SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Berikan kepada yang membutuhkan, apa yang kita miliki…
DITULIS OLEH
Ibu Rini Handoyo
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Padamu
Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Padamu
Sabtu, 26 Mei 2018
Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Padamu
Kisah Para Rasul 3:1-10

Curahan Roh Kudus dalam diri Petrus, tidak hanya membangkitkan keberanian untuk menyampaikan Firman Tuhan saja, tapi juga melembutkan hati Petrus. Terbukti ketika Petrus melihat seorang peminta-minta yang lumpuh, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Keinginan nya untuk memberi sesuatu kepada peminta-minta itu begitu kuat, meskipun dia tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada peminta-minta itu. Tapi itu tidak menyurutkan Petrus untuk tetap “memberi”, karena Petrus tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar emas dan perak, yaitu Yesus. Dan nyata, kuasa Yesus mampu memenuhi kebutuhan peminta-minta yang lumpuh itu, sehingga dia bisa sembuh dari kelumpuhannya, bisa berjalan, dan sudah tentu, itulah pemberian terbesar yang diterima oleh peminta-minta itu.

Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita juga mengalami situasi seperti itu, berjumpa dengan teman, kerabat, atau kenalan kita yang membutuhkan sesuatu. Dan seringkali pula kita berfikir, apa yang bisa saya berikan buat mereka? Mungkin kita tidak memiliki cukup harta untuk bisa membantu orang lain, tapi janganlah itu membuat kita urung untuk memberi. Seperti Petrus mengatakan “… apa yang kupunyai,kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu……...selengkapnya »
Benay dan Rabenay berdiri berdampingan bagai pinang dibelah dua. Dua bersaudara nan bersahaja itu sangat mirip, hanya terpaan usia sajalah yang membedakan wajah mereka. Malam hari itu mereka hadir dalam keramaian sebuah acara yang diadakan untuk menyambut kedatangan Benay dari Iraq. Acara ini digagas oleh anggota persekutuan wanita gereja yang berkolaborasi dengan pemuda-pemudi gereja. Benay tampak sibuk meladeni ucapan selamat dari jemaat yang hadir. Meski tampak lelah namun sukacita bersinar di wajahnya yang terus tersenyum dan sekali-kali tertawa bahagia. Tiba saatnya bagi Benay untuk memberikan kesaksiannya. Pdt. Itong yang didapuk sebagai pembawa acara dengan penuh semangat memanggil Benay. Benay pun bersaksi, “Bapak, Ibu dan Saudaraku sekalian tentu tahu bahwa saya dan Mas Rabenay ini yatim-piatu. Orangtua kami sudah lama meninggal dunia. Dan selama ini saya diasuh oleh paman saya di kota ini. Sedangkan Mas Rabenay hidup mandiri dengan bekerja di pelabuhan. Namun syukur, malam ini Tuhan menyatakan kepada kami bahwa kami tidak pernah kehilangan orangtua. Bapak dan Ibu sekalian adalah orangtua bagi kami. Dan kawan-kawan pemuda-pemudi adalah saudara-saudara kami. Kamimasih dan akan selalu mempunyai keluarga di dalam Tuhan!” Sontak seluruh jemaat yang hadir bertepuk tangan riuh. Beberapa orang tampak meneteskan air mata haru. Termasuk Mbah Wanidy yang malah menangis sesenggukan. Jemaat yang terkasih. Sama seperti yang tampak dari kisah di atas dan yang disaksikan Benay. Sesungguhnya kita pun adalah keluarga di dalam Tuhan. Sebagaimana disampaikan oleh Tuhan ketika seseorang berkata kepada-Nya bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan berusaha menemui-Nya. Rupanya, ibu dan saudara-saudara Yesus kesulitan menerobos kerumunan orang dalam jumlah besar yang sedang mendengarkan sabda-Nya. Ketika itu Tuhan menjawab sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” Bukanlah maksud Tuhan untuk tidak menghormati Maria sebagai ibu-Nya dan mengasihi saudara-saudara kandung-Nya. Namun Tuhan memperluas cakupan keluarga-Nya. Keluarga-Nya tidak hanya dibatasi oleh faktor garis darah [keturunan], tetapi ditentukan oleh faktor sikap hidup. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-saudara Tuhan dan ibu-Nya juga. Dengan demikian, kita yang mau hidup sesuai dengan kehendak Allah, kita adalah keluarganya Tuhan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Marilah kita bersukacita dalam ucapan syukur! Sebab Tuhan berkenan menjadikan kita bagian dari keluarga-Nya. Marilah kita terus mengarahkan padangan kita pada kehendak-Nya dengan tekun membaca dan mendengarkan sabda-Nya setiap hari. Dan berusahalah untuk menjalin hubungan yang penuh kasih dan saling memperhatikan antar saudara-saudara kita di dalam keluarga besar Tuhan ini. Selamat menjadi keluarga Tuhan. Terpujilah Tuhan!
Setiap mahluk hidup membutuhkan rasa aman agar sehat secara psikologis. Oleh sebab itu mereka diperlengkapi dengan kemampuan untuk melindungi diri. Contoh, keong memiliki cangkang untuk melindungi badannya yang lemah. Kura-kura memiliki tempurung yang kuat untuk menyembunyikan bagian tubuhnya. Bunglon mempunyai kemampuan ‘berkamuflase’ untuk melindungi dirinya. Manusia dengan akal budinya, mengembangkan diri dan ilmunya untuk melindungi diri. Pakaian dirancang untuk melindungi dari cuaca. Rumah dibangun untuk melindungi dari cuaca, serangan binatang buas, dan sebagainya. Intinya, setiap mahluk hidup, khususnya manusia, butuh terlindungi sehingga merasa aman. Untuk mencapai keluarga yang sehat secara psikologis membutuhkan rasa aman. Jika kita berkaca dari keluarga Yusuf dan Maria, kita bisa melihat situasi sulit yang harus dihadapi yang mengancam rasa aman keluarga tersebut. Kehamilan Maria yang di luar nalar manusia, usaha pembunuhan oleh Herodes, menyingkir ke Mesir sebagai orang asing, kembali ke tanah Israel tetapi tetap ada ancaman merupakan situasi yang bisa merenggut rasa aman keluarga mereka. Tetapi mereka sanggup menghadapi bahkan melewati ‘ancaman’ yang bisa merusak rasa aman keluarga mereka. Hal tersebut disebabkan: 1. Ketaatan Maria dan ketulusan hati Yusuf. Ketaatan dan ketulusan hati merupakan perpaduan yang sanggup meredam setiap situasi yang berpotensi menghilangkan rasa aman. Ketaatan Maria menerima sebuah situasi yang tidak mudah telah memberinya keikhlasan dan kelapangan hati untuk mengandung bayi Yesus. Ketulusan hati Yusuf menerima kondisi Maria yang telah hamil meredakan gejolak hatinya yang semula berniat memutus pertunangannya dengan Maria. Dan karena ketulusan hatinya, Yusuf bersedia menikahi, melindungi, dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada Maria dan bayi Yesus. Sikap-sikap tersebut telah membangun rasa aman dalam keluarga mereka. 2. Campur tangan Ilahi. Terciptanya rasa aman dalam keluarga mereka tidak lepas dari campur tangan Allah. Beberapa kali Allah mengutus malaikatnya untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada Maria dan Yusuf. Maria dan Yusuf mengerti rencana illahi bagi manusia berkat penjelasan malaikat. Bayi Yesus selamat dari usaha pembunuhan Herodes juga karena campur tangan Allah. Campur tangan Allah tersebut telah meredam gejolak batin Maria – Yusuf dan membawa keselamatan bayi Yesus. Setiap keluarga tentu tidak luput dari kondisi yang bisa merusak rasa aman. Perbedaan pendapat dan kebiasaan, konflik antar anggota keluarga, masalah keuangan, sakit penyakit, bisnis yang macet, dan sebagainya berpotensi merenggut rasa aman. Hadapilah semua itu dengan ketaatan dan ketulusan hati, serta selalu harapkan campur tangan Allah.
Pernahkah kita memperhatikan bahwa di hampir semua mall yang ada di seluruh Indonesia ?. Saat masuk ke konter sepatu dan sandal, hampir bisa dipastikan ada merek Yongki Komaladi di sana. Bahkan, tak jarang merek asli Indonesia ini berdampingan dengan merek-merek luar yang sudah tak asing lagi. Namun, merek ini tetap mampu “percaya diri”. Dan hasilnya, memang bukan sekadar “mejeng” di toko. Produknya laris manis. Padahal, bisa dikatakan, sang pemilik usaha yang memiliki nama sama dengan mereknya Yongki Komaladi ini, memulai semua dari nol, sekitar dua dekade lalu.Ia mengawali berbisnis sepatu nyaris tanpa rencana. Kala itu, ia bekerja di sebuah Departement Store. Atasannya mengeluhkan kurangnya stok sepatu dan ia “ditantang” untuk memenuhi. “Mengetahui latar belakang Ia yang 10 tahun jadi peragawan, Ia ditawari mendesain sepatu dan sekaligus membuatnya. Dia pikir, kenapa tidak dicoba? Toh, Ia juga senang menggambar dan mengikuti tren mode. Karena membutuhkan merek, atasannya minta agar memakai nama Yongki Komaladi saja.“Awalnya Ia tidak percaya diri, rasanya agak aneh. Nama Yongki mungkin saja masih oke. Tapi, tambah “Komaladi” Panjang sekali. Tapi ada teman yang mengatakan, kenapa tidak dicoba. Lantas, Ia kerjakan sungguh-sungguh, sembari berpromosi bahwa inilah produk Indonesia. Ia juga kerja sama dengan banyak rekannya yang orang-orang fashion,” ujarnya berkisah. Ia berhasil mendobrak dominasi produk asing karena selalu menjaga kualitas dan berani tampil beda. Dan, ada satu hal lagi yang barangkali tidak banyak orang tahu. Yakni, ia dan semua pekerjanya, saat mengerjakan sepatu dan sandal, selalu “diwajibkan” untuk mengawali dengan doa. Doa yang dipanjatkan pun tak main-main. Setiap orang yang membeli produknya, selalu didoakan agar selalu penuh berkah, dimudahkan jalannya, banyak rezeki, sehat, dan bahagia. “Doa itu, orang nggak perlu tahu, tapi biasanya kalau orang pakai itu pasti nyaman,” sebut pria yang selalu bersemangat saat menceritakan kisah hidupnya ini. “Dan, Ia memang selalu menekankan, kalau tujuan kita baik, pasti Tuhan tidak akan menutup mata.”Mungkin sedikit di luar kelaziman.Tapi, itulah sosok Yongki yang memang berani tampil beda. Dan, barangkali, itu jugalah yang menjadikan ia mampu mendobrak pasar. Ia menyebutkan: “Dengan desain yang dianggap ‘aneh’, beberapa kali UKM yang Ia ajak kerja sama malah complain. Kata mereka, karena nggak lazim, pasti nggak laku. Tapi Ia lihat, model-model yang seperti itu di Eropa banyak yang pakai. Jadi saya tetap coba aplikasikan,” Dengan dilandasi oleh doa, ia yakin produknya bisa diterima pasar. Kisah Inspiratif Yongki Komaladi] Setiap orang punya kesempatan untuk berdoa. Namun terkadang jarang meluangkan waktu untuk berdoa sebab kita menganggap kita mampu. Namun orang yang menyadari akan ketidak mampuan mereka akan berdoa dan mendoakan apa yang menjadi tujuannya hingga tercapai. Oleh karenanya jangan berhenti berharap dan berdoa meskipun kita sudah punya.
Kaum difabel [different ability] sering diidentikkan sebagai kaum disable, atau golongan yang kurang mampu terutama untuk mandiri apalagi berprestasi. Tapi faktanya, banyak di antara mereka menjadi inspirasi, bahkan beberapa menjadi inspirasi sepanjang masa. Mereka memang hanya manusia biasa, yang merasakan tekanan dan beban sangat berat. Namun, di balik segala kekurangan tersebut, mereka berjuang dan berhasil melewati batasan yang dimiliki. Mereka berhasil “mengalahkan” diri sendiri sehingga bisa menguatkan mentalitasnya menerima apa adanya diri sendiri. Dan, dengan kesadaran tersebut, mereka mampu meraih apa pun yang dicita-citakan, sehingga bisa jadi inspirasi bagi sekelilingnya. Inilah nilai yang wajib kita miliki bukan hanya bagi mereka yang tumbuh dengan kekurangan. Sebab sejatinya, kita semua punya halangan dan rintangan yang wajib ditaklukkan. Sang Pencipta memberikan ujian bukan untuk melemahkan, namun justru jadi titik tolak untuk menguatkan. Untuk itulah, mari kita belajar dari sosok dengan keterbatasan namun bisa melampaui batasannya.Bila disuruh menyebut ilmuwan paling berpengaruh di era sekarang ini, nama Stephen Hawking bisa dipastikan berada di posisi teratas. Karyanya yang dipublikasikan pada 1988—“A Brief History of Time”—merupakan salah satu karya terpenting dalam pengetahuan dan akan terus dipelajari sepanjang masa. Teori lubang hitam dari Hawking, setara dengan teori relativitas Einstein dan teori evolusi dari Darwin. Hebatnya, Hawking menciptakan karya-karya pengetahuan terpenting sepanjang sejarah peradaban di saat dirinya terkena sklerosis lateral amiotrofik [ALS]. Penyakit yang membuatnya lumpuh dan harus mengandalkan kursi roda untuk aktivitasnya tersebut,ternyata tak menghalanginya untuk terus berkarya. Meski untuk menulis ia harus dibantu voice synthesizer yang terhubung pada sebuah komputer, tapi tekadnya sangat besar untuk terus berkarya, mengatasi keterbatasannya tersebut. Pesan yang ditinggalkan Stephen Hawking adalah “Jangan menyerah dalam bekerja.” Bekerja memberikan makna dan tujuan hidup. Kehidupan kosong tanpa itu. Selalu ingat untuk memandang tinggi ke bintang, bukan melihat ke bawah. Coba untuk mencerna apa yang kamu lihat dan tentang apa yang membuat semesta ada. Manusia hidup di planet kecil, [yang mengorbit] pada sebuah bintang yang sangat biasa. Tapi kita dapat mencoba memahami alam semesta. Itulah yang membuat kita sangat istimewa. Jika kita cukup beruntung untuk menemukan cinta, ingat itu ada dan jangan membuangnya. Seberapa pun sulitnya kehidupan, selalu ada hal yang bisa kita lakukan dan sukses pada bidang tersebut. Disetiap langkah hidup kita ini Tuhan selalu punya maksud pada hidup kita masing-masing, tinggal bagaimana kita menyikapi kesempatan itu. Banyak orang menyerah dengan keadaan karena mereka tidak menyadari akan maksud dan rencana Tuhan tetapi orang yang mengerti maksud Tuhan tidak akan berhenti sebelum menemukan dan mendapatkan tujuannya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Etos Kerja
02 Juni '18
Membangun Rasa Aman
11 Juni '18
Berserah Dalam Pimpinan Tuhan
06 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang