SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
“Bangkitlah, menjadi teranglah.....” [Yesaya 60:1]
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Dunia Butuh Terang
Dunia Butuh Terang
Selasa, 20 Juni 2017
Dunia Butuh Terang
Roma 8:19-21

Setiap kita tentu pernah mengalami pemadaman listrik secara bergilir atau secara tiba-tiba sehingga rumah kita menjadi gelap dalam beberapa saat. Ada banyak orang terkejut ataupun marah apalagi jika pemadamannya cukup lama. Tetapi saat listrik padam, kita berusaha dengan segala cara supaya rumah kita tidak mengalami kegelapan. Mungkin dengan menyalakan handphone, menyalakan lilin, dan juga lampu darurat. Yang pasti kita mengusahakan untuk mendapatkan penerangan. Supaya tidak terus di dalam kegelapan, maka terang harus datang kepada kegelapan.

Kalau kita melihat dunia di sekitar kita, kondisinya tidak semakin baik karena memang dunia ini telah dikuasai si jahat [1 Yohanes 5:19]. Jauh sebelum surat Yohanes, Nabi Yesaya sudah menyampaikan bahwa kegelapan menutupi bumi dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa [Yesaya 60:2]. Sebagaimana nats Alkitab di atas, dunia yang dalam kegelapan, kesia-siaan, dan keputusasaan sedang menantikan anak-anak Allah untuk menjadi terang. Dan terang itu yang harus hadir di dalam kegelapan.

Mari Jemaat yang terkasih, di tengah-tengah pergumulan dan masalah yang kita hadapi, jangan ...selengkapnya »
Gairah zaman adalah filosofi, cara berpikir yang membentuk gaya hidup yang dikenakan oleh hampir semua manusia sekarang ini dan yang telah dianggap sebagai gaya hidup wajar, bahkan sering dianggap sebagai gaya hidup ideal. Gaya hidup ini masih banyak dikenakan oleh orang kristen, aktivis gereja, bahkan oleh para rohaniawan. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pada saat menjelang kedatangan-Nya, kedurhakaan manusia semakin bertambah, zaman semakin fasik, manusia tidak takut akan Tuhan, tidak peduli hukum atau kehendak Tuhan. Dalam suratnya, rasul Petrus juga mengingatkan bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsunya. Orang-orang yang mengejek Tuhan dengan perbuatannya, mereka membelakangi Tuhan dan memberontak terhadap Tuhan [II Petrus 3 : .3]. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus juga menyatakan tentang gairah zaman ini di mana moral manusia sudah jauh dari standar kebenaran dan kesucian Tuhan. Kita harus menyadari bahwa pengaruh suasana dunia yang fasik ini telah menyusup dalam kehidupan banyak orang kristen dan gereja sehingga mereka hidup dalam kewajaran anak dunia. Tidak menyadari bahwa hidupnya telah jauh dari standar kebenaran yang seharusnya dikenakan oleh anak-anak Tuhan. Untuk melawan pengaruh gairah zaman ini, harus berjuang untuk bertumbuh dalam : 1. Perubahan pribadi dan pola pikir sampai menjadi serupa dengan Tuhan Yesus yang sempurna seperti Bapa [Matius 5 : 48] 2. Mengarahkan selera jiwa/keinginan kita seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus : “Makanan- Ku ialah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” [Yohanes 4 : 34]. 3. Menjaga tujuan/visi hidup , yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Untuk itu harus terus memikirkan dan mencari perkara-perkara yang di atas [Kolose 3 : 1 – 2], yaitu : - kesempurnaan karakter - bebas dari percintaan dunia - hati yang mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan tanpa batas, dan - pikiran yang berfokus pada Kerajaan Surga, Langit Baru dan Bumi Baru.
Pada ayat ini Paulus menyatakan bahwa panggilan Allah adalah untuk memberitakan Injil. Namun apa yang Paulus maksudkan dengan “Injil”, yaitu realitas penebusan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Kita cenderung menempatkan pengudusan sebagai tujuan pemberitaan kita. Paulus mengacu pada pengalaman-pengalaman pribadi hanya sebagai ilustrasi, tidak pernah sebagai tujuan akhir. Kita tidak ditugaskan untuk memberitakan keselamatan atau pengudusan. Kita diamanatkan untuk meninggikan Yesus Kristus [lihat Yohanes 12:32]. Tidaklah adil untuk mengatakan bahwa Yesus Kristus bekerja dalam penebusan untuk membuat saya menjadi orang kudus. Yesus Kristus berjerih lelah dalam penebusan untuk menebus seluruh dunia dan meletakkannya secara utuh di hadapan tahta Allah. Fakta kita mengalami penebusan menunjukkan kuasa dari realitas penebusan itu, tetapi pengalaman tersebut hanyalah hasil sampingan bukan tujuan akhir dari penebusan. Seandainya Allah adalah manusia, tentu betapa bosannya Dia mendengar permintaan kita. Yang terus menerus memohon diselamatkan dari sesuatu yang semuanya mengacu untuk kita sendiri. Namun ketika kita menyentuh fondasi realitas Injil Allah, kita tidak akan pernah menyusahkanNya dengan masalah pribadi kita yang sepele. Satu-satunya hasrat hidup Paulus adalah memproklamirkan Injil Allah yaitu Yesus Kristus. Ia menerima kesedihan hati keraguan, ditolak, dipenjara bahkan penganiayaan hanya untuk satu alasan. Memberitakan Injil Allah.
Pak Budi adalah seorang Kristen sejak kecil. Dia bertumbuh dalam Gereja yang memiliki komunitas kecil untuk sarana pertumbuhan rohani jemaat. Pada suatu saat pak Budi memiliki pergumulan tentang keselamatan dirinya di hadapan Allah. Dia juga sempat meragukan apakah Yesus Kristus benar-benar Allah. Akhirnya Pak Budi di yakinkan keselamatan hidupnya melalui bimbingan pak Slamet sebagai pemimpin komcil. Pak Budi berusaha meyakinkan bahwa keselamatan hidupnya di dalam Kristus di jamin dan Kristus memang benar-benar Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Keraguan tentang siapa Yesus Kristus sebenarnya bukan cuma pergumulan pak Budi saja, tetapi pergumulan banyak orang baik yang sudah mengenal dan percaya Tuhan Yesus maupun mereka yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Yang belum percaya layak kita maklumi sebab mereka berada di luar Kristus, tapi bagi yang sudah percaya Tuhan Yesus hal ini harus kita perhatikan dengan serius. Sebab akan berdampak dalam kehidupannya di kemudian hari. Sebagaimana bacaan renungan kita hari ini yang berkaitan dengan kehidupan Yohanes Pembaptis yang telah membaptis Tuhan Yesus dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang banyak melalui kotbahnya. Saat berada di dalam penjara menunggu bagaimana nasibnya selanjutnya di tangan Raja Herodes, dirinya sempat meragukan keberadaan Tuhan Yesus sebagai Sang Mesias. Oleh sebab itu dia mengutus muridnya untuk mempertanyakan hal ini kepada Tuhan Yesus. Ternyata jawaban Tuhan Yesus sangat mengejutkan. Pertama Dia meyakinkan bahwa Diri-Nya adalah Mesias melalui tanda-tanda yang telah di buatnya [ayat 4-6]. KeDua Dia, mulai berbicara tentang diri Yohanes Pembaptis [ayat 7-14]. Di katakan tidak ada seorangpun yang lahir di Israel memiliki pribadi lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Pelajaran yang kita dapat melalui bacaan ini adalah kebesaran dan kasih Tuhan Yesus yang selalu ingin meyakinkan siapapun orang yang sempat meragukan keberadaan-Nya sebagai Sang Mesias. Supaya dengan pernyataan Tuhan Yesus, orang tersebut tidak lagi ragu-ragu melainkan akan melangkah dengan mantap dalam iman kepada dan bersama Tuhan Yesus. Bagaimana dengan diri kita saat ini, yakinkah kita bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias Sang Juruselamat manusia berdosa? Jika kita masih sempat meragukannya sama seperti Yohanes Pembaptis, maka temukan jawabannya melalui pembacaan dan pendalam Firman Allah terutama Injil Yohanes niscaya kita akan diyakinkan siapa Tuhan Yesus Kristus yang sebenarnya.
Tema gereja tahun ini: Lakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa, ini seirama dengan Amanat Agung yang tertulis di Injil Markus dan Matius. Mereka yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, selanjutnya dididik menjadi murid yang harus melakukan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ada proses yang tidak sederhana dalam Amanat Agung, yaitu: Injil [kebenaran Tuhan] diberitakan baik secara langsung maupun tidak langsung [melalui kesaksian hidupnya Matius 5:16], orang yang mau percaya selanjutnya dididik menjadi murid Tuhan Yesus, dan orang percaya yang sudah menjadi murid juga harus pergi dan memberitakan Injil kepada orang lain, lahir orang percaya baru yang harus dididik menjadi murid. Demikian seterusnya seperti suatu reaksi berantai dalam pembuatan sebuah bom atom. Supaya proses penginjilan berjalan lancar perlu dipahami kebenaran yang terkait proses keselamatan jiwa. Anugerah keselamatan melalui penebusan salib harganya sangat mahal [I Petrus 1:18] dan bertujuan supaya manusia bisa dikembalikan kepada rancangan semula Tuhan waktu menciptakannya, serupa dengan Penciptanya. Dengan demikian manusia bisa menemukan kembali kemuliaan Tuhan yang telah hilang/berkurang [Roma 3:23], orang percaya bisa mengenakan kodrat ilahi, hidup kudus dan tidak bercacat tidak bercela di hadapan Tuhan dan manusia [Efesus 1:4]. Proses pengudusan orang percaya, pertama oleh darah Kristus yang tercurah di kayu salib [Pengudusan pasif yang hanya bisa dilakukan Bapa], selanjutnya kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran melalui pimpinan Roh Kudus [I Petrus 1:22, Yohanes 14:26], hal ini menuntut tanggung jawab masing-masing individu, disebut juga pengudusan aktif. Dalam hal ini gereja harus berfungsi sebagai “sekolah teologia” bagi jemaat supaya anggota jemaat bertumbuh dalam memahami kebenaran Injil yang murni dan para pimpinan rohani dan aktivis gereja menampilkan sosok teladan yang bisa menjadi model dalam mentaati segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Syarat penting dalam proses keselamatan adalah manusia harus percaya kepada Tuhan Yesus dan Injil yang diajarkan-Nya. Percaya Tuhan Yesus bukan sekedar mengakui secara pikiran akan status dan riwayat-Nya. Iman berarti penyerahan dan penurutan/ketaatan mutlak kepada pribadi yang dipercayai [= iman Abraham]. Untuk memiliki iman taraf ini memang tidak mudah, namun diperlukan perjuangan dan usaha serius untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar [Lukas 13:24, Pilipi 2:12]. Melepaskan diri dari segala miliknya, yaitu tidak mencintai dunia [Lukas 14:33, Matius 13:22].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Humblebrags
12 Februari '18
Lakukan Kebaikan
13 Februari '18
Jadilah Seperti Gideon
28 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang