NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Permohonan Doa
  Form Pendaftaran Pelayanan
  Form Katekisasi Baptisan Air
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  Ahok: Ini Aku Tuhan, Utuslah Aku
Ahok: Ini Aku Tuhan, Utuslah Aku
Ahok: Ini Aku Tuhan, Utuslah Aku
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)
Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja.

Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan.

Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia,...selengkapnya »
Siapapun orangtuanya, pasti menginginkan buah hatinya berlaku baik, sopan dan tidak nakal. Karena, sifat-sifat baik itu juga akan membuat sang orangtua menjadi bangga. Sementara jika nakal, orangtuanya pun akan merasa malu. Masih berlakukah statement tersebut?. Fenomena yang sekarang terjadi orang tua justru seolah-olah tidak peduli dengan kenakalan anak mereka. Ketika anak mereka bersikap temper trantum (di rumah ataupun tempat umum) dengan: 1). Menjerit-jerit 2). Berguling-guling di lantai 3). Naik-naik ataupun loncat-loncat di atas kursi atau meja, dsbnya. 4). Menjambak atau memukul teman bermain atau saudara mereka. Semuanya seolah-olah menjadi hal biasa dan normal buat para orang tua. Hal yang paling sering kita lihat, para orang tua hanya: 1). Menegur dengan cara memanggil nama anaknya, dari kejauhan sambil membiarkan anak mereka tetap melakukan hal tersebut. 2). Orang tua menaruh jari telunjuknya di depan mulut mereka, sebagai penanda agar anak mereka diam dan tidak nakal. 3). Memberikan gadget pada anak mereka agar duduk diam. Pada kenyataanya semua itu tidak efektif membuat anak mereka untuk tidak temper trantum kembali. Entah semua itu karena degradasi dari sebuah pola asuh, dikarenakan mereka lebih gemar dengan gadget mereka, atau gemar menonton sinetron, atau sibuk dengan aktivitas mereka, atau malas mendidik anak mereka, atau faktor lain. Namun pada intinya, orang tua tidak boleh menganggap anaknya yang sering melakukan ciri-ciri perilaku di atas sebagai sesuatu yang wajar, dan terus-menerus menolerir tindakan yang merugikan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain di sekitarnya. Lalu apa penyebabnya ? 1. Memenuhi Semua Keinginan Anak Banyak di antara orangtua yang selalu memenuhi permintaan anaknya. Padahal, pola asuh semacam ini bisa berdampak buruk bagi si anak. Sikap orangtua yang selalu memenuhi keinginan anak, misal membelikan mainan yang diminta, malah bisa membentuk anak menjadi manja, bersifat materialistik dan cenderung nakal. Memang, para orangtua sering memanjakan anak dengan alasan daripada anak marah, mengamuk dan jadi monster kecil di rumah, lebih baik dipenuhi saja keinginannya. Padahal, sebaiknya kita bisa memberikan pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginannya bisa dikabulkan. 2. Kurang Menerapkan Disiplin Terapkan disiplin pada anak. Salah menerapkan disiplin kepada anak ternyata bisa menyebabkan anak bersikap manja dan nakal. Banyak dari para orangtua yang tidak tahu cara yang benar untuk mendisiplinkan anak. Misalnya, tidak memiliki aturan yang tegas di rumah sehingga membuat anak bersikap semaunya saja. Nah, mulai sekarang orangtua perlu mengajarkan anak tentang konsekuensi dari setiap perilakunya. Misalnya, jika si anak tidak mau mandi, maka orangtua bisa memberikan pengertian bahwa nanti kulitnya gatal karena tubuhnya kotor. Perlu diingat, saat melatih disiplin pada anak, orangtua wajib bersikap konsisten dan memberi contoh nyata juga pada mereka. Untuk melatih disiplin, orangtua juga bisa menerapkan sistem punish and reward saat anak berperilaku negatif. Misalnya, anak tidak boleh menonton televisi jika belum selesai mengerjakan tugas sekolah. Atau, anak tidak boleh makan coklat kalau dia tidak meletakkan sepatu di rak sepatu. 3. Selalu Siap Membantu Anak Ketika orangtua mendapatkan laporan dari guru di sekolah tentang kenakalan anak, seringkali mereka tidak percaya akan hal tersebut. Banyak dari orangtua bersikap seolah-olah anaknya selalu berperilaku baik dan tak pernah berbuat salah. Bahkan tak jarang, orangtua malah selalu membela anak dan berbuat seolah-olah selalu berada di sampingnya untuk melindungi anak. Sikap terlalu sering membela anak ini akan membuat anak manja, egois dan membentuk perilaku nakal karena selalu merasa dibela oleh orangtuanya. Nah, agar anak bisa bersikap positif dan mau menerima teguran ketika melakukan kesalahan, maka yang harus dilakukan adalah memberi penjelasan bahwa bila anak berbuat salah dan orangtua memarahinya, itu bukan berarti tidak sayang lagi. Tunjukkan kepada anak bahwa tidak selamanya orangtua akan membela anak. Sang anak memang perlu ditegur saat berperilaku negatif di rumah ataupun di sekolah. 4. Bertengkar di Depan Anak Bertengkar dan berselisih paham adalah sebuah pertanda kehidupan di keluarga, dan itu wajar, selama di lakukan tanpa kekerasan, dalam fisik maupun perkataan, dan dalam tata aturan yang benar, serta menghormati suami/istri. Sayangnya, banyak diantara para orangtua yang sering bertengkar di depan anaknya dengan emosional yang tinggi. Sikap ini harus dihindari, karena suara dan teriakan keras dengan saling memaki bisa memberikan dampak buruk bagi anak. Misalnya, anak bisa berperilaku kasar ke teman, nakal dan tidak betah di rumah karena merasa tidak nyaman. 5. Memberikan Contoh Buruk Anak akan meniru segala sesuatu yang dilihat dari orang terdekatnya, yaitu kedua orangtuanya. Jika orang tua memiliki kebiasaan berteriak dan mengeluarkan kata kasar, maka otomatis anak akan meniru. Karena itu, orangtua harus bisa menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Tapi jangan khawatir, jika orangtua pernah berperilaku tidak baik, berikan penjelasan kepada anak bahwa apa yang telah dilihat adalah hal yang buruk dan anak tidak boleh meniru. Orangtua juga harus berjanji untuk tidak berperilaku buruk di depan anak, agar anak mengetahui bahwa hal yang buruk tidak boleh ditiru olehnya. Satu lagi mengenai acara televisi, yang saat ini didominasi oleh roh perceraian, roh pertengkaran, roh perselingkuhan, dll yang dipakai si iblis untuk membentuk karakter si penontonnya (baik si orang tua apalagi si anak). Jadi cobalah untuk memfilter apa yang masuk di otak kita dan otak anak-anak kita. Secara tidak langsung acara televisi, merupakan salah satu produk percontohan buat anak, jika tidak difilter oleh orang tua mereka. Saran Buat Orang Tua Buat para orang tua ataupun calon orang tua, anak adalah anugrah Tuhan Yesus yang dititipkan oleh Tuhan untuk kita didik dalam jalur pengenalan yang benar akan Kristus. So, luangkan waktu anda untuk memberikan pola asuh yang benar, bukan asal memiliki anak, tanpa punya waktu memberikan pola asuh yang benar, akhirnya pola asuh diserahkan pada pembantu, baby sitter, ataupun kakek neneknya, karena mereka adalah anak anda bukan anak orang lain `Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.`
`Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.` Markus 1:35 Dahulu ketika saya masih tinggal di kota kelahiran saya, terkadang saya bersama teman-teman pergi ke sebuah kota wisata di sana yang berjarak kurang lebih satu setengah jam perjalanan di hari Minggu. Ada sebuah bukit kecil penuh rumput di sana yang selalu ramai pengunjung. Ada banyak kelompok di sana yang selalu menarik perhatian saya. Mereka menggelar tikar, membawa bekal, dan terlihat gembira berkumpul bersama baik dengan keluarga maupun dengan teman-teman. Ditemani gitar, mereka ramai-ramai memuji Tuhan. Ada pula yang bergantian membaca Alkitab dan membahasnya. Pada waktu itu saya heran mengapa mereka harus jauh-jauh pergi ke sana hanya untuk bernyanyi dan membahas Alkitab? Tidakkah itu bisa mereka lakukan di rumah atau di gereja saja? Hari ini saya mengerti mengapa mereka melakukannya. Lepas dari rutinitas, mencari tempat dengan suasana santai dan udara sejuk, disana mereka bersama-sama memuji Tuhan. Alangkah indahnya. Setiap tahunnya orang butuh cuti agar bisa kembali segar setelah jenuh bekerja sepanjang tahun. Rutinitas dalam pekerjaan bisa menurunkan produktifitas, dan untuk itulah liburan atau setidaknya cuti diperlukan bagi orang yang bekerja. Sebuah rutinitas yang terpola dan dilakukan dengan cara yang sama terus menerus bisa membuat kita merasa bosan dan tidak lagi bersemangat dalam melakukannya. Dalam dunia pekerjaan demikian, rutinitas dalam berbagai aspek kehidupan bisa seperti itu, dalam berdoa pun kita bisa mengalami hal yang sama. Bangun pagi dan bersaat teduh, sebelum mulai mengerjakan aktivitas sehari-hari rutin dilakukan banyak orang percaya yang mengerti pentingnya meluangkan waktu secara khusus untuk bersekutu dengan Tuhan. Kerinduan dan kasih kepada Allah akan selalu membuat saat teduh ini begitu dinikmati. Namun ketika kita terus rutin mengerjakannya setiap hari, terkadang kita bisa terjebak pada sebuah pola rutinitas, yang bisa membuat kita mulai merasa jenuh dan mengalami stagnasi dalam pertumbuhan iman. Bukan bersaat teduh yang salah, karena itu merupakan sesuatu yang sangat baik untuk dilakukan, namun sifat manusia yang akan merasa jenuh ketika melakukan sesuatu secara rutin dan terpola bisa membuat kita mulai kehilangan sesuatu ketika kita mengambil waktu untuk berdoa. Lama-kelamaan berdoa bukan lagi didasari oleh kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi namun menjadi sebuah kebiasaan semata yang harus dilakukan dalam waktu yang sama. Karena itulah terkadang kita butuh saat-saat dimana kita perlu membuat variasi dalam bersekutu dengan Tuhan. Menarik melihat Yesus beberapa kali terlihat memilih untuk menyepi ketika hendak berdoa. Ayat bacaan hari ini misalnya menggambarkan hal itu. `Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.` (Markus 1:35). Atau dalam kesempatan lain di malam hari: `Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.` (Matius 14:23). Yesus mengetahui betapa pentingnya untuk menikmati waktu-waktu bersekutu dengan Bapa tanpa harus terganggu oleh hiruk pikuk atau hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi. Bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya akan maksimal kita rasakan apabila konsentrasi kita tidak terpecah-pecah dengan apapun yang ada disekitar kita. Kebosanan akibat rutinitas, ini pun merupakan sebuah gangguan yang bisa membuat kita tidak maksimal menikmati kebersamaan dengan Tuhan. Yang penting adalah kita bisa menemukan tempat atau situasi dimana kita bisa berdoa dengan tenang tanpa gangguan apapun. Bersama Tuhan kita akan memperoleh kekuatan dan sukacita berlimpah yang akan mampu membuat kita lebih kuat dalam menjalani hari-hari yang melelahkan. `Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.` (Mazmur 16:11). Oleh karenanya kita harus bisa memaksimalkan waktu dimana kita bisa bersekutu secara pribadi dengan Tuhan. Yesus pun menggambarkan hal ini ketika mengajarkan bagaimana cara berdoa yang baik. `Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.` (Matius 6:6). Ini pelajaran bagi kita untuk mencari sebuah tempat dan situasi dimana kita bisa konsentrasi penuh dalam berdoa tanpa harus terganggu oleh kegiatan yang berjalan di sekitar kita. Mungkin bukan hiruk pikuk sekeliling yang mengganggu kita hari ini, namun rutinitaslah yang mulai membuat kita merasa bosan. Kita tahu bahwa berdoa dan memuji Tuhan, bersaat teduh itu penting, namun kebosanan ternyata menghambat konsentrasi kita. Ini bisa terjadi pada kita. Jika itu terjadi, itulah saatnya bagi kita untuk mencari terobosan atau variasi dalam meluangkan waktu bersama Tuhan, salah satunya seperti apa yang dilakukan oleh kelompok keluarga atau teman yang pergi ke atas bukit seperti yang saya ceritakan di awal. Keluar dari rutinitas akan membuat kita kembali segar. When situation gets dry, we need to break the routine. Kapan terakhir kali anda membaca Alkitab bersama keluarga dan teman-teman di padang rumput? Atau sambil menikmati gemericik air menyegarkan kaki? Duduk di bawah pepohonan rindang dengan angin sepoi-sepoi, ditemani sebuah gitar dan bekal yang dibawa dari rumah, lalu bersama-sama memuji Tuhan disana? Atau mungkin duduk di depan rumah, menikmati terbitnya matahari dan kicauan burung sambil merenungkan firman Tuhan? Ini semua bisa membuat kita keluar dari rutinitas yang bisa membuat jenuh, dan membawa kita kembali menikmati keindahan saat-saat bersama Tuhan dengan maksimal. Tinggalkan sejenak semua masalah pekerjaan, masalah hidup dan hal-hal yang mengganggu pikiran kita dan nikmati waktu bersama Tuhan dalam hadiratNya secara khusus. Setelah itu, libatkanlah Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan, karena Dia selalu ada beserta kita. Hindari kekeringan rohani yang bisa terjadi akibat kejenuhan dalam rutinitas yang tanpa sadar bisa membuat doa-doa kita hanyalah berupa unsur kebiasaan saja. Sehari cuma 24 jam, tidak banyak waktu yang bisa kita pakai untuk secara khusus berdialog dengan Tuhan dan mendengar suara-Nya. Oleh sebab itu, manfaatkanlah waktu yang ada itu semaksimal mungkin agar bisa mengalami kehidupan penuh sukacita melimpah yang maksimal pula. Keluarlah dari rutinitas ketika anda mulai mengalami kekeringan rohani.
Saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali mati atau menemukan obat untuk menyembuhkan diri saya sendiri yang saat ini menderita kanker payudara. Saya seorang ilmuwan, yang butuh penjelasan dan masuk akal tentang penyakit yang mematikan dan menyerang satu dari 12 wanita di Inggris ini. Saya telah telah menderita karena kehilangan satu payudara dan telah menjalani radioterapi. Sekarang saya menjalani kemoterapi yang menyakitkan dan saya juga telah diperiksa oleh beberapa spesialis yang paling terkemuka di negeri ini. Saya merasa maut akan menjemput saya. Tapi, saya ingin hidup karena saya mempunyai suami yang mencintai saya, rumah indah dan dua anak kecil yang memerlukan bimbingan saya. Dan, keinginan hidup ini mendorong saya untuk menggali fakta-fakta, yang baru sedikit diketahui oleh sejumlah kecil ilmuwan pada waktu itu. Setiap orang yang berhubungan dengan kanker payudara akan tahu bahwa beberapa faktor penyebab atau resiko dari penyakit ini antara laini usia tua, mens terlalu dini, menopause terlambat dan sejarah keluarga dengan kanker payudara, sungguh-sungguh tidak dapat kita cegah. Tetapi ada banyak faktor resiko lainnya yang dapat kita kontrol dengan baik. Faktor-faktor resiko yang terkontrol ini dengan mudah terwujud dalam perubahan-perubahan sederhana yang dapat kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari kita untuk mencegah atau mengobati kanker payudara. Petunjuk pertama dalam memahami penyebab berkembangnya kanker payudara saya datang pada saat suami saya Peter, yang juga ilmuwan, pulang ke tanah air setelah bekerja di China, ketika saya sedang menjalani pengobatan kemoterapi. Ia membawa kartu-kartu dan surat-surat, serta beberapa ramuan dari tumbuh-tumbuhan, yang diberikan oleh teman-teman dan ilmuwan-ilmuwan mitra saya di China. Ramuan-ramuan itu dikirimkan kepada saya untuk menyembuhkan kanker payudara ini. Meskipun kami menghadapi keadaan yang menyedihkan pada saat itu, kami dapat tertawa lepas, dan saya ingat telah mencetuskan perkataan bahwa ramuan ini merupakan pengobatan bagi kanker payudara di China, dan tidak mengherankan bahwa wanita-wanita di China berusaha terhindar dari penyakit ini. Kata-kata itu selalu teringat di benak saya. Mengapa wanita-wanita di China tidak terkena kanker payudara? Saya pernah bekerja sama dengan mitra-mitra China dalam penelitian tentang hubungan antara kimia tanah dan penyakit, dan mengingat beberapa statistik yang telah dibuat. Faktor Gaya Hidup Penyakit ini boleh dikatakan tidak terdapat di seluruh negeri China. Hanya 10.000 wanita di China wafat karena penyakit ini, dibandingkan dengan persentase menakutkan bahwa satu di antara 12 wanita di Inggris meninggal dunia karena penyakit ini. Bahkan angka ini lebih mengerikan lagi dan menjadi rata-rata satu di antara 10 wanita di sebagian besar negara-negara Barat. Hal ini bukanlah karena China merupakan negeri yang lebih bersifat pedesaan, dan tidak banyak terkena polusi perkotaan. Di daerah Hong Kong yang padat, persentase meningkat menjadi 34 di antara 10.000 wanita, namun toh masih jauh lebih sedikit daripada di Barat. Kota-kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang juga memiliki persentase yang hampir sama dengan China. Padahal kedua kota ini telah diserang dengan senjata nuklir, sehingga selain kanker yang berhubungan dengan polusi, kita dapat memperkirakan adanya kasus-kasus kanker yang terkait dengan radiasi. Kesimpulan yang dapat kita peroleh dari statistik ini sungguh mengejutkan. Apabila seorang wanita Barat pindah ke kota industri Hiroshima yang terkena radiasi, resiko terkena kanker payudara ini dapat menjadi satu berbanding dua. Tentu saja hal ini tidak masuk akal. Saya merasa yakin bahwa ada sebuah faktor gaya hidup yang bukan terkait dengan polusi, urbanisasi atau lingkungan hidup yang nyata-nyata telah meningkatkan kemungkinan wanita Barat terkena kanker payudara. Saya kemudian menemukan bahwa penyebab perbedaan besar dalam persentase kanker payudara antara negara-negara Timur dan Barat bukanlah karena faktor genetika. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa apabila orang China atau Jepang pindah ke Barat, dalam satu atau dua generasi persentase kanker payudara mereka mendekati persentase dari penduduk negara di mana mereka tinggal. Hal yang sama terjadi apabila orang-orang Timur sepenuhnya meniru gaya hidup Barat di Hong Kong. Sesungguhnya, nama populer yang disebutkan orang di China bagi kanker payudara adalah Penyakit Wanita Kaya. Ini disebabkan bahwa di China, hanya orang-orang kaya yang dapat menikmati apa yang disebut sebagai Makanan Hong Kong. Orang-orang China menggambarkan semua makanan Barat, termasuk semua kudapan dari es krim dan coklat sampai spaghetti dan keju, sebagai Makanan Hong Kong karena hanya terdapat di bekas koloni Inggris dan dulu jarang ada di daratan China. Jadi sungguh masuk akal bagi saya bahwa apa yang menyebabkan kanker payudara saya ini dan banyaknya penderita penyakit tersebut di negara saya hampir dipastikan berasal dari sesuatu yang berhubungan dengan gaya hidup Barat kita, dari kalangan menengah yang lebih baik. Angka ini juga besar bagi para pria di sini. Saya telah mengamati dalam penelitian saya bahwa banyak data tentang kanker prostat juga sampai pada kesimpulan yang sama. Tidak Mengkonsumsi Produk Susu Menurut angka dari WHO, jumlah pria yang terkena kanker prostat di China pedesaan hampir tidak ada, hanya 0,5 pria di antara 100.000. Namun demikian di Inggris, Skotlandia dan Wales, angka ini 70 kali lebih tinggi. Seperti kanker payudara, penyakit ini merupakan penyakit kalangan menengah dan terutama menyerang kelompok-kelompok sosial yang lebih kaya dan mempunyai kehidupan sosial-ekonomi yang lebih tinggi, yaitu mereka yang dapat menikmati makanan yang bergizi tinggi. Saya teringat berkata kepada suami saya, Ayo Peter, kamu baru saja pulang dari China. Apa sih gaya hidup China yang sangat berbeda dengan kita? Mengapa mereka tidak terkena kanker payudara? Kami memutuskan untuk menggunakan latar belakang ilmu kami bersama-sama dan melakukan pendekatan dengan logika. Kami memeriksa data ilmiah yang mengarahkan kami pada kandungan lemak dalam makanan. Para peneliti pada tahun 1980-an telah menemukan bahwa hanya 14% kalori di hidangan China terdiri atas lemak, dibandingkan dengan hampir 36% di Barat. Tetapi makanan yang telah saya makan selama bertahun-tahun sebelum terkena kanker payudara ini sangat rendah lemak dan berserat tinggi. Selain itu, sebagai ilmuwan saya tahu bahwa asupan lemak pada orang dewasa tidak menunjukkan peningkatan resiko kanker payudara dalam sebagian besar investigasi yang telah dilakukan pada kelompok-kelompok besar wanita selama dua belas tahun. Lalu pada suatu hari sesuatu yang agak istimewa terjadi. Peter dan saya telah bekerja sama begitu erat selama bertahun-tahun lamanya sehingga saya tidak yakin siapa di antara kami berdua yang berkata terlebih dahulu: Orang-orang China tidak makan produk dari susu! Sulit untuk menjelaskan kepada orang yang bukan ilmuwan terjadinya dentingan pikiran dan perasaan yang mendadak ketika menyadari bahwa pikiran kita terbuka pada sesuatu hal yang penting. Rasanya seperti ada banyak potongan gambar di dalam otak kita dan tiba-tiba, dalam beberapa detik, semua teka-teki ini terangkai dengan baik sehingga membentuk gambar yang jelas. Tiba-tiba saya teringat kembali betapa banyak orang China yang tidak dapat mencernakan susu dengan baik, betapa orang-orang China yang bekerja dengan saya selalu berkata bahwa susu hanya untuk bayi, dan bagaimana salah seorang sahabat karib saya, yang keturunan China, dengan sopan selalu menolak keju pada saat jamuan malam. Saya tahu bahwa tak ada orang China yang hidup secara tradisional, yang menggunakan susu sapi atau produk dari susu untuk memberi makan kepada bayinya. Dalam adat istiadat mereka, mereka menggunakan inang untuk menyusui tetapi tidak pernah produk dari susu. Dan, secara budaya, orang-orang China menganggap gaya Barat kita yang sangat menyukai susu dan produk dari susu sebagai sesuatu yang sangat aneh. Saya teringat ketika menjamu sebuah delegasi besar ilmuwan China tidak lama setelah berakhirnya Revolusi Budaya di China pada tahun 1980-an. Atas nasihat Biro Luar Negeri, kami telah meminta kepada perusahaan jasa boga untuk menyediakan puding yang mengandung banyak es krim. Setelah menanyakan dari apa puding itu dibuat, semua ilmuwan China itu, termasuk interpreter, dengan sopan namun tegas menolak untuk memakannya, dan mereka tidak dapat dibujuk untuk mengubah pikiran mereka. Pada waktu itu kami semua senang dan menikmati porsi tambahan! Saya menemukan bahwa susu adalah salah satu penyebab umum alergi makanan. Sekitar 70% penduduk dunia tidak dapat mencernakan gula susu, Laktosa, sehingga para ahli gizi berpendapat bahwa kondisi ini normal bagi orang dewasa, dan bukan merupakan sebuah Deficiency (kekurangan). Mungkin alam berusaha mengatakan kepada kita bahwa kita telah mengkonsumsi makanan yang salah. Menghentikan Produk Susu Sebelum saya terkena kanker payudara untuk pertama kali, saya telah makan banyak produk dari susu, seperti susu tanpa lemak, keju rendah lemak dan yoghurt. Saya menggunakannya sebagai sumber protein saya yang utama. Saya juga makan daging cincang sapi yang tidak berlemak, yang sekarang baru saya sadari mungkin sering berasal dari sapi perah. Agar dapat mengatasi kemoterapi untuk tonjolan kanker saya yang kelima ini, saya telah makan yoghurt organik agar alat-alat pencernaan saya dapat pulih kembali dan mengembalikan bakteri-bakteri yang baik ke dalam usus saya. Baru-baru ini, saya menemukan bahwa pada tahun 1989 yang lalu, yoghurt telah terlibat dalam kanker ovarium (indung telur). Dr. Daniel Cramer dari University of Harvard telah meneliti ratusan wanita penderita kanker indung telur dan telah mencatat dengan rinci apa yang biasa mereka makan. Coba saya tahu tentang hal ini ketika ia pertama kali menemukannya. Mengikuti nasihat Peter dan pendapat saya tentang makanan China, saya memutuskan untuk tidak saja menghentikan yoghurt tetapi semua produk dari susu, saat ini juga. Keju, mentega dan yoghurt serta semua makanan yang mengandung susu saya buang ke sampah. Betapa mengherankan bahwa begitu banyak produk termasuk sup buatan, biskuit dan kue mengandung susu. Bahkan banyak merk margarin yang dijual dengan bahan dari minyak kedelai, minyak bunga matahari atau minyak zaitun dapat mengandung produk susu. Oleh karena itu saya kemudian membaca semua kandungan yang tercetak di label-label makanan. Sampai saat itu, saya setia mengukur perkembangan tonjolan kanker saya yang kelima ini dengan alat pengukur dan mencatat hasilnya. Meskipun para dokter dan suster banyak memberi semangat dan berkata positif kepada saya, pengamatan saya sendiri mengungkapkan kenyataan yang pahit. Seri kemoterapi saya yang pertama untuk tonjolan kelima ini tidak berhasil tonjolan itu tetap sama. Kemudian saya menghapuskan produk-produk dari susu. Beberapa hari kemudian tonjolan itu mulai mengecil. Sekitar dua minggu setelah seri kemoterapi saya yang kedua dan seminggu setelah tidak mengkonsumsi produk dari susu, tonjolan di leher saya mulai terasa gatal. Kemudian tonjolan itu melunak dan mengecil. Garis di alat pengukur, yang tadinya tidak menunjukkan perubahan, sekarang menunjuk ke bawah setelah tumor itu menjadi kecil dan mengecil lagi. Dan secara signifikan, saya mencatat bahwa daripada menurun secara perlahan-lahan (membentuk curve yang halus) seperti biasanya terjadi pada kanker, tumor yang mengecil ini digambarkan seperti garis lurus yang menuju ke bagian bawah alat pengukur, yang menggambarkan penyembuhan, bukan pembasmian (atau pengurangan) tumor. Tonjolan Menghilang Pada hari Sabtu siang sekitar enam minggu setelah tidak mengkonsumsi produk-produk susu ini, saya melakukan meditasi selama sejam kemudian meraba apa yang yang masih tersisa dari tonjolan saya. Saya tidak menemukannya lagi. Padahal saya sangat berpengalaman dalam mendeteksi tonjolan kanker, karena saya menemukan kelima tonjolan kanker saja itu sendiri. Saya turun ke tingkat bawah rumah dan meminta suami saya meraba leher saya. Ia pun tidak menemukan tonjolan apapun juga. Hari Kamis berikutnya saya harus memeriksakan diri saya pada dokter spesialis kanker saya di Cross Hospital London. Ia memeriksa saya dengan teliti, terutama leher saya di mana sebelumnya ada tumor. Tadinya ia tercengang dan kemudian gembira ketika berkata, Saya tidak menemukannya. Ternyata tidak seorangpun dari dokter-dokter saya yang memperkirakan bahwa seseorang dengan jenis dan stadium kanker saya (yang jelas-jelas sudah menyebar ke sistem getah bening) dapat bertahan hidup, apalagi begitu sehat dan gembira. Dokter spesialis saya merasa sangat bahagia seperti saya. Tadinya ketika saya membicarakan gagasan saya dengannya, ia dapat memahami tetapi bersikap skeptis. Tetapi saya tahu bahwa sekarang ia menggunakan peta yang menunjukkan persentase kanker di China di dalam kuliah-kuliah yang diberikannya, dan menganjurkan makanan tanpa produk susu bagi pasien-pasien penderita kanker. Saya sekarang meyakini adanya kesamaan dalam pertalian antara produk dari susu dan kanker payudara dengan merokok dan kanker paru-paru. Saya percaya bahwa dengan mengidentifikasi pertalian antara kanker payudara dan produk susu dan kemudian mengembangkan makanan yang khusus ditujukan untuk mempertahankan kesehatan dari payudara dan sistem hormon saya, telah menyembuhkan saya. Sangat sulit bagi saya, dan mungkin juga bagi anda, untuk menerima bahwa sebuah zat yang begitu alami seperti susu dapat berdampak begitu mencelakakan bagi kesehatan. Tetapi saya merupakan bukti hidup bahwa hal itu benar-benar terjadi dan mulai besok saya akan mengungkapkan rahasia kegiatan saya yang mengubah semuanya ini. Dikutip dari buku: Your Life in Your Hands (Prof. Jane Plant, Ph.D, CBE.) Marilah kita bagikan informasi penting ini kepada semua keluarga, sahabat & kerabat yg kita kasihi. Tetap sehat, tetap semangat, agar makin bisa jadi berkat! Tuhan Yesus memberkati.
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu? Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax. Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37. Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutur kata & perbuatan kita secara pribadi. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Mat 12:33b. Tutur kata & perbuatan kita merupakan salah satu produk buah yang kita hasilkan, yang paling nyata, yang bisa dilihat & dinilai orang. Baik-buruknya diri kita, seberapa mahal & berharga nya diri kita bukan dinilai dari seberapa mahal barang yang kita pakai, tapi dari apa yang kita hasilkan. Dari buah yang kamu hasilkan, kamu akan dikenal mereka. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Mat 7:16-17. Apapun yang kita share (lisan maupun tulisan - via sosmed), terutama yang bukan bersumber dari diri kita pribadi (dari internet/opini pribadi orang lain), ketika kita sudah memutuskan untuk men-share hal tersebut, artinya kita MENYETUJUI & MENGAMINI apapun kata (lisan/tulisan) yang kita share tersebut. Ketika kita akan membeli sebuah produk properti/gadget/dll., seberapapun budget nya, tentu kita tidak akan asal beli (kecuali budget tak terbatas, tanpa pikir panjang otomatis kita akan pilih yang PALING MAHAL - dengan pertimbangan bahwa yang paling mahal adalah yang terbaik kualitasnya). Kita cari tau produsen nya siapa, spesifikasi nya bagaimana, dll. Sebisa mungkin kita akan pilih yang BEST OF THE BEST. Benar kan? Padahal secara prinsip dasar, manusia tentu ingin selalu dipandang baik di mata manusia lainnya. Tapi soal informasi yang kita share, seringkali kita ASAL. Baca judul menarik, langsung share tanpa baca dulu isinya benar/tidak, tanpa cari tau sumber nya dari mana, sumber nya kredibel atau tidak. Apa jadinya kalau seorang pemimpin men-share berita hoax? Berita yang tidak teruji kebenarannya, berita yang abu-abu, apalagi berita yang jelas ngawur & tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bukan hanya akan menjatuhkan harga diri kita sebagai pemimpin, tapi itu artinya juga kita menganggap rendah orang-orang yang kita share info/berita hoax tersebut. Berita hoax = SAMPAH, tidak berguna & justru cenderung menyesatkan, bukannya kedamaian tapi menimbulkan keresahan. Kalau berita-berita seperti itu yang kita share, artinya kita menganggap OTAK mereka = TONG SAMPAH? Karena apapun informasi yang kita terima (dengar/baca) tentu akan melewati otak kita, baik itu hanya lewat begitu saja maupun tersimpan dalam memori otak kita, benar kan? Ada yang berdalih, `menurutku konten nya bagus & bermanfaat, jadi ya aku share aja, mengenai kebenaran konten nya ya aku kurang tau ya`. Alasan seperti itu kurang bertanggung jawab. Apapun yang kita perbuat harus bisa kita pertanggungjawabkan. Kalau memang tidak yakin kebenarannya, lebih baik tidak usah share, daripada menyesatkan. Topik berita yang banyak dimanfaatkan sebagai berita hoax, antara lain berita politik, ekonomi, dan kesehatan. So, lebih selektiflah, terutama untuk topik-topik tersebut. Terutama Anda, seorang pemimpin, siapapun Anda. Gembala, rohaniwan, penatua, diaken, pengerja, pemimpin komcil, guru sekolah minggu, kepala pemerintahan (ketua RT/RW/dst.). Ataupun Anda yang hanya seorang jemaat Kristen biasa, Anda juga adalah seorang pemimpin dimanapun Anda berada (di keluarga/tempat kerja/masyarakat/dll). Ya, sadar/tidak, secara umum (kecuali secara politik), banyak orang Kristen yang `di-tua-kan` (diantara sesama kalangan masyarakat biasa), dianggap punya nilai lebih dibanding orang lain. Seorang pemimpin, mau tidak mau, tentu dianggap lebih dewasa, lebih rohani, dll. Jadi, apapun yang di share oleh Anda, seorang pemimpin, tentu akan dipercayai, dianggap benar, & akan ditelan mentah-mentah (tanpa kroscek kebenarannya dll) oleh siapapun orang yang menerima broadcast share Anda. So, untuk Anda yang setuju dengan artikel ini, sebelum broadcast/share sesuatu hal, baik secara lisan maupun tulisan, pastikan kebenarannya. 1) Tidak perlu share info/berita yang tidak jelas sumbernya. 2) Cek kebenaran sumber & isi beritanya, bila perlu cek di google, bandingkan dengan media kredibel lainnya. 3) Pilih media yang sudah dipercaya, berimbang & sudah terbukti bertahun-tahun kompeten di bidang nya. Berikut media online yang direkomendasikan (urutan tidak mempengaruhi). 01) viva.co.id 02) tempo.co 03) detik.com 04) femina.co.id 05) kompas.com 06) okezone.com 07) merdeka.com 08) liputan6.com 09) jawapos.com 10) republika.co.id 11) tribunnews.com 12) metrotvnews.com 13) sp.beritasatu.com 14) cnnindonesia.com 15) mediaindonesia.com Pastikan alamat web sesuai dengan penulisan diatas, bukan alamat yang diplesetkan. Kalau memang kita belum bisa memberitakan Injil dimanapun Tuhan tempatkan, jangan sampai justru kita menjadi pembawa/penyebar berita hoax. Yuk, sama seperti Tuhan Yesus, Sang Pembawa Kabar Baik, sudah seharusnya kita sebagai pengikutnya juga mewartakan kabar baik, mewartakan kebenaran, yang mendatangkan damai sejahtera. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera. Yes 32:17a.
BARCODE BBM CHANNELS
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
21 Januari 2018
Kebaktian I - Pk.06:00 WIB
Pdt. Goenawan Susanto
Kebaktian II - Pk.09:00 WIB
Pnt. Andreas Haryanto
Kebaktian III - Pk.17:00 WIB
Pdt. Goenawan Susanto
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang