SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Seperti batang bambu itu, marilah kita berkomitmen, ’Ini aku Tuhan, aku mau menjadi berkat bagi sesama, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki. Ini aku, utuslah aku.” [Yesaya 6:8]
DITULIS OLEH
Bp. Widodo Gunawan
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kisah Sebatang Bambu
Kisah Sebatang Bambu
Jumat, 06 Oktober 2017
Kisah Sebatang Bambu
Yesaya 64:8

Ada petani mempunyai pohon bambu. Ia berkata kepada batang bambu,’ Wahai bambu, maukah engkau kupakai menjadi pipa saluran air yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?’ Batang bambu, ’Pasti mau, tapi bagaimana caranya?’ Sang petani menjawab, ’Pertama, aku akan menebangmu. Lalu aku membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang. Lalu membelah-belah.Terakhir membuang sekat-sekat supaya air dapat mengalir mengairi sawahku sehingga padi tumbuh dengan subur.’

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam, dan kemudian berkata, ’Tuan, tentu aku akan sakit, sangat sakit dan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah aku, dan tak tertahankan ketika engkau membuang sekat-sekat. Apakah aku kuat, Tuan?’ Petani menjawab, ’Engkau pasti kuat. Karena aku memilihmu, justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi berserahlah dan percayalah.’ Batang bambu menyahut, ’Baiklah, Tuan. Aku ingin berguna. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.’

Sama seperti batang bambu itu, selama kita hidup, masalah terus datang silih berganti tak habis-habisnya...selengkapnya »
Nama bulan Januari diambil dari nama “Yanus” dewa pintu dalam mitologi Romawi kuno. Seorang dewa berwajah dua. Satu menghadap ke depan dan satunya ke belakang. Untuk menentukan mana yang depan atau belakang ditandai dengan wajah yang menghadap depan selalu tersenyum dan optimis sedangkan yang menghadap kebelakang selalu terlihat muram dan sedih. Itulah mengapa bulan pertama setiap tahun dinamakan dengan bulan Januari. Karena bulan ini bias dikatakan berwajah dua. Wajah yang satu menghadap ketahun sebelumnya dan lainnya ketahun berjalan. Setiap awal tahun orang-orang biasanya memiliki resolusi tahun baru yang didapatkan dari dualisme yaitu masa lampau dan masa mendatang [ dengan berpijak dari masa lampau akan meraih masa depan ]. Paulus mengatakan, tetapi yang aku lakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam KristusYesus. Dalam bulan Januari kita masih teringat dan sering tidak bisa melupakan peristiwa yang terjadi di tahun sebelumnya apalagi peristiwa yang sangat menyakitkan bagi kita. Kita akan bersikap seperi dewa Yanus yang selalu membawa kemurungan dalam dirinya bila kita tidak melupakan peristiwa dalam tahun yang lalu. Pandanglah ke depan dengan sukacita dan dengan semangat mengarahkan diri pada apa yang Tuhan telah tetapkan bagi kita. Keluarga, pekerjaan/usaha, pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita untuk dirawat dan dikembangkan merupakan tujuan kita. Ketika kita berlari ketujuan dan mengalami berbagai tantangan atau masalah, ingatlah bahwa kasih setia Tuhan tak ada habisnya, rachmat-Nya selalu baru setiap pagi.
Melihat Mbah Wanidy ketakutan luar biasa, Benay-tua sedikit meredupkan sorotan matanya. “Ada apa gerangan denganmu, pak tua? Mengapa engkau tampak ketakutan?” Dengan terbata-bata Mbah Wanidy coba mengatur nafas dan kata-katanya. “Kiii… kisanak…maaf…saya pikir An…anda adalah Benay….salah satu langganan warung saya. Wa..waaa..jah Anda miiii..mii..rip sekali dengannya.”Si Benay-tua pun tersenyum manis yang sesaat menyirnakan goresan keangkeran wajahnya. “O….begitu. Mbah tidak sepenuhnya salah”, ucapnya. “Lhoo…jadi Anda benar Benay?” tanya Mbah Wanidy penasaran. Benay-tua tertawa terbahak-bahak. “Bukan…bukan, saya bukan Benay! Saya kakak kandung Benay! Nama saya Rabenay.” Seketika itu juga hilanglah rasa takut Mbah Wanidy. Ia pun larut dalam gelak tawa meski harus berhati-hati agar gigi palsunya tidak copot. “O..saya baru tahu kalau Benay punya kakak kandung. Makanya kok wajah Mas Rabenay ini mirip sekali dengan Benay”, kata Mbah Wanidy. Rabenay tertawa ringan menanggapi keceriaan Mbah Wanidy. “Maaf lho Mas.. Saya sempat menduga Mas Rabenay itu dedengkotnya preman pelabuhan. Makanya tadi saya takut sekali.” “Ha..ha..ha..saya bukan preman. Saya kuli di pelabuhan Tanjung Mas ini”, kata Rabenay menjelaskan, “Memang dulu saya pernah bekerja di bidang jasa keamanan. Makanya masih tampak garang. Kalau Mbah butuh rasa aman, bisa sewa saya…ha..ha..ha..” Kemudian keduanya pun terlibat dalam percakapan yang akrab di tengah ramainya pelabuhan. Jemaat yang terkasih, kisah di atas menceritakan bagaimana Mbah Wanidy salah dalam menilai Rabenay. Salah dinilai seperti ini pernah dialami Yesus Kristus juga. Mendengar pengajaran-Nya yang penuh hikmat, menyaksikan perbuatan kasih-Nya yang berkeadilan bagi orang-orang terpinggirkan, dan melihat mujizat-Nya yang dahsyat, membuat beberapa orang menduga bahwa Tuhan Yesus kerasukan setan. Bahkan saudara-saudara-Nya pun menganggap Dia sudah tidak waras. Kesalahan menilai bukanlah kesalahan yang ringan. Kesalahan ini bisa berakibat fatal berupa sikap membenci dan berujung pada pembunuhan. Dan bukankah itu juga yang dialami oleh Tuhan kita? Tuhan dibenci kaum elit rohaniwan Bait Allah [Saduki]. Yesus dibenci para pengajar Taurat yang merakyat [Farisi]. Kristus dibenci pemangku kekuasaan politik-ekonomi [Herodes]. Dan bukankah kebencian para pemegang otoritas agama dan politik itu pula yang mengantar-Nya pada kematian di kayu salib? Dan bukankah pula sejak kelahiran-Nya, Dia sudah diburu oleh Herodes? Semua itu berujung pangkal dari salah menilai. Jemaat yang dikasihi Tuhan, menilai orang lain adalah bagian dari kehidupan kita. Namun janganlah sembarangan dalam memberikan penilaian, apalagi penghakiman pada orang lain. Kita perlu mengetahui dan memahami pikiran, sikap dan tindakan orang itu dengan sebenar-benarnya terlebih dahulu. Hanya dengan cara demikian penilaian atau penghakiman kita akan lebih adil. Terpujilah Tuhan!
Bangsa Indonesia akan menjalani “tahun yang sibuk” di sepanjang tahun ini hingga tahun 2019 nanti. Indonesia akan menyelenggatakan “hajatan politik dan pesta demokrasi” besar. Paling tidak hingga tahun depan, yaitu pemilihan kepala daerah secara serentak di beberapa daerah di tahun 2018. Dan pemilihan legislatif dan pemilihan Presiden di tahun 2019. Jika kita berbicara tentang “hajatan politik”, maka ada fenomena yang selalu menyertainya. Apa itu? Politikus dadakan mulai bermunculan. Mulai dari hanya sekedar menjadi pengamat dan memprediksi perkembangan politik, hingga merapatkan diri ke parpol untuk dapat tampil menjadi politikus yang layak untuk maju dalam pemilihan. Kita semua tidak tahu, apakah semuanya itu dilandasi dengan sebuah motivasi yang benar atau hanya sekedar ingin tenar. Fenomena di atas seolah-olah juga mewabah hingga ke gereja. Tidak sedikit kita melihat fenomena, orang-orang yang “katanya” ingin terjun dalam hal kerohanian karena panggilan Tuhan. Mulai dari menjadi pelayan mimbar, menjadi hamba Tuhan ataupun menjadi pemberita Injil, namun ujung-ujungnya ternyata hanya untuk popularitas dan kenyamanan diri. Semuanya itu akan teruji dengan waktu apakah motivasi yang dibawa adalah benar, atau hanya sekedar kamuflase kebohongan belaka. Sebagai utusan Allah yang dipercaya untuk memberitakan Injil, Rasul Paulus menyampaikan pengajaran dengan motivasi yang benar. Pengajaran yang disampaikannya bukan untuk menyenangkan hati manusia, melainkan menyenangkan hati Allah. Paulus tidak mengajar dengan perkataan yang manis. Paulus juga tidak mengajar untuk mendapatkan uang atau mencari pujian dari manusia. Paulus memberitakan Injil dan menjalankan panggilan pelayanan-Nya semua dengan motivasi yang benar dan bukan untuk keuntungan diri semata. Namun sayangnya, masih banyak orang Kristen yang takut menyatakan kebenaran. Mereka lebih memilih menyenangkan orang, agar keberadaannya diterima, dan mencari sanjungan orang lain. Berkata-kata dengan manis, namun tujuannya melenceng, supaya diri pribadi terus dipercaya tampil di depan umum, supaya diri pribadi nyaman, dan sebagainya. Jangan sampai kita lupa bahwa hidup ini adalah milik Allah dan harus dipersembahkan bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dengan murni, tanpa tipu daya atau motivasi yang terselubung. Ingatlah selalu, manusia mungkin dapat kita bohongi dengan penampilan manis kita, namun Tuhan tidak dapat dibohongi dengan semuanya itu. Jadilah murid Kristus yang mempunyai motivasi yang tulus dan benar di hadapan Allah. Jadilah pewarta kebenaran Firman yang tulus dan benar.
Berlutut di hadapan Tuhan tidaklah hanya berbicara tentang sikap doa, tetapi juga sikap hati di mana kita mencari Tuhan. Doa adalah hal yang dapat dilakukan oleh siapapun juga, dan mengandung kuasa yang besar. Charles Stanley dalam bukunya ’Landmines in The Path of the Believer’ [Ranjau yang tersembunyi di balik jalan orang percaya] menyatakan, ’Kita berdiri makin tinggi dan kuat di atas lutut kita.’ Buku tersebut menceritakan tentang keadaan di mana dia mengalami saat-saat yang begitu gelap dan putus asa, dia terbangun di tengah malam dan duduk di sisi tempat tidurnya dan berdoa. Ia menyerukan seluruh persoalannya kepada Tuhan, dan kemudian meminta Tuhan menolong dia untuk dapat tidur kembali. Pada saat ia terombang-ambing dan putus asa, dia belajar satu hal yang sangat penting yaitu, ’Jika saya tetap fokus pada Tuhan, saya akan memperoleh pertolongan, kekuatan dan kemenangan untuk melewatinya, sekalipun dunia di sekeliling saya nampaknya akan runtuh’. Doa akan menolong kita fokus pada Tuhan. Malas berdoa membuat kita terfokus pada keadaan kita. Seperti yang Yesus nyatakan, ’Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan. Roh memang penurut tetapi daging lemah.’ Kekuatan kita terletak di dalam doa, tetapi banyak kali kita mengabaikan doa. Kita memiliki banyak waktu untuk mendengar khotbah-khotbah, seminar-seminar, bahkan kesaksian-kesaksian tentang pentingnya doa. Namun kita tidak memiliki waktu untuk dapat berdoa. Bila kita menabung waktu dalam doa, maka kita sedang menanamkan kuasa yang besar dalam hidup ini. Sesungguhnya yang menjadi persoalan bagi orang percaya bukanlah karena kekurangan pengetahuan tentang doa, tetapi karena sikap malas berdoa. Bagaimana kita dapat membuang sikap malas berdoa? Dengan mengaku di hadapan Tuhan akan kemalasan kita dan meminta kepada Tuhan agar memberikan hati dan jiwa yang haus kepada Tuhan. Kesibukan dalam kehidupan telah membuat kita mengabaikan doa. Kita kehilangan poin penting dari kehidupan kekristenan, dan menempatkannya pada urutan ke sekian. Sadarilah bahwa doa menjadi basis utama dan segala berkat-berkat Tuhan yang telah disediakan-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Datang Kepada Yesus
13 Januari '18
Waspada Terhadap Pengaruh Gairah Zaman
19 Januari '18
Harapan Itu Masih Ada
20 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang