SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Orang yang bisa dipercaya-lah yang layak menjadi saksi Kristus.
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Dapat Dipercaya1
Dapat Dipercaya1
Senin, 23 Oktober 2017
Dapat Dipercaya1
2 Timotius 2:2

Seorang pemimpin perusahaan menetapkan dan terus menerus menekankan “satu hal” kepada seluruh karyawannya. Ketika seorang calon karyawannya datang kepadanya, satu pertanyaan sambutan yang dia berikan adalah: “Dapatkah Anda dipercaya?” Dan pada akhir wawancara satu pernyataan penutup bagi calon karyawan yang lulus seleksi adalah: “Saya hanya menerima karyawan yang dapat dipercaya. Begitu Anda ternyata tidak dapat dipercaya lagi, silahkan meninggalkan perusahaan ini!” DAPAT DIPERCAYA adalah satu hal yang penting. Seseorang yang dapat dipercaya akan berlaku jujur, dia tidak akan merugikan perusahaan. Dia akan selalu menjaga nama baik perusahaan yang sudah memberi kepercayaan kepadanya.

Pengikut Kristus dipanggil menjadi orang-orang yang bisa dipercaya dalam mengemban tugas sebagai seorang murid dan menjadi saksi bagi-Nya. Rasul Paulus menggambarkan panggilan itu sebagai :
1. Seorang prajurit yang baik, berjuang menghadapi semua kesulitan dan yang berken...selengkapnya »
Di dalam diri manusia ada hasrat atau kehendak. Itulah yang menggerakkan manusia ke arah mana dan akan berbuat apa. Manusia tidak mungkin berjalan tanpa arah, bergerak tanpa hasrat. Manusia bergerak ingin mendapatkan sesuatu itulah hidup, bergerak, tidak berhenti. Manusia yang berhenti berarti mati. Orang lumpuh, bahkan yang tidak punya kaki pun bukan berarti hilang hasrat dan keinginan. Hanya orang matilah yang tidak memiliki gerak dan hasrat lagi. Keinginan dan keinginan, hasrat dan hasrat itulah hakekat manusia hidup. Tetapi tahukah hai semua manusia ! bahwa dengan hasrat atau keinginan itulah engkau digerakkan bisa menuju kebinasaan, tetapi juga sebaliknya bisa mendapatkan kehidupan. Hanya persoalannya adalah siapa yang menggerakkan keinginan atau hasrat itu? Ada dua hal yang menggerakkan yaitu: 1. roh diri sendiri [roh kedagingan], dan 2. Roh Tuhan. Mari kita lihat keduanya : 1. Hidup yang digerakkah roh diri sendiri [kedagingan]. Adalah hidup yang menuruti hasrat keinginan diri sendiri yang tidak mungkin menuju kebenaran, karena semua manusia telah diperhamba dosa yang selalu menuruti hawa nafsu kedagingan yang bertentangan dengan Allah [Rom 8:6a-8], yang berujung kepada kebinasaan. 2. Hidup yang digerakkan oleh Roh Kristus [Roh Kudus] Adalah hidup yang dipimpin oleh Roh Kristus, yaitu ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, menerima Kristus secara pribadi, sehingga Dia berkenan tinggal dalam hidup kita, dan kita bersedia dipimpin arah hidup kita oleh-Nya maka kita akan berolah kehidupan [Roma 8:9,10] Jadi semua itu tergantung dengan kita sendiri, kita mau dipimpin Roh Kristus yang adalah pemberi kehidupan kekal atau kita mau memimpin diri sendiri, artinya kita tidak bersedia dipimpin Roh Tuhan tidak bersedia hidup dan lahir baru, maunya memuaskan keinginan kedagingan itulah jalan kebinasaan. Roh Kristus yang memimpin kita maka sertamerta membawa seluruh tubuh kita [jasmani] ikut memuji Tuhan dan bersaksi di sekitarnya, tetapi sebaliknya, barang siapa yang tidak bersedia menerima pimpinan Roh Ktistus maka ujung-ujungnya adalah pemuasan hawa nafsu secara jasmani, yang tidak memberi dampak positif di sekitarnya. Jadi pemahamannya simpel [sederhana]: barang siapa yang belum lahir baru [belum bersedia dipimpin Roh Kristus] bertentangan dengan orang yang telah lahir baru [bersedia dipimpin Roh Kristus]. Yang tidak lahir baru akan binasa tetapi yang bersedia lahir baru beroleh kehidupan kekal [Roma 8:13]. Jadi manusia batiniah [inner man] tidak selalu bertentangkan dengan manusia jasmaniah [outer man], yang dipertentangkan adalah manusia yang sudah lahir baru dan yang belum lahir baru.
Pak Slamet sangat rindu mengenal Allah yang benar, maka sesuai dengan keyakinannya dia menjalani kehidupan sesuai imannya dengan khusuk sekali. Dia rajin mendengarkan dan mengikuti ceramah agama dimanapun dia bisa mendengarkannya. Suatu saat pak Slamet kedatangan sahabat lamanya pak Sastro. Mereka berbincang sejenak untuk melepas rindu, setelah 50 tahun berpisah. Sehingga pertemuan itu membuat sukacita mereka Sekarang usia mereka berdua sudah di atas 60 tahun. Pak Sastro mulai bercerita tentang bagaimana hidupnya dipertemukan dengan Tuhan Yesus yang memberikan kedamaian dan sukacita hidup. Ternyata melalui kesaksian pak Sastro yang sederhana pak Slamet jadi percaya dan mengenal Allah yang benar. Kerinduan pak Slamet sudah terjawab, sekarang hidup pak Slamet tidak jauh berbeda dengan hidup sahabatnya. Zakheus orang yang kaya, namun ada sesuatu yang terhilang. Dalam hidupnya yaitu hidup yang tidak memiliki banyak teman maupun saudara. Sebagai pemunggut cukai dan tukang pajak hidupnya sangat dibenci masyarakat sekitarnya karena dianggap membantu penjajah untuk memeras rakyat. Hati Zakheus tidak bersukacita meskipun harta melimpah Dia sedih sebab kemanapun pergi selalu jadi omongan negatip dari orang sekitarnya. Zakheus sering mendengar berita tentang Tuhan Yesus dari masyarakat di sekitarnya. Hatinya sangat rindu bertemu dengan Tuhan Yesus. Siapa tahu melalui perjumpaan itu dia menemukan kembali apa yang terhilang dari hidupnya. Karena postur tubuhnya pendek dan tidak memungkinkan ketemu Tuhan Yesus seperti orang lainnya, Zakheus berusaha memanjat pohon untuk melihat Tuhan Yesus yang sedang dikerumini orang banyak. Karena saat itu Tuhan Yesus melewati wilayahnya Ternyata Tuhan Yesus memperhatikan Zakheus dan meminta dia turun dari pohon sebab DIA akan menumpang di rumahnya. Bagi Zakheus ini sesuatu yang spesial sekali. Baru kali ini ada seorang saleh yang dikagumi banyak orang justru mau singgah di rumahnya dan mau makan bersama dia. Kerinduan hatinya untuk menemukan yang terhilang dalam hidupnya telah dijawab oleh Tuhan Yesus. Sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat 9. Dimana Zakheus dahulu orang berdosa yang pelit sekarang menjadi Zakheus orang benar yang murah hati karena berjumpa dengan Tuhan Yesus [ayat 7-8 ]. Semoga kita semua memiliki hidup seperti Zakheus menjadi orang benar yang murah hati karena perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan Yesus. Hendaknya kita sebagai orang percaya memiliki hati seperti Tuhan Yesus. Hati yang rindu mencari dan menyelamatkan orang berdosa di sekitar kita seperti Zakheus, supaya hidupnya mengalami sukacita dan damai sejahtera. Marilah hal ini kita wujudkan dalam tahun 2018, yaitu mau dan berkomitmen melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang.
Jadilah seperti Gideon Hakim-hakim 6:15-16 Tetapi jawabnya kepada-Nya: ’Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.’ Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.’ Tuhan memanggil Gideon untuk menjadi alat-Nya, untuk menyelamatkan umat-Nya dari penindasan bangsa Midian. Tapi Gideon merasa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tugas itu. Dia merasa bahwa dia berasal dari kaum yang tidak punya pengaruh di kalangan umat Israel, dan juga dia merasa masih terlalu muda. Tetapi Tuhan tidak membutuhkan orang yang punya kemampuan tinggi atau punya latar belakang yang hebat. Tuhan hanya membutuhkan seorang yang siap untuk dipakai-Nya. Tuhan mencari orang untuk menyelamatkan umat-Nya yang saat ini tertindas oleh kuasa dosa. Seperti bangsa Israel pada waktu itu, sekarang banyak orang yang menderita akibat dosa. Ada yang keluarganya hancur, ada yang menderita sakit penyakit, ada yang terikat oleh narkoba, hawa nafsu yang memalukan, maupun kebiasaan yang merusak kehidupan mereka sendiri. Hidup mereka hancur akibat dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Mereka tidak bisa lepas dari belenggu itu dan berharap ada yang menolong mereka. Kita tahu bahwa di dalam Injil ada kuasa Allah yang menyelamatkan. Berarti yang diperlukan oleh mereka adalah berita bahwa Allah yang penuh kasih karunia itu sanggup memberi pertolongan kepada mereka, jika mereka percaya kepada Kristus. Tapi siapa yang memberi tahu kepada mereka? Memang tidak mudah untuk menyelamatkan jiwa yang terbelenggu dosa. Kuasa Iblis selalu berusaha menghalangi dan menggagalkan karya keselamatan atas orang berdosa. Iblis menghendaki sebisa mungkin tetap menancapkan kekuasaannya atas jiwa-jiwa tersebut. Namun firman Tuhan berkata bahwa Allah sendiri yang menyertai kita, sehingga kita akan mengalahkan kuasa Iblis itu. Jadilah seperti Gideon, yang siap dan rela dipakai Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
“Benay pulang, Benay akan pulang, asyik-asyik...lalalalalala.” Sore itu Mbah Wanidy tampak gembira sekali. Seraya meracik segelas es teh pesanan Pdt. Itong, ia tak habis-habisnya bernyayi-nyanyi sambil sesekali bergoyang pinggul. “Lho...Mbah Wanidy dapat kabar dari mana?”, tanya Pdt. Itong, “Jangan keburu gembira dulu Mbah! Rumor yang beredar justru menyatakan bahwa Benay sudah tidak ada alias mati, kesrempet bom di Iraq.” “No..no..no..no”, jawab Mbah Wanidy ke Inggris-inggrisan, “Kali ini sumber beritaku terjamin keakuratannya. Mas Rabenay, kakak kandung Benay, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di pelabuhan. Dan ia sendiri yang menyampaikan bahwa awal tahun 2018 ini Benay akan pulang kampung.” Pdt. Itong memandang keheranan dan hampir tidak percaya bahwa Benay akan pulang. “Tapi..ngomong-ngomong mengapa Mbah Wanidy kok senang sekali jika Benay akan pulang? Bukankah dia tukang ngutang di warung Mbah?” “Justru itulah Nak Itong. Kalo Benay pulang ada harapan hutangnya dibayar lunas..nas..nas.” “Emangnya berapa hutang Benay?” tanya Pdt. Itong. “Rp. 37.739! Belum termasuk bunga dan PPN.” “Walah..walah..utang segitu saja kok dipikirin”, kata Pdt. Itong, “Hutang Mbah Wanidy pada saya kan jumlahnya jauh lebih besar. Masih ingat jumlahnya?” Tak menduga bakal “ditembak” seperti itu wajah keriput Mbah Wanidy segera memerah. Ia tampak malu sekali. Jemaat yang terkasih. Kisah di atas memiliki kesejajaran dengan hal mengampuni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus. Melalui sebuah perumpamaan, Tuhan mengisahkan bagaimana pengampunan harus menjadi gaya hidup Rasul Petrus. Bukan tujuh kali mengampuni. Melainkan 70 X 7 kali. Dalam hal ini Tuhan tidak bermaksud mengajari Rasul Petrus matematika, yaitu hasilnya 490 kali mengampuni. Tetapi maksud sebenarnya adalah mengampuni setiap saat dan tak ada batasnya. Mengapa? Karena Tuhan, oleh kasih karunia-Nya, telah lebih dahulu mengampuni Rasul Petrus. Padahal, sama seperti seluruh umat manusia, dosa dan pelanggaran Rasul Petrus begitu besar. Maka kepada orang-orang yang pernah berbuat salah atau menyakiti hatinya, Tuhan berkehendak agar Rasul Petrus mau mengampuni mereka. Sebab dengan demikian ia belajar mensyukuri pengampunan Tuhan yang telah diterimanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Sama seperti kepada Rasul Petrus, Tuhan juga menghendaki kita untuk menjadi ahli dalam mengampuni. Jangan salah sangka! Pengampunan tidak harus berbarengan dengan hilangnya sakit hati; Pengampunan juga tidak harus segera diikuti dengan pulihnya relasi seperti sedia kala; Pengampunan tidak selalu harus menghilangkan konsekwensi/hukuman yang harus diterima oleh orang yang menyalahi kita. Pengampunan adalah hal keputusan. Keputusan pribadi kita untuk mau mengampuni orang lain. Dan itu berarti demi terpeliharanya kesejahteraan dan kedamaian dalam hati kita. Selamat mengampuni. Terpujilah Tuhan!.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berdoa Bagi Mereka
05 Februari '18
Hidup Menurut Roh Vs Menurut Daging
02 Februari '18
Sempat Meragukan Kristus
15 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang