SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama denganAku.’ [ Yohanes 15:27 ]
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bersaksi Seumur Hidup
Bersaksi Seumur Hidup
Kamis, 24 Mei 2018
Bersaksi Seumur Hidup
Yohanes 4:7-42

Seseorang yang mengalami peristiwa menyenangkan maupun menyedihkan dalam hidupnya dan sangat berkesan pasti tidak akan terlupakan seumur hidup. Dalam situasi apapun pada setiap kesempatan pasti dia akan menceriterakan peristiwa tersebut kepada orang lain dengan antusias. Seorang ibu yang sedang dirawat di rumah sakit bisa bercerita tentang peristiwa di masa lalunya kepada setiap orang yang menengoknya. Ada juga seorang bapak yang lumpuh karena stroke dan duduk di kursi roda bisa bercerita dengan semangat tentang masa lalunya walaupun dengan artikulasi yang tidak jelas. Pada hakekatnya setiap orang akan menceriterakan peristiwa yang pernah dialaminya seumur hidup dalam situasi apapun.

Ketika Yesus melintasi kota Sikhar di Samaria dan sedang istirahat di tepi sumur Yakub datanglah seorang wanita yang akan mengambil air di situ. Dalam perbincangan wanita itu dengan Yesus, dia merasa kagum karena Yesus tahu akan kehidupannya tanpa dia bercerita. Dia merasakan sesuatu yang beda dan dia menyakini Yesus lawan bicaranya adalah Mesias. Ditinggalkan tempayannya dan dia berlari kembali ke dalam kota bercerita mengenai peristiwa yang dialaminya. Dampak dari ceritanya banyak orang Samaria berbondong-bondong pergi menemui Yesus di sumur itu. Setelah berjumpa dan berbincang denga...selengkapnya »
Cerita dari teman kalimantan mengisahkan tentang jemaat yang digembalakan mengalami kelimpahan karena panen karet dan sawitnya melimpah. Sebagai petani yang sukses, jemaat ini ingin sekali memiliki barang-barang yang bagus. Kemudian ia pergi ke kota untuk jalan-jalan dan berbelanja kebutuhan sehari-hari. Dalam perjalannya di kota, ia melihat iklan air mineral yang sejuk dari televisi. Ia mulai tertarik untuk bisa merasakan kesejukan yang dilihat di iklan itu. Akhirnya ia membeli lemari Es, televisi, DVD dan alat elektronik yang lainnya karena sedang banyaknya uang. Sesampai dirumah, ia ketemu dengan bapak pendetanya, kemudia terjadi percakapan Pendeta : “banyak sekali barang belanjaannya pak!” Jemaat : “iya pak, saya beli Lemari Es, TV, DVD, kipas angin, setrika dll [ dengan sombongnya ] Pendeta : “wah hebat ya, lalu nanti cara pakainya gimana ? la daerah kita kan belum ada listrik terus nyalahkanya bagaimana ?” Jemaat : “oh iya ya [ sambil pegangan kepala ] [ untuk menghindari malu ] ia mengatakan ndak papa pak pendeta, nanti lemari Es bisa dibuat lemari baju, dan yang penting punya.” Pendeta : heem Kisah ini bagi kita akan punya penafsiran sendiri, namun ketika saya perhatikan dari cerita tersebut saya melihat bagian yang prinsip dari jemaat ini yaitu tidak paham, dan hanya mau mengikuti kesenangan karena harta kepemilikan. Keadaan kurang paham sering kali terjadi dalam hidup kebanyakan orang ketika menerima pesan, entah tidak memperhatikan, cuek, menganggap sudah tahu dll. Dan hal inilah yang menyebabkan terbengkalainnya suatu misi atau tujuan karena kurang paham. Dalam perjalanan bersama Yesus sering kali para murid belum mengerti maksud dari Yesus ketika Tuhan Yesus memberikan suatu pesan. Dalam injil Yohanes 4 ditunjukkan bagaimana murid-murid Tuhan Yesus tidak mengerti jika Yesus sedang berbicara masa penuaian. Namun yang dipikirkan adalah makanan bukan pengajaran tentang bagaimana saat penuaian yang harus dikerjakan. Persolannya karena mereka terlalu asik dengan kondisi mereka. Bersama Yesus yang serba ada dan selama mereka bersama dengan Yesus mereka hanya melakukan kegiatan rutin tanpa memahami maksud Gurunya. Kita sering melakukan yang justru tidak berfaedah dan jauh dari maksud dan rencana Tuhan. Kecenderungan kita hanya berputar-putar dengan kegiatan yang sama dan menghabiskan energi. Oleh karenanya kita perlu memahami secara benar maksud Tuhan yang ditaruh dalam diri kita jemaat agar sesuai dengan maksud Tuhan yaitu fokus pada jiwa2 bukan asesoris yang tidak ada hubungan dengan maksud Tuhan dibumi.
Di kampung berpenduduk 145 KK, tinggal dua anak remaja yang bersahabat sejak kecil. Mereka adalah Temo dan Winoyo. Mereka di besarkan dalam keluarga petani dan pedagang tembakau. Suatu malam, ayah Temo punya kerja yaitu merajang tembakau. Semalaman penuh rumah Temo ramai dengan para bapak dari kampung itu. Para bapak membantu merajang tembakau dengan cuma-cuma atau dalam bahasa kasarnya tanpa upah. Upah mereka hanyalah makan ala kadarnya dan nasi ketan lauk tempe, tahu bacem. Tetapi kebersamaan penuh kerelaan untuk saling bekerjasama saling membantu, tolong menolong merupakan modal mereka. Disitulah teladan luar biasa yang dapat dipelajari oleh Temo dan Winoyo. Persahabatan yang didasari dengan kerelaaan yang di tularkan oleh orang tua mereka menjadi modal besar bagi kehidupan Temo dan Winoyo. Sehingga sejak mereka masuk SMA, mereka selalu hidup bersama. Mereka saling memberi jika di antara mereka ada yang butuh sesuatu dan salah satu ada yang punya. Suatu kali, Winoyo tidak punya uang saku untuk naik angkot ke sekolah. Karena Temo dan Winoyo rumahnya berdampingan, maka Winoyo bercerita kepada Temo bahwa hari itu ia tidak sekolah. Kebetulan Temo mempunyai simpanan. Maka hati memberi dan tolong menolong yang tertanam pada diri Temo muncul. Mendengar keluhan Winoyo spontan dengan suara lirih penuh kasih, Temo berkata: “ Udah ayo berangkat saja, nanti aku bayari ongkos pulang pergi sekolah.” Peristiwa di atas mengingatkan kita pada Paulus yang berani berkata kepada anak rohaninya, Timotius, “Hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” Itu berarti sama dengan berkata, “Teladanilah atau ikutilah ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku, dan ketekunanku.” Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk mendidik melalui contoh atau keteladanan. Beranikah kita, baik selaku orangtua kepada anaknya, sebagai guru kepada muridnya, selaku pejabat kepada rakyat atau bawahannya, maupun sebagai pemimpin agama kepada umatnya bersikap demikian? Berkata, “Ikutilah teladan Bapak dan Ibumu”; “Contohlah Bapak dan Ibu gurumu ini”; “Teladanilah para pemimpinmu ini”; “Ikutilah ajaranku! Lihatlah cara hidupku! Ikutilah pendirianku! Teladanilah imanku! Contohlah kesabaranku! Teladanilah kasih dan ketekunanku”? Marilah kita mulai sekarang menjadi berkat dan juga saksi kebaikan bagi orang di sekitar kita melalui teladan hidup kita.
Ketekunan merupakan hal yang baik untuk terus dilakukan oleh setiap orang. Ketika seorang murid belajar dengan tekun, maka ia akan mudah untuk menguasai setiap materi pelajaran yang diajarkan. Sehingga ketika mendapat soal dari guru, ia akan dapat mengerjakannya. Demikian juga seorang pianis tidak akan mampu memainkan piano dengan baik jika tidak disertai dengan tekun berlatih secara rutin. Semakin tekun berlatih maka permainan piano yang dihasilkan akan semakin bagus. Ketekunan di dalam melakukan hal-hal yang baik akan semakin meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dalam Alkitab juga di tulis mengenai ketekunan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula di dalam kehidupan keseharian mereka. Mereka bertekun oleh karna karya dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri mereka. Jemaat mula-mula bertekun di dalam tiga hal [Kis 2:41-47]. Yang pertama; mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka selalu bertekun mempelajari Firman melalui pengajaran yang diberikan oleh para rasul. Jemaat mula-mula menyediakan waktu untuk mempelajari Firman Allah, karena mereka tahu bahwa Firman Allah akan memimpin hidup mereka dalam kebenaran. Dan melalui pengajaran Firman Allah, iman mereka kepada Yesus Kristus semakin kuat dan tidak goyah. Yang kedua; mereka bertekun dalam persekutuan, yang artinya mereka selalu mengadakan pertemuan-pertemuan ibadah. Mereka berkumpul untuk berdoa dan saling menguatkan. Mereka senantiasa tekun bersekutu ditengah-tengah kesibukan mereka masing-masing. Yang ketiga; mereka bertekun dalam perbuatan kasih. Yang artinya di dalam kehidupan mereka bersama, tidak ada rasa mementingkan diri sendiri. Melainkan saling memberi dan menolong kepada sesama yang membutuhkan. Mereka rela menjual barang milik sendiri dan hasilnya dibagi kepada yang membutuhkan. Sungguh indah hal yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Sebagai jemaat Tuhan marilah kita juga melihat cara hidup jemaat mula-mula yang sungguh indah. Mereka senantiasa bertekun dalam tiga hal di atas dan hasilnya adalah kehidupan mereka menjadi berkat dan menjadi kesaksian hingga banyak orang yang akhirnya percaya kepada Kristus. Mari kita juga bertekun di dalam tiga hal tersebut sehingga hidup kita akan semakin berkenan kepada Allah.
Jurnalis sebuah radio mewawancarai ibu Wenny seorang korban bom yang masih dirawat di sebuah rumah sakit karena harus dilakukan tindakan operasi beberapa kali akibat serpihan bom yang masuk dalam tubuhnya. Ibu Wenny juga kehilangan kedua anaknya yang meninggal karena bom yang sama. Di tengah kelemahan tubuhnya dia bisa bercerita dengan antusias ketika ditanya peristiwa bom yang mengenai dirinya dan kedua anaknya. Dia ingat peristiwa itu karena dia tidak pingsan, dia melihat 2 orang remaja berboncengan sepeda motor masuk ke halaman gereja melewati pintu keluar di mana dia dan anak-anaknya juga sedang berjalan masuk lewat pintu yang sama. Tiba-tiba bom meledak dan dia terjatuh dengan banyak luka di tubuhnya. Yang menarik ketika ditanya andai kata ibu bertemu pelaku yang membuat ibu terluka dan kedua anak ibu meninggal, apa yang akan ibu katakan ? Jawabnya“ Saya mengasihi dan mengampuni mereka, saya tidak akan menuntut mereka dengan minta hukuman yang setimpal”. Firman Tuhan berkata janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukan apa yang baik bagi semua orang. Hidup berdamai dengan semua orang. Jangan menuntut pembalasan, tetapi berilah kepada murka Allah sebab ada tertulis :Pembalasan adalah hak-Ku, Akulah yang akan menuntut pembalasan. Berbuatlah kebaikan kepada seterumu dengan memberi kepadanya apa yang dibutuhkannya. Ketika kita mengalami perlakuan orang lain yang membuat kita kecewa, marah, sakit hati dan menderita, bagaimana respons kita ? Bila kita membaca atau mendengar berita rekan, sanak keluarga kita atau saudara kita seiman mengalami penderitaan akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab apakah kita dengan penuh amarah menyarankan untuk menuntut balas ? Mari kita taati firman Tuhan di atas, untuk mengampuni dan tidak menuntut balas dan menyerahkan peristiwa tersebut ke tangan Tuhan karena pembalasan adalah hak-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Membangun Rasa Aman
11 Juni '18
Semangat Berbagi Hidup
27 Mei '18
Pribadi Roh Kudus
23 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang