SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
DITULIS OLEH
Pdt. Goenawan Susanto
Gembala Jemaat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Karya Terbesar
Karya Terbesar
Minggu, 10 Desember 2017
Karya Terbesar
Yohanes 3:16
Karya terbesar

Yohanes 3:16
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Dua minggu lagi kita akan memperingati hari Natal, hari kedatangan Sang Juruselamat dunia. Kedatangan Kristus sang Mesias telah memulai sebuah zaman baru dalam sejarah dunia ini, yaitu zaman anugerah keselamatan. Kedatangan Kristus memulai sebuah karya agung penyelamatan manusia dari dosa.

Untuk mewujudkan sebuah rencana yang besar pasti dibutuhkan pengorbanan yang besar pula. Sebagai contoh, kalau sebuah produser film ingin membuat sebuah film yang fenomenal, seperti sebuah film kolosal, pasti harus mengeluarkan modal yang besar, harus mencari sutradara yang terbaik, pemeran yang terbaik, dan produsernya pasti mau memastikan bahwa semua berjalan dengan baik.

Penyelamatan manusia agar dilepaskan dari belenggu dosa adalah sebuah pekerjaan yang...selengkapnya »
Cintailah Gerejamu Mazmur 27:4 Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya. Hari ini gereja kita genap berusia 44 tahun. Pada tanggal 15 April 1974 Gereja Isa Almasih jemaat Dr. Cipto diresmikan menjadi salah satu Gereja Isa Almasih yang dewasa. Kita patut bersyukur, sejak hari lahirnya sampai hari ini Tuhan sudah banyak melakukan perbuatan besar di sini dan melalui gereja kita ini. Banyak orang sudah dimenangkan dan diubah hidupnya. Banyak orang sudah mengalami mujizat. Banyak orang sudah mengalami pertumbuhan iman. Banyak gereja baru yang didirikan di tempat-tempat lain. Selain bersyukur kita juga harus lebih mencintai gereja kita ini. Mengapa demikian? Gereja adalah keluarga rohani kita. Sama seperti setiap kita mempunyai keluarga secara jasmani, kita pun mempunyai keluarga secara rohani. Kalau Tuhan sudah menetapkan kita menjadi bagian dari gereja ini, maka kita adalah anggota keluarga Allah yang ada di GIA dr. Cipto. Gereja adalah tempat kita mengalami Tuhan. Di gereja kita mengalami kehadiran Tuhan. Kita mendapatkan makanan rohani yaitu Firman Tuhan. Di gereja kita mendengarkan Tuhan yang berbicara kepada kita. Kita mendapatkan kekuatan yang baru, pemulihan dan kesembuhan di gereja. Gereja adalah tempat kita mengalami pertumbuhan iman. Ada orang-orang yang Tuhan pakai untuk membantu kita dalam pertumbuhan rohani. Di gereja kita belajar untuk bertumbuh dalam karakter. Melalui melayani orang lain kita belajar tentang arti hidup untuk melayani. Gereja adalah tempat kita menemukan arti hidup dengan melayani dan menjadi berkat buat orang lain. Di gereja kita diajar untuk mempersembahkan hidup kita kepada Tuhan agar dipakai untuk memberkati orang lain. Melalui pelayanan yang kita kerjakan, kita memuliakan Tuhan dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Marilah hari ini, dalam perayaan ulang tahun gereja kita yang ke 44 ini, kita berkomitmen untuk lebih mencintai gereja kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Saat seseorang melontarkan ide yang dianggapnya “cemerlang” dengan antusias, penuh semangat membara bisa saja tiba-tiba menjadi lunglai, lesu. Mengapa ??? Karena ternyata tidak ada yang mendukung ide cemerlangnya itu bahkan tidak sedikit yang mencelanya. Semangatnya seolah bersayap, terbang meninggalkan dirinya, mulutnya terkunci tak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata sanggahan. Peristiwa semacam ini sering terjadi bahkan mungkin kita sendiri pernah mengalaminya. Lain halnya dengan Bartimeus, si pengemis buta anak Timeus yang selalu duduk di pinggir jalan mengharap berkat dari orang-orang yang lewat. Walau buta dia tipe orang yang pantang menyerah, selalu semangat. Suatu hari Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama para murid dan orang banyak yang berbondong-bondong yang tentu saja membuat suasana menjadi sangat ramai dan menarik perhatian Bartimeus. Ketika Bartimeus mendengar bahwa yang lewat itu adalah Yesus dari Nazaret, serta merta dia berteriak, berseru kepada Yesus untuk mengasihaninya [ayat 47]. Banyak orang merasa tidak nyaman dengan teriakannya itu dan menegurnya supaya diam. Namun larangan itu tidak membuatnya putus asa !! Bartimeus tetap semangat, dia berseru semakin keras untuk minta belas kasihan Yesus [ayat 48]. Yesus menghentikan langkah-Nya, meminta mereka memanggil Bartimeus [ayat 49]. Dengan segera dia berdiri, pergi menjumpai Yesus dan ketika Yesus menanyakan apa yang diinginkannya, tanpa ragu Bartimeus menjawab dia ingin dapat melihat. [ayat 50,51]. Di akhir kisah ini kita tahu Yesus membuat Bartimeus “si buta” dapat melihat kembali karena imannya kepada Yesus dari Nazaret yang diakuinya sebagai “Rabuni/Guru” dan ditinggalkannyalah pekerjaannya sebagai pengemis, mengikuti perjalanan Yesus [ayat 52]. Bagaimana dengan kita? Dalam perjalanan hidup kita, baik di keluarga, pekerjaan bahkan mungkin dalam pelayanan begitu banyak tantangan seakan merintangi bahkan kadang “menjegal” yang membuat kita putus asa, kehilangan semangat. Mari kita belajar dari Bartimeus “si buta” yang selalu semangat dan menghargai sang Rabuni yang memberinya kesempatan untuk dapat melihat dengan cara mengikuti-Nya ke mana sang Guru pergi. Semangat !!!! Amin.
Seorang kusir koboy akan mengendalikan kudanya menuju ke sasaran sesuai dengan apa yang akan ditujunya. Demikian juga masalah hidup, setiap orang dikendalikan oleh apa yang ada dalam dirinya sesuai sasaran yang akan dicapainya. Hidup Paulus dikendalikan oleh ”panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” itulah sebabnya ia ingin sekalimengenal kuasa kebangkitan Yesus, ia rela menderita demi bersekutu dengan Yesus yang juga sudah menderita untuk dia. Bahkan Paulus menganggap segala sesuatu rugi tanpa pengenalan akan Yesus yang jauh lebih mulia dari apapun di dunia ini [ayat 8]. Sekarang apa yang mengendalikan hidup kita? Banyak orang yang hidupnya dikendalikan oleh sesuatu yang keliru sebagai contoh : 1.Dikendalikan oleh rasa bersalah: mereka dipermainkan oleh masa lalu, menghukum diri sendiri tanpa sadar bahkan melarikan diri dengan bersembunyi dalam hal-hal kenikmatan dunia [narkoba, diskotik, dugem dsb] 2.Dikendalikan oleh kemarahan dan kebencian: mereka gampang tersinggung, sensitif bahkan kalau marah sampai meledak-ledak tak terkendali sehingga menimbulkan kerugian dalam dirinya, orang lain dan lingkungan sekitarnya. 3.Dikendalikan oleh rasa takut: banyak hal yang dapat membuat kita takut, kuatir namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh rasa takut, kuatir maka tanpa sadar kita sudah membangun penjara bagi diri kita. 4.Dikendalikan oleh materialisme: uang, harta memang berguna namun ketika uang dan harta menjadi tujuan yang utama maka ia sudah terjebak di dalam materialisme, ketika sudah terjebak ia rela mengorbankan harkat dan harga diri itulah sebabnya ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya [korupsi, merampok, mencuri, prostitusi dsb]. 5.Dikendalikan oleh kebutuhan pengalaman: pengakuan memang sudah menjadi kebutuhan setiap orang namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh keinginan untuk selalu diakui, maka sesungguhnya kita sedang menggadaikan hidup kita kepada penilaian orang lain/dunia ini. Seperti pertanyaan yang di atas, apa yang mengendalikan hidup anda ? memang hidup harus memiliki tujuan, tanpa tujuan hidup tanpa arti. Apa tujuan hidup kita? yaitu sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Jangan gantikan hanya dengan kekayaan, keberhasilan, kemasyuran, kesenangan karena semua itu hanya sampingan bukan tujuan. Jika kita mengerti rencana dan kehendak Allah atas hidup kita maka kita sedang menuju kepada hidup yang berarti, terfokus, termotivasi dan menjadikan hidup ini menjadi lebih mudah untuk dijalani karena ada Tuhan Yesus Kristus yang menyertai kita. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Permintaan Yang Berkualitas
31 Maret '18
Pantang Menyerah1
29 Maret '18
Pengorbanan Yang Tidak Sia-Sia1
01 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang