SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Bangkit menjadi teranglah.
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Imam Dan Raja
Imam Dan Raja
Jumat, 18 Agustus 2017
Imam Dan Raja
1 Petrus 2:9-10

Ada banyak orang krsiten atau umat Tuhan menyukai ayat firman di atas karena berpikir saat percaya Tuhan Yesus dipilih dan diangkat oleh Tuhan sebagai imam dan raja sehingga dengan senang dan bangga menaikkan Pujian.

“Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri...” Yang perlu kita ketahui sebutan imam dan raja bukan sekedar jabatan dan kedudukan yang Tuhan berikan, tetapi ada tanggung jawab yang harus kita emban sebagai seorang imam yang bertugas menjadi pengantara antara Allah dan manusia. Seorang imam tidak saja harus menjaga kekudusan karena ia yang mempersembahkan korban persembahan di ruang Maha Kudus [jika ia tidak dalam kekudusan akan mengalami kematian secara fisik], tetapi ia juga bertanggung jawab atas jiwa-jiwa di hadapan Tuhan. Itu ditunjukkan dengan baju keimaman [baju Efod] yang di atas pundaknya ada 12 batu, 6 di pundak sebelah kanan dan 6 lagi di sebelah kiri yang melambangkan 12 suku Israel.

D...selengkapnya »
Seorang nenek begitu setia beribadah kepada Tuhan di usianya yang semakin bertambah. Demikian juga sang nenek terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui ibadah sekalipun keadaan hujan atau panas. Bahkan tubuh tuanya yang seringkali mengalami sakit, tidakmembuatnya melupakan setiap hari minggu untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Sang nenek berpikir bahwa dengan beribadah, ia sedang bertemu dengan Tuhannya. Tetangga yang melihat kehidupannya begitu tertarik dengan apa yang dilakukannya .Sampai suatu saat, tetangga nenek yang awalnya tidak mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru selamat, akhirnya menjadi percaya karena melihat kehidupannya. Seringkali kita berpikir kalau menjadi berkat berarti kita harus mengeluarkan rupiah dari dompet kita. Tidak salah memang, namun melalui kehidupan ini kita bisa menjadi berkat bagi banyak orang seperti contoh kisah nenek di atas, termasuk juga melalui bibir kita menjadi berkat bagi banyak orang. Penulis surat Ibrani mengingatkan supaya kita mempunyai ucapan bibir yang memuliakan Allah. Tentu orang yang mendengar perkataan kita akan memuji-muji dan memuliakan Allah karena kebaikkan-Nya. Contohnya, Paulus dan Silas sekalipun di penjara [Kisah Para Rasul 16:25] atau ucapan syukur yang kita perkatakan dari mulut bibir kita sekalipun menghadapi masalah dan tantangan. Ketika orang lain mendengarnya, tentu mereka juga akan mendapatkan semangat yang baru dari kehidupan ini. Saat kita belajar melalui mulut bibir ini mengucap syukur tidak saja memperkenankan hati Tuhan [1 Tesalonika 5:18], tetapi juga membuat orang yang mendengarnya mendapatkan harapan baru. Mari kita bawa hidup ini, khususnya melalui perkataan kita, menjadi berkat bagi banyak orang. Sehingga seperti perintah Tuhan kepada Abraham supaya Abraham diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang, demikianlah juga kita kiranya menjadi berkat dan menikmati berkat Abraham dalam kehidupan kita ini.
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Waspadalah terhadap pemikiran bahwa doa berarti membawa simpati dan kepedulian pribadi kita ke dalam hadirat Allah lalu menuntut supaya Dia melakukan apapun yang kita minta. Kemampuan kita menghampiri Allah bergantung sepenuhnya Kepada Yesus Kristus karena Dia yang telah menanggung dosa demi menggantikan kita. “Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.” Kedegilan secara rohani adalah halangan paling utama terhadap doa, karena didasarkan pada “rasa” simpatik akan hal-hal yang kita lihat di dalam diri kita dan orang lain yang menurut kita tidak membutuhkan penebusan. Kita mempunyai gagasan bahwa ada hal-hal baik dan mulia di dalam diri kita yang tidak memerlukan karya penebusan salib Kristus. Seringkali kita merasa siap dengan gagasan kita sendiri dan doa kita hanya menjadi pemujaan terhadap rasa simpatik kita sendiri. Kita berdoa, namun kita tidak menyelaraskan diri kita dengan minat dan kepedulian Allah terhadap orang lain. Ketika kita menyadari bahwa Tuhan Yesus Kristus menanggung dosa ini berarti terjadi perubahan menyeluruh terhadap semua simpati dan minat kita. Doa bagi sesama berarti kita dengan sengaja mengganti rasa simpati alami kita dengan minat Allah terhadap sesama Doa bagi sesama membuat kita tidak mempunyai waktu maupun kecenderungan untuk mendoakan “kesedihan dan belas kasihan” untuk diri kita sendiri. Kita harus menyatukan diri sepenuhnya dan menyeluruh dengan minat dan kepeduliaan Allah dalam hidup orang lain. Allah memberi kita kepekaan terhadap kehidupan orang lain sehingga menggerakkan kita untuk berdoa bagi mereka dan bukan untuk mencari kelemahan mereka.
Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena bisa membahayakan, jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop, mulai menyekop tanah dan menimbun sumur tersebut. Pada mulanya ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan selamatlah dia. Selama kita hidup, maka seringkali kita akan menerima segala macam tanah dan kotoran, yaitu segala macam masalah dan persoalan kehidupan ini. Cara untuk keluar dari “sumur masalah” adalah dengan menghilangkan segala pikiran negatif dalam diri kita dan mampu menderita, serta terus bekerja dengan sungguh-sungguh. Selanjutnya mulai menyelesaikan masalah dengan terus melangkah maju, setahap demi setahap, terus mengatasi masalah demi masalah seumur hidup kita. [WIN] Pokok renungan: Setiap masalah merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari ’sumur’ yang terdalam dengan tetap mengandalkan Tuhan, berpikir positif dan terus berjuang. Jangan pernah menyerah!
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Persembahkan HidupMu
05 Desember '17
Doa Bagi Orang Lain
22 November '17
Keledai Yang Berpikir Positif Dan Berusaha
08 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang