SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Kabar baik harus diceritakan dan kabar busuk harus dihentikan.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kabar Baik Yang Diceritakan
Kabar Baik Yang Diceritakan
Sabtu, 21 Oktober 2017
Kabar Baik Yang Diceritakan
Yohanes 4:39

Kabar baik harus diceritakan. Tidak bisa tidak! Hal seperti ini bahkan sudah terjadi secara otomatis. Dalam ilmu marketing disebut word of mouth. Getok tular. Dari mulut ke mulut. Seorang pecinta kuliner menemukan dan menceritakan sebuah tempat kuliner baru dengan rasa yang mantap, harga yang murah dan suasana yang nyaman adalah sebuah kebanggaan. Saya kerap berbagi info dengan teman-teman saya, demikian juga sebaliknya. Kabar baik harus disebarluaskan.

Sebaliknya, kabar busuk dan kabar burung harus dihentikan. Tidak bisa tidak! Siapa yang menggantikannya? Kita! Ketika kabar busuk dan kabar burung itu sampai kepada kita, maka kita bisa memilih untuk berhenti pada diri kita saja dan tidak akan menyebarkan lagi berita itu. Seandainya setiap orang mau mengambil tindakan ini, maka kabar busuk tidak akan menjadi viral.

Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya. Kabar busuk, kabar burung yang salah menjadi viral karena disebarluaskan. Sebaliknya kabar baik malah tidak dic...selengkapnya »
Kita sering mencari-cari hadiah Natal untuk keluarga, kerabat atau teman-teman tercinta. Kegiatan mencari yang serasi dan berarti untuk setiap pribadi tidak gampang. Namun ada ’sebuah usulan kado’ yang penuh arti bagi setiap pribadi! Kado yang satu ini mampu menyempurnakan kado yang sudah kita siapkan. Kado ini tidak dijual di toko, kita bisa menghadiahkannya. Ya, setiap saat dan tak perlu membeli! Ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang kita sayangi, yaitu “KEHADIRAN”. Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir di hadapannya lewat SMS, telepon, foto, facebook, instagram, atau WA. Namun dengan berada di sampingnya, kita dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran adalah sangat penting. Lalu dalam kehadiran kita, setidaknya ada 7 hal yang perlu diperhatikan, yaitu “SEPERTI YESUS”, mengikuti teladan YESUS. Seperti Yesus adalah hadiah terbesar bagimu, bagi keluargamu, dan bagi semua orang: Ia HADIR di setiap saat dalam hidupmu. Ia MENDENGARKAN setiap doa-doamu. Ia DIAM tatkala engkau mengomel, mengkritik dan mengatur hidupmu sendiri. Ia memberimu KEBEBASAN untuk memilih dan melakukan. Ia memberimu segala KEINDAHAN ciptaan-Nya yang tersedia di sekelilingmu! Ia senantiasa memberikan TANGGAPAN POSITIF yang jelas dan tulus. Ia selalu bersedia MEMAAFKANMU saat engkau datang kepada-Nya. Ia senantiasa TERSENYUM padamu, ketika engkau merasakan tidak ada pengharapan di tengah-tengah keputusasaan dan keresahan jiwa.
Ungkapan ini tepat sekali dikenakan pada Tuhan Yesus. Dia peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali oleh Penciptanya, untuk mewarisi Kerajaan-Nya. Kita sebagai umat tebusan-Nya harus menjadikan ungkapan ini tidak sekedar slogan saja, tetapi suatu tema kehidupan yang di praktikkan. Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani, bukan untuk dipedulikan tapi mempedulikan [Matius 20:27-28]. Sesungguhnya untuk mengaplikasikan ungkapan ini secara benar, diperlukan pertaruhan yang sangat mahal, yaitu segenap hidup kita. Kepedulian terhadap sesama harus lahir dari kerelaan memberi diri, dan hanya kita sendiri yang bisa menggairahkannya sesuai dengan kehendak bebas yang sudah Tuhan karuniakan. Dalam kisah orang Samaria yang baik hati, kepedulian yang dimiliki oleh orang Samaria lahir dari kesadaran diri yang murni/tulus, suatu kepedulian tanpa pamrih [Lukas 10:30-37]. Imam dan Lewi dalam kisah tersebut tentuya sudah memahami tentang kepedulian terhadap sesama, tetapi mereka tidak memiliki hati untuk orang lain. Kepedulian terhadap sesama adalah respon kita terhadap keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada kita, kesadaran untuk membalas kebaikan Tuhan. Bila kita sudah ditebus dengan harga yang begitu mahal dan dilepaskan dari api kekal, seharusnya sudah cukup mendorong kita untuk membalas kebaikan Tuhan. Namun bila kita mempunyai pola pikir bahwa hidup untuk mencari keuntungan dan kesenangan duniawi, pasti tidak akan mengerti hal kepedulian ini. 1. Tuhan Yesus telah memberi teladan kepedulian ini [Lukas 9:11], dengan ciri-ciri: Kepedulian dilandasi oleh kasih, bukan upah. Seperti yang diperagakan oleh rasul Paulus ketika dia berkata, “Upahku adalah kalau aku boleh melayani tanpa upah” [1 Korintus 9:18]. 2. Semua bentuk kepedulian harus mengarah kepada keselamatan dalam Tuhan Yesus. Bukan sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan jasmani, bukan untuk kepentingan sesuatu atau seseorang. Bukan sekedar membuat jemaat menjadi anggota gereja yang rajin datang ke gereja, tetapi benar-benar bisa mengubah mereka menjadi sempurna seperti Bapa, berkepribadian Anak Allah yang layak menjadi mempelai Tuhan yang tak bercacat di hadapan Tuhan.
Saya bersyukur dilahirkan di tengah-tengah keluarga sederhana. Penghasilan orangtua hanya pas-pasan. Sehingga untuk membeli barang kebutuhan lainnya harus susah payah untuk mencari. Ketika akan memasuki kelas 3 SLTA, sepatu saya kelihatan rusak parah, maka saya berniat meminta kepada orangtua. Tetapi saya tidak berani meminta karena kondisi pekerjaan dan ekonomi. Sore itu tiba-tiba ibu menghampiri saya serta menegor mengapa saya tidak memberitahu kalau sepatu saya sudah rusak. Kemudian ibu mengajari saya agar “menyisihkan Rp. 200,- dari Rp. 500,- uang saku saya tiap hari. Ketika ibu memberi uang di pagi hari, ia selalu mengarahkan saya memasukan uang Rp. 200,- ke dalam “celengan” bambu. Ibu mengajari saya “menyisihkan” bukan “menyisakan” uang saku saya. Alasannya kalau menyisihkan berati benar-benar menyendirikan, disiapkan khusus. Sedangkan kalau “menyisakan” berati meninggalkan sedikit. Dan hasilnya, dalam jangka waktu 1 tahun, saya bisa membeli sepatu walaupun ibu harus menambah sejumlah uang, namun tidak memberatkan. Rumusan “sisihkan, bukan sisakan” seharusnya juga menjadi rumusan untuk waktu khusus bersama Tuhan. Seperti Daniel. Daniel adalah pembesar negara yang tentu sangat sibuk [ayat 3-4], tetapi yang mengagumkan, ia sudah punya tempat, waktu, bahkan metode yang tetap untuk bersekutu dengan Allah [ayat 11]. Dalam konteks ini, Daniel memang sedang terancam akan dilemparkan ke gua singa. Namun berdoa tiga kali sehari bukan dilakukannya karena panik dengan ancaman itu. Hal ini dicatat sudah menjadi pola kebiasannya. Ia benar-benar menyisihkan yang terbaik untuk Allah, bukan memberi sisa. Mungkin selama ini kita hanya memberi sisa-sisa waktu, sisa-sisa tenaga, serta kemauan sehingga waktu bersama Tuhan tidak berisi. Mari ubah pendekatan kita dengan menyisihkan [menyediakan], bukan menyisakan, waktu untuk berdoa dan membaca firman-Nya. Mungkin awalnya terasa berat, tetapi mintalah pertolongan Roh Kudus agar kita bijak menempatkan prioritas hidup dan diperkenankan menikmati persekutuan yang indah dengan Allah tiap hari. Persekutuan dengan Allah menolong kita menghadapi situasi hidup apapun. Di Tahun 2018 ini beri dan siapkan waktu khusus untuk Tuhan agar hidup kita makin berkenan di hadapan-Nya. Amin. [ATL] Pokok renungan: Temui Tuhan dengan menyisihkan waktu khusus untuk menghadap-Nya.
Bulan pertama di tahun yang baru, orang menyambutnya dengan ucapan, ’Happy New Year!’ Dengan amunisi semangat yang masih menjulang tinggi, tersemat harapan bahwa tahun yang baru akan disarati oleh segala yang membawa kebaikan, kebahagiaan dan keberhasilan. Tidak sulit bagi kita untuk tersenyum lebar dan bersikap optimis menyambut tahun yang baru apabila kondisi fisik, psikis atau ekonomi kita relatif stabil. Namun pada kenyataannya hidup ini tidak sesederhana itu. Bagi sebagian orang, langkah awal menyambut tahun baru tidak seideal yang diharapkan. Ada yang mengawali langkah di tahun baru dengan masalah keluarga yang bagai benang kusut. Ada yang mengawali tahun dengan deraan penyakit yang belum juga sembuh. Ada yang memulai tahun dengan lilitan utang yang tak kunjung berkurang. Ada yang terjerat perkara-perkara rumit yang masih gelap juntrungnya. Lalu bagaimana bisa menatap bulan-bulan ke depan dengan optimis? Masih berlakukah ’Happy New Year’ dalam situasi begini? Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa [Markus 2:17]. Kristus hadir di hidup kita justru karena kita ini manusia yang rentan. Mudah jatuh dalam dosa. Mudah terjerat masalah. Mudah sakit. Mudah putus asa. Justru karena itulah kita memerlukan Yesus Kristus sang Penyelamat, Raja Damai. Dia tahu kita tak mungkin bertahan tanpa kehadiran-Nya, karena itulah Ia rela merendahkan diri-Nya sedemikian rupa dan datang kepada kita. Berbahagialah setiap manusia yang menanggapi panggilan-Nya sebab dengan demikian jiwanya akan mendapat ketenangan, ’Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.’[Matius 11:28]
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Memasuki Tahun 2018
31 Desember '17
Milikilah Hati Tuhan Yesus
17 Januari '18
Cara Pandang Yang Baru
12 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang