SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
“Marilah kita tetap bertahan dalam iman, tetap melayani Tuhan, dan terus maju sampai akhir walau dalam keadaan sulit sekalipun karena kita akan menerima janji-janji Allah.”
DITULIS OLEH
Pdt. Natanael Rabono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ayo Tetap Semangat
Ayo Tetap Semangat
Sabtu, 09 September 2017
Ayo Tetap Semangat
Ibrani 6:9-12

Kita tahu bahwa beberapa gereja begitu memiliki semangat dan antusiasme yang tinggi dalam menumbuhkan iman jemaatnya dengan berbagai cara atau metode yang telah ditempuhnya. Misalnya saja kita tahu ada gereja yang menekankan doa yang luar biasa untuk membangun jemaat memiliki ketekunan dan kedekatan dengan Tuhan. Sementara di gereja lain memiliki semangat yang lain lagi. Pemuridan, misalnya. Melalui penekanan pada pembentukan karakter, diharapkan jemaatnya memiliki karakter Kristus. Sungguh membanggakan jemaat yang memiliki gairah untuk bertumbuh sebab jemaat seperti ini memiliki masa depan yang baik untuk mencapai visi dan misi gereja. Pertanyaannya: ada apa dalam semangat itu? Jawabnya adalah karena dalam semangat ada kekuatan “iman dan pengharapan” untuk menerima janji Allah sekarang dan selamanya. Oleh sebab itu tidak heran apabila penulis surat Ibrani dengan tegas menegur jemaat Yahudi yang telah menerima Kristus namun mereka mengalami kemunduran, sehingga mereka tidak memiliki pengharapan yang kuat dalam Tuhan.

Sekalipun jemaat Ibrani mengalami kemunduran iman dalam Kristus [bahkan banyak yang kembali pada agama Yudaisme], tetapi menurut penulis surat Ibrani, masih ada harapan dalam Tuhan. Dengan kata lain mereka masih memiliki banyak hal yang baik yang ...selengkapnya »
Dari sejak kecil saya senang memelihara anjing. Saya selalu mengajari setiap anjing saya untuk melakukan prilaku-prilaku baik. Misal: makan harus dengan duduk, tidak boleh memakan makanan yang tidak di taruh tempat makannya, dan lainya. Saya berusaha mendidiknya dengan susah payah. Bahkan saya pernah di gigitnya ketika saya mengajari makan di tempatnya. Ketika anjing itu masih kecil pernah saya ikat di tempat tidurnya, karena tidak mau tidur di tempat yang saya buat. Semua kesulitan itu membuahkan hasil. Anjing saya berkali-kali diberi makanan beracun tidak pernah berhasil. Karena Anjing saya tidak mau makan makanan yang tidak ditempatnya. Malah anjing tetangga yang mati. Peristiwa di atas mengingatkan kita. Jika hidup kita ingin mengerti kehendak dan rencana Tuhan, harus siap menerima didikan, teguran Tuhan. Didikan, teguranNya memang tidak enak, tapi memberkati kita. Masih banyak orang Kristen yang mudah sekali tersinggung dan marah ketika mendengar firman Tuhan yang keras. Lalu kita pun mogok tidak mau pergi ke gereja, atau tetap beribadah tapi kita pindah ke gereja lain. Inilah gambaran dari hati yang keras! Kita tidak mau menerima teguran! Hati yang demikian harus dibongkar dan diolah kembali, kalau tidak, meski ditaburi benih firman apa pun juga tetap saja hasilnya akan nihil, sebab firman yang mereka dengar berlalu begitu saja dan tidak tertanam di dalam hati. Yakobus memperingatkan, ’...hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.’ [Yakobus 1:22]. Karena itu milikilah hati yang mau dibentuk dan jangan terus-terusan mengeluh, bersungut-sungut dan memberontak ketika mata bajak Tuhan turun untuk mengolah hidup kita. Tertulis: ’Setiap harikah orang membajak, mencangkul dan menyisir tanahnya untuk menabur? Bukankah setelah meratakan tanahnya, ia menyerakkan jintan hitam dan menebarkan jintan putih, menaruh gandum jawawut dan jelai kehitam-hitaman dan sekoi di pinggirnya?’ [Yesaya 28:24-25]. Perlu kita ingat bahwa proses pembentukan dari Tuhan itu ada waktunya; selama kita mau tunduk, proses itu akan segera selesai. Bila kita punya penyerahan diri penuh kepada Tuhan, aliran-aliran airNya [Roh Kudus] akan dicurahkan atas kita sehingga tanah hati kita menjadi lunak [gembur] dan siap untuk ditaburi benih firmanNya. Alkitab menyatakan bahwa benih ’Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.’ [Lukas 8:15] dan ’...setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.’ [Lukas 8:8].
Kata “Anugerah” berarti pemberian dari pihak yang “lebih tinggi” kepada yang “lebih rendah” atau dari tuan kepada hamba. Jika kata tersebut dihayati dalam “kacamata” iman, maka kata “anugerah” tersebut menjadi sangat dalam. Bukan hanya sekedar pemberian yang asal diberikan oleh Tuhan, namun di balik pemberian tersebut ada rencana yang tidak dapat dimengerti dengan akal budi manusia. Agar manusia senantiasa berpengharapan serta menerima curahan anugerah-Nya, maka mereka harus menerima Tuhan dengan kesungguhan. Tuhan sangat mengasihi Daud. Kepemimpinan Daud bukan hanya untuk suku Yehuda, sehingga Tuhan berkenan mengangkat Daud menjadi pemimpin atas Israel. Kekuasaan yang awalnya dari lingkup kecil [terbatas], sekarang meluas kepada bangsa besar [ayat 3]. Inilah bukti anugerah Tuhan yang tidak terselami akal budi manusia, yaitu Tuhan menggunakan Daud menjadi raja atas suku-suku bangsa Israel. Kehidupan Daud sekarang bukan untuk sukunya sendiri, tetapi meluas ke seluruh suku Israel [ayat 9-10]. Menerima anugerah dari Tuhan adalah berkat besar bagi diri sendiri, namun sebenarnya di balik anugerah yang diterima secara individu ada maksud dan rencana Tuhan yang lebih luas, bukan saja dalam area pribadi tetapi mencakup area yang luas. Daud menerima anugerah kepemimpinan dari Tuhan, secara individual Daud diberkati, tetapi di balik penganugerahan itu Tuhan ingin agar tidak saja suku Yehuda yang diberkati, tetapi kepada semua suku Israel. Jadi Anugerah yang diterima orang percaya harus dirasakan pula oleh sesama sebagai perwujudan kasih sejati seperti yang dikehendaki Tuhan. Relasi yang harmonis antara orang percaya dengan Tuhan berdampak terhadap kehidupan yang lebih luas. Anugerah tersebut memang menjadi milik personal, namun harus dimanfaatkan untuk menyatakan kasih Tuhan kepada sesama. Dengan demikian bangunan spiritualitas yang terjadi adalah karakter hidup menghamba [bnd. 2 Korintus 12:2-10]. Dengan memperingati Natal, maka kita kembali diingatkan bahwa kita menerima anugerah keselamatan dari Allah dan supaya kita mewartakan kepada banyak orang. Selamat Natal dan selamat menjadi berkat.
Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan. Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan. Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi begini? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa [Markus 2:17]. Kristus hadir di hidup kita justru karena kita ini manusia yang rentan. Mudah jatuh dalam dosa. Mudah terjerat masalah. Mudah sakit. Mudah putus asa. Justru karena itulah kita memerlukan Yesus Kristus sang Penyelamat, Raja Damai. Dia tahu kita tak mungkin bertahan tanpa kehadiran-Nya, karena itulah Ia rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan datang kepada kita. Berbahagialah setiap manusia yang menanggapi panggilan-Nya sebab dengan demikian jiwanya akan mendapat ketenangan, ’Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’[Matius 11:28]
Dalam beberapa hari lagi kita akan bersama-sama merayakan hari kelahiran Tuhan Yesus ke dunia yang diperingati setiap tanggal 25 Desember setiap tahunnya. Rasa sukacita pastinya melingkupi hati kita dalam menyambut natal. Berbagai persiapan pasti telah kita persiapkan, misalnya memasang berbagai macam hiasan pernak-pernik natal di rumah kita masing-masing. Sungguh indah suasana natal bagi setiap kita yang menantikan peringatan kelahiran-Nya. Natal membawa pesan tersendiri bagi orang-orang percaya di seluruh dunia ini. Memaknai arti natal yang sesungguhnya adalah penting bagi kita semua. Jika natal hanya dimaknai sebagai perayaan saja, maka natal akan kehilangan makna sesungguhnya karena kita terfokus hanya kepada perayaan yang diisi berbagai macam acara meriah. Natal akan bermakna ketika hati kita tidak hanya bersucita karena kelahiran-Nya, namun juga hati yang bersiap untuk menyambut kedatangan-Nya yang kedua kali. Dalam Roma 13:11-14 kita melihat bahwa Sang Juruselamat itu telah dekat, oleh sebab itu bangunlah dari tidurmu dan persiapkan diri untuk menyambut Dia. Namun apakah kita benar-benar telah bangun dari dosa dan pelanggaran kita, atau justru kita masih terlelap dan menikmati dosa pelanggaran kita. Dan pada akhirnya kita tidak siap menyambut Dia yang datang. Maka kita harus bersiap dari sekarang dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya. Ini merupakan saat yang tepat untuk kita datang dan bertobat dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Mari kita maknai hari natal sebagai waktu untuk kita mempersiapkan diri menyambut kedatangan-Nya dengan selalu mengingat waktu dulu Yesus dilahirkan di Betlehem; menyambut-Nya dengan sikap yang berjaga-jaga dan hidup dalam pertobatan yang sungguh-sungguh; melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dalam tanggung jawab sosial dan moral dalam kehidupan di dunia ini.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kunci Keberhasilan Di Tahun Ini
14 Januari '18
Melupakan Yang Di Belakang
10 Januari '18
Lahir Untuk Peduli
06 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang