NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Permohonan Doa
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  CEO Twin Tulipware: Tahan Banting & Mental Baja
CEO Twin Tulipware: Tahan Banting & Mental Baja
CEO Twin Tulipware: Tahan Banting & Mental Baja
Paulus Mulyadi
Buat para ibu-ibu rumah tangga, yang memiliki passion dengan bisnis direct selling, pasti sudah tidak asing dengan brand alat rumah tangga, khususnya alat penyimpanan makanan dan minuman dengan kualitas tinggi, anti bakteri, dan BPA-Free yang bernama Twin Tulipware.

Ternyata dibalik brand besar dari Twin Tulipware, ada kesaksian indah, mengenai perjuangan kesuksesan dari sang CEO, Bapak Paulus Mulyadi. Kita baca kesaksian beliau.

Kehidupan Paulus Mulyadi yang kini menjadi pengusaha sukses ternyata diawali oleh masa kecil yang begitu sulit. Bahkan hanya untuk makan siang saja, Paulus kecil harus rela menjual perabotan rumah seperti seprei, yang hasil penjualannya nanti akan digunakan untuk membeli makanan seperti tempe dan tahu di pinggir jalan.

Kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya membuat Paulus kecil harus rela membantu sang orang tua untuk berjualan. Timbul rasa malu juga rasa iri terhadap teman-temannya yang dapat bermain, sementara dirinya di usia yang relatif muda harus keliling berjualan. Untuk mendapatkan uang jajan, Paulus kecil mendapatkannya dari hasil ...selengkapnya »
Tak seorang pun suka bila orang membicarakan hal-hal negatif mengenai dirinya. Tapi inilah kenyataan dunia yang kita hadapi. Di manapun kita berada, akan selalu menghadapi kemungkinan-kemungkinan itu. Akan ada orang-orang yang tidak puas dengan kebijakan yang kita buat di kantor. Akan ada teman yang iri dengan keberhasilan kita, lalu mencari-cari keburukan kita di belakang. Mungkin ada anggota keluarga yang selalu mengatakan hal-hal negatif mengenai diri Anda. Setan melontarkan jebakan-jebakannya untuk membidik Anda. Dia mencoba menciptakan situasi kepahitan, emosional, dan membuat Anda melupakan janji-janji Allah. Tak mudah memang. Dalam keadaan seperti itu, kita akan mudah terpancing emosi, bereaksi dan berdosa dengan lidah kita. Bagaimana seharusnya respon kita sebagai anak Allah? Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku. Mazmur 39:1. Daud tahu persis ketika menyanyikan Mazmur ini. Dosa terjadi ketika mulut kita bercabang dua. Maka Daud mengendalikan lidahnya. Ia mengendalikan emosinya ketika berhadapan dengan orang fasik. Orang-orang yang hendak menjatuhkannya. Ayat ini berbicara mengenai integritas. Dalam kehidupan masa kini, mungkin `orang fasik` yang Anda hadapi adalah rival, musuh, atau teman yang diam-diam bergunjing mengenai Anda. Bisa jadi dia adalah atasan Anda yang tidak menyenangkan. Atau mungkin, keluarga Anda yang melontarkan kata-kata negatif, yang tidak mendukung Anda. Mengendalikan lidah seperti yang Daud lakukan, bisa kita praktekkan dalam kehidupan kita hari ini. Kita tidak membicarakan orang di belakang alias bergunjing. Tidak membalas orang-orang yang melemparkan perkataan negatif. Kita tidak bereaksi dengan emosi atas perlakuan yang tidak adil terhadap kita. Bagaimana respon kita? Kita mengendalikan emosi berdasarkan firman. Kita mempraktekkan kasih dengan mendoakan dan memberkati mereka. Kita tidak meladeni emosi kita. Bila kita sungguh-sungguh anak Allah, maka kita tahu, tak mungkin dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Seperti halnya sumber air memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama (Yakobus 3: 9-11). Ketika Anda mempraktekkan ini di rumah dan di lingkungan kerja, Anda menjadi garam dan terang. Teach your tongue to say the right thing.
"Orang Kristen identik dengan memberi", katanya... Banyak orang yang mengatakannya, terutama orang kristen sendiri yang mengungkapkan hal tersebut, khususnya para pendeta atau hamba Tuhan. Sehingga saat ada orang yang memberi, sang penerima akan bertanya, "Kristen ya?" Tidak bisa kita telan mentah-mentah statement tersebut. Itu barulah sebuah statement, belum jadi sebuah final statement atau conclusion kalau statement tersebut belum kita uji. Ya! Kalau saat-saat musim Natal, Paskah, ada orang yang bagi-bagi sembako atau bingkisan di pinggir-pinggir jalan atau di panti-panti asuhan dan lain-lain, tentu sebenarnya tidak usah ditanya juga sudah pasti jelas jawabannya, tapi mungkin untuk lebih meyakinkan, sang penerima akan bertanya "Kristen ya?", mungkin... Namun bagaimana kalau ada orang yang bagi-bagi sembako atau bingkisan di pinggir-pinggir jalan atau di panti-panti asuhan dan lain-lain di saat-saat bukan momen Natal atau Paskah, saat hari-hari biasa, atau bahkan saat bulan puasa atau saat hari raya agama tertentu? Apakah mungkin sang penerima akan tetap bertanya, "Kristen ya?". Mereka otomatis akan mengira, kalau musim Natal / Paskah, ya pasti orang Kristen yang lagi bagi-bagi. Kalau bulan puasa ada yang bagi-bagi takjil atau makanan pembuka atau saat hari raya Idul Fitri / Idul Adha, ya pasti orang Islam yang lagi bagi-bagi. Kalau pas hari raya Waisak, tentunya orang Budha yang sedang berbagi. Kalau begitu ceritanya, sama aja dong kita dengan mereka? Sama-sama memberi secara musiman. Lalu apa bedanya dong kita dengan mereka? Padahal dengan jelas Alkitab mengatakan, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini", Roma 12:2a, dan "Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.", Matius 5:20. Kristen ya? Kok tidak ada bedanya dengan agama lain? Think about it!
`Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.` Markus 1:35 Dahulu ketika saya masih tinggal di kota kelahiran saya, terkadang saya bersama teman-teman pergi ke sebuah kota wisata di sana yang berjarak kurang lebih satu setengah jam perjalanan di hari Minggu. Ada sebuah bukit kecil penuh rumput di sana yang selalu ramai pengunjung. Ada banyak kelompok di sana yang selalu menarik perhatian saya. Mereka menggelar tikar, membawa bekal, dan terlihat gembira berkumpul bersama baik dengan keluarga maupun dengan teman-teman. Ditemani gitar, mereka ramai-ramai memuji Tuhan. Ada pula yang bergantian membaca Alkitab dan membahasnya. Pada waktu itu saya heran mengapa mereka harus jauh-jauh pergi ke sana hanya untuk bernyanyi dan membahas Alkitab? Tidakkah itu bisa mereka lakukan di rumah atau di gereja saja? Hari ini saya mengerti mengapa mereka melakukannya. Lepas dari rutinitas, mencari tempat dengan suasana santai dan udara sejuk, disana mereka bersama-sama memuji Tuhan. Alangkah indahnya. Setiap tahunnya orang butuh cuti agar bisa kembali segar setelah jenuh bekerja sepanjang tahun. Rutinitas dalam pekerjaan bisa menurunkan produktifitas, dan untuk itulah liburan atau setidaknya cuti diperlukan bagi orang yang bekerja. Sebuah rutinitas yang terpola dan dilakukan dengan cara yang sama terus menerus bisa membuat kita merasa bosan dan tidak lagi bersemangat dalam melakukannya. Dalam dunia pekerjaan demikian, rutinitas dalam berbagai aspek kehidupan bisa seperti itu, dalam berdoa pun kita bisa mengalami hal yang sama. Bangun pagi dan bersaat teduh, sebelum mulai mengerjakan aktivitas sehari-hari rutin dilakukan banyak orang percaya yang mengerti pentingnya meluangkan waktu secara khusus untuk bersekutu dengan Tuhan. Kerinduan dan kasih kepada Allah akan selalu membuat saat teduh ini begitu dinikmati. Namun ketika kita terus rutin mengerjakannya setiap hari, terkadang kita bisa terjebak pada sebuah pola rutinitas, yang bisa membuat kita mulai merasa jenuh dan mengalami stagnasi dalam pertumbuhan iman. Bukan bersaat teduh yang salah, karena itu merupakan sesuatu yang sangat baik untuk dilakukan, namun sifat manusia yang akan merasa jenuh ketika melakukan sesuatu secara rutin dan terpola bisa membuat kita mulai kehilangan sesuatu ketika kita mengambil waktu untuk berdoa. Lama-kelamaan berdoa bukan lagi didasari oleh kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi namun menjadi sebuah kebiasaan semata yang harus dilakukan dalam waktu yang sama. Karena itulah terkadang kita butuh saat-saat dimana kita perlu membuat variasi dalam bersekutu dengan Tuhan. Menarik melihat Yesus beberapa kali terlihat memilih untuk menyepi ketika hendak berdoa. Ayat bacaan hari ini misalnya menggambarkan hal itu. `Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.` (Markus 1:35). Atau dalam kesempatan lain di malam hari: `Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.` (Matius 14:23). Yesus mengetahui betapa pentingnya untuk menikmati waktu-waktu bersekutu dengan Bapa tanpa harus terganggu oleh hiruk pikuk atau hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi. Bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya akan maksimal kita rasakan apabila konsentrasi kita tidak terpecah-pecah dengan apapun yang ada disekitar kita. Kebosanan akibat rutinitas, ini pun merupakan sebuah gangguan yang bisa membuat kita tidak maksimal menikmati kebersamaan dengan Tuhan. Yang penting adalah kita bisa menemukan tempat atau situasi dimana kita bisa berdoa dengan tenang tanpa gangguan apapun. Bersama Tuhan kita akan memperoleh kekuatan dan sukacita berlimpah yang akan mampu membuat kita lebih kuat dalam menjalani hari-hari yang melelahkan. `Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.` (Mazmur 16:11). Oleh karenanya kita harus bisa memaksimalkan waktu dimana kita bisa bersekutu secara pribadi dengan Tuhan. Yesus pun menggambarkan hal ini ketika mengajarkan bagaimana cara berdoa yang baik. `Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.` (Matius 6:6). Ini pelajaran bagi kita untuk mencari sebuah tempat dan situasi dimana kita bisa konsentrasi penuh dalam berdoa tanpa harus terganggu oleh kegiatan yang berjalan di sekitar kita. Mungkin bukan hiruk pikuk sekeliling yang mengganggu kita hari ini, namun rutinitaslah yang mulai membuat kita merasa bosan. Kita tahu bahwa berdoa dan memuji Tuhan, bersaat teduh itu penting, namun kebosanan ternyata menghambat konsentrasi kita. Ini bisa terjadi pada kita. Jika itu terjadi, itulah saatnya bagi kita untuk mencari terobosan atau variasi dalam meluangkan waktu bersama Tuhan, salah satunya seperti apa yang dilakukan oleh kelompok keluarga atau teman yang pergi ke atas bukit seperti yang saya ceritakan di awal. Keluar dari rutinitas akan membuat kita kembali segar. When situation gets dry, we need to break the routine. Kapan terakhir kali anda membaca Alkitab bersama keluarga dan teman-teman di padang rumput? Atau sambil menikmati gemericik air menyegarkan kaki? Duduk di bawah pepohonan rindang dengan angin sepoi-sepoi, ditemani sebuah gitar dan bekal yang dibawa dari rumah, lalu bersama-sama memuji Tuhan disana? Atau mungkin duduk di depan rumah, menikmati terbitnya matahari dan kicauan burung sambil merenungkan firman Tuhan? Ini semua bisa membuat kita keluar dari rutinitas yang bisa membuat jenuh, dan membawa kita kembali menikmati keindahan saat-saat bersama Tuhan dengan maksimal. Tinggalkan sejenak semua masalah pekerjaan, masalah hidup dan hal-hal yang mengganggu pikiran kita dan nikmati waktu bersama Tuhan dalam hadiratNya secara khusus. Setelah itu, libatkanlah Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan, karena Dia selalu ada beserta kita. Hindari kekeringan rohani yang bisa terjadi akibat kejenuhan dalam rutinitas yang tanpa sadar bisa membuat doa-doa kita hanyalah berupa unsur kebiasaan saja. Sehari cuma 24 jam, tidak banyak waktu yang bisa kita pakai untuk secara khusus berdialog dengan Tuhan dan mendengar suara-Nya. Oleh sebab itu, manfaatkanlah waktu yang ada itu semaksimal mungkin agar bisa mengalami kehidupan penuh sukacita melimpah yang maksimal pula. Keluarlah dari rutinitas ketika anda mulai mengalami kekeringan rohani.
Manusia cenderung menyukai hal-hal yang rutin. Rutinitas bisa menjadikan hidup kita nyaman karena semuanya dapat diprediksi, dapat diduga, tidak ada kejutan-kejutan. Rutinitas dan repetisi penting untuk mencapai suatu kualitas yang konsisten. Kita memerlukan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, contohnya rutinitas pelayanan penerbangan dan pelayanan rumah sakit. Bayangkan bila jadwal penerbangan berubah setiap hari atau jam pelayanan rumah sakit tidak rutin. Namun, jangan jadikan kehidupan kita suatu rutinitas. Pada saat Tuhan mengulurkan undangan kepada kita untuk masuk ke hal-hal baru, lepaskanlah hal-hal yang lama dan rangkul yang baru. `Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.` Yesaya 43:18-19. Memang tidak nyaman untuk berubah saat kita sudah terbiasa dengan suatu hal, atau sudah terbiasa melakukan dengan cara tertentu. Tetapi dalam perjalanan menuju kebesaran yang telah Tuhan sediakan, kita mutlak harus berubah. Kenali lima hal yang menghambat perubahan sehingga Anda bisa mengatasinya dan tetap berjalan memasuki destinasi Tuhan bagi Anda. 1. Fear of The Unknown - takut akan hal-hal yang tidak diketahui Perubahan menuntut kita untuk masuk ke tempat-tempat yang baru di mana kita berada di posisi tidak nyaman karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Banyak orang menjadi tidak bergairah ketika berhadapan dengan sesuatu yang tidak mereka pahami atau kuasai. Perubahan menuntut kita untuk masuk ke tempat-tempat yang baru di mana kita berada di posisi tidak nyaman karena kita tidak tahu dengan pasti apa yang akan terjadi. Kita dituntut untuk meninggalkan zona kenyamanan kita di mana segala sesuatu dapat diprediksi dan beranjak menuju ke tempat yang lebih dalam di mana kita harus berfungsi dengan cara yang baru. Hal-hal yang tidak kita ketahui bisa membuat kita takut dan ragu untuk melangkah maju. Seorang agen perubahan yang sejati rela masuk ke wilayah baru yang belum pernah terjamah sebelumnya. Tidak ada seorang pembunuh raksasa sebelumnya di Israel. Tetapi Daud tahu bahwa bangsa Israel tidak mungkin tetap tinggal dalam kondisi diintimidasi oleh bangsa Filistin. Daud mengerti bahwa dia harus keluar dari rutinitas sebagai gembala kambing domba. Daud menghadapi raksasa Goliat dan membunuhnya sehingga dalam waktu sekejap dia menjadi pahlawan nasional. Tuhan berkata kepada Abraham untuk meninggalkan negerinya dan keluarganya, yaitu segala sesuatu yang merupakan keamanan dan kenyamanannya selama ini. Abraham patuh. Dengan iman Abraham bergerak maju untuk menerima warisannya sekalipun dia belum mengerti seluruhnya. Lawan dan konfrontasi segala ketidakamanan dan rasa takut dalam hidup Anda. `Jangan biarkan ketakutan menguasai Anda sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.` 2 Timotius 1:7. 2. Fear of Risk Factor - takut terhadap faktor resiko Tidak ada perubahan tanpa resiko. Daud mengambil resiko yang sangat besar ketika dia menghadapi Goliat. Tetapi Daud tidak membiarkan ketakutan menguasainya. Ketika faktor resiko dan peluang kekalahan yang kita hadapi sangat besar, namun akhirnya kita berhasil meraih kemenangan, maka kemenangan itu akan sangat indah dan manis. Semakin besar resiko dan peluang kalah, semakin kita menghargai kemenangan kita. Mereka yang berkemenangan adalah mereka yang berani untuk mengambil resiko. 3. Forces of The Environment - kekuatan tekanan lingkungan sekitar Lingkungan tempat tinggal atau lingkungan di mana kita dibesarkan dengan segala elemen-elemennya dapat menjadi satu kekuatan yang menghambat perubahan terjadi. Anggota keluarga dan sanak saudara Anda dapat menolong Anda maju, tetapi sebaliknya mereka juga dapat menghambat kita. Karena itu Tuhan menyuruh Abraham untuk meninggalkan sanak saudaranya dan rumah bapanya. `Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ.` Ibrani 11:15. 4. Instant Success Syndrome - sindroma sukses secara instan Zaman kita hidup saat ini adalah zaman di mana orang menginginkan segala sesuatu serba instan dan cepat. Sebisa mungkin orang menghindari menunggu. Sebaliknya, mereka yang kisahnya tertulis di Alkitab, yang membuat perubahan sejarah suatu kota, bangsa atau negara; mereka harus menunggu lama untuk menerima upah ketaatan mereka, bahkan hasilnya baru terlihat sesudah kematian mereka. Abraham tidak pernah melihat penggenapan janji Tuhan kepadanya. Dia tidak pernah menginjak tanah perjanjian, apalagi mendudukinya. Keturunan Abraham yang kesekian yang kelak mengalami manifestasi janji Allah kepada Abraham. `Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini.` Ibrani:11:13 Seperti Abraham, kita harus punya alasan untuk bisa bertekun dan tabah dalam proses perubahan. Alasannya adalah karena kita melihat sesuatu di ujung penantian kita. Visi menghasilkan gairah yang membuat kita mengejar dengan strategi. Oleh karena itu sangat penting memvisualisasi dan menebarkan visi (Habakuk 2:2-3). 5. Unwillingness to Pay The Price - ketidakrelaan membayar harga Tidak ada keberhasilan yang gratis. Hasil perubahan tidak terjadi seketika itu juga pada saat kita melepaskan kenyamanan dan kemudahan kita. Seringkali hasil dari perubahan yang kita lakukan hari ini dituai dan dinikmati oleh anak cucu kita dan generasi berikutnya bahkan oleh generasi yang tidak melihat kita hidup. Saat ini orang Amerika bisa menikmati kehidupan di suatu negeri tanpa diskriminasi warna kulit, tanpa kebencian dan kepahitan. Ini adalah upah dari harga yang dibayar oleh mereka yang memperjuangkan persamaan hak seperti Dr. Martin Luther King. Dia sendiri tidak mengalami apa yang dia impikan. Namun generasi sesudahnya bisa menikmati hasil dari keberanian dan kegigihan Dr. Martin Luther King. Kesimpulannya: tidak ada kebesaran tanpa pengorbanan. Jika Anda sekarang sedang menikmati suatu ukuran kesuksesan, itu karena seseorang telah berjalan di depan Anda dan membuka serta menyiapkan jalan dengan ketekunan dan kegigihan mereka. Jika sekarang Anda sedang membayar harga tetapi belum melihat hasilnya, bersukacitalah. Anda sedang mempersiapkan jalan untuk mereka yang berada di belakang Anda. Sekarang saatnya Anda melangkah keluar dari kotak kenyamanan dan keamanan Anda. Keluar dari kebiasaan dan rutinitas lama. Mungkin jawaban dari dilema di hadapan Anda terletak di dalam kerelaan Anda untuk melakukan sesuatu yang baru secara radikal. Ketika Anda rela melepaskan yang lama, maka Tuhan akan membawa hal-hal baru ke dalam kehidupan Anda. `Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.` Ibrani 12:2
BARCODE BBM CHANNELS
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
24 Juni 2018
Kebaktian I - Pk.06:00 WIB
Pdt. Andreas Arie HS.
Kebaktian II - Pk.09:00 WIB
Pdt. Andreas Arie HS.
Kebaktian III - Pk.17:00 WIB
Pdt. Andreas Arie HS.
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang