SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Sudahkah kita memiliki kehidupan yang sesungguhnya? Seharusnya karena kita percaya kapada-Nya
DITULIS OLEH
Pdm. Hendy Aguswibowo L.
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kehidupan Yang Sesungguhnya
Kehidupan Yang Sesungguhnya
Sabtu, 21 Desember 2019
Kehidupan Yang Sesungguhnya
Yohanes 5:24

’Yang penting bukan seberapa lama Anda hidup tetapi bagaimana Anda menjalani hidup’

Kalimat di atas mengajak kita untuk memperhatikan seberapa banyak kita memberi manfaat bagi sesama, bukan seberapa panjang kita hidup.Selain itu juga mengajak kita untuk tidak hanya mempunyai HIDUP tetapi KEHIDUPAN.

Setiap orang bisa hidup tetapi belum tentu punya kehidupan. Kita bisa hidup mempunyai segalanya baik materi dan kedudukan, tetapi belum tentu punya kehidupan. Lebih lagi seperti bacaan di atas, ketika mendengar dan percaya kepada Dia yang mengutus Yesus Kristus, kita diberi kehidupan yang sesungguhnya. Yaitu kehidupan kekal.

Apa yang dimaksud dengan kehidupan disini??Kehidupan yang dimaksud adalah kehidupan yang Tuhan berikan. Kita mengerjakan dan melakukannya menjadi bermanfaat bagi orang lain untuk kemuliaan Tuhan atau malah sebaliknya menjadi batu sandungan.

Berbicara tentang kehidupan orang percaya/beriman selalu berkaitan erat dengan tindakan kasih, karena T...selengkapnya »
Natal, kelahiran Yesus Kristus di dunia adalah sebuah bentuk ketaatan Anak kepada Bapa-Nya. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia, dalam rangka misi-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Dia lahir di kandang ternak. Tidak memiliki tempat tinggal dan berkali-kali mendapat ancaman. Padahal dalam pelayanan-Nya banyak mujizat terjadi, orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar, mati dibangkitkan. Memberi kelegaan pada mereka yang letih lesu dan berbeban berat. Memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia tetap taat pada misi Allah ketika dipukul, diludahi, diberi mahkota duri, dicambuk dan sampai mati di kayu salib. Pada waktu malam saat gembala-gembala menjaga domba mereka di padang Efrata, datanglah sorang malaikat menemui mereka dan berkata :’Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Mendengar berita yang disertai dengan sejumlah besar memuji Allah : “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia”, mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem. Mereka harus mengatasi kesulitan dan masalah bila berangkat, gelap gulita, menggiring domba-domba di tengah malam. Suatu perkerjaan yang sulit, tetapi mereka taat untuk berjumpa dengan Sang Juru Selamat. Saat ini Yesus tidak lahir di kandang Betlehem, tetapi di hati kita. Bila Sang Firman itu ada dalam hidup kita, seharusnya kita taat melakukannya, Banyak tantangan dan kesulitan yang kita hadapi waktu kita melakukan Firman Tuhan, tetapi kesulitan yang kita hadapi tidak sebanding dengan penderitaan dan pengorbanan Yesus dalam menaati misi Allah. Marilah kita teladani gembala-gembala di Efrata yang tidak menunda waktu untuk merespons Firman Tuhan. Natal mengingatkan kita akan sebuah ketaatan.
Sama seperti awal tahun lalu, awal tahun ini hanya sedikit orang menyambut dengan kegairahan. Kelesuan ekonomi dunia, pergumulan gereja dan kebutuhan keluarga mesti dicukupi, cukup menyita sisi ruang pikiran orang-orang yang berpenghasilan pas-pasan. Sambey yang berasal dari keluarga sederhana turut merasakan sepinya kegairahan tahun baru ini. Meski awal tahun 2020 tetap disambut meriah oleh masyarakat dan jemaat. Kembang api berseliweran memecah kegelapan malam kota Semarang. Trompet dibunyikan dengan nyaring. Doa syukur dan pengharapan dipanjatkan dengan penuh semangat di gereja-gereja. Namun, keceriaan itu hanya sesaat. Sebagai tradisi perayaan semata. Pagi harinya, Sambey kembali harus berpikir dan bergelut menata masa depannya. Ia baru saja lulus sarjana. Dan awal tahun ini adalah langkah pertamanya untuk menapaki dunia kerja yang tak kunjung didapatnya. Sama dengan Sambey, Benay baru lulus sarjana pula. Bedanya Benay telah bekerja sebagai asisten juru masak yang telah ditekuninya beberapa bulan sebelum wisuda. Namun Benay tak luput juga dari pergumulan. Pikirannya tersita dengan status jomblo tak kunjung hengkang dari hidupnya. Benay merasa ragu apakah tahun ini ia akan mendapatkan tambatan hati. Jemaat yang terkasih. Pergumulan Sambey dan Benay di atas adalah gambaran pergumulan yang ada dalam setiap diri manusia. Pergumulan tidak dapat dihapuskan dengan pijar kembang api dan bunyi terompet tahun baru. Pergumulan itu harus diterima sebagai bagian hidup. Sama seperti orang Yahudi terbuang di Babel. Mereka diminta oleh Nabi Yeremia untuk menerima pergumulan itu. Namun bukan menerima secara pasif—pasrah—tetapi menerima pergumulan itu dengan iman. Bahwa kelak, sesuai dengan janji Tuhan, mereka akan dibebaskan dari pergumulan itu. Menerima pergumulan dengan iman, berarti tidak tinggal diam dalam tetes air mata dan penyesalan yang tiada putus. Pergumulan hidup mesti disikapi dengan tetap melakukan apa yang bisa dilakukan. Di Babel, orang Yehuda diminta untuk tetap menjalankan kehidupan sehari-hari. Mereka diminta untuk mendirikan rumah, menikah dan mempunyai keturunan, bahkan mereka diperintahkan untuk turut mengusahakan kesejahteraan kota/masyarakat Babel. Sambil menunggu penggenapan janji Tuhan kepada mereka. Dengan demikian, orang Yehuda tidak kehilangan harapan, sabar dalam penantian dan terus berjuang dalam pergumulan yang mereka alami. Jemaat yang dikasihi Tuhan. Jika ada di antara kita yang menapaki tahun baru ini dengan pergumulan-pergumulan hidup yang belum usai. Janganlah takut dan menjadi lemah. Marilah tetap beriman dalam menjalani tahun 2020 ini. Dengan demikian pengharapan kita terpelihara dan kita diberi anugerah kesabaran dalam penantian janji Tuhan. Jadi tetaplah bersukacita dalam perjuangan hidup ini. Terpujilah Tuhan!
Natal telah tiba, dunia menyambut gembira, pesta pora bersama. Adakah kita termasuk di dalamnya??? Pastinya tidak karena bagi kita umat percaya, Natal bukanlah pesta pora tetapi ucapan syukur karena Dia Sang putra Allah mau lahir untuk mati buat tebus dosa kita. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah kedatanganNya yang ke dua yang tak seorangpun tahu, malaikat-malaikat di Surga juga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri [Mat 24:36]. Dari Matius 25:1-13 kita membaca sebuah perumpamaan yang menceriterakan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh saat akan menyongsong mempelai laki-laki. Pada saat perumpamaan ini disampaikan, merupakan kebiasaan bagi seorang pengantin wanita Yahudi ditemani oleh sepuluh pengiring yang sepertinya adalah teman-teman dekat dan seumur dengan pengantin wanita. Juga merupakan adat kebiasaan, mempelai laki-laki datang malam hari dengan tidak ada kepastian jam/waktunya. Itulah sebabnya para gadis pengiring tentu harus membawa pelita saat menyongsong mempelai laki-laki. Karena jam/waktunya tidak diketahui seharusnya gadis-gadis pengiring membawa persediaan minyak. Ternyata yang membawa hanya 5 orang. Di akhir perumpamaan ini tragis bagi 5 gadis yang tidak membawa persediaan minyak dan mereka tidak diperkenankan masuk ruang pesta perkawinan. Bagaimana dengan diri kita ? Karena kedatangan-Nya yang kedua tidak bisa diprediksi, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah selalu siap tidak boleh lengah walau sekejap. Mari kita bersikap bijaksana seperti lima gadis yang siap membawa minyak sehingga saat mempelai datang pelita masih bisa dinyalakan. Jangan sampai kita kehabisan minyak yaitu api Roh Kudus seperti lima gadis yang bodoh.Amin.
Kehadiran tahun baru bukanlah suatu yang asing dan mengejutkan. Sebab setiap tahun selalu terjadi pergantian tahun. Hanya umur dan bagian tertentu dalam hidup ini yang mengalami perubahan seperti sehat, sakit, kaya, miskin, peningkatan jabatan dan banyak lagi lainnya, ini semua pernah dialami siapapun saja yang hidup dalam perjalanan tahun. Namun dalam perjalanan pergantian tahun sebenarnya Tuhan taruh sesuatu spesial dalam hidup ini. Sering kali kita tidak melihatnya dan menyadarinya bahwa di dalam tahun yang baru ada kasih dan penyertaan Tuhan begitu setia menyertai kita. Semua orang terhipnotis dengan kegembiraan berlebihan. Banyak orang menghambur-hamburkan uang untuk mencari sukacita dan mengharapkan berkat dari Tuhan menuju perjalanan tahun yang baru. Semua orang merayakan tahun baru dengan berbagai cara. Harapannya diberkati dan mengalami kesejahteraan dalam hidup. Semua yang terbaik diinginkan agar mengalami kesuksesan dan banjir rejeki baik di keluarga dan pekerjaan. Tetapi pernahkah kita berpikir, apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita selama ini. Tuhan begitu setia di dalam memimpin dan menuntun langkah hidup kita. Ketika kita tidak pernah berpikirpun Tuhan sediakan apa yang kita perlukan. Saat kita membutuhkanpun Tuhan juga melakukan yang terbaik dalam hidup kita. Artinya, Allah selalu sediakan kesejahteraan begitu besar kepada kita. Allah memberi bukan barang basi atau stok lama. Tuhan selalu memberi yang baru dalam hidup ini. Artinya, Kasih setia Tuhan tidak mungkin habis, cintanya yang penuh belas kasihan tidak bisa mengering. Betapa agung kesetiaanNya kepada kita. Sesuatu yang baru adalah sesuatu yang menyejukkan dan menyegarkan perjalanan hidup kita. Dalam hal ini Allah mengajarkan kita untuk selalu bersyukur dalam segala keadaan. Dan perlu kita ketahui bahwa kehidupan yang kita jalani ini selalu dinamis dan tidak pernah sama. Sesuatu yang berubah-rubah dalam hidup kita inilah, Tuhan ada didalam perjalanan hidup kita ini. Jadi ketika kita memasuki tahun yang baru ini, seharusnya kita melihat lebih jauh penyertaan Tuhan yang sungguh hebat dan tak tertandingi oleh apapun juga. Kesetiaannya sungguh terbukti dan terus hingga akhir hidup kita. Allah menghendaki agar kita tetap dalam kasih dan penyertaanNya. Selamat memasuki tahun yang baru dengan berkat penyertaan Tuhan.
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Melayani Adalah Kegerakkan Yang Mengubahkan
31 Desember '19
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong
29 Desember '19
Natal : Sebuah Ketaatan
26 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang