SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Siapkah kita disatukan dengan kematian Yesus Kristus?
DITULIS OLEH
Sdr. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup yang Berserah
Hidup yang Berserah
Selasa, 18 Juli 2017
Hidup yang Berserah
Galatia 2:19b

Untuk menyatu dengan Yesus Kristus, seseorang harus bersedia untuk tidak hanya meninggalkan dosa tetapi juga menyerahkan seluruh caranya memandang segala sesuatu. Dilahirkan kembali oleh Roh Allah berarti kita pertama-tama harus rela melepaskan sesuatu sebelum dapat memahami sesuatu yang lain. Hal pertama yang harus kita lepaskan adalah kepura-puraan atau ketidakjujuran. Apa yang dikehendaki Tuhan untuk diserahkan kepada-Nya bukanlah kebaikan, kejujuran atau usaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, tetapi sesungguhnya dosa kita. Sebenarnya itu yang ingin Dia ambil dari kita. Dan apa yang Tuhan berikan sebagai pengganti dosa kita adalah kebenaran yang nyata dan penuh. Selanjutnya harus menyerahkan segala kepura-puraan bahwa kita ini berarti dan meninggalkan semua klaim yang menganggap diri layak bagi Allah.

Ketika telah melakukannya, Roh Allah akan memperlihatkan apa yang harus kita serahkan selanjutnya. Bersama setiap langkah proses ini, kita harus menyerahkan klaim kita terhadap hak bagi diri sendiri. Apakah kita bersedia melepaskan genggaman atas harta milik, hawa nafsu dan semua hal lain dalam hidup kita...selengkapnya »
Di penghujung tahun kemarin jagad K-Pop digemparkan oleh kepergian leading vocal boyband SHINee, Kim Jonghyun, yang begitu mengguncang. Tak dinyana kepribadian Jonghyun yang dikenal lucu dan ceria ternyata menyimpan sejuta beban dan kepedihan yang tersembunyi di balik canda dan tawanya. Upayanya mencari pertolongan tak membuahkan hasil sehingga ia nekad mengakhiri hidup dengan caranya sendiri. Para fans meratapi kepergiannya sementara para haters sibuk mengolok-olok dan mencemooh penyanyi sekaligus penulis lagu yang meninggal di usia 27 tahun itu. Bahkan setelah meninggal pun, beban penderitaan seolah enggan melepas cengkeramannya atas pemuda yang dijuluki sebagai salah seorang dari 7 idol Korea yang ’terlahir untuk bermusik’. Hidup manusia itu ’sawang-sinawang’. Yang tampak gemerlapan belum tentu membahagiakan; yang tampak biasa-biasa saja belum tentu menjemukan; yang tampak kumuh belum tentu memupuskan harapan. Tidak ada hak kita untuk menghakimi orang lain. Seperti orang lain tak mampu memahami kita sedalam-dalamnya, kita pun tak mampu memahami apa yang dilalui orang lain dalam hidupnya. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani hidup sebaik yang kita bisa. Puji syukur, kita memiliki Tuhan yang senantiasa setia menerima kita apa adanya. Bersyukur sekali ada Tuhan yang tak pernah mencibir saat kita terpuruk. Haleluya, ada Tuhan yang menguatkan kita sehabis badai menerpa. Maka jiwa kita tidak akan berlama-lama dalam keadaan tertekan, sebab ada Tuhan yang menjadi harapan kita. Kita sangat diberkati karena memiliki Tuhan Yesus Kristus sebagai sumber kekuatan dan pengharapan. Berhentilah mencibir orang-orang yang gamang dan putus asa, sebaliknya bantulah mereka untuk menaruh harap kepada Kristus, sang Batu Karang yang Teguh.
Nama bulan Januari diambil dari nama “Yanus” dewa pintu dalam mitologi Romawi kuno. Seorang dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang. Untuk menentukan mana yang depan atau belakang ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis sedangkan yang menghadap kebelakang selalu terlihat muram dan sedih. Itulah mengapa bulan pertama setiap tahun dinamakan dengan bulan Januari. Karena bulan ini bias dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ketahun sebelumnya dan lainnya ketahun berjalan. Setiap awal tahun orang-orang biasanya memiliki resolusi tahun baru yang didapatkan dari dualisme yaitu masa lampau dan masa mendatang [ dengan berpijak dari masa lampau akan meraih masa depan ]. Paulus mengatakan, tetapi yang aku lakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam KristusYesus. Dalam bulan Januari kita masih teringat dan sering tidak bisa melupakan peristiwa yang terjadi di tahun sebelumnya apalagi peristiwa yang sangat menyakitkan bagi kita. Kita akan bersikap seperi dewa Yanus yang selalu membawa kemurungan dalam dirinya bila kita tidak melupakan peristiwa dalam tahun yang lalu. Pandanglah ke depan dengan sukacita dan dengan semangat mengarahkan diri pada apa yang Tuhan telah tetapkan bagi kita. Keluarga, pekerjaan/usaha, pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dirawat dan dikembangkan merupakan tujuan kita. Ketika kita berlari ketujuan dan mengalami berbagai tantangan atau masalah, ingatlah bahwa kasih setia Tuhan tak ada habisnya, rachmat-Nya selalu baru setiap pagi.
Melihat Mbah Wanidy ketakutan luar biasa, Benay-tua sedikit meredupkan sorotan matanya. “Ada apa gerangan denganmu, pak tua? Mengapa engkau tampak ketakutan?” Dengan terbata-bata Mbah Wanidy coba mengatur nafas dan kata-katanya. “Kiii… kisanak…maaf…saya pikir An…anda adalah Benay….salah satu langganan warung saya. Wa..waaa..jah Anda miiii..mii..rip sekali dengannya.”Si Benay-tua pun tersenyum manis yang sesaat menyirnakan goresan keangkeran wajahnya. “O….begitu. Mbah tidak sepenuhnya salah”, ucapnya. “Lhoo…jadi Anda benar Benay?” tanya Mbah Wanidy penasaran. Benay-tua tertawa terbahak-bahak. “Bukan…bukan, saya bukan Benay! Saya kakak kandung Benay! Nama saya Rabenay.” Seketika itu juga hilanglah rasa takut Mbah Wanidy. Ia pun larut dalam gelak tawa meski harus berhati-hati agar gigi palsunya tidak copot. “O..saya baru tahu kalau Benay punya kakak kandung. Makanya kok wajah Mas Rabenay ini mirip sekali dengan Benay”, kata Mbah Wanidy. Rabenay tertawa ringan menanggapi keceriaan Mbah Wanidy. “Maaf lho Mas.. Saya sempat menduga Mas Rabenay itu dedengkotnya preman pelabuhan. Makanya tadi saya takut sekali.” “Ha..ha..ha..saya bukan preman. Saya kuli di pelabuhan Tanjung Mas ini”, kata Rabenay menjelaskan, “Memang dulu saya pernah bekerja di bidang jasa keamanan. Makanya masih tampak garang. Kalau Mbah butuh rasa aman, bisa sewa saya…ha..ha..ha..” Kemudian keduanya pun terlibat dalam percakapan yang akrab di tengah ramainya pelabuhan. Jemaat yang terkasih, kisah di atas menceritakan bagaimana Mbah Wanidy salah dalam menilai Rabenay. Salah dinilai seperti ini pernah dialami Yesus Kristus juga. Mendengar pengajaran-Nya yang penuh hikmat, menyaksikan perbuatan kasih-Nya yang berkeadilan bagi orang-orang terpinggirkan, dan melihat mujizat-Nya yang dahsyat, membuat beberapa orang menduga bahwa Tuhan Yesus kerasukan setan. Bahkan saudara-saudara-Nya pun menganggap Dia sudah tidak waras. Kesalahan menilai bukanlah kesalahan yang ringan. Kesalahan ini bisa berakibat fatal berupa sikap membenci dan berujung pada pembunuhan. Dan bukankah itu juga yang dialami oleh Tuhan kita? Tuhan dibenci kaum elit rohaniwan Bait Allah [Saduki]. Yesus dibenci para pengajar Taurat yang merakyat [Farisi]. Kristus dibenci pemangku kekuasaan politik-ekonomi [Herodes]. Dan bukankah kebencian para pemegang otoritas agama dan politik itu pula yang mengantar-Nya pada kematian di kayu salib? Dan bukankah pula sejak kelahiran-Nya, Dia sudah diburu oleh Herodes? Semua itu berujung pangkal dari salah menilai. Jemaat yang dikasihi Tuhan, menilai orang lain adalah bagian dari kehidupan kita. Namun janganlah sembarangan dalam memberikan penilaian, apalagi penghakiman pada orang lain. Kita perlu mengetahui dan memahami pikiran, sikap dan tindakan orang itu dengan sebenar-benarnya terlebih dahulu. Hanya dengan cara demikian penilaian atau penghakiman kita akan lebih adil. Terpujilah Tuhan!
Suprapto nampak bersedih hati dan rasa putus asa dalam hidupnya karena menderita sakit paru-paru. Penyebabnya mengkonsumsi rokok secara berlebihan. Suatu saat Yanto sahabat dekatnya datang mengunjungi dan mendoakan dia. Oleh Yanto, mas Suprapto diperkenalkan kepada Tuhan Yesus. Suprapto mau menerima Tuhan Yesus dalam hidupnya dan mau di doakan oleh Yanto. Selesai didoakan mohon kesembuhan dan pengampunan dosa, hidup Suprapto berubah merasa damai sejahtera. Dia mulai mempunyai pengharapan untuk di sembuhkan oleh Tuhan Yesus. Rasa sedih hatinya berganti dengan sukacita dan rasa putusasanya digantikan dengan damai sejahtera. Tema Gereja kita tahun 2018 adalah “ LAKUKAN YANG TERBAIK BUAT KESELAMATAN JIWA–JIWA”. Jika kita ingin memiliki kehidupan seperti mas Yanto yang memiliki kerinduan untuk memenangkan jiwa-jiwa berdosa bagi Tuhan Yesus, maka kita harus memiliki hati Tuhan Yesus. Tanpa kita memiliki hati Tuhan Yesus dan menghidupi hati Tuhan Yesus, mustahil kita bisa menjadi pemenang-pemenang bagi jiwa- jiwa yang berdosa. Pertama, hati Tuhan Yesus yang rindu membuat orang berdosa bertobat [Luk 5 : 32]. Lihatlah waktu Tuhan Yesus diperhadapkan dengan perempuan yang kedapatan berbuat zinah yang seharusnya dihukum mati dengan dilempari batu. Tuhan Yesus tidak menghakimi perempuan tersebut tetapi memberi pengampuan dan menyelamatkan perempuan tersebut dari maut. Tuhan Yesus mengharapkan perempuan tersebut berhenti berbuat dosa dan hidup sesuai dengan kebenaran Allah. Kedua, hati Tuhan Yesus yang rindu mencari dan menyelamatkan yang terhilang [Luk 19:10]. Lihatlah bagaimana Tuhan Yesus memanggil dan menyelamatkan si Zakheus seorang pemunggut cukai yang sangat dibenci oleh masyarakat karena pekerjaannya. Tuhan Yesus mau duduk makan dan mampir ke rumah Zakheus demi menyelamatkan dia yang terhilang dari hadapan Allah karena sibuk cari duit untuk keuntungan dirinya sendiri. Ketiga, hati Tuhan Yesus yang berbelas kasihan [Markus 1:41 ; 6:34]. Lihat bagaimana Tuhan Yesus berbelas kasihan melihat orang lumpuh yang selama 38 tahun menantikan kesembuhan di pinggir kolam Betesdha. Padahal disekeliling pinggir kolam tersebut banyak sekali orang yang sakit menantikan kesembuhan. Namun perhatian dan belas kasihan Tuhan Yesus tertuju kepada orang yang lumpuh itu. Tuhan Yesus mengetahui bahwa dia sudah 38 tahun dalam keadaan seperti itu. Kalau kita memiliki hati seperti Tuhan Yesus, pasti akan banyak jiwa – jiwa orang berdosa, orang yang terhilang dan orang yang menderita sakit akan tertolong, akan terlayani melalui kehidupan kita sepanjang tahun 2018. Sehingga apa yang menjadi tema Gereja kita tahun ini jadi kenyataan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Lonceng Natal
25 Desember '17
Eben Haezer
30 Desember '17
Kunci Keberhasilan Di Tahun Ini
14 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang