SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 15 Juli 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 14 Juli 2018
  Jumat, 13 Juli 2018
  Kamis, 12 Juli 2018
  Rabu, 11 Juli 2018
  Selasa, 10 Juli 2018
  Senin, 09 Juli 2018
POKOK RENUNGAN
’Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? [ayat 4]
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Berharganya Jiwa-Jiwa
Berharganya Jiwa-Jiwa
Minggu, 15 Juli 2018
Berharganya Jiwa-Jiwa
Lukas 15:1-7
Berharganya jiwa-jiwa

Lukas 15:1-7
’Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? [ayat 4]

Beberapa hari lalu ada kabar bahwa 12 orang anak yang terjebak di dalam sebuah gua di Thailand berhasil diselamatkan melalui kerjasama banyak orang yang terlibat dalam tim penyelamat. Usaha penyelamatan itu dilakukan dengan sepenuh hati dengan melibatkan 1.000 orang anggota tim penyelamat dari berbagai negara. Bukan hanya tim penyelamat saja tetapi warga setempat juga ikut berkorban membantu usaha penyelamatan itu. Mulai dari petani yang merelakan sawahnya terkena banjir akibat air yang dipompa dari dalam gua, hingga tukang pijat yang menempuh jarak puluhan kilometer untuk memijat para anggota tim penyelamat. Juga ada beberapa orang yang merelakan waktunya menjadi juru masak untuk para penyelama...selengkapnya »
Kota Yerikho bukanlah kota yang lemah, sebab kota tersebut dikelilingi oleh tembok yang tebal, sehingga bukan pekerjaan yang mudah bagi bangsa-bangsa lain untuk dapat menaklukkan dan mendudukinya. Mustahil bagi manusia, tapi tidak ada perkara yang mustahil bagi setiap orang yang hidup mengandalkan Tuhan dan beriman kepada-Nya. Inilah buktinya: ketika bangsa Israel mau taat melakukan kehendak Tuhan, sekalipun perintah Tuhan itu tidak masuk di akal, tidak logis, mereka berhasil menduduki kota itu. Bukan karena kekuatan militernya, bukan pula karena kemahiran Yosua dalam mengatur strategi perang, tapi karena mereka mau mempraktekkan apa yang diperintahkan Tuhan. Inilah iman yang disertai dengan perbuatan, sebab ’Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.’ [Yakobus 2:17]. Pergumulan berat apa yang Saudara alami saat ini. Mungkin kita mendengar omongan orang lain yang sangat melemahkan: ’Percuma...penyakit semacam itu tidak mungkin sembuh. Mustahil suamimu akan kembali ke rumah, dia sudah digondol wewe gombel [diculik hantu - Red.]. Hutang sebanyak itu tak mungkin dapat terlunasi!’ Ada pelajaran berharga dari runtuhnya tembok Yerikho ini: selama kita hidup mengandalkan Tuhan dan taat melakukan kehendak-Nya tidak ada hal yang terlalu besar yang tidak bisa diatasi. Kalau kita fokus pada apa yang terlintas secara kasat mata mustahil tembok Yerikho [gambaran dari masalah - Red.] bisa runtuh. Tetapi kalau kita mengarahkan pandangan kepada Tuhan yang ajaib segala perbuatan-Nya, maka masalah sebesar apa pun tidak ada arti apa-apa di hadapan Tuhan. Namun seringkali kita tidak mau taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan, dan memilih mengandalkan kekuatan sendiri, menggunakan cara sendiri mengatasi masalah. ’Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.’ [Amsal 3:5]. Yosua dan bangsa Israel hanya disuruh untuk berjalan mengelilingi kota Yerikho sekali sehari selama 6 hari lamanya dan pada hari yang ketujuh mereka harus mengelilingi kota itu tujuh kali, lalu diakhiri dengan sorak-sorai [Yosua 6:3-5].
Saya mempunyai dua orang anak laki-laki yang berbeda umur tiga tahun. Bagi saya mereka adalah penghiburan tersendiri bagi kami sekeluarga. Karena tingkah dan keceriaannya ketika mereka bermain dan berantem membuat suasana menjadi ramai dan menyenangkan. Dan itu terkadang membuat saya jengkel, namun karena mereka masih anak-anak. Namun pada suatu hari terjadi perkelahian yang cukup sengit diantara mereka. Kakaknya menendang adik hingga terpental ke tembok sampai terdengat bunyi ,,,,, Kladok,,,, dan tangisan yang cukup kencangpun terdengar. Saya bertanya kepada kakaknya dan jawabnya sederhana, bahwa adik yang mulai dengan memukuli kakak terus makanya kakak kesel. Mendengar jawaban itu memang masuk akal tetapi bagi saya sebagai orang tua jawaban itu bukan sebuah pembelaan dan menyalahkan, tetapi justru saya menyatakan sebagai kesalahan sang kakak. Sebagai saudara seharusnya bisa mengalah dan menunjukkan kesalahan yang tidak boleh dilakukan, bukan menghajar saudaranya dan mencari pembenaran. Sering kali tanpa kita sadari kita juga melakukan hal sama dengan dalil kesabaran ada batasnya dan aku tidak salah karena dia yang memulai. Ketika kita dibawa dalam kondisi tekanan dan di dalam proses hidup, sering kali kita terkadang menyalahkan keadaan. Dan berfikir bahwa bukan seharusnya saya yang menerima semua masalah ini tetapi orang lain yang hidupnya tidak benar yang semestinya mengalami persoalan ini. Kita cenderung mencari pembenaran bukan belajar bahwa kita dihadapkan dengan situasi yang kurang menyenangkan. Semestinya kita harus belajar rendah hati dan mengerti maksud dari semua yang sedang kita hadapi. Ketika kita melihat semua kesulitan yang sedang kita alami, hendaklah dengan kerendahan hati dan melihat maksud Allah dari setiap kejadian hidup kita. Dengan demikian kita akan merasakan banyak hal yang baik yang akan kita terima. Dan kita akan mendapatkan kedewasaan bukan sakit hati, kekecewaan yang kita rasakan sebab kita bisa menyikapinya dengan benar. Kondisi apapun yang kurang baik kita alami, mari mulai menyadari sepenuhnya dengan kerendahan hati dan kesadaran akan maksud Tuhan. Semakin kita mencari pembenaran, kita akan banyak menyalahkan keadaan dan tidak akan mengalami kedewasaan. Akibatnya kita tidak akan bisa bersyukur atas apa yang baik dari Tuhan dengan bungkus kesulitan.
“ Janganlah engkau lupa memperkatakan Kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya,sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” [ Yosua 1 : 8 ] Sebagai umat kristiani, kita memiliki kitab suci yang sering di sebut Alkitab. Alkitab tersebut berisi Firman Tuhan. Adapun dalam Firman Tuhan tersebut terkandung perintah-perintah dan larangan-larangan yang berasal dari Tuhan. Perintah berarti sesuatu yang harus kita lakukan, sedangkan larangan adalah sesuatu yang tidak boleh kita lakukan. FirmanMu adalah pelita bagi kakiku dan menjadi terang bagi jalanku. Permasalahannya : Apakah kita sudah membaca Alkitab ? Ternyata, bukan hanya sekedar membaca saja, tapi juga merenungkannya, dan harus mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan kita pun harus memperkatakan Firman Tuhan tersebut. Jadi Firman itu harus selalu keluar dari bibir dan mulut kita disetiap saat dan disetiap waktu. Bagaimana agar perkataan Firman Tuhan keluar dari bibir dan mulut kita ? Jawabnya kita harus dipenuhi oleh FirmanNya. Dari apa yang kita baca, dengar dan lihat, maka akan masuk di pikiran kita. Dari pikiran akan keluar perkataan. Ibarat sebuah botol diisi oleh air, jika diisi terus maka akan penuh bahkan bisa meluber atau meluap. Nah, Bagaimana dengan pikiran kita ? diisi dengan apa ? jika diisi dengan tontonan sinetron tiap hari dari televisi, maka yang keluar dari bibir atau mulut kita adalah cerita sinetron yang menjadi topik pembicaraan dengan teman. Penggemar sepak bola yang begitu setia mengikuti pertandingan Piala Dunia 2018 di Russia, jika dia bertemu dengan temannya maka dia akan semangat bercerita tentang sepak bola. Jika kita punya teman yang selalu memperkatakan yang kotor dan jorok [ baca: saru ], maka kitapun bisa menebak apa yang dipenuhi di dalam pikirannya. Nah, Bagaimana jika pikiran kita diisi dengan Firman Tuhan ? maka yang keluar dari bibir dan mulut kita adalah perkataan Firman Tuhan. Itu merupakan suatu perintah dan harus dilakukan. Mari kita mulai dari sekarang! Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Seorang petani akan mempersiapkan ladang dengan sungguh-sungguh sebelum ditanami dengan berbagai macam tanaman. Tanah dengan dicangkul akan menjadi gembur dan rumput-rumput yang mengganggu akan disingkirkan. Setelah ladang siap, maka benih tanaman akan ditanam di tanah yang telah dipersiapkan. Juga tidak ketinggalan diberi pupuk dengan harapan benih yang ditanam akan tumbuh dengan baik. Ketika benih yang ditanam mulai bertumbuh baik, maka si petani pasti akan bersukacita akan hal itu, karna apa yang dikerjakannya berhasil. Sukacita yang dirasakan seorang petani ketika mendapati apa yang ditanam bertumbuh dengan baik. Sama halnya dengan Bapa kita di Surga yang senantiasa menginginkan anak-anaknya dapat bertumbuh baik ke arah Kristus. Kristus adalah Guru agung kita semua. Melalui kehidupan Kristuslah kita harus belajar menjadi sama seperti Dia. Mengapa ke arah Kristus?, karna Kristus telah membawa kita kepada hidup yang kekal. Kita telah memperoleh jaminan hidup kekal. Maka dari itu kita juga harus menghargai pengorbanan-Nya dengan berusaha hidup sesuai kehendak-Nya. Bertumbuh dalam hal apa?, bertumbuh dalam hal rohani merupakan keperluan yang penting bagi umat Tuhan. Seperti yang terdapat dalam surat Filipi 3:1-10. Paulus melihat bahwa banyak orang memalsukan ibadah dengan bermegah pada hal-hal lahiriah. Paulus mengarahkan untuk menyembah kepada Allah dalam Roh pada pengenalan akan Kristus. Ia membuang semua sifat lahiriah dan menganggapnya sampah jika dibandingkan dengan Kristus. Dan pengenalan akan Kristus adalah tujuan utamanya. Maka dari itu bertumbuh secara rohani merupakan hal yang sangat penting bagi kita semua. Karena itulah yang dikehendaki Kristus bagi anak-anak-Nya Jemaat yang terkasih, mari kita bersama-sama membuat Bapa kita di surga bersukacita melalui hidup kita yang selalu bertumbuh ke arah Kristus. Bertumbuh dalam hal rohani merupakan hal yang harus kita capai. Sehingga hidup kita juga akan menghasilkan buah yang baik yang dapat dilihat oleh orang lain. Dan dengan demikian pula kita menjadi hamba yang baik, juga hidup kita dapat mempermuliakan nama-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bertindak Atas Kebesaran Tuhan
18 Juni '18
Keluarga Tuhan
15 Juni '18
Kesatuan Mendatangkan Berkat
17 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang