SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Apakah kita bertekad memaksakan kemauan kita sendiri atau memutuskan untuk menyatakan diri dengan-Nya dalam hal kepedulian terhadap orang lain melalui doa-doa kita?
DITULIS OLEH
Sdr. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Doa Bagi Orang Lain
Doa Bagi Orang Lain
Rabu, 22 November 2017
Doa Bagi Orang Lain
Ibrani 10:19

Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.”

Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita....selengkapnya »
Curahan Roh Kudus dalam diri Petrus, tidak hanya membangkitkan keberanian untuk menyampaikan Firman Tuhan saja, tapi juga melembutkan hati Petrus. Terbukti ketika Petrus melihat seorang peminta-minta yang lumpuh, hatinya tergerak oleh belas kasihan. Keinginan nya untuk memberi sesuatu kepada peminta-minta itu begitu kuat, meskipun dia tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada peminta-minta itu. Tapi itu tidak menyurutkan Petrus untuk tetap “memberi”, karena Petrus tahu bahwa dia memiliki sesuatu yang lebih besar dari sekedar emas dan perak, yaitu Yesus. Dan nyata, kuasa Yesus mampu memenuhi kebutuhan peminta-minta yang lumpuh itu, sehingga dia bisa sembuh dari kelumpuhannya, bisa berjalan, dan sudah tentu, itulah pemberian terbesar yang diterima oleh peminta-minta itu. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali kita juga mengalami situasi seperti itu, berjumpa dengan teman, kerabat, atau kenalan kita yang membutuhkan sesuatu. Dan seringkali pula kita berfikir, apa yang bisa saya berikan buat mereka? Mungkin kita tidak memiliki cukup harta untuk bisa membantu orang lain, tapi janganlah itu membuat kita urung untuk memberi. Seperti Petrus mengatakan “… apa yang kupunyai,kuberikan kepadamu : Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu……”. Kitapun bisa memberikan kasih Yesus Kristus kepada yang membutuhkan. Mungkin tindakan kita tidak bisa membuat orang lumpuh menjadi sembuh dari kelumpuhannya, tapi ada banyak hal yang bisa Tuhan kerjakan bagi orang-orang yang kita bawa kepada Nya. Apa yang kita miliki? Belas kasih, perhatian, telinga untuk mendengar, hati yang terbeban untuk berdoa, tenaga untuk membantu, pikiran untuk mengeluarkan ide-ide, kata-kata untuk menghibur dan menguatkan. Banyak sekali yang kita miliki, ketika Kasih Yesus dan kuasa Roh Kudus itu memenuhi hati kita, dan itulah yang dibutuhkan oleh mereka yang sakit, yang sedang dirundung duka, yang tengah terpuruk, yang dalam masalah berat. Jangan tahan, berikan apa yang bisa kita berikan kepada mereka yang membutuhkan. Tuhan Yesus yang akan bekerja lebih jauh dan memberi hasil buat apa yang kita berikan bagi orang lain. Dan pada akhirnya nama Tuhan Yesus yang akan dipermuliakan melalui perbuatan kita.
Suatu ketika seorang pria berkonsultasi dengan Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih. ’Semuanya telah hilang. Tidak ada lagi yang saya miliki dalam hidup ini. Tak ada harapan lagi, aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini’, kata pria itu. Norman Vincent Peale, penulis buku ’The Power of Positive Thinking’, tersenyum dan berkata: ’Mari kita pelajari keadaan anda.’ Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih dimiliki. ’Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan, aku sudah tak punya apa-apa lagi.’ kata pria itu . ’Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?’ tanya Norman. ’Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!’ jawab pria itu. ’Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan ’Istri yang amat mencintai’. Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?’. ’Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!’jawab pria itu ’Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan. Anak-anak tidak berada dalam penjara.’ kata Norman. Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menyadari banyak hal bagus yang dia miliki, ia mulai tersenyum dan bahkan tertawa, menyadari betapa dia masih memiliki banyak sekali hal yang menyenangkan, keluarga yang baik, pekerjaan yang baik, teman yang baik, dan banyak hal yang baik yang bisa kita gali dalam kehidupan kita. ’Luar biasa, betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir positif, berpikir yang baik-baik,’ katanya.
Di sebuah kota kecil, tinggalah keluarga kecil yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anaknya perempuan. Ayah ibu itu sangat sayang kepada anak tunggalnya tersebut. Mereka berharap anak satu-satunya yang akan meneruskan usaha konveksinya. Namun yang terjadi di balik mimpi indah suami istri itu. Anak itu mengalami panas tinggi dan meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit. Mereka putus asa karena sudah tidak lagi memiliki penerus usahanya, karena sang istri sudah tidak bisa mengandung. Selama satu setengah tahun mereka mengalami keputus asaan. Kesetiaan suami istri ini untuk mengalami mujizat membawa mereka setia dalam doa malam. Benar yang mereka imani. dalam tahun ke 5 setelah kematian anaknya, mereka di karuniai anak laki-laki satunya di masa mereka menginjak usia 48 tahun. Dari peristiwa di atas, dapat kita lihat bahwa goncangan dapat berupa masalah yang datang silih berganti, atau berbagai macam kesulitan. Tetapi di saat kita mengalaminya jangan menjadi gentar atau takut, sebab Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia peduli dan tahu setiap hal yang menimpa kita. Setiap tantangan atau masalah yang terjadi tidak akan pernah membuat kita terpuruk, sebaliknya malah akan semakin menguatkan iman kita di dalam Yesus. Melalui setiap tantangan atau goncangan, Tuhan ingin melihat bagaimana kualitas iman percaya kita kepadaNya. Jika Tuhan di pihak kita, maka tidak ada satupun yang dapat melawan kita. Tuhan akan senantiasa menjaga dan melindungi di saat badai kehidupan menerpa. Ia akan memberikan pertolongan kepada setiap umat-Nya. Nahum 1:7 berkata bahwa Tuhan menjadi tempat perlindungan ketika kita mengalami masalah, dan Ia mengenal orang yang berlindung kepadaNya. Bahkan di tengah goncangan, Tuhan juga tetap memberikan kekuatan, kedamaian dan ketenangan. Sehingga kita dapat bertahan menghadapi semuanya. Firman Tuhan adalah jaminan yang memberikan pengharapan yang pasti. Jadi berlindunglah pada Tuhan, dan tetaplah teguh dalam Yesus. Seperti dalam firman dikisahkan, Yesus dan murid-murid-Nya berada dalam perahu. Tiba-tiba mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu. Para murid menjadi panik. Mereka memanggil Yesus, dan Ia meneduhkan angin ribut tersebut dan danau pun menjadi teduh kembali. Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas alam semesta, sehingga kita tidak perlu takut. Yang diperlukan hanyalah iman yang teguh pada Tuhan. Karena itu, kita harus terus mengandalkan Dia saja. Sebab orang yang mengandalkan Tuhan tidak akan dikecewakan.
Seseorang yang mengalami peristiwa menyenangkan maupun menyedihkan dalam hidupnya dan sangat berkesan pasti tidak akan terlupakan seumur hidup. Dalam situasi apapun pada setiap kesempatan pasti dia akan menceriterakan peristiwa tersebut kepada orang lain dengan antusias. Seorang ibu yang sedang dirawat di rumah sakit bisa bercerita tentang peristiwa di masa lalunya kepada setiap orang yang menengoknya. Ada juga seorang bapak yang lumpuh karena stroke dan duduk di kursi roda bisa bercerita dengan semangat tentang masa lalunya walaupun dengan artikulasi yang tidak jelas. Pada hakekatnya setiap orang akan menceriterakan peristiwa yang pernah dialaminya seumur hidup dalam situasi apapun. Ketika Yesus melintasi kota Sikhar di Samaria dan sedang istirahat di tepi sumur Yakub datanglah seorang wanita yang akan mengambil air di situ. Dalam perbincangan wanita itu dengan Yesus, dia merasa kagum karena Yesus tahu akan kehidupannya tanpa dia bercerita. Dia merasakan sesuatu yang beda dan dia menyakini Yesus lawan bicaranya adalah Mesias. Ditinggalkan tempayannya dan dia berlari kembali ke dalam kota bercerita mengenai peristiwa yang dialaminya. Dampak dari ceritanya banyak orang Samaria berbondong-bondong pergi menemui Yesus di sumur itu. Setelah berjumpa dan berbincang dengan Yesus maka orang banyak itu percaya kepada-Nya. Wanita Samaria itu bersaksi kepada banyak orang dan menyelamatkan mereka. Pastilah seumur hidup dia bersaksi tentang peristiwa pertemuannya dengan Yesus. Kita mengenal dan menerima Yesus melalui peristiwa perjumpaan dengan Dia. Setiap orang mempunyai pengalaman dengan Yesus yang berbeda. Apakah setiap pengalaman dengan Yesus dalam hidup kita merupakan sebuah peristiwa yang sangat berkesan ? Pasti kita akan sangat antusias bercerita kepada banyak orang tentang karya-Nya seperti ketika menceritakan keberhasilan anak kita. Roh Kudus yang memenuhi hidup kita akan senantiasa mengingatkan kita untuk bersaksi dalam keadaan apapun dan seumur hidup. Melalui kesaksian kita akan membawa orang yang mendengarnya mengalami proses pertobatan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tak Tergoncang Oleh Badai
07 Mei '18
Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Padamu
26 Mei '18
Jangan Digantikan
21 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang