SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Pohon berbuah untuk dinikmati, begitu juga tentunya hidup kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Berakar Ke bawah Bertumbuh Ke atas1
Berakar Ke bawah Bertumbuh Ke atas1
Jumat, 14 Juli 2017
Berakar Ke bawah Bertumbuh Ke atas1
Kolose 2:6-8
Setiap kita tentu pernah memakan buah mangga, apel, rambutan, durian atau buah-buahan lainnya. Tahukah kita dari manakah asal buah-buahan itu? Tentunya dari biji yang ditanam, kemudian dirawat dan mengalami pertumbuhan semakin besar dan kemudian menghasilkan buah yang dapat kita nikmati. Demikian juga halnya kehidupan rohani kita kalau ingin menghasilkan buah-buah yang baik dan dapat dinikmati oleh orang-orang sekitar kita.

Ayat firman Tuhan di atas memberi pesan atau nasihat, saat percaya kepada Kristus di dalam kita ada benih yang baru [Yohanes 12:24]. Agar benih itu dapat bertumbuh, maka harus tetap setia kepada Kristus dan setia pada gereja-Nya. Juga harus terus membangun persekutuan dengan Dia melalui pembacaan Firman Tuhan, membangun persekutuan doa secara pribadi, dan beribadah dengan setia. Maka sebagaimana biji tumbuhan yang ditanam dan dirawat dengan baik akan bertumbuh dan menghasilkan buah untuk dinikmati banyak orang, demikian juga tentunya kehidupan rohani kita.

Dengan demikian visi dan tujuan dalam hidup kita untuk menjadi jemaat yang berdampak bagi sesama akan menjadi kenyataan. Tentunya nats Alkitab di atas tidak saja mengharapkan jemaat di Kolos...selengkapnya »
“Benay pulang, Benay akan pulang, asyik-asyik...lalalalalala.” Sore itu Mbah Wanidy tampak gembira sekali. Seraya meracik segelas es teh pesanan Pdt. Itong, ia tak habis-habisnya bernyayi-nyanyi sambil sesekali bergoyang pinggul. “Lho...Mbah Wanidy dapat kabar dari mana?”, tanya Pdt. Itong, “Jangan keburu gembira dulu Mbah! Rumor yang beredar justru menyatakan bahwa Benay sudah tidak ada alias mati, kesrempet bom di Iraq.” “No..no..no..no”, jawab Mbah Wanidy ke Inggris-inggrisan, “Kali ini sumber beritaku terjamin keakuratannya. Mas Rabenay, kakak kandung Benay, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di pelabuhan. Dan ia sendiri yang menyampaikan bahwa awal tahun 2018 ini Benay akan pulang kampung.” Pdt. Itong memandang keheranan dan hampir tidak percaya bahwa Benay akan pulang. “Tapi..ngomong-ngomong mengapa Mbah Wanidy kok senang sekali jika Benay akan pulang? Bukankah dia tukang ngutang di warung Mbah?” “Justru itulah Nak Itong. Kalo Benay pulang ada harapan hutangnya dibayar lunas..nas..nas.” “Emangnya berapa hutang Benay?” tanya Pdt. Itong. “Rp. 37.739! Belum termasuk bunga dan PPN.” “Walah..walah..utang segitu saja kok dipikirin”, kata Pdt. Itong, “Hutang Mbah Wanidy pada saya kan jumlahnya jauh lebih besar. Masih ingat jumlahnya?” Tak menduga bakal “ditembak” seperti itu wajah keriput Mbah Wanidy segera memerah. Ia tampak malu sekali. Jemaat yang terkasih. Kisah di atas memiliki kesejajaran dengan hal mengampuni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus. Melalui sebuah perumpamaan, Tuhan mengisahkan bagaimana pengampunan harus menjadi gaya hidup Rasul Petrus. Bukan tujuh kali mengampuni. Melainkan 70 X 7 kali. Dalam hal ini Tuhan tidak bermaksud mengajari Rasul Petrus matematika, yaitu hasilnya 490 kali mengampuni. Tetapi maksud sebenarnya adalah mengampuni setiap saat dan tak ada batasnya. Mengapa? Karena Tuhan, oleh kasih karunia-Nya, telah lebih dahulu mengampuni Rasul Petrus. Padahal, sama seperti seluruh umat manusia, dosa dan pelanggaran Rasul Petrus begitu besar. Maka kepada orang-orang yang pernah berbuat salah atau menyakiti hatinya, Tuhan berkehendak agar Rasul Petrus mau mengampuni mereka. Sebab dengan demikian ia belajar mensyukuri pengampunan Tuhan yang telah diterimanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Sama seperti kepada Rasul Petrus, Tuhan juga menghendaki kita untuk menjadi ahli dalam mengampuni. Jangan salah sangka! Pengampunan tidak harus berbarengan dengan hilangnya sakit hati; Pengampunan juga tidak harus segera diikuti dengan pulihnya relasi seperti sedia kala; Pengampunan tidak selalu harus menghilangkan konsekwensi/hukuman yang harus diterima oleh orang yang menyalahi kita. Pengampunan adalah hal keputusan. Keputusan pribadi kita untuk mau mengampuni orang lain. Dan itu berarti demi terpeliharanya kesejahteraan dan kedamaian dalam hati kita. Selamat mengampuni. Terpujilah Tuhan!.
Keyakinan yang kokoh dalam Injil Roma 1:16-17 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman.’ Kita tidak mungkin meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kita sendiri tidak meyakininya. Misalnya kita merekomendasikan sejenis daun tertentu yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit. Kalau kita belum mengalami sendiri khasiat penyembuhan daun itu, maka kita tidak mempunyai keyakinan untuk kita rekomendasikan pada orang lain. Paling kita hanya bisa berkata: ’Katanya daun ini berkhasiat untuk menyembuhkan. Tapi pastinya saya tidak tahu....’ Beda kalau kita sendiri mengalaminya. Kita akan berkata: ’Daun ini sangat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit ini. Buktinya saya sembuh karena daun ini.’ Demikian juga jika kita ingin meyakinkan orang lain akan kebenaran Injil Kristus, maka kita harus terlebih dahulu mengalami kebenaran dan kuasa Injil Kristus itu. Rasul Paulus sangat giat mengabarkan Injil karena dia mempunyai keyakinan yang kokoh kepada Injil. Dia meyakini bahwa Injil sanggup menyelamatkan orang berdosa, bahwa Injil sanggup mengubah hidup seseorang. Dia sangat meyakini kuasa Injil karena dia sendiri sudah mengalaminya. Hidupnya diubahkan oleh Injil Kristus. Dulunya dia adalah seorang yang menentang iman kepada Kristus, sehingga dia selalu benci dan menganiaya orang yang percaya kepada Kristus, tetapi sejak dia berjumpa dengan Yesus, dia berubah menjadi seorang yang giat memberitakan Injil Kristus. Melalui pelayanannya banyak orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Kalau seorang belum pernah mengalami kuasa Injil Kristus, maka tidak mungkin dia meyakini kuasa Injil. Maka kuncinya adalah mengalami terlebih dahulu. Sesudah mengalaminya, barulah dia dapat bercerita kepada orang lain tentang kuasa Injil itu. Kalau kita ingin menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang, maka kita terlebih dahulu harus mengalami kuasa Injil. Setelah itu baru kita bisa mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil. Keyakinan itulah yang membuat kita giat membawa jiwa-jiwa kepada Kristus. Marilah kita merindukan pengalaman-pengalaman baru bersama dengan Tuhan Yesus. Tuhan memberkati kita. Pdt. Goenawan Susanto
Di awal tahun ini, Pak Matsu memulai pertanian dengan pembibitan benih bunga selasih. Pembibitan ini dimulai dengan mencangkul tanah supaya menjadi gembur. Setelah itu, tanah tersebut dicampur dengan pupuk kandang agar menjadi subur. Sebelum bibit bunga selasih ditabur ditanah tersebut, Pak Matsu terlebih dahulu membuat pagar untuk sekeliling tempat pembibitan agar tidak dirusak oleh binatang-binatang piaraan. Setelah proses pengolahan tanah selesai, benih siap ditaburkan. Dan menunggu beberapa minggu untuk melihat pertumbuhan dari benih tersebut. Kira-kira 3 bulan benih yang sudah tumbuh bisa dipindahkan di ladang atau di pot. Agar menghasilkan benih yang dapat bertumbuh dengan baik maka diperlukan tanah yang subur. Dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang kehidupan orang yang percaya. Tipe pertama adalah orang yang mendengar firman tetapi tidak menyimpannya sehingga iblis datang untuk mencurinya. Oleh sebab itu, benih itu tidak dapat tumbuh sama sekali. Tipe kedua adalah orang yang mendengar firman dengan bersukacita, tetapi tidak sampai berakar yang kuat, karena dasarnya tidak kokoh. Ketika panas terik menyengat, mulailah layu imannya tanpa menghasilkan apa-apa. Tipe ketiga adalah orang yang menerima firman, berakar, dan bertumbuh. Namun pertumbuhannya berada di tengah-tengah semak duri yang semakin hari semakin lebih besar. Akhirnya matilah pertumbuhan itu, karena tidak kuat menghadapi berbagai tantangan dan persoalan yang menghimpit dan menekannya hari lepas hari. Tipe yang keempat adalah tipe tanah yang subur. Orang percaya yang telah menyiapkan hatinya untuk ditaburi benih firman. Jadi ketika firman itu ditaburkan, maka akan bertumbuh dengan sangat baik. Ia berakar semakin kuat dan pada saatnya akan menghasilkan buah yang banyak dan dapat dinikmati. Jemaat terkasih, setiap orang percaya pasti merindukan menjadi tipe yang keempat, yaitu menjadi tempat yang subur untuk menerima firman Tuhan. Akan tetapi untuk menjadi subur tidaklah instan. Maka hidup kita harus senantiasa dipersiapkan, yaitu melatih diri berfokus pada firman, merenungkan firman itu siang dan malam, serta menggumulkan di dalam doa supaya rema itu dapat tertanam dalam hati, berakar kuat, bertumbuh subur, dan pada akhirnya berbuah lebat. Mari menyiapkan seluruh kehidupan ini menjadi tempat bertumbuh dan berbuahnya firman Tuhan.
Pada ayat ini Paulus menyatakan bahwa panggilan Allah adalah untuk memberitakan Injil. Namun apa yang Paulus maksudkan dengan “Injil”, yaitu realitas penebusan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Kita cenderung menempatkan pengudusan sebagai tujuan pemberitaan kita. Paulus mengacu pada pengalaman-pengalaman pribadi hanya sebagai ilustrasi, tidak pernah sebagai tujuan akhir. Kita tidak ditugaskan untuk memberitakan keselamatan atau pengudusan. Kita diamanatkan untuk meninggikan Yesus Kristus [lihat Yohanes 12:32]. Tidaklah adil untuk mengatakan bahwa Yesus Kristus bekerja dalam penebusan untuk membuat saya menjadi orang kudus. Yesus Kristus berjerih lelah dalam penebusan untuk menebus seluruh dunia dan meletakkannya secara utuh di hadapan tahta Allah. Fakta kita mengalami penebusan menunjukkan kuasa dari realitas penebusan itu, tetapi pengalaman tersebut hanyalah hasil sampingan bukan tujuan akhir dari penebusan. Seandainya Allah adalah manusia, tentu betapa bosannya Dia mendengar permintaan kita. Yang terus menerus memohon diselamatkan dari sesuatu yang semuanya mengacu untuk kita sendiri. Namun ketika kita menyentuh fondasi realitas Injil Allah, kita tidak akan pernah menyusahkanNya dengan masalah pribadi kita yang sepele. Satu-satunya hasrat hidup Paulus adalah memproklamirkan Injil Allah yaitu Yesus Kristus. Ia menerima kesedihan hati keraguan, ditolak, dipenjara bahkan penganiayaan hanya untuk satu alasan. Memberitakan Injil Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mata Tuhan Melihat
23 Januari '18
Gereja : Komunitas Keselamatan
04 Februari '18
Hidup Menurut Roh Vs Menurut Daging
02 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang