SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Apakah kita bertekad memaksakan kemauan kita sendiri atau memutuskan untuk menyatakan diri dengan-Nya dalam hal kepedulian terhadap orang lain melalui doa-doa kita?
DITULIS OLEH
Sdr. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Doa Bagi Orang Lain
Doa Bagi Orang Lain
Rabu, 22 November 2017
Doa Bagi Orang Lain
Ibrani 10:19

Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.”

Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita....selengkapnya »
Mahasiswa Akademi Militer atau Akademi Kepolisian harus mengikuti semua peraturan kampus. Selalu mengenakan pakaian seragam termasuk saat liburan, potongan rambut sesuai standard yang berlaku, tidak diperkenankan berbahasa daerah saat berkomunikasi dengan siapa saja termasuk dengan rekan sedaerahnya. Yang sangat menarik saat mereka berjalan bersama atau sendiri langkah mereka harus sesuai dengan yang telah ditetapkan. Mereka mematuhi aturan-aturan walaupun tidak ada yang mengawasi karena bagi mereka aturan tersebut sudah menjadi gaya hidup dan bukan beban. Orang benar akan melangkah sesuai dengan ketetapan Tuhan dan berkenan kepada-Nya. Firman Tuhan ada dalam hatinya dan tidak goyah dalam melangkah sesuai dengan perintah-Nya. Mulut orang benar mengucapkan kebenaran dan kebajikan, perkataan yang sesuai dengan hukum-Nya. Setiap hari menaruh belas kasihan dan memberi pertolongan kepada orang lain. Menjauhi kejahatan dan melakukan perbuatan baik. Langkah orang benar akan mendatangkan penyertaan Tuhan senantiasa dan tidak akan jatuh tergeletak. Tuhan akan memelihara hidupnya sampai selamanya. Tidak akan dibiarkan berkekurangan di masa tua karena anak cucunya tidak akan meninggalkannya. Kita harus memenuhi hidup kita dengan Firman-Nya sehingga setiap langkah kita akan sesuai dengan yang telah ditetapkan-Nya. Hidup yang berkenan kepada-Nya. Perkataan dan perbuatan yang mencerminkan kekudusan dan sebagai pelaku Firman. Melakukan perbuatan baik setiap waktu dan berdampak keselamatan bagi banyak orang. Langkah tersebut tidak tergantung pada situasi dan keadaan, tetapi menjadi gaya hidup dan dilakukan tanpa beban. Dengan demikian, Tuhan akan memelihara hidup kita dalam menempuh perjalanan dalam tahun ini walaupun harus melewati lembah yang dalam.
Pak Slamet sangat rindu mengenal Allah yang benar, maka sesuai dengan keyakinannya dia menjalani kehidupan sesuai imannya dengan khusuk sekali. Dia rajin mendengarkan dan mengikuti ceramah agama dimanapun dia bisa mendengarkannya. Suatu saat pak Slamet kedatangan sahabat lamanya pak Sastro. Mereka berbincang sejenak untuk melepas rindu, setelah 50 tahun berpisah. Sehingga pertemuan itu membuat sukacita mereka Sekarang usia mereka berdua sudah di atas 60 tahun. Pak Sastro mulai bercerita tentang bagaimana hidupnya dipertemukan dengan Tuhan Yesus yang memberikan kedamaian dan sukacita hidup. Ternyata melalui kesaksian pak Sastro yang sederhana pak Slamet jadi percaya dan mengenal Allah yang benar. Kerinduan pak Slamet sudah terjawab, sekarang hidup pak Slamet tidak jauh berbeda dengan hidup sahabatnya. Zakheus orang yang kaya, namun ada sesuatu yang terhilang. Dalam hidupnya yaitu hidup yang tidak memiliki banyak teman maupun saudara. Sebagai pemunggut cukai dan tukang pajak hidupnya sangat dibenci masyarakat sekitarnya karena dianggap membantu penjajah untuk memeras rakyat. Hati Zakheus tidak bersukacita meskipun harta melimpah Dia sedih sebab kemanapun pergi selalu jadi omongan negatip dari orang sekitarnya. Zakheus sering mendengar berita tentang Tuhan Yesus dari masyarakat di sekitarnya. Hatinya sangat rindu bertemu dengan Tuhan Yesus. Siapa tahu melalui perjumpaan itu dia menemukan kembali apa yang terhilang dari hidupnya. Karena postur tubuhnya pendek dan tidak memungkinkan ketemu Tuhan Yesus seperti orang lainnya, Zakheus berusaha memanjat pohon untuk melihat Tuhan Yesus yang sedang dikerumini orang banyak. Karena saat itu Tuhan Yesus melewati wilayahnya Ternyata Tuhan Yesus memperhatikan Zakheus dan meminta dia turun dari pohon sebab DIA akan menumpang di rumahnya. Bagi Zakheus ini sesuatu yang spesial sekali. Baru kali ini ada seorang saleh yang dikagumi banyak orang justru mau singgah di rumahnya dan mau makan bersama dia. Kerinduan hatinya untuk menemukan yang terhilang dalam hidupnya telah dijawab oleh Tuhan Yesus. Sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat 9. Dimana Zakheus dahulu orang berdosa yang pelit sekarang menjadi Zakheus orang benar yang murah hati karena berjumpa dengan Tuhan Yesus [ayat 7-8 ]. Semoga kita semua memiliki hidup seperti Zakheus menjadi orang benar yang murah hati karena perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan Yesus. Hendaknya kita sebagai orang percaya memiliki hati seperti Tuhan Yesus. Hati yang rindu mencari dan menyelamatkan orang berdosa di sekitar kita seperti Zakheus, supaya hidupnya mengalami sukacita dan damai sejahtera. Marilah hal ini kita wujudkan dalam tahun 2018, yaitu mau dan berkomitmen melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang.
Gereja: Komunitas Keselamatan Kisah Para Rasul 2:46-47 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Gereja adalah komunitas keselamatan. Sejak semula Allah merancang gereja untuk menjadi sebuah komunitas dimana orang-orang mengalami keselamatan. Perhatikanlah kalimat ini: ’Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.’ Apa artinya ’diselamatkan’? Artinya, orang-orang yang masuk ke dalam komunitas itu dipulihkan hubungannya dengan Alllah dan dengan sesama. Mereka menerima anugerah pengampunan dosa, sehingga hubungan dengan Allah dipulihkan. Karena mereka merasakan kasih dan anugerah Allah, maka hati mereka dipenuhi dengan sukacita. Mereka suka berkumpul untuk memuji Tuhan. Mereka suka berkumpul untuk mendengar pengajaran Firman Tuhan dan untuk berbagi. Mereka saling berbagi harta mereka, saling membantu dalam meringankan beban hidup saudara seiman. Tidak ada di antara mereka yang kekurangan. Mereka yang masuk ke dalam komunitas itu bukan orang-orang yang telah sempurna. Mereka juga orang-orang berdosa. Tetapi mereka bersepakat untuk menjalani hidup sebagai orang-orang yang diselamatkan. Mereka mau belajar dan bersedia untuk diajar dengan kebenaran Firman Tuhan, agar hidup mereka mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Inilah arti komunitas keselamatan, yaitu gereja. Seringkali Gereja di masa kini melupakan jati dirinya sebagai komunitas keselamatan. Gereja banyak disibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang tidak mengarah pada hidup keselamatan. Kita harus sadar dan berubah. Kita harus pastikan bahwa gereja kita adalah sebuah komunitas keselamatan. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
“Mbah, Benay akan segera kembali ke tanah air”, kata Rabenay pada Mbah Wanidy yang masih terpingkal-pingkal menahan tawa. “Apa! Benay akan kembali? Dia masih hidup?”, tanya Mbah Wanidy keheranan. “Benar Mbah, menurut informasi yang saya terima, KBRI di Iraq telah menyampaikan pengumuman bahwa para sukarelawan asal Indonesia akan mulai dipulangkan pada awal tahun 2018 ini. Konon salah satu nama yang disebut adalah Benay, adik kandung saya.” Wajah Mbah Wanidy sumringah mendengar kabar baik ini. Sukacita meletup-letup dalam sanubarinya. Wajahnya berseri-seri berhias pengharapan. “Wah..wah.., tampaknya Mbah Wanidy gembira sekali. Bahkan lebih gembira dibandingkan dengan saya.” Mbah mengangguk-angguk mengiyakan. “Mengapa Mbah begitu gembira ketika mendapatkan kabar bahwa Benay akan pulang?” tanya Rabenay penasaran. “Ya tentu saya senang karena pertama-tama Benay selamat. Bagaimanapun juga dia itu adalah konsumen fanatikdi warung saya. Kedua, heem…ehem….kembalinya Benay ke Semarang berarti tumbuh mekarnya kembali harapan saya”, jawab Mbah Wanidy. “Harapan apa itu, Mbah” tanya Rabenay. “Heek…e..heeem…harapan untuk terbayarnyahutang-hutang Benay pada saya.” Wajah Rabenay pun memerah karena malu. Jemaat yang terkasih. Harapan Mbah Wanidy yang sempat terkubur, kini tumbuh kembali karena ada kemungkinan Benay masih hidup dan akan kembali ke tanah air. Demikian juga dengan Ayub. Dalam penderitaannya yang teramat pedih, Ayub bergumul dengan Tuhan. Sahabat-sahatabnya hadir untuk memberikan nasehat. Namun apa boleh buat, nasehat-nasehat mereka malah cenderung menuduh dan makin menyesakkan hatinya. Ayub merasa bahwa harapannya sudah hilang. Semangatnya sudah patah berkeping-keping dan di matanya hanya tampak kematian yang segera akan menghampirinya [ay. 1, 11-16]. Namun apa yang Ayub perkirakan tidaklah seperti yang Allah pikirkan. Sejak dari mulanya penderitaan Ayub diperhatikan oleh Allah. Jerit pergumulannya di dengarkan oleh-Nya. Harapannya tidak dilenyapkan sama sekali. Malah pada waktu yang Allah tetapkan, keadaan Ayub dipulihkan dengan luar biasa [Ayub 42]. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Apakah kita sedang mengalami pergumulan? Atau masalah dalam hidup ini? Apakah kita merasa jerit tangis kita dalam doa-doa terasa jauh dari Tuhan? Seolah-oleh mata kita sudah hampir kering? Namun percayalah bahwa kasih Allah tidak akan pernah sedikitpun meninggalkan anak-anak-Nya. Tetaplah berlaku benar dan setia, tetaplah berpengharapan di dalam Tuhan karena masa depan itu sungguh ada tersedia bagi kita. Selamat membangun harapan. Terpujilah Tuhan!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Lakukan Kebaikan
13 Februari '18
Harapan Itu Masih Ada
20 Januari '18
Menabur Kebaikan1
17 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang