NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Permohonan Doa
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran Pelayanan
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  Jalan Pintas: Yes or No?
Jalan Pintas: Yes or No?
Jalan Pintas: Yes or No?
Indri Gautama
Apa yang Anda lakukan jika mengetahui kelemahan atau keburukan atasan Anda? Bayangkan ini. Anda adalah calon yang disiapkan untuk menggantikan atasan Anda. Prestasi Anda gilang gemilang. Hampir seluruh karyawan di kantor lebih menyukai Anda ketimbang bos.

Parahnya, atasan tahu kalau bawahannya lebih menyukai Anda. Bos tak tinggal diam dan sering mencari-cari kesalahan untuk menjegal Anda. Lalu tiba-tiba, datanglah kesempatan itu. Anda mengetahui bos melakukan kesalahan fatal dalam suatu proyek.

Barangkali rekan sejawat Anda akan menyemangati Anda di saat-saat seperti ini. ”Ini waktunya Anda menduduki jabatan si Bos,” begitu kata mereka. Apa yang akan Anda lakukan?

Kisah ini ada dalam sejarah. Tepatnya di Perjanjian Lama, 1 Samuel 24. Saat itu Saul mengejar Daud bersama beribu-ribu pasukan untuk membunuhnya. Di tengah pengejaran itu, Saul masuk ke gua untuk buang hajat. Ia sama sekali tak tahu kalau justru Daud dan pasukannya bersembunyi di belakang gua itu.

Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: ”Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: S...selengkapnya »
Jim Caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya (sebelum The Passion of The Christ) adalah sebuah film perang yang berjudul `The Thin Red Line`. Itupun hanya salah satu peran dari begitu banyak aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu. Dalam The Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh ke arah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya. Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah..., Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda. Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, `Hallo ini, Mel`. Kata suara dari telpon tersebut. `Mel siapa?`, Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya. Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu. Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai actor di Hollywood. Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood. Sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman. Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. `Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?` Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di `The Thin Red Line`. Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini! Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banya referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda. Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlit bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam casting-casting, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran munkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar casting. Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendak-Mu. Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya. Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu dipundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis. Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya. Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya. Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya. Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang (setan tidak senang dengan adanya pembuatan film seperti ini). Dan sayapun tidak sadarkan diri. Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak `dia sadar! dia sadar!` (dalam kondisi seperti ini mustahil bagi manusia untuk bisa selamat dari hamtaman petir yang berkekuatan berjuta-juta volt kekuatan listrik, tapi perlindungan Tuhan terjadi disini). `Apa yang telah terjadi?` Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, `Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan`? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian. Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh... itu sangat luar biasa... mengagumkan... tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri. Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini. Saya harap mereka yang menonton The Passion Of The Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion of The Christ dan menjadi kecewa. Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Sejak banyak bergumul berdoa dalam film itu, berdoa menjadi kebiasaan yang tak terpisahkan dalam hidup saya. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu? Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax. Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37. Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutur kata & perbuatan kita secara pribadi. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Mat 12:33b. Tutur kata & perbuatan kita merupakan salah satu produk buah yang kita hasilkan, yang paling nyata, yang bisa dilihat & dinilai orang. Baik-buruknya diri kita, seberapa mahal & berharga nya diri kita bukan dinilai dari seberapa mahal barang yang kita pakai, tapi dari apa yang kita hasilkan. Dari buah yang kamu hasilkan, kamu akan dikenal mereka. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Mat 7:16-17. Apapun yang kita share (lisan maupun tulisan - via sosmed), terutama yang bukan bersumber dari diri kita pribadi (dari internet/opini pribadi orang lain), ketika kita sudah memutuskan untuk men-share hal tersebut, artinya kita MENYETUJUI & MENGAMINI apapun kata (lisan/tulisan) yang kita share tersebut. Ketika kita akan membeli sebuah produk properti/gadget/dll., seberapapun budget nya, tentu kita tidak akan asal beli (kecuali budget tak terbatas, tanpa pikir panjang otomatis kita akan pilih yang PALING MAHAL - dengan pertimbangan bahwa yang paling mahal adalah yang terbaik kualitasnya). Kita cari tau produsen nya siapa, spesifikasi nya bagaimana, dll. Sebisa mungkin kita akan pilih yang BEST OF THE BEST. Benar kan? Padahal secara prinsip dasar, manusia tentu ingin selalu dipandang baik di mata manusia lainnya. Tapi soal informasi yang kita share, seringkali kita ASAL. Baca judul menarik, langsung share tanpa baca dulu isinya benar/tidak, tanpa cari tau sumber nya dari mana, sumber nya kredibel atau tidak. Apa jadinya kalau seorang pemimpin men-share berita hoax? Berita yang tidak teruji kebenarannya, berita yang abu-abu, apalagi berita yang jelas ngawur & tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bukan hanya akan menjatuhkan harga diri kita sebagai pemimpin, tapi itu artinya juga kita menganggap rendah orang-orang yang kita share info/berita hoax tersebut. Berita hoax = SAMPAH, tidak berguna & justru cenderung menyesatkan, bukannya kedamaian tapi menimbulkan keresahan. Kalau berita-berita seperti itu yang kita share, artinya kita menganggap OTAK mereka = TONG SAMPAH? Karena apapun informasi yang kita terima (dengar/baca) tentu akan melewati otak kita, baik itu hanya lewat begitu saja maupun tersimpan dalam memori otak kita, benar kan? Ada yang berdalih, `menurutku konten nya bagus & bermanfaat, jadi ya aku share aja, mengenai kebenaran konten nya ya aku kurang tau ya`. Alasan seperti itu kurang bertanggung jawab. Apapun yang kita perbuat harus bisa kita pertanggungjawabkan. Kalau memang tidak yakin kebenarannya, lebih baik tidak usah share, daripada menyesatkan. Topik berita yang banyak dimanfaatkan sebagai berita hoax, antara lain berita politik, ekonomi, dan kesehatan. So, lebih selektiflah, terutama untuk topik-topik tersebut. Terutama Anda, seorang pemimpin, siapapun Anda. Gembala, rohaniwan, penatua, diaken, pengerja, pemimpin komcil, guru sekolah minggu, kepala pemerintahan (ketua RT/RW/dst.). Ataupun Anda yang hanya seorang jemaat Kristen biasa, Anda juga adalah seorang pemimpin dimanapun Anda berada (di keluarga/tempat kerja/masyarakat/dll). Ya, sadar/tidak, secara umum (kecuali secara politik), banyak orang Kristen yang `di-tua-kan` (diantara sesama kalangan masyarakat biasa), dianggap punya nilai lebih dibanding orang lain. Seorang pemimpin, mau tidak mau, tentu dianggap lebih dewasa, lebih rohani, dll. Jadi, apapun yang di share oleh Anda, seorang pemimpin, tentu akan dipercayai, dianggap benar, & akan ditelan mentah-mentah (tanpa kroscek kebenarannya dll) oleh siapapun orang yang menerima broadcast share Anda. So, untuk Anda yang setuju dengan artikel ini, sebelum broadcast/share sesuatu hal, baik secara lisan maupun tulisan, pastikan kebenarannya. 1) Tidak perlu share info/berita yang tidak jelas sumbernya. 2) Cek kebenaran sumber & isi beritanya, bila perlu cek di google, bandingkan dengan media kredibel lainnya. 3) Pilih media yang sudah dipercaya, berimbang & sudah terbukti bertahun-tahun kompeten di bidang nya. Berikut media online yang direkomendasikan (urutan tidak mempengaruhi). 01) viva.co.id 02) tempo.co 03) detik.com 04) femina.co.id 05) kompas.com 06) okezone.com 07) merdeka.com 08) liputan6.com 09) jawapos.com 10) republika.co.id 11) tribunnews.com 12) metrotvnews.com 13) sp.beritasatu.com 14) cnnindonesia.com 15) mediaindonesia.com Pastikan alamat web sesuai dengan penulisan diatas, bukan alamat yang diplesetkan. Kalau memang kita belum bisa memberitakan Injil dimanapun Tuhan tempatkan, jangan sampai justru kita menjadi pembawa/penyebar berita hoax. Yuk, sama seperti Tuhan Yesus, Sang Pembawa Kabar Baik, sudah seharusnya kita sebagai pengikutnya juga mewartakan kabar baik, mewartakan kebenaran, yang mendatangkan damai sejahtera. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera. Yes 32:17a.
`Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.` Lukas 12:34. Harta tidak melulu bicara mengenai uang, tapi bisa juga bicara mengenai nama besar kita, gengsi, ego, harga diri, hobi, dan apapun yang kita marah saat itu diusik atau diambil dari hidup kita. Pernahkah kita mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut seseorang dalam hidup kita? Mungkin itu keluarga, sahabat, atau pimpinan bahkan pejabat selevel walikota, gubernur, menteri, bahkan presiden sekalipun. Kita memepersiapkan segala sesuatunya, mulai dari hari atau jam disaat beliau akan datang, sebisa mungkin semua janji atau aktivitas kita batalkan. Halaman, rumah, dan seisinya kita bersihkan, cat ulang, bahkan kita permak total. Makanan terbaik kita sediakan. Juga baju paling baru dan bagus pun kita pakai. Semua kita persiapkan demi orang spesial tersebut. Namun apa yang ada di hati atau pikiran kita, apabila tiba-tiba orang tersebut menunda kedatangannya bahkan membatalkannya? Tentu hati kita sangat sedih dan hancur. Ya, semua orang pasti akan melakukan hal yang sama demi orang spesial tersebut. Tapi bagaimana dengan kehidupan rohani kita? Pernahkah kita mempersiapkan yang terbaik bagi Tuhan, baik itu secara pribadi maupun gerejawi? Padahal notabene, Dia selalu hadir dalam hidup kita, dan tidak pernah ingkar ataupun menunda apa yang telah dijanjikan-Nya. Pernahkah kita membatalkan janji dengan teman kita saat Tuhan berbisik ingin meminta waktu kita untuk Dia ingin bercengkrama dengan kita, mengutarakan isi hati-Nya bagi kita? Atau bahkan kita tidak peduli, jam-jam saat teduh pun kita rampas demi janji dengan orang lain, demi menyenangkan orang lain atau untuk kepuasan dan ego pribadi kita. Atau sebagai pelayan Tuhan, kita tidak peduli dengan adanya doa bersama sebelum ibadah, bahkan justru dengan santai kita datang terlambat dan tetap melayani tanpa terlebih dahulu mempersiapkan hati dan mencari wajah-Nya. Sebagai worship leader, singer, pemain musik, ataupun hamba Tuhan, mungkin kita tidak lagi pernah mencari tahu apa yang jadi kerinduan dan isi hati Tuhan untuk disampaikan melalui ibadah yang kita pimpin, namun justru kita terjebak dalam rutinitas rohani dan kita hanya mengandalkan pikiran dan kemampuan yang kita miliki. Di hadapan Tuhan kita semua adalah sama, tidak ada perbedaan senioritas, yang ada hanya perbedaan level iman. Mari kita dengan berbesar hati mengambil saat teduh sejenak dan merenungkan artikel ini. Biarkan Roh Kudus menjamah hati dan pikiran kita, mengoreksi segenap aspek hidup kita. Kalau untuk manusia saja kita bisa memberikan yang terbaik, bagaimana dengan Dia, Sang Raja Segala Raja?
`Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.` Markus 1:35 Dahulu ketika saya masih tinggal di kota kelahiran saya, terkadang saya bersama teman-teman pergi ke sebuah kota wisata di sana yang berjarak kurang lebih satu setengah jam perjalanan di hari Minggu. Ada sebuah bukit kecil penuh rumput di sana yang selalu ramai pengunjung. Ada banyak kelompok di sana yang selalu menarik perhatian saya. Mereka menggelar tikar, membawa bekal, dan terlihat gembira berkumpul bersama baik dengan keluarga maupun dengan teman-teman. Ditemani gitar, mereka ramai-ramai memuji Tuhan. Ada pula yang bergantian membaca Alkitab dan membahasnya. Pada waktu itu saya heran mengapa mereka harus jauh-jauh pergi ke sana hanya untuk bernyanyi dan membahas Alkitab? Tidakkah itu bisa mereka lakukan di rumah atau di gereja saja? Hari ini saya mengerti mengapa mereka melakukannya. Lepas dari rutinitas, mencari tempat dengan suasana santai dan udara sejuk, disana mereka bersama-sama memuji Tuhan. Alangkah indahnya. Setiap tahunnya orang butuh cuti agar bisa kembali segar setelah jenuh bekerja sepanjang tahun. Rutinitas dalam pekerjaan bisa menurunkan produktifitas, dan untuk itulah liburan atau setidaknya cuti diperlukan bagi orang yang bekerja. Sebuah rutinitas yang terpola dan dilakukan dengan cara yang sama terus menerus bisa membuat kita merasa bosan dan tidak lagi bersemangat dalam melakukannya. Dalam dunia pekerjaan demikian, rutinitas dalam berbagai aspek kehidupan bisa seperti itu, dalam berdoa pun kita bisa mengalami hal yang sama. Bangun pagi dan bersaat teduh, sebelum mulai mengerjakan aktivitas sehari-hari rutin dilakukan banyak orang percaya yang mengerti pentingnya meluangkan waktu secara khusus untuk bersekutu dengan Tuhan. Kerinduan dan kasih kepada Allah akan selalu membuat saat teduh ini begitu dinikmati. Namun ketika kita terus rutin mengerjakannya setiap hari, terkadang kita bisa terjebak pada sebuah pola rutinitas, yang bisa membuat kita mulai merasa jenuh dan mengalami stagnasi dalam pertumbuhan iman. Bukan bersaat teduh yang salah, karena itu merupakan sesuatu yang sangat baik untuk dilakukan, namun sifat manusia yang akan merasa jenuh ketika melakukan sesuatu secara rutin dan terpola bisa membuat kita mulai kehilangan sesuatu ketika kita mengambil waktu untuk berdoa. Lama-kelamaan berdoa bukan lagi didasari oleh kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan secara pribadi namun menjadi sebuah kebiasaan semata yang harus dilakukan dalam waktu yang sama. Karena itulah terkadang kita butuh saat-saat dimana kita perlu membuat variasi dalam bersekutu dengan Tuhan. Menarik melihat Yesus beberapa kali terlihat memilih untuk menyepi ketika hendak berdoa. Ayat bacaan hari ini misalnya menggambarkan hal itu. `Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.` (Markus 1:35). Atau dalam kesempatan lain di malam hari: `Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.` (Matius 14:23). Yesus mengetahui betapa pentingnya untuk menikmati waktu-waktu bersekutu dengan Bapa tanpa harus terganggu oleh hiruk pikuk atau hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi. Bersekutu dengan Tuhan, menikmati hadiratNya akan maksimal kita rasakan apabila konsentrasi kita tidak terpecah-pecah dengan apapun yang ada disekitar kita. Kebosanan akibat rutinitas, ini pun merupakan sebuah gangguan yang bisa membuat kita tidak maksimal menikmati kebersamaan dengan Tuhan. Yang penting adalah kita bisa menemukan tempat atau situasi dimana kita bisa berdoa dengan tenang tanpa gangguan apapun. Bersama Tuhan kita akan memperoleh kekuatan dan sukacita berlimpah yang akan mampu membuat kita lebih kuat dalam menjalani hari-hari yang melelahkan. `Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.` (Mazmur 16:11). Oleh karenanya kita harus bisa memaksimalkan waktu dimana kita bisa bersekutu secara pribadi dengan Tuhan. Yesus pun menggambarkan hal ini ketika mengajarkan bagaimana cara berdoa yang baik. `Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.` (Matius 6:6). Ini pelajaran bagi kita untuk mencari sebuah tempat dan situasi dimana kita bisa konsentrasi penuh dalam berdoa tanpa harus terganggu oleh kegiatan yang berjalan di sekitar kita. Mungkin bukan hiruk pikuk sekeliling yang mengganggu kita hari ini, namun rutinitaslah yang mulai membuat kita merasa bosan. Kita tahu bahwa berdoa dan memuji Tuhan, bersaat teduh itu penting, namun kebosanan ternyata menghambat konsentrasi kita. Ini bisa terjadi pada kita. Jika itu terjadi, itulah saatnya bagi kita untuk mencari terobosan atau variasi dalam meluangkan waktu bersama Tuhan, salah satunya seperti apa yang dilakukan oleh kelompok keluarga atau teman yang pergi ke atas bukit seperti yang saya ceritakan di awal. Keluar dari rutinitas akan membuat kita kembali segar. When situation gets dry, we need to break the routine. Kapan terakhir kali anda membaca Alkitab bersama keluarga dan teman-teman di padang rumput? Atau sambil menikmati gemericik air menyegarkan kaki? Duduk di bawah pepohonan rindang dengan angin sepoi-sepoi, ditemani sebuah gitar dan bekal yang dibawa dari rumah, lalu bersama-sama memuji Tuhan disana? Atau mungkin duduk di depan rumah, menikmati terbitnya matahari dan kicauan burung sambil merenungkan firman Tuhan? Ini semua bisa membuat kita keluar dari rutinitas yang bisa membuat jenuh, dan membawa kita kembali menikmati keindahan saat-saat bersama Tuhan dengan maksimal. Tinggalkan sejenak semua masalah pekerjaan, masalah hidup dan hal-hal yang mengganggu pikiran kita dan nikmati waktu bersama Tuhan dalam hadiratNya secara khusus. Setelah itu, libatkanlah Tuhan dalam segala sesuatu yang kita lakukan, karena Dia selalu ada beserta kita. Hindari kekeringan rohani yang bisa terjadi akibat kejenuhan dalam rutinitas yang tanpa sadar bisa membuat doa-doa kita hanyalah berupa unsur kebiasaan saja. Sehari cuma 24 jam, tidak banyak waktu yang bisa kita pakai untuk secara khusus berdialog dengan Tuhan dan mendengar suara-Nya. Oleh sebab itu, manfaatkanlah waktu yang ada itu semaksimal mungkin agar bisa mengalami kehidupan penuh sukacita melimpah yang maksimal pula. Keluarlah dari rutinitas ketika anda mulai mengalami kekeringan rohani.
BARCODE BBM CHANNELS
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
21 Januari 2018
Kebaktian I - Pk.06:00 WIB
Pdt. Goenawan Susanto
Kebaktian II - Pk.09:00 WIB
Pnt. Andreas Haryanto
Kebaktian III - Pk.17:00 WIB
Pdt. Goenawan Susanto
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang