SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Iman yang bertanggung jawab akan membuat seseorang menghasilkan buah kehidupan, yaitu hidup makin berkenan kepada Tuhan dan membantu orang lain juga tumbuh berkenan kepada Tuhan [Yohanes 15:5].
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Iman Yang Bertanggung Jawab
Iman Yang Bertanggung Jawab
Rabu, 13 September 2017
Iman Yang Bertanggung Jawab
Ibrani 12:1-6

Sering kita mendengar pernyataan tentang anugerah keselamatan yang kurang tepat, umpama: “Yang penting percaya kepada Tuhan Yesus, semuanya akan beres, dan kalau mati masuk surga.” Percaya Yesus tidak cukup sekedar mengakui secara pikiran akan riwayat/sejarah Tuhan Yesus di bumi ini: lahir, mati disalib, bangkit dan naik ke surga. Pemahaman iman seperti ini tidak membuat orang percaya bertumbuh dewasa rohani.

Iman berasal dari kata “pistis” dalam bahasa Yunani [bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru] yang berarti penyerahan diri secara total dan penurutan kepada pribadi yang dipercayai. Jadi percaya membawa tanggung jawab untuk masuk proses penyerahan dan penurutan kepada Tuhan Yesus. Dalam ayat bacaan kita diingatkan untuk masuk proses/perlombaan dengan Tuhan Yesus sebagai teladannya.

Kita perlu memahami bahwa satu-satunya agenda Bapa dalam karya keselamatan dalam Tuhan Yesus adalah untuk memberikan kepada manusia [yang sudah jatuh dalam dosa] hak istimewa dan kesempatan untuk menjadi anak Allah [Yohanes 1:12]. Menjadi anak Allah berarti harus sempurna seperti Bapa,’like father like son’ [Matius 5:48]. B...selengkapnya »
Seorang teman dekat pernah bercerita pada saya, dia sangat kecewa dengan salah seorang rekan ketika dia masih bekerja di sebuah distributor. Selama ia bekerja di sana, rekannya itu sangat baik. Rekan tersebut sering membantunya. Bahkan begitu dekatnya, mereka sering bertukar pikiran untuk menyelesaikan masalah yang sulit dikerjakan. Beberapa waktu kemudian, teman saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Kemudian dia bertemu dengan orang yang menggantikan posisinya. Orang tersebut bercerita bahwa rekannya sering bercerita hal-hal negatif tentang dirinya. Dia sangat terkejut mendengar cerita tersebut. Teman saya tidak percaya akan semua itu karena rekannya merupakan rekan kerja yang begitu baik. Yang membuat dia heran adalah tentang hal-hal yang tidak pernah teman saya ceritakan, tetapi orang baru yang menggantikan posisinya ini tahu. Akibatnya teman saya ini begitu geram, marah dan sangat kecewa. Kenyataan ini sering kali terjadi dalam hubungan kita dengan orang lain. Kita difitnah. Dalam lingkup apapun, untuk mendapatkan posisi, pekerjaan, ataupun hubungan yang diinginkan, ada orang yang tega memfitnah pesaingnya agar tersingkir sehingga ia memperoleh promosi jabatan. Ini merupakan cara-cara yang kotor, jahat, “rendah” namun sering dilakukan bahkan menjadi kebiasaan. Tidak ada lagi perasaan bersalah ketika temannya itu tersingkir karena perbuatannya itu. Ada pepatah ‘LIDAH TAK BERTULANG’. Begitu mudahnya lidah bergerak sehingga merugikan orang lain. Melalui kitab Mazmur 120:3 mengingatkan bahwa kita tidak akan memperoleh manfaat atau kebaikan apapun ketika kita menfitnah orang lain hanya untuk keuntungan diri sendiri. Bibir dusta dan lidah penipu adalah kejahatan. Dampak dari fitnah bisa membuat orang lain hancur. Seseorang bisa kehilangan segalanya, bukan hanya harta atau kepemilikan, melainkan juga keluarga, pasangan bahkan anak-anaknya. Padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun. Oleh sebab itu jagalah lidah kita. Janganlah membuat orang lain menjadi hancur hanya karena lidah kita. Dan kemudian kita mendapat gelar “Si lidah tak bertulang”.
Kejujuran dan kepercayaan Amsal 22:1 Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas. Pada hari Kamis tanggal 16 November 2017 terjadi sebuah kecelakaan tunggal. Sebuah mobil menabrak tiang lampu penerangan jalan [bukan tiang listrik seperti kata banyak orang]. Meskipun tidak dalam kecepatan tinggi kelihatannya mobil itu rusak parah bagian depannya. Seorang penumpang di dalam mobil itu mengalami cedera berupa memar di kepalanya. Para pembaca pasti tahu siapa yang saya maksud. Banyak orang tidak percaya bahwa itu adalah kecelakaan yang murni, walaupun tidak ada yang berani memastikan bahwa itu adalah sebuah rekayasa. Berbagai macam penjelasan diberikan oleh pihak yang mengalami kecelakaan itu. [Memang sungguh aneh bahwa seorang yang mengalami kecelakaan harus meyakinkan kepada publik bahwa dirinya benar-benar mengalami kecelakaan]. Tapi biarpun diyakinkan sedemikian rupa publik tetap tidak percaya terhadap penjelasan pihak yang mengalami kecelakaan itu. Banyak orang mengalami kecelakaan, tapi tidak perlu berusaha meyakinkan publik bahwa dirinya telah mengalami kecelakaan. Tidak perlu dijelaskan apalagi diyakinkan juga orang-orang sudah tahu bahwa telah terjadi kecelakaan atas orang tersebut. Tapi mengapa yang satu tadi berbeda? Karena publik sudah tidak percaya kepada orang yang mengalami kecelakaan itu. Andaikan dia sebenarnya sungguh-sungguh mengalami kecelakaan pun, publik tetap tidak percaya. Mengapa bisa demikian? Masalahnya adalah soal kepercayaan publik terhadap track record orang tersebut. Apa pelajaran yang bisa kita petik dari kejadian ini? Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah: 1. Nama baik [reputasi] itu sesuatu yang sangat berharga. Firman Tuhan berkata bahwa nama baik itu lebih berharga daripada kekayaan yang besar. Punya kekayaan yang besar tetapi kalau tidak mempunyai nama baik hidup kita tidak ada nilainya. 2. Kepercayaan dari publik tidak bisa diganti dengan penjelasan apapun. Publik menilai kejujuran kita dari track record kita. Kalau track record jelek tidak bisa dihapus dengan penjelasan apapun. Kita hanya bisa menjaga agar track record kita tetap baik. Berjalanlah dalam kebenaran, maka hidupmu akan beruntung. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Suatu pagi di pelabuhan Tanjung Mas yang ramai. Merapatlah sebuah kapal besar dari Timur Tengah. Riuh rendah suara orang bersahut-sahutan dengan berbagai logat dan bahasa. Berbaur dengan lirihan angin sepoi-sepoi dan suara gemericik ombak laut. Tiba-tiba mata Mbah Wanidy, owner dari warung angkringan seberang gereja, tertuju pada sosok pemuda yang baru saja turun dari kapal. Wajah dan perawakan pemuda itu tidak asing baginya. Namun tampak lebih kusut dengan pakaian seadanya. Ya, pagi itu Mbah Wanidy yang ada di Tanjung Mas untuk sebuah keperluan bisnis, melihat sosok seperti Benay. Namun ia masih ragu apakah pemuda yang dilihatnya itu sungguh Benay? Pemuda langganan fanatik warungnya yang tiba-tiba pergi ke Iraq satu tahun yang lalu. Dan setelah itu tidak ada kabar berita lagi tentangnya. Orang-orang sudah menganggap dia wafat sebagai martir kemanusiaan di tanah konflik Timur Tengah. Mbah Wanidy terus memandang pemuda itu dengan pandangan penuh tanya. Kadang ia yakin itu adalah Benay, tapi kadang muncul keraguan juga apakah yang dilihatnya itu sungguh Benay. Jemaat yang terkasih, sama seperti Mbah Wanidy bertanya-tanya apakah yang dilihatnya itu sungguh Benay? Demikian juga dengan sosok Yesus Kristus. Di masa pelayanannya di tanah Yudea, sudah timbul pergunjingan di antara banyak orang tentang siapa Dia sebenarnya. Apakah sungguh Dia itu Mesias? Orang yang diurapi oleh Allah? Ataukah hanya orang biasa saja yang kebetulan punya talenta mengajar dengan hikmat dan melakukan mujizat? Jika Dia Mesias mengapa ada asal usulnya? Ayah-Nya bernama Yusuf, ibu-Nya bernama Maria. Lahir di Betlehem, besar di Nazareth, dan melayani di Galilea di antara orang-orang pinggiran. Mereka jadi ragu-ragu apakah sungguh Yesus itu Kristus [Mesias]? Di sisi lain, bagi imam-imam kepala dan orang-orang Farisi yang merasa tersaingi otoritas keagamaannya, Yesus adalah ancaman besar. Terlepas apakah Dia itu Mesias atau bukan, yang pasti Yesus harus dibunuh. Mereka yang ragu dan mereka yang merasa terancam, tidak akan dapat memahami siapa Yesus sebenarnya. Hanya orang yang beriman, yang dapat memahami Yesus dalam kodrat ilahi dan kemanusiaan-Nya sekaligus. Dalam kodrat insani-Nya, Dia punya asal-usul. Namun dalam kodrat ilahi-Nya, Dia tidak berasal-usul. Malah Dia-lah sumber asal-usul itu sendiri. Sang Firman, pencipta dari semua yang ada sekarang ini [Yohanes 1:1-3]. Jemaat yang dikasihi Tuhan, siapakah Yesus bagi kita? Apakah kita sudah sungguh mengenal-Nya? Yesus adalah Pribadi agung yang melampaui kemampuan pikiran dan perasaan kita untuk dapat memahami-Nya dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu kerinduan untuk makin memahami Tuhan dalam hidup kita harus kita kerjakan. Sukalah mendengarkan Firman Tuhan. Sediakanlah waktu tiap hari untuk bersaat teduh, merenungkan sabda-Nya dan berdoalah dengan khusuk. Hadirlah dalam ibadah dan komcil, di mana kita bisa sharing pengalaman dan saling mendoakan. Niscaya pemahaman akan semakin lebih dalam.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Hadirnya Secercah Harapan
15 November '17
Berhiaskan Kekudusan
20 November '17
Memang Lidah Tak Bertulang
04 Desember '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang