SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Kelegahan pada hakikatnya adalah berhentinya manusia dari beban dosa dan segala keinginannya.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
Senin, 13 November 2017
Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
Matius 11:28-29

Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani.

Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa c...selengkapnya »
“Kekristenan kita telah termakan usia”, kata Sambey, “seperti seorang lanjut usia yang letih dan tak tahu harus berbuat apa lagi selain menunggu panggilan-Nya.” Pdt. Itong yang berada di sampingnya terusik oleh perkataan itu dan berkomentar, “Kata-katamu sangat pesimis, Sam! Tak tepat diucapkan oleh seorang muda sepertimu.” Sambey merespon dengan memandang pendeta pembinanya itu dengan tatapan penuh arti. Seolah-olah Sambey mau mengatakan bahwa Pdt. Itong telah gagal paham terhadap maksud perkataannya itu. Lagi pula mendewakan rasa optimis juga sama salah kaprahnya jika keoptimisan itu hanya tinggal diam sebagai romantisme belaka. “Sebenarnya apa yang kamu maksudkan dengan perkataanmu itu, Sam?” tanya Pdt. Itong seolah-olah telah menyadari gagal pahamnya. Sambey menghela nafas panjang. “Aku ingin menyampaikan bahwa setiap orang percaya dipanggil bukan sekedar untuk menghabiskan usia. Apalagi menghabiskannya dalam rangkulan dosa yang terus dipelihara. Dalam hal ini Tuhan memakai hamba-hamba-Nya untuk melayani dan memperlengkapi jemaat. Tidak pada tempatnyalah jika jemaat hanya dinina-bobokan dengan janji-janji romantis yang tidak menjawab kerasnya tantangan hidup dan pelayanan yang sangat membutuhkan kekudusan dan kedewasaan rohani.” Pdt. Itong gantian merespon Sambey dengan tatapan sayunya. Jemaat yang terkasih, bangsa Yehuda telah lama menjadi umat Allah, namun perjalanan iman mereka terus diwarnai dengan pengalaman jatuh bangun. Dan pada zaman Nabi Yeremia, dosa mereka telah sangat parah. Kemerosotan hidup bangsa Yehuda tidak lepas dari andil para nabi dan imam yang gemar mendayu-mayu umat dengan janji-janji indah. Melalui nubuat mereka berkata bahwa bangsa Yehuda tidak akan mengalami perang dan kelaparan, tetapi damai sejahtera yang akan mereka alami [ayat 13]. Allah menyebut nabi dan imam seperti ini sebagai nabi dan imam yang bernubuat palsu. Karena janji-janji indah itu tidak selaras dengan hidup sehari-hari bangsa Yehuda yang telah bobrok dalam genangan lumpur dosa. Syukur kepada Allah. Dalam situasi yang demikian ini, Allah tidak tinggal diam dalam murka-Nya. Melalui Nabi Yeremia, Allah kembali menyatakan rahmat pemulihan-Nya setelah proses pertobatan dialami bangsa ini. Yaitu janji bahwa masa depan masih ada. Dan Allah sendiri merancangkan damai sejahtera yang menjadikan secercah harapan itu masih ada. Jemaat yang terkasih, jika dari tahun ke tahun hidup kekristenan kita tidak bertumbuh; pelayanan kita tidak berdampak; maka menjadi risaulah. Ini lebih baik daripada mengharapkan janji-janji romantisme kosong dari balik mimbar nan suci sekalipun. Inilah saat bagi kita untuk melihat diri dan membiarkan Roh Tuhan memulihkan dan membaharui kita. Relakanlah diri kita untuk menerima teguran dan nasihat yang membangun dari saudara-saudara seiman dan para hamba Tuhan. Niscaya damai sejahtera dari Tuhan akan menggairahkan hidup dan pelayanan kita kembali. Selamat mengalami secercah harapan.
“Ajar kami Tuhan, menghitung hari-hari…. Agar kami beroleh hati bijaksana…….” Lagu lama yang kata-katanya diambil dari kitab Mazmur 90:12 itu tiba-tiba saja terlintas dibenak saya. Dan langsung saja saya rengeng-rengeng sambil membereskan tugas-tugas rumah tangga. Mulut saya terus menyanyikan lagu itu berulang-ulang, sementara pikiran saya terus menerus mencerna kata-kata dalam lagu itu. Mengapa pemazmur meminta kepada Tuhan untuk mengajarnya? Mengapa tidak meminta diajar oleh guru, oleh suami atau istri, atau teman? Jawabannya sederhana, karena manusia terbatas hikmatnya, manusia tidak selalu bisa menjadi tempat belajar karena manusia banyak kekurangannya, karena manusia tidaklah sempurna. Kalau kita belajar dari manusia belum tentu kebijaksanaan yang kita dapat, mungkin kekecewaan, atau malah kemarahan. Tapi ketika Tuhan sendiri yang mengajar kita, sudah pasti hikmat kita akan bertambah dan kebijaksanaan akan kita peroleh. Mengapa pemazmur minta diajar untuk menghitung hari-hari? Mengapa bukan menghitung berkat-berkat, menghitung kesulitan demi kesulitan, menghitung persoalan yang ada? Karena dalam setiap hari yang kita lalui, banyak hal yang terjadi. Kejadian yang menyenangkan, yang membahagiakan, pengharapan yang menjadi kenyataan, doa yang terkabul, atau kekecewaan yang didapat, ketakutan yang tak kunjung berakhir, kepedihan dan kesusahan yang tiba-tiba saja datang. Itu beberapa situasi yang tiba-tiba bisa menghampiri kita setiap hari. Karena itu sangat perlu bagi kita merenungkan apa yang terjadi.Menimbang baik dan buruknya dari setiap kejadian yang timbul. Agar kita tidak salah dalam melangkah, dalam menjalani hari-hari kita. Mohon hikmat kepada Tuhan dalam menyikapi setiap peristiwa yang terjadi. Mohon Dia memimpin di setiap waktu yang kita lalui. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai guru dalam menjalani hari demi hari yang kita lalui, maka Dia akan memberi hati yang bijaksana. Kebijaksanaan akan terlihat dari cara seseorang berpikir, bertutur kata dan bersikap. Kebijaksanaan akan menimbulkan sukacita, menjadi berkat bagi orang-orang di sekelilingnya dan sudah pasti akan menciptakan suasana damai sejahtera. Karena itu mintalah kepada Dia untuk terus mengajar menghitung hari-hari, agar kita beroleh hati yang bijaksana.
Setelah menyeberangi sungai Yordan, bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua menghadapi kota Yerikho dengan tembok keliling kota yang sangat tebal dan kuat. Mereka tidak bisa masuk ke dalam kota karena pintu-pintu tembok kota telah tertutup rapat. Tuhan memberikan kota Yerikho dengan mujizat, mereka mengitari tembok sehari sekali secara senyap selama 6 hari. Pada hari yang ketujuh mereka mengitari 7 kali dan pada akhir perjalanan mereka bersorak sorai, runtuhlah tembok Yerikho. Tembok Yerikho runtuh bukan karena kekuatan dan kehebatan tentara Israel, tetapi karena Tuhan yang menyerahkan kota Yerikho ke tangan bangsa Israel. Mereka percaya kepada perintah Tuhan walaupun sebuah perintah yang aneh hanya berjalan mengitari tembok dan tidak ada sedikitpun perintah untuk berperang atau menyerang. Mereka tidak sekedar percaya tetapi menaati dan melakukan perintah itu dengan segera dan tanpa berbantah-bantah. Dalam melakukan perintah Tuhan, mereka harus menanggung malu, cemooh, hinaan dan ditertawai oleh penduduk Yerikho. Setiap hari selama tujuh hari mereka harus menahan diri untuk tidak membalas setiap ejekan dan mungkin lemparan batu dari atas tembok. Di hari yang ketujuh setelah berkeliling selama 7 kali mereka bersorak-sorai dengan penuh gegap gempita diiringi dengan tiupan sangkakala oleh para imam. Mereka bersukacita memuji dan memuliakan Tuhan, runtuhlah tembok Yerikho. Setiap kita sangat mungkin menghadapi masalah besar seperti tembok-tembok Yerikho yang kuat, kokoh dan seakan tidak bisa ditembus dan diatasi yang sering membuat kita takut serta cemas. Mari kita belajar dari pengalaman bangsa Israel, percaya dan yakin bahwa janji Tuhan pasti digenapi, Dia yang memberi jalan keluar atas masalah. Lakukan bagian kita, taati dan lakukan setiap Firman Tuhan walaupun sulit dan dicemooh atau ditertawakan. Bersukacitalah senantiasa dan pujian kepada Tuhan mewarnai hari-hari kita walaupun masalah kita belum terselesaikan. Sekuat apapun tembok Yerikho yang kita hadapi pasti runtuh oleh karya Tuhan.
Terang bagi yang berjalan di kegelapan Yesaya 9:1, 5 Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. [ayat 1] Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. [ayat 5] Beberapa tahun yang lalu [sudah cukup lama, saya tidak ingat persis tahunnya] mobil saya mengalami masalah di lampu depannya [lampu besar], mungkin karena sekringnya putus. Padahal waktu itu saya dalam perjalanan turun dari Kopeng menuju Ungaran, sendirian, pada malam hari. Kondisi jalan sangat gelap, menurun dan berkelok-kelok. Tidak ada yang saya mintai bantuan. Dengan perasaan takut saya tetap menjalankan mobil itu pelan-pelan sekali, di tengah kegelapan, hanya dengan penerangan lampu kecil saja. Takut karena salah-salah bisa masuk jurang. Kegelapan adalah sesuatu yang menakutkan. Kita tidak bisa melihat apa yang di hadapan kita. Kegelapan bisa membawa kita pada celaka. Oleh sebab itu kita tidak suka dengan kegelapan. Kegelapan menggambarkan keadaan yang buruk di dalam hidup kita. Kita merasa bahwa dunia ini gelap ketika kita sedang mengalami hal yang buruk dan tak terkendali. Mungkin itu berupa datangnya sebuah peristiwa yang tak kita kehendaki seperti musibah, sakit penyakit, kegagalan, dan sebagainya. Mungkin itu berupa kehilangan orang yang kita kasihi secara tiba-tiba. Atau berupa hal lain yang tak bisa kita prediksi dan mengejutkan kita. Orang yang mengalami hal itu akan merasa jalannya gelap dan menakutkan. Ketika kita menghadapi saat-saat yang gelap di dalam kehidupan kita, apakah kita akan berputus asa, menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, atau bahkan menyalahkan Tuhan? Kristus datang ke dalam dunia ini untuk memberikan pengharapan bagi orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan. Dia adalah Terang itu sendiri. Dia adalah Imanuel, menyertai kita dalam menjalani saat-saat gelap di dalam hidup kita. Sehingga kita tidak perlu takut sebab kita tidak berjalan sendirian di dalam kegelapan. Dia adalah Terang, sehingga Dia dapat menunjukkan kepada kita jalan yang aman, sehingga kita dapat lolos dari kegelapan itu. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Memang Lidah Tak Bertulang
04 Desember '17
Pengelola Bukan Pemilik
12 November '17
Menghitung Hari-Hari
21 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang