SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 18 Maret 2019   -HARI INI-
  Minggu, 17 Maret 2019
  Sabtu, 16 Maret 2019
  Jumat, 15 Maret 2019
  Kamis, 14 Maret 2019
  Rabu, 13 Maret 2019
  Selasa, 12 Maret 2019
POKOK RENUNGAN
Milikilah hati yang berbelas kasih sebagaimana Tuhan Yesus.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Berbelas Kasih
Berbelas Kasih
Senin, 18 Maret 2019
Berbelas Kasih
Yohanes 5:1-9



Sambey dan Benay menikmati sore hari dengan bersepeda motor keliling daerah pinggiran. Mereka melewati Sigar Bencah ke arah Tembalang. Sore itu lalu lintas ramai sekali. Maklum jam pulang kerja. Tiba-tiba Sambey memberi kode kepada Benay yang berkendara di belakangnya untuk menepi. “Ada apa Sam? “Ben, apakah kamu tadi lihat anak remaja yang duduk di pinggir jalan?” “Ya, aku lihat. Dia menutup wajahnya.” “Benar Ben. Yuk kita temui dia.” “He..he..he…jangan cari masalah Sam! Siapa tahu remaja itu orang jahat.” “Ah firasatku kok berkata lain, Ben. Ia butuh pertolongan kita. Lagi pula mana ada orang mau berbuat jahat disaat jalanan ramai begini.” Lalu merekaberdua berbalik arah dan menemui remaja itu. Ternyata remaja, yang kemudian diketahui bernama Ranoy, kecapaian setelah seharian berjalan kaki untuk mencari kerja. Sambey dan Benay tergerak oleh belas kasihan dan menolongnya dengan mengantarnya pulang ke rumahnya di Tembalang.
Sesampai di Tembalang, remaja itu mengucapkan terima kasih lalu berjalan ke rumahnya yang berada di sebuah gang sempit. Sambey menggeleng-gelengkan kepalanya. “Ada apa lagi Sam?” tanya Benay. “Zaman sekarang penuh p...selengkapnya »
Kebanyakan orang tua sependapat bahwa mengasuh dan membimbing anak – anak bukanlah perkara mudah. Sejak anak – anak lahir, beranjak besar, sampai memasuki usia mandiri… tiada tahapan yang tak memerlukan kearifan dan kewaspadaan orang tua untuk mengarahkan mereka. Peran sebagai orang tua tak kenal istilah ‘jeda’. Ini adalah tugas sepenuh waktu, bukan paruh waktu. Uniknya, kehadiran setiap anak di dalam sebuah keluarga membawa ‘pe er’ masing-masing buat para orang tua. Berapa pun jumlah anak yang dikaruniakan dalam sebuah keluarga, tidak sepatutnya orang tua menepuk dada bahwa mereka sudah berpengalaman dan tak perlu belajar lagi. Sekalipun lahir dari orang tua yang sama, masing – masing anak memiliki sifat dan kebutuhan yang berbeda. Pola asuh yang berhasil untuk anak sulung belum tentu berjalan baik jika diterapkan untuk anak – anak yang lahir selanjutnya. Pendekatan yang tepat akan membuka peluang untuk bekerjasama dengan anak-anak sehingga mereka lebih terbuka untuk dibimbing. Dan dengan bimbingan yang tepat, masa depan anak-anak pun akan menjadil ebih baik. Apabila para orang tua di dunia saja tahu mengupayakan yang baik buat anak-anak, terlebih Bapa kita di surga. Bapa sangat memahami bahwa kita tak mampu menjalani hidup ini tanpa bimbingan-Nya; bahwa tanpa Dia kita ini tak lebih dari butiran debu [Mazmur 103:14]. Bapa yang paling mengerti bahwa masing-masing anak-Nya memiliki kebutuhan tersendiri. Oleh karena itu Bapa memelihara dan membimbing kita dengan sepenuh hati dan sepenuh waktu, dengan cara yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhan kita. Namun demikian, acap kali kita sebagai manusia menyimpan prasangka terhadap Bapa. Ketidakpahaman akan hikmat Allah membuat kita terjebak untuk membanding-bandingkan bimbingan Allah dalam kehidupan kita dengan kehidupan orang lain. Kita terjebak dalam rasa tidak puas ketika tuntutan – tuntutan kita tidak dipenuhi oleh Bapa. Kita bertingkah bagaikan anak yang susah diatur dan menolak bekerjasama, padahal itu demi kebaikan kita sendiri. Begitulah manusia. Tuhan telah menjalankan peran-Nya sebagai Bapa yang teramat baik bagi kita. Mengapa kita tak menjalankan peran sebagai anak – anak yang baik bagi Bapa? Bapa telah merancang masa depan yang penuh harapan buat kita. Dia dengan setia membimbing dan mengarahkan agar kita berhasil mencapainya. Mari kita membuka diri untuk bekerjasama dengan Bapa. Memberi diri untuk diajar, dibimbing dan diarahkan kepada masa depan yang penuh harapan.
Tak jarang kita mendengar keluhan sebagai luapan dari rasa lelah, jengkel dari beberapa orang yang menjadi panitia dalam suatu acara. Biasanya keluhan yang terlontar adalah tidak puas dengan rekan-rekan panitia yang lain yang dianggapnya tidak bisa bekerja sama. Terkadang kita menjumpai juga seorang pemimpin mengerjakan tugas-tugas seorang diri dengan dalih bawahannya kurang tanggap, kurang cekatan dan sebagainya. Padahal mungkin dirinya sendiri sebagai pemimpin kurang bisa mendelegasikan tugas. Tentu hal ini akan sangat melelahkan dan hasilnya tidak akan maksimal. Belum lagi tanggapan dari bawahan yang menilai si “Boss” tidak menghargai keberadaan mereka karena selalu “single fighter”. Jadi bekerja seorang diri di tengah-tengah kelompok tidaklah baik. Situasi seperti itu terbaca oleh Yitro ketika melihat menantunya, Musa, sepanjang hari dari pagi sampai petang duduk menghadapi bangsa Israel yang berdiri di depan Musa untuk menanyakan petunjuk Allah. [ayat 13-16]. Dari perikop ini kita bisa merenungkan bahwa seorang pemimpin tidak baik bekerja seorang diri. Mengapa ? Bekerja seorang diri sangat melelahkan baik bagi diri sendiri juga bagi orang-orang yang membutuhkan bimbingan, nasehat, jawaban ataupun petunjuk harus menunggu “antrian panjang”. [ayat 18]. Seorang pemimpin sebaiknya menyampaikan ketetapan, peraturan dan pekerjaan yang berlaku atau yang harus dilakukan oleh bawahan atau staf dengan benar. [ayat 20]. Seorang pemimpin juga harus pandai dan berhikmat untuk memilih orang-orang sebagai orang kepercayaan yang cakap membantu pekerjaannya di bidang masing-masing-masing, jujur dan yang takut kepada Tuhan. [ayat 21-26] Sebagai murid Kristus, marilah kita saling mengasihi, bisa bekerja sama dengan anggota kelompok di mana kita ditempatkan agar bisa menjadi teladan dan bisa menyampaikan kasih Kristus yang sudah kita miliki kepada banyak orang agar merekapun bisa merasakan kasih Kristus yang ada dalam diri kita. Amin. [NIN] Pokok Renungan
Ada seorang muda yang sangat menghormati orang tuanya, membelikan rumah karena selama ini orang tuanya tinggal di rumah kontrakkan, melengkapi rumah yang baru dibeli itu dengan perabot rumah tangga, sekalipun tidak mewah. Anak muda itu selalu mengunjungi orang tuanya setiap seminggu sekali, bahkan lebih dari sekali, selalu menanyakan kesehatannya dan apabila orang tuanya terganggu kesehatannya maka segera dibawa ke dokter untuk dipulihkan kesehatannya. Demikian banyak hal yang diperbuatnya untuk orang tuanya. Tentu kita berpikir dengan sederhana dan gampang, “anak muda itu sangat memperhatikan dan hormat kepada orang tuanya karena dia mau membalas kebaikan orang tuanya yang telah membuat dirinya berhasil. Allah telah menunjukkan belas kasihNya yang sempurna kepada manusia berdosa. Manusia [kita semua] yang seharusnya binasa karena: pelanggaran-pelanggaran, perbuatan dosa, mengikuti jalan dunia [kebinasaan], mentaati penguasa kerajaan angkasa [iblis] yang sekarang sedang bekerja di antara orang durhaka, hidup dalam kedagingan dan hawa nafsu [Ef.2:1-3]; Namun Allah yang kaya akan rahmat dan kasihNya yang besar itu telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus. Oleh kasih karunia-Nya kita diselamatkan karena iman kepada Kristus, itu bukan hasil usaha kita; itu bukan hasil pekerjaan kita [lih. ay 8,9]. Lalu apa yang kita berikan kepada Tuhan yang sedemikian luar biasa rahmat dan belas kasihNya kepada kita, yang telah menyelamatkan kita dari hukuman kekal? Tidak lain kita harus memberikan hormat dan memberi penyembahan yang hidup kepada Tuhan kita. Bagaimanakah kita memberi hormat kepada Tuhan? Pertama kali adalah takutlah akan Tuhan, berilah waktu yang baik untuk beribadah di rumah Tuhan, supaya Dia berfirman kepada kita dan terus menerus kita menerima kebenaran-Nya. Dengan demikian jalan hidup kita senantiasa ada pada jalanNya yang lurus, dan itu menyenangkan hati Tuhan. Lantas? Bawalah Firman kebenaran itu, yang kita dengar [saat ibadah] dalam kehidupan sehari-hari. Hidupmu yang senantiasa ada dalam terang kebenaran Kristus itulah ibadahmu yang sejati [Roma 12:1]. Perbuatan baikmu, bukan alasan untuk engkau menerima keselamatan, tetapi adalah buah pertobatan dan sebagai kesaksian yang hidup karena Kristus penuh belas kasih kepada kita. Amin.
Media sosial memungkinkan kita mengetahui segala aktifitas yang dilakukan seseorang, meskipun kita tidak mengenal orang tersebut. Seperti baru-baru ini saya mengamati perjalanan yang dilakukan oleh keluarga selebritis. Mereka melakukan perjalanan ke Eropa di musim dingin, dengan membawa serta putri kecil yang masih berusia 3 tahun. Bukan perkara yang mudah untuk melakukan perjalanan jauh dengan membawa balita, apalagi ditempat yang super dingin dengan suhu mencapai -20 derajat. Sang ibu menceritakan bagaimana dia mempersiapkan segala keperluan putri kecilnya selama liburan. Dia membawa baju-baju hangat, berbagai macam vitamin, banyak makanan, sepatu boot, sarung tangan dan berbagai keperluan lain untuk putrinya. Tentu saja hal ini membuat repot dan perlu tenaga extra untuk membawa berbagai perlengkapan tersebut. Tapi sang ibu mau dibuat repot sedemikian, demi memastikan putrinya tetap merasa hangat dan tidak kekurangan apapun selama liburan. Kalau seorang ibu memikirkan segala keperluan putrinya, terlebih lagi Bapa di Sorga, Dia tentu akan melakukan lebih dari sekedar yang dilakukan oleh seorang ibu. Daud dalam mazmurnya mengatakan “ Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” Bapa tahu betul segala sesuatu yang kita perlukan selama ada di dunia ini. Dia gembala kita, yang selalu siap menyediakan apa yang menjadi kekurangan kita. Bukan hanya perkara makanan yang disediakanNya, tapi apapun itu yang kurang dalam diri kita, Dia menyediakan. Apakah kita kurang hikmat dalam mendidik anak-anak? Ataukah kita kurang sabar dalam sikap dan perilaku. Hidup kita kurang bermakna? tidak menjadi berkat bagi orang lain? Apapun itu yang kurang dari diri kita, Dia memiliki dan menyediakan untuk kita. Mintalah pada Nya, karena memang semua itu disediakan bagi kita. Bapa menghendaki kita cukup dalam segala hal. Cukup dalam berkat jasmani, cukup memiliki hikmat dalam menghadapi segala situasi, sabar dalam setiap pencobaan, menjadi berkat bagi banyak orang. Apalagi yang kita kuatirkan? Dia membuat nyaman dalam menjalani hari-hari kita. Sekalipun saat harus melewati lembah kekelaman, segala hal yang diperlukan dalam melewatinya disediakan Nya bagi kita. Mari lihat, saat ini apa yang kurang dalam diri kita, maka mintalah dariNya, supaya kita bisa mengatakan bahwa “takkan kekurangan aku”, karena Dialah gembalaku.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tanda Hidup Baru
13 Maret '19
Waspadai Gejalanya !
04 Maret '19
Memberkati Saat Tidak Memungkinkan
19 Februari '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang