SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 10 Desember 2019   -HARI INI-
  Senin, 09 Desember 2019
  Minggu, 08 Desember 2019
  Sabtu, 07 Desember 2019
  Jumat, 06 Desember 2019
  Kamis, 05 Desember 2019
  Rabu, 04 Desember 2019
POKOK RENUNGAN
Merayakan Natal jangan terpaku dan focus pada hal-hal lahiriah, tetapi ingat perjuangan Tuhan Yesus dari Nazaret sampai Golgota, teladani Dia dalam ketaatan mutlak kepada kehendak Bapa, barulah kita bisa menyenangkan hati Bapa
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Perjuangan Dari Nasaret Ke Golgota
Perjuangan Dari Nasaret Ke Golgota
Selasa, 10 Desember 2019
Perjuangan Dari Nasaret Ke Golgota
Lukas 2:10, 14

Memperingati Natal umumnya selalu dikaitkan dengan kasih Bapa yang memberikan Anak tunggal-Nya menebus dosa semua manusia. Tema natal yang muncul adalah Yesus datang membawa kesukaan dan damai sejahtera di antara manusia yang berkenan kepada-Nya [Lukas 2:10, 14]. Suasana dan berita Natal yang disampaikan bersifat kegembiraan, sukacita karena lahirnya Juru Selamat, Yesus Kristus. Juga ditandai dengan dekorasi semarak disertai acara pesta, makan, minum dan hadiah. Bahkan semarak kegembiraan Natal meluas sampai di mal-mal dan tempat rekreasi. Tentunya hal-hal ini tidak salah, asal makna peristiwa Natal tidak hilang begitu saja.

Natal adalah peristiwa awal menuju kepada tindakan pengorbanan yang sangat mahal harganya untuk keselamatan semua manusia. Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia yang telah jatuh dalam dosa [kehilangan kemuliaan Allah] kepada rancangan-Nya semula,. yaitu segambar dan serupa dengan Sang Pencipta [Roma 3:23, I Petrus 1:18-19]. Pada saat Allah Anak [Pelaksana karya keselamatan] berinkarnasi menjadi anak manusia di bumi ini, dalam segala hal ia disamakan dengan kita sebagi manusia [Ibrani 2:17]. Berarti dalam hidup-Nya juga mengikuti proses tumbuh-kembang di bawah asuhan Yusuf dan Maria mulai dari Nazaret [Lukas 2:40, 52]. Dalam...selengkapnya »
Saat mendengar atau mengingat kata bunglon, pikiran kita pasti akan tertuju ke sosok reptil dengan kemampuan mengubah warna. Di bangku sekolah kita tahu bahwa bunglon mengubah warna kulit untuk mengelabuhi musuh atau berkamuflase. Dengan kemampuannya itu bunglon juga bisa mempunyai arti kiasan untuk orang yang tidak tetap pendiriannya, memihak ke sana sini asal menguntungkan dirinya. Dari bacaan renungan hari ini kita membaca seakan Rasul Paulus menjadi seperti “bunglon” : Pertama, Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat [ayat 20]. Kedua, Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat [ayat 21] Ketiga, Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka [ayat 22] Yang menarik adalah perbedaan tujuan “membunglonkan” diri dari Rasul Paulus bukanlah untuk kepentingan atau keuntungan pribadi tetapi kerinduan untuk memenangkan mereka juga semua dilakukan Rasul Paulus karena Injil [ayat 23] Bagaimana dengan kita? Mungkin situasi dan kondisi kadang membuat kita harus seperti bunglon saat kita berbagi berita sukacita yaitu berita keselamatan kepada mereka yang ada di sekitar kehidupan kita agar kehadiran kita bisa diterima dengan senang hati. Amin.
Sudah barang tentu semua manusia di Bumi ini mengidamkan suasana ketenangan atau suasana damai. Negara-negara [PBB] di dunia ini sudah berupaya dengan sangat serius supaya menekan seminim mungkin perselisihan, pertentangan dan peperangan antar bangsa supaya perdamaian bangsa-bangsa terwujud. Demikian juga sebuah negara, katakan saja Indonesia, para pemimpin negara ini sudah berupaya untuk membangun negara ini menuju keadilan dan kemakmuran, selain itu berusaha keras untuk menekan munculnya garis keras, radikal yang hanya berdampak pada perpecahan bangsa dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Namun hasilnya sampai sekarang dunia masih penuh dengan kekerasan dan mengarah pada sikap destruktif. Yesus mengerti apa yang dibutuhkan dunia [selain pengampunan dosa], Yesus mengerti dunia ini membutuhkan perdamaian. Dosa menimbulkan kengerian dan kekejian dalam berelasi antar manusia [bnd.Kej. 3:11-12]. Satu saja yang dibutuhkan dunia ini dan Yesus sudah memberikan kunci untuk membuka pintu persoalan dunia ini yaitu “hendaklah semua bersedia menjadi hamba yang melayani kepada yang lain” [bnd. Mrk. 10:43-44]. Yesus bukan saja berbicara memberi perintah, tetapi Dia juga telah menghidupi perintah-Nya itu sendiri [ay. 45]. Apabila semua manusia, semua pemimpin di dunia ini melakukan perintah Yesus supaya bersedia menjadi pelayan maka yang terjadi sungguh dahsyat luar biasa. Apakah itu? Terjadinya “saling” melayani. Dunia ini hanya butuh semua manusia, semua pemimpin saling melayani. Bahkan menurut Yesus, syarat untuk menjadi yang terbesar [pemimpin] yaitu hendaklah dia yang melayani. Siapa pun di antara kita rindu menjadi yang terkemuka, jadi pemimpin, jadi bisnisman sukses. Tidak salah! Bahkan harus demikian, kita harus punya visi-misi yang cemerlang untuk masa depan. Di manapun kita berada dalam sebuah pekerjaan dan organisasi saudara berhak untuk menjadi pemimpin, berhak menjadi sukses dan kaya. Di manapun dibutuhkan pemimpin, dibutuhkan orang cerdas-pandai, saudara harus jadi pemimpin dan sukses secara materi. Namun satu hal yang Yesus kehendaki bagi kita semua, terutama yang hendak menjadi pemimpin atau bahkan yang sudah jadi pemimpin di instansi Pemerintahan, di Perusahaan, di Sekolahan, di Universitas, di tempat Usaha kita sendiri, dll., dan saudara memiliki banyak bawahan, “anak buah”, maka dalam menjalankan tugas anda hendaklah dengan sikap mentalitas hamba, pelayan bagi yang lain. Mengapa demikian? Dunia ini [sekitar kita] butuh kita untuk menjadi pemimpin yang bisa memberi keteladanan dengan cara melayani. Amin.
Jalan menuju sukses 2 Kejadian 40:23 Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya. Minggu lalu kita telah belajar dari kehidupan Yusuf tentang jalan menuju sukses. Jalan hidup Yusuf mengarah kepada keberhasilan karena dia merespon dengan baik situasi yang dialaminya, dia bekerja dengan baik sehingga mendatangkan berkat di tempat dia bekerja, dan dia menjaga integritasnya, sehingga dia mendapat perkenan Allah. Walaupun perjalanannya menuju sukses tidak berjalan dengan mulus, dia difitnah oleh istri Potifar dan harus masuk ke dalam penjara, namun dia tetap disertai oleh Tuhan, dan Tuhan membuat dia berhasil dalam apa yang dikerjakannya. Yusuf harus melalui berbagai macam ujian untuk menuju keberhasilan. Di dalam penjara Yusuf mendapat kesempatan untuk mengartikan mimpi dari dua orang pegawai raja yang melakukan kesalahan dan dimasukkan dalam penjara, juru minuman dan juru roti. Mereka berdua mendapat mimpi yang aneh dan Yusuf mengartikan mimpi mereka. Perkataan Yusuf tentang kedua pegawai raja itu ternyata sungguh-sungguh terjadi. Juru minuman diangkat dan dikembalikan ke dalam posisinya yang semula. Tetapi juru roti dihukum mati dengan jalan digantung, seperti yang dikatakan oleh Yusuf. Lalu apa yang terjadi setelah itu? Ternyata juru minuman itu melupakan Yusuf. Padahal Yusuf berpesan kepada juru minuman itu agar mengingat dirinya dan membantu dia untuk keluar dari penjara itu sebab dia tidak melakukan kesalahan apapun. Namun juru minuman itu melupakan Yusuf. Begitulah realitas kehidupan ini. Kadang-kadang kita mengalami hal seperti itu. Kita sudah menolong dan berjasa kepada orang lain. Kita berharap orang tersebut balas menolong kita. Tetapi dalam kenyataan harapan kita itu tak terjadi. Kita dilupakan. Kita harus siap mengalami seperti yang dialami Yusuf. Dan jangan kuatir jika kita dilupakan orang, sebab Allah tidak pernah melupakan kita. Ulangan 4:31 mengatakan: ’Sebab TUHAN, Allahmu, adalah Allah Penyayang, Ia tidak akan meninggalkan atau memusnahkan engkau dan Ia tidak akan melupakan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu.’ Jangan kecil hati jika engkau dilupakan, Allah tidak pernah melupakan kita. Dia tetap memegang janji-Nya dan membawa kita pada rencana-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang ibu merasa sedih, ketika anak kandungnya yang berusia sepuluh tahun tidak bisa dekat dengan dirinya. Ibu ini merasa anak yang dilahirkannya tidak seperti pada umumnya. Ibu ini merasa anaknya tidak bisa bermanja-manja dan dekat dengan kedua orang tuanya. Dalam kesedihannya ia mulai merenungkan, mengapa anaknya tidak bisa dekat dan akrab dengannya. Dalam perenungannya, ia melihat kedekatan anaknya dengan pembantu rumah tangganya yang sudah berumur. Ibu ini mulai berfikir, mengapa anaknya bisa dekat dengan pembantu melebihi hubungannya dengan orang tua sendiri. Dengan air mata yang mulai menetes ia menyadari kesalahannya. Dari sejak melahirkan ia selalu sibuk dengan pekerjaan yang menyita waktu untuk bisa berdekatan dengan anaknya. Ia dan suaminya memiliki pekerjaan yang super sibuk. Setiap hari ia dan suami menghabiskan waktu dengan pekerjaan pekerjaan masing-masing. Hampir sama sekali tidak ada waktu berjumpa dengan anaknya. Di hari liburpun ia dan suaminya lebih banyak ada di luar untuk menikmati hasil kerjanya. Berbeda dengan pembantu rumah tangganya, setiap hari bersama dengan anaknya. Ia begitu perhatian dan selalu menyediakan waktu bagi anak majikannya. Anak itu mendapat kasih sayang dari pembantunya setiap hari. Sehingga tidak mengherankan jika anak majikan tersebut begitu akrab dan menyayangi pembantu rumah tangganya. Bahkan semua sifat dan cara kerja yang dilakukan oleh pembantunya bisa diikuti oleh sang anak. Dari cerita diatas kita belajar memahami bahwa dengan siapa kita bergaul akan mengubahkan kita. Sebab kedekatan akan menularkan sifat, watak, cara yang biasa dilihat dan didengar. Harapan inilah yang diinginkan oleh Tuhan Yesus. Ketika Yesus bersama dengan murid-muridNya, beliau mengatakan “jika kamu di dalam aku dan aku di dalam kamu .... kamu akan berbuah.” Dari kata berbuah artinya bahwa hubungan kedekatan itu akan menghasilkan buah yang sesuai dengan apa yang menjadi interaksi tersebut. Karena jika kita bergaul karib dengan uang maka besar kemungkinan pikiran kita akan dipengaruhi atau selalu memikirkan uang. Jika kita bergaul karib dengan smartphone maka apa yang ada di dalam isi smartphone juga akan menjadi bagian kita. Saat kita bergaul dengan orang-orang yang sukses, besar kemungkinan kita akan berfikir juga ingin sukses dan sebagainya. Dalam hal ini, apakah kita sudah bergaul karib dengan Tuhan dan firman-Nya ? Baik dalam pembacaan Firman Tuhan setiap hari, maupun dalam doa pujian dan penyembahan kita kepada Tuhan. Hanya kita sendiri yang tahu, sebab ketika kita bergaul karib dengan Tuhan dan firmanNya, maka sifat-sifat Allah juga akan menjadi bagian dalam hidup kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Dibutuhkan Pemimpin Yang Melayani
26 November '19
Ketika Masalah Datang Bertubi-tubi
09 Desember '19
Melayani Tanpa Batas1
06 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang