SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Iman yang bertanggung jawab akan membuat seseorang menghasilkan buah kehidupan, yaitu hidup makin berkenan kepada Tuhan dan membantu orang lain juga tumbuh berkenan kepada Tuhan [Yohanes 15:5].
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Iman Yang Bertanggung Jawab
Iman Yang Bertanggung Jawab
Rabu, 13 September 2017
Iman Yang Bertanggung Jawab
Ibrani 12:1-6

Sering kita mendengar pernyataan tentang anugerah keselamatan yang kurang tepat, umpama: “Yang penting percaya kepada Tuhan Yesus, semuanya akan beres, dan kalau mati masuk surga.” Percaya Yesus tidak cukup sekedar mengakui secara pikiran akan riwayat/sejarah Tuhan Yesus di bumi ini: lahir, mati disalib, bangkit dan naik ke surga. Pemahaman iman seperti ini tidak membuat orang percaya bertumbuh dewasa rohani.

Iman berasal dari kata “pistis” dalam bahasa Yunani [bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru] yang berarti penyerahan diri secara total dan penurutan kepada pribadi yang dipercayai. Jadi percaya membawa tanggung jawab untuk masuk proses penyerahan dan penurutan kepada Tuhan Yesus. Dalam ayat bacaan kita diingatkan untuk masuk proses/perlombaan dengan Tuhan Yesus sebagai teladannya.

Kita perlu memahami bahwa satu-satunya agenda Bapa dalam karya keselamatan dalam Tuhan Yesus adalah untuk memberikan kepada manusia [yang sudah jatuh dalam dosa] hak istimewa dan kesempatan untuk menjadi anak Allah [Yohanes 1:12]. Menjadi anak Allah berarti harus sempurna seperti Bapa,’like father like son’ [Matius 5:48]. B...selengkapnya »
Berlutut dihadapan Tuhan, tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Dr. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita’. Buku ini menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerahkan seluruh persoalannya kepada Tuhan dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putua asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemampuan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh.’ Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanam kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengakui dihadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Roma 7:21 mengatakan, ’Jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.’ Bukankah kita merasakan betapa sulitnya untuk berdoa sekalipun keinginan untuk berdoa selalu ada? Jadi, mintalah kepada Tuhan agar cinta untuk rumah dan hadiratNya menghanguskan kita. Pahamilah prinsip kebenaran tentang ’Rumahku adalah rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun.’ Yesus memberikan pernyataan ini ketika Dia sedang menunggang-balikkan segala kesibukan yang ada di rumah Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan kesekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dari segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakanNya.
Bill Gates adalah seorang yang sukses dalam bidang IT dengan produk software Microsoft yang telah mendunia. Suatu saat dia dan isterinya diwawancarai oleh majalah Time, salah satu pertanyaannya “Mengapa anda memutuskan untuk member begitu banyak dari keuntungan bisnis anda kepada kepentingan dunia?” Jawabnya “Sangat jelas bagi kami bahwa kami tidak pernah berpikir untuk memberikan keuntungan ini bagi anak-anak kami sendiri. Ketika kami mulai melihat adanya ketidakadilan yang besar di dunia ini, kami yakin dapat membantu kehidupan manusia melalui peningkatan kesehatan. [ Majalah Time 7 November 2005 ]. Bill Gates telah menabur kebaikan dalam hidupnya. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena prinsip yang Tuhan ajarkan adalah bertolong-tolonganlah untuk saling menanggung beban. Karena dengan demikian maka kita akan memenuhi hokum Kristus. Jangan pakai waktu kita untuk menabur dalam daging dengan melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan bertentangan dengan Firman Tuhan yang akan menuai kebinasaan. Mereka yang menabur dalam Roh dengan melakukan perbuatan terpuji dan menabur kebaikan akan menuai hidup yang kekal. Janganlah kita mempermainkan waktu singkat yang kita miliki karena apa yang kita tabur akan kita tuai. Marilah kita menguji diri kita sendiri apakah kita sudah termasuk golongan orang yang menabur kebaikan. Kita tidak harus seperti Bill Gates, kita bias berbuat sesuatu di tengah keterbatasan kita untuk kebaikan banyak orang, walaupun yang kita lakukan hanya sesuatu yang sederhana, karena kebaikan tidak hanya berbentuk materi. Banyak orang sekitar kita membutuhkan perhatian dan bantuan kita, apakah kita sudah meresponinya? Ingatlah dengan menabur kebaikan akan berdampak membawa jiwa-jiwa kepada keselamatan dalam Kristus Yesus.
Sejak ditemukannya benua Amerika oleh Columbus pada abad 15 dan diketahui bahwa benua baru tersebut menyimpan kekayaan alam yang luar biasa, ribuan orang dari Eropa berduyun-duyun datang kesana. Puncaknya adalah di abad 19 ketika terjadi ’demam emas’. Tersebutlah seorang pria yang juga datang ke Amerika hendak menambang emas, namun betapa kecewanya ia menerima kenyataan bahwa emas yang diimpikan sudah habis. Sementara uang untuk pulang menipis. Dengan gontai dan pikiran kosong, ia berjalan mendekati kereta kudanya. Untuk sekian menit, pikirannya menerawang entah ke mana, sambil tangannya memegang terpal penutup kereta kudanya. Ahaa!! Tiba-tiba datang ide cemerlang ke dalam pikirannya. Dengan tangan masih memegang terpal penutup kereta kuda, ia memandang ke arah penambang yang sedang bekerja keras mengumpulkan butiran emas, dengan kondisi pakaian yang sudah tidak jelas. Sontak muncul ide cerdas di pikirannya. Ia bertanya di dalam hati, ’Mengapa tidak ada celana khusus penambang yang terbuat dari bahan yang kuat seperti terpal ini? Selain lebih awet, kulit penambang juga bisa terlindungi dari goresan yang membuat sakit’. Siapa menyangka berawal dari rasa frustasi akibat gagal menjadi penambang emas, pria tadi secara tidak sengaja menemukan ide untuk membuat bahan celana yang terbuat dari terpal. Bahan celana yang kelak disebut jeans itu kini sudah dipakai di seluruh dunia, sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari mode. Pria itu bernama Levi Strauss, seorang Yahudi-Jerman, yang produknya dikenal dengan merk Levi’s. Dahulu Israel dikenal sebagai negeri yang gersang. Seluruh negeri dikelilingi hamparan gurun pasir, tak ada satupun tanaman bisa tumbuh kecuali kaktus. Sumber air pun tidak ada, lalu apa yang mau diharap dari negeri seperti itu? Namun sebagai bangsa yang cerdas, bangsa Yahudi terus maju dan tidak menyerah dengan kondisi alam seperti itu. Didukung kecanggihan teknologi, saat ini Israel dikenal sebagai penghasil buah-buahan terbaik di dunia. Mazmur 126:4, Tuhan berjanji memulihkan Sion dan memulihkan batang-batang air kering di tanah Negeb. Tuhan berkuasa mengubah padang gurun menjadi kebun buah-buahan, sesuatu yang mustahil bagi logika manusia! [Yes 32:15]. Hal ini yang dikehendaki Tuhan atas gerejaNya. Jangan mudah menyerah dengan kondisi yang ada!
“Benay pulang, Benay akan pulang, asyik-asyik...lalalalalala.” Sore itu Mbah Wanidy tampak gembira sekali. Seraya meracik segelas es teh pesanan Pdt. Itong, ia tak habis-habisnya bernyayi-nyanyi sambil sesekali bergoyang pinggul. “Lho...Mbah Wanidy dapat kabar dari mana?”, tanya Pdt. Itong, “Jangan keburu gembira dulu Mbah! Rumor yang beredar justru menyatakan bahwa Benay sudah tidak ada alias mati, kesrempet bom di Iraq.” “No..no..no..no”, jawab Mbah Wanidy ke Inggris-inggrisan, “Kali ini sumber beritaku terjamin keakuratannya. Mas Rabenay, kakak kandung Benay, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di pelabuhan. Dan ia sendiri yang menyampaikan bahwa awal tahun 2018 ini Benay akan pulang kampung.” Pdt. Itong memandang keheranan dan hampir tidak percaya bahwa Benay akan pulang. “Tapi..ngomong-ngomong mengapa Mbah Wanidy kok senang sekali jika Benay akan pulang? Bukankah dia tukang ngutang di warung Mbah?” “Justru itulah Nak Itong. Kalo Benay pulang ada harapan hutangnya dibayar lunas..nas..nas.” “Emangnya berapa hutang Benay?” tanya Pdt. Itong. “Rp. 37.739! Belum termasuk bunga dan PPN.” “Walah..walah..utang segitu saja kok dipikirin”, kata Pdt. Itong, “Hutang Mbah Wanidy pada saya kan jumlahnya jauh lebih besar. Masih ingat jumlahnya?” Tak menduga bakal “ditembak” seperti itu wajah keriput Mbah Wanidy segera memerah. Ia tampak malu sekali. Jemaat yang terkasih. Kisah di atas memiliki kesejajaran dengan hal mengampuni yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada Rasul Petrus. Melalui sebuah perumpamaan, Tuhan mengisahkan bagaimana pengampunan harus menjadi gaya hidup Rasul Petrus. Bukan tujuh kali mengampuni. Melainkan 70 X 7 kali. Dalam hal ini Tuhan tidak bermaksud mengajari Rasul Petrus matematika, yaitu hasilnya 490 kali mengampuni. Tetapi maksud sebenarnya adalah mengampuni setiap saat dan tak ada batasnya. Mengapa? Karena Tuhan, oleh kasih karunia-Nya, telah lebih dahulu mengampuni Rasul Petrus. Padahal, sama seperti seluruh umat manusia, dosa dan pelanggaran Rasul Petrus begitu besar. Maka kepada orang-orang yang pernah berbuat salah atau menyakiti hatinya, Tuhan berkehendak agar Rasul Petrus mau mengampuni mereka. Sebab dengan demikian ia belajar mensyukuri pengampunan Tuhan yang telah diterimanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Sama seperti kepada Rasul Petrus, Tuhan juga menghendaki kita untuk menjadi ahli dalam mengampuni. Jangan salah sangka! Pengampunan tidak harus berbarengan dengan hilangnya sakit hati; Pengampunan juga tidak harus segera diikuti dengan pulihnya relasi seperti sedia kala; Pengampunan tidak selalu harus menghilangkan konsekwensi/hukuman yang harus diterima oleh orang yang menyalahi kita. Pengampunan adalah hal keputusan. Keputusan pribadi kita untuk mau mengampuni orang lain. Dan itu berarti demi terpeliharanya kesejahteraan dan kedamaian dalam hati kita. Selamat mengampuni. Terpujilah Tuhan!.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siapa Takut !
01 Februari '18
Berdoalah
24 Januari '18
Lakukan Kebaikan
13 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang