SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Siapkah kita disatukan dengan kematian Yesus Kristus?
DITULIS OLEH
Sdr. Hendy Agus Wibowo
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidup yang Berserah
Hidup yang Berserah
Selasa, 18 Juli 2017
Hidup yang Berserah
Galatia 2:19b

Untuk menyatu dengan Yesus Kristus, seseorang harus bersedia untuk tidak hanya meninggalkan dosa tetapi juga menyerahkan seluruh caranya memandang segala sesuatu. Dilahirkan kembali oleh Roh Allah berarti kita pertama-tama harus rela melepaskan sesuatu sebelum dapat memahami sesuatu yang lain. Hal pertama yang harus kita lepaskan adalah kepura-puraan atau ketidakjujuran. Apa yang dikehendaki Tuhan untuk diserahkan kepada-Nya bukanlah kebaikan, kejujuran atau usaha untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, tetapi sesungguhnya dosa kita. Sebenarnya itu yang ingin Dia ambil dari kita. Dan apa yang Tuhan berikan sebagai pengganti dosa kita adalah kebenaran yang nyata dan penuh. Selanjutnya harus menyerahkan segala kepura-puraan bahwa kita ini berarti dan meninggalkan semua klaim yang menganggap diri layak bagi Allah.

Ketika telah melakukannya, Roh Allah akan memperlihatkan apa yang harus kita serahkan selanjutnya. Bersama setiap langkah proses ini, kita harus menyerahkan klaim kita terhadap hak bagi diri sendiri. Apakah kita bersedia melepaskan genggaman atas harta milik, hawa nafsu dan semua hal lain dalam hidup kita...selengkapnya »
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
’Sayap Tanah Air’, ’Pelindung Tanah Air’, atau ’Sayap Pelindung Tanah Airku’ itulah makna semboyan TNI AU yang pada tanggal 9 April diperingati ulang tahunnya, berbarengan dengan peringatan Hari Penerbangan Nasional. Tidak banyak yang mengenal jati diri TNI AU, kebanyakan orang sebatas mengasosiasikan TNI AU dengan sosok pilot Angkatan Udara berseragam gagah yang piawai bermanuver dengan pesawat tempur. Padahal TNI AU memiliki fungsi dan peran yang jauh lebih penting daripada sekedar tampilan luarnya. Begitu juga dengan kehadiran Gereja di tengah dunia. Banyak orang hanya mengenal Gereja sebagai kumpulan orang yang beribadah setiap hari Minggu di dalam bangunan yang diberi simbol salib. Gereja sekedar diasosiasikan dengan agama Kristen dan Katolik. Padahal fungsi dan peran Gereja di dalam dunia jauh lebih penting daripada itu. Sebagai garam dan terang dunia, Gereja memiliki misi untuk mengubah kondisi dunia yang tawar hati dan tak bermakna menjadi berpengharapan; Gereja bertugas merefleksikan segala yang baik dari Tuhan agar umat manusia memuliakan Bapa di surga [Matius 5:16]. Apabila kehadiran Gereja tak memiliki arti bagi dunia, apa bedanya ia dengan garam yang tak berguna selain untuk dibuang? Pun jika Gereja menyembunyikan terang yang ada padanya, lalu apa fungsi yang dijalankannya di dalam dunia? Ibarat sebuah rumah, Gereja janganlah seperti rumah yang terang-benderang namun tertutup rapat pintu dan jendelanya sehingga orang di luar tak dapat melihat cahayanya. Hendaklah Gereja memancarkan terang sehingga orang-orang yang hidupnya tersesat dituntun oleh cahaya itu menuju terang-Nya yang ajaib.
Sebuah ilustrasi menceritakan kisah tentang kehidupan binatang di sebuah hutan. Kisah tersebut bermula ketika hutan tempat tinggal semua binatang itu di landa angin badai yang besar. Maka terjadilah kerusakan hutan yang parah. Banyak pohon-pohon tumbang yang membuat semua binatang ketakutan. Setelah badai itu reda, ada seekor semut yang berjalan dengan sombongnya karena, ia tidak mengalami kesakitan sedikitpun akibat badai tersebut karena badannya yang mungil. Ketika ia keluar dari sarang yang berada di dalam tanah, ia melihat kepompong yang hanya tergeletak di bawah dahan yang patah. Ia bergumam, bahwa sungguh tidak enak menjadi kepompong yang tidak bisa apa-apa. Ia terkurung dan tidak bisa kemana-mana, sungguh sangat memalukan. Si semut mulai membanggakan dirinya yang selamat dan bisa kemana-mana yang ia mau. Bukan hanya kepompong yang ia hina, tetapi semua binatang yang ia temui. Suatu ketika si semut berjalan di atas jalanan yang berlumpur. Tanpa ia sadari lumpur itu menghisap dirinya semakin ke dalam dan membuatnya semakin tenggelam. Ia mulai berteiak-teriak minta tolong. Lalu datanglah kupu-kupu, ia berkata kepada si semut, “dulu aku adalah kepompong yang kau hina jelek, sekarang aku sudah berubah menjadi kupu-kupu yang indah dan bisa terbang kemanapun yang kumau, sini aku bantu keluar dari lumpur itu”. Injil Matius 5:43-48 membahas tentang bagaimana seharusnya menunjukkan kasih kepada orang lain. Allah datang bertujuan untuk menggenapi hukum Taurat bukan untuk meniadakannya. Oleh sebab itu, Allah mau menunjukkan perintah untuk saling mengasihi tanpa memandang status. Memang di jaman Perjanjian Lama, difirmankan bahwa, kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu[ayat 43]. Tetapi Allah yang datang dalam nama Yesus menegaskan bahwa kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang telah menganiaya [ayat 44]. Artinya adalah kasih yang Tuhan berikan adalah untuk semua umat manusia. Tuhan juga merindukan agar orang yang telah percaya terlebih dahulu menunjukkan kasih kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan sekalipun mereka membenci orang percaya. Karena dengan demikian, orang-orang yang percaya akan menjadi anak-anak Bapa yang di sorga. Tuhan Yesus mengajarkan untuk berbuat kasih kepada semua orang sekalipun itu musuh yang membenci kita. Seringkali kita menjadi sama seperti semut yang sombong karena kita merasa diri kita sudah selamat dan tidak menghiraukan kehidupan orang lain yang “menderita”. Tetapi kita sangat sulit memposisikan seperti kupu-kupu, yang bersedia menolong walaupun pernah dihina, pernah disakiti. Namun Tuhan Yesus memberikan penegasan bahwa jadilah seperti kupu-kupu yang rela menolong dan mengasihi tanpa memandang status.
Saya pernah membaca cerita sebuah kisah nyata mengenai seorang wanita yang sedang hamil. Ia adalah salah seorang aktifis yg menentang adanya aborsi. Ternyata ia sendiri dihadapkan pada keadaan yg mengharuskan dirinya mengaborsi kandungannya, sebab bayinya didiagonsa memiliki ketahanan tubuh yang rapuh, jika anak itu dilahirkan, umurnya hanya 2 hari saja. Dan bukan hanya itu saja, ada resiko yang akan mengakibatkan kematian si ibu kalau dia melahirkan anak tsb. Dokter menyarankan ia untuk mengugurkan kandungannya. Ia merasa terjepit diantara keadaan bahwa ia adalah seorang penentang aborsi sementara nyawanya terancam kalau ia tidak mengaborsi anak tsb. Namun ia berdoa dan ia mengambil suatu keputusan bahwa ia akan melahirkan anaknya. Ia berkata bahwa anak itu layak untuk hidup walaupun hidupnya hanya sebentar. Suaminya pasrah dan menerima keputusan tsb. Akhirnya ketika bayi itu lahir, ibunya meninggal. Pengorbanan si ibu ternyata tidak sia-sia, anak itu ternyata bertahan hidup selama 2 minggu dan ketika anak bayi itu meninggal, ia mendonorkan ginjal dan jantungnya untuk 2 nyawa bayi lain yang terancam meninggal. Ibu itu mengorbankan dirinya, agar bayi tersebut bisa menghidupkan nyawa bayi-bayi lain. Dari cerita peristiwa di atas, demikian juga pengorbanan Yesus di kayu salib, merupakan bentuk nyata pengorbanan Bapa di Surga untuk keselamatan orang percaya. Yesus harus menderita, di salibkan, mati dan bangkit merupakan pengorban yang tak ternilai harganya. Itu semua Allah lakukan agar kita yang seharusnya di hukum maut oleh dosa, tetapi di selamatkan melalui percaya kita kepada pengorbanan Yesus di kayu salib [Roma 6:23]. Kalau Allah sendiri melalui Yesus rela berkorban untuk kita, lalu apa yang menjadi balasan kita ? Apakah yang dapat kita korbankan sebagai bentuk trimakasih kita pada Allah ? Maka ketika kita dihadapkan kepada pengorbanan, berdoalah kepada Tuhan, apakah yang menjadi kehendakNya, seperti ketika Abraham harus mengorbankan anak tercintanya, Ishak. Ketika Abraham pasrah kepada Tuhan dan ia mengorbankan anaknya, Allah memberikan berkat berlimpah-limpah dan berkali-kali lipat kepadanya. Jika Allah melakukan hal yang sama kepada Abraham, maka Ia-pun pasti akan melakukan hal yang sama kepada kita anak-anakNya juga. Karena dalam suatu pengorbanan yg harus kita pilih, Tuhan memiliki rencanaNya sendiri, hanya tinggal maukah kita menjalaninya, maukah kita mengorbankan harta kita, perasaan kita, bahkan nyawa kita sekalipun? Untuk sesuatu yang lebih besar, untuk kemulyaan Tuhan. Marilah kita mulai memikirkan dan minta petunjuk Tuhan, apakah yang dapat kita korbankan untuk menghasilkan dampak yang lebih besar bagi kebaikan dan kemulyaan Allah.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Keberadaan Sebagai Anak-Anak Allah
17 April '18
Menghargai Pengorbanan Yesus
22 Maret '18
Mengikuti Jejak Yesus
25 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang