SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Kita seringkali tidak menikmati berkat-berkat yang telah Tuhan sediakan karena tidak berpegang pada ketetapanNya.
DITULIS OLEH
Pdm. Hendy Aguswibowo L.
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Berpegang Pada PerintahNya
Berpegang Pada PerintahNya
Sabtu, 04 Januari 2020
Berpegang Pada PerintahNya
Mazmur 89:32-33

Ada banyak orang Kristen tidak tertarik dan ’merasa jengah’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan. Karena banyak yang berpikir, ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan. Misal, tidak boleh ini tidak boleh itu, pantang melanggar, jika melanggar ada sanksi atau konsekuensinya yang akan di tanggungnya. Seperti tertulis: ’maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dengan pukulan-pukulan.[ayat 32]. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih tertarik mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya.

Yang harus dipahami adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah ’bukan identik’ dari ketaatan seseorang dalam melakukan perintah Tuhan.

Yang harus dipahami adalah ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu. Tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang semestinya dimiliki setiap ...selengkapnya »
Sama seperti awal tahun lalu, awal tahun ini hanya sedikit orang menyambut dengan kegairahan. Kelesuan ekonomi dunia, pergumulan gereja dan kebutuhan keluarga mesti dicukupi, cukup menyita sisi ruang pikiran orang-orang yang berpenghasilan pas-pasan. Sambey yang berasal dari keluarga sederhana turut merasakan sepinya kegairahan tahun baru ini. Meski awal tahun 2020 tetap disambut meriah oleh masyarakat dan jemaat. Kembang api berseliweran memecah kegelapan malam kota Semarang. Trompet dibunyikan dengan nyaring. Doa syukur dan pengharapan dipanjatkan dengan penuh semangat di gereja-gereja. Namun, keceriaan itu hanya sesaat. Sebagai tradisi perayaan semata. Pagi harinya, Sambey kembali harus berpikir dan bergelut menata masa depannya. Ia baru saja lulus sarjana. Dan awal tahun ini adalah langkah pertamanya untuk menapaki dunia kerja yang tak kunjung didapatnya. Sama dengan Sambey, Benay baru lulus sarjana pula. Bedanya Benay telah bekerja sebagai asisten juru masak yang telah ditekuninya beberapa bulan sebelum wisuda. Namun Benay tak luput juga dari pergumulan. Pikirannya tersita dengan status jomblo tak kunjung hengkang dari hidupnya. Benay merasa ragu apakah tahun ini ia akan mendapatkan tambatan hati. Jemaat yang terkasih. Pergumulan Sambey dan Benay di atas adalah gambaran pergumulan yang ada dalam setiap diri manusia. Pergumulan tidak dapat dihapuskan dengan pijar kembang api dan bunyi terompet tahun baru. Pergumulan itu harus diterima sebagai bagian hidup. Sama seperti orang Yahudi terbuang di Babel. Mereka diminta oleh Nabi Yeremia untuk menerima pergumulan itu. Namun bukan menerima secara pasif—pasrah—tetapi menerima pergumulan itu dengan iman. Bahwa kelak, sesuai dengan janji Tuhan, mereka akan dibebaskan dari pergumulan itu. Menerima pergumulan dengan iman, berarti tidak tinggal diam dalam tetes air mata dan penyesalan yang tiada putus. Pergumulan hidup mesti disikapi dengan tetap melakukan apa yang bisa dilakukan. Di Babel, orang Yehuda diminta untuk tetap menjalankan kehidupan sehari-hari. Mereka diminta untuk mendirikan rumah, menikah dan mempunyai keturunan, bahkan mereka diperintahkan untuk turut mengusahakan kesejahteraan kota/masyarakat Babel. Sambil menunggu penggenapan janji Tuhan kepada mereka. Dengan demikian, orang Yehuda tidak kehilangan harapan, sabar dalam penantian dan terus berjuang dalam pergumulan yang mereka alami. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Jika ada di antara kita yang menapaki tahun baru ini dengan pergumulan-pergumulan hidup yang belum usai. Janganlah takut dan menjadi lemah. Marilah tetap beriman dalam menjalani tahun 2020 ini. Dengan demikian pengharapan kita terpelihara dan kita diberi anugerah kesabaran dalam penantian janji Tuhan. Jadi tetaplah bersukacita dalam perjuangan hidup ini. Terpujilah Tuhan!
Waktu berjalan dengan begitu cepat, dan tidak terasa tulisan demi tulisan yang ada di renungan warta jemaat sudah berjalan selama tujuh tahun lamannya. Sejak tulisan renungan warta untuk pertama kalinya dimuat di dalam warta jemaat pada bulan Januari tahun 2011, hingga di hari terakhir di tahun 2019 ini, ada banyak hal menarik di dalamnya. Para penulis renungan harian berusaha memberikan yang terbaik bagi para pembaca renungan ini. Para penulis berusaha menuangkan ide dan perenungannya untuk mengajak jemaat dan seluruh pembaca dapat bertumbuh imannya melalui tulisan ini. Bukan hal yang mudah, bagi para penulis untuk menyajikan ide yang segar, original dan bermanfaat bagi para pembaca. Lihatlah, bagaimana ide tulisan dengan ilustrasi tokoh imajimer yang bernama Benay dan Sambey, dikemas dengan segar yang kemudian membawa jemaat masuk dalam refleksi yang lebih dalam. Atau ilustrasi seputar kisah pribadi dari sang penulis, yang dimunculkan dalam tulisannya. Juga ilustrasi pengantar berupa hal-hal yang terkait dengan sepakbola atau film juga turut muncul di sana. Bahkan, ulasan seputar politik, maupun kejadian sehari-hari yang update pun, pernah muncul dalam renungan harian warta jemaat. Konsisten untuk tetap menulis dan menuangkan ide yang segar sebagai bahan perenungan untuk renungan di warta jemaat, bukan hal yang sederhana dan mudah bagi para penulis. Para Penulis hanya alat-Nya Tuhan untuk memberkati jemaat melalui tulisan. Jika bukan karena Tuhan yang membimbing, para penulis bukanlah siapa-siapa. Tuhan yang membimbing dan memberikan kekuatan! Nabi Samuel beserta seluruh umat Israel pun menyadari hal yang serupa. Bangsa Israel merasakan dan tahu benar tentang sulitnya berperang melawan orang Filistin. Bahkan, tidak jarang juga bangsa Israel harus menelan kekalahan dari lawannya itu, seperti yang dikisahkan di dalam 1 Samuel 4. Seperti halnya sebuah roda yang ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah, kisah sebaliknya justru diceritakan di 1 Samuel 7. Di dalam 1 Samuel 7, bangsa Israel mengalami kemenangan yang luar biasa. Apakah kemenangan ini adalah karena bangsa Israel yang hebat? Nabi samuel, memberi jawaban dengan mendirikan sebuah “monumen”, dengan berkata, ’Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita’ [ay.12]. Kata-kata ini bukanlah hanya sebuah perkataan formalitas, namun ada makna mendalam di dalamnya. Sebuah ungkapan iman yang menyatakan Tuhan yang menjadi pelindung, penolong dan pembela bagi umat Israel, di dalam segala keadaan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih percaya bahwa Tuhan menolong dan menyertai kita hingga detik ini? Masihkah percaya dengan kuasa Tuhan yang tidak terbatas? Masihkah kita percaya pada kebaikan Tuhan? Ataukah, justru dari hari ke hari kita menjadi ragu kepada Tuhan? Tinggal beberapa saat lagi kita meninggalkan tahun yang lama, untuk memulai tahun yang baru. Kira-Nya di tahun yang baru, iman itu tidak menjadi pudar. Iman kita harus terus menyala-nyala di dalam Tuhan. Sebab dari sekarang dan sampai selama-lamanya, Tuhan selalu menolong kita. Selamat bersukacita di dalam Tuhan di tahun yang baru. Tuhan Yesus Memberkati.
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong 1 Samuel 7:12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita.’ Samuel mendirikan sebuah batu sebagai tugu peringatan bahwa sampai pada saat itu Tuhan sudah memberi pertolongan kepada bangsa Israel. Tugu peringatan itu berfungsi selain sebagai pengingat tentang apa yang sudah dialami pada masa lalu, tetapi juga penguat untuk menghadapi tantangan di hari esok. Ayat ini mengajarkan agar kita selalu mengingat pertolongan Tuhan. Jika kita mengingat akan pertolongan-Nya maka kita tidak akan mudah bimbang/ragu/takut dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan di masa yang akan datang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita bisa mengingat apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita. Tuhan tetap sama. Tuhan yang kemarin pernah menolong kita adalah Tuhan yang berjanji akan menolong kita kembali. Janji-Nya tidak berubah. Bagaimana agar kita mengalami pertolongan Tuhan pada saat kita memerlukannya? Ayat 3 mengatakan: ’Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.’ Berbalik kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati adalah langkah pertama agar kita mengalami pertolongan Tuhan. Biasanya kalau dalam kondisi terjepit orang baru sadar bahwa dia butuh Tuhan. Tuhan hanya sebagai tambal butuh. Tetapi Tuhan tahu siapakah orang yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh atau pura-pura. Orang yang sungguh-sungguh pasti akan meninggalkan jalan hidupnya yang salah. Ada yang harus kita singkirkan ketika kita mau berbalik kepada Tuhan. Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya harus kita singkirkan. Langkah yang kedua agar mengalami pertolongan Tuhan adalah dengan berseru kepada-Nya sampai datang pertolongan dari Tuhan. Ayat 8 mengatakan: Lalu kata orang Israel kepada Samuel: ’Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.’ Jangan berhenti berseru kepada Tuhan, itulah kuncinya. Ketika situasi menjadi genting, umat Tuhan tidak lari, tapi mereka berseru kepada Tuhan, sampai Tuhan menolong mereka. Banyak orang berdoa minta pertolongan Tuhan, tapi hanya sekedar saja. Setelah sekali dua kali, lalu berhenti, karena pengharapannya kepada Tuhan tidak sungguh-sungguh. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2020. Jangan lupakan pertolongan Tuhan, beribadahlah hanya kepada Tuhan, dan bertekunlah dalam doa, agar kita selalu mengalami penyertaan dan pertolongan-Nya. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Natal, kelahiran Yesus Kristus di dunia adalah sebuah bentuk ketaatan Anak kepada Bapa-Nya. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia, dalam rangka misi-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Dia lahir di kandang ternak. Tidak memiliki tempat tinggal dan berkali-kali mendapat ancaman. Padahal dalam pelayanan-Nya banyak mujizat terjadi, orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar, mati dibangkitkan. Memberi kelegaan pada mereka yang letih lesu dan berbeban berat. Memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia tetap taat pada misi Allah ketika dipukul, diludahi, diberi mahkota duri, dicambuk dan sampai mati di kayu salib. Pada waktu malam saat gembala-gembala menjaga domba mereka di padang Efrata, datanglah sorang malaikat menemui mereka dan berkata :’Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Mendengar berita yang disertai dengan sejumlah besar memuji Allah : “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia”, mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem. Mereka harus mengatasi kesulitan dan masalah bila berangkat, gelap gulita, menggiring domba-domba di tengah malam. Suatu perkerjaan yang sulit, tetapi mereka taat untuk berjumpa dengan Sang Juru Selamat. Saat ini Yesus tidak lahir di kandang Betlehem, tetapi di hati kita. Bila Sang Firman itu ada dalam hidup kita, seharusnya kita taat melakukannya, Banyak tantangan dan kesulitan yang kita hadapi waktu kita melakukan Firman Tuhan, tetapi kesulitan yang kita hadapi tidak sebanding dengan penderitaan dan pengorbanan Yesus dalam menaati misi Allah. Marilah kita teladani gembala-gembala di Efrata yang tidak menunda waktu untuk merespons Firman Tuhan. Natal mengingatkan kita akan sebuah ketaatan.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Natal : Sebuah Ketaatan
26 Desember '19
Harapan, Penantian, Dan Sukacita Perjuangan
02 Januari '20
Siapkah Kita ???
25 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang