SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Tuhan sudah mempercayakan tugas pelayan kepada kita sesuai dengan talenta kita masing-masing. Mari kita kerjakan dengan sungguh-sungguh.
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kawan Sekerja Allah
Kawan Sekerja Allah
Jumat, 16 Maret 2018
Kawan Sekerja Allah
Yesaya 63:1-6; 1 Korintus 3:9a

Pagi yang murung. Langit tampak gelap tertutup mendung. Menutup wajah matahari yang sebenarnya menyimpan rindu untuk segera menghangatkan bumi. Sebagaimana kondisi cuaca pagi itu, demikian pulalah kondisi hati Sambey. Ia sedang dilanda kemurungan. Tubuh tegapnya berdiri mematung di muka sebuah cermin di kamar tidurnya. Adakah sesuatu yang sedang dipikirkannya? Apakah ada kaitannya dengan Benay yang sedang ia nantikan kedatangannya? Ya, Sambey memang sedang memikirkan Benay. Namun bukan masalah kerinduan, melainkan ingatan pada Benay membuatnya merasa tak berarti. Bagi Sambey dirinya bukanlah apa-apa dibandingkan dengan Benay.Meski kadangkala konyol, namun Benay telah membuktikan keseriusannya imannya. Ia bukanlah pemuda yang cengeng dalam menghadapi masalah. Jika ia berbuat salah, ia berani mengakuinya dan meminta maaf. Bukannya malah “meng-kambing hitam-kan” orang lain. Doa-doanya pada Tuhan dipenuhi penyerahan dan kerinduan untuk dipakai sebagai alat-Nya. Oleh sebab itulah, Benay mempunyai keberanian untuk memenuhi panggilan Tuhan bermisi ke Iraq. Sedangkan bagi Sambey, ia belumlah mempunyai secuil pun keberanian seperti itu. Benay telah berhasil mewujud-nyatakan bahwa ia adalah kawan sekerja Allah. “Bagaimana dengan dir...selengkapnya »
Tugas generasi kita Mazmur 78:6-7 supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; Saya pernah menemukan sebuah posting di medsos yang mengatakan bahwa kita yang lahir di tahun 1960-70-80an, adalah generasi yang paling beruntung. Karena kitalah generasi yg mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini, dengan kondisi usia prima. Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, karetan adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita. Sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana walaupun jalan belum diaspal. Juga bersepeda onthel / motor menikmati segarnya angin jalan raya tanpa helm di kepala. Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik yg membayangi kita. Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya Pak Pos menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih, namun dilain sisi kita juga bisa menikmati email bahkan membuat blog pribadi kita. Sebenarnya ada yang lebih lagi. Kita yang lahir di tahun-tahun 50-80an adalah generasi yang sangat beruntung secara rohani, karena kita mengalami masa-masa kebangunan rohani. Kita sempat menikmati KKR-KKR yang memberikan semangat rohani. Ada banyak bermunculan persekutuan-persekutuan doa yang membawa semangat pembaharuan bagi gereja-gereja yang saat itu mengalami kesuaman. Sebagian dari kita yang pernah menjadi pelajar atau mahasiswa pasti pernah diajak untuk bergabung dalam persekutuan doa di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Kita juga sempat menikmati kegerakan pujian dan penyembahan, dengan munculnya lagu-lagu pujian baru yang membawa semangat baru pula. Ada banyak orang yang mengalami pertobatan dan pembaharuan iman melalui kegerakan-kegerakan rohani itu. Dan hasilnya adalah orang-orang Kristen generasi sekarang ini. Pernahkah kita bertanya: Lalu apa? Apakah maksud Tuhan untuk generasi kita ini? Tuhan punya maksud untuk generasi kita, yaitu agar kita menjadi generasi yang mengenal Dia dengan benar. Agar kita mengenal Dia sebagai Allah yang dahsyat dan penuh kasih karunia. Namun bukan hanya sampai di situ saja. Kita punya tugas generasi, yaitu untuk menyampaikan pengenalan akan Allah itu kepada generasi selanjutnya. Agar generasi di bawah kita nantinya juga percaya kepada Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya. Pdt. Goenawan Susanto
Wikipedia mendefinisikan Fobia sebagai rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena tertentu. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Ada perbedaan ’bahasa’ antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Di dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan di mana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidakmampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Tanpa disadari, hari-hari ini banyak orang Kristiani mengalami ketakutan. Tanpa disadari juga ketakutan itu terus meningkat dan seolah-olah menjadi seperti fobia. Fobia dalam hal apa? Fobia untuk beribadah. Ada ketakutan dalam diri untuk datang beribadah dan bergereja. Entah itu takut karena terorisme, intimidasi, merasa sebagai orang berdosa, yang tidak layak untuk beribadah kepadaNya. Atau ketakutan karena hal-hal lainnya, yang akhirnya menyebabkan urung untuk beribadah. Ketakutan itu jika terus dibiarkan akan berubah ke level yang lebih tinggi, yaitu fobia yang permanen. Apakah kita menyadari hal ini? Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Tuhan Yesus meyakinkan para muridNya untuk menghapus segala ketakutan mereka. Bagaimana caranya? Ada “Sang Penolong” yang akan diberikan kepada para murid. Injil Yohanes 14:16-17, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran...” Roh kebenaran akan menyatakan kebenaran kepada umat Tuhan, untuk tetap yakin mengikut dia Roh Kudus akan bertindak sebagai penolong, yang akan menolong umat Tuhan supaya tetap tegar menghadapi segala tantangan dan ketakutan. Apa yang menjadi ketakutan kita? Apakah ketakutan itu masih ada hingga saat ini? Apakah ketakutan itu menguasai dan mengintimidasi? Tuhan Yesus memberi penegasan kepada umatNya. Jangan Takut !!! Roh Tuhan bersama kita. Jangan gentar dan gelisah, Roh Tuhan menolong dan menuntun kita. Firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Yohanes 14:18 jelas dan tegas. Kita tidak akan dibiarkan sendiri. Tuhan bersama kita! Oleh karena itu, janganlah takut. Serukan dengan tegas kepada semua fobia tersebut, KAMI TIDAK TAKUT !!!
Keselamatan keluarga kita Kisah Para Rasul 16:31 ’Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’ Saya yakin bahwa anda ingin memberikan yang terbaik buat keluarga anda. Anda pasti ingin anak-anak anda mendapatkan pendidikan di sekolah yang terbaik. Anda pasti ingin rumah dimana keluarga anda tinggal adalah rumah yang nyaman. Anda pasti ingin memberikan apa yang dibutuhkan oleh keluarga anda. Itu semua baik, tetapi ada satu hal yang paling penting, yaitu keselamatan keluarga anda. Rencana keselamatan Allah bukan hanya untuk kita secara pribadi, tetapi juga untuk keluarga kita. Dalam banyak kasus orang-orang yang diselamatkan oleh Allah melibatkan seluruh keluarganya. Berikut ini ada beberapa contoh di dalam Alkitab: - Abraham dipanggil bersama dengan seluruh keluarganya untuk menjadi cikal bakal umat pilihan Allah. Setiap anak yang lahir di dalam keluarga Abraham dan keturunannya [Israel] harus disahkan menjadi anggota umat Allah [bagi yang laki-laki sebagai tandanya mereka disunat]. - Rahab, seorang penduduk kota Yerikho yang menyambut pengintai dari Israel, diselamatkan bersama dengan seluruh keluarganya [Yosua 6:23]. - Kornelius, seorang perwira pasukan Italia diselamatkan bersama dengan seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 10:1-48]. - Lidia, seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, diselamatkan bersama seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 16:15]. - Kepala penjara di Filipi diselamatkan bersama seisi rumahnya [Kisah Para Rasul 16:31-34]. - Krispus, kepala rumah ibadat Yahudi yang ada di kota Korintus, diselamatkan bersama keluarganya [Kisah Para Rasul 8:8] Dahulu pada waktu masih remaja saya menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi, tetapi saya belum mengerti janji Tuhan ini. Tetapi ada seorang hamba Tuhan yang memberi tahu tentang kebenaran Alkitab ini. Lalu saya menjadi yakin akan kebenaran ini, sehingga dengan penuh semangat mendoakan seluruh keluarga saya agar diselamatkan oleh Tuhan. Akhirnya seluruh keluarga saya menjadi percaya dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Milikilah keyakinan bahwa Allah menghendaki dan merencanakan seluruh keluarga anda diselamatkan oleh Tuhan Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Sam Foss adalah seorang musafir. Suatu ketika di dalam perjalanannya ia merasa lelah dan haus yang sangat. Ia datang mendekati sebuah rumah kecil tidak bercat yang berdiri di atas sebuah bukit. Dekat sisi jalan yang menuju rumah itu, ia melihat tanda dengan tulisan, ’masuklah, dan dapatkan minuman yang dingin.’ Tidak berapa jauh dari tulisan itu Foss menemukan sebuah mata air yang dingin dan sejuk. Di atas mata air itu tersedia gayung tua untuk menciduk air dan di bangku dekat mata air tersebut ada keranjang berisi buah apel yang segar segar dengan tulisan, ’layanilah diri anda sendiri’. Penuh rasa ingin tahu, Foss bergegas menemui pasangan suami istri yang tinggal di rumah kecil itu dan ia pun bertanya tentang tulisan dekat mata air dan keranjang apel yang dilihatnya’. Pasangan suami yang sudah tua itu ternyata tidak mempunyai anak dan mereka hidup dari hasil kebun apel mereka yang tidak seberapa. Mereka bisa digolongkan sangat miskin tetapi dalam hal mata air dan apel, mereka merasa kaya dan berkelimpahan sehingga mereka ingin sekali membagikan kelimpahan tersebut kepada orang-orang yang kebetulan lewat di situ. ’Dalam hal uang kami terlalu miskin untuk menolong orang lain.’ kata pemilik rumah kecil itu, ’tetapi kami berpikir dengan cara ini kami dapat menambahkan serta menutupi apa yang kurang pada kami sehingga kami tetap dapat melakukan sesuatu untuk orang lain.’ Setiap orang dapat melakukan sesuatu untuk menolong sesamanya. Kita tidak harus menunggu sampai kita cukup mampu dan cukup berada barulah memikirkan kepentingan sesama. Mungkin kita semiskin pasangan suami isteri diatas, kita masih memiliki lebih banyak dari apa yang mereka miliki. Tetapi sekalipun kita memiliki banyak hal, kita tetaplah orang-orang ’miskin’ sebab tidak pernah berpikir untuk menolong orang lain. ’Kekayaan seseorang tidak dapat dinilai dari apa yang ia miliki, tetapi dari apa yang ia berikan kepada sesama,’ demikian kata para bijak. Adakah kita memiliki kerinduan untuk berbuat kebaikan bagi sesama? Begitu banyak orang yang kecewa karena tidak menemukan apa yang mereka harapkan dari orang percaya. Tuhan tidak akan menanyakan berapa banyak perusahaan kita, berapa banyak harta yang kita miliki dan berapa banyak tabungan kita, tetapi yang akan Tuhan tanyakan adalah apa yang sudah kita lakukan dengan semua yang sudah Tuhan percayakan kepada kita.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Berserah Dalam Pimpinan Tuhan
06 Juni '18
Tidak Menuntut Balas
21 Juni '18
Keputusan Tuhan Yang Terbaik
29 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang