SEPEKAN TERAKHIR
  Kamis, 20 Juni 2019   -HARI INI-
  Rabu, 19 Juni 2019
  Selasa, 18 Juni 2019
  Senin, 17 Juni 2019
  Minggu, 16 Juni 2019
  Sabtu, 15 Juni 2019
  Jumat, 14 Juni 2019
POKOK RENUNGAN
Kekuatan Roh Kudus di dalam diri saudara lebih besar daripada tekanan kesukaran dan permasalahan di sekeliling saudara.
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kuat Dalam KuasaNya
Kuat Dalam KuasaNya
Kamis, 20 Juni 2019
Kuat Dalam KuasaNya
Efesus 6:10-17

Lukisan A Helping Hand [ Tangan yang Menolong ] sangat terkenal, dilukis oleh Emile Renouf. Dalam lukisan digambarkan seorang nelayan tua sedang duduk di sebuah perahu bersamaseorang gadis kecil di sampingnya. Keduanya menggenggam dayung yang sangat besar. Nelayan tua itu menatap si gadis kecil dengan pandangan yang penuh rasa sayang. Gadis kecil itu dengan bersemangat mendayung dengan kekuatannya dan merasa karena dialah maka perahu itu bias bergerak. Dia tidak pernah memikirkan atau membayangkan bahwa tangan nelayan tua di sebelahnya itulah yang mendayung dengan kuat dan menggerakkan perahu.

Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakan seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis. Karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Berikat pinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan. Kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera. Dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, seba...selengkapnya »
Injil Lukas 24:13-31, kisah menarik perjalanan Kleopas dan temannya bersama Yesus ke Emaus walaupun seharusnya ke Galilea. Kleopas cs ditegur: “Hai orang bodoh dan lamban hati untuk percaya “. Mengapa ada teguran keras? ayat 25. Setidaknya ada dua alasan: [1] Mereka menempuh jalan yang berlawanan seperti pesan Yesus kepada Maria Magdalena supaya berkumpul di Galilea Matius 28:10. Emaus terletak di sebelah Barat Yerusalem; terletak di sebelah Timur Yerusalem, dan [2] Keraguan mereka disebut lamban hati [ayat 6-7, 24] meski sudah ada kesaksian perempuan-perempuan dan saksi lainnya. Mereka harus melihat tubuh jasmani Yesus, barulah percaya. Namun Lukas 24:32-33 mencatat hal menarik dan kontras ; Kleopas cs hatinya berkobar-kobar dan kembali ke Yerusalem menjadi saksi kebangkitan. Perubahan sikap yang luar biasa, apa yang terjadi ? ayat 31 tertulis: “Ketika itu terbukalah mata mereka, dan mereka pun mengenal Dia”. Ternyata harus ada tahap pengenalan “keselamatan”= manusia percaya kepadaYesus sebagai Juruselamat yang mati menebus dosa-dosa kita [ayat 26,28]; dan juga pengenalan kepemimpinan Yesus sebagai Tuhan, yang harus masuk ke dalam hati kita dan bertahta untuk mengatur dan memerintah hidup kita [ayat 29-30]. Pengenalan akan Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan kita menjadi syarat penting perubahan hidup orang percaya. Rahasia hati berkobar-kobar karena Kleopas cs mampu menghadapi keadaan apa pun setelah perjumpaan dengan Yesus secara pribadi dan berdiam di dalam hatinya. Lalu mereka membuat keputusan penting “kembali ke Yerusalem dan menjadi saksi kebangkitan”. Sebelumnya mereka mengalami ketakutan dan intimidasi sehingga harus ‘lari’ dari Yerusalem. Apa implikasinya dalam hidup kita saat ini? Yesus tidak pernah membiarkan kita ada tekanan ketakutan sehingga keraguan dan kebodohan terjadi. Sama seperti Dia hadir dalam perjalanan Kleopas cs untuk memulihkannya, demikian juga dalam perjalanan hidup kita. Amin.
Ayat bacaan di atas dalam bahasa aslinya adalah suatu kalimat perintah dari Tuhan Yesus kepada orang percaya, umat tebusan selama dalam perjalanan waktu di bumi. Bukan akan menjadi sempurna nanti di surga. Demikian juga perintah untuk hidup kudus [I Petrus 1:16]. Namun banyak orang Kristen berkomentar: “Bagaimana mungkin aku bisa sempurna seperti Bapa, aku kan hanya manusia biasa dan bukan malaikat”. Orang yang berpikir demikian disebabkan karena belum memahami makna peritah tersebut dan belum memahami bahwa Bapa telah menyediakan fasilitas keselamatan, sarana yang diperlukan untuk bertumbuh menjadi sempurna. Sempurna seperti Bapa bukan berarti menjadi seperti Allah yang mempunyai sifat maha kuasa, maha hadir, maha tahu dan maha pencipta. Sempurna dalam bahasa aslinya juga berarti : matang, dewasa, lengkap, cerdas secara spiritual sehingga bisa mengerti kehendak Bapa. Jadi pada dasarnya sempurna seperti Bapa berarti, dalam segala hal, yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan selalu menyenangkan hati Bapa, yaitu sesuai dengan kehendak-Nya. Pola pikir dan pola hidup yang dikenakan sesuai dengan yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus. Untuk itu kita harus terus belajar mengenakan pikiran dan perasaan Kristus [Pilipi 2:5] Keselamatan adalah usaha Tuhan untuk mengembalikan manusia [yang sudah jatuh dalam dosa] kepada rancangan-Nya semula, yaitu serupa dengan Yesus. Keselamatan hanya dapat terjadi oleh korban Kristus yang memberikan fasilitas keselamatan, berupa: Pertama. Roh Kudus dimeteraikan dalam hidup orang percaya, yang menuntun kepada segala kebenaran [Yohanes 16:13]. Kedua. Kebenaran Injil yang menguduskan dan memperbaharui pikiran [2 Timotius 3:16-17, 1 Petrus 1:22]. Ketiga. Penggarapan Bapa melalui segala peristiwa hidup sehari-hari [Roma 8:28-29]. Dengan memanfaatkan fasilitas keselamatan tersebut, orang percaya akan dididik untuk bisa bertumbuh menjadi sempurna seperti Bapa dalam berbagai hal. Injil Matius pasal 5, 6 dan 7 memuat contoh-contoh dalam hal apa saja kita harus sempurna.
Pertandingan Semi Final Liga Champion 2018/2019 antara Liverpool vs Barcelona menjadi partai yang menarik untuk dilihat dan diingat oleh para pecinta sepak bola. Di pertandingan leg kedua tersebut, Liverpool wajib menang dengan selisih empat goal. Pertandingan tersebut akhirnya dimenangi secara dramatis oleh Liverpool. Barcelona yang diunggulkan dalam pertandingan tersebut, secara mengejutkan harus menelan pil pahit pulang dengan kekalahan 4-0 di kandang Liverpool. Ada fakta yang menarik untuk disimak dari laga tersebut. Liverpool berhasil menjadi pemenang karena berhasil memaksimalkan partai kandang mereka menjadi kemenangan. Mengapa mereka begitu hebat di partai kandang? Jawabnya adalah karena kehadiran para supporter. Jangan anggap remeh kehadiran supporter. Mereka ibarat pemain ke-12 dalam sebuah pertandingan. Supporter bukanlah hanya sekedar pelengkap dan pemanis daam pertandingan. Supporter bertindak memberi dorongan motivasi, semangat, bahkan rela membela tim kebanggaan mereka “mati-matian” untuk sebuah kesuksesan bagi tim kesayangannya. Saat akan bersaksi untuk memberitakan Injil, terkadang kita merasa takut, gentar, atau bahkan kebingungan harus memulai dari mana harus memulainya. Di saat itulah kita butuh supporter. Roh Kudus adalah supporter sejati bagi kita. Roh Kudus akan mendukung, menolong dan memampukan kita untuk berani menjadi saksi. Rasul Paulus mengalami penganiayaan karena imannya, ia dihadapkan pada pengadilan Raja Agripa. Dan di sana ia mempunyai kesempatan untuk bersaksi bagaimana Allah telah mengubah hidupnya. Paulus memberikan kesaksian, ’Dan sekarang aku harus menghadap pengadilan oleh sebab aku mengharapkan kegenapan janji, yang diberikan Allah kepada nenek moyang kita’ [Kisah Para Rasul 26:6]. Kesaksiannya di hadapan raja tentang keselamatan dalam Kristus dan pengharapan akan kebangkitan, sangat jelas dan meyakinkan. Bagaimana Paulus dapat melakukannya? Semua oleh karena Roh Kudus. Dia adalah supporter terbaik bagi kita. Dia akan mendukung dan memberi kemampuan bagi kita untuk menjadi saksi-Nya.
Kita sering mendengar ungkapan-ungkapan verbal yang kasar dan sarat dengan makian, pelecehan dan penghakiman. Misalnya: “Kamu memang bodoh, tidak bisa kerja, ...kayak gini aja tidak bisa, kamu bisanya tidur dan makan, memang sudah dasarnya bodoh, dst....” Ungkapan-ungkapan kasar seperti itu sering terjadi di dalam rumah tangga, di lingkungan kerja dan mungkin juga terjadi di lingkungan sekolah yang tentu saja itu sangat ironis! Tuhan Yesus mengajar kepada murid-murid-Nya supaya jangan menghakimi dan menghukum. Mengapa Yesus melarang? Yesus melarang karena dalam penghakiman dan penghukuman itu ada konsekuensi logis yang juga akan sama dialami kepada barang siapa yang menghakimi dan menghukum. “Jangan kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum;...”[Lukas 6:37]. Dengan kata lain, apabila ada orang yang menghakimi dan kemudian menghukum sesamanya dengan caranya sendiri, maka orang tersebut suatu saat juga akan dihakimi dan dihukum menurut ukuran atau takaran yang dia pakai. Tuhan Yesus mengajarkan supaya mengampuni kepada seorang yang bersalah, karena barang siapa mengampuni maka dia juga akan diampuni. Banyak orang lebih mudah atau gampang berkomentar terhadap orang lain melihat dari tampilan luarnya saja padahal tidak mengerti yang sejatinya, yang ada dalam hati. Berkomentar seenaknya sendiri tanpa berpikir panjang. Ada seorang yang berkomentar terhadap anak muda yang mengecat rambutnya berwarna, “anak muda itu kok mengecat rambutnya dengan warna merah, biru, coklat, dll...itu tidak pantas sebagai anak Tuhan.” Nah, ungkapan demikian jelas bernada menghakimi dan apabila itu diteruskan maka jadi penghukuman, tidak diperkenankan ibadah atau melayani. Penghakiman dan penghukuman adalah dua hal yang selaras cocok dan tepatlah dikenakan kepada orang yang bersalah. Tapi tidaklah demikian bagi anak-anak Tuhan. Janganlah menghakimi dan menghukum karena apabila engkau melakukannya maka suatu saat engkau juga akan dihakimi dan dihukum. Apabila memang benar ada saudara kita yang bersalah hendaklah kita penuh belas kasih dan pengampunan. Demikianlah firman Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bukan Pilihan
13 Juni '19
Bukan Menghakimi Tetapi Mengampuni
20 Mei '19
Roh Pemberi Hidup
26 Mei '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang