita tidak bisa sempurna karena bukan malaikat, sedangkanl Tuhan sudah menganugerahkan fasilitas keselamatan/sarana supaya kita bias bertumbuh sempurna seperti Yesus. Untuk itu kita harus berjuang serius, tekun dan nekad mencari Tuhan dan mengikuti tuntunan Roh Kudus [Matius 6 : 33]. Keempat, Pikiran yang membawa kita mengikuti irama hidup dunia, yaitu hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri, egois. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita adalah makhluk ciptaan dan umat tebusan, yang telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar. Maka orang percaya harus hidup hanya untuk Tuhan [I Korintus 6:19-20, I Korintus 10:31, II Korintus 5:15]. Contoh pikiran-pikiran salah tersebut akan disenangi oleh iblis, namun dibenci oleh Bapa karena meleset dari sasaran yang dikehendaki-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ungkapan Kasih
30 Januari '19
Mengapa Kuatir
26 Januari '19
Kasih Itu Dilakukan1
05 Februari '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang