SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
“Aku mau bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib.” [Mazmur 9:9]
DITULIS OLEH
Ibu Rini Handoyo
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Hidupku Harus Bermakna
Hidupku Harus Bermakna
Senin, 30 Oktober 2017
Hidupku Harus Bermakna
Amsal 2:1-15

Pada umumnya semakin bertambah usia seseorang, kemampuannya semakin berkurang. Baik kemampuan fisik, intelegensi, maupun emosional. Tapi Bapak yang satu ini luar biasa menurut saya. Tahun ini usianya 90 tahun, usia yang jarang dicapai oleh kebanyakan orang. Kemampuan fisiknya memang semakin berkurang seiring dengan bertambahnya usia, namun kemampuan intelegensinya tidak kalah dengan orang-orang muda. Semangatnya dalam mempelajari banyak hal mengalahkan kami yang jauh lebih muda. Beliau memiliki prinsip selagi masih diberi nafas hidup, apapun hal positif yang diketahuinya, akan dibagikan kepada orang lain. Keinginan dan cita-citanya itu dituangkan dalam sebuah buku harian yang diberi judul “Hidupku harus bermakna”.

Melihat hidupnya, pandangan-pandangannya, prinsip-prinsipnya, saya seperti diingatkan bahwa semakin bertambah usia kita dalam mengenal Tuhan, seharusnya semakin banyak hal yang ingin kita ketahui tentang-Nya. Jangan merasa cukup dengan apa yang sudah kita ketahui saat ini; jangan merasa “tua” untuk menggali Firman Tuhan; jangan pernah merasa sudah tahu akan semua Firman Tuhan. Semakin kita mengenal Firman-Nya, semakin banyak hal baru yang akan kita ketahui. Semakin banyak waktu yang kita gunakan untuk menggumuli Firman-Nya, semakin banyak hikmat ...selengkapnya »
Kristus datang memberi hidup dan pengharapan Yohanes 10:10b Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Kolose 1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan! Bila ada seseorang yang baru datang ke tengah sebuah lingkungan tertentu [misalkan sebuah kampung], maka orang-orang di lingkungan itu akan bertanya-tanya: ’Siapakah orang itu? Seperti apakah pribadi dan latar belakangnya? Apakah kehadirannya akan membawa akibat yang baik atau buruk bagi orang-orang di lingkungan ini?’ Dua ribu tahun yang lalu telah datang ke dunia ini Yesus yang lahir di kota Betlehem. Para nabi sudah menubuatkan kedatangan-Nya. Dia adalah Sang Firman yang menjelma menjadi manusia. Dia datang ke dunia dengan tujuan untuk memberikan hidup dan pengharapan kepada manusia. Kristus telah datang ke dunia untuk memberikan hidup. Hidup yang dimaksud adalah zoe [dalam bahasa Yunani], yaitu hidup yang berkualitas. Hidup bukan asal hidup. Bukan hidup hanya untuk menikmati kesenangan saja. Tapi hidup yang penuh arti. Hidup yang berdampak bagi orang lain. Hidup yang berkenan di hati Tuhan. Hidup yang berpengharapan adalah hidup yang tidak hanya sebatas hidup di dunia ini saja. Tapi hidup yang melampaui batas. Sebab Kristus adalah pengharapan akan kemuliaan. Kristus sendiri saat ini ada di dalam kemuliaan di Sorga. Kristus sanggup membawa umat-Nya kepada kemuliaan yang saat ini dimiliki-Nya. Untuk semua itulah Kristus datang ke dunia ini. Dia lahir ke dunia ini dengan tujuan yang jelas. Dia datang agar manusia yang percaya kepada-Nya akan memiliki hidup dan memiliki pengharapan akan kemuliaan. Hidup di tengah dunia ini kita harus memiliki pegangan yang pasti. Jika kita memiliki iman kepada Kristus, maka kita memiliki jaminan hidup yang pasti. Pada hari Natal ini marilah kita semakin kuat di dalam iman dan pengharapan kita kepada Kristus. Pdt. Goenawan Susanto
Nama bulan Januari diambil dari nama “Yanus” dewa pintu dalam mitologi Romawi kuno. Seorang dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang. Untuk menentukan mana yang depan atau belakang ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis sedangkan yang menghadap kebelakang selalu terlihat muram dan sedih. Itulah mengapa bulan pertama setiap tahun dinamakan dengan bulan Januari. Karena bulan ini bias dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ketahun sebelumnya dan lainnya ketahun berjalan. Setiap awal tahun orang-orang biasanya memiliki resolusi tahun baru yang didapatkan dari dualisme yaitu masa lampau dan masa mendatang [ dengan berpijak dari masa lampau akan meraih masa depan ]. Paulus mengatakan, tetapi yang aku lakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam KristusYesus. Dalam bulan Januari kita masih teringat dan sering tidak bisa melupakan peristiwa yang terjadi di tahun sebelumnya apalagi peristiwa yang sangat menyakitkan bagi kita. Kita akan bersikap seperi dewa Yanus yang selalu membawa kemurungan dalam dirinya bila kita tidak melupakan peristiwa dalam tahun yang lalu. Pandanglah ke depan dengan sukacita dan dengan semangat mengarahkan diri pada apa yang Tuhan telah tetapkan bagi kita. Keluarga, pekerjaan/usaha, pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dirawat dan dikembangkan merupakan tujuan kita. Ketika kita berlari ketujuan dan mengalami berbagai tantangan atau masalah, ingatlah bahwa kasih setia Tuhan tak ada habisnya, rachmat-Nya selalu baru setiap pagi.
“Mbah, Benay akan segera kembali ke tanah air”, kata Rabenay pada Mbah Wanidy yang masih terpingkal-pingkal menahan tawa. “Apa! Benay akan kembali? Dia masih hidup?”, tanya Mbah Wanidy keheranan. “Benar Mbah, menurut informasi yang saya terima, KBRI di Iraq telah menyampaikan pengumuman bahwa para sukarelawan asal Indonesia akan mulai dipulangkan pada awal tahun 2018 ini. Konon salah satu nama yang disebut adalah Benay, adik kandung saya.” Wajah Mbah Wanidy sumringah mendengar kabar baik ini. Sukacita meletup-letup dalam sanubarinya. Wajahnya berseri-seri berhias pengharapan. “Wah..wah.., tampaknya Mbah Wanidy gembira sekali. Bahkan lebih gembira dibandingkan dengan saya.” Mbah mengangguk-angguk mengiyakan. “Mengapa Mbah begitu gembira ketika mendapatkan kabar bahwa Benay akan pulang?” tanya Rabenay penasaran. “Ya tentu saya senang karena pertama-tama Benay selamat. Bagaimanapun juga dia itu adalah konsumen fanatikdi warung saya. Kedua, heem…ehem….kembalinya Benay ke Semarang berarti tumbuh mekarnya kembali harapan saya”, jawab Mbah Wanidy. “Harapan apa itu, Mbah” tanya Rabenay. “Heek…e..heeem…harapan untuk terbayarnyahutang-hutang Benay pada saya.” Wajah Rabenay pun memerah karena malu. Jemaat yang terkasih. Harapan Mbah Wanidy yang sempat terkubur, kini tumbuh kembali karena ada kemungkinan Benay masih hidup dan akan kembali ke tanah air. Demikian juga dengan Ayub. Dalam penderitaannya yang teramat pedih, Ayub bergumul dengan Tuhan. Sahabat-sahatabnya hadir untuk memberikan nasehat. Namun apa boleh buat, nasehat-nasehat mereka malah cenderung menuduh dan makin menyesakkan hatinya. Ayub merasa bahwa harapannya sudah hilang. Semangatnya sudah patah berkeping-keping dan di matanya hanya tampak kematian yang segera akan menghampirinya [ay. 1, 11-16]. Namun apa yang Ayub perkirakan tidaklah seperti yang Allah pikirkan. Sejak dari mulanya penderitaan Ayub diperhatikan oleh Allah. Jerit pergumulannya di dengarkan oleh-Nya. Harapannya tidak dilenyapkan sama sekali. Malah pada waktu yang Allah tetapkan, keadaan Ayub dipulihkan dengan luar biasa [Ayub 42]. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Apakah kita sedang mengalami pergumulan? Atau masalah dalam hidup ini? Apakah kita merasa jerit tangis kita dalam doa-doa terasa jauh dari Tuhan? Seolah-oleh mata kita sudah hampir kering? Namun percayalah bahwa kasih Allah tidak akan pernah sedikitpun meninggalkan anak-anak-Nya. Tetaplah berlaku benar dan setia, tetaplah berpengharapan di dalam Tuhan karena masa depan itu sungguh ada tersedia bagi kita. Selamat membangun harapan. Terpujilah Tuhan!
Pada pertengahan bulan Desember 2017, di rumah nenek saya ada acara keluarga besar. Mulai dari keluarga tertua sampai yang termuda berkumpul di sana, bahkan mengundang tetangga-tetangga dan saudara. Acara tersebut sudah direncanakan dan dibicarakan bersama. Sehingga membutuhkan persiapan yang cukup supaya acara berjalan lancar. Mereka membagi tugas, para ibu dan wanita bagian dapur, yaitu mulai dari belanja sampai masak-memasak. Bagian para bapak dan pria mempersiapkan tempat. Ada yang mengecat rumah, ada yang memasang lampu tambahan untuk penerangan dan sebagainya. Semua sudah dipersiapkan sesuai dengan rencana. Namun, terjadi keterlambatan saat penyajian makanan, karena orang yang membantu membagikan makanan jumlahnya sedikit. Di saat seperti itu, mungkin ada perasaan tidak enak [sedikit panik] dengan para tamu yang hadir karena harus menunggu cukup lama. Tetapi semua dapat di atasi. Para tamu masih sabar menanti karena pada saat itu juga sedang hujan turun. Sehingga mereka tidak terburu-buru meninggalkan acara tersebut. Hal yang hampir sama juga pernah dialami ketika ada perkawinan di Kana. Saat itu keluarga mempelai kehabisan anggur untuk disajikan kepada para tamu. Sehingga muncul kepanikan dan perasaan tidak nyaman ketika mendengar masalah tersebut. Karena dalam tradisi Yahudi, anggur memainkan peranan penting dalam pesta perkawinan. Keluarga mempelai tentu sangat malu jika tidak bisa memberikan sajian anggur tersebut. Sehingga masalah tersebut harus segera dicarikan solusinya karena para tamu tidak mungkin menunggu beberapa jam, hari, bahkan minggu karena itu adalah pesta perkawinan. Dalam kondisi tersebut, tidak mungkin mempelai sendiri yang mencari solusinya. Dan ketika Maria mengetahui masalah tersebut, Maria dengan sigap mencari solusi, yaitu dengan datang kepada Yesus. Maria sangat percaya bahwa Yesus sanggup menyelesaikan masalah tersebut. Yesus sanggup memberikan jawaban yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut. Masih di minggu awal tahun 2018 ini mari kita melihat bahwa masalah tidak mungkin tidak ada. Beban dan tanggung jawab semua juga tentu ada. Namun mari kita melihat bahwa Tuhan Yesus selalu ada untuk memberikan solusi dan jawaban. Rasa panik dan kekuatiran mungkin juga muncul di saat-saat yang mendesak, tetapi mari kita belajar untuk menyerahkan segala sesuatunya itu kepada Tuhan yang mampu memberikan jawaban atas kehidupan kita. Karena Tuhan tidak akan membiarkan anak-anak yang dikasihi-Nya mendapatkan malu.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Eben Haezer
30 Desember '17
Demonstrasi Kasih Allah
08 Januari '18
Memasuki Tahun 2018
31 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang