SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Penilaian yang salah [sesat] berujung pada penghakiman yang sempit. Oleh sebab itu bijaklah dalam menilai.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Apakah Dia Benay ? [3]
Apakah Dia Benay ? [3]
Senin, 01 Januari 2018
Apakah Dia Benay ? [3]
Yohanes 7:24

Melihat Mbah Wanidy ketakutan luar biasa, Benay-tua sedikit meredupkan sorotan matanya. “Ada apa gerangan denganmu, pak tua? Mengapa engkau tampak ketakutan?” Dengan terbata-bata Mbah Wanidy coba mengatur nafas dan kata-katanya. “Kiii… kisanak…maaf…saya pikir An…anda adalah Benay….salah satu langganan warung saya. Wa..waaa..jah Anda miiii..mii..rip sekali dengannya.”Si Benay-tua pun tersenyum manis yang sesaat menyirnakan goresan keangkeran wajahnya. “O….begitu. Mbah tidak sepenuhnya salah”, ucapnya. “Lhoo…jadi Anda benar Benay?” tanya Mbah Wanidy penasaran. Benay-tua tertawa terbahak-bahak. “Bukan…bukan, saya bukan Benay! Saya kakak kandung Benay! Nama saya Rabenay.” Seketika itu juga hilanglah rasa takut Mbah Wanidy. Ia pun larut dalam gelak tawa meski harus berhati-hati agar gigi palsunya tidak copot.

“O..saya baru tahu kalau Benay punya kakak kandung. Makanya kok wajah Mas Rabenay ini mirip sekali dengan Benay”, kata Mbah Wanidy. Rabenay tertawa ringan menanggapi keceriaan Mbah Wanidy. “Maaf lho Mas.. Saya sempat menduga Mas Rabenay itu dedengkotnya preman pelabuhan. Makanya tadi saya takut sekali.” “Ha..ha..ha..saya bukan preman. Saya kuli di pelabuhan Tanjung Mas ini”, kata Rabenay menjelaskan, “Memang dulu sa...selengkapnya »
Istilah “lumpuh” berkonotasi sangat negative yaitu tidak berdaya atau tidak ada kegiatan apapun. Suatu misal ada ungkapan “karena banjir yang tidak kunjung surut maka Jakarta lumpuh total”, kata “lumpuh” mengartikan bahwa Jakarta hampir pasti tidak ada kegiatan berarti. Demikian juga dengan keadaan Si lumpuh yang diceritakan dalam Injil Lukas 5:17-26. Dalam perikop tersebut tidak menyebut nama orang yang lumpuh, orang tersebut memang benar terlihat pasif dalam cerita itu. Yang terlihat aktif adalah teman-teman yang mengusung Si lumpuh itu [5:18-20]. Mungkin saja Si lumpuh itu sebelumnya memang seorang yang telah mengalami hopeless, putus harapan, apatis masa bodoh. Kelumpuhan telah membuat semua menjadi sirna, tidak ada lagi semangat hidup. Jangan-jangan Si lumpuh itu pun tidak bersedia ketemu Yesus hanya karena bujuk rayu atau sedikit dipaksa oleh teman-temannya maka dia “ngikut sajalah, terserahlah…”.Akhirnya teman-temannyalah yang membawa kepada Yesus [ay.18]. Teman-temannya memang sangat aktif misalnya bersedia membawa Si lumpuh kepada Yesus kemudian ketika sampai kepada Yesus ternyata terhalang oleh orang banyak, teman-temanya yang mengusungnya tidak putus asa, berusaha keras bagaimana caranya supaya bisa menemui berhadapan muka dengan Yesus. Mereka memutar otak, bekerja sama, dan menemukan ide yaitu dengan membongkar atap tepat di atas posisi di mana Yesus berada dan menurunkan Si lumpuh tepat di depan Yesus. Dan “ketika Yesus melihat iman mereka” [ay.20], Yesus tidak mengatakan iman Si lumpuh, maka terjadilah mujizat kesembuhan, si lumpuh itu berdiri dan mengangkat tilamnya kemudian memuliakan Allah dan pulang [ay.24-25]. Dari kisah dalam Injil di atas, dapat di ambil pelajaran menarik bagi kita semua bahwa dua atau tiga orang [teman/sahabat] yang berkumpul sepakat bersam-sama dalam doa maka Tuhan menjawabnya. Teman atau sahabat yang punya iman mampu menolong rekannya yang sedang mengalami persoalan. Betapa pentingnya peran teman atau sahabat yang beriman bagi rekannya. Saudara sudahkah kita selalu menjadi teman/sahabat yang baik, yang menjadi berkat, dan marilah kita senantiasa bersedia menjadi teman kepada siapa pun supaya dalam pertemanan itu kita bisa memberi pelayanan yang terbaik bagi banyak orang, dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin.
Pengorbanan yang tidak sia-sia 1 Korintus 15:17 dan 20 [17] Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. [20] Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Ketika kita menyaksikan film tentang penderitaan Yesus, kita bisa membayangkan betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh Yesus. Kita merasa ngeri, walaupun hanya menyaksikan adegan di film. Apalagi kejadian yang sesungguhnya, tak terbayangkan peristiwa yang sangat mengerikan itu. Namun ada yang lebih mengerikan lagi...... Andaikan semua penderitaan yang sudah dijalani oleh Yesus itu ternyata hanya sesuatu yang percuma saja. Apa jadinya jika penderitaan yang seberat itu hanya berujung pada kematian yang mengenaskan dan ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa? Ahhh, tak bisa dibayangkan..... Tetapi puji syukur kepada Allah Bapa yang adil dan benar, yang berkuasa di bumi dan di Sorga. DIA tidak membiarkan penderitaan dan kematian Putera-Nya itu berakhir dengan sia-sia. Sesudah kematian ada kebangkitan. Akhir hidup Yesus di dunia ini tidak berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi dengan kemenangan besar yang berupa kebangkitan dari antara orang mati. Kuasa dosa dan maut ditaklukkan. Manusia yang ditawan oleh belenggu dosa dibebaskan supaya menjadi umat Allah yang merdeka. Haleluya. Pengorbanan Yesus tidak sia-sia. Penderitaan yang sedemikian berat telah terbayarkan oleh kemenangan dan jiwa-jiwa yang diselamatkan. Oleh karena itu kita mempunyai dasar iman yang kokoh dan pengharapan yang pasti akan hidup kekal yang sudah disediakan bagi yang percaya kepada Dia. Dan kita mempunyai alasan yang tak terbantahkan untuk bersaksi bahwa di dalam Kristus ada jaminan keselamatan. Saudaraku, keselamatan yang sudah kita terima oleh percaya kepada Kristus adalah hasil dari sebuah pengorbanan yang teramat besar. Oleh karena itu marilah kita menjalani hidup kita dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan dan menyaksikan kebangkitan-Nya. Selamat Paskah. Pdt. Goenawan Susanto
“ Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” Seandainya Tuhan menyampaikan kalimat itu kepada kita, kira-kira apa yang akan kita minta ya.? Tentu kita akan minta kesehatan dan umur panjang, atau berkat yang melimpah, keluarga yang diberkati dan rukun, suami/istri dan anak-anak yang cinta Tuhan, financial yang cukup, hutang-hutang lunas semua, bisnis yang lancar jaya dan masih banyak lagi daftar yang akan kita sodorkan. Itu logis dan manusiawi, karena kita memang memerlukan semua itu dalam kehidupan kita. Tapi coba kita lihat apa jawab Salomo, ketika kalimat itu disampaikan Tuhan kepadanya dalam kitab 1 Raja 3:5. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara….” [1 Raja 3:9]. Ternyata bukan umur panjang dan kekayaan yang diminta oleh Salomo, tetapi hikmat dalam menimbang perkara. Salomo tidak meminta sesuatu yang hanya berfokus kepada kehidupan pribadinya saja [ kesehatan, umur panjang, berkat, kekayaan dll ] tetapi lebih memilih permintaan yang berkwalitas, yaitu permintaan yang menambah value atau nilai dalam kepribadian nya. Hikmat, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, hati yang dipenuhi Kasih, kemurahan, adalah beberapa contoh permintaan yang berkualitas, karena bukan saja pribadi kita yang akan merasakan, tapi orang-orang disekitar kitapun akan menerima dampaknya, ketika itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Ketika Salomo meminta hikmat kepadaNya, Tuhan memberikan banyak masalah/persoalan dalam kehidupan Salomo supaya Salomo bisa mempraktek kan apa yang sudah dimintanya. Begitupun bagi kita, saat kita minta kesabaran/kerendahan hati/hati yang dipenuhi Kasih, Tuhan akan menghadapkan kita dengan berbagai masalah/persoalan, dengan maksud supaya kitapun bisa mempraktekkan apa yang sudah kita minta. Tuhan tidak hanya memberikan sebatas yang diminta Salomo, yaitu hikmat untuk menimbang perkara, tapi Dia menambahkan apa yang tidak diminta Salomo. ”... dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan sepanjang umurmu…” [1 Raja 3:13]. Karena itu tidak perlu kawatir dengan apa yang kita butuhkan, karena Dia akan menambahkan apa yang tidak kita minta, ketika kita belajar untuk mengajukan permintaan yang lebih berkualitas kepada Nya.
Setiap tanggal 1 April, sebagian orang merayakan April Mop. Di hari itu mereka diperbolehkan melakukan kebohongan, kesaksian palsu atau lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. April Mop atau April Fools’ Day tentu berbeda dengan hoaks. April Mop ditandai dengan aksi tipu-menipu dan candaan terhadap orang lain, sedangkan hoaks [pemberitaanpalsu] adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Dusta Mahkamah Agama bukanlah sejenis April Mop, tetapi adalah hoaks. Dikisahkan oleh Matius, selagi para wanita pergi memberitahukan kabar kebangkitan kepada murid-murid, para serdadu justru pergi kepada imam-imam kepala untuk melaporkan kabar yang sama yang akan membuat mereka kehilangan muka dan terancam karier mereka sebagai tentara. Mereka memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Mereka menceritakan tentang gempa bumi, turunnya malaikat, penggulingan batu besar dari pintu kubur dan keluarnya Yesus dalam keadaan hidup. Itulah arti dari “segala yang terjad itu”. Sebagai saksi mata peristiwa kebangkitan Yesus, seharusnya mereka menjadi percaya kepada Kristus dan menyesali perbuatan mereka yang telah membunuh-Nya. Tetapi mereka lebih memilih setuju memutar balikkan kebenaran dengan berita hoaks yang menyatakan bahwa jenazah Yesus telah dicuri para murid. Semua itu mereka lakukan untuk menutupi rasa malu, menyelamatkan karier, membenarkan tindakan mereka yang telah membunuh Yesus. Tidak sedikit orang yang berusaha menutupi bahkan memutarbalikkan kebenaran untuk menyelamatkan kepentingan dan diri mereka. Orang-orang seperti ini tidak akan segan-segan menggadaikan kebenaran untuk meraih apa yang mereka inginkan. Coba bayangkan, kebohongan yang dibuat oleh para imam kepala telah dianggap sesuatu yang benar oleh masyarakat Yahudi. Mereka lebih memilih mempercayai hoaks dari pada fakta kebangkitan Yesus. Para serdadu dan imam-imam kepala bukan hanya melakukan kebohongan, tetapi mereka telah merintangi orang lain untuk menemukan kebenaran dan untuk percaya kepada berita kebangkitan yang berkuasa menyelamatkan. Bukankah itu sebuah kejahatan yang besar? Itu yang sering terjadi akhir-akhir ini. Banyak orang yang dengan sengaja membuat berita bohong [hoaks] untuk membangun opini yang menguntungkan kepentingannya, meningkatkan citra dirinya [pencitraan], menjatuhkan dan menghancurkan nama baik lawannya, dsb. Sebagai orang percaya yang telah menemukan kebenaran, jangan kita melakukan hal yang sama. Jangan pernah berpikir bahwa kebohongan itu suatu kejahatan yang kecil. Itu adalah kejahatan yang besar karena tindakan itu berpotensi menghalangi orang lain menemukan kebenaran.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hidup Benar Belajar Dari Hal Kecil
06 April '18
Sudah Selesai
28 Maret '18
Pergunakanlah Waktu Yang Tersisa
24 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang