SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap.
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup Yang Berbuah
Hidup Yang Berbuah
Senin, 05 Maret 2018
Hidup Yang Berbuah
Filipi 1 : 22

Seorang hamba Tuhan yang bernama Pdt. Wilhemus Latumahena mempunyai putra sulung yang begitu pandai memainkan alat musik khususnya keyboard. Sejak usianya masih kanak kanak dia sudah tergabung di tim musik gereja, yang dipimpin oleh bapaknya yang beranggotakan anak anak yang sudah dewasa. Seiring dengan bertambahnya usia anak tersebut semakin pandai untuk memainkan alat musik dan setia dalam pelayanan. Tetapi di usianya yang ke 17 tahun tepatnya di tahun 2004 anak itu mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Sebagai orang tua tentu Bp. Pdt. Wilhemus mengalami kesedihan yang mendalam. Namun di tengah tengah kesedihan itulah muncul dalam hatinya lirik lagu Hidup ini adalah kesempatan dan lagu ini menjadi viral beberapa tahun terakhir ini.

Dalam kehidupan Paulus ada kerinduan yang besar untuk hidupnya menghasilkan buah dan berkat yang dapat di nikmati oleh semua orang, sehingga ada kemenangan yang di nikmati dalam kehidupan. Paulus seperti yang di nyatakan dalam ayat 21 yaitu hidup bagi Kristus dan mati adalah keuntungan. Bukan berapa lama kita hidup di dunia ini tetapi apakah di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan s...selengkapnya »
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
Pengorbanan yang tidak sia-sia 1 Korintus 15:17 dan 20 [17] Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. [20] Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Ketika kita menyaksikan film tentang penderitaan Yesus, kita bisa membayangkan betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh Yesus. Kita merasa ngeri, walaupun hanya menyaksikan adegan di film. Apalagi kejadian yang sesungguhnya, tak terbayangkan peristiwa yang sangat mengerikan itu. Namun ada yang lebih mengerikan lagi...... Andaikan semua penderitaan yang sudah dijalani oleh Yesus itu ternyata hanya sesuatu yang percuma saja. Apa jadinya jika penderitaan yang seberat itu hanya berujung pada kematian yang mengenaskan dan ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa? Ahhh, tak bisa dibayangkan..... Tetapi puji syukur kepada Allah Bapa yang adil dan benar, yang berkuasa di bumi dan di Sorga. DIA tidak membiarkan penderitaan dan kematian Putera-Nya itu berakhir dengan sia-sia. Sesudah kematian ada kebangkitan. Akhir hidup Yesus di dunia ini tidak berakhir dengan kematian yang memilukan, tetapi dengan kemenangan besar yang berupa kebangkitan dari antara orang mati. Kuasa dosa dan maut ditaklukkan. Manusia yang ditawan oleh belenggu dosa dibebaskan supaya menjadi umat Allah yang merdeka. Haleluya. Pengorbanan Yesus tidak sia-sia. Penderitaan yang sedemikian berat telah terbayarkan oleh kemenangan dan jiwa-jiwa yang diselamatkan. Oleh karena itu kita mempunyai dasar iman yang kokoh dan pengharapan yang pasti akan hidup kekal yang sudah disediakan bagi yang percaya kepada Dia. Dan kita mempunyai alasan yang tak terbantahkan untuk bersaksi bahwa di dalam Kristus ada jaminan keselamatan. Saudaraku, keselamatan yang sudah kita terima oleh percaya kepada Kristus adalah hasil dari sebuah pengorbanan yang teramat besar. Oleh karena itu marilah kita menjalani hidup kita dengan penuh rasa syukur kepada Tuhan dan menyaksikan kebangkitan-Nya. Selamat Paskah. Pdt. Goenawan Susanto
Kehidupan kita orang beriman, dalam menjalani hidup sehari-hari sangat membutuhkan tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Pemazmur berkata,“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.” [Mazmur 1:1-2]. Alkitab berisi tuntunan dan petunjuk dari Tuhan. Semakin kita mempelajari firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam semakin kita mengerti apa kehendak Tuhan, dan apa langkah-langkah yang harus kita tempuh sehingga perjalanan hidup kita selalu beruntung dan akan memberi faedah. Di Alkitab menuliskan contoh teladan hidup orang beriman melalui empat binatang kecil, “Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kautangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di istana-istana raja.” [Amsal 30:24-28]. Semut, meskipun tergolong binatang terkecil dan lemah, ia rajin, ulet dan cekatan. Selain itu semut memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesamanya, mereka menopang satu sama lain dan bergotong royong. Tuhan menghendaki hal yang demikian, “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” [Galatia 6:2]. Belalang, dalam waktu singkat sanggup menghabiskan hasil ladang berkat kerjasama dan ketekunannya. Walapun tanpa pemimpin. Manusia tidak dapat melakukan hal itu tanpa seorang pemimpin. Di sini manusia diajar untuk tunduk kepada pemimpin agar bisa hidup teratur. Pelanduk, binatang lemah tapi mampu membuat rumahnya di atas bukit batu sehingga ia selamat dan aman apabila badai menyerang. Kita di ajar untuk menggunakan hikmat kepandaian kita untuk bertahan hidup. Cicak bintang yang dengan mudah dapat kita tangkap tetapi juga hidup di istana raja. Mengingatkan kita walaupun lemah tetapi Allah masih memberi hikmat agar kita bisa bertahan hidup dalam bahaya sekalipun. Yesus adalah Batu Karang Keselamatan kita. Sudah seharusnya kita mempercayakan hidup ini sepenuhnya kepada Dia.
Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus [penebusan Salib Kristus] telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar dan dirinya menjadi milik Tuhan [I Korintus 6:19-20]. Berarti hidupnya tidak boleh memiliki cita-cita, keinginan untuk meraih sesuatu, kecuali sesuatu itu berguna bagi Tuhan. Keinginannya haruslah bukan untuk kepentingannya sendiri, bukan untuk harga diri, gengsi, kehormatan di mata manusia. [Lukas 14:33] Dalam ayat bacaan tertulis : “…semua orang yang menerima-Nya diberi kuasa [the right, hak istimewa] supaya menjadi anak-anak Allah,...” menjadi pribadi luar biasa, berkarakter serupa dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah tentunya bukan hanya sekadar status, namun benar-benar bisa berkeadaan sebagai anak Allah. Untuk mencapai keberadaan sebagai anak Allah tidaklah mudah, harus melalui proses panjang menjadi murid. Manusia diciptakan dengan . kehendak bebas di dalam dirinya, Tuhan tidak mengambil alih kemudi hidup atau kedaulatan manusia. Manusialah yang mengendalikan hidupnya, apakah mau mengarahkan hidupnya hanya untuk melakukan kehendak dan keinginan Tuhan atau tidak. Jadi yang sangat penting dalam hidup ini adalah, apakah kita sudah secara sadar rela dididik sebagai murid Kristus. Bapa sudah menganugerahkan fasilitas-fasilitas untuk membentuk kita bisa hidup sama seperti Kristus telah hidup, mengikuti jejak-Nya [I Yohanes 2:6] Fasilitas-fasilitas tersebut berupa : 1. Karya Penebusan oleh darah Yesus yang mahal harganya [I Petrus 1:18-19]. Dengan penebusan ini kita diubah status dari pemberontak menjadi orang kudus [I Korintus 1:2a]. Inilah yang disebut sebagai pengudusan pasif, yang hanya Tuhan yang dapat melakukannya. 2. Kebenaran Injil, yaitu kuasa Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, yaitu mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, memiliki kemuliaan Allah, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus [Roma 1:16]. Rasul Petrus mengingatkan bahwa kita menyucikan diri oleh ketaatan kepada kebenaran [I Petrus 1:22]. Kita harus sungguh-sungguh belajar Kebenaran Injil. Hal ini disebut pengudusan aktif. 3. Roh Kudus : Menuntun orang percaya kepada segala Kebenaran [Injil], menolong kita dalam proses pengudusan [Yohanes 16:13] 4. Penggarapan Bapa melalui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan sehari-hari [Roma 8:28] Berkeberadaan sebagai anak Allah [bukan sekadar status] adalah hal yang menyenangkan hati Bapa, kita harus memperkarakannya setiap hari sepanjang waktu singkat yang masih ada.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Mengalami Tuhan Yang Bangkit
08 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang