SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Orang yang memahami kebenaran firman tidak akan mudah terombang ambingkan oleh apapun juga.
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
  Ketul
Home  »  Renungan  »  Hidup Yang Teguh
Hidup Yang Teguh
Senin, 18 Desember 2017
Hidup Yang Teguh
Yakobus 1:8

Dalam sebuah perjalanan, seorang ayah dengan putranya melihat sebatang pohon kayu nan tinggi. Mereka tertarik untuk memperhatikan pohon tersebut. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut. “Anakku,” ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius. “Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?” lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya. “Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,” jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

“Bagus,” jawab spontan sang ayah. “Tapi ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,” tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas. “Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,” jelas sang ayah. “...selengkapnya »
Setelah cukup beristirahat dan melepas rindu dengan keluarga terdekat. Benay segera menyambangi Sambey, sahabatnya. Di halaman depan gereja mereka berjanji untuk bertemu. Sambey sudah tak sabar menunggu kedatangan Benay yang sangat dirindukannya itu. Begitu dilihatnya Benay turun dari angkot orange di seberang jalan, segera ia berteriak keras, “Bennn....Benaaaaaay!” “Sambeeeeey....!” teriak Benay membalas. Begitu jalanan sepi, Benay segera berlari mendapatkan Sambey. Dua sahabat kental ini segera berpelukan sangat erat dan bertangis-tangisan. “Ben...Ben...aku kira kamu sudah mati di Iraq”, ucap Sambey sambil sesenggukan. “Gak Sam, aku masih hidup. Tuhan melindungi aku dari segala marabahaya, bahkan dari bom sekalipun.” Pertemuan dua sahabat ini tidak hanya menarik perhatian jemaat yang menanti ibadah pentakosta. Mereka keluar dan turut merayakan kedatangan Benay. Beberapa jemaat tak kuasa menahan tangis haru dan terduduk lemas karena tak menyangka bisa melihat Benay kembali. Terlebih Sambey, energi dan emosinya terkuras habis. Namun ada sukacita tak terkira yang menguasai hati Sambey dan Benay. Hingga mereka tak menyadari jika sudah berangkulan cukup lama. Jemaat yang terkasih. Perjumpaan saling merindukan antara Sambey dan Benay di atas memberikan gambaran kepada kita akan kerinduan Tuhan untuk berjumpa dan menyertai kita setiap hari melalui Roh Kudus. Kerinduan Tuhan itu penting untuk kita respon dengan kerinduan yang sama, yaitu rindu dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Untuk dapat mempunyai kerinduan tersebut, pertama, kita perlu menyadari bahwa pimpinan Roh Kudus adalah kebutuhan kita yang sangat penting. Tanpa Roh Kudus hidup rohani kita akan mandul karena tak mempunyai kuasa untuk melawan keinginan daging [Roma 8:2-9]. Kedua, Tuhan tidak eman-eman untuk memenuhi kita dengan Roh Kudus. Jika kita memintanya—dalam doa—maka Tuhan akan memberikan Roh Kudus untuk memenuhi dan memimpin hidup kita. Jika ini terjadi maka terjadilah perjumpaan saling merindukan antara kita dan Roh Kudus. Perjumpaan itu pastilah diliputi dengan sukacita dan kekuatan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Kebutuhaan kita akan berkat-berkat Tuhan secara materi tidak akan lebih penting dibandingkan kebutuhan kita akan Roh Kudus. Oleh sebab itu, milikilah kerinduan yang terdalam dan mintalah pada Tuhan agar hidup kita dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus. Maka Tuhan akan mengabulkan permintaan kita dengan memberi yang terbaik, yaitu Roh Kudus. Bukalah hati, berdoalah dan sambutlah kehadiran Roh Kudus dalam hidup kita. Selamat berjumpa dengan Roh Kudus setiap hari. Selamat menikmati pimpinan-Nya. Terpujilah Tuhan!
Sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen ? Apa yang sudah kita lakukan bagi Tuhan dan Sesama ? Apakah kita selama ini masih memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri, perusahaan/bisnis sendiri ? Kalaupun melayani juga sesungguhya hanya untuk diri sendiri, seperti popularitas diri sendiri, dll, yang selalu hanya fokus kepada diri sendiri. Ataukah sebaliknya rela mengorbankan diri demi kepentingan, kemajuan, membangun orang orang lain, pihak lain. Pernahkan kita berpikir untuk berbuah bagi Tuhan ? Berbuah berarti bermanfaat, berdampak, menjadi berkat, membawa berkat bagi orang lain. Pernahkan kita melihat pohon blimbing makan buahnya sendiri ? Ataupun buah apapun makan buahnya sendiri ? Buah yang dihasilkan oleh sebuah pohon selalu akan dinikmati oleh pihak lain. Entah itu binatang, entah itu manusia. Buah juga berguna untuk memperbanyak/multiplikasi diri. Artinya menjadikan lebih banyak yang sama/serupa, dan tidak pernah terjadi dengan berbuah pohon itu akan menggemukan diri sendiri. Jadi yang dimaksud dengan berbuah disini adalah: Pertama, menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi orang-orang di lingkungannya. Semuanya tadi dapat kita lakukan melalui perkataan, pikiran, uluran tangan, tenaga, bahkan harta kita. Kedua, memperbanyak diri sendiri. Maksudnya menjadikan orang lain/sesama menjadi murid Kristus seperti kita, yang juga dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat bagi lingkungannya, untuk kemudian memuridkan orang lain. Tuntunan firman Tuhan bagi kita untuk menghasilkan buah sangat jelas. Tidak alasan bagi kita untuk berdalih tidak tahu, tidak bisa. Hanya ada satu cara untuk dapat menjadi berkat, berdampak, bermanfaat, bagi lingkungan kalau kita mau. Sesungguhnya berbuah merupakan kerinduan Tuhan Yesus sendiri atas hidup kita. Maka kata Tuhan: ”Tinggalah di dalam Aku, dan Aku di dalam kamu. Maka ia akan berbuah banyak.
Keselamatan keluarga kita Kisah Para Rasul 16:31 ’Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ Saya yakin bahwa anda ingin memberikan yang terbaik buat keluarga anda. Anda pasti ingin anak-anak anda mendapatkan pendidikan di sekolah yang terbaik. Anda pasti ingin rumah dimana keluarga anda tinggal adalah rumah yang nyaman. Anda pasti ingin memberikan apa yang dibutuhkan oleh keluarga anda. Itu semua baik, tetapi ada satu hal yang paling penting, yaitu keselamatan keluarga anda. Rencana keselamatan Allah bukan hanya untuk kita secara pribadi, tetapi juga untuk keluarga kita. Dalam banyak kasus orang-orang yang diselamatkan oleh Allah melibatkan seluruh keluarganya. Berikut ini ada beberapa contoh di dalam Alkitab: - Abraham dipanggil bersama dengan seluruh keluarganya untuk menjadi cikal bakal umat pilihan Allah. Setiap anak yang lahir di dalam keluarga Abraham dan keturunannya [Israel] harus disahkan menjadi anggota umat Allah [bagi yang laki-laki sebagai tandanya mereka disunat]. - Rahab, seorang penduduk kota Yerikho yang menyambut pengintai dari Israel, diselamatkan bersama dengan seluruh keluarganya [Yosua 6:23]. - Kornelius, seorang perwira pasukan Italia diselamatkan bersama dengan seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 10:1-48]. - Lidia, seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, diselamatkan bersama seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 16:15]. - Kepala penjara di Filipi diselamatkan bersama seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 16:31-34]. - Krispus, kepala rumah ibadat Yahudi yang ada di kota Korintus, diselamatkan bersama keluarganya [Kisah Para Rasul 8:8] Dahulu pada waktu masih remaja saya menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi, tetapi saya belum mengerti janji Tuhan ini. Tetapi ada seorang hamba Tuhan yang memberi tahu tentang kebenaran Alkitab ini. Lalu saya menjadi yakin akan kebenaran ini, sehingga dengan penuh semangat mendoakan seluruh keluarga saya agar diselamatkan oleh Tuhan. Akhirnya seluruh keluarga saya menjadi percaya dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Milikilah keyakinan bahwa Allah menghendaki dan merencanakan seluruh keluarga anda diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Istilah ibadah tidak asing bagi orang kristen maupun penganut agama-agama pada umumnya. Banyak orang percaya berpikir bahwa ibadah kepada Tuhan berarti pergi ke gereja mengikuti liturgi kebaktian, mirip dengan pengertian yang dimiliki oleh penganut agama lain, yang merasa sudah beribadah atau berbakti kepada dewa, illah atau allah yang mereka sembah karena sudah melakukan suatu ritual atau seremonial tertentu. Menurut rasul Paulus, ibadah yang sejati, adalah ketika seseorang percaya mempersembahkan tubuhnya sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah, dan mempunyai pola pikir yang tidak sama dengan dunia ini [Roma 12:1-2]. Dalam bahasa aslinya ibadah berarti melayani dan berbakti. Bahwa alasan beribadah kepada Tuhan adalah karena Tuhan telah memberikan kemurahan/anugerah yang membuat hubungan kita dengan Bapa dipulihkan, melalui karya penebusan salib Kristus [2 Korintus 6:16 - 18]. Jadi kita beribadah karena kita telah berhutang kebaikan dari Tuhan. Ibadah kita kepada Tuhan bukan alat manipulasi untuk mengatur Tuhan atau untuk memperoleh sesuatu, dan bukan usaha untuk memberi jasa kepada Tuhan. Nilai dan harga anugerah penebusan tidak bisa dibayar dengan apa dan berapapun nilainya yang bisa kita berikan. Mempersembahkan tubuh dalam ibadah kita kepada Tuhan berarti bahwa tubuh [fisik] kita harus digunakan untuk kepentingan pekerjaan-Nya demi penggenapan rencana Bapa di dunia ini [Yohanes 4:34]. Tubuh kita bukan untuk kesenangan dan memuaskan keinginan diri sendiri, tetapi menjadi hamba kebenaran yang membawa kepada pengudusan [Roma 6:19b, Galatia 5:24]. “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus …… dan bukan milik kamu sendiri karena telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu” 1 Korintus 6:19-20]. Tuhan memerintahkan Adam untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden, yang berarti bekerja dengan menggunakan anggota tubuh sebagai pengabdian kepada-Nya. Jadi bekerja adalah ibadah. Berarti orang percaya beribadah, melayani Tuhan melalui bidang-bidang pekerjaan/profesi yang disandangnya. Kita tidak boleh malas dalam bekerja, namun harus rajin, tekun, kerja keras, jujur dan terus mengembangkan keahliannya [memaksimalkan potensi]. Dengan pemahaman ini, suatu pekerjaan dipandang “rohani” atau “duniawi” tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan itu, tetapi oleh motivasi terdalam seseorang dalam melakukan pekerjaan tersebut.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Bersaksi Seumur Hidup
24 Mei '18
Bertekun
13 Juni '18
Keputusan Tuhan Yang Terbaik
29 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang