SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Hendaklah semangat Natal yang diteladankan Yesus Kristus mewarnai dan kita hidupi dalam keseharian kita.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas Budianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Bukan Efek Soda
Bukan Efek Soda
Kamis, 28 Desember 2017
Bukan Efek Soda
Yesaya 52:13–53:12

Pernahkah kita memperhatikan minuman bersoda ketika dibuka dan kemudian dituangkan ke sebuah gelas? Ketika sebuah botol atau kaleng minuman bersoda dibuka akan menimbulkan suara mendesis. Suara tersebut berasal dari tekanan gas karbon dioksida yang keluar dari dalam botol atau kaleng. Ada dorongan gas yang kuat keluar sehingga menimbulkan bunyi. Kemudian ketika dituang ke dalam gelas, maka akan ada busa yang mengembang dengan cepat ke atas tetapi sesaat kemudian hilang. Beberapa orang mengatakannya sebagai efek soda.

Kelahiran Tuhan Yesus ke dunia menyiratkan semangat Natal itu sendiri. Dari renungan-renungan warta yang telah kita baca selama bulan Desember ini dan dari ayat nats hari ini tentang nubuatan seorang hamba Tuhan yang menderita, kita bisa mendaftarkan semangat Natal yang bisa terus kita hidupi setiap hari, dan bukan hanya sekedar ketika menyambut Natal di bulan Desember. Semangat itu antara lain: semangat kesederhanaan, semangat kepedulian kepada sesama, semangat cinta kasih dan hidup damai dengan sesama, semangat mengabdikan hidup dan kerelaan berkorban bagi Tuhan, dan masih banyak lagi yang bisa kita ...selengkapnya »
“ Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” Seandainya Tuhan menyampaikan kalimat itu kepada kita, kira-kira apa yang akan kita minta ya.? Tentu kita akan minta kesehatan dan umur panjang, atau berkat yang melimpah, keluarga yang diberkati dan rukun, suami/istri dan anak-anak yang cinta Tuhan, financial yang cukup, hutang-hutang lunas semua, bisnis yang lancar jaya dan masih banyak lagi daftar yang akan kita sodorkan. Itu logis dan manusiawi, karena kita memang memerlukan semua itu dalam kehidupan kita. Tapi coba kita lihat apa jawab Salomo, ketika kalimat itu disampaikan Tuhan kepadanya dalam kitab 1 Raja 3:5. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara….” [1 Raja 3:9]. Ternyata bukan umur panjang dan kekayaan yang diminta oleh Salomo, tetapi hikmat dalam menimbang perkara. Salomo tidak meminta sesuatu yang hanya berfokus kepada kehidupan pribadinya saja [ kesehatan, umur panjang, berkat, kekayaan dll ] tetapi lebih memilih permintaan yang berkwalitas, yaitu permintaan yang menambah value atau nilai dalam kepribadian nya. Hikmat, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, hati yang dipenuhi Kasih, kemurahan, adalah beberapa contoh permintaan yang berkualitas, karena bukan saja pribadi kita yang akan merasakan, tapi orang-orang disekitar kitapun akan menerima dampaknya, ketika itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Ketika Salomo meminta hikmat kepadaNya, Tuhan memberikan banyak masalah/persoalan dalam kehidupan Salomo supaya Salomo bisa mempraktek kan apa yang sudah dimintanya. Begitupun bagi kita, saat kita minta kesabaran/kerendahan hati/hati yang dipenuhi Kasih, Tuhan akan menghadapkan kita dengan berbagai masalah/persoalan, dengan maksud supaya kitapun bisa mempraktekkan apa yang sudah kita minta. Tuhan tidak hanya memberikan sebatas yang diminta Salomo, yaitu hikmat untuk menimbang perkara, tapi Dia menambahkan apa yang tidak diminta Salomo. ”... dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan sepanjang umurmu…” [1 Raja 3:13]. Karena itu tidak perlu kawatir dengan apa yang kita butuhkan, karena Dia akan menambahkan apa yang tidak kita minta, ketika kita belajar untuk mengajukan permintaan yang lebih berkualitas kepada Nya.
Seorang kusir koboy akan mengendalikan kudanya menuju ke sasaran sesuai dengan apa yang akan ditujunya. Demikian juga masalah hidup, setiap orang dikendalikan oleh apa yang ada dalam dirinya sesuai sasaran yang akan dicapainya. Hidup Paulus dikendalikan oleh ”panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” itulah sebabnya ia ingin sekalimengenal kuasa kebangkitan Yesus, ia rela menderita demi bersekutu dengan Yesus yang juga sudah menderita untuk dia. Bahkan Paulus menganggap segala sesuatu rugi tanpa pengenalan akan Yesus yang jauh lebih mulia dari apapun di dunia ini [ayat 8]. Sekarang apa yang mengendalikan hidup kita? Banyak orang yang hidupnya dikendalikan oleh sesuatu yang keliru sebagai contoh : 1.Dikendalikan oleh rasa bersalah: mereka dipermainkan oleh masa lalu, menghukum diri sendiri tanpa sadar bahkan melarikan diri dengan bersembunyi dalam hal-hal kenikmatan dunia [narkoba, diskotik, dugem dsb] 2.Dikendalikan oleh kemarahan dan kebencian: mereka gampang tersinggung, sensitif bahkan kalau marah sampai meledak-ledak tak terkendali sehingga menimbulkan kerugian dalam dirinya, orang lain dan lingkungan sekitarnya. 3.Dikendalikan oleh rasa takut: banyak hal yang dapat membuat kita takut, kuatir namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh rasa takut, kuatir maka tanpa sadar kita sudah membangun penjara bagi diri kita. 4.Dikendalikan oleh materialisme: uang, harta memang berguna namun ketika uang dan harta menjadi tujuan yang utama maka ia sudah terjebak di dalam materialisme, ketika sudah terjebak ia rela mengorbankan harkat dan harga diri itulah sebabnya ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya [korupsi, merampok, mencuri, prostitusi dsb]. 5.Dikendalikan oleh kebutuhan pengalaman: pengakuan memang sudah menjadi kebutuhan setiap orang namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh keinginan untuk selalu diakui, maka sesungguhnya kita sedang menggadaikan hidup kita kepada penilaian orang lain/dunia ini. Seperti pertanyaan yang di atas, apa yang mengendalikan hidup anda ? memang hidup harus memiliki tujuan, tanpa tujuan hidup tanpa arti. Apa tujuan hidup kita? yaitu sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Jangan gantikan hanya dengan kekayaan, keberhasilan, kemasyuran, kesenangan karena semua itu hanya sampingan bukan tujuan. Jika kita mengerti rencana dan kehendak Allah atas hidup kita maka kita sedang menuju kepada hidup yang berarti, terfokus, termotivasi dan menjadikan hidup ini menjadi lebih mudah untuk dijalani karena ada Tuhan Yesus Kristus yang menyertai kita. Amin.
Saya pernah membaca cerita sebuah kisah nyata mengenai seorang wanita yang sedang hamil. Ia adalah salah seorang aktifis yg menentang adanya aborsi. Ternyata ia sendiri dihadapkan pada keadaan yg mengharuskan dirinya mengaborsi kandungannya, sebab bayinya didiagonsa memiliki ketahanan tubuh yang rapuh, jika anak itu dilahirkan, umurnya hanya 2 hari saja. Dan bukan hanya itu saja, ada resiko yang akan mengakibatkan kematian si ibu kalau dia melahirkan anak tsb. Dokter menyarankan ia untuk mengugurkan kandungannya. Ia merasa terjepit diantara keadaan bahwa ia adalah seorang penentang aborsi sementara nyawanya terancam kalau ia tidak mengaborsi anak tsb. Namun ia berdoa dan ia mengambil suatu keputusan bahwa ia akan melahirkan anaknya. Ia berkata bahwa anak itu layak untuk hidup walaupun hidupnya hanya sebentar. Suaminya pasrah dan menerima keputusan tsb. Akhirnya ketika bayi itu lahir, ibunya meninggal. Pengorbanan si ibu ternyata tidak sia-sia, anak itu ternyata bertahan hidup selama 2 minggu dan ketika anak bayi itu meninggal, ia mendonorkan ginjal dan jantungnya untuk 2 nyawa bayi lain yang terancam meninggal. Ibu itu mengorbankan dirinya, agar bayi tersebut bisa menghidupkan nyawa bayi-bayi lain. Dari cerita peristiwa di atas, demikian juga pengorbanan Yesus di kayu salib, merupakan bentuk nyata pengorbanan Bapa di Surga untuk keselamatan orang percaya. Yesus harus menderita, di salibkan, mati dan bangkit merupakan pengorban yang tak ternilai harganya. Itu semua Allah lakukan agar kita yang seharusnya di hukum maut oleh dosa, tetapi di selamatkan melalui percaya kita kepada pengorbanan Yesus di kayu salib [Roma 6:23]. Kalau Allah sendiri melalui Yesus rela berkorban untuk kita, lalu apa yang menjadi balasan kita ? Apakah yang dapat kita korbankan sebagai bentuk trimakasih kita pada Allah ? Maka ketika kita dihadapkan kepada pengorbanan, berdoalah kepada Tuhan, apakah yang menjadi kehendakNya, seperti ketika Abraham harus mengorbankan anak tercintanya, Ishak. Ketika Abraham pasrah kepada Tuhan dan ia mengorbankan anaknya, Allah memberikan berkat berlimpah-limpah dan berkali-kali lipat kepadanya. Jika Allah melakukan hal yang sama kepada Abraham, maka Ia-pun pasti akan melakukan hal yang sama kepada kita anak-anakNya juga. Karena dalam suatu pengorbanan yg harus kita pilih, Tuhan memiliki rencanaNya sendiri, hanya tinggal maukah kita menjalaninya, maukah kita mengorbankan harta kita, perasaan kita, bahkan nyawa kita sekalipun? Untuk sesuatu yang lebih besar, untuk kemulyaan Tuhan. Marilah kita mulai memikirkan dan minta petunjuk Tuhan, apakah yang dapat kita korbankan untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kebaikan dan kemulyaan Allah.
Sejenak kita tinggalkan Sambey, Pdt. Itong dan Mbah Wanidy dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepala mereka. Marilah kita arahkan pandangan mata kita nun jauh di sana. Pada sosok Benay yang berada di Iraq, negeri Saddam Husein yang kaya minyak namun sekaligus kaya konflik. Ya, Benay masih hidup dan sangat rindu untuk dapat segera pulang ke tanah air. Ia sudah kangen dengan nasi goreng babat, lunpia Semarang, dan tentu saja nasi bungkus dan racikan kopi khas angkringan Mbah Wanidy. Ia sangat rindu pula pada Sambey, sahabat karibnya. Bayangan canda tawa dan keakraban di antara mereka terukir indah di langit-langit angannya. Dan itu semua membuat waktu penantian seperti ini terasa begitu lama dan sangat menyiksa batin Benay. Namun di sela-sela dera kerinduan itu, ada nuansa kepuasan yang tak terlukiskan dalam nurani Benay. “Sudah selesai”, kata Benay. Kalimat singkatnya itu merangkumkan semua jerih lelah dan pengorbanan yang telah ia persembahkan dalam misi kemanusiaan yang penuh risiko. Ya, Benay sungguh bersyukur diberi kesempatan untuk mencicipi pengalaman-pengalaman yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Melalui pengalaman-pengalaman itu hidupnya makin diperkaya dan kian merasakan campur tangan Tuhan sungguh nyata. Jemaat yang terkasih. Sama seperti Benay yang telah setia dan berhasil menyelesaikan misinya, demikian juga dengan Yesus Kristus. Hidupnya sungguh-sungguh dibaktikan-Nya untuk menggenapi seluruh kehendak Bapa. Yaitu kehendak untuk menanggung dosa seisi dunia, supaya manusia yang berdosa mendapatkan anugerah keselamatan oleh iman kepada-Nya.Saat-saat penghinaan, penyiksaan dan penyaliban yang begitu menyakitkan, menjadi saat-saat yang lama bagi Yesus. Namun Dia begitu sabar menanggungnya dan menjalaninya dengan setia. Hingga saat pamungkas yang dinanti-nanti tiba. Dengan tergantung di kayu salib, Yesus berkata, “Sudah selesai.” Dia menundukkan kepala lalu menyerahkan nyawa-Nya. Dengan perkataan itu Yesus maksudkan untuk menyatakan bahwa: pertama, misi penyelamatan-Nya untuk menggenapi kehendak Bapa sudah rampung; kedua, jangan ada lagi praktek-praktek ketidakadilan dengan mengorbankan orang-orang lemah, miskin dan tak berdaya untuk menanggung/menutupi kesalahan para penguasa yang tak bernurani. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Beberapa hari menjelang peringatan Jumat Agung dan Paskah ini, marilah kita bersyukur buat anugerah keselamatan yang sudah kita terima. Sekaligus kita mengingat bahwa keselamatan itu harganya sangat mahal, yaitu seharga darah Kristus yang suci dan dengan demikian harganya tak terkira. Marilah kita menghargai-Nya dengan hidup benar dan adil di hadapan Tuhan dan bagi semua orang. Janganlah kita hidup menikmati gelimang dosa lagi. Dan jauhilah sikap dan tindakan yang mencari aman dengan mengabaikan dan mengkambing-hitamkan orang-orang kecil “yang tak berdosa”. Selamat bersyukur. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jadilah Sahabat Yang Jadi Berkat
21 Maret '18
Jesus Effect
12 April '18
Racun Menjadi Madu
26 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang