SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 20 Februari 2018   -HARI INI-
  Senin, 19 Februari 2018
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ’Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu [Amsal 3:27-28 ]
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Menabur Kebaikan1
Menabur Kebaikan1
Sabtu, 17 Februari 2018
Menabur Kebaikan1
Galatia 6:1-10
Bill Gates adalah seorang yang sukses dalam bidang IT dengan produk software Microsoft yang telah mendunia. Suatu saat dia dan isterinya diwawancarai oleh majalah Time, salah satu pertanyaannya “Mengapa anda memutuskan untuk member begitu banyak dari keuntungan bisnis anda kepada kepentingan dunia?” Jawabnya “Sangat jelas bagi kami bahwa kami tidak pernah berpikir untuk memberikan keuntungan ini bagi anak-anak kami sendiri. Ketika kami mulai melihat adanya ketidakadilan yang besar di dunia ini, kami yakin dapat membantu kehidupan manusia melalui peningkatan kesehatan. [ Majalah Time 7 November 2005 ]. Bill Gates telah menabur kebaikan dalam hidupnya.

Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena prinsip yang Tuhan ajarkan adalah bertolong-tolonganlah untuk saling menanggung beban. Karena dengan demikian maka kita akan memenuhi hokum Kristus. Jangan pakai waktu kita untuk menabur dalam daging dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan bertentangan dengan Firman Tuhan yang akan menuai kebinasaan. Mereka yang menabur dalam Roh dengan melakukan perbuatan terpuji dan menabur kebaikan akan menuai hidup yang kekal. Janganlah kita mempermainkan waktu singkat yang ...selengkapnya »
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
Pak Slamet sangat rindu mengenal Allah yang benar, maka sesuai dengan keyakinannya dia menjalani kehidupan sesuai imannya dengan khusuk sekali. Dia rajin mendengarkan dan mengikuti ceramah agama dimanapun dia bisa mendengarkannya. Suatu saat pak Slamet kedatangan sahabat lamanya pak Sastro. Mereka berbincang sejenak untuk melepas rindu, setelah 50 tahun berpisah. Sehingga pertemuan itu membuat sukacita mereka Sekarang usia mereka berdua sudah di atas 60 tahun. Pak Sastro mulai bercerita tentang bagaimana hidupnya dipertemukan dengan Tuhan Yesus yang memberikan kedamaian dan sukacita hidup. Ternyata melalui kesaksian pak Sastro yang sederhana pak Slamet jadi percaya dan mengenal Allah yang benar. Kerinduan pak Slamet sudah terjawab, sekarang hidup pak Slamet tidak jauh berbeda dengan hidup sahabatnya. Zakheus orang yang kaya, namun ada sesuatu yang terhilang. Dalam hidupnya yaitu hidup yang tidak memiliki banyak teman maupun saudara. Sebagai pemunggut cukai dan tukang pajak hidupnya sangat dibenci masyarakat sekitarnya karena dianggap membantu penjajah untuk memeras rakyat. Hati Zakheus tidak bersukacita meskipun harta melimpah Dia sedih sebab kemanapun pergi selalu jadi omongan negatip dari orang sekitarnya. Zakheus sering mendengar berita tentang Tuhan Yesus dari masyarakat di sekitarnya. Hatinya sangat rindu bertemu dengan Tuhan Yesus. Siapa tahu melalui perjumpaan itu dia menemukan kembali apa yang terhilang dari hidupnya. Karena postur tubuhnya pendek dan tidak memungkinkan ketemu Tuhan Yesus seperti orang lainnya, Zakheus berusaha memanjat pohon untuk melihat Tuhan Yesus yang sedang dikerumini orang banyak. Karena saat itu Tuhan Yesus melewati wilayahnya Ternyata Tuhan Yesus memperhatikan Zakheus dan meminta dia turun dari pohon sebab DIA akan menumpang di rumahnya. Bagi Zakheus ini sesuatu yang spesial sekali. Baru kali ini ada seorang saleh yang dikagumi banyak orang justru mau singgah di rumahnya dan mau makan bersama dia. Kerinduan hatinya untuk menemukan yang terhilang dalam hidupnya telah dijawab oleh Tuhan Yesus. Sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat 9. Dimana Zakheus dahulu orang berdosa yang pelit sekarang menjadi Zakheus orang benar yang murah hati karena berjumpa dengan Tuhan Yesus [ayat 7-8 ]. Semoga kita semua memiliki hidup seperti Zakheus menjadi orang benar yang murah hati karena perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan Yesus. Hendaknya kita sebagai orang percaya memiliki hati seperti Tuhan Yesus. Hati yang rindu mencari dan menyelamatkan orang berdosa di sekitar kita seperti Zakheus, supaya hidupnya mengalami sukacita dan damai sejahtera. Marilah hal ini kita wujudkan dalam tahun 2018, yaitu mau dan berkomitmen melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang.
Mahasiswa Akademi Militer atau Akademi Kepolisian harus mengikuti semua peraturan kampus. Selalu mengenakan pakaian seragam termasuk saat liburan, potongan rambut sesuai standard yang berlaku, tidak diperkenankan berbahasa daerah saat berkomunikasi dengan siapa saja termasuk dengan rekan sedaerahnya. Yang sangat menarik saat mereka berjalan bersama atau sendiri langkah mereka harus sesuai dengan yang telah ditetapkan. Mereka mematuhi aturan-aturan walaupun tidak ada yang mengawasi karena bagi mereka aturan tersebut sudah menjadi gaya hidup dan bukan beban. Orang benar akan melangkah sesuai dengan ketetapan Tuhan dan berkenan kepada-Nya. Firman Tuhan ada dalam hatinya dan tidak goyah dalam melangkah sesuai dengan perintah-Nya. Mulut orang benar mengucapkan kebenaran dan kebajikan, perkataan yang sesuai dengan hukum-Nya. Setiap hari menaruh belas kasihan dan memberi pertolongan kepada orang lain. Menjauhi kejahatan dan melakukan perbuatan baik. Langkah orang benar akan mendatangkan penyertaan Tuhan senantiasa dan tidak akan jatuh tergeletak. Tuhan akan memelihara hidupnya sampai selamanya. Tidak akan dibiarkan berkekurangan di masa tua karena anak cucunya tidak akan meninggalkannya. Kita harus memenuhi hidup kita dengan Firman-Nya sehingga setiap langkah kita akan sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya. Hidup yang berkenan kepada-Nya. Perkataan dan perbuatan yang mencerminkan kekudusan dan sebagai pelaku Firman. Melakukan perbuatan baik setiap waktu dan berdampak keselamatan bagi banyak orang. Langkah tersebut tidak tergantung pada situasi dan keadaan, tetapi menjadi gaya hidup dan dilakukan tanpa beban. Dengan demikian, Tuhan akan memelihara hidup kita dalam menempuh perjalanan dalam tahun ini walaupun harus melewati lembah yang dalam.
Berlutut dihadapan Tuhan, tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Dr. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita’. Buku ini menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerahkan seluruh persoalannya kepada Tuhan dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putua asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemampuan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh.’ Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanam kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengakui dihadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Roma 7:21 mengatakan, ’Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.’ Bukankah kita merasakan betapa sulitnya untuk berdoa sekalipun keinginan untuk berdoa selalu ada? Jadi, mintalah kepada Tuhan agar cinta untuk rumah dan hadiratNya menghanguskan kita. Pahamilah prinsip kebenaran tentang ’Rumahku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.’ Yesus memberikan pernyataan ini ketika Dia sedang menunggang-balikkan segala kesibukan yang ada di rumah Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan kesekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dari segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakanNya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mengenal Tuhan, Menanggalkan Kesombongan
16 Februari '18
Hidup Menurut Roh Vs Menurut Daging
02 Februari '18
Harapan Itu Masih Ada
20 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang