SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Tetaplah berlaku benar dan setia, tetaplah berpengharapan di dalam Tuhan karena masa depan itu sungguh ada tersedia bagi kita. Selamat membangun harapan. Terpujilah Tuhan!
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Harapan Itu Masih Ada
Harapan Itu Masih Ada
Sabtu, 20 Januari 2018
Harapan Itu Masih Ada
Ayub 17:1-16; Amsal 23:18

“Mbah, Benay akan segera kembali ke tanah air”, kata Rabenay pada Mbah Wanidy yang masih terpingkal-pingkal menahan tawa. “Apa! Benay akan kembali? Dia masih hidup?”, tanya Mbah Wanidy keheranan. “Benar Mbah, menurut informasi yang saya terima, KBRI di Iraq telah menyampaikan pengumuman bahwa para sukarelawan asal Indonesia akan mulai dipulangkan pada awal tahun 2018 ini. Konon salah satu nama yang disebut adalah Benay, adik kandung saya.” Wajah Mbah Wanidy sumringah mendengar kabar baik ini. Sukacita meletup-letup dalam sanubarinya. Wajahnya berseri-seri berhias pengharapan. “Wah..wah.., tampaknya Mbah Wanidy gembira sekali. Bahkan lebih gembira dibandingkan dengan saya.” Mbah mengangguk-angguk mengiyakan. “Mengapa Mbah begitu gembira ketika mendapatkan kabar bahwa Benay akan pulang?” tanya Rabenay penasaran. “Ya tentu saya senang karena pertama-tama Benay selamat. Bagaimanapun juga dia itu adalah konsumen fanatikdi warung saya. Kedua, heem…ehem….kembalinya Benay ke Semarang berarti tumbuh mekarnya kembali harapan saya”, jawab Mbah Wanidy. “Harapan apa itu, Mbah” tanya Rabenay. “Heek…e..heeem…harapan untuk terbayarnyahutang-hutang Benay pada saya.” Wajah Rabenay pun memerah karena malu....selengkapnya »
Ada berbagai motivasi yang mendasari seeorang melakukan kebaikan, antara lain perasaan belas kasihan, tidak mau kalah dengan orang lain, ingin mendapat pujian. Perikop renungan kita hari ini berbicara mengenai “Hal memberi sedekah”, dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kalimat “ Lakukan kebaikan untuk memuliakan Tuhan “ Dari kebenaran Firman Tuhan ini, jelas bagi kita bahwa berbuat kebaikan baik berupa materi /sedekah, pertolongan harus didasari motivasi yang benar, tulus jangan sampai ada tujuan yang terselubung. Pertama, jika kita melakukan kewajiban agama yang dalam terjemahan bahasa Inggris dipakai kata charitable = murah hati, suka berderma tidak untuk dipamerkan supaya dilihat orang karena jika itu yang kita lakukan maka kita tidak akan mendapat upah dari Bapa di Surga [ayat 1]. Kedua, jika kita melakukan kebaikan jangan kita mencanangkan [menggembar-gemborkan ] untuk mencari pujian dari manusiaseperti yang dilakukan orang munafik karena hanya itulah upah yang akan kita terima [ayat 2] Ketiga, dikatakan jika kita melakukan kebaikan jangan sampai tangan kiri tahu apa yang dilakukan tangan kanan kita dan juga kita harus melakukannya dengan tersembunyi. Artimya tidak seorangpun perlu mengetahui kebaikan yang kita lakukan [ayat 3,4]. Pada umumnya memang sulit menyimpan kebaikan yang telah dilakukan karena pada kenyataannya, kita pasti tahu apa yang tangan kanan dan kiri lakukan. Dalam Alkitab BIS, kata tersembunyi dipakai kata diam-diam artinya hanya Bapa di Surga yang mengetahui dan akan membalasnya kepada kita. Dari apa yang kita renungkan hari ini, marilah kita lakukan kebaikan dengan tulus hati tanpa motivasi yang terselubung untuk kepentingan pribadi. Amin.
Ada yang menyatakan bahwa merpati merupakan simbol ketulusan hati karena katanya seekor merpati hanya memiliki satu pasangan seumur hidupnya. Juga ketika ia terbang jauh pasti akan kembali ke kandangnya. Yang lain mengatakan bahwa bunga Edelweis merupakan simbol ketulusan karena Edelweis tumbuh di daerah yang khusus dan ekstrem sehingga seolah-olah menerima keadaan apa adanya tanpa menuntut kondisi yang mengenakkan. Tetapi yang lain juga menyatakan mawar putih lambang ketulusan hati. Yang benar yang mana? Merpati, Edelweis atau mawar putih yang sebenarnya menjadi simbol ketulusan? Atau semuanya memang simbol ketulusan? Merpatikah, Edelweiskah atau mawar putihkah yang benar, tidaklah penting. Yang lebih penting adalah ketulusan itu sendiri karena semua benda tadi hanyalah simbol atau lambang. Apa sebenarnya arti ketulusan? Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan tulus adalah sungguh dan bersih hati; jujur; tidak pura-pura; tidak serong. Tetapi bagaimana Alkitab mendefinisikan ketulusan? Alkitab memberi beberapa arti ketulusan, di antaranya: 1. “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat....” [Ibrani 10:22]. Hati yang tulus berarti hati nurani yang bersih dari yang jahat. Tidak ada iri dengki; tidak tercemar oleh kemunafikan; jauh dari kebencian, dendam, sombong, tamak, niat tersembunyi dan hal-hal yang jahat lainnya. 2. “Jangan curang, tetapi hendaklah selalu tulus dan setia...” [Titus 2:10]. Tulus berarti juga tidak curang. Curang itu sama dengan tidak jujur; culas; menipu; mengakali. Seseorang melakukan kecurangan, tentu tujuannnya adalah untuk keuntungan dan kepentingan diri sendiri dengan menghalalkan segala cara. 3. “.... sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.” [1 Petrus 1:22]. Tulus dihubungkan dengan melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh dan segenap hati. Kalau kita perhatikan arti-arti di atas, tulus hati erat hubungannya dengan membangun relasi dengan Allah, sesama manusia, dan tugas tanggung jawab [termasuk pelayanan]. Tanpa ada ketulusan, sulit rasanya membangun kesatuan, kebersamaan, dan keintiman [kedekatan]. Jika kita ingin membangun komunitas kristen atau gereja yang kuat, jangan singkirkan dan lupakan ketulusan hati!
Waktu berjalan begitu cepat, bulan Januari telah lewat dan kita masuk ke bulan ke-2 tahun ini. Ada hati yang berbunga-bunga tapi ada juga hati yang kelabu, yang pasti tidak seorang pun dari kita tahu apa yang akan terjadi di hari-hari yang kan kita lalui. Hati kita dipenuhi banyak tanda tanya: Bisakah ? Mungkinkah ? Rasa kawatir dan takut sering menghantui hidup kita. Banyak ketidakpastian berkecamuk dalam pikiran dan hati kita. Namun satu hal yang harus kita tahu pasti bahwa Allah ada di pihak kita, jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? Dalam janji Allah ini ada 3 hal yanag harus kita pahami. Pertama: Allah berada di pihak kita! Bagaimana kita mengetahui dengan pasti? Mempercayai-Nya dan berada dalam kehendak-Nya ? Bukankah di dalam Yesus Kristus kita dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kita juga dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya dan dimuliakan-Nya. Kedua: Allah memberikan kekuatan dan kemenangan kepada kita. Kepastian ini kita peroleh karena Ia telah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal, Yesus Kristus sebagai anugerah terbesar dalam hidup kita. Itu artinya bahwa Ia juga akan memberikan hal-hal lainnya yang kita butuhkan [ayat 32]. Ketiga: Persekutuan kita dengan Allah tidak akan dapat dipisahkan oleh apapun juga dalam dunia ini. Kesulitan hidup bisa saja datang menghadang tetapi bersama Tuhan, siapa takut? [ayat 35]. Mari kita melangkahkan kaki kita menapaki hari-hari di depan kita dengan penuh percaya akan penyertaan-Nya yang kekal.
Ketika saya sedang mendoakan jemaat yang sakit cukup lama karena faktor usia, saya sangat tertarik dengan perawat atau pengasuh dari jemaat yang sakit tersebut. Ketertarikan saya adalah ketika saya bertanya sudah berapa lama bekerja sebagai pengasuh orang sakit. Ia menjawab “saya melakukan pekerjaan ini sudah dua puluh tahun, dan saya sangat menyenangi pekerjaan saya ini.“ Itu adalah jawaban dari pengasuh tersebut. Pernah ia diajak bekerja diperusahaan. Namun ia menolak karena hasrat yang ada dalam dirinya adalah bisa menolong orang yang sedang sakit dan bisa menghibur dia yang sakit. Kadang ia kasihan melihat lansia yang ditinggal sendirian oleh anaknya yang sibuk mencari kekayaan dan usahanya sehingga lupa dengan orang tuanya. Tidak jarang ia diomel-omeli oleh pasien atau pihak keluarga, namun ia selalu senyum dan menjawab maaf dan sebagainya. Ia senang bisa menghantarkan lansia yang dalam masa kritisnya dengan doa dan semangat untuk bersyukur kepada Tuhan. Ia sangat senang bisa membagikan kekuatan yang ia miliki untuk membantu lansia. Dan yang menjadi kesukaannya ialah menolong orang lain untuk tidak kuatir bertemu Tuhan disaat hari akhirnya hingga yang dilayani mengenal Tuhan. Mengasuh lansia memang pekerjaan tidak populer dan itu tidak semua orang punya hati disana. Penting kita ketahui bahwa kita bisa menghibur dan menolong orang lain di dalam setiap apapun pekerjaan kita. Kita harus menyadari bahwa Tuhan menyertai kalau kita, kalau kita punya hati untuk jiwa-jiwa. Sering kali kita lupa, bahwa melalui apa yang kita kerjakan bisa menolong orang lain untuk mengenal Tuhan dan mengasihi Tuhan. Namun kita terkadang belum sampai disana. Tuhan tempatkan dipekerjaan dan usaha kita untuk bisa menjadi berkat dan belajar mensyukuri atas apa yang telah diperbuat dalam kehidupan kita. Sebab dengan kita melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, kita sudah melayani Tuhan. dan melakukan apa yang menjadi tujuan Tuhan atas kehidupan kita. Tujuan Tuhan bagi kita yaitu diberkati untuk menjadi berkat juga mengelola apa yang Tuhan percayakan dalam kehidupan kita. Oleh karenanya sesederhana apapun yang kita lakukan lakukanlah dengan segenap hati dan percayala jika kita melakukan dengan segenap hati orang yang ada disekitar kita pun akan terberkati, Semua yang kita lakukan dengan segenap hati pasti akan menjadi berkat dan kesukaan kepada setiap orang karena mereka merasakan dampak yang kita perbuat, selagi kita bisa berkarya dan melakukan sesuatu yang dapat menolong orang marilah kita melakukannya dengan segenap hati kita untuk Tuhan dan sesama.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Fokus Tuhan Bukan Pada Masalah
26 Januari '18
Berdoa Bagi Mereka
05 Februari '18
Bersaksi Dengan Hikmat1
03 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang