SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Selagi ada kesempatan untuk mencari dan menyelamatkan jiwa yang terhilang, mari kita kerjakan dengan kasih karunia Allah tanpa menundanya.
DITULIS OLEH
Pdm. Benaya D. Cahyono
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Jangan Menunda-Nunda
Jangan Menunda-Nunda
Sabtu, 04 November 2017
Jangan Menunda-Nunda
1 Korintus 9:16

Dalam sebuah cerita dikisahkan ada tiga orang anggota pramuka yang mengikuti pembekalan dan acara camping. Mereka sangat antusias sekali karena ada banyak hal yang belum mereka pahami akhirnya mereka mengerti melalui pembekalan tersebut. Ketika mereka berbagi pengalaman tiba-tiba terdengar suara tabrakan yang cukup keras antara sepeda dengan motor. Pengendara sepeda terjebur ke sungai yang cukup dalam dan deras. Sepontan terdengar teriakan, “Tolong... tolong.... tolong!“ Saat mereka mendengar terikan tersebut , maka bergegaslah mereka menolong.
Saat hendak menolong, mereka melihat situasi dan terjadilah diskusi. “Bagaimana ini airnya deras, kamukan bisa berenang?” tanya si A kepada si B. Jawab si B, Iya... sih, tapi saya harus buat tali dulu supaya saya tidak hanyut oleh air.” Kemudian ia bergegas membuat tali temali sambil berkata kepada si C, “Kamu kan bisa buat tandu, coba segera kamu buat supaya jika kita telah menolongnya, kita bisa lebih mudah mengangkatnya.” Dan kemudian si C berbicara kepada si A, “Kamu juga kan bisa membuat obat-obatan darurat, coba sekarang kamu buat supaya ketika sudah menolongnya ada persediaan obat.“ Ketiga orang tersebut sibuk dengan pekerjaan dan tugas masing-masing, orang yang...selengkapnya »
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat, Mother Theresa, yang rela terjun langsung ke lapangan untuk merawat orang sakit di India, William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris, Romo Mangun yang berjuang di Yogyakarta, untuk merubah kondisi masyarakat di Kali Code, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan. Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Hal ini bukan perkara yang mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya, dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam [2 Korintus 11:23-33], bahkan dari penyakit tubuhnya [2 Korintus 12:7,8]. Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang [dalam bahasa Yunani kata ’melupakan’ di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Kata ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan] dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan [Filipi 3:13,14]. Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam kita, sehingga kita sulit menjaga komitmen? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Tuhan. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Sebab hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Tuhan sajalah kita dimampukan untuk tetap setia dan tetap berkomitmen untuk mengikut dan melayani-Nya.
Setiap tanggal 1 April, sebagian orang merayakan April Mop. Di hari itu mereka diperbolehkan melakukan kebohongan, kesaksian palsu atau lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. April Mop atau April Fools’ Day tentu berbeda dengan hoaks. April Mop ditandai dengan aksi tipu-menipu dan candaan terhadap orang lain, sedangkan hoaks [pemberitaanpalsu] adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Dusta Mahkamah Agama bukanlah sejenis April Mop, tetapi adalah hoaks. Dikisahkan oleh Matius, selagi para wanita pergi memberitahukan kabar kebangkitan kepada murid-murid, para serdadu justru pergi kepada imam-imam kepala untuk melaporkan kabar yang sama yang akan membuat mereka kehilangan muka dan terancam karier mereka sebagai tentara. Mereka memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Mereka menceritakan tentang gempa bumi, turunnya malaikat, penggulingan batu besar dari pintu kubur dan keluarnya Yesus dalam keadaan hidup. Itulah arti dari “segala yang terjad itu”. Sebagai saksi mata peristiwa kebangkitan Yesus, seharusnya mereka menjadi percaya kepada Kristus dan menyesali perbuatan mereka yang telah membunuh-Nya. Tetapi mereka lebih memilih setuju memutar balikkan kebenaran dengan berita hoaks yang menyatakan bahwa jenazah Yesus telah dicuri para murid. Semua itu mereka lakukan untuk menutupi rasa malu, menyelamatkan karier, membenarkan tindakan mereka yang telah membunuh Yesus. Tidak sedikit orang yang berusaha menutupi bahkan memutarbalikkan kebenaran untuk menyelamatkan kepentingan dan diri mereka. Orang-orang seperti ini tidak akan segan-segan menggadaikan kebenaran untuk meraih apa yang mereka inginkan. Coba bayangkan, kebohongan yang dibuat oleh para imam kepala telah dianggap sesuatu yang benar oleh masyarakat Yahudi. Mereka lebih memilih mempercayai hoaks dari pada fakta kebangkitan Yesus. Para serdadu dan imam-imam kepala bukan hanya melakukan kebohongan, tetapi mereka telah merintangi orang lain untuk menemukan kebenaran dan untuk percaya kepada berita kebangkitan yang berkuasa menyelamatkan. Bukankah itu sebuah kejahatan yang besar? Itu yang sering terjadi akhir-akhir ini. Banyak orang yang dengan sengaja membuat berita bohong [hoaks] untuk membangun opini yang menguntungkan kepentingannya, meningkatkan citra dirinya [pencitraan], menjatuhkan dan menghancurkan nama baik lawannya, dsb. Sebagai orang percaya yang telah menemukan kebenaran, jangan kita melakukan hal yang sama. Jangan pernah berpikir bahwa kebohongan itu suatu kejahatan yang kecil. Itu adalah kejahatan yang besar karena tindakan itu berpotensi menghalangi orang lain menemukan kebenaran.
Kita ditebus dari cara hidup yang sia-sia dengan harga yang sangat mahal [I Petrus 1:18-19]. Karya Keselamatan yang dilaksanakan oleh Yesus adalah rancangan agung Bapa begitu manusia jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Penebusan salib ini menggenapi kasih dan rasa keadilan Bapa. Pengorbanan yang dipikul oleh Yesus bukan suatu sandiwara, tapi suatu hal yang sangat serius, melibatkan pertaruhan sangat dahsyat bagi Bapa maupun Yesus sebagai pelaksananya. Untuk melaksanakan misi Bapa-Nya, Yesus [sebagai manusia] telah sungguh-sungguh berjuang untuk taat mutlak kepada Bapa. Situasi di taman Getsemani menjelang Yesus ditangkap menggambarkan perjuangan tersebut [Matius 26 : 37 - 38]. Puncak perjuangannya bisa disaksikan pada saat Dia berseru: “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku” dan “Yesus berseru dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya [Matius 27:46 dan 50]. Acara peringatan Paskah dengan berbagai drama, pemutaran “The Passion of Christ”, memang bisa menimbulkan rasa iba, simpati dan empati, emosi kesedihan muncul sampai mengeluarkan air mata. Tentunya tidak salah berempati terhadap Yesus. Namun menyambut Paskah tidak cukup hanya dengan simpati dan empati. Yesus sendiri mengatakan “ …, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu !”[Lukas 23:28]. Bagi Yesus tugas penebusan yang diemban-Nya sudah tuntas pada saat Dia mengatakan “sudah selesai” [Lukas 19 : 30]. Dia sudah berjuang dan menang [Ibrani 5:7]. Sebagai umat tebusan, kita harus menghargai pengorbanan Yesus, yang tidak cukup dilakukan dengan perkataan, nyanyian yang kita naikkan bagi-Nya. Tapi harus dimulai dengan sikap hati yang menghargai Pribadi dan pengorbanan-Nya. Diikuti dengan perjuangan sungguh-sungguh untuk menggenapi tujuan anugerah penebusan diberikan, yaitu manusia dikembalikan / dipulihkan pada rancangan semula Bapa, menjadi serupa dengan Penciptanya, memiliki kemuliaan Allah, diubah dari kodrat dosa menjadi kodrat illahi, sempurna seperti Bapa, kudus dan tidak bercacat dihadapan-Nya [Efesus 1:4].
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kebaikan Yang Terbalik
16 April '18
Mengikuti Jejak Yesus
25 Maret '18
Tak Melihat Namun Percaya
18 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang