SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Pergi beritakan injil kepada segala mahluk
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Jangan Digantikan
Jangan Digantikan
Senin, 21 Mei 2018
Jangan Digantikan
Markus 16:14-20

Kita pernah mendengar pepatah yang mengatakan, “tidak ada rotan akarpun jadi.” artinya kalau tidak ada rotan dapat digantikan dengan akar. Tentunya tidak demikian dengan firman Tuhan untuk memberitakan injil bisa saja kita pakai sarana teknologi yang berkembang begitu cepat saat ini namun tentu kita tidak boleh mengabaikan perintah Tuhan untuk memberitakan injil dengan bertatap muka.
Tuhan Yesus memberi perintah seperti yang tertulis dalam Markus 16:15 mengatakan: Lalu Ia berkata kepada mereka: ’Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.”
Dalam ayat ini Tuhan Yesus memberi perintah kepada para murid untuk pergi memberitakan injil kepada segala mahluk. Sekaligus memberikan keteladanan dan memberikan contoh kehidupan Kis 1:8”... Menjadi saksi ...” tentang kehidupan yang menjadi contoh tidak sekedar berbicara.

Mari jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus kita beritakan Injilnya yang sesuai dengan salah satu visi gereja kita hidup yang berdampak pada sesama dapat kita genapkan dalam hidup i...selengkapnya »
Kesatuan mendatangkan berkat Mazmur 133:1-3 Nyanyian ziarah Daud. Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya. Kita tahu bahwa kesatuan itu baik, indah, dan menyenangkan. Siapapun pasti menyukai yang baik, indah dan menyenangkan. Tapi mengapa sulit sekali untuk mwujudkan dan memelihara kesatuan? Kesatuan seringkali hanya sebatas wacana saja, tidak terwujud dalam tindakan nyata. Padahal Firman Tuhan berkata bahwa dimana ada kesatuan ke sana Tuhan memerintahkan berkat-berkat-Nya. Jika tidak ada kesatuan Tuhan tidak akan mendatangkan berkat-Nya. Apakah kita tidak suka diberkati Tuhan? Kita sering berpikir bahwa berkat Tuhan itu bersifat individual. ’Berkat untuk saya tidak ada hubungannya dengan berkat untuk orang lain.’ Padahal menurut Firman-Nya, berkat Tuhan itu tidak untuk seseorang saja, tapi untuk sekelompok orang, diberikan bersama-sama, atau dengan kata lain bersifat kolektif. Tuhan memberkati sebuah keluarga maupun gereja secara bersama-sama. Di Alkitab, janji berkat Tuhan itu bersifat kolektif. Sebagai contoh Kisah Para Rasul 2:39 mengatakan: ’Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita.’ Jika Tuhan memberkati sebuah keluarga, maka semua yang ada di keluarga itu ikut merasakan berkat Tuhan. Bahkan berkat Tuhan bisa berlaku untuk sebuah kota. Firman Tuhan berkata: ’Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.’ [Yeremia 29:7]. Jadi kita tidak boleh memikirkan kesejahteraan diri kita saja. Kalau kota kita mengalami kesulitan, kita yang tinggal di dalamnya juga akan mengalami kesulitan. Kalau kota kita sejahtera dan diberkati Tuhan, maka kita pun akan ikut merasakan kesejahteraannya. Marilah mulai sekarang kita berdoa dan mengerjakan segala sesuatu bukan untuk kepentingan diri kita masing-masing. Berdoalah dan usahakanlah kesejahteraan untuk keluarga, gereja dan kota kita. Peliharalah kesatuan, agar berkat Tuhan senantiasa mengalir bagi kita bersama. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Benay dan Rabenay berdiri berdampingan bagai pinang dibelah dua. Dua bersaudara nan bersahaja itu sangat mirip, hanya terpaan usia sajalah yang membedakan wajah mereka. Malam hari itu mereka hadir dalam keramaian sebuah acara yang diadakan untuk menyambut kedatangan Benay dari Iraq. Acara ini digagas oleh anggota persekutuan wanita gereja yang berkolaborasi dengan pemuda-pemudi gereja. Benay tampak sibuk meladeni ucapan selamat dari jemaat yang hadir. Meski tampak lelah namun sukacita bersinar di wajahnya yang terus tersenyum dan sekali-kali tertawa bahagia. Tiba saatnya bagi Benay untuk memberikan kesaksiannya. Pdt. Itong yang didapuk sebagai pembawa acara dengan penuh semangat memanggil Benay. Benay pun bersaksi, “Bapak, Ibu dan Saudaraku sekalian tentu tahu bahwa saya dan Mas Rabenay ini yatim-piatu. Orangtua kami sudah lama meninggal dunia. Dan selama ini saya diasuh oleh paman saya di kota ini. Sedangkan Mas Rabenay hidup mandiri dengan bekerja di pelabuhan. Namun syukur, malam ini Tuhan menyatakan kepada kami bahwa kami tidak pernah kehilangan orangtua. Bapak dan Ibu sekalian adalah orangtua bagi kami. Dan kawan-kawan pemuda-pemudi adalah saudara-saudara kami. Kamimasih dan akan selalu mempunyai keluarga di dalam Tuhan!” Sontak seluruh jemaat yang hadir bertepuk tangan riuh. Beberapa orang tampak meneteskan air mata haru. Termasuk Mbah Wanidy yang malah menangis sesenggukan. Jemaat yang terkasih. Sama seperti yang tampak dari kisah di atas dan yang disaksikan Benay. Sesungguhnya kita pun adalah keluarga di dalam Tuhan. Sebagaimana disampaikan oleh Tuhan ketika seseorang berkata kepada-Nya bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan berusaha menemui-Nya. Rupanya, ibu dan saudara-saudara Yesus kesulitan menerobos kerumunan orang dalam jumlah besar yang sedang mendengarkan sabda-Nya. Ketika itu Tuhan menjawab sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” Bukanlah maksud Tuhan untuk tidak menghormati Maria sebagai ibu-Nya dan mengasihi saudara-saudara kandung-Nya. Namun Tuhan memperluas cakupan keluarga-Nya. Keluarga-Nya tidak hanya dibatasi oleh faktor garis darah [keturunan], tetapi ditentukan oleh faktor sikap hidup. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-saudara Tuhan dan ibu-Nya juga. Dengan demikian, kita yang mau hidup sesuai dengan kehendak Allah, kita adalah keluarganya Tuhan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Marilah kita bersukacita dalam ucapan syukur! Sebab Tuhan berkenan menjadikan kita bagian dari keluarga-Nya. Marilah kita terus mengarahkan padangan kita pada kehendak-Nya dengan tekun membaca dan mendengarkan sabda-Nya setiap hari. Dan berusahalah untuk menjalin hubungan yang penuh kasih dan saling memperhatikan antar saudara-saudara kita di dalam keluarga besar Tuhan ini. Selamat menjadi keluarga Tuhan. Terpujilah Tuhan!
Ketekunan merupakan hal yang baik untuk terus dilakukan oleh setiap orang. Ketika seorang murid belajar dengan tekun, maka ia akan mudah untuk menguasai setiap materi pelajaran yang diajarkan. Sehingga ketika mendapat soal dari guru, ia akan dapat mengerjakannya. Demikian juga seorang pianis tidak akan mampu memainkan piano dengan baik jika tidak disertai dengan tekun berlatih secara rutin. Semakin tekun berlatih maka permainan piano yang dihasilkan akan semakin bagus. Ketekunan di dalam melakukan hal-hal yang baik akan semakin meningkatkan kualitas hidup seseorang. Dalam Alkitab juga di tulis mengenai ketekunan yang dilakukan oleh jemaat mula-mula di dalam kehidupan keseharian mereka. Mereka bertekun oleh karna karya dari Roh Kudus yang bekerja dalam diri mereka. Jemaat mula-mula bertekun di dalam tiga hal [Kis 2:41-47]. Yang pertama; mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Mereka selalu bertekun mempelajari Firman melalui pengajaran yang diberikan oleh para rasul. Jemaat mula-mula menyediakan waktu untuk mempelajari Firman Allah, karena mereka tahu bahwa Firman Allah akan memimpin hidup mereka dalam kebenaran. Dan melalui pengajaran Firman Allah, iman mereka kepada Yesus Kristus semakin kuat dan tidak goyah. Yang kedua; mereka bertekun dalam persekutuan, yang artinya mereka selalu mengadakan pertemuan-pertemuan ibadah. Mereka berkumpul untuk berdoa dan saling menguatkan. Mereka senantiasa tekun bersekutu ditengah-tengah kesibukan mereka masing-masing. Yang ketiga; mereka bertekun dalam perbuatan kasih. Yang artinya di dalam kehidupan mereka bersama, tidak ada rasa mementingkan diri sendiri. Melainkan saling memberi dan menolong kepada sesama yang membutuhkan. Mereka rela menjual barang milik sendiri dan hasilnya dibagi kepada yang membutuhkan. Sungguh indah hal yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Sebagai jemaat Tuhan marilah kita juga melihat cara hidup jemaat mula-mula yang sungguh indah. Mereka senantiasa bertekun dalam tiga hal di atas dan hasilnya adalah kehidupan mereka menjadi berkat dan menjadi kesaksian hingga banyak orang yang akhirnya percaya kepada Kristus. Mari kita juga bertekun di dalam tiga hal tersebut sehingga hidup kita akan semakin berkenan kepada Allah.
Anak SD akan lebih mudah mencerna ilmu pengetahuan tentang tanam-tanaman yang diajarkan kepada merekaketika diajak keluar kelas. Kepada mereka ditunjukkan secara visual jenis-jenis tanaman dan pepohonan yang ada di sekitar mereka. Pohon mangga menghasilkan buah mangga. Pohon jambu menghasilkan buah jambu. Pohon pepaya menghasilkan buah pepaya, dan seterusnya. Dari buahnya kita mengenal pohonnya. Setiap jenis pohon menghasilkan buah yang khas. Ini adalah sesuatu hal yang alamiah. Dalam Matius 3:1-12, Yohanes Pembabtis menyampaikan hal yang sama, sesuatu yang sebenarnya sangat alamiah. Dengan jelas dan tegas ia mengatakan bahwa orang yang menyatakan dirinya sudah bertobat pasti menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Sebagai seorang pengajar kebenaran Taurat, seharusnya orang Farisi menghasilkan buah pertobatan seperti yang diajarkannya. Pertama, kejujuran bukan kemunafikan. Orang farisi suka berdoa hanya untuk dilihat orang banyak, padahal hati mereka jauh dari Tuhan. Kedua, kepedulian membebaskan yang tertindas bukan membebani orang dengan peraturan agamawi. Ketiga, kerendahan hati untuk belajar kebenaran bukan selalu menyalahkan. Orang Farisi merasa dirinya benar dan menyalahkan orang lain. Pertanyaannya yang perlu kita renungkan: Sudahkan kita bertobat ?. Sudahkan kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan ? Sudahkan kita jujur di hadapan Allah dan semua orang ? Sudahkan kita menolong orang lain yang tertindas dan terbelenggu oleh ikatan dosa ? Bersediakah kita terus belajar dan melakukan kebenaran Firman Tuhan ? Ingatlah, bahwa kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api [ayat 10]. Marilah kita gunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Gagal Dan Berhasil
25 Mei '18
Pribadi Roh Kudus
23 Mei '18
Buah Pertobatan
20 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang