SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Tanpa hati yang berbelas kasih, ‘membagi hidup’ yang kita lakukan tidak akan membuat Tuhan tersenyum melihatnya.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Natal Winona
Natal Winona
Selasa, 12 Desember 2017
Natal Winona
Matius 2:1-12

Winona, gadis kecil itu, sedang asyik bermain salju yang menumpuk di depan rumahnya. Dengan wajah yang ceria ia berlari-lari kecil ke sana ke mari. Hawa dingin tidak dirasakannya karena terhalau oleh jaket tebal dan sarung tangan yang dikenakannya. Tetapi tiba-tiba langkah dan geraknya terhenti. Pandangan matanya mengarah ke seberang jalan. Tanpa berkedip matanya memperhatikan seorang tua yang sedang berjalan perlahan dengan pakaian lusuh seadanya sambil menahan hawa dingin yang menusuk tulang. Diperhatikannya dengan seksama, ternyata sosok itu tidak asing baginya. Ia tahu siapa wanita itu meskipun tidak cukup mengenalnya. Ya, wanita adalah nyonya Clara, wanita sebatang kara yang tinggal dua blok dari rumahnya.

Tiba-tiba hatinya sedih. Pikirnya dalam hati, “Kasihan sekali nyonya Clara, ia pasti kedinginan. Pakaiannya lusuh dan tidak cukup tebal untuk menahan hawa dingin. Bagaimana kalau nanti ia sakit? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya?” Buru-buru ia masuk ke dalam rumah dan berkata kepada mamanya, “Mom, bolehkah aku mengambil uang celenganku untuk membeli jaket tebal.” Mamanya yang belum mengerti menjawab, “Lho, bukankah kamu sudah punya beberapa jaket tebal. Lagian kamu ‘kan menabung uang itu untuk membeli boneka.” Sebelum sempat mamanya me...selengkapnya »
Perayaan Natal semakin dekat. Persiapan apa saja yang kita lakukan untuk menyambut dan merayakan hari istimewa di akhir tahun ini? Bukan penampilan luar yang Tuhan lihat, melainkan hati. Hati memang tak tampak dari luar, tak tampak oleh mata tapi memberi dampak yang luar biasa. Bagaimana keberadaan hati para gembala saat memperoleh kunjungan seorang malaikat dan saat mendengar berita tentang kelahiran Sang Juruselamat? Pertama, hati yang takut. Ini sesuatu yang wajar dan alami. Ketakutan bisa datang saat ada lawatan mahluk sorgawi. Namun takut itu tidak bertahan lama. Hati para gembala kemudian berubah menjadi sukacita. Kedua, hati yang percaya. Mereka mendengar pesan malaikat tapi mereka tidak mempertanyakannya. Ini menunjukkan percaya yang tulus. Kadangkala kita perlu bersikap kritis tapi dalam konteks yang benar. Firman Tuhan tidak perlu dikritisi karena benar adanya, yang perlu dilakukan adalah mempercayainya. Ketiga, hati yang rindu. Mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem menjumpai bayi Yesus yang terbaring di palungan. Tindakan yang segera ini menunjukkan hati yang memiliki kerinduan untuk melihat dan mengalami penggenapan janji Allah. Keempat, hati yang bersyukur. Saat mereka kembali, mereka memuji dan memuliakan Allah. Sebagai orang-orang yang sederhana, mereka memperoleh anugerah yang luar biasa dari Allah, yaitu menjadi orang-orang pertama yang datang menjumpai bayi Yesus Kristus, Sang Juru Selamat dunia.
Apakah yang membuat orang menjadi sakit hati, jengkel, ataupun pedih? Ada banyak hal penyebabnya. Misalnya perlakuan yang tidak adil, fitnah, perlakukan yang semena-mena, diremehkan, pengkhianatan, dll. Hal seperti itu sering menimpa banyak orang, termasuk juga orang-orang beriman. Sebenarnya orang yang sakit hati, pedih, dan perih menanggung kejengkelan yang sangat dalam adalah orang yang tidak mendapat keadilan dalam hidupnya baik itu di lingkungan pekerjaan, masyarakat, pendidikan bahkan juga di keluarga. Bagaimana sikap orang beriman ketika dirinya sedang menghadapi perasaan sakit hati, kejengkelan karena ulah orang lain yang memperlakukannya tidak adil dan semena-mena? Mari kita memperhatikan sikap Daud ketika dia sedang menghadapi perlakuan yang tidak adil. Daud mengalami perlakuan semena-mena, suatu ketidakadilan, mungkin semacam fitnahan [ayat 6]. Apa yang dilakukan Daud? Yang dilakukan Daud adalah mendatangi Tuhan, menghampiri tahta Tuhan dalam doa yang hidup. Kemudian dalam doanya itu Daud memohon supaya Tuhan memberi keadilan [ayat 1]. Selain itu Daud mengutarakan bagaimana dia hidup dengan penuh iman dan takut akan Tuhan [ayat 1b, 3], sehingga dia berani mengatakan di hadapan Tuhan bahwa dirinya memiliki kehidupan yang bermoral: tidak duduk dan bergaul dengan para penipu dan orang munafik [ayat 4]; Dia benci dengan perkumpulan orang yang berbuat jahat [ayat 5]; hidup dalam ketulusan [ayat 11a]. Begitu seriusnya Daud berdoa memohon supaya dia tidak mati sia-sia bersama dengan orang-orang berdosa, yaitu para penumpah darah, yang berbuat mesum, dan yang suka menerima suap [ayat 9-10]. Semua kebenaran yang melekat dalam kehidupannya, disampaikannya hanya kepada TUHAN. Saudara kekasih Tuhan, sikap seperti Daud-lah yang harus dilakukan orang beriman ketika dia sedang menghadapi perlakuakn semena-mena dan ketidakadilan. Datang hanya kepada TUHAN, bukan kepada manusia karena manusia bisa memberi arahan yang salah, minta keadilan bukan minta kemenangan. Sebab bagi orang beriman tidak diperkenankan membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi menyerahkan semuanya pada Tuhan dan tetap bersikap kasih kepada “seteru” kita [Roma 12:9-10]. Datang kepada Tuhan dalam pergumulan doa yang serius, sampaikan segala keluh kesahmu hanya kepada Tuhan.
Ada ungkapan yang mengingatkan setiap insan untuk tidak berlaku tinggi hati dengan kemampuan yang dimilikinya, yaitu “ilmu padi” dan “di atas langit masih ada langit”. Kita tahu bahwa padi semakin berisi akan semakin merunduk, demikian juga kita diharapkan semakin tinggi kemampuan kita dalam bidang apapun, kita semakin rendah hati dan jangan lupa bahwa masih ada orang lain yang lebih hebat. Kita bisa belajar dari Raja Daud, betapa dia tetap rendah hati, tetap menghormati Raja Saul yang sangat ingin membunuhnya. Saul menjadi benci dan dengki kepada Daud sejak Daud selalu berhasil dalam peperangan mengalahkan orang Filistin dan mendengar kata-kata yang menyakitkan hatinya pada acara sambutan yang begitu meriah para perempuan dari seluruh kota Israel menyongsong Raja Saul dengan tarian dan nyanyian, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Dua kali Daud tidak mau membunuh Saul walau kesempatan sudah di depan mata. Pertama, ketika Daud bersembunyi di En-Gedi. Ia hanya memotong punca jubah Saul saat Saul membuang hajat di sebuah goa [1 Samuel 24:4]. Kedua, ketika Daud di padang Zif, hanya mengambil tombak dan kendi yang ada di sebelah kepala Saul [1 Samuel 26:12.] Mengapa Daud masih sangat menghormati Raja Saul? Bukankah semakin cepat Raja Saul mati, semakin cepat pula ia naik tahta? Bagi Daud, Saul adalah raja yang diurapi Tuhan dan Daud tahu menghormati Allah yang telah mengurapi Saul. Apa yang dilakukan Daud terhadap Raja Saul adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Jangankan nyawa yang diancam, baru kesinggung sedikit saja umumnya orang sudah tidak bisa memberi hormat dengan tulus. Daud yang sudah tahu dengan pasti bahwa dia sudah diurapi menjadi raja pengganti Saul, tetap rendah hati dan tetap menghormati Raja Saul yang begitu membencinya. Bagaimana dengan kita?
“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu. Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh. Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam setiap hari yang kita lalui, banyak hal yang terjadi. Kejadian yang menyenangkan, yang membahagiakan, pengharapan yang menjadi kenyataan, doa yang terkabul, atau kekecewaan yang didapat, ketakutan yang tak kunjung berakhir, kepedihan dan kesusahan yang tiba-tiba saja datang. Itu beberapa situasi yang tiba-tiba bisa menghampiri kita setiap hari. Karena itu sangat perlu bagi kita merenungkan apa yang terjadi.Menimbang baik dan buruknya dari setiap kejadian yang timbul. Agar kita tidak salah dalam melangkah, dalam menjalani hari-hari kita. Mohon hikmat kepada Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Mohon Dia memimpin di setiap waktu yang kita lalui. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai guru dalam menjalani hari demi hari yang kita lalui, maka Dia akan memberi hati yang bijaksana. Kebijaksanaan akan terlihat dari cara seseorang berpikir, bertutur kata dan bersikap. Kebijaksanaan akan menimbulkan sukacita, menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya dan sudah pasti akan menciptakan suasana damai sejahtera. Karena itu mintalah kepada Dia untuk terus mengajar menghitung hari-hari, agar kita beroleh hati yang bijaksana.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Doa Bagi Orang Lain
22 November '17
Persembahkan HidupMu
05 Desember '17
Terang Bagi Yang Berjalan Di Kegelapan
03 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang