SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Apakah kita bertekad memaksakan kemauan kita sendiri atau memutuskan untuk menyatakan diri dengan-Nya dalam hal kepedulian terhadap orang lain melalui doa-doa kita?
DITULIS OLEH
Sdr. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Doa Bagi Orang Lain
Doa Bagi Orang Lain
Rabu, 22 November 2017
Doa Bagi Orang Lain
Ibrani 10:19

Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.”

Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita....selengkapnya »
“Kekristenan kita telah termakan usia”, kata Sambey, “seperti seorang lanjut usia yang letih dan tak tahu harus berbuat apa lagi selain menunggu panggilan-Nya.” Pdt. Itong yang berada di sampingnya terusik oleh perkataan itu dan berkomentar, “Kata-katamu sangat pesimis, Sam! Tak tepat diucapkan oleh seorang muda sepertimu.” Sambey merespon dengan memandang pendeta pembinanya itu dengan tatapan penuh arti. Seolah-olah Sambey mau mengatakan bahwa Pdt. Itong telah gagal paham terhadap maksud perkataannya itu. Lagi pula mendewakan rasa optimis juga sama salah kaprahnya jika keoptimisan itu hanya tinggal diam sebagai romantisme belaka. “Sebenarnya apa yang kamu maksudkan dengan perkataanmu itu, Sam?” tanya Pdt. Itong seolah-olah telah menyadari gagal pahamnya. Sambey menghela nafas panjang. “Aku ingin menyampaikan bahwa setiap orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menghabiskan usia. Apalagi menghabiskannya dalam rangkulan dosa yang terus dipelihara. Dalam hal ini Tuhan memakai hamba-hamba-Nya untuk melayani dan memperlengkapi jemaat. Tidak pada tempatnyalah jika jemaat hanya dinina-bobokan dengan janji-janji romantis yang tidak menjawab kerasnya tantangan hidup dan pelayanan yang sangat membutuhkan kekudusan dan kedewasaan rohani.” Pdt. Itong gantian merespon Sambey dengan tatapan sayunya. Jemaat yang terkasih, bangsa Yehuda telah lama menjadi umat Allah, namun perjalanan iman mereka terus diwarnai dengan pengalaman jatuh bangun. Dan pada zaman Nabi Yeremia, dosa mereka telah sangat parah. Kemerosotan hidup bangsa Yehuda tidak lepas dari andil para nabi dan imam yang gemar mendayu-mayu umat dengan janji-janji indah. Melalui nubuat mereka berkata bahwa bangsa Yehuda tidak akan mengalami perang dan kelaparan, tetapi damai sejahtera yang akan mereka alami [ayat 13]. Allah menyebut nabi dan imam seperti ini sebagai nabi dan imam yang bernubuat palsu. Karena janji-janji indah itu tidak selaras dengan hidup sehari-hari bangsa Yehuda yang telah bobrok dalam genangan lumpur dosa. Syukur kepada Allah. Dalam situasi yang demikian ini, Allah tidak tinggal diam dalam murka-Nya. Melalui Nabi Yeremia, Allah kembali menyatakan rahmat pemulihan-Nya setelah proses pertobatan dialami bangsa ini. Yaitu janji bahwa masa depan masih ada. Dan Allah sendiri merancangkan damai sejahtera yang menjadikan secercah harapan itu masih ada. Jemaat yang terkasih, jika dari tahun ke tahun hidup kekristenan kita tidak bertumbuh; pelayanan kita tidak berdampak; maka menjadi risaulah. Ini lebih baik daripada mengharapkan janji-janji romantisme kosong dari balik mimbar nan suci sekalipun. Inilah saat bagi kita untuk melihat diri dan membiarkan Roh Tuhan memulihkan dan membaharui kita. Relakanlah diri kita untuk menerima teguran dan nasihat yang membangun dari saudara-saudara seiman dan para hamba Tuhan. Niscaya damai sejahtera dari Tuhan akan menggairahkan hidup dan pelayanan kita kembali. Selamat mengalami secercah harapan.
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan di usianya yang semakin bertambah. Demikian juga sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah sekalipun keadaan hujan atau panas. Bahkan tubuh tuanya yang seringkali mengalami sakit, tidakmembuatnya melupakan setiap hari minggu untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Sang nenek berpikir bahwa dengan beribadah, ia sedang bertemu dengan Tuhannya. Tetangga yang melihat kehidupannya begitu tertarik dengan apa yang dilakukannya .Sampai suatu saat, tetangga nenek yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupannya. Seringkali kita berpikir kalau menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang seperti contoh kisah nenek di atas, termasuk juga melalui bibir kita menjadi berkat bagi banyak orang. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar perkataan kita akan memuji-muji dan memuliakan Allah karena kebaikkan-Nya. Contohnya, Paulus dan Silas sekalipun di penjara [Kisah Para Rasul 16:25] atau ucapan syukur yang kita perkatakan dari mulut bibir kita sekalipun menghadapi masalah dan tantangan. Ketika orang lain mendengarnya, tentu mereka juga akan mendapatkan semangat yang baru dari kehidupan ini. Saat kita belajar melalui mulut bibir ini mengucap syukur tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Mari kita bawa hidup ini, khususnya melalui perkataan kita, menjadi berkat bagi banyak orang. Sehingga seperti perintah Tuhan kepada Abraham supaya Abraham diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang, demikianlah juga kita kiranya menjadi berkat dan menikmati berkat Abraham dalam kehidupan kita ini.
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas tong sampah di depan sebuah rumah. Melihat pintu terbuka, seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja yang penuh dengan makanan lezat. “Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,” katanya. Setelah kenyang, si lalat bergegas keluar menuju pintu masuk. Namun ternyata pintu kaca itu telah tertutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangan seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu. Dengan tak kenal menyerah dia mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan. Esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai. Tak jauh darinya, tampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarang untuk mencari makan. Dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuhnya hingga mati. mereka pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu ke sarang. Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua, “Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?” “Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini. Sebenarnya mereka ini telah berusaha. Dia telah berusaha keras keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.” Semut kecil itu manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi, “Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?” Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, “Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama.” Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, “Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama, tetapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kalian akan seperti lalat ini.” Seringkali kehidupan kita sebagai orang percaya ingin mencapai pertumbuhan menjadi serupa dengan Kristus. Kita ingin sekali keluar dari kebiasaan rutin kita dan terkadang bosan dengan kehidupan kekristenan kita saat ini, sehingga kita mengupayakan segala sesuatunya dengan cara kita sendiri. Tapi sayang ujung-ujungnya adalah hal yang sama dan membosankan. Dampak inilah yang mengakibatkan kita mulai mundur teratur dengan meninggalkan persekutuan dan ibadah. Dan itu banyak kita jumpai. Namun Yesus mengajarkan kita untuk melekat kepada-Nya. Hanya itu “ tinggal di dalam” Dia. Tujuannya adalah kita banyak belajar dan mengikuti apa yang menjadi maksud-Nya, bukan maksud kita. Dan hanya itu yang membuat kita dinamis dan menghasilkan.
Ibu berasal dari desa. Sempat mengenyam pendidikan di Semarang, lalu kembali lagi ke kampung halaman. Keluarga Ibu berasal dari Tiongkok, mamanya bahkan tak bisa berbahasa Indonesia. Mereka pun menganut adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Tiongkok asli. Ketika Ibu menikah dan diboyong ke Jakarta, bisa dibayangkan betapa besar kejutan budaya yang dialami. Tinggal bersama ayah dan Ibu mertua yang berpendidikan Belanda dan beragama Kristen tentunya berbeda jauh dengan keluarga yang ada di desa. Namun Ibu selalu mengingat bahwa keluarga mertuanya tidak pernah memandang rendah kepadanya. Oma, Opa dan para tante saya selalu memperlakukan Ibu dengan baik. Opa saya memahami bahwa ibu saya kesepian. Jauh dari sanak keluarga dan harus menyesuaikan diri dengan keluarga besar yang baru tentu terasa berat. Untuk mengurangi beban perasaan Ibu, secara teratur Opa membawakan buku-buku yang menarik untuk dibaca. Opa juga mengutus seorang kerabat untuk menemani Ibu jalan-jalan dan sesekali makan di luar. Jika saya yang saat itu masih bayi jatuh sakit, Ibu dan Opa akan bergantian menggendong saya sepanjang malam. Padahal Opa masih harus bekerja dari pagi hingga petang. Bisa dibayangkan betapa lelahnya. Meskipun pernikahan Ibu akhirnya kandas di tengah jalan ... kenangan akan keluarga mertua yang sangat baik membuat Ibu tidak asing dengan nilai-nilai Kristiani. Padahal Ibu saat itu masih menganut keyakinan lain. Bahkan ketika saya yang sudah duduk di bangku SD bingung harus menulis apa di kolom agama, Ibu tidak memaksa saya mengikutinya. Saya diberi pilihan, boleh mengikuti agama Opa atau keyakinan Ibu. Dan saya memilih mengikuti keyakinan Opa. Ketika pada akhirnya Ibu menanggapi ajakan saya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, saya yakin bahwa jauh sebelum itu, kesan yang sangat baik dari keluarga mertua Kristiani telah membuka jalan baginya untuk percaya. Kasih dan ketulusan yang diterima Ibu dari keluarga Opa telah mempersiapkan hatinya untuk menerima Yesus Kristus sang Juruselamat. Terpujilah nama Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berhiaskan Kekudusan
20 November '17
Bersinar Dan Berdampak
09 Desember '17
Menjadi Baru Bersama Yesus
01 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang