SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Jangan jadi sandungan karena kata-kata tidak selaras dengan perbuatan.
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Antara Kata Dan Perbuatan
Antara Kata Dan Perbuatan
Kamis, 05 Oktober 2017
Antara Kata Dan Perbuatan
Matius 23:3


Setiap kali Pemilu dilaksanakan baik di pusat maupun di daerah, para calon pemimpin bersaing memberikan janji-janji dalam kampanye mereka. Janji-janji diperdebatkan lewat media TV dan rakyat menyaksikannya. Pemilu selesai, si pemenang menduduki jabatan yang diperebutkan, rakyat menunggu realisasi penggenapan janji-janji itu. Ada kata-kata diucapkan, ada perbuatan yang dinantikan. Rakyat menaruh harapan tinggi, ada kesesuaian antara kata dan perbuatan.

Yesus berkata kepada orang banyak dan murid-murid-Nya untuk menuruti dan melakukan apa yang para ahli Taurat dan orang Farisi ajarkan tapi jangan melakukan apa yang mereka perbuat. Nampaknya ada ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan mereka.

Pada kesempatan lain Yesus mengajarkan sebuah perumpamaan tentang seorang Samaria yang baik hati ketika ada yang bertanya “Siapakah yang dimaksud dengan sesama kita.” Ada seorang yang terluka dirampok di jalan antara Yerusalem dan Yerikho. Ada seorang imam dan seorang Lewi lewat di situ tapi tidak memberi pertolongan sa...selengkapnya »
Ketika kita menanam pohon buah-buahan, wo......, alangkah senangnya hati kita melihat pohon yang kita tanam berbuah lebat. Bagi seorang petani buah-buahan, hasil buah yang banyak berarti pemasukan yang banyak juga. Untuk memperoleh buah yang banyak kita harus memperhatikan dan merawat kondisi pohon yang ditanam. Dibutuhkan tanah yang baik, air yang cukup, sinar matahari, pupuk, dsb. Tanah, air, udara, sinar matahari, pupuk merupakan penunjang sumber alam yang sangat penting. Itu semua bukan ciptaan manusia tapi ciptaan Sang Pencipta alam yang Mahakuasa. Seperti juga petani buah-buahan yang mengharapkan pohon yang ditanam berbuah banyak, demikian juga Tuhan. Manusia dicipta Tuhan dan ditempatkan di bumi. Tuhan mengharapkan/menghendaki manusia berbuah banyak. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Bapa kita di sorga dipermuliakan apabila kita berbuah banyak dan kita disebut sebagai murid-murid-Nya. Dua hal utama yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, yaitu memuliakan Tuhan, Bapa kita yang kekal dan menjadi murid-Nya. Kita perlu merenungkan dalam-dalam arti Kristen. Kristen adalah pengikut Kristus, Kristen adalah murid Kristus. Begitu kita menyebut diri kita Kristen tidak cukup hanya rajin kebaktian di gereja, baca Alkitab dan berdoa setiap hari, aktif melayani pekerjaan Tuhan. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, “Apakah hidup kita sudah menghasilkan buah?”; “Apakah hidup kita sudah berbuah banyak untuk memuliakan Tuhan?“ Agar berbuah banyak, hidup ini harus menyatu, tinggal di dalam Tuhan Yesus Kristus. Di luar Dia, hidup kita tidak akan menghasilkan buah. Proses selanjutnya, kita harus selalu siap dibersihkan Tuhan. Pembersihan yang Tuhan lakukan membuat hidup kita berbuah banyak. Selamat berbuah lebat bagi Kristus.
Ada ungkapan yang mengingatkan setiap insan untuk tidak berlaku tinggi hati dengan kemampuan yang dimilikinya, yaitu “ilmu padi” dan “di atas langit masih ada langit”. Kita tahu bahwa padi semakin berisi akan semakin merunduk, demikian juga kita diharapkan semakin tinggi kemampuan kita dalam bidang apapun, kita semakin rendah hati dan jangan lupa bahwa masih ada orang lain yang lebih hebat. Kita bisa belajar dari Raja Daud, betapa dia tetap rendah hati, tetap menghormati Raja Saul yang sangat ingin membunuhnya. Saul menjadi benci dan dengki kepada Daud sejak Daud selalu berhasil dalam peperangan mengalahkan orang Filistin dan mendengar kata-kata yang menyakitkan hatinya pada acara sambutan yang begitu meriah para perempuan dari seluruh kota Israel menyongsong Raja Saul dengan tarian dan nyanyian, “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa.” Dua kali Daud tidak mau membunuh Saul walau kesempatan sudah di depan mata. Pertama, ketika Daud bersembunyi di En-Gedi. Ia hanya memotong punca jubah Saul saat Saul membuang hajat di sebuah goa [1 Samuel 24:4]. Kedua, ketika Daud di padang Zif, hanya mengambil tombak dan kendi yang ada di sebelah kepala Saul [1 Samuel 26:12.] Mengapa Daud masih sangat menghormati Raja Saul? Bukankah semakin cepat Raja Saul mati, semakin cepat pula ia naik tahta? Bagi Daud, Saul adalah raja yang diurapi Tuhan dan Daud tahu menghormati Allah yang telah mengurapi Saul. Apa yang dilakukan Daud terhadap Raja Saul adalah suatu hal yang sulit dilakukan. Jangankan nyawa yang diancam, baru kesinggung sedikit saja umumnya orang sudah tidak bisa memberi hormat dengan tulus. Daud yang sudah tahu dengan pasti bahwa dia sudah diurapi menjadi raja pengganti Saul, tetap rendah hati dan tetap menghormati Raja Saul yang begitu membencinya. Bagaimana dengan kita?
Seorang ibu dengan tubuh lemah terbaring di atas tempat tidur. Ia sudah seminggu lebih menjalani rawat inap di sebuah rumah sakit. Kondisi sakitnya bisa dibilang lumayan parah. Bahkan karena sulit bernafas, maka dokter harus memasang alat dengan membuat lubang di pangkal lehernya. Tetapi kesan sedih tidak terpancar dari wajahnya. Setiap kali sahabat, kerabat, dan kenalan datang menjenguknya, senyuman selalu terlihat mengembang di bibirnya. Ketika mengalami kesulitan berbicara, ia selalu mengangkat dan menggerakkan kedua jari telunjuknya ke atas dan kemudian mengacungkan kedua jempol tangannya seolah-olah ingin berkata, “Tuhan selalu baik.” Ia begitu tabah hati menghadapi sakitnya. Untuk tabah bukanlah perkara yang mudah. Tabah bukan sekedar sabar, tetapi jauh lebih dari itu. Ada sisi panjang sabar di dalamnya. Karena ketabahan berarti ketahanan [daya tahan] untuk bersabar dalam menghadapi penderitaan, kesukaran, pergumulan, dsb. Bisa dibilang ketabahan adalah ketekunan untuk terus menerus bersabar. Sikap itulah yang dinasihatkan oleh Paulus kepada para penumpang dan crew kapal yang ditumpanginya menuju Roma ketika mereka diombang-ambingkan oleh angin badai yang besar di tengah lautan. Berhari-hari mereka harus berjuang dan bertahan hidup mengatasi ganasnya gelombang. Tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak bisa makan dengan enak. Selalu kuatir karena nyawa yang terancam. Putus asa karena berbagai cara diusahakan untuk menyelamatkan diri tetapi tidak membawa hasil. Cukup berat situasi yang harus mereka hadapi. Fisik mereka capek, energi mereka terkuras, mental mereka kelelahan dan semakin lemah. Tentu dibutuhkan ketabahan hati untuk tetap bertahan. Ketika semua orang mengalami keputusasaan dan kehilangan harap, Paulus tetap tabah hati. Apa yang membuatkan tetap tabah? Ia tetap tabah karena percaya kepada Allah yang sanggup memelihara dan menyelamatkan dari situasi sulit yang sedang dihadapinya. Percaya kepada penyertaan dan pemeliharaan Allah-lah yang membuatnya tetap tabah; tetap bertahan dan kuat menghadapi kesukaran; tetap bertekun dalam kesabaran menanti pertolongan Tuhan. Sehingga dalam situasi sesulit dan seberat apapun, ia tetap optimis, tetap semangat, dan selalu menghadapi semuanya dengan senyuman sukacita. Pengharapannya tidak pernah pupus. Jemaat Tuhan yang terkasih, kita bisa berespon seperti ibu yang sedang menjalani perawatan dan juga seperti rasul Paulus saat menghadapi penderitaan, kesakitan, musibah, kerugian ataupun pergumulan-pergumulan berat lainnya. Dengan tetap tabah hati, maka hidup kita akan lebih terasa ringan dan lebih mudah. Oleh sebab itu Pandanglah saja kepada Yesus yang penuh cinta dan kasih setia.
Karya terbesar Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dua minggu lagi kita akan memperingati hari Natal, hari kedatangan Sang Juruselamat dunia. Kedatangan Kristus sang Mesias telah memulai sebuah zaman baru dalam sejarah dunia ini, yaitu zaman anugerah keselamatan. Kedatangan Kristus memulai sebuah karya agung penyelamatan manusia dari dosa. Untuk mewujudkan sebuah rencana yang besar pasti dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Sebagai contoh, kalau sebuah produser film ingin membuat sebuah film yang fenomenal, seperti sebuah film kolosal, pasti harus mengeluarkan modal yang besar, harus mencari sutradara yang terbaik, pemeran yang terbaik, dan produsernya pasti mau memastikan bahwa semua berjalan dengan baik. Penyelamatan manusia agar dilepaskan dari belenggu dosa adalah sebuah pekerjaan yang maha besar, paling besar di segenap alam semesta. Untuk pekerjaan yang maha besar ini, Allah rela memberikan yang terbaik dari diri-Nya, yaitu Putra Tunggal-Nya. Untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa memang membutuhkan biaya yang besar. Allah harus mengerjakan langsung pekerjaan ini. Dari hal ini kita bisa melihat betapa besarnya karya penyelamatan manusia, yaitu sebesar pengorbanan yang diberikan oleh Allah sendiri. Allah sendiri harus turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia. Kita bersyukur karena hidup kita sebagai manusia begitu berharga bagi Allah, sehingga Dia rela untuk membayar harga yang begitu mahal untuk menyelamatkan kita. Demikian juga jika kita diajak untuk terlibat di dalam pekerjaan yang begitu besar dan mulia ini, kita patut menghargainya dan mengerjakannya dengan segenap hati. Tuhan Yesus mengajak kita untuk ikut terlibat di dalam pekerjaan yang besar ini. Kalau kita sudah diselamatkan dan telah mendapat jaminan hidup yang kekal, marilah kita peduli kepada jiwa-jiwa di sekitar kita yang masih memerlukan keselamatan. Ikutlah ambil bagian dengan mendoakan mereka dan memberikan kesaksian yang baik dari hidup kita yang telah ditebus oleh darah Yesus. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
08 Desember '17
Tetaplah Rendah Hati
23 November '17
Thanksgiving Day
02 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang