SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Natal adalah masalah hati bukan sekedar gebyarnya dekorasi.
DITULIS OLEH
Pdt. Laij Andreany
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hati Para Gembala
Hati Para Gembala
Kamis, 07 Desember 2017
Hati Para Gembala
Lukas 2:8-20
Perayaan Natal semakin dekat. Persiapan apa saja yang kita lakukan untuk menyambut dan merayakan hari istimewa di akhir tahun ini? Bukan penampilan luar yang Tuhan lihat, melainkan hati. Hati memang tak tampak dari luar, tak tampak oleh mata tapi memberi dampak yang luar biasa. Bagaimana keberadaan hati para gembala saat memperoleh kunjungan seorang malaikat dan saat mendengar berita tentang kelahiran Sang Juruselamat?

Pertama, hati yang takut. Ini sesuatu yang wajar dan alami. Ketakutan bisa datang saat ada lawatan mahluk sorgawi. Namun takut itu tidak bertahan lama. Hati para gembala kemudian berubah menjadi sukacita.

Kedua, hati yang percaya. Mereka mendengar pesan malaikat tapi mereka tidak mempertanyakannya. Ini menunjukkan percaya yang tulus. Kadangkala kita perlu bersikap kritis tapi dalam konteks yang benar. Firman Tuhan tidak perlu dikritisi karena benar adanya, yang perlu dilakukan adalah mempercayainya.

Ketiga, hati yang rindu. Mereka cepat-cepat berang...selengkapnya »
Setelah menyeberangi sungai Yordan, bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua menghadapi kota Yerikho dengan tembok keliling kota yang sangat tebal dan kuat. Mereka tidak bisa masuk ke dalam kota karena pintu-pintu tembok kota telah tertutup rapat. Tuhan memberikan kota Yerikho dengan mujizat, mereka mengitari tembok sehari sekali secara senyap selama 6 hari. Pada hari yang ketujuh mereka mengitari 7 kali dan pada akhir perjalanan mereka bersorak sorai, runtuhlah tembok Yerikho. Tembok Yerikho runtuh bukan karena kekuatan dan kehebatan tentara Israel, tetapi karena Tuhan yang menyerahkan kota Yerikho ke tangan bangsa Israel. Mereka percaya kepada perintah Tuhan walaupun sebuah perintah yang aneh hanya berjalan mengitari tembok dan tidak ada sedikitpun perintah untuk berperang atau menyerang. Mereka tidak sekedar percaya tetapi menaati dan melakukan perintah itu dengan segera dan tanpa berbantah-bantah. Dalam melakukan perintah Tuhan, mereka harus menanggung malu, cemooh, hinaan dan ditertawai oleh penduduk Yerikho. Setiap hari selama tujuh hari mereka harus menahan diri untuk tidak membalas setiap ejekan dan mungkin lemparan batu dari atas tembok. Di hari yang ketujuh setelah berkeliling selama 7 kali mereka bersorak-sorai dengan penuh gegap gempita diiringi dengan tiupan sangkakala oleh para imam. Mereka bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan, runtuhlah tembok Yerikho. Setiap kita sangat mungkin menghadapi masalah besar seperti tembok-tembok Yerikho yang kuat, kokoh dan seakan tidak bisa ditembus dan diatasi yang sering membuat kita takut serta cemas. Mari kita belajar dari pengalaman bangsa Israel, percaya dan yakin bahwa janji Tuhan pasti digenapi, Dia yang memberi jalan keluar atas masalah. Lakukan bagian kita, taati dan lakukan setiap Firman Tuhan walaupun sulit dan dicemooh atau ditertawakan. Bersukacitalah senantiasa dan pujian kepada Tuhan mewarnai hari-hari kita walaupun masalah kita belum terselesaikan. Sekuat apapun tembok Yerikho yang kita hadapi pasti runtuh oleh karya Tuhan.
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Karya terbesar Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Dua minggu lagi kita akan memperingati hari Natal, hari kedatangan Sang Juruselamat dunia. Kedatangan Kristus sang Mesias telah memulai sebuah zaman baru dalam sejarah dunia ini, yaitu zaman anugerah keselamatan. Kedatangan Kristus memulai sebuah karya agung penyelamatan manusia dari dosa. Untuk mewujudkan sebuah rencana yang besar pasti dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Sebagai contoh, kalau sebuah produser film ingin membuat sebuah film yang fenomenal, seperti sebuah film kolosal, pasti harus mengeluarkan modal yang besar, harus mencari sutradara yang terbaik, pemeran yang terbaik, dan produsernya pasti mau memastikan bahwa semua berjalan dengan baik. Penyelamatan manusia agar dilepaskan dari belenggu dosa adalah sebuah pekerjaan yang maha besar, paling besar di segenap alam semesta. Untuk pekerjaan yang maha besar ini, Allah rela memberikan yang terbaik dari diri-Nya, yaitu Putra Tunggal-Nya. Untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa memang membutuhkan biaya yang besar. Allah harus mengerjakan langsung pekerjaan ini. Dari hal ini kita bisa melihat betapa besarnya karya penyelamatan manusia, yaitu sebesar pengorbanan yang diberikan oleh Allah sendiri. Allah sendiri harus turun ke dunia dan menjelma menjadi manusia. Kita bersyukur karena hidup kita sebagai manusia begitu berharga bagi Allah, sehingga Dia rela untuk membayar harga yang begitu mahal untuk menyelamatkan kita. Demikian juga jika kita diajak untuk terlibat di dalam pekerjaan yang begitu besar dan mulia ini, kita patut menghargainya dan mengerjakannya dengan segenap hati. Tuhan Yesus mengajak kita untuk ikut terlibat di dalam pekerjaan yang besar ini. Kalau kita sudah diselamatkan dan telah mendapat jaminan hidup yang kekal, marilah kita peduli kepada jiwa-jiwa di sekitar kita yang masih memerlukan keselamatan. Ikutlah ambil bagian dengan mendoakan mereka dan memberikan kesaksian yang baik dari hidup kita yang telah ditebus oleh darah Yesus. Tuhan memberkati kita semua. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Terang bagi yang berjalan di kegelapan Yesaya 9:1, 5 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. [ayat 1] Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. [ayat 5] Beberapa tahun yang lalu [sudah cukup lama, saya tidak ingat persis tahunnya] mobil saya mengalami masalah di lampu depannya [lampu besar], mungkin karena sekringnya putus. Padahal waktu itu saya dalam perjalanan turun dari Kopeng menuju Ungaran, sendirian, pada malam hari. Kondisi jalan sangat gelap, menurun dan berkelok-kelok. Tidak ada yang saya mintai bantuan. Dengan perasaan takut saya tetap menjalankan mobil itu pelan-pelan sekali, di tengah kegelapan, hanya dengan penerangan lampu kecil saja. Takut karena salah-salah bisa masuk jurang. Kegelapan adalah sesuatu yang menakutkan. Kita tidak bisa melihat apa yang di hadapan kita. Kegelapan bisa membawa kita pada celaka. Oleh sebab itu kita tidak suka dengan kegelapan. Kegelapan menggambarkan keadaan yang buruk di dalam hidup kita. Kita merasa bahwa dunia ini gelap ketika kita sedang mengalami hal yang buruk dan tak terkendali. Mungkin itu berupa datangnya sebuah peristiwa yang tak kita kehendaki seperti musibah, sakit penyakit, kegagalan, dan sebagainya. Mungkin itu berupa kehilangan orang yang kita kasihi secara tiba-tiba. Atau berupa hal lain yang tak bisa kita prediksi dan mengejutkan kita. Orang yang mengalami hal itu akan merasa jalannya gelap dan menakutkan. Ketika kita menghadapi saat-saat yang gelap di dalam kehidupan kita, apakah kita akan berputus asa, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan Tuhan? Kristus datang ke dalam dunia ini untuk memberikan pengharapan bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan. Dia adalah Terang itu sendiri. Dia adalah Imanuel, menyertai kita dalam menjalani saat-saat gelap di dalam hidup kita. Sehingga kita tidak perlu takut sebab kita tidak berjalan sendirian di dalam kegelapan. Dia adalah Terang, sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita jalan yang aman, sehingga kita dapat lolos dari kegelapan itu. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bersinar Dan Berdampak
09 Desember '17
Persembahkan HidupMu
05 Desember '17
Tekun1
17 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang