SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Allah Memilih Yang Kecil
Allah Memilih Yang Kecil
Minggu, 17 Desember 2017
Allah Memilih Yang Kecil
Mikha 5:1
Allah memilih yang terkecil

Mikha 5:1
Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

Yang kecil itu sering disepelekan. Tetapi seringkali Tuhan memilih dan memakai yang kecil untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar.

Menurut nubuatan nabi Mikha, Kristus sang Mesias akan dilahirkan di Betlehem. Pada zaman Yesus dilahirkan ke dunia, Betlehem adalah sebuah kota yang kecil dan tak terkenal. Namun kota itu telah dipilih Allah sebagai tempat kelahiran Kristus. Kota yang tadinya tak terkenal itu sekarang menjadi kota yang terkenal di seluruh dunia oleh karena Kristus pernah dilahirkan di sana.

Mengapa Allah tidak memilih kota yang besar, misalnya Yerusalem, ibu kota Israel pada waktu itu? Justru pilihan Allah jatuh pada Betlehem. Memang itu merupakan rahasia Allah. Tetapi yang jelas Allah itu suka memp...selengkapnya »
Peristiwanya terjadi amat sangat lama, puluhan tahun yang lalu. Waktu itu saya menghadiri perayaan Natal mahasiswa di sebuah Seminari [Sekolah Alkitab]. Hati saya terperangah, terkagum-kagum menyaksikan sajian musik genta [lonceng] mengumandangkan lagu “Kesukaan Bagi Dunia”. Jumlah genta yang dimainkan tidak begitu banyak tapi dentang genta itu bergema memenuhi kalbu saya, membawa angan-angan saya melayang ke ribuan tahun yang lalu. Para malaikat menyanyi memberitakan natal pertama kepada para gembala di tengah-tengah kesunyian malam. Entah kenapa air mata sukacita mengalir tak terbendungkan mengenang masa itu. Sampai saat ini genta natal itu masih bergema di hati di saat tangan saya memegang lilin kecil yang menyala di malam Natal. Cerita lonceng natal adalah salah satu simbol/lambang Natal. Asal-usul lonceng dijadikan simbol natal karena bunyi lonceng yang bergema melambangkan berita tentang kelahiran Juruselamat yang dibawa para malaikat. Berita tentang kelahiran Yesus Kristus adalah suatu berita yang membawa kesukaan bagi dunia. Nabi Yesaya telah menubuatkan tentang kedatangan Yesus Kristus, Sang Mesias. Gema lonceng natal memberitakan : 1. Bahwa “Allah itu Raja” [ayat 7], Yesus Kristus memang datang ke dalam dunia sebagai Raja yang memerintah secara rohani dalam kebenaran. 2. Berita ini mendatangkan penghiburan dan sukacita [ayat 9]. Yesus Kristus adalah Terang Dunia. Ketika Ia datang, kegelapan sirna karena kegelapan tidak dapat menguasainya [Yohanes 1:1-9]. 3. Berita itu adalah berita keselamatan. Sang Penebus sudah datang. Ketika umat manusia yang berdosa mau menerima-Nya oleh iman kepada-Nya, ia diselamatkan. Dari status seorang musuh Allah diubah menjadi anak-anak Allah [Yohanes 1:12]. 4. Berita itu adalah berita penyertaan Allah bagi umat-Nya. Yesus Kristus disebut Imanuel [Matius 1:23], Allah beserta kita. 5. Berita itu sekaligus tentang Yesus Kristus sebagai Hamba yang menderita [ayat 13]. Sekalipun Ia raja, Ia datang dalam kesederhanaan, bahkan kepapaan dengan palungan sebagai tempat lahir-Nya. Namun itu semua tidak mengurangi kasih Bapa bagi umat-Nya. Terima kasih Bapa buat gema lonceng Natal yang memberikan suatu sukacita besar bagi umat manusia.
Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan. Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan. Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi begini? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa [Markus 2:17]. Kristus hadir di hidup kita justru karena kita ini manusia yang rentan. Mudah jatuh dalam dosa. Mudah terjerat masalah. Mudah sakit. Mudah putus asa. Justru karena itulah kita memerlukan Yesus Kristus sang Penyelamat, Raja Damai. Dia tahu kita tak mungkin bertahan tanpa kehadiran-Nya, karena itulah Ia rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan datang kepada kita. Berbahagialah setiap manusia yang menanggapi panggilan-Nya sebab dengan demikian jiwanya akan mendapat ketenangan, ’Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’[Matius 11:28]
Pernahkah kita memperhatikan minuman bersoda ketika dibuka dan kemudian dituangkan ke sebuah gelas? Ketika sebuah botol atau kaleng minuman bersoda dibuka akan menimbulkan suara mendesis. Suara tersebut berasal dari tekanan gas karbon dioksida yang keluar dari dalam botol atau kaleng. Ada dorongan gas yang kuat keluar sehingga menimbulkan bunyi. Kemudian ketika dituang ke dalam gelas, maka akan ada busa yang mengembang dengan cepat ke atas tetapi sesaat kemudian hilang. Beberapa orang mengatakannya sebagai efek soda. Kelahiran Tuhan Yesus ke dunia menyiratkan semangat Natal itu sendiri. Dari renungan-renungan warta yang telah kita baca selama bulan Desember ini dan dari ayat nats hari ini tentang nubuatan seorang hamba Tuhan yang menderita, kita bisa mendaftarkan semangat Natal yang bisa terus kita hidupi setiap hari, dan bukan hanya sekedar ketika menyambut Natal di bulan Desember. Semangat itu antara lain: semangat kesederhanaan, semangat kepedulian kepada sesama, semangat cinta kasih dan hidup damai dengan sesama, semangat mengabdikan hidup dan kerelaan berkorban bagi Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita sebutkan. Tetapi intinya, bukan pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita daftarkan, tetapi justru pada seberapa banyak semangat Natal yang bisa kita praktikan dan hidupi. Beberapa hari yang lalu kita merayakan Natal dengan penuh antusias dan sukacita yang besar. Ibadah Christmas Eve dan Christmas Celebration dikemas dengan acara yang menggugah jiwa dan memberi gairah baru. Ada berkat rohani yang kita peroleh dari ibadah-ibadah tersebut. Tetapi lebih dari itu, harapannya adalah Natal tidak sekedar menjadi semacam ‘efek soda’ dalam kehidupan kita, yang hanya memacu dan menyemangati kita sesaat saja. Hendaknya semangat Natal terus mewarnai kehidupan kita di hari-hari selanjutnya, khususnya di tahun 2018 yang beberapa hari lagi kita masuki.
Memasuki tahun 2018 Matius 28:20b Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi. Kita percaya kepada Allah Sang Penguasa jagad raya ini, yang telah menebus dan mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya. Kita memohon perlindungan-Nya atas bangsa kita. Kita meyakini bahwa Dia mengasihi bangsa kita, dan menginginkan kebaikan bagi bangsa dan negara kita. Karena itu marilah kita tiada henti berdoa untuk bangsa dan negara kita, untuk kepemimpinan bangsa kita dan daerah kita, agar Tuhan memberikan pemimpin-pemimpin yang terbaik bagi bangsa kita dan daerah kita. Saya juga mengajak marilah kita berdoa bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di negeri kita dan bagi kemajuan gereja kita. Rencana-rencana yang sudah kita buat, akan terus kita upayakan agar terlaksana dengan baik dan goal-goal yang sudah kita tetapkan kita terus upayakan agar tercapai. Jangan ada kata menyerah. Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja berjanji menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Pada tahun 2018 ini gereja kita menetapkan tema: LAKUKAN YANG TERBAIK BAGI KESELAMATAN JIWA-JIWA. Selagi masih ada kesempatan, marilah kita mengerjakan tugas dari Tuhan Yesus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Tuhan mau memakai kita sebagai alat-Nya untuk menjangkau jiwa-jiwa. Kiranya Tuhan memberkati kita semua dan memakai kita bagi Kerajaan-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kemenangan Di Tahun Baru
03 Januari '18
Damai Dalam Badai
16 Januari '18
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang