SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Orang kristen wajib menghasilkan buah yang lebat.
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Berbuah Lebat
Berbuah Lebat
Sabtu, 25 November 2017
Berbuah Lebat
Yohanes 15:8

Ketika kita menanam pohon buah-buahan, wo......, alangkah senangnya hati kita melihat pohon yang kita tanam berbuah lebat. Bagi seorang petani buah-buahan, hasil buah yang banyak berarti pemasukan yang banyak juga. Untuk memperoleh buah yang banyak kita harus memperhatikan dan merawat kondisi pohon yang ditanam. Dibutuhkan tanah yang baik, air yang cukup, sinar matahari, pupuk, dsb. Tanah, air, udara, sinar matahari, pupuk merupakan penunjang sumber alam yang sangat penting. Itu semua bukan ciptaan manusia tapi ciptaan Sang Pencipta alam yang Mahakuasa.

Seperti juga petani buah-buahan yang mengharapkan pohon yang ditanam berbuah banyak, demikian juga Tuhan. Manusia dicipta Tuhan dan ditempatkan di bumi. Tuhan mengharapkan/menghendaki manusia berbuah banyak. Firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa Bapa kita di sorga dipermuliakan apabila kita berbuah banyak dan kita disebut sebagai murid-murid-Nya. Dua hal utama yang harus kita lakukan sebagai orang Kristen, yaitu memuliakan Tuhan, Bapa kita yang kekal dan menjadi murid-Nya. Kita perlu merenungkan dalam-dalam arti Kristen. Kristen adalah pengikut Kristus, Kristen adalah murid Kristus. Begitu kita menyebut diri kita Kristen tidak cukup hanya rajin kebaktian di gereja, baca Alkitab dan berdoa setiap hari, akti...selengkapnya »
Di dalam kehidupan, manusia pasti pernah mengalami saat-saat yang sulit dan merasa tersesat tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin mengalami pencobaan di dalam kehidupan keluarga, kesulitan ekonomi dan mungkin juga mengalami kekeringan rohani dalam kehidupan spiritual. Dan akhirnya hidup serasa tersesat tidak tahu harus ke mana dan bagaimana. Hal itu mungkin pernah kita alami, namun itulah keidupan yang harus dijalani. Jika hidup kita sedang tersesat atau mungkin pernah tersesat maka mari kita melihat kembali apa yang Yesus ajarkan. Dalam Injil Matius 18:10-14, Tuhan Yesus memberikan pengajaran tentang kasih kepada yang terhilang. Yesus mengatakan bahwa anak-anak yang polos itu sama seperti malaikat-malaikat di surga yang memandang wajah Allah. Sebenarnya malaikat tidaklah identik dengan anak kecil, tetapi Tuhan Yesus mengingatkan bahwa di hadapan Allah, para malaikat memandang wajah Bapa-Nya dan bersikap seperti anak kecil yang rendah dan taat mutlak. Ketaatan dan kerendahan hati inilah yang membuat para malaikat sujud dan menyembah Allah. Setelah memberikan gambaran umat-Nya yang dikasihi seperti anak-anak, lalu Ia menggambarkan umat yang dikasihi-Nya seperti domba-domba yang dikasihi oleh gembala mereka. Umat-Nya yang dipandang rendah oleh dunia ini pun dicari oleh Allah seperti kesungguhan seorang gembala yang mencari dombanya yang tersesat. Bapa di surga tidak ingin anak-anak-Nya tersesat dann terhilang. Terhilang karena tidak percaya Tuhan, terhilang karena terjerumus dalam dosa, terhilang kaerna terjerat tipu muslihat Iblis. Tuhan tidak ingin itu terjadi kepada anak-anak-Nya. Tuhan begitu mengasihi kita semua, Ia tidak ingin kita tersesat. Ia meninggalkan yang lain untuk mencari yang tersesat. Yang tersesat memerlukan perhatian lebih. Mari kita mengambil peran bagi saudara kita yang sedang tersesat, bawa mereka kembali kepada Tuhan. Berikan dukungan dan semangat supaya mereka kembali kepada Tuhan. Atau mungkin saat ini kita merasa terhilang jauh dari Tuhan, maka segeralah datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan penyerahan diri penuh, pasti Ia akan menghampiri dan memeluk kita dengan cinta dan kasih-Nya sehingga kita terbebas dari segala hal yang mengikat. Bapa di surga begitu mengasihi kita dan tidak ingin kita terhilang.
Kejujuran dan kepercayaan Amsal 22:1 Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Pada hari Kamis tanggal 16 November 2017 terjadi sebuah kecelakaan tunggal. Sebuah mobil menabrak tiang lampu penerangan jalan [bukan tiang listrik seperti kata banyak orang]. Meskipun tidak dalam kecepatan tinggi kelihatannya mobil itu rusak parah bagian depannya. Seorang penumpang di dalam mobil itu mengalami cedera berupa memar di kepalanya. Para pembaca pasti tahu siapa yang saya maksud. Banyak orang tidak percaya bahwa itu adalah kecelakaan yang murni, walaupun tidak ada yang berani memastikan bahwa itu adalah sebuah rekayasa. Berbagai macam penjelasan diberikan oleh pihak yang mengalami kecelakaan itu. [Memang sungguh aneh bahwa seorang yang mengalami kecelakaan harus meyakinkan kepada publik bahwa dirinya benar-benar mengalami kecelakaan]. Tapi biarpun diyakinkan sedemikian rupa publik tetap tidak percaya terhadap penjelasan pihak yang mengalami kecelakaan itu. Banyak orang mengalami kecelakaan, tapi tidak perlu berusaha meyakinkan publik bahwa dirinya telah mengalami kecelakaan. Tidak perlu dijelaskan apalagi diyakinkan juga orang-orang sudah tahu bahwa telah terjadi kecelakaan atas orang tersebut. Tapi mengapa yang satu tadi berbeda? Karena publik sudah tidak percaya kepada orang yang mengalami kecelakaan itu. Andaikan dia sebenarnya sungguh-sungguh mengalami kecelakaan pun, publik tetap tidak percaya. Mengapa bisa demikian? Masalahnya adalah soal kepercayaan publik terhadap track record orang tersebut. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini? Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah: 1. Nama baik [reputasi] itu sesuatu yang sangat berharga. Firman Tuhan berkata bahwa nama baik itu lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Punya kekayaan yang besar tetapi kalau tidak mempunyai nama baik hidup kita tidak ada nilainya. 2. Kepercayaan dari publik tidak bisa diganti dengan penjelasan apapun. Publik menilai kejujuran kita dari track record kita. Kalau track record jelek tidak bisa dihapus dengan penjelasan apapun. Kita hanya bisa menjaga agar track record kita tetap baik. Berjalanlah dalam kebenaran, maka hidupmu akan beruntung. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Konon, wanita tidak bisa jauh dari sesuatu yang bersifat ’hiasan’. Benar atau tidak, Andalah yang menilai. Wanita mana yang tidak suka mengenakan perhiasan? Wanita mana yang tidak suka pernak-pernik? Kebanyakan wanita suka memasang pohon natal. Hal apa yang menyenangkan soal pohon natal? Menghias pohon natal itu, bukan? Setiap awal bulan Desember para kaum ibu mulai merakit kembali pohon natal dan mengubah hiasannya menurut kreasinya sendiri. Tiap tahun ganti tema. Bagi pria yang penting ada pohon natal. Tapi bagi wanita kepuasan terbesarnya adalah bagaimana pohon natal itu jadi indah karena ada hiasan-hiasannya. Tahukah Anda bahwa Tuhan juga suka hiasan? Hiasan seperti apa yang disukai Tuhan? Kekudusan. Dalam 1 Tawarikh 16:29 dikatakan, ’Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan.’ Frasa’berhiaskan kekudusan’ ini ditulis berulang-ulang kali dalam Alkitab, yaitu ketika kita hendak datang menghampiri Tuhan. Dengan kata lain, jika kita hidup dalam kekudusan maka itu sesuatu yang sangat indah di hadapan Tuhan. Itu menyenangkan hati-Nya. Hidup dalam kekudusan membuat Tuhan puas melihat kita. Sayangnya, kerap kita mengabaikan hal ini. Kita tidak mau mengerti hati Tuhan. Kita bahkan tidak berusaha mencari tahu apa selera Tuhan dan hal apa yang menyenangkan hati-Nya. Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa menghampiri Tuhan dengan berhiaskan kekudusan adalah sesuatu yang menyenangkan hati-Nya. Bayangkan seorang wanita yang berbinar-binar ketika melihat perhiasan, demikian juga hati Tuhan senang melihat anak-anak-Nya hidup berhiaskan kekudusan.
Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.” Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita. Doa bagi sesama berarti kita dengan sengaja mengganti rasa simpati alami kita dengan minat Allah terhadap sesama Doa bagi sesama membuat kita tidak mempunyai waktu maupun kecenderungan untuk mendoakan “kesedihan dan belas kasihan” untuk diri kita sendiri. Kita harus menyatukan diri sepenuhnya dan menyeluruh dengan minat dan kepeduliaan Allah dalam hidup orang lain. Allah memberi kita kepekaan terhadap kehidupan orang lain sehingga menggerakkan kita untuk berdoa bagi mereka dan bukan untuk mencari kelemahan mereka.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Persembahkan HidupMu
05 Desember '17
Menjadi Baru Bersama Yesus
01 Desember '17
Hadirnya Secercah Harapan
15 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang