SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Tindakan Yesus ‘mengosongkan diri-Nya’ [Filipi 2:6-7] menjadi teladan bagi kita untuk mengalahkan ke-aku-an kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bebas Dari Ke-aku-an [1]
Bebas Dari Ke-aku-an [1]
Rabu, 27 September 2017
Bebas Dari Ke-aku-an [1]
Yakobus 4:1; Kisah Para Rasul 1:6-14

Tak mau kelihatan kalah meski salah. Jaga gengsi supaya tidak tampak lemah meski harus tidak jujur pada diri sendiri. Tidak mau terbuka, kalau perlu tutup diri rapat-rapat dan lempar tanggungjawab. Cari aman dengan cara menyalahkan dan mengkambinghitamkan orang yang dianggap lemah. Sebaliknya bersembunyi di balik bahu orang yang dianggapnya kuat. Yang penting hidup selamat dan tetap tampak terhormat. Tak peduli harus menjalani hidup dalam bayang-bayang kepalsuan.

Jemaat yang terkasih, bait-bait puisi di atas menggambarkan ke-aku-an seseorang. Yang dipikirkannya dan dilakukannya ujung-ujungnya adalah dirinya sendiri. Sulit baginya untuk keluar dari penjara hawa nafsu ke-aku-annya itu. Ke-aku-an semacam ini juga terjadi pada 12 murid pertama Tuhan Yesus. Lihatlah betapa yang dipikirkan mereka adalah “siapa yang terbesar di antara mereka?” Mereka saling iri dan bertengkar atau tidak menutup kemungkinan saling menyalahkan guna “mencari muka” di hadapan Tuhan Yesus, Sang Guru mereka.

Namun syukur, itu cerita masa lalu mereka. Semuanya berubah ketika mereka ndlongop dan gumun menyaksikan dengan kekaguman pada T...selengkapnya »
Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani. Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa cukup pada saat dirinya menerima anugerah keselamatan. Keselamatan di dalam Tuhan Yesus bertujuan supaya kita bisa dikembalikan kepada rancangan semula Bapa dan dipersiapkan masuk Kerajaan-Nya [Ibrani 11:16]. Kelegaan dan ketenangan jiwa sejati akan dialami bila: 1. Pikiran tidak dipenuhi keinginan pribadi yang tidak sesuai dengan pikiran/kehendak Tuhan [Yakobus 1:14-15]. 2. Kita memahami dan mempraktekkan Kebenaran Injil yang murni [Yesaya 32:17, Yohanes 8:31-32]. 3. Memiliki rasa cukup, tidak berkeinginan memiliki fasilitas duniawi untuk mendapatkan nilai diri, prestise, ketenaran [1 Timotius 6:6-8]. 4. Memiliki karakter mulia melalui proses pemuridan. Mustahil mengalami kelegaan dan ketenangan jiwa bila kita egois, iri hati, suka marah-marah, penuh curiga, pendendam.
Pengelola bukan pemilik Kejadian 2:15 TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. Tuhan membuat Taman Eden lalu menempatkan manusia di dalam taman itu. Posisi manusia di taman itu tentu bukan sebagai pemilik tapi sebagai pengelola. Andaikan manusia tidak sadar dengan posisinya itu, dia bisa saja berbuat semaunya dengan taman itu. Tapi manusia selalu diingatkan bahwa di taman itu kedudukannya adalah sebagai pengelola, bukan pemilik. Karena itu Tuhan memberikan batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia. Kecenderungan kita sebagai manusia adalah mau menjadi penguasa atas segala yang Tuhan percayakan kepada kita. Dan karena merasa sebagai penguasa manusia berbuat semaunya dengan kekayaan yang dipercayakan oleh Tuhan, misalnya dengan cara: memboroskan harta untuk kenikmatan dirinya sendiri, tidak mau merawat atau bahkan membiarkan kerusakan lingkungan sekitarnya. Kalau kita dipinjami sebuah barang oleh orang lain, maka kita punya tanggung jawab untuk merawat barang itu dengan baik. Kita harus menjaganya agar barang itu jangan sampai rusak. Semua harta atau kekayaan yang kita punya asalnya dari Tuhan. Baik itu kekayaan yang berujud materi, kesehatan, kepandaian, keahlian, maupun yang lainnya, kita dapatkan dari Tuhan, meskipun itu melalui orang lain. Kita mendapatkan warisan dari orang tua kita, kepandaian dari guru atau orang yang mengajari kita, pekerjaan dari relasi kita. Semua itu Tuhan berikan kepada kita untuk kita kelola, dan kita pakai baik untuk kesejahteraan diri kita maupun untuk orang lain. Firman di atas mengatakan bahwa manusia diberi tanggung jawab untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden itu. Mengusahakan artinya mengembangkan, seperti hamba yang menerima talenta, lalu menjalankan talenta itu, dari 5 menjadi 10, dari 2 menjadi 4 [Matius 25:14-16]. Sedangkan Memelihara artinya merawat agar taman itu tetap terjaga dengan baik, tidak rusak dan keindahannya tetap terjaga. Alangkah indahnya hidup ini jika kita menyadari dan melaksanakan tanggung jawab kita sebagai pengelola dari kekayaan yang Tuhan percayakan kepada kita. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang teman dekat pernah bercerita pada saya, dia sangat kecewa dengan salah seorang rekan ketika dia masih bekerja di sebuah distributor. Selama ia bekerja di sana, rekannya itu sangat baik. Rekan tersebut sering membantunya. Bahkan begitu dekatnya, mereka sering bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sulit dikerjakan. Beberapa waktu kemudian, teman saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Kemudian dia bertemu dengan orang yang menggantikan posisinya. Orang tersebut bercerita bahwa rekannya sering bercerita hal-hal negatif tentang dirinya. Dia sangat terkejut mendengar cerita tersebut. Teman saya tidak percaya akan semua itu karena rekannya merupakan rekan kerja yang begitu baik. Yang membuat dia heran adalah tentang hal-hal yang tidak pernah teman saya ceritakan, tetapi orang baru yang menggantikan posisinya ini tahu. Akibatnya teman saya ini begitu geram, marah dan sangat kecewa. Kenyataan ini sering kali terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita difitnah. Dalam lingkup apapun, untuk mendapatkan posisi, pekerjaan, ataupun hubungan yang diinginkan, ada orang yang tega memfitnah pesaingnya agar tersingkir sehingga ia memperoleh promosi jabatan. Ini merupakan cara-cara yang kotor, jahat, “rendah” namun sering dilakukan bahkan menjadi kebiasaan. Tidak ada lagi perasaan bersalah ketika temannya itu tersingkir karena perbuatannya itu. Ada pepatah ‘LIDAH TAK BERTULANG’. Begitu mudahnya lidah bergerak sehingga merugikan orang lain. Melalui kitab Mazmur 120:3 mengingatkan bahwa kita tidak akan memperoleh manfaat atau kebaikan apapun ketika kita menfitnah orang lain hanya untuk keuntungan diri sendiri. Bibir dusta dan lidah penipu adalah kejahatan. Dampak dari fitnah bisa membuat orang lain hancur. Seseorang bisa kehilangan segalanya, bukan hanya harta atau kepemilikan, melainkan juga keluarga, pasangan bahkan anak-anaknya. Padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun. Oleh sebab itu jagalah lidah kita. Janganlah membuat orang lain menjadi hancur hanya karena lidah kita. Dan kemudian kita mendapat gelar “Si lidah tak bertulang”.
Biasanya ketika seseorang menciptakan atau membuat sesuatu pada pertama kalinya tidak serta merta sempurna, pasti ada trial and error atau percobaan-percobaan dan ada kesalahan-kesalahan pada ciptaannya. Dan dibutuhkan beberapa kali percobaan sehingga sesuatu yang diciptakan itu menjadi sempurna. Tapi tidak demikian dengan pencipta manusia. Tuhan menciptakan manusia hanya dengan sekali bentukan saja [Kejadian 2:7] dan jadilah manusia yang sempurna. Tidak ada kesalahan dalam penciptaan-Nya. Hal yang detail dari fisik manusia sampai pikiran, perasaan, hati, semua sudah diperhitungkan dengan sempurna oleh Pencipta kita. Dia tahu bahwa hati dan pikiran manusia akan mudah dikuasai oleh hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya. Karena itu melalui hamba-hamba-Nya, Allah menyampaikan Firman yang merupakan guidebook bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini. Salah satu Firman-Nya yang disampaikan kepada Yosua adalah “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi RENUNGKANLAH itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis didalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung”. Dia tahu benar bahwa masalah-masalah yang ada di sekitar kita, pencobaan yang sedang terjadi, sakit-penyakit yang sedang dirasakan akan selalu memenuhi seluruh pikiran manusia sepanjang hari. Karena itu Dia mengingatkan kita supaya yang menjadi perenungan kita baik waktu siang maupun waktu malam hari adalah Firman Tuhan. Bukan masalah, persoalan, pencobaan dan sakit-penyakit. Ketika pikiran kita dipenuhi perenungan akan masalah, persoalan, pencobaan, sakit penyakit, tidak akan ada jalan keluar, tidak akan ada damai sejahtera, dan sudah tentu apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita akan sulit digenapi. Tetapi ketika kita belajar untuk memenuhi pikiran kita dengan perenungan Firman-Nya, Firman itu yang akan menuntun kita berpikir jernih sehingga kita bisa bertindak hati-hati, perjalanan melalui hidup ini akan berhasil, dan kita akan beruntung. Masalah, persoalan, pencobaan, sakit penyakit biar saja ada dalam kehidupan kita, tapi jangan biarkan itu semua menjadi perenungan dalam pikiran dan hati kita sepanjang hari. Biarlah hanya Firman Tuhan saja yang menjadi perenungan dalam hati dan pikiran kita baik waktu siang dan malam hari.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
08 Desember '17
Berhiaskan Kekudusan
20 November '17
Hati Para Gembala
07 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang