SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Kabar baik harus diceritakan dan kabar busuk harus dihentikan.
DITULIS OLEH
Pdt. Andreas P. Chandra
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kabar Baik Yang Diceritakan
Kabar Baik Yang Diceritakan
Sabtu, 21 Oktober 2017
Kabar Baik Yang Diceritakan
Yohanes 4:39

Kabar baik harus diceritakan. Tidak bisa tidak! Hal seperti ini bahkan sudah terjadi secara otomatis. Dalam ilmu marketing disebut word of mouth. Getok tular. Dari mulut ke mulut. Seorang pecinta kuliner menemukan dan menceritakan sebuah tempat kuliner baru dengan rasa yang mantap, harga yang murah dan suasana yang nyaman adalah sebuah kebanggaan. Saya kerap berbagi info dengan teman-teman saya, demikian juga sebaliknya. Kabar baik harus disebarluaskan.

Sebaliknya, kabar busuk dan kabar burung harus dihentikan. Tidak bisa tidak! Siapa yang menggantikannya? Kita! Ketika kabar busuk dan kabar burung itu sampai kepada kita, maka kita bisa memilih untuk berhenti pada diri kita saja dan tidak akan menyebarkan lagi berita itu. Seandainya setiap orang mau mengambil tindakan ini, maka kabar busuk tidak akan menjadi viral.

Sayangnya yang terjadi justru sebaliknya. Kabar busuk, kabar burung yang salah menjadi viral karena disebarluaskan. Sebaliknya kabar baik malah tidak dic...selengkapnya »
Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat, Mother Theresa, yang rela terjun langsung ke lapangan untuk merawat orang sakit di India, William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris, Romo Mangun yang berjuang di Yogyakarta, untuk merubah kondisi masyarakat di Kali Code, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan. Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Hal ini bukan perkara yang mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya, dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam [2 Korintus 11:23-33], bahkan dari penyakit tubuhnya [2 Korintus 12:7,8]. Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang [dalam bahasa Yunani kata ’melupakan’ di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Kata ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan] dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan [Filipi 3:13,14]. Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam kita, sehingga kita sulit menjaga komitmen? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Tuhan. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Sebab hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Tuhan sajalah kita dimampukan untuk tetap setia dan tetap berkomitmen untuk mengikut dan melayani-Nya.
Pak Petrus seorang aktivis pelayanan sebuah Gereja terserang penyakit kangker lever akut. Menurut diagnosis dokter usianya tinggal tiga bulan lagi. Namun karena kuasa mujizat Allah, pak Petrus dianugrahi Tuhan waktu 15 tahun lagi. Setelah dirinya sembuh dan mendapatkan kesempatan hidup selama 15 tahun, waktu tersebut tidak dia sia-siakan. Pak Petrus semakin giat melakukan pemberitaan Injil bagi jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus. Selama periode 15 tahun pak Petrus berhasil memenangkan banyak jiwa-jiwa baru melalui kesaksian hidupnya sendiri. Sebagai orang percaya kita mempercayai ada kehidupan kekal setelah kematian. Kita juga meyakini bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Kita juga yakin bahwa hidup kita di dunia ada batasnya. Oleh sebab itu renungan kita hari ini berbicara tentang bagaimana kita mempergunakan waktu yang tersisa dari kehidupan kita saat ini [ayat 2]. Kita juga belajar dari Mazmur 90:10 bahwa setiap kita mendapatkan jatah kehidupan antara 70-80 tahun. Berarti saat ini kita memiliki waktu yang tersisa dari kehidupan kita untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memasuki kekekalan atau untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Hal-hal apakah yang harus kita lakukan dengan sisa waktu yang tersedia saat ini ? Pertama, Bersikaplah militan terhadap dosa apapun yang menggodai diri kita untuk melakukannya [ayat 1-3]. Kita harus tegas berani bersikap melawan kuasa dosa yang mencoba menggoda diri kita. Tentu saja ini merupakan perjuangan hidup yang tidak mudah bagi kita. Karena selama bertahun-tahun kita sudah membiasakan diri untuk menuruti hawa nafsu dosa apalagi sekarang kita harus berhenti dari kebiasaan tersebut. Contoh, orang kecanduan rokok, pornografi, miras, berjudi akan sangat susah berhenti apabila dalam dirinya sendiri tidak ada tekad dan komitmen untuk berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Makanya ayat 2 berkata agar kita tidak menuruti kedagingan kita, tetapi menggunakan sisa waktu kita untuk melakukan kehendak Allah. Salah satu cara melakukan kehendak Allah kita harus berani sangkal diri dan pikul salib untuk mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kedua, Kuasailah dirimu supaya kita mampu melakukan kehendak Allah [ayat 7 – 11]. Untuk bisa hidup tenang, berdoa dan mengasihi seseorang dibutuhkan penguasaan diri. Terlebih untuk mengasihi dan berdoa bagi orang yang menjadi musuh kita, yang menyakiti hati kita, yang telah mengecewakan kita pada zaman ini. Dunia yang sedang bergejolak dan penuh persaingan serta permusuhan hanya dapat dimenangkan oleh pribadi-pribadi yang dapat menguasai diri. Tanpa penguasaan diri, kita akan terseret arus masuk kepusaran dunia yang penuh hawa nafsu saat ini. Oleh sebab itu pergunakanlah waktu yang tersisa untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bernilai kekekalan.
Setiap tanggal 1 April, sebagian orang merayakan April Mop. Di hari itu mereka diperbolehkan melakukan kebohongan, kesaksian palsu atau lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. April Mop atau April Fools’ Day tentu berbeda dengan hoaks. April Mop ditandai dengan aksi tipu-menipu dan candaan terhadap orang lain, sedangkan hoaks [pemberitaanpalsu] adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Dusta Mahkamah Agama bukanlah sejenis April Mop, tetapi adalah hoaks. Dikisahkan oleh Matius, selagi para wanita pergi memberitahukan kabar kebangkitan kepada murid-murid, para serdadu justru pergi kepada imam-imam kepala untuk melaporkan kabar yang sama yang akan membuat mereka kehilangan muka dan terancam karier mereka sebagai tentara. Mereka memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Mereka menceritakan tentang gempa bumi, turunnya malaikat, penggulingan batu besar dari pintu kubur dan keluarnya Yesus dalam keadaan hidup. Itulah arti dari “segala yang terjad itu”. Sebagai saksi mata peristiwa kebangkitan Yesus, seharusnya mereka menjadi percaya kepada Kristus dan menyesali perbuatan mereka yang telah membunuh-Nya. Tetapi mereka lebih memilih setuju memutar balikkan kebenaran dengan berita hoaks yang menyatakan bahwa jenazah Yesus telah dicuri para murid. Semua itu mereka lakukan untuk menutupi rasa malu, menyelamatkan karier, membenarkan tindakan mereka yang telah membunuh Yesus. Tidak sedikit orang yang berusaha menutupi bahkan memutarbalikkan kebenaran untuk menyelamatkan kepentingan dan diri mereka. Orang-orang seperti ini tidak akan segan-segan menggadaikan kebenaran untuk meraih apa yang mereka inginkan. Coba bayangkan, kebohongan yang dibuat oleh para imam kepala telah dianggap sesuatu yang benar oleh masyarakat Yahudi. Mereka lebih memilih mempercayai hoaks dari pada fakta kebangkitan Yesus. Para serdadu dan imam-imam kepala bukan hanya melakukan kebohongan, tetapi mereka telah merintangi orang lain untuk menemukan kebenaran dan untuk percaya kepada berita kebangkitan yang berkuasa menyelamatkan. Bukankah itu sebuah kejahatan yang besar? Itu yang sering terjadi akhir-akhir ini. Banyak orang yang dengan sengaja membuat berita bohong [hoaks] untuk membangun opini yang menguntungkan kepentingannya, meningkatkan citra dirinya [pencitraan], menjatuhkan dan menghancurkan nama baik lawannya, dsb. Sebagai orang percaya yang telah menemukan kebenaran, jangan kita melakukan hal yang sama. Jangan pernah berpikir bahwa kebohongan itu suatu kejahatan yang kecil. Itu adalah kejahatan yang besar karena tindakan itu berpotensi menghalangi orang lain menemukan kebenaran.
Cintailah Gerejamu Mazmur 27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Hari ini gereja kita genap berusia 44 tahun. Pada tanggal 15 April 1974 Gereja Isa Almasih jemaat Dr. Cipto diresmikan menjadi salah satu Gereja Isa Almasih yang dewasa. Kita patut bersyukur, sejak hari lahirnya sampai hari ini Tuhan sudah banyak melakukan perbuatan besar di sini dan melalui gereja kita ini. Banyak orang sudah dimenangkan dan diubah hidupnya. Banyak orang sudah mengalami mujizat. Banyak orang sudah mengalami pertumbuhan iman. Banyak gereja baru yang didirikan di tempat-tempat lain. Selain bersyukur kita juga harus lebih mencintai gereja kita ini. Mengapa demikian? Gereja adalah keluarga rohani kita. Sama seperti setiap kita mempunyai keluarga secara jasmani, kita pun mempunyai keluarga secara rohani. Kalau Tuhan sudah menetapkan kita menjadi bagian dari gereja ini, maka kita adalah anggota keluarga Allah yang ada di GIA dr. Cipto. Gereja adalah tempat kita mengalami Tuhan. Di gereja kita mengalami kehadiran Tuhan. Kita mendapatkan makanan rohani yaitu Firman Tuhan. Di gereja kita mendengarkan Tuhan yang berbicara kepada kita. Kita mendapatkan kekuatan yang baru, pemulihan dan kesembuhan di gereja. Gereja adalah tempat kita mengalami pertumbuhan iman. Ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk membantu kita dalam pertumbuhan rohani. Di gereja kita belajar untuk bertumbuh dalam karakter. Melalui melayani orang lain kita belajar tentang arti hidup untuk melayani. Gereja adalah tempat kita menemukan arti hidup dengan melayani dan menjadi berkat buat orang lain. Di gereja kita diajar untuk mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan agar dipakai untuk memberkati orang lain. Melalui pelayanan yang kita kerjakan, kita memuliakan Tuhan dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Marilah hari ini, dalam perayaan ulang tahun gereja kita yang ke 44 ini, kita berkomitmen untuk lebih mencintai gereja kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia
30 Maret '18
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Hidup Benar Belajar Dari Hal Kecil
06 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang