SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
“Marilah kita tetap bertahan dalam iman, tetap melayani Tuhan, dan terus maju sampai akhir walau dalam keadaan sulit sekalipun karena kita akan menerima janji-janji Allah.”
DITULIS OLEH
Pdt. Nathanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ayo Tetap Semangat
Ayo Tetap Semangat
Sabtu, 09 September 2017
Ayo Tetap Semangat
Ibrani 6:9-12

Kita tahu bahwa beberapa gereja begitu memiliki semangat dan antusiasme yang tinggi dalam menumbuhkan iman jemaatnya dengan berbagai cara atau metode yang telah ditempuhnya. Misalnya saja kita tahu ada gereja yang menekankan doa yang luar biasa untuk membangun jemaat memiliki ketekunan dan kedekatan dengan Tuhan. Sementara di gereja lain memiliki semangat yang lain lagi. Pemuridan, misalnya. Melalui penekanan pada pembentukan karakter, diharapkan jemaatnya memiliki karakter Kristus. Sungguh membanggakan jemaat yang memiliki gairah untuk bertumbuh sebab jemaat seperti ini memiliki masa depan yang baik untuk mencapai visi dan misi gereja. Pertanyaannya: ada apa dalam semangat itu? Jawabnya adalah karena dalam semangat ada kekuatan “iman dan pengharapan” untuk menerima janji Allah sekarang dan selamanya. Oleh sebab itu tidak heran apabila penulis surat Ibrani dengan tegas menegur jemaat Yahudi yang telah menerima Kristus namun mereka mengalami kemunduran, sehingga mereka tidak memiliki pengharapan yang kuat dalam Tuhan.

Sekalipun jemaat Ibrani mengalami kemunduran iman dalam Kristus [bahkan banyak yang kembali pada agama Yudaisme], tetapi menurut penulis surat Ibrani, masih ada harapan dalam Tuhan. Dengan kata lain mereka masih memiliki banyak hal yang baik yang ...selengkapnya »
Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu. Hari pertama dimulai hari Sabtu sore, Markus tampaknya menunjukkan bahwa para wanita itu selesai membeli rempah-rempah pada malam sebelumnya, dan datang ke kubur Yesus pada pagi hari sebelum ada orang lain di sana [Markus 16:1,2]. Pagi itu para perempuan melihat fakta batu penutup kubur telah terguling, bahkan mereka terkejut ketika melihat mayat Yesus sudah tidak ada. [Lukas 24:2,3]. Saat mereka termangu-mangu, tiba-tiba datang dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian berkilau-kilau. Kedua orang itu membawa kabar yang melebihi pemikiran perempuan-perempuan itu, bahwa Yesus telah bangkit dan mendahului mereka ke Galilea [Lukas 24:4-7]. Respon luar biasa perempuan-perempuan itu, mereka lari memberitakan semua itu kepada teman-temannya. Kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada hari Paskah, memberi kita sukacita karena kemenangan iman itu terbukti. Seperti para perempuan itu setelah melihat fakta kubur kosong, mereka semakian percaya apa yang dijanjikanNya, ’...Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.’ [Markus 8:31]. Yesus telah bangkit dari kematianNya!. Hebatnya, kuasa kebangkitanNya itu didahului oleh tanda-tanda yang ajaib: terjadi gempa bumi yang dahsyat dan turunnya malaikat dari langit yang wajahnya bagaikan kilat dengan pakaian putih seperti salju [Matius 28:1-3]. KuburNya yang kosong membuktikan kuasaNya sangat hebat dan dahsyat. Maka dari itu setiap orang percaya tidak perlu takut dan ragu dalam mengiring Kristus. KebangkitanNya benar-benar memberi keyakinan dan kepastian akan jaminan keselamatan kekal bagi kita. Mari, jangan sia-siakan keselamatan yang telah kita terima ini karena keselamatan kekal itu hanya ada di dalam Yesus. Sangat memprihatinkan jika ada orang percaya yang rela meninggalkan iman Kristus demi mendapatkan pasangan hidup, jabatan atau kemewahan dunia ini. Rasul Paulus mengatakan,’Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.’ [1 Korintus 15:14]. Kristus telah bangkit! Tidak seharusnya kita menjalani hidup ini dengan ketakutan dan keraguan. Sebaliknya, mari kita tatap masa depan dengan kepala tegak karena kita memiliki Tuhan yang hidup. Beritakanlah kabar kesukaan ini kepada dunia!
Secara alamiah seorang ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari bias juga kurang atau lebih. Selama hamil dia akan menderita, tidak bebas bergerak dengan perut yang membesar, sulit untuk tidur dengan normal, sering mual dan juga sering tidak mempunyai selera makan. Badan menjadi tambah berat sehingga cepat lelah. Pada waktu bersalin merasakan sakit yang tak terlukiskan. Di tengah penderitaan waktu hamil dan bersalin dia tidak pernah menyerah karena penderitaan yang dialami pasti hanya sementara. Penderitaan itu akan diganti dengan sukacita dengan lahirnya seorang bayi yang mungil dan memberi kebahagiaan bagi sang ibu dan keluarganya. Setiap makhluk di dunia termasuk orang Kristen bisa mengalami penderitaan yang datang silih berganti selama masih hidup dalam dunia. Seperti seorang ibu yang sakit waktu bersalin, anak Tuhan pantang menyerah bila penderitaan datang karena yakin bahwa penderitaan yang dialami saat ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kelak akan didapatkan. Roh Kudus akan membantu sebagai perantara berdoa kepada Allah ketika kita tidak dapat berdoa karena beratnya beban. Dalam setiap penderitaan Allah ikut bekerja untuk mendatangkan kebaikan kepada kita. Yang harus dilakukan pada waktu ada masalah adalah tetap tekun dalam iman kepada-Nya. Kita tidak kebal terhadap masalah yang datang silih berganti dan mendatangkan penderitaan. Janganlah menyerah pada penderitaan tetapi tetaplah tekun dalam beribadah, berdoa, baca, renungkan dan lakukan Firman-Nya karena hal itu adalah bagian kita. Penderitaan ada masanya dan selama dalam penderitaan Roh Kudus akan memberi kekuatan. Dan dibalik setiap masalah pasti ada rencana Tuhan yang indah bagi kita. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima.
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus [penebusan Salib Kristus] telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar dan dirinya menjadi milik Tuhan [I Korintus 6:19-20]. Berarti hidupnya tidak boleh memiliki cita-cita, keinginan untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Keinginannya haruslah bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk harga diri, gengsi, kehormatan di mata manusia. [Lukas 14:33] Dalam ayat bacaan tertulis : “…semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa [the right, hak istimewa] supaya menjadi anak-anak Allah,...” menjadi pribadi luar biasa, berkarakter serupa dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah tentunya bukan hanya sekadar status, namun benar-benar bisa berkeadaan sebagai anak Allah. Untuk mencapai keberadaan sebagai anak Allah tidaklah mudah, harus melalui proses panjang menjadi murid. Manusia diciptakan dengan . kehendak bebas di dalam dirinya, Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup atau kedaulatan manusia. Manusialah yang mengendalikan hidupnya, apakah mau mengarahkan hidupnya hanya untuk melakukan kehendak dan keinginan Tuhan atau tidak. Jadi yang sangat penting dalam hidup ini adalah, apakah kita sudah secara sadar rela dididik sebagai murid Kristus. Bapa sudah menganugerahkan fasilitas-fasilitas untuk membentuk kita bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup, mengikuti jejak-Nya [I Yohanes 2:6] Fasilitas-fasilitas tersebut berupa : 1. Karya Penebusan oleh darah Yesus yang mahal harganya [I Petrus 1:18-19]. Dengan penebusan ini kita diubah status dari pemberontak menjadi orang kudus [I Korintus 1:2a]. Inilah yang disebut sebagai pengudusan pasif, yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 2. Kebenaran Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, memiliki kemuliaan Allah, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 1:16]. Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran [I Petrus 1:22]. Kita harus sungguh-sungguh belajar Kebenaran Injil. Hal ini disebut pengudusan aktif. 3. Roh Kudus : Menuntun orang percaya kepada segala Kebenaran [Injil], menolong kita dalam proses pengudusan [Yohanes 16:13] 4. Penggarapan Bapa melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari [Roma 8:28] Berkeberadaan sebagai anak Allah [bukan sekadar status] adalah hal yang menyenangkan hati Bapa, kita harus memperkarakannya setiap hari sepanjang waktu singkat yang masih ada.
Istilah “lumpuh” berkonotasi sangat negative yaitu tidak berdaya atau tidak ada kegiatan apapun. Suatu misal ada ungkapan “karena banjir yang tidak kunjung surut maka Jakarta lumpuh total”, kata “lumpuh” mengartikan bahwa Jakarta hampir pasti tidak ada kegiatan berarti. Demikian juga dengan keadaan Si lumpuh yang diceritakan dalam Injil Lukas 5:17-26. Dalam perikop tersebut tidak menyebut nama orang yang lumpuh, orang tersebut memang benar terlihat pasif dalam cerita itu. Yang terlihat aktif adalah teman-teman yang mengusung Si lumpuh itu [5:18-20]. Mungkin saja Si lumpuh itu sebelumnya memang seorang yang telah mengalami hopeless, putus harapan, apatis masa bodoh. Kelumpuhan telah membuat semua menjadi sirna, tidak ada lagi semangat hidup. Jangan-jangan Si lumpuh itu pun tidak bersedia ketemu Yesus hanya karena bujuk rayu atau sedikit dipaksa oleh teman-temannya maka dia “ngikut sajalah, terserahlah…”.Akhirnya teman-temannyalah yang membawa kepada Yesus [ay.18]. Teman-temannya memang sangat aktif misalnya bersedia membawa Si lumpuh kepada Yesus kemudian ketika sampai kepada Yesus ternyata terhalang oleh orang banyak, teman-temanya yang mengusungnya tidak putus asa, berusaha keras bagaimana caranya supaya bisa menemui berhadapan muka dengan Yesus. Mereka memutar otak, bekerja sama, dan menemukan ide yaitu dengan membongkar atap tepat di atas posisi di mana Yesus berada dan menurunkan Si lumpuh tepat di depan Yesus. Dan “ketika Yesus melihat iman mereka” [ay.20], Yesus tidak mengatakan iman Si lumpuh, maka terjadilah mujizat kesembuhan, si lumpuh itu berdiri dan mengangkat tilamnya kemudian memuliakan Allah dan pulang [ay.24-25]. Dari kisah dalam Injil di atas, dapat di ambil pelajaran menarik bagi kita semua bahwa dua atau tiga orang [teman/sahabat] yang berkumpul sepakat bersam-sama dalam doa maka Tuhan menjawabnya. Teman atau sahabat yang punya iman mampu menolong rekannya yang sedang mengalami persoalan. Betapa pentingnya peran teman atau sahabat yang beriman bagi rekannya. Saudara sudahkah kita selalu menjadi teman/sahabat yang baik, yang menjadi berkat, dan marilah kita senantiasa bersedia menjadi teman kepada siapa pun supaya dalam pertemanan itu kita bisa memberi pelayanan yang terbaik bagi banyak orang, dan nama Tuhan dipermuliakan. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Melihat Namun Percaya
18 April '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Tetap Semangat
03 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang