SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Uang adalah sarana, bukanlah raja.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bebas Sesungguhnya
Bebas Sesungguhnya
Rabu, 06 September 2017
Bebas Sesungguhnya
1 Timotius 6:10; Lukas 19:1-10

Tahukah kita mengapa perusahaan dagang VOC bangkrut total? Perusahaan besar yang sempat sukses memonopoli hasil kekayaan alam Nusantara ini hanya berusia kurang dari 2 abad. Pada tahun 1799 VOC rusak parah karena digerogoti korupsi yang mewabah di dalam diri para pegawainya. Akhirnya sendi-sendi penopang perusahaan tak bisa lagi menahan beban korupsi yang maha besar, dan ambruk luluh berkalang tanah-lah raksasa ekonomi ini.

Melihat tinta sejarah kelam yang ditorehkan oleh pengalaman VOC itu, kita jadi ngeri melihat perilaku korupsi yang tak kunjung surut di negeri tercinta ini. Meski KPK telah dibentuk dan bekerja keras, toh… korupsi tetap trengginas. Upaya untuk membuat malu dan jera para koruptor sepertinya tidak berdampak apa-apa. Mungkinkah ini membuktikan bahwa korupsi telah membudaya di negeri tercinta ini? Semoga saja tidak! Tetapi jika benar demikian, kita patut mengkuatirkan masa depan negeri ini. Meski negara lebih kuat daripada sebuah perusahaan, namun korupsi bagai jamur yang sedikit demi sedikit mampu mengeroposkan tembok raksasa di China sekalipun.

Kenyataan korupsi menunjukkan kebenaran firman Tuha...selengkapnya »
Hati yang tenang Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Kehidupan kita dikendalikan oleh hati. Apakah kita sedang tertawa, atau sedang sedih , atau sedang marah ditentukan oleh bagaimana keadaan hati kita. Apakah kita sedang bersemangat menjalani hidup ini, ataukah sedang lesu tak bersemangat, juga ditentukan oleh keadaan hati kita. Kesehatan tubuh kita juga dipengaruhi oleh keadaan hati kita. Sebagaimana Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi hati yang iri membusukkan tulang. Firman Tuhan berkata: ’Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.’ [Amsal 4:23]. Oleh karena itu betapa pentingnya menjaga hati kita, agar selalu memancarkan kehidupan yang baik. Tetapi seringkali situasi di luar mempengaruhi bahkan mengendalikan keadaan hati kita. Misalnya tekanan-tekanan hidup, perkataan-perkataan yang negatif dari orang di sekitar kita, atau berita-berita tentang situasi politik atau ekonomi yang membuat kita kecil hati, semua itu seringkali merampas sukacita dan damai sejahtera dari dalam hati kita. Menjaga hati agar tetap tenang merupakan kunci dari hidup sehat dan bahagia. Hati yang tenang adalah hati yang selalu dekat dengan Tuhan. Di dalam dekat dengan Tuhan ada perlindungan yang sebenarnya. Itu bukan sekedar perasaan, tapi sungguh sebuah realitas. Firman Tuhan sendiri memberikan jaminan itu: ’Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.’ [Mazmur 62:2-3] Jemaat yang dikasihi Tuhan, jika Anda ingin hidup dengan sehat dan memiliki hati yang tenang, jalanilah hidup ini dengan mempercayai Tuhan. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak bisa mengendalikan semuanya, tetapi jika kita selalu berada dekat dengan Tuhan, kita mendapatkan perlindungan dan hati kita akan merasa tenang. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut. Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan selamatlah dia. Selama kita hidup, maka seringkali kita akan menerima segala macam tanah dan kotoran, yaitu segala macam masalah dan persoalan kehidupan ini. Cara untuk keluar dari “sumur masalah” adalah dengan menghilangkan segala pikiran negatif dalam diri kita dan mampu menderita, serta terus bekerja dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya mulai menyelesaikan masalah dengan terus melangkah maju, setahap demi setahap, terus mengatasi masalah demi masalah seumur hidup kita. [WIN] Pokok renungan: Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
Karya terbesar Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dua minggu lagi kita akan memperingati hari Natal, hari kedatangan Sang Juruselamat dunia. Kedatangan Kristus sang Mesias telah memulai sebuah zaman baru dalam sejarah dunia ini, yaitu zaman anugerah keselamatan. Kedatangan Kristus memulai sebuah karya agung penyelamatan manusia dari dosa. Untuk mewujudkan sebuah rencana yang besar pasti dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Sebagai contoh, kalau sebuah produser film ingin membuat sebuah film yang fenomenal, seperti sebuah film kolosal, pasti harus mengeluarkan modal yang besar, harus mencari sutradara yang terbaik, pemeran yang terbaik, dan produsernya pasti mau memastikan bahwa semua berjalan dengan baik. Penyelamatan manusia agar dilepaskan dari belenggu dosa adalah sebuah pekerjaan yang maha besar, paling besar di segenap alam semesta. Untuk pekerjaan yang maha besar ini, Allah rela memberikan yang terbaik dari diri-Nya, yaitu Putra Tunggal-Nya. Untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa memang membutuhkan biaya yang besar. Allah harus mengerjakan langsung pekerjaan ini. Dari hal ini kita bisa melihat betapa besarnya karya penyelamatan manusia, yaitu sebesar pengorbanan yang diberikan oleh Allah sendiri. Allah sendiri harus turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia. Kita bersyukur karena hidup kita sebagai manusia begitu berharga bagi Allah, sehingga Dia rela untuk membayar harga yang begitu mahal untuk menyelamatkan kita. Demikian juga jika kita diajak untuk terlibat di dalam pekerjaan yang begitu besar dan mulia ini, kita patut menghargainya dan mengerjakannya dengan segenap hati. Tuhan Yesus mengajak kita untuk ikut terlibat di dalam pekerjaan yang besar ini. Kalau kita sudah diselamatkan dan telah mendapat jaminan hidup yang kekal, marilah kita peduli kepada jiwa-jiwa di sekitar kita yang masih memerlukan keselamatan. Ikutlah ambil bagian dengan mendoakan mereka dan memberikan kesaksian yang baik dari hidup kita yang telah ditebus oleh darah Yesus. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Mas Nanang baru saja selesai studi SMK jurusan mesin dan bermaksud melanjutkan studi ke jurusan teknik sambil bekerja. Akhirnya dia diterima di salah satu perusahaan bengkel automotif sebagai tenaga teknisi dan sorenya masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan kuliah. Namun satu komitmen yang mas Nanang tidak pernah lupa adalah memberikan waktunya untuk melayani anak-anak tunas dan Youth di gerejanya. Bagi mas Nanang apa yang dikerjakan setelah percaya Tuhan Yesus adalah untuk memuliakan Dia melalui hidupnya. Akhirnya mas Nanang dapat menikmati berkat Allah, karena bisa lulus kuliah tepat waktu dan di pekerjaan, dia dipercaya sebagai kepala devisi teknik yang membawahi banyak anak buah. Renungan hari ini sudah tidak asing bagi kita bahkan sudah berulang kali kita membaca dan mendengarkan ulasan dari nats ini, akan tetapi kali ini kita akan membahas sisi yang lain dari nats tersebut, yaitu mengapa kita sebagai orang yang sudah percaya kepada Tuhan Yesus harus mempersembahkan tubuh kita atau hidup kita seutuhnya kepada Allah sebagai perwujudan ibadah sejati kita. Pertama, demi Kemurahan Allah [ayat 1]. Inilah alasan utama mengapa kita mempersembahkan hidup kita kepada Allah, yaitu “demi kemurahan Allah” yang telah mengorbankan dan mempersembahkan Tuhan Yesus mati di kayu salib. Harga yang sangat mahal harus Allah relakan dan korbankan demi menebus kita. Tanpa hal ini dilakukan Allah tidak mungkin kita bisa memiliki dan menikmati kehidupan baru seperti saat ini. Kedua, berkenan kepada Allah [ayat 2]. Ini adalah tujuan hidup kita sebagai orang percaya setelah kita diselamatkan dan dilahir barukan oleh penebusan Tuhan Yesus di kayu salib. Hidup berkenan di hadapan Allah merupakan tujuan hidup kita hari lepas hari sehingga kita bisa melakukan apa yang menjadi kehendak Allah atas hidup kita. Ketiga, sempurna di hadapan Allah [ayat 2]. Ini fokus dan target tertinggi dari hidup kita di kekekalan nanti. Sebab kalau hidup kita tidak berkenan dan tidak sempurna di hadapan Allah, kita bisa saja ditolak masuk dalam kerajaan Allah. Cara untuk melakukan tiga hal ini adalah merubah pola pikir hidup kita, yaitu tidak sama dengan pola pikir dunia dan memperbaharuinya hari lepas hari. Natal adalah wujud persembahan dan pengorbanan Allah seutuhnya demi kehidupan manusia berdosa melalui pribadi Tuhan Yesus Kristus. Dan apa yang dilakukan Tuhan Yesus sepanjang hidup hingga kematian-Nya di kayu salib merupakan wujud persembahan diri dan hidup-Nya kepada Allah. Bagaimana dengan kita setelah percaya Tuhan Yesus, sudahkah kita mempersembahkan hidup kita seutuhnya? Atau kita masih menyisakan sebagian untuk diri kita? Teladanilah Tuhan Yesus, maka kita bisa seutuhnya mempersembahkan hidup kita kepada Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
08 Desember '17
Apakah Dia Benay?
27 November '17
Pengelola Bukan Pemilik
12 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang