SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Iman yang bertanggung jawab akan membuat seseorang menghasilkan buah kehidupan, yaitu hidup makin berkenan kepada Tuhan dan membantu orang lain juga tumbuh berkenan kepada Tuhan [Yohanes 15:5].
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Iman Yang Bertanggung Jawab
Iman Yang Bertanggung Jawab
Rabu, 13 September 2017
Iman Yang Bertanggung Jawab
Ibrani 12:1-6

Sering kita mendengar pernyataan tentang anugerah keselamatan yang kurang tepat, umpama: “Yang penting percaya kepada Tuhan Yesus, semuanya akan beres, dan kalau mati masuk surga.” Percaya Yesus tidak cukup sekedar mengakui secara pikiran akan riwayat/sejarah Tuhan Yesus di bumi ini: lahir, mati disalib, bangkit dan naik ke surga. Pemahaman iman seperti ini tidak membuat orang percaya bertumbuh dewasa rohani.

Iman berasal dari kata “pistis” dalam bahasa Yunani [bahasa asli Alkitab Perjanjian Baru] yang berarti penyerahan diri secara total dan penurutan kepada pribadi yang dipercayai. Jadi percaya membawa tanggung jawab untuk masuk proses penyerahan dan penurutan kepada Tuhan Yesus. Dalam ayat bacaan kita diingatkan untuk masuk proses/perlombaan dengan Tuhan Yesus sebagai teladannya.

Kita perlu memahami bahwa satu-satunya agenda Bapa dalam karya keselamatan dalam Tuhan Yesus adalah untuk memberikan kepada manusia [yang sudah jatuh dalam dosa] hak istimewa dan kesempatan untuk menjadi anak Allah [Yohanes 1:12]. Menjadi anak Allah berarti harus sempurna seperti Bapa,’like father like son’ [Matius 5:48]. B...selengkapnya »
Hari ini tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Benay akan segera meninggalkan Iraq untuk kembali ke tanah air. Ada sukacita dirasakannya karena tidak lama lagi ia akan berjumpa dengan paman dan keluarganya, dengan Pdt. Itong, Mbah Wanidy, dan tentu saja Sambey, sahabatnya, yang sudah lama ia rindukan. Namun ada pula kesedihan. Sembari menatap jauh ke arah horizon negeri 1001 malam itu, Benay menangis tersedu. Hatinya hancur melihat negeri-negeri Arabia yang terus dilanda konflik. Kapankah akan tercipta kedamaian dimana orangtua dapat bekerja dengan aman dan membangun keluarga yang bahagia? Bilamanakah anak-anak dapat bersekolah dan bermain dengan ceria tanpa rasa takut lagi? Bilamanakah umat beragama yang berbeda dapat hidup berdampingan tanpa kebencian? Rasanya hampir mustahil harapan-harapan itu dapat terwujud. Mengingat kepentingan-kepentingan ambisius dari berbagai negara yang tidak berorientasi pada keadilan oleh semua dan bagi semua. Padahal keadilan itu bagaikan tanah untuk tumbuh suburnya pohon keadilan. “Aaahh mungkin hanya Tuhan yang mampu membuat negeri-negeri ini berkeadilan dan damai”, gumam Benay sambil mengusap air matanya. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Keadilan adalah terjemahan dari kata tsedaqah dalam bahasa Ibrani. Kata tsedaqah juga bisa diterjemahkan sebagai kebenaran. Dan keadilan/kebenaran adalah kata yang penting dalam Alkitab kita. Sebab keadilan/kebenaran adalah dasar dari terciptanya kondisi damai sejahtera [32:17]. Dengan kata lain, damai sejahtera tanpa didahului oleh adanya keadilan/kebenaran adalah damai sejahtera yang palsu [32:9-14]. Sebagaimana tampak dari kondisi umat Yehuda yang mendambakan kedamaian tetapi tak kunjung mereka alami. Mengapa itu terjadi? Sebab mereka berlaku tidak adil dan tidak benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tangan mereka berbuat jahat, mulut mereka berdusta, lidah mereka melakukan kecurangan dan fitnah, berbuat tidak adil pada orang lain, bertindak lalim dan kejam [59:2-7]. Akibatnya kedamaian menjauh dari mereka dan tangan Tuhan tak kunjung menolong mereka. Jemaat yang terkasih. Kita tentu mendambakan damai sejahtera tercipta dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan dan negara kita. Oleh sebab itu marilah kita berupaya berbuat adil dan benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Baik dalam relasi kita dengan Tuhan maupun dengan sesama yang adalah anggota keluarga kita, rekan-rekan sepekerjaan, sepelayanan dan saudara sebangsa setanah air kita. Dan apabila kita melihat atau menjadi korban ketidakadilan yang dilakukan orang lain, tegurlah ia namun janganlah sampai membalas dengan berlaku tidak adil kepadanya. Semoga dengan berbuat demikian kita dapat mengalami dan merasakan damai sejahtera yang sejati yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Selamat berbuat adil dan benar. Terpujilah Tuhan!
Mas Noto seorang pemuda lugu dari desa lereng pegunungan Bromo di Jawa Timur akan berangkat bekerja di Jakarta sebagai manajer pemasaran dari Bank Lippo. Alumni salah satu Universitas Terkenal di Surabaya jurusan Ekonomi Manajemen ini memang tergolong pemuda cerdas dan berprestasi sehingga Bank Lippo berminat merekrut menjadi pegawainya. Saat sebelum berangkat ke Jakarta dia mengadakan persekutuan doa dan syukuran di desanya. Ada banyak pesan dan harapan yang disampaikan kepada dirinya baik dari Bapak Gembala, Bapak Lurah, juga orang tuanya sendiri sebagai bekal dirinya berjuang di Jakarta. Dari sekian banyak pesan yang disampaikan hanya satu pesan yang senantiasa dia ingat dan lakukan dengan segenap hati yaitu pesan dari ayahnya tercinta. Bagi dia pesan sang ayah merupakan hal yang patut diingat dan dilakukan karena sang ayah sangat kenal dirinya dan kebutuhannya. Tiga tahun kemudian Mas Noto sudah menjadi orang sukses dan penting di jajaran Bank Lippo dan mulai mencari anak desa untuk bergabung bekerja dengan dirinya. Nats yang tertulis di atas merupakan pesan penting yang Tuhan Yesus sampaikan kepada para murid sebelum diri-Nya terangkat ke Surga. Pesan itu disampaikan saat menjawab pertanyaan para murid. Ternyata pesan tersebut berisi dua hal penting dan satu hal di sampaikan oleh Para Malaikat kepada para murid-Nya. Pesan tersebut antara lain. Pertama, mereka tidak perlu tahu kapan waktu yang tepat saat pemulihan bangsa Israel terjadi. Sebab hal ini merupakan wewenang dari Bapa di Surga [ayat 7]. Kedua, sekarang yang harus mereka kerjakan sepeninggal Tuhan Yesus adalah sebagai saksi – saksi dari karya penebusan Tuhan Yesus di kayu salib bagi keselamatan orang berdosa. Wilayah kesaksian mereka adalah dari Kota Yerusalem sampai ke ujung bumi [ayat 8]. Tugas itu akan mereka kerjakan setelah mereka menerima Roh Kudus sampai Tuhan Yesus datang kembali ke dunia ini. Dan salah satu pesan Malaikat yang disampaikan kepada mereka adalah tentang kembalinya Tuhan Yesus ke bumi untuk kedua kalinya sejak kenaikan diri-Nya Ke Surga. Pesan itu hendak menegaskan bahwa suatu saat Tuhan Yesus pasti kembali ke dunia ini untuk menjemput kita yang percaya dan menjadi murid-Nya. Sudahkah kita melakukan pesan Tuhan Yesus di atas sebagai bukti bahwa kita adalah murid – murid-NYa.
Anggur baru kirbat baru Matius 9:17 Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.’ Saya yakin bahwa kita semua merindukan karya Roh Kudus yang dahsyat. Tuhan sendiri berjanji akan mencurahkan Roh Kudus dengan limpah pada akhir zaman. Tetapi Tuhan tidak akan memberi anugrah karya Roh itu kalau kita tidak siap. Sebab kalau kita tidak siap curahan Roh Kudus akan sia-sia. Seperti dalam perumpamaan di atas, anggur yang baru jika diisikan ke dalam kirbat [kantong] yang lama, kirbat itu akan robek dan terbuanglah anggur yang baru itu. Kita harus mempersiapkan wadah yang baru untuk menyambut curahan kuasa Roh Kudus. Wadah yang lama adalah segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan. Orang-orang Yahudi menjalankan kebiasaan-kebiasaan agama mereka turun temurun. Ketika Allah melawat mereka melalui kehadiran Yesus, mereka tidak siap. Mereka sudah terlanjur nyaman dengan kebiasaan-kebiasaan lama mereka. Sebagai contoh, ada kebiasaan mengenai hari Sabat, orang-orang Yahudi tidak boleh berjalan melampaui 2 mil, bahkan tidak boleh menolong orang sakit pada hari Sabat. Ketika Yesus mengajak mereka untuk berubah dari kebiasaan-kebiasaan itu dan kembali pada esensi ibadah kepada Allah yang benar, mereka menolaknya, bahkan menyalibkan Yesus. Kebiasaan lama bisa membuat kita tidak siap menerima sesuatu yang baru. Kebiasaan lama membuat kita nyaman, mapan. Roh Kudus seringkali tidak bisa dikungkung dalam kebiasaan lama. Roh Kudus adalah Roh yang dinamis. Bagaimana agar kita dapat menerima curahan karya Roh Kudus yang baru? Kita bisa menerimanya dengan sikap hati yang bertobat. Kita harus mengakui dosa dan keangkuhan hati kita serta merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita harus memohon jamahan Roh Kudus-Nya dengan hati yang haus dan rindu untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Siapkanlah hatimu. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Efek Pentakosta Kisah Para Rasul 2:1-4 [1] Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. [2] Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; [3] dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. [4] Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, Andaikan kita hadir dalam peristiwa tercurahnya Roh Kudus untuk pertama kali ke atas para murid, kita akan merasakan betapa sukacitanya para murid itu. Padahal sebelumnya mereka dicekam oleh rasa takut. Mereka takut kepada orang-orang Yahudi yang berusaha untuk membinasakan mereka. Tetapi ketika Roh Kudus dicurahkan dan memenuhi mereka, mereka menjadi tidak takut, bahkan mereka dengan berani memberi kesaksian tentang Yesus Kristus yang telah bangkit dari kematian. Inilah salah satu efek Pentakosta. Murid Kristus yang tadinya takut menjadi berani. Firman Tuhan berkata: ’Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.’ [1 Timotius 1:7]. Juga dikatakan oleh Firman Tuhan, ’Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.’ [1 Yohanes 4:4]. Hari ini kita merayakan hari Pentakosta. Kita memperingati saat Roh Kudus dicurahkan untuk pertama kali ke atas para murid. Hari Pentakosta tahun ini kita rayakan di tengah situasi terganggunya keamanan di negeri kita. Serentetan peristiwa teror kembali terjadi di negeri kita. Situasi ini membuat kita tidak merasa tenang. Dan bagi beberapa orang keadaan ini membuat mereka merasa takut. Keadaan yang dialami para murid Yesus pada waktu itu juga membuat mereka takut. Tetapi setelah Roh Kudus turun ke atas mereka dan mereka dipenuhi oleh Roh Kudus, mereka menang atas rasa takut itu. Mereka dengan berani bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan. Pengalaman dengan Roh Kudus bukan hanya cerita pada masa lampau, tetapi merupakan kenyataan untuk kita alami sekarang ini. Justru dalam situasi yang tidak membuat tenang ini kita bisa merasakan kehadiran Roh Kudus di dalam hidup kita yang membuat kita menang atas rasa takut. Tuhan memberkati kita semua. Selamat menyambut pengalaman yang baru dengan Roh Kudus. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Efek Pentakosta
20 Mei '18
Keadilan Dan Damai Sejahtera
27 April '18
Siapa Tempat Perlindunganmu?
01 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang