SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Bangkit menjadi teranglah.
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Imam Dan Raja
Imam Dan Raja
Jumat, 18 Agustus 2017
Imam Dan Raja
1 Petrus 2:9-10

Ada banyak orang krsiten atau umat Tuhan menyukai ayat firman di atas karena berpikir saat percaya Tuhan Yesus dipilih dan diangkat oleh Tuhan sebagai imam dan raja sehingga dengan senang dan bangga menaikkan Pujian.

“Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri...” Yang perlu kita ketahui sebutan imam dan raja bukan sekedar jabatan dan kedudukan yang Tuhan berikan, tetapi ada tanggung jawab yang harus kita emban sebagai seorang imam yang bertugas menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Seorang imam tidak saja harus menjaga kekudusan karena ia yang mempersembahkan korban persembahan di ruang Maha Kudus [jika ia tidak dalam kekudusan akan mengalami kematian secara fisik], tetapi ia juga bertanggung jawab atas jiwa-jiwa di hadapan Tuhan. Itu ditunjukkan dengan baju keimaman [baju Efod] yang di atas pundaknya ada 12 batu, 6 di pundak sebelah kanan dan 6 lagi di sebelah kiri yang melambangkan 12 suku Israel.

D...selengkapnya »
Penulis Paul Little mengatakan bahwa kita sering kali tidak bersaksi seperti Yesus. Kita cenderung cepat menyalahkan orang lain. Paul Little menulis, ’Kita sering kali berpikir keliru, yakni jika kita tidak menyalahkan suatu sikap atau tindakan yang salah, berarti kita menyetujuinya.’ Dia menambahkan, ’Kita tidak hanya harus menghindari sikap menyalahkan orang lain, tetapi juga perlu mempelajari seni memberikan pujian yang rasional.’ Paul Little juga menceritakan pengalaman seorang penulis bernama Charles Trumbull. Di sebuah kereta api, sang penulis bertemu seorang pemabuk yang melontarkan kata-kata tak senonoh dan duduk di sampingnya. Ketika laki-laki itu menawarkan minumannya, Trumbull sama sekali tidak menyalahkan orang itu. Malahan dia menjawab, ’Tidak, terima kasih, tapi saya tahu Anda sangat murah hati.’ Mendengar kata- katanya, mata laki-laki itu langsung bersinar. Sewaktu mereka bercakap-cakap, laki-laki itu mendengar tentang Pribadi yang menawarkan air kehidupan yang dapat memuaskannya. Tak lama kemudian ia pun menerima Kristus. Kita dapat belajar banyak tentang bersaksi secara efektif dengan belajar dari Yesus, melalui peristiwa saat Yesus bersaksi kepada wanita yang ditemui-Nya di sumur [Yohanes 4:5-26]. Sebenarnya secara sosial Yesus tidak boleh berbicara dengan wanita Samaria itu, karena Yesus orang Yahudi. Dalam kisah tersebut diceritakan Yesus meminta minum kepada wanita itu. Ini dilakukan-Nya dengan sikap menghargai wanita tersebut. Bisa saja Yesus menyalahkan cara hidup wanita yang penuh dosa itu, tetapi Dia tidak melakukannya. Pada saat kita bersaksi tentang Yesus, ingatlah bahwa kita perlu hikmat. Artinya adalah cara kita bersaksi harus cerdik. Dapat membaca situasi serta diperlukan timming yang tepat. Semua itu perlu dilakukan agar Kabar Sukacita tentang Yesus dapat diterima oleh orang di sekitar kita. Semua orang dapat mendengarkan dengan penuh sukacita. Mari beritakan Injil dengan berhikmat.
Waktu berjalan begitu cepat, bulan Januari telah lewat dan kita masuk ke bulan ke-2 tahun ini. Ada hati yang berbunga-bunga tapi ada juga hati yang kelabu, yang pasti tidak seorang pun dari kita tahu apa yang akan terjadi di hari-hari yang kan kita lalui. Hati kita dipenuhi banyak tanda tanya: Bisakah ? Mungkinkah ? Rasa kawatir dan takut sering menghantui hidup kita. Banyak ketidakpastian berkecamuk dalam pikiran dan hati kita. Namun satu hal yang harus kita tahu pasti bahwa Allah ada di pihak kita, jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? Dalam janji Allah ini ada 3 hal yanag harus kita pahami. Pertama: Allah berada di pihak kita! Bagaimana kita mengetahui dengan pasti? Mempercayai-Nya dan berada dalam kehendak-Nya ? Bukankah di dalam Yesus Kristus kita dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kita juga dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya dan dimuliakan-Nya. Kedua: Allah memberikan kekuatan dan kemenangan kepada kita. Kepastian ini kita peroleh karena Ia telah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal, Yesus Kristus sebagai anugerah terbesar dalam hidup kita. Itu artinya bahwa Ia juga akan memberikan hal-hal lainnya yang kita butuhkan [ayat 32]. Ketiga: Persekutuan kita dengan Allah tidak akan dapat dipisahkan oleh apapun juga dalam dunia ini. Kesulitan hidup bisa saja datang menghadang tetapi bersama Tuhan, siapa takut? [ayat 35]. Mari kita melangkahkan kaki kita menapaki hari-hari di depan kita dengan penuh percaya akan penyertaan-Nya yang kekal.
“Saya tidak menduga jika Nak Itong masih ingat dengan hutang saya?” kata Mbah Wanidy malu-malu. Pdt. Itong terkekeh lembut sembari menyeruput es teh segar yang terhidang di hadapannya. “Saya tentu ingat, Mbah. Saya masih muda dan belum pikun lho!” “Emang hutang saya pada Nak Itong berapa rupiah ya? Maaf saya benar-benar sudah lupa. Maklum mbah sudah tua, Nak?” “Hutang Mbah Rp. 4.574.625,-“, jawab Pdt. Itong tegas. “Wah...kok banyak sekali ya? Tapi maaf, hutang saya itu kan sebenarnya tunggakan biaya keamanan...”, kata Mbah Wanidy agak gemetar, “Biaya keamanan waktu Nak Itong masih preman profesional di daerah ini...he..he..he... Maaf, lho Nak Itong. Jangan marah ya?” Pdt. Itong menggeleng-gelengkan kepala. Dan setelah menenggak es teh sampai tetes terakhir ia berkata, “Tak mengapa, Mbah. Itu sudah jadi masa lalu saya.” “Jadi...kalau begitu hutang saya juga sudah jadi masa lalu juga ya Nak? He..he..he..apalagi kan sekarang Nak Itong sudah jadi pendeta, bukan preman penyedia jasa keamanan lagi?” ujar Mbah Wanidy yang mulai mempunyai keberanian. “Ya. Hutang Mbah sudah tidak saya pikirkan lagi. Apalagi itu hasil pemerasan saya pada Mbah saat itu. Masa lalu saya dengan segala kebanggaan dan kebodohannya adalah sampah bagi saya sekarang ini.” Wajah Mbah Wanidy kembali sumringah mendengar amnesti yang diberikan oleh Pdt. Itong. Jemaat yang terkasih. Mirip seperti masa lalu yang digambarkan dengan tokoh “Pdt. Itong” dalam kisah di atas, Rasul Paulus juga mempunyai masa lalu yang penuh dengan kesombongan. Kesombongan karena identitasnya sebagai orang Ibrani asli dan seorang Farisi yang sangat dihormati masyarakat. Bersamaan dengan itu ia juga begitu bangga dengan kegiatan rutinnya yang jahat sebagai penganiaya jemaat. Namun setelah perjumpaannya dengan Yesus Kristus yang mengubah hidupnya, semua kesombongan masa lalunya itu tampak sebagai sampah belaka baginya. Ia menjadi begitu terpukau dengan Yesus Kristus. Dan memiliki kerinduan yang kuat untuk mengenal Yesus, kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dengan penderitaan-Nya. Luar biasa, Rasul Paulus yang dahulu begitu sombong memusuhi Tuhan, sekarang malah berbalik dan siap menderita dalam Tuhan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Berikanlah diri kita dipesonakan oleh Yesus Kristus melalui pengenalan akan Dia. Maka kita akan mendapati dengan jelas bahwa dalam hidup kita tidak ada yang dapat kita sombongkan. Apakah itu identitas kita? Status dan jabatan kita? Kekayaan kita? Semuanya itu hanyalah sarana saja yang sifatnya sementara. Sedang tujuan kita adalah mengenal dan mengenal Tuhan secara lebih dalam dan lebih dalam lagi. Selamat mengenal Tuhan dan melepas kesombongan. Terpujilah Tuhan!
Pak Budi adalah seorang Kristen sejak kecil. Dia bertumbuh dalam Gereja yang memiliki komunitas kecil untuk sarana pertumbuhan rohani jemaat. Pada suatu saat pak Budi memiliki pergumulan tentang keselamatan dirinya di hadapan Allah. Dia juga sempat meragukan apakah Yesus Kristus benar-benar Allah. Akhirnya Pak Budi di yakinkan keselamatan hidupnya melalui bimbingan pak Slamet sebagai pemimpin komcil. Pak Budi berusaha meyakinkan bahwa keselamatan hidupnya di dalam Kristus di jamin dan Kristus memang benar-benar Allah yang menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Keraguan tentang siapa Yesus Kristus sebenarnya bukan cuma pergumulan pak Budi saja, tetapi pergumulan banyak orang baik yang sudah mengenal dan percaya Tuhan Yesus maupun mereka yang belum percaya kepada Tuhan Yesus. Yang belum percaya layak kita maklumi sebab mereka berada di luar Kristus, tapi bagi yang sudah percaya Tuhan Yesus hal ini harus kita perhatikan dengan serius. Sebab akan berdampak dalam kehidupannya di kemudian hari. Sebagaimana bacaan renungan kita hari ini yang berkaitan dengan kehidupan Yohanes Pembaptis yang telah membaptis Tuhan Yesus dan memperkenalkan Tuhan Yesus kepada orang banyak melalui kotbahnya. Saat berada di dalam penjara menunggu bagaimana nasibnya selanjutnya di tangan Raja Herodes, dirinya sempat meragukan keberadaan Tuhan Yesus sebagai Sang Mesias. Oleh sebab itu dia mengutus muridnya untuk mempertanyakan hal ini kepada Tuhan Yesus. Ternyata jawaban Tuhan Yesus sangat mengejutkan. Pertama Dia meyakinkan bahwa Diri-Nya adalah Mesias melalui tanda-tanda yang telah di buatnya [ayat 4-6]. KeDua Dia, mulai berbicara tentang diri Yohanes Pembaptis [ayat 7-14]. Di katakan tidak ada seorangpun yang lahir di Israel memiliki pribadi lebih besar dari Yohanes Pembaptis. Pelajaran yang kita dapat melalui bacaan ini adalah kebesaran dan kasih Tuhan Yesus yang selalu ingin meyakinkan siapapun orang yang sempat meragukan keberadaan-Nya sebagai Sang Mesias. Supaya dengan pernyataan Tuhan Yesus, orang tersebut tidak lagi ragu-ragu melainkan akan melangkah dengan mantap dalam iman kepada dan bersama Tuhan Yesus. Bagaimana dengan diri kita saat ini, yakinkah kita bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias Sang Juruselamat manusia berdosa? Jika kita masih sempat meragukannya sama seperti Yohanes Pembaptis, maka temukan jawabannya melalui pembacaan dan pendalam Firman Allah terutama Injil Yohanes niscaya kita akan diyakinkan siapa Tuhan Yesus Kristus yang sebenarnya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Mata Tuhan Melihat
23 Januari '18
Menabur Kebaikan1
17 Februari '18
Hidup Dalam Keharmonisan
11 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang