SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
“Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!” [Wahyu 3:19]
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hadirnya Secercah Harapan
Hadirnya Secercah Harapan
Rabu, 15 November 2017
Hadirnya Secercah Harapan
Yeremia 14:10-16; 29:11
“Kekristenan kita telah termakan usia”, kata Sambey, “seperti seorang lanjut usia yang letih dan tak tahu harus berbuat apa lagi selain menunggu panggilan-Nya.” Pdt. Itong yang berada di sampingnya terusik oleh perkataan itu dan berkomentar, “Kata-katamu sangat pesimis, Sam! Tak tepat diucapkan oleh seorang muda sepertimu.” Sambey merespon dengan memandang pendeta pembinanya itu dengan tatapan penuh arti. Seolah-olah Sambey mau mengatakan bahwa Pdt. Itong telah gagal paham terhadap maksud perkataannya itu. Lagi pula mendewakan rasa optimis juga sama salah kaprahnya jika keoptimisan itu hanya tinggal diam sebagai romantisme belaka.

“Sebenarnya apa yang kamu maksudkan dengan perkataanmu itu, Sam?” tanya Pdt. Itong seolah-olah telah menyadari gagal pahamnya. Sambey menghela nafas panjang. “Aku ingin menyampaikan bahwa setiap orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menghabiskan usia. Apalagi menghabiskannya dalam rangkulan dosa yang terus dipelihara. Dalam hal ini Tuhan memakai hamba-hamba-Nya untuk melayani dan memperlengkapi jemaat. Tidak pada tempatnyalah jika jemaat hanya dinina-bobokan dengan janji-janji romantis yang tidak menjawab kerasnya tan...selengkapnya »
Target orang percaya adalah menjadi murid sejati yang rela dididik oleh Tuhan dalam sekolah kehidupan selama hidup di bumi ini [Titus 2:11]. Harus dipahami bahwa agenda Bapa dengan Anugerah Keselamatan melalui penebusan salib yang sangat mahal harganya adalah mengembalikan manusia kepada rancangan semula pada waktu Tuhan menciptakannya, yaitu sempurna seperti Bapa, kudus dan tidak bercacat di hadapan-Nya. Tuhan Yesus memberikan syarat untuk bisa menjadi murid/pengikut-Nya, yaitu menyangkal diri dan memikul salib setiap hari [Lukas 9:23]. Rasul Paulus menggambarkannya dengan ungkapan “meninggalkan manusia lama” [Efesus 4:22; Kolose 3:9] Menyangkal diri pada hakikatnya adalah melepaskan kesenangan sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dari hal-hal sederhana sampai pada kesenangan yang sudah menyatu dengan dirinya, bahkan menjadi senilai dengan nyawa atau hidupnya, yang tentunya sangat sulit dilepaskan. Kesenangan yang harus dilepaskan adalah seseorang atau sesuatu: kekayaan, kehormatan manusia, kedudukan, kenikmatan daging, hobi, perhiasan, dsb. Kesenangan tersebut sering dianggap tidak melanggar kehendak Tuhan karena dinilai wajar seperti yang dimiliki oleh manusia pada umumnya. Kesenangan telah bertahta dalam hati dan tidak terbaca oleh siapapun, bahkan dirinya sendiri, sehingga melepaskan kesenangan ibarat mencabut nyawa dan sangat menyakitkan. Hal ini bertentangan dengan prinsip hidup Tuhan Yesus yang kesenangan-Nya adalah menyenangkan hati Bapa [Yohanes 4:34]. Orang percaya yang kesenangannya seperti ini berarti tidak memiliki berhala [2 Korintus 11:2-3] Meninggalkan manusia lama berarti meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Analoginya bangsa Israel yang diperintahkan untuk menumpas bangsa-bangsa [kafir] di Kanaan. Untuk itu orang percaya tidak boleh berhenti mengalami pembaharuan pikiran [Roma 12:2]. Menumpas semua unsur manusia lama perlu proses panjang yang dilakukan dengan segenap hati dan harus dimulai sejak dini/secepatnya. Kesadaran dan kesediaan yang tulus harus diikuti dengan langkah konkret untuk terus bertumbuh dalam Kebenaran Injil yang murni. Tuhan akan menolong dan menggarap kehidupan kita [Roma 8:28-29, Filipi 2:12-13].
Karya terbesar Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dua minggu lagi kita akan memperingati hari Natal, hari kedatangan Sang Juruselamat dunia. Kedatangan Kristus sang Mesias telah memulai sebuah zaman baru dalam sejarah dunia ini, yaitu zaman anugerah keselamatan. Kedatangan Kristus memulai sebuah karya agung penyelamatan manusia dari dosa. Untuk mewujudkan sebuah rencana yang besar pasti dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Sebagai contoh, kalau sebuah produser film ingin membuat sebuah film yang fenomenal, seperti sebuah film kolosal, pasti harus mengeluarkan modal yang besar, harus mencari sutradara yang terbaik, pemeran yang terbaik, dan produsernya pasti mau memastikan bahwa semua berjalan dengan baik. Penyelamatan manusia agar dilepaskan dari belenggu dosa adalah sebuah pekerjaan yang maha besar, paling besar di segenap alam semesta. Untuk pekerjaan yang maha besar ini, Allah rela memberikan yang terbaik dari diri-Nya, yaitu Putra Tunggal-Nya. Untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa memang membutuhkan biaya yang besar. Allah harus mengerjakan langsung pekerjaan ini. Dari hal ini kita bisa melihat betapa besarnya karya penyelamatan manusia, yaitu sebesar pengorbanan yang diberikan oleh Allah sendiri. Allah sendiri harus turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia. Kita bersyukur karena hidup kita sebagai manusia begitu berharga bagi Allah, sehingga Dia rela untuk membayar harga yang begitu mahal untuk menyelamatkan kita. Demikian juga jika kita diajak untuk terlibat di dalam pekerjaan yang begitu besar dan mulia ini, kita patut menghargainya dan mengerjakannya dengan segenap hati. Tuhan Yesus mengajak kita untuk ikut terlibat di dalam pekerjaan yang besar ini. Kalau kita sudah diselamatkan dan telah mendapat jaminan hidup yang kekal, marilah kita peduli kepada jiwa-jiwa di sekitar kita yang masih memerlukan keselamatan. Ikutlah ambil bagian dengan mendoakan mereka dan memberikan kesaksian yang baik dari hidup kita yang telah ditebus oleh darah Yesus. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu. Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh. Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam setiap hari yang kita lalui, banyak hal yang terjadi. Kejadian yang menyenangkan, yang membahagiakan, pengharapan yang menjadi kenyataan, doa yang terkabul, atau kekecewaan yang didapat, ketakutan yang tak kunjung berakhir, kepedihan dan kesusahan yang tiba-tiba saja datang. Itu beberapa situasi yang tiba-tiba bisa menghampiri kita setiap hari. Karena itu sangat perlu bagi kita merenungkan apa yang terjadi.Menimbang baik dan buruknya dari setiap kejadian yang timbul. Agar kita tidak salah dalam melangkah, dalam menjalani hari-hari kita. Mohon hikmat kepada Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Mohon Dia memimpin di setiap waktu yang kita lalui. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai guru dalam menjalani hari demi hari yang kita lalui, maka Dia akan memberi hati yang bijaksana. Kebijaksanaan akan terlihat dari cara seseorang berpikir, bertutur kata dan bersikap. Kebijaksanaan akan menimbulkan sukacita, menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya dan sudah pasti akan menciptakan suasana damai sejahtera. Karena itu mintalah kepada Dia untuk terus mengajar menghitung hari-hari, agar kita beroleh hati yang bijaksana.
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut. Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan selamatlah dia. Selama kita hidup, maka seringkali kita akan menerima segala macam tanah dan kotoran, yaitu segala macam masalah dan persoalan kehidupan ini. Cara untuk keluar dari “sumur masalah” adalah dengan menghilangkan segala pikiran negatif dalam diri kita dan mampu menderita, serta terus bekerja dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya mulai menyelesaikan masalah dengan terus melangkah maju, setahap demi setahap, terus mengatasi masalah demi masalah seumur hidup kita. [WIN] Pokok renungan: Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apakah Dia Benay?
27 November '17
Hidup Menjadi Berkat !
16 November '17
Menghitung Hari-Hari
21 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang