SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Bagian kita adalah bersaksi, Roh Kudus yang mengubah hati
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersaksi Bagi Kristus
Bersaksi Bagi Kristus
Jumat, 18 Mei 2018
Bersaksi Bagi Kristus
Kisah Para Rasul 1:1-11

Saya belajar memberitakan kabar tentang keselamatan di dalam Yesus kepada anak-anak yang saya layani. Sekalipun mereka belum percaya, namun ketika mereka mendengar firman biarlah kuasa Roh Kudus yang menolong mereka untuk memahami Kristus Sang Juruselamat. Kesempatan yang mungkin tidak ada duanya untuk berbagi sukacita di dalam Yesus Kristus. Sebagai guru yang mengajarkan pendidikan agama kristen, merupakan suatu kesempatan yang baik untuk menyampaikan kasih Tuhan kepada dunia. Banyak di antara para murid yang belum percaya kepada Tuhan Yesus, maka dari itu, selama saya memberikan pelajaran, saya berusaha untuk berbagi cerita tentang keselamatan yang Tuhan Yesus anugerahkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Sekalipun saat itu mereka tidak langsung percaya, namun suatu saat karya tangan Allah Roh Kudus akan menolong mereka untuk memahami arti keselamatan di dalam Kristus.

Nats ini menunjukkan kepada semua orang percaya bahwa Roh Kudus adalah kuasa Allah yang dicurahkan dalam kehidupan manusia. Melalui kuasa Roh Kudus, Allah terus berkarya untuk keselamatan manusia. Di dalam kehidupan orang percaya, Roh Kudus dapat bekerja melanjutkan berita sukacita bagi dunia. Dengan dijanjikan Roh Kudus, maka para murid yang sempat mengalami ketakutan diberikan keberani...selengkapnya »
Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen ? Apa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan dan Sesama ? Apakah kita selama ini masih memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri, perusahaan/bisnis sendiri ? Kalaupun melayani juga sesungguhya hanya untuk diri sendiri, seperti popularitas diri sendiri, dll, yang selalu hanya fokus kepada diri sendiri. Ataukah sebaliknya rela mengorbankan diri demi kepentingan, kemajuan, membangun orang orang lain, pihak lain. Pernahkan kita berpikir untuk berbuah bagi Tuhan ? Berbuah berarti bermanfaat, berdampak, menjadi berkat, membawa berkat bagi orang lain. Pernahkan kita melihat pohon blimbing makan buahnya sendiri ? Ataupun buah apapun makan buahnya sendiri ? Buah yang dihasilkan oleh sebuah pohon selalu akan dinikmati oleh pihak lain. Entah itu binatang, entah itu manusia. Buah juga berguna untuk memperbanyak/multiplikasi diri. Artinya menjadikan lebih banyak yang sama/serupa, dan tidak pernah terjadi dengan berbuah pohon itu akan menggemukan diri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan berbuah disini adalah: Pertama, menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi orang-orang di lingkungannya. Semuanya tadi dapat kita lakukan melalui perkataan, pikiran, uluran tangan, tenaga, bahkan harta kita. Kedua, memperbanyak diri sendiri. Maksudnya menjadikan orang lain/sesama menjadi murid Kristus seperti kita, yang juga dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi lingkungannya, untuk kemudian memuridkan orang lain. Tuntunan firman Tuhan bagi kita untuk menghasilkan buah sangat jelas. Tidak alasan bagi kita untuk berdalih tidak tahu, tidak bisa. Hanya ada satu cara untuk dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat, bagi lingkungan kalau kita mau. Sesungguhnya berbuah merupakan kerinduan Tuhan Yesus sendiri atas hidup kita. Maka kata Tuhan: ”Tinggalah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu. Maka ia akan berbuah banyak.
Allah senantiasa selalu mencari orang-orang yang dipakai untuk menjadi agen-Nya di dunia. Hal tersebut dapat kita lihat dari beberapa tokoh dalam Alkitab, yang dipakai Allah menjadi agen-Nya. Di antaranya adalah; Abraham, yang menjadi berkat bagi segala bangsa oleh karena ketaatannya akan panggilan Allah. Musa membawa Israel keluar dari Mesir. Yosua membawa bangsa Israel masuk ke tanah Perjanjian. Melalui kisah tokoh-tokoh tersebut, Allah mau supaya kita peka akan suara-Nya, dan kemudian meresponi panggilan-Nya untuk menjadikan kita sebagai agen-Nya, dengan hati yang taat dan setia, serta takut akan Allah. Sebagai agen-agen Allah, apa saja peran kita di dalam dunia ini: Pertama, sebagai Agen Kebenaran. Kita harus meminta kepada Tuhan agar selalu hidup di dalam kebenaran firman-Nya [Maz.119:25]. Ketika kita hidup dalam kebenaran, maka kebenaran dalam diri kita akan termanifestasikan kepada orang di sekeliling kita, sehingga nama Tuhan Yesus dipermuliakan. Kedua, sebagai Agen Kasih Allah. Setiap kita anak-anak Tuhan perlu memancarkan kasih Allah [1 Yoh. 2-4]. Kasih itu bukan sekedar kita rasakan tapi kasih itu kita lakukan, karena kasih adalah sebuah tindakan.Ketika orang percaya membawa kasih Allah, maka tindakan tersebut akan memancarkan kasih dan kemuliaan Allah, sehingga berdampak kepada orang disekitar. Ketiga, sebagai Agen perubahan. Perubahan harus dimulai dari diri kita sendiri, melalui cara berpikir [Rom. 12:1-2]. Kita hanya bisa mengalami perubahan, jika hati dan pikiran diisi oleh Firman Tuhan. Firman Tuhan mampu mentransformasi kehidupan, sehingga mampu mengontrol hati dan pikiran kita. Dengan perubahan yang dialami, kita dapat menjadi agen perubahan untuk lingkungan sekitar. Keempat, sebagai Agen keselamatan. Orang percaya mempunyai tugas untuk memberitakan atau menyampaikan keselamatan kepada dunia yang belum percaya dan belum mengenal Tuhan Yesus, dalam situasi apapun [Rom. 10:14-15; 2 Timotius 4:2]. Apapun tugas yang Tuhan mau untuk dilakukan; tugas kita adalah melakukannya. Oleh karena itu kita perlu memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan [Yesaya 6:8]. Dengan demikian, orang percaya sebagai agen Allah, perlu menjadi saksi bagi dunia, yakni membawa kebenaran, kasih, membawa perubahan dan membawa kabar keselamatan yang berasal dari Tuhan. Untuk itulah kita semua dipanggil, agar dunia tahu, bahwa hanya Yesuslah satu-satunya kebenaran, yang membawa kepada keselamatan dan hidup yang kekal. Amin!
Sam Foss adalah seorang musafir. Suatu ketika di dalam perjalanannya ia merasa lelah dan haus yang sangat. Ia datang mendekati sebuah rumah kecil tidak bercat yang berdiri di atas sebuah bukit. Dekat sisi jalan yang menuju rumah itu, ia melihat tanda dengan tulisan, ’masuklah, dan dapatkan minuman yang dingin.’ Tidak berapa jauh dari tulisan itu Foss menemukan sebuah mata air yang dingin dan sejuk. Di atas mata air itu tersedia gayung tua untuk menciduk air dan di bangku dekat mata air tersebut ada keranjang berisi buah apel yang segar segar dengan tulisan, ’layanilah diri anda sendiri’. Penuh rasa ingin tahu, Foss bergegas menemui pasangan suami istri yang tinggal di rumah kecil itu dan ia pun bertanya tentang tulisan dekat mata air dan keranjang apel yang dilihatnya’. Pasangan suami yang sudah tua itu ternyata tidak mempunyai anak dan mereka hidup dari hasil kebun apel mereka yang tidak seberapa. Mereka bisa digolongkan sangat miskin tetapi dalam hal mata air dan apel, mereka merasa kaya dan berkelimpahan sehingga mereka ingin sekali membagikan kelimpahan tersebut kepada orang-orang yang kebetulan lewat di situ. ’Dalam hal uang kami terlalu miskin untuk menolong orang lain.’ kata pemilik rumah kecil itu, ’tetapi kami berpikir dengan cara ini kami dapat menambahkan serta menutupi apa yang kurang pada kami sehingga kami tetap dapat melakukan sesuatu untuk orang lain.’ Setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk menolong sesamanya. Kita tidak harus menunggu sampai kita cukup mampu dan cukup berada barulah memikirkan kepentingan sesama. Mungkin kita semiskin pasangan suami isteri diatas, kita masih memiliki lebih banyak dari apa yang mereka miliki. Tetapi sekalipun kita memiliki banyak hal, kita tetaplah orang-orang ’miskin’ sebab tidak pernah berpikir untuk menolong orang lain. ’Kekayaan seseorang tidak dapat dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia berikan kepada sesama,’ demikian kata para bijak. Adakah kita memiliki kerinduan untuk berbuat kebaikan bagi sesama? Begitu banyak orang yang kecewa karena tidak menemukan apa yang mereka harapkan dari orang percaya. Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak perusahaan kita, berapa banyak harta yang kita miliki dan berapa banyak tabungan kita, tetapi yang akan Tuhan tanyakan adalah apa yang sudah kita lakukan dengan semua yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.
Ketekunan merupakan hal yang baik untuk terus dilakukan oleh setiap orang. Ketika seorang murid belajar dengan tekun, maka ia akan mudah untuk menguasai setiap materi pelajaran yang diajarkan. Sehingga ketika mendapat soal dari guru, ia akan dapat mengerjakannya. Demikian juga seorang pianis tidak akan mampu memainkan piano dengan baik jika tidak disertai dengan tekun berlatih secara rutin. Semakin tekun berlatih maka permainan piano yang dihasilkan akan semakin bagus. Ketekunan di dalam melakukan hal-hal yang baik akan semakin meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dalam Alkitab juga di tulis mengenai ketekunan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula di dalam kehidupan keseharian mereka. Mereka bertekun oleh karna karya dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri mereka. Jemaat mula-mula bertekun di dalam tiga hal [Kis 2:41-47]. Yang pertama; mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka selalu bertekun mempelajari Firman melalui pengajaran yang diberikan oleh para rasul. Jemaat mula-mula menyediakan waktu untuk mempelajari Firman Allah, karena mereka tahu bahwa Firman Allah akan memimpin hidup mereka dalam kebenaran. Dan melalui pengajaran Firman Allah, iman mereka kepada Yesus Kristus semakin kuat dan tidak goyah. Yang kedua; mereka bertekun dalam persekutuan, yang artinya mereka selalu mengadakan pertemuan-pertemuan ibadah. Mereka berkumpul untuk berdoa dan saling menguatkan. Mereka senantiasa tekun bersekutu ditengah-tengah kesibukan mereka masing-masing. Yang ketiga; mereka bertekun dalam perbuatan kasih. Yang artinya di dalam kehidupan mereka bersama, tidak ada rasa mementingkan diri sendiri. Melainkan saling memberi dan menolong kepada sesama yang membutuhkan. Mereka rela menjual barang milik sendiri dan hasilnya dibagi kepada yang membutuhkan. Sungguh indah hal yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Sebagai jemaat Tuhan marilah kita juga melihat cara hidup jemaat mula-mula yang sungguh indah. Mereka senantiasa bertekun dalam tiga hal di atas dan hasilnya adalah kehidupan mereka menjadi berkat dan menjadi kesaksian hingga banyak orang yang akhirnya percaya kepada Kristus. Mari kita juga bertekun di dalam tiga hal tersebut sehingga hidup kita akan semakin berkenan kepada Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pola Pikir Yang Benar Seorang Anak Tuhan
22 Mei '18
Berserah Dalam Pimpinan Tuhan
06 Juni '18
Belenggu Takhayul
04 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang