SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hati Yang Tenang
Hati Yang Tenang
Minggu, 19 November 2017
Hati Yang Tenang
Amsal 14:30
Hati yang tenang

Amsal 14:30
Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.

Kehidupan kita dikendalikan oleh hati. Apakah kita sedang tertawa, atau sedang sedih , atau sedang marah ditentukan oleh bagaimana keadaan hati kita. Apakah kita sedang bersemangat menjalani hidup ini, ataukah sedang lesu tak bersemangat, juga ditentukan oleh keadaan hati kita. Kesehatan tubuh kita juga dipengaruhi oleh keadaan hati kita. Sebagaimana Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi hati yang iri membusukkan tulang.

Firman Tuhan berkata: ’Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.’ [Amsal 4:23]. Oleh karena itu betapa pentingnya menjaga hati kita, agar selalu memancarkan kehidupan yang baik. Tetapi seringkali situasi di luar mempengaruhi bahkan mengendalikan keadaan hati kita. Misalnya tekanan-tekanan hidup, perkataan-perkataan yang negatif dari orang di sekitar kita, atau ber...selengkapnya »
Tuhan punya banyak cara untuk menyayang, juga dengan memanggil pulang Kita sayu, namun mengaku Sang Empunya Hidup yang paling tahu Rasanya belum cukup, belum sempat, belum siap Tapi kata Tuhan, inilah saat yang tepat Apalah yang lebih melegakan selain cerai dari derita yang menggerus raga Sehabis berjuang demi orang-orang tersayang, tibalah saatnya untuk pulang dengan iman, damai dan tenang Meski tak terbendung tangis yang luruh dalam kelu, hati kita tahu Inilah cara terindah Tuhan untuk menyayang, dengan memanggil pulang. Mengakhiri perjumpaan dengan orang-orang terdekat tak pernah mudah. Apalagi bila terjadi secara tiba-tiba. Rasanya sulit dipercaya. Masih terasa hangatnya sentuhan tangan orang yang tersayang di dalam genggaman, sedetik kemudian telah tiada. Punah sudah rencana-rencana yang belum terlaksana. Kesempatan sudah menutup pintunya rapat-rapat. Tak terelakkan kenangan demi kenangan berputar di kepala. Kebersamaan yang tak kenal kelanjutannya. Walau kita berharap bisa lebih lama bersama orang-orang tersayang, kadang Tuhan menilai bahwa hal yang terbaik adalah dengan memanggil mereka pulang. Sebuah ketukan palu yang sangat menyentak hati orang-orang yang menyayang. Dan di saat panas terasa di pelupuk mata, ada saja yang bilang jangan berduka. Jangan seperti orang tak punya harapan. Namun berjuang menepis basah di mata pun rasanya tak sanggup juga. Ahh, setiap orang yang pernah menjalani tak akan dengan mudahnya berujar begitu-begini. Baiklah saat ini kita mengurai duka, lebih sehat melepas sesak di dada daripada menyangkalinya. Yesus pun menangis ketika dikabari bahwa sahabatnya meninggal. Tidak tabu untuk berduka. Asalkan kita mengenal kata cukup. Setelah itu mari kita melangkah lagi. Dengan keyakinan utuh bahwa yang tersayang sudah aman dan tenang bersama Pemiliknya. Meskipun kita tak lagi bersamanya, selalu ada Tuhan yang membarengi langkah kita. Tak pernah sendiri. Itulah pengharapan kita. Sampai tiba saatnya nanti kita dipertemukan kembali dan berkumpul bersama-sama dengan Kristus Yesus, Tuhan kita.
Gereja: Komunitas Keselamatan Kisah Para Rasul 2:46-47 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan. Gereja adalah komunitas keselamatan. Sejak semula Allah merancang gereja untuk menjadi sebuah komunitas dimana orang-orang mengalami keselamatan. Perhatikanlah kalimat ini: ’Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.’ Apa artinya ’diselamatkan’? Artinya, orang-orang yang masuk ke dalam komunitas itu dipulihkan hubungannya dengan Alllah dan dengan sesama. Mereka menerima anugerah pengampunan dosa, sehingga hubungan dengan Allah dipulihkan. Karena mereka merasakan kasih dan anugerah Allah, maka hati mereka dipenuhi dengan sukacita. Mereka suka berkumpul untuk memuji Tuhan. Mereka suka berkumpul untuk mendengar pengajaran Firman Tuhan dan untuk berbagi. Mereka saling berbagi harta mereka, saling membantu dalam meringankan beban hidup saudara seiman. Tidak ada di antara mereka yang kekurangan. Mereka yang masuk ke dalam komunitas itu bukan orang-orang yang telah sempurna. Mereka juga orang-orang berdosa. Tetapi mereka bersepakat untuk menjalani hidup sebagai orang-orang yang diselamatkan. Mereka mau belajar dan bersedia untuk diajar dengan kebenaran Firman Tuhan, agar hidup mereka mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Inilah arti komunitas keselamatan, yaitu gereja. Seringkali Gereja di masa kini melupakan jati dirinya sebagai komunitas keselamatan. Gereja banyak disibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang tidak mengarah pada hidup keselamatan. Kita harus sadar dan berubah. Kita harus pastikan bahwa gereja kita adalah sebuah komunitas keselamatan. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Pak Slamet sangat rindu mengenal Allah yang benar, maka sesuai dengan keyakinannya dia menjalani kehidupan sesuai imannya dengan khusuk sekali. Dia rajin mendengarkan dan mengikuti ceramah agama dimanapun dia bisa mendengarkannya. Suatu saat pak Slamet kedatangan sahabat lamanya pak Sastro. Mereka berbincang sejenak untuk melepas rindu, setelah 50 tahun berpisah. Sehingga pertemuan itu membuat sukacita mereka Sekarang usia mereka berdua sudah di atas 60 tahun. Pak Sastro mulai bercerita tentang bagaimana hidupnya dipertemukan dengan Tuhan Yesus yang memberikan kedamaian dan sukacita hidup. Ternyata melalui kesaksian pak Sastro yang sederhana pak Slamet jadi percaya dan mengenal Allah yang benar. Kerinduan pak Slamet sudah terjawab, sekarang hidup pak Slamet tidak jauh berbeda dengan hidup sahabatnya. Zakheus orang yang kaya, namun ada sesuatu yang terhilang. Dalam hidupnya yaitu hidup yang tidak memiliki banyak teman maupun saudara. Sebagai pemunggut cukai dan tukang pajak hidupnya sangat dibenci masyarakat sekitarnya karena dianggap membantu penjajah untuk memeras rakyat. Hati Zakheus tidak bersukacita meskipun harta melimpah Dia sedih sebab kemanapun pergi selalu jadi omongan negatip dari orang sekitarnya. Zakheus sering mendengar berita tentang Tuhan Yesus dari masyarakat di sekitarnya. Hatinya sangat rindu bertemu dengan Tuhan Yesus. Siapa tahu melalui perjumpaan itu dia menemukan kembali apa yang terhilang dari hidupnya. Karena postur tubuhnya pendek dan tidak memungkinkan ketemu Tuhan Yesus seperti orang lainnya, Zakheus berusaha memanjat pohon untuk melihat Tuhan Yesus yang sedang dikerumini orang banyak. Karena saat itu Tuhan Yesus melewati wilayahnya Ternyata Tuhan Yesus memperhatikan Zakheus dan meminta dia turun dari pohon sebab DIA akan menumpang di rumahnya. Bagi Zakheus ini sesuatu yang spesial sekali. Baru kali ini ada seorang saleh yang dikagumi banyak orang justru mau singgah di rumahnya dan mau makan bersama dia. Kerinduan hatinya untuk menemukan yang terhilang dalam hidupnya telah dijawab oleh Tuhan Yesus. Sebagaimana dikatakan Tuhan Yesus dalam ayat 9. Dimana Zakheus dahulu orang berdosa yang pelit sekarang menjadi Zakheus orang benar yang murah hati karena berjumpa dengan Tuhan Yesus [ayat 7-8 ]. Semoga kita semua memiliki hidup seperti Zakheus menjadi orang benar yang murah hati karena perjumpaan pribadi kita dengan Tuhan Yesus. Hendaknya kita sebagai orang percaya memiliki hati seperti Tuhan Yesus. Hati yang rindu mencari dan menyelamatkan orang berdosa di sekitar kita seperti Zakheus, supaya hidupnya mengalami sukacita dan damai sejahtera. Marilah hal ini kita wujudkan dalam tahun 2018, yaitu mau dan berkomitmen melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa yang terhilang.
Gairah zaman adalah filosofi, cara berpikir yang membentuk gaya hidup yang dikenakan oleh hampir semua manusia sekarang ini dan yang telah dianggap sebagai gaya hidup wajar, bahkan sering dianggap sebagai gaya hidup ideal. Gaya hidup ini masih banyak dikenakan oleh orang kristen, aktivis gereja, bahkan oleh para rohaniawan. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa pada saat menjelang kedatangan-Nya, kedurhakaan manusia semakin bertambah, zaman semakin fasik, manusia tidak takut akan Tuhan, tidak peduli hukum atau kehendak Tuhan. Dalam suratnya, rasul Petrus juga mengingatkan bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsunya. Orang-orang yang mengejek Tuhan dengan perbuatannya, mereka membelakangi Tuhan dan memberontak terhadap Tuhan [II Petrus 3 : .3]. Dalam suratnya kepada Timotius, rasul Paulus juga menyatakan tentang gairah zaman ini di mana moral manusia sudah jauh dari standar kebenaran dan kesucian Tuhan. Kita harus menyadari bahwa pengaruh suasana dunia yang fasik ini telah menyusup dalam kehidupan banyak orang kristen dan gereja sehingga mereka hidup dalam kewajaran anak dunia. Tidak menyadari bahwa hidupnya telah jauh dari standar kebenaran yang seharusnya dikenakan oleh anak-anak Tuhan. Untuk melawan pengaruh gairah zaman ini, harus berjuang untuk bertumbuh dalam : 1. Perubahan pribadi dan pola pikir sampai menjadi serupa dengan Tuhan Yesus yang sempurna seperti Bapa [Matius 5 : 48] 2. Mengarahkan selera jiwa/keinginan kita seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus : “Makanan- Ku ialah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” [Yohanes 4 : 34]. 3. Menjaga tujuan/visi hidup , yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Untuk itu harus terus memikirkan dan mencari perkara-perkara yang di atas [Kolose 3 : 1 – 2], yaitu : - kesempurnaan karakter - bebas dari percintaan dunia - hati yang mengasihi dan mengabdi kepada Tuhan tanpa batas, dan - pikiran yang berfokus pada Kerajaan Surga, Langit Baru dan Bumi Baru.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Harapan Itu Masih Ada
20 Januari '18
Perjumpaan Yang Dinantikan
06 Februari '18
Bersaksi Dengan Hikmat1
03 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang