SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 24 April 2017   -HARI INI-
  Minggu, 23 April 2017
  Sabtu, 22 April 2017
  Jumat, 21 April 2017
  Kamis, 20 April 2017
  Rabu, 19 April 2017
  Selasa, 18 April 2017
POKOK RENUNGAN
Jangan biarkan keraguan terus menerpa karena selalu ada pertolongan saat kita percaya dan berserah.
DITULIS OLEH
Bp. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ketika Keraguan Menghinggapi
Ketika Keraguan Menghinggapi
Senin, 24 April 2017
Ketika Keraguan Menghinggapi
Yohanes 20:24-29

Salah seorang murid Yesus yang bernama Didimus atau Tomas bukanlah murid yang banyak dikenal. Jika dibandingkan dengan Petrus, Andreas, Yohanes atau bahkan Yudas Iskariot, Tomas kelihatannya kurang begitu menonjol. Namanya tidak banyak dituliskan dalam kitab Injil. Dalam dunia film ia ibarat seorang pemain figuran bukan pemain utamanya. Dalam pelayan gereja, ia ibarat seorang pelayan yang di belakang layar atau yang tidak kelihatan di hadapan jemaat umum. Barangkali pelayanannya seumpama di bidang pendoa firman, bukan sebagai pemimpin pujian, pemain musik atapun juga penyampai firman.

Nama Tomas hanya dicatat oleh pengarang Injil Sinopt...selengkapnya »
“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Dengan kata lain yang layak bagi Yesus adalah setiap murid yang bersedia memikul salibnya, yaitu salibnya sendiri. Barangsiapa yang bersedia menjadi murid Yesus, maka mereka harus bersedia mengikut Yesus ke mana Yesus pergi, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barang siapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa” [Yohanes 12:26]. Mengikut Yesus atau menjadi murid Yesus berarti harus fokus kepada-Nya. Artinya melayani Yesus berarti juga harus mengikut Yesus di mana Dia berada. Apa pun yang terjadi tetap fokus pada Yesus bukan fokus pada yang lain, sekalipun harus menghadapi segala resiko. Ada seorang hamba Tuhan [pendeta]. Hamba Tuhan ini dipakai Tuhan luar biasa baik di dalam maupun luar negeri. Ceramah-ceramahnya sangat berbobot, demikian juga tulisan-tulisannya. Buku-buku rohani, artikel, dan makalah hasil karyanya sangat bernas. Khotbahnya sangat sederhana mudah dipahami semua usia dan tingkatan sosial apa pun. Dan yang mejadi kekaguman banyak orang kristen adalah bukan saja khotbahnya yang populer tetapi juga beliau adalah seorang pemimpin yang berintegritas tinggi. Karena kesibukannya melayani Tuhan, fokus kepada melayani Yesus “di manapun berada” sehingga akhirnya sampai jatuh sakit berkepanjangan. Penyakit itu akhirnya membawa penderitaan fisik bagi hamba Tuhan ini. Tubuhnya kurus, menderita tetapi yang heran hamba Tuhan ini tetap memiliki sukacita yang besar. Bahkan dalam penderitaannya itu dia masih bisa melayani Tuhan dengan menulis khotbahnya dan dibaca bagi banyak orang serta memberkati banyak orang. Akhirnya hamba Tuhan ini meninggal karena kanker hati yang menggerogoti tubuhnya bertahun-tahun. Saudara kekasih Tuhan, kisah nyata hamba Tuhan di atas itulah salah satu arti memikul salib. Karena fokus kepada Kristus maka ada resiko yang diterima dan dihadapi, mungkin yang kita alami tidak seperti kisah hamba Tuhan di atas, bahkan ada orang kristen yang karena percaya Yesus dikucilkan keluarga besarnya bahkan tidak lagi menjadi ahli waris. Intinya siapa pun yang fokus kepada Yesus, pasti akan menghadapi salibnya sendiri dan harus dipikulnya. Oleh sebab itu barangsiapa melayani Yesus, fokus kepada Yesus, dia akan dihormati Bapa [band. Yohanes 12:26]. [NR] Pokok Perenungan: Oleh sebab itu barangsiapa melayani Yesus di manapun berada, fokus kepada Yesus, maka dia akan dihormati Bapa.
Beberapa bulan terakhir ini diberbagai media, baik koran, televisi, media sosial dipenuhi dengan berita-berita mengenai pilkada. Dan yang paling banyak diberitakan adalah pilkada di DKI Jakarta. Banyak hal menarik yang bisa dijadikan berita oleh media-media tersebut. Salah satunya adalah program-program yang akan dilaksanakan apabila kandidat terpilih nanti. Di antara program-program yang ditawarkan, ada yang realistis, tapi ada juga yang tidak realistis. Kita tidak tahu sejauh mana janji-janji yang ditawarkan akan terlaksana atau hanya berupa janji yang tidak ada realisasinya. Masyarakat tidak bisa memegang janji-janji itu sepenuhnya sebelum melihat kenyataannya nanti. Janji-janji yang diberikan manusia belum tentu bisa dipercaya sepenuhnya karena manusia sangatlah terbatas kuasanya. Pikiran dan perkataan bisa berubah sewaktu-waktu. Tapi janji Bapa seratus persen bisa percaya, bisa diandalkan, dan tidak pernah berubah selamanya. Ketika sampai dengan masa tuanya Abraham tidak memiliki anak, Tuhan berjanji kepadanya untuk memberikan keturunan sebanyak bintang di langit [Kejadian 15:5]. Secara manusia janji itu seperti janji palsu, mustahil akan digenapi mengingat usia Abraham dan Sara istrinya yang sudah sangat tua. Tetapi terbukti bahwa janji Tuhan bukanlah sekedar janji palsu, janji itu digenapi dengan lahirnya Ishak [Kejadian 21:2]. Janji Tuhan apa yang saat ini sedang kita nantikan saat ini? Kesembuhan dari sakit penyakit? Pemulihan ekonomi? Jalan keluar dari masalah dan pergumulan? Pemulihan hubungan keluarga? Kesuksesan dalam pekerjaan? Jangan ragu-ragu untuk mengharapkan janji-janji itu digenapi dalam hidup kita. Tuhan kita dan firman-Nya adalah ya dan Amin, apa yang Dia katakan dan janjikan pasti tergenapi. “Demikianlah Firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” [Yesaya 55:11]. Seperti Abraham setia dalam menantikan janji Tuhan, nantikan juga penggenapan janji-Nya bagi kehidupan kita karena janji-Nya bukanlah janji palsu.
Kita pasti tidak asing dengan sapaan ‘sahabat super’ yang sering diucapkan oleh seorang motivator di salah satu stasiun TV swasta. Tentunya sapaan tersebut dipakai untuk mengajak setiap pemirsa televisi melihat dirinya sendiri sebagai pribadi super. Terlepas dari sapaan itu, merasa super atau menjadi super bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi jangan kebablasan merasa atau menjadi superior. Sejarah telah mencatat, mereka yang merasa superior bukannya menjadi super, tetapi malah menjadi monster. Misalnya, Firaun yang merasa diri superior karena mengklaim sebagai keturunan dewa, cenderung mempergunakan kekuasaannya untuk menindas rakyatnya. Di zaman yang jauh lebih modern, Adolf Hitler dengan pernyataannya ‘Deutschland Uber Alles’ [Jerman di atas segalanya] dan pemahaman bahwa bangsa Aria [Jerman] adalah bangsa yang tertinggi di dunia telah menjadikan dirinya penguasa yang tirani. Ternyata bukan hanya dunia penguasa pemerintahan yang bisa terserang virus ‘superior’, tetapi juga lingkup spiritual pun bisa tertular. Hal itu bisa kita lihat ketika Tuhan Yesus membentangkan perumpamaan tentang orang Farisi dengan pemungut cukai. Mengapa? Karena ada beberapa orang merasa diri superior dengan menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain. Dalam perumpamaan tersebut orang Farisi dan pemungut cukai sama-sama pergi berdoa ke Bait Allah. Orang Farisi berdoa dengan membanggakan [menyombongkan] dirinya. Ia bangga akan status sebagai ‘orang baik dan terhormat’; ia membanggakan sisi ‘religiusitasnya’, ‘kesalehan dan ketaatannya pada perintah Allah’. Tanpa malu ia memamerkan seabreg prestasi keagamaannya di hadapan Sang Khalik. Sebaliknya si pemungut cukai berdiri jauh-jauh dan tidak berani menengadah ke langit, menyadari sebagai orang berdosa yang tidak layak berdiri di hadapan Allah. Ia hanya bisa meratap dan memohon belas kasihan Sang Pencipta. Kepada siapa Allah berkenan? Bukan semata-mata kepada si pemungut cukai, tetapi kepada orang yang merendahkan diri di hadapan-Nya. Allah berkenan bukan kepada orang yang meninggikan diri; merasa superior, melainkan kepada orang yang merendahkan hati. Kita harus berhati-hati dengan sikap merasa diri superior dalam hal spiritualitas dan keagamaan karena bisa memunculkan kecenderungan menjadi ‘hakim suci’. Tanpa sadar merasa yang ‘berhak’ menentukan suci atau tidaknya seseorang; saleh atau tidaknya seseorang; merasa berhak menunjuk jari kepada orang lain dengan tatapan merendahkan dan merasa lebih baik serta lebih benar; menjatuhkan sanksi tanpa disertai belas kasih; dsb. Orang seperti itu tidak ubahnya menjadi ‘diktator dan penguasa rohani’ yang tirani yang dibungkus kesucian dan kesalehan semu.
Pada masa sekarang ini banyak sekali gereja baru yang berdiri dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Perkembangan gereja begitu pesat seiring dengan bertambahnya pula aliran-aliran baru yang bermunculan. Dan banyak juga gereja yang memiliki gedung yang besar dan bagus serta jemaat yang sampai ribuan orang. Tetapi apakah dengan jumlah jemaat yang begitu banyak dan gedung yang megah dapat menjamin bahwa gereja tersebut masih memegang ajaran yang benar yang telah Yesus ajarkan? Maka dari itu mari kita melihat bagaimana gereja mula-mula bertumbuh. Di dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 dituliskan dengan jelas mengenai cara hidup jemaat mula-mula. Dari perikop ini kita melihat bahwa ada empat tanda gereja yang hidup, jelas semuanya terkait dengan hubungan di antara orang Kristen perdana. Pertama, mereka berhubungan dengan para rasul. Mereka bertekun pada pengajaran para rasul. Gereja yang hidup adalah gereja rasuli, berkomintmen untuk percaya dan patuh sepenuh hati pada pengajaran para rasul. Kedua, mereka berhubungan satu sama lain dan bertekun pada persekutuan itu. Mereka saling mengasihi. Gereja yang hidup adalah gereja yang peduli. Ketiga, mereka berhubungan dengan Allah. Menyembah Allah dan memecahkan roti dan berdoa. Artinya gereja yang hidup adalah gereja yang beribadah. Keempat, mereka berhubungan dengan dunia. Mereka berusaha menjangkau orang luar melalui kesaksian dan penginjilan. Gereja yang hidup adalah gereja yang menginjil. Dari keempat hal itu marilah kita sebagai jemaat Tuhan juga melakukannya di dalam kehidupan bergerja maupun di masyarakat. Jemaat mula-mula memiliki persekutuan yang komplit di dalamnya sehingga benar-benar menjadi gereja yang hidup dan bertumbuh dengan kuat karena dilandasi dengan pengajaran yang benar. Bukan hal yang mustahil bagi kita sebagai jemaat masa kini untuk dapat bertumbuh dengan baik, asalkan kita senantiasa hidup di dalam Tuhan dan melakukan Firman Tuhan di dalam hidup kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bebas
24 Maret '17
Hidup Adalah Pilihan
26 Maret '17
Paskah, Hari Kemenangan Kita
16 April '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang