SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Uang adalah sarana, bukanlah raja.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bebas Sesungguhnya
Bebas Sesungguhnya
Rabu, 06 September 2017
Bebas Sesungguhnya
1 Timotius 6:10; Lukas 19:1-10

Tahukah kita mengapa perusahaan dagang VOC bangkrut total? Perusahaan besar yang sempat sukses memonopoli hasil kekayaan alam Nusantara ini hanya berusia kurang dari 2 abad. Pada tahun 1799 VOC rusak parah karena digerogoti korupsi yang mewabah di dalam diri para pegawainya. Akhirnya sendi-sendi penopang perusahaan tak bisa lagi menahan beban korupsi yang maha besar, dan ambruk luluh berkalang tanah-lah raksasa ekonomi ini.

Melihat tinta sejarah kelam yang ditorehkan oleh pengalaman VOC itu, kita jadi ngeri melihat perilaku korupsi yang tak kunjung surut di negeri tercinta ini. Meski KPK telah dibentuk dan bekerja keras, toh… korupsi tetap trengginas. Upaya untuk membuat malu dan jera para koruptor sepertinya tidak berdampak apa-apa. Mungkinkah ini membuktikan bahwa korupsi telah membudaya di negeri tercinta ini? Semoga saja tidak! Tetapi jika benar demikian, kita patut mengkuatirkan masa depan negeri ini. Meski negara lebih kuat daripada sebuah perusahaan, namun korupsi bagai jamur yang sedikit demi sedikit mampu mengeroposkan tembok raksasa di China sekalipun.

Kenyataan korupsi menunjukkan kebenaran firman Tuha...selengkapnya »
“Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” [Yohanes 21:11]. Apa maksud penyebutan angka ini? Jika maksudnya hanya sekedar memberi informasi, alangkah lebih sederhananya disebut “sangat banyak” atau “jala itu penuh”. Atau jika ingin menunjuk pada jumlah ikan yang didapat, lebih lazim disebut dengan satuan berat, seperti kilogram, gram, dsb. Lalu apa maksud dari penyebutan angka 153? Kalau dalam sebuah cerita dicantumkan suatu angka, maka angka itu biasanya ada fungsinya. Demikian juga halnya dengan angka 153 yang ditulis dalam kisah ini. Pada jaman itu, menurut Ilmu pengetahuan Yunani, jumlah jenis ikan yang diketahui berjumlah 153 macam. Karena itu para murid mengasosiasikan angka 153 ini dengan angka jumlah jenis ikan tersebut. Itulah jumlah jenis ikan yang mereka ketahui. Angka itu bagi mereka berarti: semua jenis ikan di dunia ini. Ketika dulu Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia berkata, ’Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ [Markus 1:17]. Dalam kisah ini, Yesus kembali menegaskan dan mengingatkan murid untuk tetap “menebarkan jala” dan “menjaring jiwa”. Pertemuan awal Yesus dengan para murid terjadi pada peristiwa “menjaring ikan”. Kini pun sesudah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, dengan peristiwa serupa yang mirip [lihat kejadian dan tempat dalam Yohanes 21:1-14] ingatan murid-murid kembali dibawa untuk mengigat kembali peristiwa tersebut sekaligus mempertegas dan memperjelas panggilan mereka untuk menjadi saksi bagi semua bangsa. Murid-murid menjaring 153 ikan, memiliki makna khusus yaitu perihal tugas bersaksi dan menjangkau jiwa bagi semua bangsa. Ajakan ini bukan terbatas bagi murid-murid yang hidup pada saat itu saja. Melainkan juga panggilan dan tugas kita sebagai murid Yesus di masa kini. Peristiwa pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus bagi setiap orang percaya. Roh yang memberi kita rasa aman, keberanian dan kedamaian untuk kita terus bersaksi mewartakan berita tentag Kabar Sukacita di dalam Yesus Kristus.
Di dalam kehidupan bergereja, acap kali persembahan umat Kristiani kepada Tuhan diwujudkan dalam bentuk pelayanan. Dan pelayanan di gereja pada umumnya, langsung maupun tak langsung, saling terkait satu sama lain. Satu seksi pelayanan saja bisa beranggotakan banyak orang; yang berarti banyak ide, banyak usul, banyak potensi kreasi yang terkumpul di sana. Belum lagi kaitannya dengan bidang-bidang pelayanan yang lain. Kondisi ini membuat gesekan antar anggota tidak terelakkan. Para pelayan Tuhan sering menganggap bahwa ’hasil akhir’ dari sebuah pelayanan adalah yang mendasari penilaian Tuhan sehingga masing-masing pribadi berusaha keras untuk memperjuangkan apa yang menurutnya paling ideal. Bahkan tak jarang ’perjuangan’nya itu sampai mencederai perasaan rekan-rekan sepelayanan. Sesungguhnya, apakah seperti itu persembahan pelayanan yang diperkenan oleh Tuhan? Bacaan Firman Tuhan pada hari ini mengingatkan umat Kristiani bahwa Tuhan sangat mementingkan kebersihan hati, kerukunan dan perdamaian di antara umat-Nya. Kristus sendiri yang memerintahkan umat-Nya untuk membereskan masalah yang ada, sebelum mempersembahkan sesuatu kepada-Nya [Mat 5:23-24]. Tuhan tidak hanya memandang persembahan yang dihaturkan di hadapan-Nya, namun Ia juga melihat kondisi hati si pemberi persembahan. Apakah dia datang dengan hati yang bersih? Apakah dia masih terlibat dalam perselisihan dengan orang lain? Apalagi dengan sesama rekan sepelayanan. Ironis sekali jika kita menganggap persembahan pelayanan kita berhasil bagus, padahal di balik itu ada hati dan perasaan-perasaan yang tersakiti karena idealisme pribadi kita. Marilah menjadi pribadi-pribadi pelayan Tuhan yang lebih dewasa. Mari menghaturkan persembahan kepada Tuhan melalui proses yang saling menghargai. Biarlah dunia melihat kerjasama dan perilaku kita yang baik sehingga mereka memuliakan Bapa di Surga.
Kerjasama adalah sebuah kata yang sangat familiar di telinga kita, mudah diucapkan tetapi sulit diimplementasikan. Mengapa ?? Karena kerjasama adalah kegiatan atau usaha yang dilakukan atau dikerjakan oleh lebih dari satu orang yang tentu saja harus ada persamaan visi, misi serta komitment dalam pelaksanaannya. Padahal setiap orang pasti mempunyai pendapat atau pemikiran yang berbeda seperti apa yang diartikan dalam sebuah pribahasa “Rambut sama hitam, pikiran / hati berlainan “. Dari tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi ada beberapa hal yang bisa kita pelajari bagaimana sebuah kerjasama bisa terlaksana dengan baik. 1. Memiliki kesatuan hati dan pikiran, satu kasih, satu jiwa serta satu tujuan [ayat 2] 2. Tidak mencari kepentingan pribadi & tidak tergiur pujian yang sia-sia [ayat 3] 3. Tidak egois, bisa memperhatikan kepentingan orang lain [ayat 4] 4. Memiliki kerendahan hati Kristus [ayat 5-8 ] 5. Hanya untuk kemuliaan Yesus Kristus [ayat 9-11 ] Ilustrasi yang cukup menggelitik bagi kesatuan dalam kerjasama yang porak poranda hanya karena terhasut oleh pujian yang sia-sia. Sekelompok kuda liar tengah merumput di padang belantara. Tiba-tiba muncul seekor harimau yang sedang mencari mangsa. Serentak kuda-kuda itu melindungi diri dengan cara berdiri saling berhadapan membentuk lingkaran. Harimau pun tidak berani mendekat, karena takut kena tendang. Namun dengan tipu muslihatnya ia berkata, ’Sungguh barisan yang bagus. Boleh aku tahu kuda pintar mana yang mencetuskan ide ini?’ Kuda-kuda itu pun termakan hasutan. Mereka berdebat siapa yang pertama mencetuskan ide tadi. Karena tak ada kata sepakat, akhirnya mereka tercerai-berai. Harimau pun dengan mudah memangsa mereka. Amin
Saya pernah mengalami kesedihan yang sangat luar biasa. Penyebabnya yaitu, karena tidak mampu menyelesaikan studi S2. Segala upaya mencari jalan keluar sudah saya usahakan. Tetapi tetap tidak bisa menemukan jalan keluar. Permasalahan saya pada saat itu adalah pembagian waktu antara mengajar dengan kuliah dan dana yang kurang mencukupi. Ketika waktu mengajar bisa diatur dengan baik, gantian dana yang tidak cukup untuk membayar biaya semester. Akhirnya kegagalan yang saya dapatkan. Kehidupan seseorang diisi oleh dua hal yang berlawanan yaitu gagal atau berhasil. Tidak pernah ada satu orang selalu di isi satu bagian saja misal gagal terus menerus atau berhasil terus menerus. Lalu bagaimana Firman Tuhan kegagalan dan keberhasilan di tuliskan dalam Alkitab ? Kita akan belajar melalui peristiwa taman Firdaus yang terulisn dalam Alkitab. Pertama, Iblislah yang mencobai dengan target pikiran kita [Kejadian 3:1-7]. Tahap strategi iblis terhadap pikiran kita yaitu: agar kita meragukan Firman Tuhan, kemudian menyangkal Firman Tuhan dan percaya kepada iblis, sehingga iman kita gagal. Jika kita tidak waspada terhadap strategi iblis ini maka kita akan mudah jatuh dalam kegagalan. Kedua, Iblis memanfaatkan kelemahan kita [Matius 4:1-11]. Dalam Pasal ini menceritakan ketika iblis mencobai Yesus saat Dia sedang lapar dan lemah karena puasa. Iblis juga mencobai Yesus saat Ia mengalami kesunyian di padang gurun. Jadi iblis membuat kita gagal saat kita lemah dan juga sedang mengalami kesunyian tidak berpengharapan. Oleh sebab itu bagaimana strategi kita agar menang terhadap pencobaan sehingga memperoleh kemenangan ? Ada beberapa hal yang harus dilakukan, Pertama, memandang setiap pencobaan yang datang dengan berpikir bahwa setiap pencoban merupakan kesempatan untuk menjadikan kita semakin kuat dan berhasil dalam Tuhan [Kejadian 50:20]. Kedua, menjadikan Firman Tuhan sebagai pedoman yang paling berpengaruh dalam setiap sisi hidup kita [Matius 4:4, 7]. Ketiga, dengan berdoa dan berpuasa membuat hidup kita makin kuat dalam mengikut Tuhan. Kegagalan dan keberhasilan selalu mengikuti dalam setiap sisi kehidupan manusia. Bagi orang percaya, hidupnya akan dibuat berhasil jika kesukaannya adalah merenungkan dan melakukan Taurat Tuhan [Mazmur 1:2-3]. Maka lakukan setiap Firman-Nya jika kita ingin hidup berhasil.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Anggur Baru Kirbat Baru
06 Mei '18
Bersaksi Bagi Kristus
18 Mei '18
Bersaksilah Bagi Semua Bangsa
03 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang