SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Tidak semua tindakan yang disetujui banyak orang adalah tindakan yang sesuai dengan rencana Tuhan.
DITULIS OLEH
Pdm. Andreas T. Loso
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bertindak Tanpa Hikmat Tuhan
Bertindak Tanpa Hikmat Tuhan
Sabtu, 17 Maret 2018
Bertindak Tanpa Hikmat Tuhan
Kejadian 16:1-6

Bimo berjanji merangkaikan perangkat mobil-mobilan milik adiknya. ’Nanti mas Bimo rangkaikan, sekarang mas Bimo mau pergi dulu ya.’ kata Bimo kepada Doni. adiknya. Tetapi Doni tidak sabar dan dia berusaha merangkai mobil mainannya. Hasilnya, bukannya terangkai dengan baik malahan banyak dari perangkat itu menjadi patah.

Seringkali orang percaya juga tidak sabar menunggu digenapinya janji Tuhan dan mulai bertindak sendiri. Sebagai contoh adalah apa yang dilakukan oleh Abraham atas permintaan Sara. Sebagaimana kita tahu bahwa Tuhan sudah berjanji kepada Abraham untuk memberikan keturunan kepadanya. Tetapi, apa yang mereka lakukan menunjukkan ketidak sabaran dalam menunggu penggenapan janji Tuhan. Mereka akhirnya bertindak sendiri. Memang, bukan perkara yang mudah kalau harus menunggu untuk waktu yang cukup lama. Secara manusia, apa yang Sara usulkan adalah hal yang lumrah dan itu sesuai dengan kebiasaan jaman itu, dimana seorang budak perempuan bisa menggantikan peran nyonyanya untuk membangun keturunan bagi keluarga itu. Namun, yang lumrah bagi manusia belum tentu sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketika hal itu dilaku...selengkapnya »
Sebuah ilustrasi menceritakan kisah tentang kehidupan binatang di sebuah hutan. Kisah tersebut bermula ketika hutan tempat tinggal semua binatang itu di landa angin badai yang besar. Maka terjadilah kerusakan hutan yang parah. Banyak pohon-pohon tumbang yang membuat semua binatang ketakutan. Setelah badai itu reda, ada seekor semut yang berjalan dengan sombongnya karena, ia tidak mengalami kesakitan sedikitpun akibat badai tersebut karena badannya yang mungil. Ketika ia keluar dari sarang yang berada di dalam tanah, ia melihat kepompong yang hanya tergeletak di bawah dahan yang patah. Ia bergumam, bahwa sungguh tidak enak menjadi kepompong yang tidak bisa apa-apa. Ia terkurung dan tidak bisa kemana-mana, sungguh sangat memalukan. Si semut mulai membanggakan dirinya yang selamat dan bisa kemana-mana yang ia mau. Bukan hanya kepompong yang ia hina, tetapi semua binatang yang ia temui. Suatu ketika si semut berjalan di atas jalanan yang berlumpur. Tanpa ia sadari lumpur itu menghisap dirinya semakin ke dalam dan membuatnya semakin tenggelam. Ia mulai berteiak-teriak minta tolong. Lalu datanglah kupu-kupu, ia berkata kepada si semut, “dulu aku adalah kepompong yang kau hina jelek, sekarang aku sudah berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa terbang kemanapun yang kumau, sini aku bantu keluar dari lumpur itu”. Injil Matius 5:43-48 membahas tentang bagaimana seharusnya menunjukkan kasih kepada orang lain. Allah datang bertujuan untuk menggenapi hukum Taurat bukan untuk meniadakannya. Oleh sebab itu, Allah mau menunjukkan perintah untuk saling mengasihi tanpa memandang status. Memang di jaman Perjanjian Lama, difirmankan bahwa, kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu[ayat 43]. Tetapi Allah yang datang dalam nama Yesus menegaskan bahwa kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang telah menganiaya [ayat 44]. Artinya adalah kasih yang Tuhan berikan adalah untuk semua umat manusia. Tuhan juga merindukan agar orang yang telah percaya terlebih dahulu menunjukkan kasih kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan sekalipun mereka membenci orang percaya. Karena dengan demikian, orang-orang yang percaya akan menjadi anak-anak Bapa yang di sorga. Tuhan Yesus mengajarkan untuk berbuat kasih kepada semua orang sekalipun itu musuh yang membenci kita. Seringkali kita menjadi sama seperti semut yang sombong karena kita merasa diri kita sudah selamat dan tidak menghiraukan kehidupan orang lain yang “menderita”. Tetapi kita sangat sulit memposisikan seperti kupu-kupu, yang bersedia menolong walaupun pernah dihina, pernah disakiti. Namun Tuhan Yesus memberikan penegasan bahwa jadilah seperti kupu-kupu yang rela menolong dan mengasihi tanpa memandang status.
Secara alamiah seorang ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari bias juga kurang atau lebih. Selama hamil dia akan menderita, tidak bebas bergerak dengan perut yang membesar, sulit untuk tidur dengan normal, sering mual dan juga sering tidak mempunyai selera makan. Badan menjadi tambah berat sehingga cepat lelah. Pada waktu bersalin merasakan sakit yang tak terlukiskan. Di tengah penderitaan waktu hamil dan bersalin dia tidak pernah menyerah karena penderitaan yang dialami pasti hanya sementara. Penderitaan itu akan diganti dengan sukacita dengan lahirnya seorang bayi yang mungil dan memberi kebahagiaan bagi sang ibu dan keluarganya. Setiap makhluk di dunia termasuk orang Kristen bisa mengalami penderitaan yang datang silih berganti selama masih hidup dalam dunia. Seperti seorang ibu yang sakit waktu bersalin, anak Tuhan pantang menyerah bila penderitaan datang karena yakin bahwa penderitaan yang dialami saat ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kelak akan didapatkan. Roh Kudus akan membantu sebagai perantara berdoa kepada Allah ketika kita tidak dapat berdoa karena beratnya beban. Dalam setiap penderitaan Allah ikut bekerja untuk mendatangkan kebaikan kepada kita. Yang harus dilakukan pada waktu ada masalah adalah tetap tekun dalam iman kepada-Nya. Kita tidak kebal terhadap masalah yang datang silih berganti dan mendatangkan penderitaan. Janganlah menyerah pada penderitaan tetapi tetaplah tekun dalam beribadah, berdoa, baca, renungkan dan lakukan Firman-Nya karena hal itu adalah bagian kita. Penderitaan ada masanya dan selama dalam penderitaan Roh Kudus akan memberi kekuatan. Dan dibalik setiap masalah pasti ada rencana Tuhan yang indah bagi kita. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima.
’Sayap Tanah Air’, ’Pelindung Tanah Air’, atau ’Sayap Pelindung Tanah Airku’ itulah makna semboyan TNI AU yang pada tanggal 9 April diperingati ulang tahunnya, berbarengan dengan peringatan Hari Penerbangan Nasional. Tidak banyak yang mengenal jati diri TNI AU, kebanyakan orang sebatas mengasosiasikan TNI AU dengan sosok pilot Angkatan Udara berseragam gagah yang piawai bermanuver dengan pesawat tempur. Padahal TNI AU memiliki fungsi dan peran yang jauh lebih penting daripada sekedar tampilan luarnya. Begitu juga dengan kehadiran Gereja di tengah dunia. Banyak orang hanya mengenal Gereja sebagai kumpulan orang yang beribadah setiap hari Minggu di dalam bangunan yang diberi simbol salib. Gereja sekedar diasosiasikan dengan agama Kristen dan Katolik. Padahal fungsi dan peran Gereja di dalam dunia jauh lebih penting daripada itu. Sebagai garam dan terang dunia, Gereja memiliki misi untuk mengubah kondisi dunia yang tawar hati dan tak bermakna menjadi berpengharapan; Gereja bertugas merefleksikan segala yang baik dari Tuhan agar umat manusia memuliakan Bapa di surga [Matius 5:16]. Apabila kehadiran Gereja tak memiliki arti bagi dunia, apa bedanya ia dengan garam yang tak berguna selain untuk dibuang? Pun jika Gereja menyembunyikan terang yang ada padanya, lalu apa fungsi yang dijalankannya di dalam dunia? Ibarat sebuah rumah, Gereja janganlah seperti rumah yang terang-benderang namun tertutup rapat pintu dan jendelanya sehingga orang di luar tak dapat melihat cahayanya. Hendaklah Gereja memancarkan terang sehingga orang-orang yang hidupnya tersesat dituntun oleh cahaya itu menuju terang-Nya yang ajaib.
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pantang Menyerah1
29 Maret '18
Menghargai Pengorbanan Yesus
22 Maret '18
Tuhan Yesus Teguh Iman Dan Mengutus
14 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang