SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 24 Januari 2020   -HARI INI-
  Kamis, 23 Januari 2020
  Rabu, 22 Januari 2020
  Selasa, 21 Januari 2020
  Senin, 20 Januari 2020
  Minggu, 19 Januari 2020
  Sabtu, 18 Januari 2020
POKOK RENUNGAN
Ternyata kondisi yang menyesakkan pun baik buat kita, agar kita belajar ketetapan-ketetapan Tuhan
DITULIS OLEH
Ibu Evylia H. Goenawan
Ibu Gembala
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Ketika Kita Tertindas
Ketika Kita Tertindas
Sabtu, 28 Desember 2019
Ketika Kita Tertindas
Mazmur 119 : 71-76

Akhir tahun 2019 sudah menghadang di depan mata. Dua belas bulan hampir genap terlampaui di tahun ini. Jika kita menoleh ke belakang, pengalaman-pengalaman apa sajakah yang paling menancap di benak kita? Apakah harapan-harapan yang mengembang di awal tahun 2019 telah terwujud di akhir tahun ini? Atau justru hal-hal tak diinginkan yang banyak terjadi?

Sebagaimana manusia pada umumnya, kita selalu mengharapkan hal-hal yang baik dan menyenangkan terjadi dalam hidup ini. Kita berdoa untuk kebahagiaan, kesehatan, kesejahteraan, perlindungan dan masih banyak lagi. Tetapi dalam perjalanan sepanjang dua belas bulan ini, pasti ada kalanya kita mengalami hal-hal yang tidak diinginkan, bahkan menyesakkan. Ada yang jatuh sakit, tertimpa musibah bencana alam, terbelit sengketa finansial, terlibat perseteruan tak terduga, terbebani masalah keluarga, dan lainnya. Sebagian orang tak habis pikir dan bertanya-tanya, “Mengapa???”

Firman Tuhan yang tertulis di dalam Mazmur 119:71 men...selengkapnya »
Natal, kelahiran Yesus Kristus di dunia adalah sebuah bentuk ketaatan Anak kepada Bapa-Nya. Allah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia dan menjadi sama dengan manusia, dalam rangka misi-Nya untuk menebus manusia dari dosa. Dia lahir di kandang ternak. Tidak memiliki tempat tinggal dan berkali-kali mendapat ancaman. Padahal dalam pelayanan-Nya banyak mujizat terjadi, orang lumpuh berjalan, buta melihat, tuli mendengar, mati dibangkitkan. Memberi kelegaan pada mereka yang letih lesu dan berbeban berat. Memberi makan kepada ribuan orang yang lapar. Dia tetap taat pada misi Allah ketika dipukul, diludahi, diberi mahkota duri, dicambuk dan sampai mati di kayu salib. Pada waktu malam saat gembala-gembala menjaga domba mereka di padang Efrata, datanglah sorang malaikat menemui mereka dan berkata :’Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Mendengar berita yang disertai dengan sejumlah besar memuji Allah : “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia”, mereka cepat-cepat berangkat ke Betlehem. Mereka harus mengatasi kesulitan dan masalah bila berangkat, gelap gulita, menggiring domba-domba di tengah malam. Suatu perkerjaan yang sulit, tetapi mereka taat untuk berjumpa dengan Sang Juru Selamat. Saat ini Yesus tidak lahir di kandang Betlehem, tetapi di hati kita. Bila Sang Firman itu ada dalam hidup kita, seharusnya kita taat melakukannya, Banyak tantangan dan kesulitan yang kita hadapi waktu kita melakukan Firman Tuhan, tetapi kesulitan yang kita hadapi tidak sebanding dengan penderitaan dan pengorbanan Yesus dalam menaati misi Allah. Marilah kita teladani gembala-gembala di Efrata yang tidak menunda waktu untuk merespons Firman Tuhan. Natal mengingatkan kita akan sebuah ketaatan.
Natal telah tiba, dunia menyambut gembira, pesta pora bersama. Adakah kita termasuk di dalamnya??? Pastinya tidak karena bagi kita umat percaya, Natal bukanlah pesta pora tetapi ucapan syukur karena Dia Sang putra Allah mau lahir untuk mati buat tebus dosa kita. Dan yang tidak boleh kita lupakan adalah kedatanganNya yang ke dua yang tak seorangpun tahu, malaikat-malaikat di Surga juga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa sendiri [Mat 24:36]. Dari Matius 25:1-13 kita membaca sebuah perumpamaan yang menceriterakan bagaimana persiapan yang dilakukan oleh gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis yang bodoh saat akan menyongsong mempelai laki-laki. Pada saat perumpamaan ini disampaikan, merupakan kebiasaan bagi seorang pengantin wanita Yahudi ditemani oleh sepuluh pengiring yang sepertinya adalah teman-teman dekat dan seumur dengan pengantin wanita. Juga merupakan adat kebiasaan, mempelai laki-laki datang malam hari dengan tidak ada kepastian jam/waktunya. Itulah sebabnya para gadis pengiring tentu harus membawa pelita saat menyongsong mempelai laki-laki. Karena jam/waktunya tidak diketahui seharusnya gadis-gadis pengiring membawa persediaan minyak. Ternyata yang membawa hanya 5 orang. Di akhir perumpamaan ini tragis bagi 5 gadis yang tidak membawa persediaan minyak dan mereka tidak diperkenankan masuk ruang pesta perkawinan. Bagaimana dengan diri kita ? Karena kedatangan-Nya yang kedua tidak bisa diprediksi, satu-satunya yang harus kita lakukan adalah selalu siap tidak boleh lengah walau sekejap. Mari kita bersikap bijaksana seperti lima gadis yang siap membawa minyak sehingga saat mempelai datang pelita masih bisa dinyalakan. Jangan sampai kita kehabisan minyak yaitu api Roh Kudus seperti lima gadis yang bodoh.Amin.
Ada banyak orang Kristen tidak tertarik dan ’merasa jengah’ jika mendengar khotbah tentang ketaatan. Karena banyak yang berpikir, ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan. Misal, tidak boleh ini tidak boleh itu, pantang melanggar, jika melanggar ada sanksi atau konsekuensinya yang akan di tanggungnya. Seperti tertulis: ’maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dengan pukulan-pukulan.[ayat 32]. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang lebih tertarik mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat dan sebagainya. Yang harus dipahami adalah bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mujizat adalah dampak atau upah ’bukan identik’ dari ketaatan seseorang dalam melakukan perintah Tuhan. Yang harus dipahami adalah ketaatan bukanlah sebatas larangan untuk melakukan sesuatu atau keharusan melakukan sesuatu. Tetapi merupakan keseluruhan gaya hidup yang semestinya dimiliki setiap orang percaya. Ketika ketaatan sudah menjadi gaya hidup dalam diri kita, maka melakukan ketetapan-ketetapan Tuhan bukan lagi menjadi suatu beban atau hal yang memberatkan. Melainkan menjadi sebuah kesukaan. Tuhan Yesus telah memberikan keteladanan dalam ketaatan-Nya kepada Bapa sebagai gaya hidup di sepanjang hidup-Nya. Hal itu tersirat dari pernyataan-Nya, ’Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.’ Perintah Tuhan bukan bertujuan untuk membebani, namun sesungguhnya untuk kebaikan kita. Tuhan menghendaki agar kita mengalami kebaikan, kasih setia, kebenaran, kemurahanNya. Sehingga rencana-Nya tergenapi, yaitu kehidupan berkelimpahan dan masa depan penuh harapan. Namun sayang, banyak orang memilih untuk tidak taat mengikuti jalan Tuhan. Padahal ’Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian dan peringatan-peringatan-Nya.’ [Mazmur 25:10]. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menjadikan ketetapan-ketetapan-Nya menjadi gaya hidup kita? Seharusnya !!??
Kemarin, Hari ini dan Esok Tuhan Menolong 1 Samuel 7:12 Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: ’Sampai di sini TUHAN menolong kita.’ Samuel mendirikan sebuah batu sebagai tugu peringatan bahwa sampai pada saat itu Tuhan sudah memberi pertolongan kepada bangsa Israel. Tugu peringatan itu berfungsi selain sebagai pengingat tentang apa yang sudah dialami pada masa lalu, tetapi juga penguat untuk menghadapi tantangan di hari esok. Ayat ini mengajarkan agar kita selalu mengingat pertolongan Tuhan. Jika kita mengingat akan pertolongan-Nya maka kita tidak akan mudah bimbang/ragu/takut dalam menghadapi kesulitan dan kesusahan di masa yang akan datang. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari, tetapi kita bisa mengingat apa yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidup kita. Tuhan tetap sama. Tuhan yang kemarin pernah menolong kita adalah Tuhan yang berjanji akan menolong kita kembali. Janji-Nya tidak berubah. Bagaimana agar kita mengalami pertolongan Tuhan pada saat kita memerlukannya? Ayat 3 mengatakan: ’Jika kamu berbalik kepada TUHAN dengan segenap hati, maka jauhkanlah para allah asing dan para Asytoret dari tengah-tengahmu dan tujukan hatimu kepada TUHAN dan beribadahlah hanya kepada-Nya; maka Ia akan melepaskan kamu dari tangan orang Filistin.’ Berbalik kepada Tuhan dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati adalah langkah pertama agar kita mengalami pertolongan Tuhan. Biasanya kalau dalam kondisi terjepit orang baru sadar bahwa dia butuh Tuhan. Tuhan hanya sebagai tambal butuh. Tetapi Tuhan tahu siapakah orang yang mencari Dia dengan sungguh-sungguh atau pura-pura. Orang yang sungguh-sungguh pasti akan meninggalkan jalan hidupnya yang salah. Ada yang harus kita singkirkan ketika kita mau berbalik kepada Tuhan. Hal-hal yang tidak berkenan di hadapan-Nya harus kita singkirkan. Langkah yang kedua agar mengalami pertolongan Tuhan adalah dengan berseru kepada-Nya sampai datang pertolongan dari Tuhan. Ayat 8 mengatakan: Lalu kata orang Israel kepada Samuel: ’Janganlah berhenti berseru bagi kami kepada TUHAN, Allah kita, supaya Ia menyelamatkan kami dari tangan orang Filistin itu.’ Jangan berhenti berseru kepada Tuhan, itulah kuncinya. Ketika situasi menjadi genting, umat Tuhan tidak lari, tapi mereka berseru kepada Tuhan, sampai Tuhan menolong mereka. Banyak orang berdoa minta pertolongan Tuhan, tapi hanya sekedar saja. Setelah sekali dua kali, lalu berhenti, karena pengharapannya kepada Tuhan tidak sungguh-sungguh. Sebentar lagi kita akan memasuki tahun 2020. Jangan lupakan pertolongan Tuhan, beribadahlah hanya kepada Tuhan, dan bertekunlah dalam doa, agar kita selalu mengalami penyertaan dan pertolongan-Nya. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
FOLLOW OUR INSTAGRAM
RENUNGAN HARIAN
Melayani Adalah Kegerakkan Yang Mengubahkan
31 Desember '19
Natal : Sebuah Ketaatan
26 Desember '19
Menyambut KedatanganNya
24 Desember '19
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang