SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Uang adalah sarana, bukanlah raja.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bebas Sesungguhnya
Bebas Sesungguhnya
Rabu, 06 September 2017
Bebas Sesungguhnya
1 Timotius 6:10; Lukas 19:1-10

Tahukah kita mengapa perusahaan dagang VOC bangkrut total? Perusahaan besar yang sempat sukses memonopoli hasil kekayaan alam Nusantara ini hanya berusia kurang dari 2 abad. Pada tahun 1799 VOC rusak parah karena digerogoti korupsi yang mewabah di dalam diri para pegawainya. Akhirnya sendi-sendi penopang perusahaan tak bisa lagi menahan beban korupsi yang maha besar, dan ambruk luluh berkalang tanah-lah raksasa ekonomi ini.

Melihat tinta sejarah kelam yang ditorehkan oleh pengalaman VOC itu, kita jadi ngeri melihat perilaku korupsi yang tak kunjung surut di negeri tercinta ini. Meski KPK telah dibentuk dan bekerja keras, toh… korupsi tetap trengginas. Upaya untuk membuat malu dan jera para koruptor sepertinya tidak berdampak apa-apa. Mungkinkah ini membuktikan bahwa korupsi telah membudaya di negeri tercinta ini? Semoga saja tidak! Tetapi jika benar demikian, kita patut mengkuatirkan masa depan negeri ini. Meski negara lebih kuat daripada sebuah perusahaan, namun korupsi bagai jamur yang sedikit demi sedikit mampu mengeroposkan tembok raksasa di China sekalipun.

Kenyataan korupsi menunjukkan kebenaran firman Tuha...selengkapnya »
Waktu berjalan begitu cepat, bulan Januari telah lewat dan kita masuk ke bulan ke-2 tahun ini. Ada hati yang berbunga-bunga tapi ada juga hati yang kelabu, yang pasti tidak seorang pun dari kita tahu apa yang akan terjadi di hari-hari yang kan kita lalui. Hati kita dipenuhi banyak tanda tanya: Bisakah ? Mungkinkah ? Rasa kawatir dan takut sering menghantui hidup kita. Banyak ketidakpastian berkecamuk dalam pikiran dan hati kita. Namun satu hal yang harus kita tahu pasti bahwa Allah ada di pihak kita, jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? Dalam janji Allah ini ada 3 hal yanag harus kita pahami. Pertama: Allah berada di pihak kita! Bagaimana kita mengetahui dengan pasti? Mempercayai-Nya dan berada dalam kehendak-Nya ? Bukankah di dalam Yesus Kristus kita dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kita juga dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya dan dimuliakan-Nya. Kedua: Allah memberikan kekuatan dan kemenangan kepada kita. Kepastian ini kita peroleh karena Ia telah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal, Yesus Kristus sebagai anugerah terbesar dalam hidup kita. Itu artinya bahwa Ia juga akan memberikan hal-hal lainnya yang kita butuhkan [ayat 32]. Ketiga: Persekutuan kita dengan Allah tidak akan dapat dipisahkan oleh apapun juga dalam dunia ini. Kesulitan hidup bisa saja datang menghadang tetapi bersama Tuhan, siapa takut? [ayat 35]. Mari kita melangkahkan kaki kita menapaki hari-hari di depan kita dengan penuh percaya akan penyertaan-Nya yang kekal.
Ada yang menyatakan bahwa merpati merupakan simbol ketulusan hati karena katanya seekor merpati hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Juga ketika ia terbang jauh pasti akan kembali ke kandangnya. Yang lain mengatakan bahwa bunga Edelweis merupakan simbol ketulusan karena Edelweis tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem sehingga seolah-olah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakkan. Tetapi yang lain juga menyatakan mawar putih lambang ketulusan hati. Yang benar yang mana? Merpati, Edelweis atau mawar putih yang sebenarnya menjadi simbol ketulusan? Atau semuanya memang simbol ketulusan? Merpatikah, Edelweiskah atau mawar putihkah yang benar, tidaklah penting. Yang lebih penting adalah ketulusan itu sendiri karena semua benda tadi hanyalah simbol atau lambang. Apa sebenarnya arti ketulusan? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan tulus adalah sungguh dan bersih hati; jujur; tidak pura-pura; tidak serong. Tetapi bagaimana Alkitab mendefinisikan ketulusan? Alkitab memberi beberapa arti ketulusan, di antaranya: 1. “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat....” [Ibrani 10:22]. Hati yang tulus berarti hati nurani yang bersih dari yang jahat. Tidak ada iri dengki; tidak tercemar oleh kemunafikan; jauh dari kebencian, dendam, sombong, tamak, niat tersembunyi dan hal-hal yang jahat lainnya. 2. “Jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia...” [Titus 2:10]. Tulus berarti juga tidak curang. Curang itu sama dengan tidak jujur; culas; menipu; mengakali. Seseorang melakukan kecurangan, tentu tujuannnya adalah untuk keuntungan dan kepentingan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara. 3. “.... sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” [1 Petrus 1:22]. Tulus dihubungkan dengan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan segenap hati. Kalau kita perhatikan arti-arti di atas, tulus hati erat hubungannya dengan membangun relasi dengan Allah, sesama manusia, dan tugas tanggung jawab [termasuk pelayanan]. Tanpa ada ketulusan, sulit rasanya membangun kesatuan, kebersamaan, dan keintiman [kedekatan]. Jika kita ingin membangun komunitas kristen atau gereja yang kuat, jangan singkirkan dan lupakan ketulusan hati!
Penulis Paul Little mengatakan bahwa kita sering kali tidak bersaksi seperti Yesus. Kita cenderung cepat menyalahkan orang lain. Paul Little menulis, ’Kita sering kali berpikir keliru, yakni jika kita tidak menyalahkan suatu sikap atau tindakan yang salah, berarti kita menyetujuinya.’ Dia menambahkan, ’Kita tidak hanya harus menghindari sikap menyalahkan orang lain, tetapi juga perlu mempelajari seni memberikan pujian yang rasional.’ Paul Little juga menceritakan pengalaman seorang penulis bernama Charles Trumbull. Di sebuah kereta api, sang penulis bertemu seorang pemabuk yang melontarkan kata-kata tak senonoh dan duduk di sampingnya. Ketika laki-laki itu menawarkan minumannya, Trumbull sama sekali tidak menyalahkan orang itu. Malahan dia menjawab, ’Tidak, terima kasih, tapi saya tahu Anda sangat murah hati.’ Mendengar kata- katanya, mata laki-laki itu langsung bersinar. Sewaktu mereka bercakap-cakap, laki-laki itu mendengar tentang Pribadi yang menawarkan air kehidupan yang dapat memuaskannya. Tak lama kemudian ia pun menerima Kristus. Kita dapat belajar banyak tentang bersaksi secara efektif dengan belajar dari Yesus, melalui peristiwa saat Yesus bersaksi kepada wanita yang ditemui-Nya di sumur [Yohanes 4:5-26]. Sebenarnya secara sosial Yesus tidak boleh berbicara dengan wanita Samaria itu, karena Yesus orang Yahudi. Dalam kisah tersebut diceritakan Yesus meminta minum kepada wanita itu. Ini dilakukan-Nya dengan sikap menghargai wanita tersebut. Bisa saja Yesus menyalahkan cara hidup wanita yang penuh dosa itu, tetapi Dia tidak melakukannya. Pada saat kita bersaksi tentang Yesus, ingatlah bahwa kita perlu hikmat. Artinya adalah cara kita bersaksi harus cerdik. Dapat membaca situasi serta diperlukan timming yang tepat. Semua itu perlu dilakukan agar Kabar Sukacita tentang Yesus dapat diterima oleh orang di sekitar kita. Semua orang dapat mendengarkan dengan penuh sukacita. Mari beritakan Injil dengan berhikmat.
Mahasiswa Akademi Militer atau Akademi Kepolisian harus mengikuti semua peraturan kampus. Selalu mengenakan pakaian seragam termasuk saat liburan, potongan rambut sesuai standard yang berlaku, tidak diperkenankan berbahasa daerah saat berkomunikasi dengan siapa saja termasuk dengan rekan sedaerahnya. Yang sangat menarik saat mereka berjalan bersama atau sendiri langkah mereka harus sesuai dengan yang telah ditetapkan. Mereka mematuhi aturan-aturan walaupun tidak ada yang mengawasi karena bagi mereka aturan tersebut sudah menjadi gaya hidup dan bukan beban. Orang benar akan melangkah sesuai dengan ketetapan Tuhan dan berkenan kepada-Nya. Firman Tuhan ada dalam hatinya dan tidak goyah dalam melangkah sesuai dengan perintah-Nya. Mulut orang benar mengucapkan kebenaran dan kebajikan, perkataan yang sesuai dengan hukum-Nya. Setiap hari menaruh belas kasihan dan memberi pertolongan kepada orang lain. Menjauhi kejahatan dan melakukan perbuatan baik. Langkah orang benar akan mendatangkan penyertaan Tuhan senantiasa dan tidak akan jatuh tergeletak. Tuhan akan memelihara hidupnya sampai selamanya. Tidak akan dibiarkan berkekurangan di masa tua karena anak cucunya tidak akan meninggalkannya. Kita harus memenuhi hidup kita dengan Firman-Nya sehingga setiap langkah kita akan sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya. Hidup yang berkenan kepada-Nya. Perkataan dan perbuatan yang mencerminkan kekudusan dan sebagai pelaku Firman. Melakukan perbuatan baik setiap waktu dan berdampak keselamatan bagi banyak orang. Langkah tersebut tidak tergantung pada situasi dan keadaan, tetapi menjadi gaya hidup dan dilakukan tanpa beban. Dengan demikian, Tuhan akan memelihara hidup kita dalam menempuh perjalanan dalam tahun ini walaupun harus melewati lembah yang dalam.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Ahli Dalam Mengampuni
29 Januari '18
Jadilah Seperti Gideon
28 Januari '18
Berakar, Bertumbuh, Berbuah
10 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang