SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Diam dalam Rumah Tuham berarti hidup yang dipenuhi dengan kebenaran dan keadilan.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Diam Dalam Rumah Tuhan
Diam Dalam Rumah Tuhan
Jumat, 27 Oktober 2017
Diam Dalam Rumah Tuhan
Yesaya 2:1-5

Nabi Yesaya mendapatkan panggilan pelayanan ketika berada dalam situasi bangsa yang tidak kondusif. Ada ancaman dari bangsa-bangsa yang mau menyerang kerajaan Israel Selatan atau Yehuda. Keadaan tersebut mengakibatkan stabilitas bangsa menjadi kacau. Namun bukan hanya hal itu yang menjadi keresahan seorang Yesaya, keadaan yang jauh lebih mengancam adalah kondisi kehidupan umat Israel yang sudah tidak lagi mempunyai hubungan dengan Tuhan, serta tidak mengindahkan apa yang menjadi perintah Tuhan dalam hidup mereka. Memang setiap perayaan ibadah, umat Israel selalu mengadakannya, mereka memberikan korban bakaran dan persembahan, namun hati mereka tidak tertuju kepada Tuhan. Hati mereka keras tidak mau mendengar suara firman Tuhan. Mereka memberontak dan melawan sesuai dengan keinginan hatinya. Tetapi Yesaya tetap menyampaikan pesan Tuhan dan memberikan seruan pertobatan bagi mereka yang mau tinggal dalam rumah Tuhan, menghampiri Tuhan dengan hati yang penuh rasa syukur.

Di dalam pasal 2:1-5, Yesaya menunjukkan bahwa Rumah Tuhan akan berdiri tegak dan menjulang tinggi. Hal ini menggambarkan bahwa Rumah Tuhan menjadi tempat kediaman dan kehadiran Tuhan akan dinyatakan kepada bangsa-bangsa. Rumah Tuhan akan menjadi tempat yang paling baik untuk para umat datang dan meny...selengkapnya »
Kristus datang memberi hidup dan pengharapan Yohanes 10:10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kolose 1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Bila ada seseorang yang baru datang ke tengah sebuah lingkungan tertentu [misalkan sebuah kampung], maka orang-orang di lingkungan itu akan bertanya-tanya: ’Siapakah orang itu? Seperti apakah pribadi dan latar belakangnya? Apakah kehadirannya akan membawa akibat yang baik atau buruk bagi orang-orang di lingkungan ini?’ Dua ribu tahun yang lalu telah datang ke dunia ini Yesus yang lahir di kota Betlehem. Para nabi sudah menubuatkan kedatangan-Nya. Dia adalah Sang Firman yang menjelma menjadi manusia. Dia datang ke dunia dengan tujuan untuk memberikan hidup dan pengharapan kepada manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk memberikan hidup. Hidup yang dimaksud adalah zoe [dalam bahasa Yunani], yaitu hidup yang berkualitas. Hidup bukan asal hidup. Bukan hidup hanya untuk menikmati kesenangan saja. Tapi hidup yang penuh arti. Hidup yang berdampak bagi orang lain. Hidup yang berkenan di hati Tuhan. Hidup yang berpengharapan adalah hidup yang tidak hanya sebatas hidup di dunia ini saja. Tapi hidup yang melampaui batas. Sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan. Kristus sendiri saat ini ada di dalam kemuliaan di Sorga. Kristus sanggup membawa umat-Nya kepada kemuliaan yang saat ini dimiliki-Nya. Untuk semua itulah Kristus datang ke dunia ini. Dia lahir ke dunia ini dengan tujuan yang jelas. Dia datang agar manusia yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup dan memiliki pengharapan akan kemuliaan. Hidup di tengah dunia ini kita harus memiliki pegangan yang pasti. Jika kita memiliki iman kepada Kristus, maka kita memiliki jaminan hidup yang pasti. Pada hari Natal ini marilah kita semakin kuat di dalam iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Pdt. Goenawan Susanto
Pada pertengahan bulan Desember 2017, di rumah nenek saya ada acara keluarga besar. Mulai dari keluarga tertua sampai yang termuda berkumpul di sana, bahkan mengundang tetangga-tetangga dan saudara. Acara tersebut sudah direncanakan dan dibicarakan bersama. Sehingga membutuhkan persiapan yang cukup supaya acara berjalan lancar. Mereka membagi tugas, para ibu dan wanita bagian dapur, yaitu mulai dari belanja sampai masak-memasak. Bagian para bapak dan pria mempersiapkan tempat. Ada yang mengecat rumah, ada yang memasang lampu tambahan untuk penerangan dan sebagainya. Semua sudah dipersiapkan sesuai dengan rencana. Namun, terjadi keterlambatan saat penyajian makanan, karena orang yang membantu membagikan makanan jumlahnya sedikit. Di saat seperti itu, mungkin ada perasaan tidak enak [sedikit panik] dengan para tamu yang hadir karena harus menunggu cukup lama. Tetapi semua dapat di atasi. Para tamu masih sabar menanti karena pada saat itu juga sedang hujan turun. Sehingga mereka tidak terburu-buru meninggalkan acara tersebut. Hal yang hampir sama juga pernah dialami ketika ada perkawinan di Kana. Saat itu keluarga mempelai kehabisan anggur untuk disajikan kepada para tamu. Sehingga muncul kepanikan dan perasaan tidak nyaman ketika mendengar masalah tersebut. Karena dalam tradisi Yahudi, anggur memainkan peranan penting dalam pesta perkawinan. Keluarga mempelai tentu sangat malu jika tidak bisa memberikan sajian anggur tersebut. Sehingga masalah tersebut harus segera dicarikan solusinya karena para tamu tidak mungkin menunggu beberapa jam, hari, bahkan minggu karena itu adalah pesta perkawinan. Dalam kondisi tersebut, tidak mungkin mempelai sendiri yang mencari solusinya. Dan ketika Maria mengetahui masalah tersebut, Maria dengan sigap mencari solusi, yaitu dengan datang kepada Yesus. Maria sangat percaya bahwa Yesus sanggup menyelesaikan masalah tersebut. Yesus sanggup memberikan jawaban yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut. Masih di minggu awal tahun 2018 ini mari kita melihat bahwa masalah tidak mungkin tidak ada. Beban dan tanggung jawab semua juga tentu ada. Namun mari kita melihat bahwa Tuhan Yesus selalu ada untuk memberikan solusi dan jawaban. Rasa panik dan kekuatiran mungkin juga muncul di saat-saat yang mendesak, tetapi mari kita belajar untuk menyerahkan segala sesuatunya itu kepada Tuhan yang mampu memberikan jawaban atas kehidupan kita. Karena Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak yang dikasihi-Nya mendapatkan malu.
Damai dalam badai ???? Mana mungkin....! Yang ada takut, bingung, kalang kabut saat badai datang.... Tahun 2017 dengan segala kenangan manis & pahit telah kita tinggalkan. Termasuk di dalamnya badai kehidupan yang terkadang menerpa kita bahkan mungkin membuat kita trauma dan gentar menapaki hidup di tahun yang baru ini. Dari kehidupan Raja Daud yang sering menghadapi berbagai tantangan bak badai yang tiada henti, ada beberapa nasehat sang pemazmur agar kitapun dapat juga menghadapi badai kehidupan yang sewaktu-waktu Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan ini. 1. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang yang berbuat curang sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. [ayat 1,2] 2. Percayalah kepada Tuhan, lakukanlah yang baik; bergembiralah karena Tuhan serta serahkan hidup kepada Tuhan maka Tuhan akan memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang. [ayat 3-6] 3. Tidak usah takut karena Tuhan menetapkan setiap langkah hidup kita yang berkenan kepada-Nya dan apabila Tuhan ijinkan kita jatuh tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangan kita dan anak cucu kita tidak akan terlantar hidupnya. [ayat 23-25] 4. Nantikanlah Tuhan dan tetap ikuti jalan-Nya [ayat 34] 5. Hiduplah dengan tulus hati , jujur dan suka damai maka pasti ada masa depan dalam hidup kita.[ ayat 37] Dengan berbekal nasehat-nasehat pemazmur ini, mari kita mantap memasuki tahun 2018 !! Jika badai datang hadapi dengan damai yang dari Tuhan.
Memasuki tahun 2018 Matius 28:20b Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Hari ini kita ada di hari terakhir tahun 2017. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2018. Tahun 2018 adalah tahun yang penuh dengan tanda tanya, tahun yang sangat sulit untuk diprediksi. Karena pada tahun 2018 akan dilaksanakan Pilkada serentak di 171 daerah, yaitu 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten. Dan di Jawa Tengah sendiri akan dilaksanakan pemilihan gubernur. Khususnya Kota Semarang sebagai ibukota Jawa Tengah tentu akan merasakan hangatnya suhu politik sebagai efek pilkada. Suasana menjelang Pemilihan presiden 2019 juga pasti sudah terasa di tahun 2018. Partai-partai pengusung calon RI1 akan saling berlomba mempopulerkan calonnya masing-masing. Kita berdoa agar tidak terjadi benturan-benturan yang mengakibatkan kegaduhan dan goncangan situasi negeri kita. Hal-hal yang tidak kita inginkan kiranya tidak terjadi. Kita percaya kepada Allah Sang Penguasa jagad raya ini, yang telah menebus dan mengangkat kita sebagai anak-anak-Nya. Kita memohon perlindungan-Nya atas bangsa kita. Kita meyakini bahwa Dia mengasihi bangsa kita, dan menginginkan kebaikan bagi bangsa dan negara kita. Karena itu marilah kita tiada henti berdoa untuk bangsa dan negara kita, untuk kepemimpinan bangsa kita dan daerah kita, agar Tuhan memberikan pemimpin-pemimpin yang terbaik bagi bangsa kita dan daerah kita. Saya juga mengajak marilah kita berdoa bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di negeri kita dan bagi kemajuan gereja kita. Rencana-rencana yang sudah kita buat, akan terus kita upayakan agar terlaksana dengan baik dan goal-goal yang sudah kita tetapkan kita terus upayakan agar tercapai. Jangan ada kata menyerah. Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja berjanji menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Pada tahun 2018 ini gereja kita menetapkan tema: LAKUKAN YANG TERBAIK BAGI KESELAMATAN JIWA-JIWA. Selagi masih ada kesempatan, marilah kita mengerjakan tugas dari Tuhan Yesus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang. Tuhan mau memakai kita sebagai alat-Nya untuk menjangkau jiwa-jiwa. Kiranya Tuhan memberkati kita semua dan memakai kita bagi Kerajaan-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Melupakan Yang Di Belakang
10 Januari '18
Damai Dalam Badai
16 Januari '18
Bukan Sisanya
05 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang