NIKMATI & BAGIKAN
  Artikel & Kesaksian
  Tulis Artikel / Kesaksian Anda
  Subscribe Renungan
  Electronic Formulir
  Form Permohonan Doa
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Penyerahan Anak
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Pendaftaran Pelayanan
NEWS & EVENT
ELECTRONIC FORM
Manfaatkan fasilitas formulir online, untuk efisiensi waktu dan tenaga Anda (tanpa harus ke kantor sekretariat gereja).
GO PAPERLESS - REDUCE USING PAPER - THINK BEFORE YOU PRINT - SAVE EARTH
  Form Pendaftaran Pelayanan
  Form Bimbingan Pra Nikah
  Form Katekisasi Baptisan Air
  Form Pendaftaran SPK Pemenang
  Form Penyerahan Anak
Home  »  Media  »  Artikel & Kesaksian  »  Penghalang Perubahan
Penghalang Perubahan
Penghalang Perubahan
Indri Gautama
Manusia cenderung menyukai hal-hal yang rutin. Rutinitas bisa menjadikan hidup kita nyaman karena semuanya dapat diprediksi, dapat diduga, tidak ada kejutan-kejutan. Rutinitas dan repetisi penting untuk mencapai suatu kualitas yang konsisten. Kita memerlukan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari, contohnya rutinitas pelayanan penerbangan dan pelayanan rumah sakit. Bayangkan bila jadwal penerbangan berubah setiap hari atau jam pelayanan rumah sakit tidak rutin.

Namun, jangan jadikan kehidupan kita suatu rutinitas. Pada saat Tuhan mengulurkan undangan kepada kita untuk masuk ke hal-hal baru, lepaskanlah hal-hal yang lama dan rangkul yang baru.

`Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.` Yesaya 43:18-19.

Memang tidak nyaman untuk berubah saat kita sudah terbiasa dengan suatu hal, atau sudah terbiasa melakukan dengan cara tertentu. Tetapi dalam perjalanan menuju kebesaran yang telah Tuhan sediakan, kita mutlak harus berubah. Kenali lima hal yang menghambat perubahan sehingga Anda bis...selengkapnya »
Saya lahir di Gantung, desa Laskar Pelangi, di Belitung Timur, di dalam keluarga yang belum percaya kepada Tuhan. Beruntung sekali sejak kecil selalu dibawa ke Sekolah Minggu oleh kakek saya. Meskipun demikian, karena orang tua saya bukan seorang Kristen, ketika beranjak dewasa saya jarang ke gereja. Saya melanjutkan SMA di Jakarta dan di sana mulai kembali ke gereja karena sekolah itu merupakan sebuah sekolah Kristen. Saat saya sudah menginjak pendidikan di Perguruan Tinggi, mama yang sangat saya kasihi terserang penyakit gondok yang mengharuskan dioperasi. Saat itu saya walaupun sudah mulai pergi ke gereja, tapi masih suka bolos juga. Saya kemudian mengajak mama ke gereja untuk didoakan, dan mujizat terjadi. Mama disembuhkan oleh-Nya! Itu merupakan titik balik kerohanian saya. Tidak lama kemudian mama kembali ke Belitung, adapun saya yang sendiri di Jakarta mulai sering ke gereja mencari kebenaran akan Firman Tuhan. Suatu hari, saat kami sedang sharing di gereja pada malam Minggu, saya mendengar Firman Tuhan dari seorang penginjil yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa Yesus itu kalau bukan Tuhan pasti merupakan orang gila. Mana ada orang yang mau menjalankan sesuatu yang sudah jelas tidak mengenakan bagi dia? Yesus telah membaca nubuatan para nabi yang mengatakan bahwa Ia akan menjadi Raja, tetapi Raja yang mati di antara para penjahat untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Ia masih mau menjalankannya! Itu terdengar seperti suatu hal yang biasa-biasa saja, tetapi bagi saya merupakan sebuah jawaban untuk alasan saya mempercayai Tuhan. Saya selalu berdoa `Tuhan, saya ingin mempercayai Tuhan, tapi saya ingin sebuah alasan yang masuk akal, cuma sekedar rasa doang saya tidak mau,` dan Tuhan telah memberikan PENCERAHAN kepada saya pada hari itu. Sejak itu saya semakin sering membaca Firman Tuhan dan saya mengalami Tuhan. Setelah saya menamatkan pendidikan dan mendapat gelar Sarjana Teknik Geologi pada tahun 1989, saya pulang kampung dan menetap di Belitung. Saat itu papa sedang sakit dan saya harus mengelola perusahaannya. Saya takut perusahaan papa bangkrut, dan saya berdoa kepada Tuhan. Firman Tuhan yang pernah saya baca yang dulunya tidak saya mengerti, tiba-tiba menjadi rhema yang menguatkan dan mencerahkan, sehingga saya merasakan sebuah keintiman dengan Tuhan. Sejak itu saya kerajingan membaca Firman Tuhan. Seiring dengan itu, ada satu kerinduan di hati saya untuk menolong orang-orang yang kurang beruntung. Papa saat masih belum percaya Tuhan pernah mengatakan, `Kita enggak mampu bantu orang miskin yang begitu banyak. Kalau satu milyar kita bagikan kepada orang akhirnya akan habis juga.` Setelah sering membaca Firman Tuhan, saya mulai mengerti bahwa charity berbeda dengan justice. Charity itu seperti orang Samaria yang baik hati, ia menolong orang yang dianiaya. Sedangkan justice, kita menjamin orang di sepanjang jalan dari Yerusalem ke Yerikho tidak ada lagi yang dirampok dan dianiaya. Hal ini yang memicu saya untuk memasuki dunia politik. Pada awalnya saya juga merasa takut dan ragu-ragu mengingat saya seorang keturunan yang biasanya hanya berdagang. Tetapi setelah saya terus bergumul dengan Firman Tuhan, hampir semua Firman Tuhan yang saya baca menjadi rhema tentang justice. Termasuk di Yesaya 42 yang mengatakan Mesias membawa keadilan, yang dinyatakan di dalam sila kelima dalam Pancasila. Saya menyadari bahwa panggilan saya adalah justice. Berikutnya Tuhan bertanya, `Siapa yang mau Ku-utus?` Saya menjawab, `Tuhan, utuslah aku`. Di dalam segala kekuatiran dan ketakutan, saya menemukan jawaban Tuhan di Yesaya 41. Di situ jelas sekali dibagi menjadi 4 perikop. Di perikop yang pertama, untuk ayat 1-7, disana dikatakan Tuhan membangkitkan seorang pembebas. Di dalam Alkitab berbahasa Inggris yang saya baca (The Daily Bible - Harvest House Publishers), ayat 1-4 mengatakan `God`s providential control`, jadi ini semua berada di dalam kuasa pengaturan Tuhan, bukan lagi manusia. Pada ayat 5-10 dikatakan `Israel specially chosen`, artinya Israel telah dipilih Tuhan secara khusus. Jadi bukan saya yang memilih, tetapi Tuhan yang telah memilih saya. Pada ayat 11-16 dikatakan nothing to fear, saya yang saat itu merasa takut dan gentar begitu dikuatkan dengan ayat ini. Pada ayat 17-20 dikatakan `needs to be provided`, segala kebutuhan kita akan disediakan oleh-Nya. Perikop yang seringkali hanya dibaca sambil lalu saja, bisa menjadi rhema yang menguatkan untuk saya. Sungguh Allah kita luar biasa. Di dalam berpolitik, yang paling sulit itu adalah kita berpolitik bukan dengan merusak rakyat, tetapi dengan mengajar mereka. Maka saya tidak pernah membawa makanan, membawa beras atau uang kepada rakyat. Tetapi saya selalu mengajarkan kepada rakyat untuk memilih pemimpin: yang pertama, bersih yang bisa membuktikan hartanya dari mana. Yang kedua, yang berani membuktikan secara transparan semua anggaran yang dia kelola. Dan yang ketiga, ia harus profesional, berarti menjadi pelayan masyarakat yang bisa dihubungi oleh masyarakat dan mau mendengar aspirasi masyarakat. Saya selalu memberi nomor telepon saya kepada masyarakat, bahkan saat saya menjabat sebagai bupati di Belitung. Pernah satu hari sampai ada seribu orang lebih yang menghubungi saya, dan saya menjawab semua pertanyaan mereka satu per satu secara pribadi. Tentu saja ada staf yang membantu saya mengetik dan menjawabnya, tetapi semua jawaban langsung berasal dari saya. Pada saat saya mencalonkan diri menjadi Bupati di Belitung juga tidak mudah. Karena saya merupakan orang Tionghoa pertama yang mencalonkan diri di sana. Dan saya tidak sedikit menerima ancaman, hinaan bahkan cacian, persis dengan cerita yang ada pada Nehemia 4, saat Nehemia akan membangun tembok di atas puing-puing di tembok Yerusalem. Hari ini saya ingin melayani Tuhan dengan membangun di Indonesia, supaya 4 pilar yang ada, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya wacana saja bagi Proklamator bangsa Indonesia, tetapi benar-benar menjadi fondasi untuk membangun rumah Indonesia untuk semua suku, agama dan ras. Hari ini banyak orang terjebak melihat realita dan tidak berani membangun. Hari ini saya sudah berhasil membangun itu di Bangka Belitung. Tetapi apa yang telah saya lakukan hanya dalam lingkup yang relatif kecil. Kalau Tuhan mengijinkan, saya ingin melakukannya di dalam skala yang lebih besar. Saya berharap, suatu hari orang memilih Presiden atau Gubernur tidak lagi berdasarkan warna kulit, tetapi memilih berdasarkan karakter yang telah teruji benar-benar bersih, transparan, dan profesional. Itulah Indonesia yang telah dicita-citakan oleh Proklamator kita, yang diperjuangkan dengan pengorbanan darah dan nyawa. Tuhan memberkati Indonesia dan Tuhan memberkati Rakyat Indonesia.
Buat para ibu-ibu rumah tangga, yang memiliki passion dengan bisnis direct selling, pasti sudah tidak asing dengan brand alat rumah tangga, khususnya alat penyimpanan makanan dan minuman dengan kualitas tinggi, anti bakteri, dan BPA-Free yang bernama Twin Tulipware. Ternyata dibalik brand besar dari Twin Tulipware, ada kesaksian indah, mengenai perjuangan kesuksesan dari sang CEO, Bapak Paulus Mulyadi. Kita baca kesaksian beliau. Kehidupan Paulus Mulyadi yang kini menjadi pengusaha sukses ternyata diawali oleh masa kecil yang begitu sulit. Bahkan hanya untuk makan siang saja, Paulus kecil harus rela menjual perabotan rumah seperti seprei, yang hasil penjualannya nanti akan digunakan untuk membeli makanan seperti tempe dan tahu di pinggir jalan. Kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya membuat Paulus kecil harus rela membantu sang orang tua untuk berjualan. Timbul rasa malu juga rasa iri terhadap teman-temannya yang dapat bermain, sementara dirinya di usia yang relatif muda harus keliling berjualan. Untuk mendapatkan uang jajan, Paulus kecil mendapatkannya dari hasil penjualan kelereng yang dimenangkannya dalam permainan dengan teman-teman. Meskipun dirinya dan keluarganya pindah ke Jakarta untuk mencoba peruntungan mendapatkan perekonomian yang layak, namun kehidupan mereka tetap tidak beubah. Keluarga Paulus tinggal dirumah neneknya yang berjualan makanan. Disitu Paulus membantu usaha sang nenek dengan mencuci piring dan menghidangkan makanan. Tidak berhenti disitu Paulus juga harus berkeliling menjual kue yang dibuat oleh sang ibu ke toko-toko dan warung makanan. Depresi karena rutinitas kehidupan dan masa depannya yang dianggap suram, Paulus sempat ingin melarikan diri dari rumahnya. Namun niatnya tersebut tidak terlaksana karena seorang pendeta yang berada didekat rumahnya menahan dan memberikan pengertian agar Paulus tidak melakukan hal nekat itu. `Lalu dia (pendeta) bujuk saya, akhirnya saya masuk lagi kedalam rumah. Lalu saya diajak berdoa, dan waktu berdoa itulah saya disadarkan Tuhan, oh iya ya saya tidak boleh seperti itu. Itulah titik balik saya,` kata Paulus. Memasuki masa kuliah, Paulus pun tetap berjuang untuk berdagang, dengan keliling menawarkan panci kepada warga sekitar. Namun kegagalan demi kegagalan terus dialaminya. Namun seorang bapak menyemangatinya dan mengajak Paulus untuk ikut berdagang dengan caranya. Ketika cara sang bapak berhasil, muncullah semangat dan Paulus untuk fokus dalam dagangannya. Kegetiran hidup yang dijalani dengan penuh semangat, kerja keras, mental baja, doa dan harapan, membuat Tuhan mengangat kehidupan Paulus usaha bisnisnya yang dirintis mulai dari nol. `Tanpa saya sadar, saya jadi salesman itu dari kecil ternyata. Door to door itu jadi bagian saya dari kecil. Baru sekarang saya lihat, baru sekarang saya bersyukur pada Tuhan, kalau saya itu punya mental baja dan nggak malu, dan itu ternyata merupakan proses dalam kehidupan saya. Saya bersyukur Tuhan memproses saya sedemikian rupa, sehingga sekarang saya tahan banting,` ungkapnya. `Sampai hari ini Tuhan Yesus tidak pernah tinggalkan saya. Dan saya ada, perusahaan ini ada, karena pertolongan Tuhan Yesus. Tanpa pertolongan Tuhan Yesus saya ini tidak punya apa-apa. Gak punya lah, apa sih yang bisa dibanggakan? Gak ada yang bisa dibanggakan. Yang bisa saya banggakan adalah Tuhan Yesus dibelakang semua ini,` tutup Paulus mensyukuri karya Tuhan Yesus dalam hidupnya.
Hoax, kata yang marak kita dengar belakangan ini. Sebenarnya apa sih hoax itu? Hoax berasal dari kata `hocus` atau `hocus pocus` yang artinya `sim salabim`. Istilah `april mop`, 1 April, juga merupakan salah satu contoh hoax. Di dunia ini hanya mengenal `hitam` & `putih`, salah & benar. Warna abu-abu ada, tapi kebenaran yang abu-abu sama sekali tidak ada. Hitam-putih menunjukkan ketegasan akan keyakinan dari kebenaran yang kita pegang. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Mat 5:37. Kebenaran disini bukan berarti iman/agama/kepercayaan, tapi arti secara umum, kebenaran dari setiap apa yang kita percayai, yang terwujud dalam bentuk tutur kata & perbuatan kita secara pribadi. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal. Mat 12:33b. Tutur kata & perbuatan kita merupakan salah satu produk buah yang kita hasilkan, yang paling nyata, yang bisa dilihat & dinilai orang. Baik-buruknya diri kita, seberapa mahal & berharga nya diri kita bukan dinilai dari seberapa mahal barang yang kita pakai, tapi dari apa yang kita hasilkan. Dari buah yang kamu hasilkan, kamu akan dikenal mereka. Setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Mat 7:16-17. Apapun yang kita share (lisan maupun tulisan - via sosmed), terutama yang bukan bersumber dari diri kita pribadi (dari internet/opini pribadi orang lain), ketika kita sudah memutuskan untuk men-share hal tersebut, artinya kita MENYETUJUI & MENGAMINI apapun kata (lisan/tulisan) yang kita share tersebut. Ketika kita akan membeli sebuah produk properti/gadget/dll., seberapapun budget nya, tentu kita tidak akan asal beli (kecuali budget tak terbatas, tanpa pikir panjang otomatis kita akan pilih yang PALING MAHAL - dengan pertimbangan bahwa yang paling mahal adalah yang terbaik kualitasnya). Kita cari tau produsen nya siapa, spesifikasi nya bagaimana, dll. Sebisa mungkin kita akan pilih yang BEST OF THE BEST. Benar kan? Padahal secara prinsip dasar, manusia tentu ingin selalu dipandang baik di mata manusia lainnya. Tapi soal informasi yang kita share, seringkali kita ASAL. Baca judul menarik, langsung share tanpa baca dulu isinya benar/tidak, tanpa cari tau sumber nya dari mana, sumber nya kredibel atau tidak. Apa jadinya kalau seorang pemimpin men-share berita hoax? Berita yang tidak teruji kebenarannya, berita yang abu-abu, apalagi berita yang jelas ngawur & tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bukan hanya akan menjatuhkan harga diri kita sebagai pemimpin, tapi itu artinya juga kita menganggap rendah orang-orang yang kita share info/berita hoax tersebut. Berita hoax = SAMPAH, tidak berguna & justru cenderung menyesatkan, bukannya kedamaian tapi menimbulkan keresahan. Kalau berita-berita seperti itu yang kita share, artinya kita menganggap OTAK mereka = TONG SAMPAH? Karena apapun informasi yang kita terima (dengar/baca) tentu akan melewati otak kita, baik itu hanya lewat begitu saja maupun tersimpan dalam memori otak kita, benar kan? Ada yang berdalih, `menurutku konten nya bagus & bermanfaat, jadi ya aku share aja, mengenai kebenaran konten nya ya aku kurang tau ya`. Alasan seperti itu kurang bertanggung jawab. Apapun yang kita perbuat harus bisa kita pertanggungjawabkan. Kalau memang tidak yakin kebenarannya, lebih baik tidak usah share, daripada menyesatkan. Topik berita yang banyak dimanfaatkan sebagai berita hoax, antara lain berita politik, ekonomi, dan kesehatan. So, lebih selektiflah, terutama untuk topik-topik tersebut. Terutama Anda, seorang pemimpin, siapapun Anda. Gembala, rohaniwan, penatua, diaken, pengerja, pemimpin komcil, guru sekolah minggu, kepala pemerintahan (ketua RT/RW/dst.). Ataupun Anda yang hanya seorang jemaat Kristen biasa, Anda juga adalah seorang pemimpin dimanapun Anda berada (di keluarga/tempat kerja/masyarakat/dll). Ya, sadar/tidak, secara umum (kecuali secara politik), banyak orang Kristen yang `di-tua-kan` (diantara sesama kalangan masyarakat biasa), dianggap punya nilai lebih dibanding orang lain. Seorang pemimpin, mau tidak mau, tentu dianggap lebih dewasa, lebih rohani, dll. Jadi, apapun yang di share oleh Anda, seorang pemimpin, tentu akan dipercayai, dianggap benar, & akan ditelan mentah-mentah (tanpa kroscek kebenarannya dll) oleh siapapun orang yang menerima broadcast share Anda. So, untuk Anda yang setuju dengan artikel ini, sebelum broadcast/share sesuatu hal, baik secara lisan maupun tulisan, pastikan kebenarannya. 1) Tidak perlu share info/berita yang tidak jelas sumbernya. 2) Cek kebenaran sumber & isi beritanya, bila perlu cek di google, bandingkan dengan media kredibel lainnya. 3) Pilih media yang sudah dipercaya, berimbang & sudah terbukti bertahun-tahun kompeten di bidang nya. Berikut media online yang direkomendasikan (urutan tidak mempengaruhi). 01) viva.co.id 02) tempo.co 03) detik.com 04) femina.co.id 05) kompas.com 06) okezone.com 07) merdeka.com 08) liputan6.com 09) jawapos.com 10) republika.co.id 11) tribunnews.com 12) metrotvnews.com 13) sp.beritasatu.com 14) cnnindonesia.com 15) mediaindonesia.com Pastikan alamat web sesuai dengan penulisan diatas, bukan alamat yang diplesetkan. Kalau memang kita belum bisa memberitakan Injil dimanapun Tuhan tempatkan, jangan sampai justru kita menjadi pembawa/penyebar berita hoax. Yuk, sama seperti Tuhan Yesus, Sang Pembawa Kabar Baik, sudah seharusnya kita sebagai pengikutnya juga mewartakan kabar baik, mewartakan kebenaran, yang mendatangkan damai sejahtera. Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera. Yes 32:17a.
Membobol bagasi ternyata mudah dilakukan dan sulit terdeteksi. Jika barang bagasi penumpang yang akan dibobol adalah koper, maka membobolnya dengan rasa membuka resleting menggunakan pulpen. Resleting ditusuk dan sesaat itu pula langsung terbuka tanpa perlu merusak. Selama ini banyak penumpang atau korban heran, mengapa isi kopernya hilang padahal tak ada tanda kerusakan. Cara membobolnya memang sangat rapi. Jangan khawatir. Aksi pembobolan dapat dicegah. Paling simpel adalah jangan menyimpan barang berharga di dalam koper. Bawalah barang berharga Anda ke kabin. Cara lainnya, jangan menggunakan koper beresleting. Berikut ini video, bagaimana cara isi koper dicuri serta cara mencegahnya. Semoga dapat bermanfaat dan dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Yuk kita bagikan artikel ini melalui facebook atau twitter agar banyak orang makin tau sehingga makin banyak yang terselamatkan. link youtube: klik disini
BARCODE BBM CHANNELS
ARTIKEL & KESAKSIAN
Jadwal Ibadah Minggu
22 April 2018
Kebaktian I - Pk.06:00 WIB
Pdt. Goenawan Susanto
Kebaktian II - Pk.09:00 WIB
Pdt. Goenawan Susanto
Kebaktian III - Pk.17:00 WIB
Pdt. Goenawan Susanto
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang