SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 16 Desember 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 15 Desember 2018
  Jumat, 14 Desember 2018
  Kamis, 13 Desember 2018
  Rabu, 12 Desember 2018
  Selasa, 11 Desember 2018
  Senin, 10 Desember 2018
POKOK RENUNGAN
Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.’ Kata Maria: ’Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Natal Dan Nilai Kehambaan
Natal Dan Nilai Kehambaan
Minggu, 16 Desember 2018
Natal Dan Nilai Kehambaan
Lukas 1 : 37 - 38
Natal dan Nilai Kehambaan

Lukas 1:37-38
Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.’
Kata Maria: ’Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.’ Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

Seringkali kita mendengar orang Kristen berkata: ’Tidak ada yang mustahil bagi Allah.’ Seolah-olah kata-kata itu dapat diucapkan dengan mudah. Ya, memang tidak ada yang membantah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah untuk melakukan perkara yang ajaib. Tapi yang sering menjadi masalah adalah apakah kita mau melakukan sesuatu yang diminta oleh Allah supaya perkara yang ajaib itu terjadi?

Salah satu pelajaran penting dari peristiwa Natal adalah ketaatan Maria terhadap kehendak Allah. Allah berkehendak untuk ’meminjam’ rahim Maria untuk mengandung bayi Yesus. Sungguh ini tidak mudah bagi Maria yang adalah seorang perawan dan dalam status bertunangan dengan seorang pria. Yang dipinjam bukan sekedar harta kepunyaan [kendaraan, rumah atau yan...selengkapnya »
Sinar mentari pagi menerobos rimbunnya dedaunan. Menerpa hangat wajah Benay yang baru saja membuka jendela kamarnya. Pagi ini ia sengaja bangun agak terlambat. Membiarkan tubuhnya menikmati istirahat agak lama dari biasanya. “Mumpung lagi cuti kerja”, katanya dalam hati. Setelah melakukan menggeliat kecil, Benay berlutut khitmad di sisi tempat tidurnya. Diiringi semilir angin yang sejuk, ia pun mulai berdoa kepada Allah, Bapanya di sorga. “Bapaku, aku begitu mengasihi-Mu. Dan aku tahu betapa Engkau mengasihiku juga. Kasih-Mu itu mengajari aku untuk melihat betapa berharganya diriku. Dahulu aku minder, sangat sensitif, sering menolak bertanggungjawab dan suka mencari kambing hitam. Sekarang aku mengalami pemulihan-Mu. Aku dapati diriku lebih bertanggungjawab, berani menanggung risiko dan kesalahan, bersedia meminta maaf dan bersikap lebih terbuka pada orang lain. Bahkan aku mampu melihat sesamaku sebagai pribadi yang berharga. Sama seperti diriku berharga adanya. Jika aku bisa mengasihi-Mu dan mampu mengasihi sesamaku, itu bersumber dari kasih-Mu padaku. Sungguh, apalah artinya hidup tanpa mengalami kasih-Mu yang mengubahkan itu. Bapa, biarlah melalui kasih-Mu itu diriku terus disempurnakan. Amin.” Benay bangkit perlahan dari sikap doanya. Ia berdiri mantap dan siap menjalani hari bersama Allah yang mengasihinya dan dikasihinya. Jemaat yang terkasih. Jika kita perhatikan, ada tiga oknum yang patut kita kasihi dari hukum kasih yang Tuhan Yesus ajarkan. Pertama, mengasihi Tuhan Allah; kedua, mengasihi diri sendiri; dan ketiga, mengasihi sesama manusia. Dan yang seringkali diabaikan adalah pentingnya mengasihi diri kita sendiri. Mengasihi diri yang dimaksud disini adalah melihat bahwa pribadi kita berharga. Sehingga di dalam diri kita berkembang sikap percaya diri, bertanggungjawab, optimis, tidak takut direndahkan atau disepelekan, jika berbuat salah berani mengakuinya dan meminta maaf. Dan sesungguhnya kasih pada diri sendiri adalah modal bagi kita untuk mampu mengasihi Tuhan Allah dan sesama manusia apa adanya. Bagaimana kasih pada diri kita sendiri itu ditumbuhkan? Kasih pada diri sendiri ditumbuhkan tidak berdasarkan derajat, pangkat dan apa yang kita miliki [kekayaan]. Semuanya itu malah berpotensi menumbuhkan kesombongan dalam diri kita. Namun kasih pada diri sendiri yang hakiki hanya dapat ditumbuhkan ketika kita diterpa hangatnya kasih Allah. Sehingga kita tahu dan merasakan bahwa diri kita ini berharga apa adanya sebagai manusia yang diciptakan menurut rupa Allah. Itu saja, tanpa harus disertai embel-embel status sosial dan ekonomi tertentu. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Marilah kita sejenak melihat diri sendiri. Apakah sungguh kita tahu dan merasakan bahwa diri kita berharga? Mampukah kita mengasihi diri sendiri? Syukur jika kita sudah mampu mengasihi diri sendiri. Namun jika belum, janganlah risau. Kita hanya perlu membuka diri dan bersedia dikasihi oleh Tuhan. Bukankah kasih-Nya mengalir seperti air sungai yang tidak mengenal musim? Kasih Tuhan yang kita alami itu akan mengubahkan hidup kita sehingga kita mampu mengasihi Tuhan Allah dan sesama kita dengan lebih baik. Terpujilah Tuhan!
Banyak kehidupan seseorang mengalami perubahan karena peristiwa tertentu yang dialami dalam dirinya. Seorang pemabuk berat bisa saja berubah menjadi orang yang tidak lagi sebagai pemabuk ketika dirinya mengalami sakit dan menderita secara fisik akibat dari kebiasa buruk sebagai peminum yang dilakukan terus menerus. Setelah jatuh sakit parah, hartanya habis terkuras untuk berobat di rumah sakit. Sepulang dari rawat inap masih lemah tubuhnya dan harus menjalani pemulihan dalam jangka waktu yang agak panjang karena luka serius di lambungnya menyebabkan dirinya bertobat dan bertekat mengubah hidupnya agar bisa hidup sehat dan lebih panjang usianya maka satu – satunya jalan adalah berhenti melakukan hal – hal buruk yang merusak hidupnya yaitu kebiasaan minur minuman keras. Renungan kita kali ini berbicara tentang perubahan hidup yang dialami oleh seorang pemungut cukai yang bernama Matius setelah berjumpa dengan Tuhan Yesus. Pemungut cukai pada masa itu dianggap sebagai pengkianat bangsa Yahudi karena bekerja sama dengan Kerajaan Romawi yang sedang menindas mereka dengan mengambil pajak setinggi – tingginya dari rakyat Yahudi. Matius itu seorang keturunan Lewi yang seharusnya bertugas di Bait Allah untuk melayani umat, justru dirinya bekerja sebagai pegawai pajak Kerajaan Romawi. Oleh sebab itu tidak salah kalau orang Yahudi sangat membenci dirinya. Namun Tuhan Yesus bersikap lain tidak sama dengan orang Yahudi dan para ahli agama Yahudi terhadap Matius. Tuhan Yesus menaruh kasih dan kepedulian terhadap Matius. Tuhan Yesus tahu potensi yang ada dalam diri Matius. Oleh sebab itu ketika lewat di depan tempat pekerjaan Matius, Tuhan Yesus sengaja memperhatikan dirinya, berhenti dan memanggil Matius untuk ikut bergabung dengan diri-Nya. Tanda memperhitungkan segala sesuatunya Matius langsung berdiri dan meninggalkan pekerjaannya untuk mengikut Tuhan Yesus [ayat 9]. Bukan hanya disitu saja Matius terus mengadakan jamuan makan mengundang para menunggut cukai lainnya serta semua orang berdosa untuk menikmati sukacita bersama Tuhan Yesus dan para murid-Nya. Ini merupakan rasa syukur Matius sebab seorang terkenal yang selama ini dikagumi di wilayahnya yang punya pengajaran berbeda dengan para ahli Taurat dan orang Farisi yang bisa melakukan banyak mujizat saat ini sedang ada di rumahnya dan sangat memperhatikan dan peduli terhadap hidupnya. Hanya karena kasih Tuhan Yesus kepada Matius telah mengubah kehidupannya secara total kini dirinya bukan lagi pemungut cukai tetapi telah menjadi murid Kristus. Siapapun yang berjumpa dan dijumpai oleh Tuhan Yesus pasti akan mengalami perubahan secara total didalam kehidupannya karena Tuhan Yesus adalah Juruselamat dan pemberi pengampunan atas dosa – dosa kita. Biarlah memomen natal tahun ini memotivasi kita untuk mengalami perubahan hidup bersama Tuhan Yesus seperti si Matius sang pemungut cukai.
Kalau kita malihat gedung-gedung yang tinggi menjulang atau yang disebut dengan gedung gedung pencakar langit tidak saja membutuhkan waktu yang lama untuk membangunnya. Tetapi fondasi bangunan tersebut harus tertancap dalam dan kokoh. Atau kalau kita melihat pohon pohon yang tinggi dan besar tentu akar akarnya juga harus tertancap dalam ke dalam tanah. Kalau tidak maka dapat di pastikan bangunan dan pohon tersebut akan mudah roboh terlebih saat tertiup angin atau di terjang badai. Semakin tinggi suatu gedung atau pepohonan maka semkain dalam pula akar atau fondasi yang harus di tanam. Demikian juga dengan kehidupan rohani seseorang. Supaya kerohanian seseorang dapat mengatasi setiap tantangan, percobaan dan pergumulan hidup yang sering kali menerpa kehidupan ini, maka perlu berakar kuat ke bawah dan bertumbuh ke atas. Sehingga jika tantangan hidup sering kali datang dengan tiba-tiba maka akan tetap kuat dan tidak akan mudah roboh. Inilah pesan Paulus kepada jemaat di Kolose tentu juga kepada kita tidak suma percaya kepada Tuhan tetapi juga setia untuk beribadah kepada Nya [I Tim 4:8 “….karena ibadah itu berguna dalam segala hal …..”] tentunya supaya kita semakin mengenal Tuhan dengan segala janji janji dari firman Nya dan mendapatkan kekuatan dan pertolongan di dalam mengalami kehidupan ini terlebih saat masalah dan tantangan menerpa kehidupan ini.
Pagi itu pamanku membawa 1 liter biji jagung. Ia mengajaku ke kebun tidak jauh dari rumah. Sesampainya di kebun, paman segera mengeluarkan biji jagung itu dan memasukkan ke tanah yang sudah di lobangi dengan kayu panjang. Setiap lobang ada 3 biji jagung yang dimasukkan. Biji-biji itu tanpa ada yang protes ketika akan di masukkan di setiap tanah. Ada yang di tanah gembur, ada yang di tanah berbatu, ada yang kering. Dua minggu kemudian mulai nampak tumbuh kecil-kecil. Ada yang subur ada juga yang kecil kurus. Benih ini melambangkan hidup kita. Kita tidak dapat memilih siapa orang tua kita, dilahirkan dalam keluarga mana, ras/suku tertentu, dalam lingkungan yang penuh kasih sayang/keras, kaya/miskin, ikal/lurus, warna kulit dan lainnya. Semuanya itu adalah keadaan external yang seharusnya tidak mempengaruhi siapa diri kita yang sesungguhnya. Kita semua adalah anak TUHAN dan di dalam diri kita ada benih Illahi. Di manapun kita berada dan ditempatkan, sekalipun dalam lingkungan yang tidak kondusif, tekanan yang tinggi, dan tidak mengenakkan, semua itu tidak akan berpengaruh terhadap kita. Sama seperti benih jagung tadi, dia tahu bahwa dia adalah benih jagung dan tugas utamanya adalah untuk menghasilkan buah jagung terlepas dari segala situasi yang ada. Dia harus tetap bertahan, mampu beradaptasi sambil menumbuhkan akar-akar dan bertumbuh kemudian menghasilkan buah jagung dalam dirinya. Benih ini, hanya menyerap hal-hal positif dari sekelilingnya seperti sinar matahari, tanah, air, kelembaban untuk membantunya bertumbuh dan menghasilkan buah. Benih ini tidak mengizinkan hal-hal negative di sekelilingnya membuat dia loss focus. Dia tetap bertahan, sampai akhirnya menjadi pohon jagung bertumbuh dan menghasilkan buah jagung yang bermanfaat bagi manusia. INDAH BUKAN !! Seperti benih jagung itu, mari kita sadari di dalam diri kita ada benih Illahi. Benih yang membawa sifat dan karakter ALLAH, sudah ada dalam diri kita yang membawa kita pada sebuah kekekalan. Kita adalah pemegang kunci masa depan atas sebuah kehidupan, Jangan pedulikan apa yang terjadi di sekeliling kita. Sekalipun berat, sekalipun sulit, sekalipun menyakitkan, sekalipun….sekalipun…..mari kuasailah segalanya dengan IMAN, PENGHARAPAN dan KASIH, maka kita akan mampu menghadapi segala sesuatunya. Tekanan demi tekanan yang ada akan membentuk kita agar kita menjadi indah dan berbeda dengan orang di luar Kristus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jaminan Illahi
23 November '18
Hidup Dalam Kebenaran1
27 November '18
Mengakar Ke Bawah Bertumbuh Ke Atas
15 Desember '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang