SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 22 Juni 2018   -HARI INI-
  Kamis, 21 Juni 2018
  Rabu, 20 Juni 2018
  Selasa, 19 Juni 2018
  Senin, 18 Juni 2018
  Minggu, 17 Juni 2018
  Sabtu, 16 Juni 2018
POKOK RENUNGAN
Berusahalah hidup benar dan adil agar memperoleh hidup damai sejahtera
DITULIS OLEH
Pdt. Denny D. Kristianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Keadilan Dan Damai Sejahtera
Keadilan Dan Damai Sejahtera
Jumat, 27 April 2018
Keadilan Dan Damai Sejahtera
Yesaya 32:9-20; 59:1-21

Hari ini tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Benay akan segera meninggalkan Iraq untuk kembali ke tanah air. Ada sukacita dirasakannya karena tidak lama lagi ia akan berjumpa dengan paman dan keluarganya, dengan Pdt. Itong, Mbah Wanidy, dan tentu saja Sambey, sahabatnya, yang sudah lama ia rindukan. Namun ada pula kesedihan. Sembari menatap jauh ke arah horizon negeri 1001 malam itu, Benay menangis tersedu. Hatinya hancur melihat negeri-negeri Arabia yang terus dilanda konflik. Kapankah akan tercipta kedamaian dimana orangtua dapat bekerja dengan aman dan membangun keluarga yang bahagia? Bilamanakah anak-anak dapat bersekolah dan bermain dengan ceria tanpa rasa takut lagi? Bilamanakah umat beragama yang berbeda dapat hidup berdampingan tanpa kebencian? Rasanya hampir mustahil harapan-harapan itu dapat terwujud. Mengingat kepentingan-kepentingan ambisius dari berbagai negara yang tidak berorientasi pada keadilan oleh semua dan bagi semua. Padahal keadilan itu bagaikan tanah untuk tumbuh suburnya pohon keadilan. “Aaahh mungkin hanya Tuhan yang mampu membuat negeri-negeri ini berkeadilan dan damai”, gumam Benay sambil mengusap air matanya.

Jemaat yang dikasihi Tuhan. Keadilan adalah terjemahan dari kata tsedaqah dalam bahasa ...selengkapnya »
Benay dan Rabenay berdiri berdampingan bagai pinang dibelah dua. Dua bersaudara nan bersahaja itu sangat mirip, hanya terpaan usia sajalah yang membedakan wajah mereka. Malam hari itu mereka hadir dalam keramaian sebuah acara yang diadakan untuk menyambut kedatangan Benay dari Iraq. Acara ini digagas oleh anggota persekutuan wanita gereja yang berkolaborasi dengan pemuda-pemudi gereja. Benay tampak sibuk meladeni ucapan selamat dari jemaat yang hadir. Meski tampak lelah namun sukacita bersinar di wajahnya yang terus tersenyum dan sekali-kali tertawa bahagia. Tiba saatnya bagi Benay untuk memberikan kesaksiannya. Pdt. Itong yang didapuk sebagai pembawa acara dengan penuh semangat memanggil Benay. Benay pun bersaksi, “Bapak, Ibu dan Saudaraku sekalian tentu tahu bahwa saya dan Mas Rabenay ini yatim-piatu. Orangtua kami sudah lama meninggal dunia. Dan selama ini saya diasuh oleh paman saya di kota ini. Sedangkan Mas Rabenay hidup mandiri dengan bekerja di pelabuhan. Namun syukur, malam ini Tuhan menyatakan kepada kami bahwa kami tidak pernah kehilangan orangtua. Bapak dan Ibu sekalian adalah orangtua bagi kami. Dan kawan-kawan pemuda-pemudi adalah saudara-saudara kami. Kamimasih dan akan selalu mempunyai keluarga di dalam Tuhan!” Sontak seluruh jemaat yang hadir bertepuk tangan riuh. Beberapa orang tampak meneteskan air mata haru. Termasuk Mbah Wanidy yang malah menangis sesenggukan. Jemaat yang terkasih. Sama seperti yang tampak dari kisah di atas dan yang disaksikan Benay. Sesungguhnya kita pun adalah keluarga di dalam Tuhan. Sebagaimana disampaikan oleh Tuhan ketika seseorang berkata kepada-Nya bahwa ibu dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan berusaha menemui-Nya. Rupanya, ibu dan saudara-saudara Yesus kesulitan menerobos kerumunan orang dalam jumlah besar yang sedang mendengarkan sabda-Nya. Ketika itu Tuhan menjawab sambil menunjuk kepada murid-murid-Nya, “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!” Bukanlah maksud Tuhan untuk tidak menghormati Maria sebagai ibu-Nya dan mengasihi saudara-saudara kandung-Nya. Namun Tuhan memperluas cakupan keluarga-Nya. Keluarga-Nya tidak hanya dibatasi oleh faktor garis darah [keturunan], tetapi ditentukan oleh faktor sikap hidup. Setiap orang yang melakukan kehendak Allah, dialah saudara-saudara Tuhan dan ibu-Nya juga. Dengan demikian, kita yang mau hidup sesuai dengan kehendak Allah, kita adalah keluarganya Tuhan. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Marilah kita bersukacita dalam ucapan syukur! Sebab Tuhan berkenan menjadikan kita bagian dari keluarga-Nya. Marilah kita terus mengarahkan padangan kita pada kehendak-Nya dengan tekun membaca dan mendengarkan sabda-Nya setiap hari. Dan berusahalah untuk menjalin hubungan yang penuh kasih dan saling memperhatikan antar saudara-saudara kita di dalam keluarga besar Tuhan ini. Selamat menjadi keluarga Tuhan. Terpujilah Tuhan!
Wikipedia mendefinisikan Fobia sebagai rasa ketakutan yang berlebihan pada sesuatu hal atau fenomena tertentu. Bagi sebagian orang, perasaan takut seorang pengidap fobia sulit dimengerti. Ada perbedaan ’bahasa’ antara pengamat fobia dengan seorang pengidap fobia. Pengamat fobia menggunakan bahasa logika sementara seorang pengidap fobia biasanya menggunakan bahasa rasa. Bagi pengamat dirasa lucu jika seseorang berbadan besar, takut dengan hewan kecil seperti kecoak atau tikus. Sementara di bayangan mental seorang pengidap fobia, subjek tersebut menjadi benda yang sangat besar, berwarna, sangat menjijikkan ataupun menakutkan. Di dalam keadaan normal setiap orang memiliki kemampuan mengendalikan rasa takut. Akan tetapi bila seseorang terpapar terus menerus dengan subjek fobia, hal tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya fiksasi. Fiksasi adalah suatu keadaan di mana mental seseorang menjadi terkunci, yang disebabkan oleh ketidakmampuan orang yang bersangkutan dalam mengendalikan perasaan takutnya. Fobia bisa dikatakan dapat menghambat kehidupan orang yang mengidapnya. Tanpa disadari, hari-hari ini banyak orang Kristiani mengalami ketakutan. Tanpa disadari juga ketakutan itu terus meningkat dan seolah-olah menjadi seperti fobia. Fobia dalam hal apa? Fobia untuk beribadah. Ada ketakutan dalam diri untuk datang beribadah dan bergereja. Entah itu takut karena terorisme, intimidasi, merasa sebagai orang berdosa, yang tidak layak untuk beribadah kepadaNya. Atau ketakutan karena hal-hal lainnya, yang akhirnya menyebabkan urung untuk beribadah. Ketakutan itu jika terus dibiarkan akan berubah ke level yang lebih tinggi, yaitu fobia yang permanen. Apakah kita menyadari hal ini? Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga. Tuhan Yesus meyakinkan para muridNya untuk menghapus segala ketakutan mereka. Bagaimana caranya? Ada “Sang Penolong” yang akan diberikan kepada para murid. Injil Yohanes 14:16-17, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran...” Roh kebenaran akan menyatakan kebenaran kepada umat Tuhan, untuk tetap yakin mengikut dia Roh Kudus akan bertindak sebagai penolong, yang akan menolong umat Tuhan supaya tetap tegar menghadapi segala tantangan dan ketakutan. Apa yang menjadi ketakutan kita? Apakah ketakutan itu masih ada hingga saat ini? Apakah ketakutan itu menguasai dan mengintimidasi? Tuhan Yesus memberi penegasan kepada umatNya. Jangan Takut !!! Roh Tuhan bersama kita. Jangan gentar dan gelisah, Roh Tuhan menolong dan menuntun kita. Firman yang disampaikan oleh Tuhan Yesus yang tercatat di dalam Injil Yohanes 14:18 jelas dan tegas. Kita tidak akan dibiarkan sendiri. Tuhan bersama kita! Oleh karena itu, janganlah takut. Serukan dengan tegas kepada semua fobia tersebut, KAMI TIDAK TAKUT !!!
Balai Pertemuan yang berwujud sebuah rumah adat panggung di suatu Perkampungan Raja siang itu cukup padat. Rombongan kami terdiri dari 6 orang awam dan 4 orang kru sebuah majalah. Ditambah penduduk yang hadir, tak banyak tempat yang lowong di bagian depan rumah panggung itu. Siang itu dilangsungkan ritual penyambutan tamu sesuai adat sebuah pulau kecil yang terletak di Nusa Tenggara Timur. Di antara sekian banyak hal yang menarik perhatian kami, terselip sebuah penuturan yang membuat saya terpana. Meskipun hampir seluruh penduduk Perkampungan Raja percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, untuk mengambil keputusan-keputusan penting tetaplah harus melalui ’terawangan’. Untuk itu, seekor binatang berupa ayam atau babi harus disembelih. Kemudian satu ’orang pintar’ akan ’membaca’ usus binatang sembelihan dan menetapkan keputusan yang harus dibuat. Kalau hal ini dilanggar, mereka meyakini bahwa tulah pasti datang menghampiri. Ayat-ayat bacaan Alkitab hari ini mengingatkan umat Tuhan untuk terdidik dalam pokok iman dan ajaran sehat dalam Kristus Yesus [1 Timotius 4:6]. Baiklah kita menjauhi takhayul yang diwariskan turun-temurun dan melatih diri beribadah [ayat 7]. Iman Kristen dan takhayul adalah dua hal yang kontradiktif. Walaupun hal ini banyak terjadi di berbagai belahan dunia, tak dapat dielakkan bahwa belenggu takhayul akan menghambat pertumbuhan rohani. Bagaimana mungkin orang menaruh pengharapan sepenuhnya kepada Kristus kalau hidupnya masih tergantung pada ’terawangan’, ’pantangan’ dan bermacam-macam ’syarat’? Marilah kita semakin memahami pokok iman kita, bertumbuh dalam ajaran yang sehat dan menjauhi takhayul yang membelenggu hidup manusia. Tuhan beserta kita.
Anak SD akan lebih mudah mencerna ilmu pengetahuan tentang tanam-tanaman yang diajarkan kepada merekaketika diajak keluar kelas. Kepada mereka ditunjukkan secara visual jenis-jenis tanaman dan pepohonan yang ada di sekitar mereka. Pohon mangga menghasilkan buah mangga. Pohon jambu menghasilkan buah jambu. Pohon pepaya menghasilkan buah pepaya, dan seterusnya. Dari buahnya kita mengenal pohonnya. Setiap jenis pohon menghasilkan buah yang khas. Ini adalah sesuatu hal yang alamiah. Dalam Matius 3:1-12, Yohanes Pembabtis menyampaikan hal yang sama, sesuatu yang sebenarnya sangat alamiah. Dengan jelas dan tegas ia mengatakan bahwa orang yang menyatakan dirinya sudah bertobat pasti menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Sebagai seorang pengajar kebenaran Taurat, seharusnya orang Farisi menghasilkan buah pertobatan seperti yang diajarkannya. Pertama, kejujuran bukan kemunafikan. Orang farisi suka berdoa hanya untuk dilihat orang banyak, padahal hati mereka jauh dari Tuhan. Kedua, kepedulian membebaskan yang tertindas bukan membebani orang dengan peraturan agamawi. Ketiga, kerendahan hati untuk belajar kebenaran bukan selalu menyalahkan. Orang Farisi merasa dirinya benar dan menyalahkan orang lain. Pertanyaannya yang perlu kita renungkan: Sudahkan kita bertobat ?. Sudahkan kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan ? Sudahkan kita jujur di hadapan Allah dan semua orang ? Sudahkan kita menolong orang lain yang tertindas dan terbelenggu oleh ikatan dosa ? Bersediakah kita terus belajar dan melakukan kebenaran Firman Tuhan ? Ingatlah, bahwa kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api [ayat 10]. Marilah kita gunakan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Apa Yang Kupunyai, Kuberikan Padamu
26 Mei '18
Membangun Rasa Aman
11 Juni '18
Hidup Dipimpin Oleh Roh Kudus
09 Juni '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang