SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Adakah diri kita sekarang dekat dengan Tuhan atau bahkan sebaliknya jauh dari Tuhan? Datanglah kepada-Nya, maka buah-buah nyata akan muncul dalam hidup kita.
DITULIS OLEH
Sdr. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Datanglah Kepada Yesus
Datanglah Kepada Yesus
Selasa, 19 Desember 2017
Datanglah Kepada Yesus
Matius 11:28

Sungguh memalukan ketika kita pun harus diberitahu untuk datang kepada Yesus! Pikirkan hal-hal yang menyebabkan kita tidak datang kepada-Nya. “Marilah kepadaKu...” Dalam tiap dimensi di mana kita tidak tulus, kita akan mempersoalkan atau menghindari persoalan daripada datang kepada-Nya. Selama kita masih memiliki sedikit saja rasa tidak hormat secara rohani, itu akan terungkap dalam kenyataan bahwa kita mengharapkan Allah meminta kita untuk melakukan sesuatu yang sangat besar. Padahal yang Allah katakan kepada kita hanyalah, “ Marilah kepadaKu....”

“Marilah kepadaKu..” ketika mendengar perkataan tersebut kita akan mengetahui bahwa sesuatu harus terjadi dalam diri kita sebelum kita dapat datang. Roh Kudus akan menunjukkan apa yang harus kita lakukan, ini mencakup segala halangan yang mencegah kita untuk datang kepada Yesus. Dan kita tidak akan pernah bisa berjalan lebih jauh sebelum kita mempersilahkan Roh Kudus untuk melakukannya karena tanpa Roh Kudus kita tidak dapat datang kepada Yesus. Seperti induk ayam yang selalu membuka sayapnya bagi anak-anaknya untuk melindungi, menaungi, memberikan kehangatan dan kasihnya. Demikian juga halnya Tuhan kita yang tak terkalahkan, tak tertaklukan, tak kenal lelah yang dengan penuh kasih selalu berkata, “Mari...selengkapnya »
Kesatuan mendatangkan berkat Mazmur 133:1-3 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa kesatuan itu baik, indah, dan menyenangkan. Siapapun pasti menyukai yang baik, indah dan menyenangkan. Tapi mengapa sulit sekali untuk mwujudkan dan memelihara kesatuan? Kesatuan seringkali hanya sebatas wacana saja, tidak terwujud dalam tindakan nyata. Padahal Firman Tuhan berkata bahwa dimana ada kesatuan ke sana Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya. Jika tidak ada kesatuan Tuhan tidak akan mendatangkan berkat-Nya. Apakah kita tidak suka diberkati Tuhan? Kita sering berpikir bahwa berkat Tuhan itu bersifat individual. ’Berkat untuk saya tidak ada hubungannya dengan berkat untuk orang lain.’ Padahal menurut Firman-Nya, berkat Tuhan itu tidak untuk seseorang saja, tapi untuk sekelompok orang, diberikan bersama-sama, atau dengan kata lain bersifat kolektif. Tuhan memberkati sebuah keluarga maupun gereja secara bersama-sama. Di Alkitab, janji berkat Tuhan itu bersifat kolektif. Sebagai contoh Kisah Para Rasul 2:39 mengatakan: ’Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ Jika Tuhan memberkati sebuah keluarga, maka semua yang ada di keluarga itu ikut merasakan berkat Tuhan. Bahkan berkat Tuhan bisa berlaku untuk sebuah kota. Firman Tuhan berkata: ’Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.’ [Yeremia 29:7]. Jadi kita tidak boleh memikirkan kesejahteraan diri kita saja. Kalau kota kita mengalami kesulitan, kita yang tinggal di dalamnya juga akan mengalami kesulitan. Kalau kota kita sejahtera dan diberkati Tuhan, maka kita pun akan ikut merasakan kesejahteraannya. Marilah mulai sekarang kita berdoa dan mengerjakan segala sesuatu bukan untuk kepentingan diri kita masing-masing. Berdoalah dan usahakanlah kesejahteraan untuk keluarga, gereja dan kota kita. Peliharalah kesatuan, agar berkat Tuhan senantiasa mengalir bagi kita bersama. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Ketekunan merupakan hal yang baik untuk terus dilakukan oleh setiap orang. Ketika seorang murid belajar dengan tekun, maka ia akan mudah untuk menguasai setiap materi pelajaran yang diajarkan. Sehingga ketika mendapat soal dari guru, ia akan dapat mengerjakannya. Demikian juga seorang pianis tidak akan mampu memainkan piano dengan baik jika tidak disertai dengan tekun berlatih secara rutin. Semakin tekun berlatih maka permainan piano yang dihasilkan akan semakin bagus. Ketekunan di dalam melakukan hal-hal yang baik akan semakin meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dalam Alkitab juga di tulis mengenai ketekunan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula di dalam kehidupan keseharian mereka. Mereka bertekun oleh karna karya dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri mereka. Jemaat mula-mula bertekun di dalam tiga hal [Kis 2:41-47]. Yang pertama; mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka selalu bertekun mempelajari Firman melalui pengajaran yang diberikan oleh para rasul. Jemaat mula-mula menyediakan waktu untuk mempelajari Firman Allah, karena mereka tahu bahwa Firman Allah akan memimpin hidup mereka dalam kebenaran. Dan melalui pengajaran Firman Allah, iman mereka kepada Yesus Kristus semakin kuat dan tidak goyah. Yang kedua; mereka bertekun dalam persekutuan, yang artinya mereka selalu mengadakan pertemuan-pertemuan ibadah. Mereka berkumpul untuk berdoa dan saling menguatkan. Mereka senantiasa tekun bersekutu ditengah-tengah kesibukan mereka masing-masing. Yang ketiga; mereka bertekun dalam perbuatan kasih. Yang artinya di dalam kehidupan mereka bersama, tidak ada rasa mementingkan diri sendiri. Melainkan saling memberi dan menolong kepada sesama yang membutuhkan. Mereka rela menjual barang milik sendiri dan hasilnya dibagi kepada yang membutuhkan. Sungguh indah hal yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Sebagai jemaat Tuhan marilah kita juga melihat cara hidup jemaat mula-mula yang sungguh indah. Mereka senantiasa bertekun dalam tiga hal di atas dan hasilnya adalah kehidupan mereka menjadi berkat dan menjadi kesaksian hingga banyak orang yang akhirnya percaya kepada Kristus. Mari kita juga bertekun di dalam tiga hal tersebut sehingga hidup kita akan semakin berkenan kepada Allah.
Istilah ibadah tidak asing bagi orang kristen maupun penganut agama-agama pada umumnya. Banyak orang percaya berpikir bahwa ibadah kepada Tuhan berarti pergi ke gereja mengikuti liturgi kebaktian, mirip dengan pengertian yang dimiliki oleh penganut agama lain, yang merasa sudah beribadah atau berbakti kepada dewa, illah atau allah yang mereka sembah karena sudah melakukan suatu ritual atau seremonial tertentu. Menurut rasul Paulus, ibadah yang sejati, adalah ketika seseorang percaya mempersembahkan tubuhnya sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah, dan mempunyai pola pikir yang tidak sama dengan dunia ini [Roma 12:1-2]. Dalam bahasa aslinya ibadah berarti melayani dan berbakti. Bahwa alasan beribadah kepada Tuhan adalah karena Tuhan telah memberikan kemurahan/anugerah yang membuat hubungan kita dengan Bapa dipulihkan, melalui karya penebusan salib Kristus [2 Korintus 6:16 - 18]. Jadi kita beribadah karena kita telah berhutang kebaikan dari Tuhan. Ibadah kita kepada Tuhan bukan alat manipulasi untuk mengatur Tuhan atau untuk memperoleh sesuatu, dan bukan usaha untuk memberi jasa kepada Tuhan. Nilai dan harga anugerah penebusan tidak bisa dibayar dengan apa dan berapapun nilainya yang bisa kita berikan. Mempersembahkan tubuh dalam ibadah kita kepada Tuhan berarti bahwa tubuh [fisik] kita harus digunakan untuk kepentingan pekerjaan-Nya demi penggenapan rencana Bapa di dunia ini [Yohanes 4:34]. Tubuh kita bukan untuk kesenangan dan memuaskan keinginan diri sendiri, tetapi menjadi hamba kebenaran yang membawa kepada pengudusan [Roma 6:19b, Galatia 5:24]. “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus …… dan bukan milik kamu sendiri karena telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” 1 Korintus 6:19-20]. Tuhan memerintahkan Adam untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden, yang berarti bekerja dengan menggunakan anggota tubuh sebagai pengabdian kepada-Nya. Jadi bekerja adalah ibadah. Berarti orang percaya beribadah, melayani Tuhan melalui bidang-bidang pekerjaan/profesi yang disandangnya. Kita tidak boleh malas dalam bekerja, namun harus rajin, tekun, kerja keras, jujur dan terus mengembangkan keahliannya [memaksimalkan potensi]. Dengan pemahaman ini, suatu pekerjaan dipandang “rohani” atau “duniawi” tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan itu, tetapi oleh motivasi terdalam seseorang dalam melakukan pekerjaan tersebut.
Balai Pertemuan yang berwujud sebuah rumah adat panggung di suatu Perkampungan Raja siang itu cukup padat. Rombongan kami terdiri dari 6 orang awam dan 4 orang kru sebuah majalah. Ditambah penduduk yang hadir, tak banyak tempat yang lowong di bagian depan rumah panggung itu. Siang itu dilangsungkan ritual penyambutan tamu sesuai adat sebuah pulau kecil yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Di antara sekian banyak hal yang menarik perhatian kami, terselip sebuah penuturan yang membuat saya terpana. Meskipun hampir seluruh penduduk Perkampungan Raja percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, untuk mengambil keputusan-keputusan penting tetaplah harus melalui ’terawangan’. Untuk itu, seekor binatang berupa ayam atau babi harus disembelih. Kemudian satu ’orang pintar’ akan ’membaca’ usus binatang sembelihan dan menetapkan keputusan yang harus dibuat. Kalau hal ini dilanggar, mereka meyakini bahwa tulah pasti datang menghampiri. Ayat-ayat bacaan Alkitab hari ini mengingatkan umat Tuhan untuk terdidik dalam pokok iman dan ajaran sehat dalam Kristus Yesus [1 Timotius 4:6]. Baiklah kita menjauhi takhayul yang diwariskan turun-temurun dan melatih diri beribadah [ayat 7]. Iman Kristen dan takhayul adalah dua hal yang kontradiktif. Walaupun hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, tak dapat dielakkan bahwa belenggu takhayul akan menghambat pertumbuhan rohani. Bagaimana mungkin orang menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Kristus kalau hidupnya masih tergantung pada ’terawangan’, ’pantangan’ dan bermacam-macam ’syarat’? Marilah kita semakin memahami pokok iman kita, bertumbuh dalam ajaran yang sehat dan menjauhi takhayul yang membelenggu hidup manusia. Tuhan beserta kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Belenggu Takhayul
04 Juni '18
Orang Percaya Sebagai Agen Allah
05 Juni '18
Sang Waktu
12 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang