SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 27 Mei 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 26 Mei 2018
  Jumat, 25 Mei 2018
  Kamis, 24 Mei 2018
  Rabu, 23 Mei 2018
  Selasa, 22 Mei 2018
  Senin, 21 Mei 2018
POKOK RENUNGAN
Hidup kita hendaknya menjadi hidup yang memuliakan Allah.
DITULIS OLEH
Pdt. Antonius Yulianto
Rohaniwan Pusat
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Keyakinan1
Keyakinan1
Kamis, 26 Oktober 2017
Keyakinan1
Roma 8:18
Beberapa tahun terakhir ini dunia dihebohkan dengan kemunculan “paham” dan tindakan ISIS/IS yang membuat banyak orang mengecam dan mengutuk mereka. Namun tidak sedikit juga orang yang mengikuti paham tersebut dan bergabung untuk melakukan tindakan-tindakan yang dianggap orang sebagai “teror”. Meskipun kelompok tersebut dipandang melakukan teror, tetapi mereka sendiri menanggapi hal itu sebagai tindakan berdasarkan keyakinan yang benar. Membunuh orang lain yang tidak sepaham, bahkan melakukan bom bunuh diri yang dipandang sebagai tindakan diluar “nalar”, namun faktanya yang menjadi pengikutnya bukanlah orang-orang yang berintelektual rendah. Apa yang dilakukan pengikut ISIS/IS ini karena keyakinan mereka, dan mereka bertindak. Bahkan sebuah majalah menuliskan bahwa orang-orang yang berpengaruh di dunia pemimpin IS adalah sebagai salah satu orang yang berpengaruh di dunia.

Keyakinan, menurut kamus bahasa Indonesia artinya kepercayaan dengan sungguh-sungguh. Bacaan Alkitab di atas menyatakan keyakinan Paulus tentang janji Allah, tentang kemuliaan yang akan diberikan bagi orang-orang yang percaya. Keyakinan ini membawa Paulus tidak memperdulikan segala tantangan dan masalah yang dihadapinya dalam perjalanan pengiringan dan pelayanannya kepada Allah sekal...selengkapnya »
Ketika tinggal di Bandung, ada sebuah tempat wisata kuliner di kawasan Lembang yang cukup menarik bagi saya. Bukan sekedar karena makanannya yang lezat menggoyang lidah, tetapi juga menyuguhkan suasana alami yang hening, fresh, dan berhawa sejuk. Di sana mata kita dimanjakan dengan hijaunya pepohonan, indahnya penataan saung-saung dan lampu-lampu obor. Ornamen-ornamen tradisional semakin menambah kentalnya suasana pedesaan nan asri. Konsep mendekatkan diri ke alam yang ditampilkan telah menarik banyak pengunjung sehingga menjadikan tempat itu sebagai salah satu tujuan favorit pecinta kuliner. Ya, di tengah-tengah hiruk pikuknya perkotaan, padatnya jadwal bisnis dan pekerjaan, bahkan permasalahan dan tekanan hidup, setiap orang mendambakan suasana yang tenang dan segar untuk meluruhkan segala kesesakan hidup; menemukan kelegaan bagi jiwa. Tidak heran jika tempat-tempat wisata yang berkonsep ‘back to nature’ [kembali ke alam] selalu dipenuhi pengunjung, khususnya di waktu liburan. Berbicara tentang kelegaan bagi jiwa, Daud telah menemukan tempat yang paling memberi ketenangan saat mengalami gundah gulana karena beratnya deraan pergumulan. Ada orang-orang yang merancangkan kejahatan kepadanya. Mereka berusaha menjatuhkan dan meremukkannya. Berusaha merebut kedudukannya. Fitnahan dan dusta disebar untuk merusak nama baiknya supaya Daud jatuh dan terhempas. Di depan Daud mereka tersenyum dan memberkati, tetapi hati mereka dipenuhi kutuk dan rencana jahat. Mereka bagai musuh dalam selimut. Daud merasa terancam; kehilangan rasa aman. Hatinya merasa tidak tenang. Dia membutuhkan ‘gunung batu’ tempat perlindungan yang aman. Dia membutuhkan ‘kota benteng’ tempat pertahanan yang tenang. Dia mendambakan keselamatan dalam kondisi kritis hidupnya. Ke mana Daud mencarinya? Pada siapa Daud menemukannya? Ya, dia mencari dan menemukan keselamatannya dalam Allah, sumber pengharapannya. Kepada-Nya, Daud mempercayakan hidupnya. Di dalam Dia, Daud mendapat perlindungan sehingga jiwanya tetap aman dan tenang. Oleh-Nya, Daud tetap kuat, tidak goyah meskipun diterpa badai nan menggelora. Saat jiwa kita mengalami gundah gulana; saat pikiran kita disesaki ketakutan dan kegetiran; saat hati kita resah penuh dengan ketidak tenangan; saat pandangan kita gelap pekat sepertinya tidak ada jalan selamat; saat hidup kita bagaikan telur di ujung tanduk dan nyaris jatuh remuk; Kepada siapa kita datang? Ke mana kita mencari perlindungan? Siapa yang kita percaya dan harapkan? Seharusnya jawabannya adalah Allah di dalam Yesus Kristus, dan bukan yang lain. Hanya Dia satu-satunya!
Hasil survey di tahun 2017, pengguna internet di Indonesia 132,7 juta jiwa dan 65% pengguna internet percaya mentah-mentah informasi dari dunia maya. Minimal 4-5 jam dalam sehari setiap pengguna internet aktif dalam media sosial. Kondisi tersebut menyebabkan berita bohong atau hoax yang dihembuskan oleh seseorang atau kelompok orang dengan cepat menyebar dari satu ke lain orang dan dari group yang satu ke yang lain seperti virus flu yang demikian cepat menjalar. Berita bohong membuat banyak orang hidup dalam keresahan, ketakutan, kekuatiran atau kemarahan. Apabila berita bohong menjadi viral maka sangat sulit ditangkal dengan berita yang benar. Ternyata penyebaran berita bohong sudah ada sejak jaman dulu. Setelah Yesus bangkit dan kubur-Nya kosong, dengan ketakutan para tentara penjaga kubur memberitahukan tentang kebangkitan-Nya kepada imam-imam kepala. Mereka menyuap dengan sejumlah besar uang dan memerintahkan para tentara untuk menyebarkan berita bohong bahwa Yesus dicuri oleh murid-murid-Nya pada waktu mereka sedang tidur. Setelah menerima uang itu mereka melakukan seperti apa yang diperintahkan oleh imam-imam dan berita itu menyebar di antara orang Yahudi sampai saat ini. Ketika murid-murid Yesus mendengar berita bohong itu mereka sangat ketakutan dan mengurung diri dalam sebuah rumah yang tertutup rapat dan terkunci. Di tengah ketakutan Yesus menampakkan diri kepada mereka dan berkata “Damai sejahtera bagi kamu” dan memberi Roh Kudus pada mereka agar mereka berani untuk menyebarkan berita yang benar tentang kebangkitan Yesus. Di tengah maraknya berita bohong atau hoax yang hampir setiap hari kita dengar atau baca apa yang akan kita perbuat ? Apakah kita tenggelam dalam kekuatiran, ketakutan, kemarahan ? Bila Roh Kudus Sang Penolong senantiasa ada dalam hidup kita maka hati kita akan penuh dengan damai sejahtera walaupun berita bohong itu meneror kita. Marilah kita senantiasa hidup dalam kebenaran sehingga Roh Kudus dan damai sejahtera-Nya tetap tinggal dalam hidup kita. Dengan demikian kita berani untuk senantiasa memberitakan kebenaran.
Dalam hidup ini pikiran seseorang akan menentukan perasaan dan kehendak serta perbuatannya. Contoh: pikiran yang penuh dengan kekuatiran akan diikuti perasaan takut/cemas dan berpengaruh terhadap tindakannya sehari-hari. Pikiran bahwa dirinya orang penting dan harus dihormati orang lain akan membawa perasaan tinggi hati dan berpengaruh terhadap sikap dan perilakunya. Amsal mengingatkan bahwa bahwa apa yang dipikirkan seseorang itu menentukan keberadaannya, “For as he thinks in his heart, so is he”, “you are what you think”. [Amsal 23:7] Demikian juga dalam kehidupan iman, pola pikir yang ada dalam diri anak Tuhan juga akan menentukan keberadaannya di hadapan Tuhan. Rasul Paulus menasihatkan supaya kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus [Pilipi 2:5]. Jadi pola pikir anak Tuhan harus seperti pola pikir Tuhan Yesus, yang dilandasi oleh kesediaan mengosongkan diri, merendahkan diri dan taat mutlak kepada Bapa. Yang diutamakan adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya [Yohanes 4:34]. Gaya hidup seperti ini yang rasul Paulus maksudkan dengan pola hidup yang berpadanan dengan Injil [Pilipi 1:27]. Injil adalah module khusus bagi anak Tuhan yang telah diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus. Jelas pola pikir dan gaya hidup deperti ini sangat berbeda sekali dengan yang dimiliki anak-anak dunia, seperti perbedaan antara gandum dan lalang. Untuk memiliki pola pikir seperti tersebut di atas tidak mudah, diperlukan pembaharuan pikiran setiap hari melalui pembelajaran kebenaran Injil yang murni oleh pertolongan Roh Kudus [Roma 12 : 2]. Sebagaimana rasul Petrus menyatakan bahwa pola pikir kita dikuduskan oleh ketaatan kepada kebenaran/Injil [I Petrus 1:22]. Akan dialami realitas bahwa seorang anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami “kesulitan untuk akrab” dengan orang-orang yang tidak mengenal/tidak peduli kebenaran, tidak takut dan tidak menghormati Tuhan dalam sikap hidupnya sehari-hari. Meskipun demikian, anak Tuhan dengan pola pikir Kristus tidak berarti hidupnya menjadi tidak wajar atau kehilangan “kemanusiaan”. Kita akan tetap masih menjalani hidup seperti manusia lain, dalam : bekerja, mencari nafkah, berkeluarga, menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan, mengembangkan dan menikmati kreasi seni, hobi, olah raga, rekreasi dll. Secara umum bisa dikatakan “tampak luar tetap sama, namun dalamnya [mind set] berbeda”. Anak Tuhan yang mengenakan pola pikir Kristus akan mengalami tidak merasa nyaman hidup di bumi [yang makin fasik, penuh ketragisan], makin menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya, makin kuat merasakan keberadaannya sebagai musafir, sehingga fokus hidupnya makin kuat ke Langit Baru dan Bumi Baru.
“Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” [Yohanes 21:11]. Apa maksud penyebutan angka ini? Jika maksudnya hanya sekedar memberi informasi, alangkah lebih sederhananya disebut “sangat banyak” atau “jala itu penuh”. Atau jika ingin menunjuk pada jumlah ikan yang didapat, lebih lazim disebut dengan satuan berat, seperti kilogram, gram, dsb. Lalu apa maksud dari penyebutan angka 153? Kalau dalam sebuah cerita dicantumkan suatu angka, maka angka itu biasanya ada fungsinya. Demikian juga halnya dengan angka 153 yang ditulis dalam kisah ini. Pada jaman itu, menurut Ilmu pengetahuan Yunani, jumlah jenis ikan yang diketahui berjumlah 153 macam. Karena itu para murid mengasosiasikan angka 153 ini dengan angka jumlah jenis ikan tersebut. Itulah jumlah jenis ikan yang mereka ketahui. Angka itu bagi mereka berarti: semua jenis ikan di dunia ini. Ketika dulu Yesus memanggil murid-murid-Nya, Ia berkata, ’Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.’ [Markus 1:17]. Dalam kisah ini, Yesus kembali menegaskan dan mengingatkan murid untuk tetap “menebarkan jala” dan “menjaring jiwa”. Pertemuan awal Yesus dengan para murid terjadi pada peristiwa “menjaring ikan”. Kini pun sesudah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, dengan peristiwa serupa yang mirip [lihat kejadian dan tempat dalam Yohanes 21:1-14] ingatan murid-murid kembali dibawa untuk mengigat kembali peristiwa tersebut sekaligus mempertegas dan memperjelas panggilan mereka untuk menjadi saksi bagi semua bangsa. Murid-murid menjaring 153 ikan, memiliki makna khusus yaitu perihal tugas bersaksi dan menjangkau jiwa bagi semua bangsa. Ajakan ini bukan terbatas bagi murid-murid yang hidup pada saat itu saja. Melainkan juga panggilan dan tugas kita sebagai murid Yesus di masa kini. Peristiwa pentakosta adalah peristiwa turunnya Roh Kudus bagi setiap orang percaya. Roh yang memberi kita rasa aman, keberanian dan kedamaian untuk kita terus bersaksi mewartakan berita tentag Kabar Sukacita di dalam Yesus Kristus.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Pesan Sang Kristus
05 Mei '18
Janganlah Hatimu Lamban
02 Mei '18
Efek Pentakosta
20 Mei '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang