SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Kelegahan pada hakikatnya adalah berhentinya manusia dari beban dosa dan segala keinginannya.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
Senin, 13 November 2017
Kelegaan/Ketenangan Jiwa Yang Sejati
Matius 11:28-29

Dalam ayat ini, kelegaan sering diartikan kelepasan dari berbagai persoalan hidup dan terpenuhinya kebutuhan jasmani. Kelegaan atau perhentian sejati pada dasarnya akan dialami bila kita tidak dipenuhi pikiran kuatir. Biasanya kekuatiran berkaitan dengan kebutuhan jasmani, harta kekayaan dan berbagai fasilitas duniawi yang diharapkan dapat melengkapi dan membahagiakan hidup. Kebutuhan jasmani sebetulnya menjadi fokus utama orang yang tidak mengenal Tuhan. Akibatnya orang akan terus bergerak mencari sesuatu yang dianggap dapat memberi kelegaan. Ibarat kapal yang terus berlayar mencari pelabuhan, padahal bagi orang percaya, hanya ada satu pelabuhan yang memberi kelegaan, yaitu Tuhan Yesus. Mereka dikatakan sebagai orang yang letih lesu dan berbeban berat karena banyaknya keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Banyak orang yang datang kepada Tuhan hanya sekedar memperoleh jalan keluar atas problem kebutuhan jasmani.

Sebetulnya orang percaya dipanggil untuk mengalami perhentian di dalam Tuhan, artinya merasa c...selengkapnya »
Tuhan punya banyak cara untuk menyayang, juga dengan memanggil pulang Kita sayu, namun mengaku Sang Empunya Hidup yang paling tahu Rasanya belum cukup, belum sempat, belum siap Tapi kata Tuhan, inilah saat yang tepat Apalah yang lebih melegakan selain cerai dari derita yang menggerus raga Sehabis berjuang demi orang-orang tersayang, tibalah saatnya untuk pulang dengan iman, damai dan tenang Meski tak terbendung tangis yang luruh dalam kelu, hati kita tahu Inilah cara terindah Tuhan untuk menyayang, dengan memanggil pulang. Mengakhiri perjumpaan dengan orang-orang terdekat tak pernah mudah. Apalagi bila terjadi secara tiba-tiba. Rasanya sulit dipercaya. Masih terasa hangatnya sentuhan tangan orang yang tersayang di dalam genggaman, sedetik kemudian telah tiada. Punah sudah rencana-rencana yang belum terlaksana. Kesempatan sudah menutup pintunya rapat-rapat. Tak terelakkan kenangan demi kenangan berputar di kepala. Kebersamaan yang tak kenal kelanjutannya. Walau kita berharap bisa lebih lama bersama orang-orang tersayang, kadang Tuhan menilai bahwa hal yang terbaik adalah dengan memanggil mereka pulang. Sebuah ketukan palu yang sangat menyentak hati orang-orang yang menyayang. Dan di saat panas terasa di pelupuk mata, ada saja yang bilang jangan berduka. Jangan seperti orang tak punya harapan. Namun berjuang menepis basah di mata pun rasanya tak sanggup juga. Ahh, setiap orang yang pernah menjalani tak akan dengan mudahnya berujar begitu-begini. Baiklah saat ini kita mengurai duka, lebih sehat melepas sesak di dada daripada menyangkalinya. Yesus pun menangis ketika dikabari bahwa sahabatnya meninggal. Tidak tabu untuk berduka. Asalkan kita mengenal kata cukup. Setelah itu mari kita melangkah lagi. Dengan keyakinan utuh bahwa yang tersayang sudah aman dan tenang bersama Pemiliknya. Meskipun kita tak lagi bersamanya, selalu ada Tuhan yang membarengi langkah kita. Tak pernah sendiri. Itulah pengharapan kita. Sampai tiba saatnya nanti kita dipertemukan kembali dan berkumpul bersama-sama dengan Kristus Yesus, Tuhan kita.
Pada ayat ini Paulus menyatakan bahwa panggilan Allah adalah untuk memberitakan Injil. Namun apa yang Paulus maksudkan dengan “Injil”, yaitu realitas penebusan di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Kita cenderung menempatkan pengudusan sebagai tujuan pemberitaan kita. Paulus mengacu pada pengalaman-pengalaman pribadi hanya sebagai ilustrasi, tidak pernah sebagai tujuan akhir. Kita tidak ditugaskan untuk memberitakan keselamatan atau pengudusan. Kita diamanatkan untuk meninggikan Yesus Kristus [lihat Yohanes 12:32]. Tidaklah adil untuk mengatakan bahwa Yesus Kristus bekerja dalam penebusan untuk membuat saya menjadi orang kudus. Yesus Kristus berjerih lelah dalam penebusan untuk menebus seluruh dunia dan meletakkannya secara utuh di hadapan tahta Allah. Fakta kita mengalami penebusan menunjukkan kuasa dari realitas penebusan itu, tetapi pengalaman tersebut hanyalah hasil sampingan bukan tujuan akhir dari penebusan. Seandainya Allah adalah manusia, tentu betapa bosannya Dia mendengar permintaan kita. Yang terus menerus memohon diselamatkan dari sesuatu yang semuanya mengacu untuk kita sendiri. Namun ketika kita menyentuh fondasi realitas Injil Allah, kita tidak akan pernah menyusahkanNya dengan masalah pribadi kita yang sepele. Satu-satunya hasrat hidup Paulus adalah memproklamirkan Injil Allah yaitu Yesus Kristus. Ia menerima kesedihan hati keraguan, ditolak, dipenjara bahkan penganiayaan hanya untuk satu alasan. Memberitakan Injil Allah.
Jadilah seperti Gideon Hakim-hakim 6:15-16 Tetapi jawabnya kepada-Nya: ’Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.’ Berfirmanlah TUHAN kepadanya: ’Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.’ Tuhan memanggil Gideon untuk menjadi alat-Nya, untuk menyelamatkan umat-Nya dari penindasan bangsa Midian. Tapi Gideon merasa dirinya tidak memiliki kemampuan untuk melakukan tugas itu. Dia merasa bahwa dia berasal dari kaum yang tidak punya pengaruh di kalangan umat Israel, dan juga dia merasa masih terlalu muda. Tetapi Tuhan tidak membutuhkan orang yang punya kemampuan tinggi atau punya latar belakang yang hebat. Tuhan hanya membutuhkan seorang yang siap untuk dipakai-Nya. Tuhan mencari orang untuk menyelamatkan umat-Nya yang saat ini tertindas oleh kuasa dosa. Seperti bangsa Israel pada waktu itu, sekarang banyak orang yang menderita akibat dosa. Ada yang keluarganya hancur, ada yang menderita sakit penyakit, ada yang terikat oleh narkoba, hawa nafsu yang memalukan, maupun kebiasaan yang merusak kehidupan mereka sendiri. Hidup mereka hancur akibat dosa dan kesalahan yang mereka perbuat sendiri. Mereka tidak bisa lepas dari belenggu itu dan berharap ada yang menolong mereka. Kita tahu bahwa di dalam Injil ada kuasa Allah yang menyelamatkan. Berarti yang diperlukan oleh mereka adalah berita bahwa Allah yang penuh kasih karunia itu sanggup memberi pertolongan kepada mereka, jika mereka percaya kepada Kristus. Tapi siapa yang memberi tahu kepada mereka? Memang tidak mudah untuk menyelamatkan jiwa yang terbelenggu dosa. Kuasa Iblis selalu berusaha menghalangi dan menggagalkan karya keselamatan atas orang berdosa. Iblis menghendaki sebisa mungkin tetap menancapkan kekuasaannya atas jiwa-jiwa tersebut. Namun firman Tuhan berkata bahwa Allah sendiri yang menyertai kita, sehingga kita akan mengalahkan kuasa Iblis itu. Jadilah seperti Gideon, yang siap dan rela dipakai Allah untuk menyelamatkan umat-Nya. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
Suatu hari sebuah status facebook seorang teman yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana membuat mata terbelalak. Kira-kira begini bunyinya, ’Wah, aku bingung mau BERHEMAT bagaimana lagi. UANG JAJAN ANAK dari 7 JETI SEMINGGU sudah kupangkas jadi separuhnya! Tapi kepala masih saja nyut-nyutan dengan GAJI MEPET seperti ini.’ Dan status itu ramai menuai komentar dari mana-mana. Ada yang memuji-muji keberuntungannya yang bagi sebagian orang bagaikan mimpi. Ada juga yang mengecam keluhannya sebagai kamuflase untuk mewartakan ke’tajiran’nya. Sampai akhirnya si pemilik status menyatakan bahwa itu hanya status main-main. Ternyata dia sedang mengikuti tantangan membuat status ’humblebrags’. Meninggikan diri dengan kemasan kalimat yang ’merendah’, itulah humblebrags. Saking seringnya menjumpai model yang seperti ini, sampai-sampai ada yang mendapat ide untuk melombakannya sebagai guyonan satire. Di pasar, di perkumpulan RT, di arena olah raga, di layar televisi, di lingkungan sekolah, di tempat kerja ... di mana ada orang berkumpul, di situ kita temui humblebrags. Ruang lingkup rohani pun tidak luput dari hal ini. Hati-hati dengan motivasi di balik setiap hal yang kita sampaikan. Baik lisan maupun tulisan. Sharing hal-hal rohani pun sangat bisa terpeleset menjadi ajang untuk mendulang pujian bagi diri sendiri. Ketika unsur SAYA menjadi dominan dan menggeser supremasi TUHAN ... berhati-hatilah.Jangan bosan berguru kepada Tuhan Yesus Kristus untuk belajar menjadi rendah hati. Selalu ingat untuk berhati-hati. Tuhan tidak menyukai kecongkakan dan tinggi hati. Dua hal yang menjadi jaminan bagi perilaku congkak dan tinggi hati adalah kehancuran dan kejatuhan. Tentu saja kita ingin menjauhinya keduanya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Langkah Orang Benar
31 Januari '18
Hambatan Menjadi Peluang
27 Januari '18
Mengenal Tuhan, Menanggalkan Kesombongan
16 Februari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang