SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu [Yesaya 30:15b]
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Harapan, Penantian, Dan Sukacita Perjuangan
Harapan, Penantian, Dan Sukacita Perjuangan
Kamis, 02 Januari 2020
Harapan, Penantian, Dan Sukacita Perjuangan
Yeremia 29:1-14
Sama seperti awal tahun lalu, awal tahun ini hanya sedikit orang menyambut dengan kegairahan. Kelesuan ekonomi dunia, pergumulan gereja dan kebutuhan keluarga mesti dicukupi, cukup menyita sisi ruang pikiran orang-orang yang berpenghasilan pas-pasan. Sambey yang berasal dari keluarga sederhana turut merasakan sepinya kegairahan tahun baru ini. Meski awal tahun 2020 tetap disambut meriah oleh masyarakat dan jemaat. Kembang api berseliweran memecah kegelapan malam kota Semarang. Trompet dibunyikan dengan nyaring. Doa syukur dan pengharapan dipanjatkan dengan penuh semangat di gereja-gereja. Namun, keceriaan itu hanya sesaat. Sebagai tradisi perayaan semata. Pagi harinya, Sambey kembali harus berpikir dan bergelut menata masa depannya. Ia baru saja lulus sarjana. Dan awal tahun ini adalah langkah pertamanya untuk menapaki dunia kerja yang tak kunjung didapatnya. Sama dengan Sambey, Benay baru lulus sarjana pula. Bedanya Benay telah bekerja sebagai asisten juru masak yang telah ditekuninya beberapa bulan sebelum wisuda. Namun Benay tak luput juga dari pergumulan. Pikirannya tersita dengan status jomblo tak kunjung hengkang dari hidupnya. Benay merasa ragu apakah tahun ini ia akan mendapatkan tambatan hati.

Jemaat yang terkasih. Pergumulan Sambey dan Benay di atas adalah ...selengkapnya »
Waktu berjalan dengan begitu cepat, dan tidak terasa tulisan demi tulisan yang ada di renungan warta jemaat sudah berjalan selama tujuh tahun lamannya. Sejak tulisan renungan warta untuk pertama kalinya dimuat di dalam warta jemaat pada bulan Januari tahun 2011, hingga di hari terakhir di tahun 2019 ini, ada banyak hal menarik di dalamnya. Para penulis renungan harian berusaha memberikan yang terbaik bagi para pembaca renungan ini. Para penulis berusaha menuangkan ide dan perenungannya untuk mengajak jemaat dan seluruh pembaca dapat bertumbuh imannya melalui tulisan ini. Bukan hal yang mudah, bagi para penulis untuk menyajikan ide yang segar, original dan bermanfaat bagi para pembaca. Lihatlah, bagaimana ide tulisan dengan ilustrasi tokoh imajimer yang bernama Benay dan Sambey, dikemas dengan segar yang kemudian membawa jemaat masuk dalam refleksi yang lebih dalam. Atau ilustrasi seputar kisah pribadi dari sang penulis, yang dimunculkan dalam tulisannya. Juga ilustrasi pengantar berupa hal-hal yang terkait dengan sepakbola atau film juga turut muncul di sana. Bahkan, ulasan seputar politik, maupun kejadian sehari-hari yang update pun, pernah muncul dalam renungan harian warta jemaat. Konsisten untuk tetap menulis dan menuangkan ide yang segar sebagai bahan perenungan untuk renungan di warta jemaat, bukan hal yang sederhana dan mudah bagi para penulis. Para Penulis hanya alat-Nya Tuhan untuk memberkati jemaat melalui tulisan. Jika bukan karena Tuhan yang membimbing, para penulis bukanlah siapa-siapa. Tuhan yang membimbing dan memberikan kekuatan! Nabi Samuel beserta seluruh umat Israel pun menyadari hal yang serupa. Bangsa Israel merasakan dan tahu benar tentang sulitnya berperang melawan orang Filistin. Bahkan, tidak jarang juga bangsa Israel harus menelan kekalahan dari lawannya itu, seperti yang dikisahkan di dalam 1 Samuel 4. Seperti halnya sebuah roda yang ada kalanya di atas dan ada kalanya di bawah, kisah sebaliknya justru diceritakan di 1 Samuel 7. Di dalam 1 Samuel 7, bangsa Israel mengalami kemenangan yang luar biasa. Apakah kemenangan ini adalah karena bangsa Israel yang hebat? Nabi samuel, memberi jawaban dengan mendirikan sebuah “monumen”, dengan berkata, ’Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita’ [ay.12]. Kata-kata ini bukanlah hanya sebuah perkataan formalitas, namun ada makna mendalam di dalamnya. Sebuah ungkapan iman yang menyatakan Tuhan yang menjadi pelindung, penolong dan pembela bagi umat Israel, di dalam segala keadaan. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih percaya bahwa Tuhan menolong dan menyertai kita hingga detik ini? Masihkah percaya dengan kuasa Tuhan yang tidak terbatas? Masihkah kita percaya pada kebaikan Tuhan? Ataukah, justru dari hari ke hari kita menjadi ragu kepada Tuhan? Tinggal beberapa saat lagi kita meninggalkan tahun yang lama, untuk memulai tahun yang baru. Kira-Nya di tahun yang baru, iman itu tidak menjadi pudar. Iman kita harus terus menyala-nyala di dalam Tuhan. Sebab dari sekarang dan sampai selama-lamanya, Tuhan selalu menolong kita. Selamat bersukacita di dalam Tuhan di tahun yang baru. Tuhan Yesus Memberkati.
Ada banyak orang Kristen tidak tertarik dan ’merasa jengah’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan. Karena banyak yang berpikir, ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan. Misal, tidak boleh ini tidak boleh itu, pantang melanggar, jika melanggar ada sanksi atau konsekuensinya yang akan di tanggungnya. Seperti tertulis: ’maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dengan pukulan-pukulan.[ayat 32]. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih tertarik mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya. Yang harus dipahami adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah ’bukan identik’ dari ketaatan seseorang dalam melakukan perintah Tuhan. Yang harus dipahami adalah ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu. Tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang semestinya dimiliki setiap orang percaya. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri kita, maka melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan. Melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah memberikan keteladanan dalam ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya, ’Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.’ Perintah Tuhan bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya untuk kebaikan kita. Tuhan menghendaki agar kita mengalami kebaikan, kasih setia, kebenaran, kemurahanNya. Sehingga rencana-Nya tergenapi, yaitu kehidupan berkelimpahan dan masa depan penuh harapan. Namun sayang, banyak orang memilih untuk tidak taat mengikuti jalan Tuhan. Padahal ’Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya.’ [Mazmur 25:10]. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan ketetapan-ketetapan-Nya menjadi gaya hidup kita? Seharusnya !!??
Natal telah tiba, dunia menyambut gembira, pesta pora bersama. Adakah kita termasuk di dalamnya??? Pastinya tidak karena bagi kita umat percaya, Natal bukanlah pesta pora tetapi ucapan syukur karena Dia Sang putra Allah mau lahir untuk mati buat tebus dosa kita. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah kedatanganNya yang ke dua yang tak seorangpun tahu, malaikat-malaikat di Surga juga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri [Mat 24:36]. Dari Matius 25:1-13 kita membaca sebuah perumpamaan yang menceriterakan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh saat akan menyongsong mempelai laki-laki. Pada saat perumpamaan ini disampaikan, merupakan kebiasaan bagi seorang pengantin wanita Yahudi ditemani oleh sepuluh pengiring yang sepertinya adalah teman-teman dekat dan seumur dengan pengantin wanita. Juga merupakan adat kebiasaan, mempelai laki-laki datang malam hari dengan tidak ada kepastian jam/waktunya. Itulah sebabnya para gadis pengiring tentu harus membawa pelita saat menyongsong mempelai laki-laki. Karena jam/waktunya tidak diketahui seharusnya gadis-gadis pengiring membawa persediaan minyak. Ternyata yang membawa hanya 5 orang. Di akhir perumpamaan ini tragis bagi 5 gadis yang tidak membawa persediaan minyak dan mereka tidak diperkenankan masuk ruang pesta perkawinan. Bagaimana dengan diri kita ? Karena kedatangan-Nya yang kedua tidak bisa diprediksi, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah selalu siap tidak boleh lengah walau sekejap. Mari kita bersikap bijaksana seperti lima gadis yang siap membawa minyak sehingga saat mempelai datang pelita masih bisa dinyalakan. Jangan sampai kita kehabisan minyak yaitu api Roh Kudus seperti lima gadis yang bodoh.Amin.
Natal, kelahiran Yesus Kristus di dunia adalah sebuah bentuk ketaatan Anak kepada Bapa-Nya. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia, dalam rangka misi-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Dia lahir di kandang ternak. Tidak memiliki tempat tinggal dan berkali-kali mendapat ancaman. Padahal dalam pelayanan-Nya banyak mujizat terjadi, orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar, mati dibangkitkan. Memberi kelegaan pada mereka yang letih lesu dan berbeban berat. Memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia tetap taat pada misi Allah ketika dipukul, diludahi, diberi mahkota duri, dicambuk dan sampai mati di kayu salib. Pada waktu malam saat gembala-gembala menjaga domba mereka di padang Efrata, datanglah sorang malaikat menemui mereka dan berkata :’Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Mendengar berita yang disertai dengan sejumlah besar memuji Allah : “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia”, mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem. Mereka harus mengatasi kesulitan dan masalah bila berangkat, gelap gulita, menggiring domba-domba di tengah malam. Suatu perkerjaan yang sulit, tetapi mereka taat untuk berjumpa dengan Sang Juru Selamat. Saat ini Yesus tidak lahir di kandang Betlehem, tetapi di hati kita. Bila Sang Firman itu ada dalam hidup kita, seharusnya kita taat melakukannya, Banyak tantangan dan kesulitan yang kita hadapi waktu kita melakukan Firman Tuhan, tetapi kesulitan yang kita hadapi tidak sebanding dengan penderitaan dan pengorbanan Yesus dalam menaati misi Allah. Marilah kita teladani gembala-gembala di Efrata yang tidak menunda waktu untuk merespons Firman Tuhan. Natal mengingatkan kita akan sebuah ketaatan.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Natal : Sebuah Ketaatan
26 Desember '19
Pertolongan Yang Tepat
30 Desember '19
Eben Haezer1
27 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang