SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Tindakan Yesus ‘mengosongkan diri-Nya’ [Filipi 2:6-7] menjadi teladan bagi kita untuk mengalahkan ke-aku-an kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bebas Dari Ke-aku-an [1]
Bebas Dari Ke-aku-an [1]
Rabu, 27 September 2017
Bebas Dari Ke-aku-an [1]
Yakobus 4:1; Kisah Para Rasul 1:6-14

Tak mau kelihatan kalah meski salah. Jaga gengsi supaya tidak tampak lemah meski harus tidak jujur pada diri sendiri. Tidak mau terbuka, kalau perlu tutup diri rapat-rapat dan lempar tanggungjawab. Cari aman dengan cara menyalahkan dan mengkambinghitamkan orang yang dianggap lemah. Sebaliknya bersembunyi di balik bahu orang yang dianggapnya kuat. Yang penting hidup selamat dan tetap tampak terhormat. Tak peduli harus menjalani hidup dalam bayang-bayang kepalsuan.

Jemaat yang terkasih, bait-bait puisi di atas menggambarkan ke-aku-an seseorang. Yang dipikirkannya dan dilakukannya ujung-ujungnya adalah dirinya sendiri. Sulit baginya untuk keluar dari penjara hawa nafsu ke-aku-annya itu. Ke-aku-an semacam ini juga terjadi pada 12 murid pertama Tuhan Yesus. Lihatlah betapa yang dipikirkan mereka adalah “siapa yang terbesar di antara mereka?” Mereka saling iri dan bertengkar atau tidak menutup kemungkinan saling menyalahkan guna “mencari muka” di hadapan Tuhan Yesus, Sang Guru mereka.

Namun syukur, itu cerita masa lalu mereka. Semuanya berubah ketika mereka ndlongop dan gumun menyaksikan dengan kekaguman pada T...selengkapnya »
Sejak ditemukannya benua Amerika oleh Columbus pada abad 15 dan diketahui bahwa benua baru tersebut menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, ribuan orang dari Eropa berduyun-duyun datang kesana. Puncaknya adalah di abad 19 ketika terjadi ’demam emas’. Tersebutlah seorang pria yang juga datang ke Amerika hendak menambang emas, namun betapa kecewanya ia menerima kenyataan bahwa emas yang diimpikan sudah habis. Sementara uang untuk pulang menipis. Dengan gontai dan pikiran kosong, ia berjalan mendekati kereta kudanya. Untuk sekian menit, pikirannya menerawang entah ke mana, sambil tangannya memegang terpal penutup kereta kudanya. Ahaa!! Tiba-tiba datang ide cemerlang ke dalam pikirannya. Dengan tangan masih memegang terpal penutup kereta kuda, ia memandang ke arah penambang yang sedang bekerja keras mengumpulkan butiran emas, dengan kondisi pakaian yang sudah tidak jelas. Sontak muncul ide cerdas di pikirannya. Ia bertanya di dalam hati, ’Mengapa tidak ada celana khusus penambang yang terbuat dari bahan yang kuat seperti terpal ini? Selain lebih awet, kulit penambang juga bisa terlindungi dari goresan yang membuat sakit’. Siapa menyangka berawal dari rasa frustasi akibat gagal menjadi penambang emas, pria tadi secara tidak sengaja menemukan ide untuk membuat bahan celana yang terbuat dari terpal. Bahan celana yang kelak disebut jeans itu kini sudah dipakai di seluruh dunia, sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari mode. Pria itu bernama Levi Strauss, seorang Yahudi-Jerman, yang produknya dikenal dengan merk Levi’s. Dahulu Israel dikenal sebagai negeri yang gersang. Seluruh negeri dikelilingi hamparan gurun pasir, tak ada satupun tanaman bisa tumbuh kecuali kaktus. Sumber air pun tidak ada, lalu apa yang mau diharap dari negeri seperti itu? Namun sebagai bangsa yang cerdas, bangsa Yahudi terus maju dan tidak menyerah dengan kondisi alam seperti itu. Didukung kecanggihan teknologi, saat ini Israel dikenal sebagai penghasil buah-buahan terbaik di dunia. Mazmur 126:4, Tuhan berjanji memulihkan Sion dan memulihkan batang-batang air kering di tanah Negeb. Tuhan berkuasa mengubah padang gurun menjadi kebun buah-buahan, sesuatu yang mustahil bagi logika manusia! [Yes 32:15]. Hal ini yang dikehendaki Tuhan atas gerejaNya. Jangan mudah menyerah dengan kondisi yang ada!
Ada berbagai motivasi yang mendasari seeorang melakukan kebaikan, antara lain perasaan belas kasihan, tidak mau kalah dengan orang lain, ingin mendapat pujian. Perikop renungan kita hari ini berbicara mengenai “Hal memberi sedekah”, dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kalimat “ Lakukan kebaikan untuk memuliakan Tuhan “ Dari kebenaran Firman Tuhan ini, jelas bagi kita bahwa berbuat kebaikan baik berupa materi /sedekah, pertolongan harus didasari motivasi yang benar, tulus jangan sampai ada tujuan yang terselubung. Pertama, jika kita melakukan kewajiban agama yang dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kata charitable = murah hati, suka berderma tidak untuk dipamerkan supaya dilihat orang karena jika itu yang kita lakukan maka kita tidak akan mendapat upah dari Bapa di Surga [ayat 1]. Kedua, jika kita melakukan kebaikan jangan kita mencanangkan [menggembar-gemborkan ] untuk mencari pujian dari manusiaseperti yang dilakukan orang munafik karena hanya itulah upah yang akan kita terima [ayat 2] Ketiga, dikatakan jika kita melakukan kebaikan jangan sampai tangan kiri tahu apa yang dilakukan tangan kanan kita dan juga kita harus melakukannya dengan tersembunyi. Artimya tidak seorangpun perlu mengetahui kebaikan yang kita lakukan [ayat 3,4]. Pada umumnya memang sulit menyimpan kebaikan yang telah dilakukan karena pada kenyataannya, kita pasti tahu apa yang tangan kanan dan kiri lakukan. Dalam Alkitab BIS, kata tersembunyi dipakai kata diam-diam artinya hanya Bapa di Surga yang mengetahui dan akan membalasnya kepada kita. Dari apa yang kita renungkan hari ini, marilah kita lakukan kebaikan dengan tulus hati tanpa motivasi yang terselubung untuk kepentingan pribadi. Amin.
Pada hari minggu tanggal 14 Januari 2018, saya mendapat tugas untuk mendampingi Ibadah Raya I. Seperti biasa jam 4.30 WIB saya sudah bangun dari tidur mempersiapkan diri untuk pergi ke Gereja. Dan tepat jam 5, saya berangkat ke gereja. Dalam perjalanan tepatnya di jalan Jangli Raya, saya berpapasan dengan 3 anak remaja laki. Mereka menaiki 2 sepeda motor tanpa alas kaki dan suara sepeda motornya cukup memekakan telinga. Sampai di pertigaan Jalan Jangli Raya dan Jalan Dr. Wahidin ketemu lagi dengan ke 3 anak tersebut Saya sempat beradu pandang dengan salah seorang anak remaja, tiba tiba saya merasa kasihan dan menangis di jalan. Saya mulai mendoakan ke 3 anak remaja tersebut supaya Tuhan tolong, Tuhan selamatkan dan Tuhan pakai menjadi hamba-Nya. Kalau kita baca nats di atas, Yesus menyatakan bahwa setiap orang yang tidak percaya kepada Nya berada di bawah hukuman [ayat 18] Mungkin untuk memperkenalkan Kristus kepada orang lain kita tidak punya cukup keberanian, namun ada cara lain untuk kita jangkau jiwa jiwa malalui doa-doa kita buat orang orang yang belum mengenal Tuhan. Kita bisa berdoa buat Suami/Istri, berdoa untuk anak anak kita atau sebaliknya berdoa untuk saudara, tetangga juga teman. Melalui doa kita bisa jangkau banyak orang. Cara ini tidak memerlukan tempat, tenaga apa lagi uang. Yang dibutuhkan adalah beban dan belas kasihan untuk jiwa jiwa yang ada. Mari Bp/Ibu/Sdr/i Jemaat yang di kasihi Tuhan, sudah saatnya kita melaksanakan salah satu kehendak Tuhan [yohanes 4:34] untuk menjangkau jiwa jiwa melalui doa-doa kita.
Pak Budi adalah seorang Kristen sejak kecil. Dia bertumbuh dalam Gereja yang memiliki komunitas kecil untuk sarana pertumbuhan rohani jemaat. Pada suatu saat pak Budi memiliki pergumulan tentang keselamatan dirinya di hadapan Allah. Dia juga sempat meragukan apakah Yesus Kristus benar-benar Allah. Akhirnya Pak Budi di yakinkan keselamatan hidupnya melalui bimbingan pak Slamet sebagai pemimpin komcil. Pak Budi berusaha meyakinkan bahwa keselamatan hidupnya di dalam Kristus di jamin dan Kristus memang benar-benar Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Keraguan tentang siapa Yesus Kristus sebenarnya bukan cuma pergumulan pak Budi saja, tetapi pergumulan banyak orang baik yang sudah mengenal dan percaya Tuhan Yesus maupun mereka yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Yang belum percaya layak kita maklumi sebab mereka berada di luar Kristus, tapi bagi yang sudah percaya Tuhan Yesus hal ini harus kita perhatikan dengan serius. Sebab akan berdampak dalam kehidupannya di kemudian hari. Sebagaimana bacaan renungan kita hari ini yang berkaitan dengan kehidupan Yohanes Pembaptis yang telah membaptis Tuhan Yesus dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang banyak melalui kotbahnya. Saat berada di dalam penjara menunggu bagaimana nasibnya selanjutnya di tangan Raja Herodes, dirinya sempat meragukan keberadaan Tuhan Yesus sebagai Sang Mesias. Oleh sebab itu dia mengutus muridnya untuk mempertanyakan hal ini kepada Tuhan Yesus. Ternyata jawaban Tuhan Yesus sangat mengejutkan. Pertama Dia meyakinkan bahwa Diri-Nya adalah Mesias melalui tanda-tanda yang telah di buatnya [ayat 4-6]. KeDua Dia, mulai berbicara tentang diri Yohanes Pembaptis [ayat 7-14]. Di katakan tidak ada seorangpun yang lahir di Israel memiliki pribadi lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Pelajaran yang kita dapat melalui bacaan ini adalah kebesaran dan kasih Tuhan Yesus yang selalu ingin meyakinkan siapapun orang yang sempat meragukan keberadaan-Nya sebagai Sang Mesias. Supaya dengan pernyataan Tuhan Yesus, orang tersebut tidak lagi ragu-ragu melainkan akan melangkah dengan mantap dalam iman kepada dan bersama Tuhan Yesus. Bagaimana dengan diri kita saat ini, yakinkah kita bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias Sang Juruselamat manusia berdosa? Jika kita masih sempat meragukannya sama seperti Yohanes Pembaptis, maka temukan jawabannya melalui pembacaan dan pendalam Firman Allah terutama Injil Yohanes niscaya kita akan diyakinkan siapa Tuhan Yesus Kristus yang sebenarnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bersaksi Dengan Hikmat1
03 Februari '18
Tujuan Panggilan Allah
22 Januari '18
Rumah Doa1
08 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang