SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Seperti batang bambu itu, marilah kita berkomitmen, ’Ini aku Tuhan, aku mau menjadi berkat bagi sesama, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki. Ini aku, utuslah aku.” [Yesaya 6:8]
DITULIS OLEH
Bp. Widodo Gunawan
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kisah Sebatang Bambu
Kisah Sebatang Bambu
Jumat, 06 Oktober 2017
Kisah Sebatang Bambu
Yesaya 64:8

Ada petani mempunyai pohon bambu. Ia berkata kepada batang bambu,’ Wahai bambu, maukah engkau kupakai menjadi pipa saluran air yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?’ Batang bambu, ’Pasti mau, tapi bagaimana caranya?’ Sang petani menjawab, ’Pertama, aku akan menebangmu. Lalu aku membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang. Lalu membelah-belah.Terakhir membuang sekat-sekat supaya air dapat mengalir mengairi sawahku sehingga padi tumbuh dengan subur.’

Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam, dan kemudian berkata, ’Tuan, tentu aku akan sakit, sangat sakit dan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah aku, dan tak tertahankan ketika engkau membuang sekat-sekat. Apakah aku kuat, Tuan?’ Petani menjawab, ’Engkau pasti kuat. Karena aku memilihmu, justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi berserahlah dan percayalah.’ Batang bambu menyahut, ’Baiklah, Tuan. Aku ingin berguna. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang kau kehendaki.’

Sama seperti batang bambu itu, selama kita hidup, masalah terus datang silih berganti tak habis-habisnya...selengkapnya »
Setiap tanggal 1 April, sebagian orang merayakan April Mop. Di hari itu mereka diperbolehkan melakukan kebohongan, kesaksian palsu atau lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. April Mop atau April Fools’ Day tentu berbeda dengan hoaks. April Mop ditandai dengan aksi tipu-menipu dan candaan terhadap orang lain, sedangkan hoaks [pemberitaanpalsu] adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Dusta Mahkamah Agama bukanlah sejenis April Mop, tetapi adalah hoaks. Dikisahkan oleh Matius, selagi para wanita pergi memberitahukan kabar kebangkitan kepada murid-murid, para serdadu justru pergi kepada imam-imam kepala untuk melaporkan kabar yang sama yang akan membuat mereka kehilangan muka dan terancam karier mereka sebagai tentara. Mereka memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Mereka menceritakan tentang gempa bumi, turunnya malaikat, penggulingan batu besar dari pintu kubur dan keluarnya Yesus dalam keadaan hidup. Itulah arti dari “segala yang terjad itu”. Sebagai saksi mata peristiwa kebangkitan Yesus, seharusnya mereka menjadi percaya kepada Kristus dan menyesali perbuatan mereka yang telah membunuh-Nya. Tetapi mereka lebih memilih setuju memutar balikkan kebenaran dengan berita hoaks yang menyatakan bahwa jenazah Yesus telah dicuri para murid. Semua itu mereka lakukan untuk menutupi rasa malu, menyelamatkan karier, membenarkan tindakan mereka yang telah membunuh Yesus. Tidak sedikit orang yang berusaha menutupi bahkan memutarbalikkan kebenaran untuk menyelamatkan kepentingan dan diri mereka. Orang-orang seperti ini tidak akan segan-segan menggadaikan kebenaran untuk meraih apa yang mereka inginkan. Coba bayangkan, kebohongan yang dibuat oleh para imam kepala telah dianggap sesuatu yang benar oleh masyarakat Yahudi. Mereka lebih memilih mempercayai hoaks dari pada fakta kebangkitan Yesus. Para serdadu dan imam-imam kepala bukan hanya melakukan kebohongan, tetapi mereka telah merintangi orang lain untuk menemukan kebenaran dan untuk percaya kepada berita kebangkitan yang berkuasa menyelamatkan. Bukankah itu sebuah kejahatan yang besar? Itu yang sering terjadi akhir-akhir ini. Banyak orang yang dengan sengaja membuat berita bohong [hoaks] untuk membangun opini yang menguntungkan kepentingannya, meningkatkan citra dirinya [pencitraan], menjatuhkan dan menghancurkan nama baik lawannya, dsb. Sebagai orang percaya yang telah menemukan kebenaran, jangan kita melakukan hal yang sama. Jangan pernah berpikir bahwa kebohongan itu suatu kejahatan yang kecil. Itu adalah kejahatan yang besar karena tindakan itu berpotensi menghalangi orang lain menemukan kebenaran.
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
Sahabat adalah seorang yang menemani dikala orang lain meninggalkan kita seorang diri. Tidak hanya hadir pada waktu sukacita melainkan juga pada waktu susah dan terpuruk. Didasari oleh kasih yang tulus ia akan berada disisi kita dalam segala keadaan dan mau menerima apapun keberadaan kita. Akan selalu siap untuk ditegur dan dikoreksi demi kebaikan bersama. Akan menjaga rahasia dan tidak akan melanggar untuk kepentingan sendiri. Komitmen untuk melakukan apa yang menjadi kesepakatan bersama apapun yang terjadi. Kasih seorang sahabat tidak lekang oleh waktu. Itulah pernyataan Walter Winchell seorang komentator radio di Amerika tentang sahabat. Yesus adalah sahabat yang sejati yang dengan kasih rela memberikannyawa-Nya untuk sahabat-sahabat-Nya. Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih Yesus. Yang disebut sebagai sahabat-Nya ialah mereka yang melakukan perintah-Nya. Kendati taat melakukan perintah tidak disebut sebagai hamba tetapi sahabat karena diberitahukan segala sesuatu yang dari Bapa. Dia sendiri yang memilih siapa yang menjadi sahabat-Nya dan yang terpilih harus menghasilkan buah. Semua sahabat-Nya harus mengasihi sesama seperti kasih-Nya pada manusia. Kita bersyukur telah dipilih menjadi sahabat-Nya dan seyogyanya kita berperilaku sebagai sahabat yang sejati kepada-Nya. Kita berkomitmen untuk taat pada perintah-Nya dan tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggarnya. Kita rela untuk menerima teguran atau koreksi bila suatu saat kita khilaf meskipun setiap teguran akan mendatangkan ketidak nyamanan. Ketika harus melewati masa sukar atau penderitaan kita akan tetap setia kepada-Nya dan tidak berpaling kepada yang lain. Kasih kita kepada-Nya tidak lekang oleh waktu dan senantiasa akan kita ceritakan kepada semua orang betapa besar kasih karunia Sahabat sejati kita.
Mengikuti jejak Yesus 1 Petrus 2:21, 23 [21] Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. [23] Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Saat ini kita hidup di tengah zaman dimana orang suka saling mencaci maki. Melalui media sosial orang saling mengungkapkan kebenciannya. Dalam dunia nyata juga orang saling mencaci maki. Caci maki dibalas dengan caci maki. Bahkan para tokoh dan pejabatpun, yang seharusnya menjadi panutan buat masyarakat, saling mencaci maki. Kehidupan menjadi bising dan tidak nyaman karena penuh dengan ungkapan kebencian, hujatan, dan makian. Hidup di tengah zaman seperti ini bagaimanakah kita menyikapinya? Kristus telah memberikan suatu teladan bagi kita. Ketika Dia diperlakukan dengan kejam, dibully, dihina, disiksa, disakiti, Dia tidak membalas. Dia menanggung semua itu dengan sikap rela. Dia sadar akan apa yang sedang Dia lakukan. Dia sedang menjalankan sebuah pekerjaan penebusan. Dia sedang menanggung penderitaan bagi banyak orang, termasuk saudara dan saya. Dia tahu bahwa apa yang Dia kerjakan akan mendatangkan keselamatan dan kesembuhan bagi banyak orang. Karena itu Dia tidak mau membalas perlakuan orang atas diri-Nya. Kadang kita ketemu dengan orang yang egois dan tidak mau tahu perasaan orang lain. Orang itu melakukan hal-hal yang menyakitkan. Bagaimana kita meresponnya? Kecenderungan manusiawi kita tentu saja adalah membalas. Tindakan membalas tidak menyelesaikan persoalan. Tindakan membalas akan menghasilkan tindakan membalas juga. Balas membalas. Tindakan balas membalas apapun bentuknya, entah pertengkaran, pertikaian, percekcokan, maupun peperangan, akan berujung pada kehancuran di kedua belah pihak. Pertengkaran selalu menyisakan kebencian dan sakit hati yang semakin dalam. Apalagi peperangan mengakibatkan hancurnya peradaban. Tuhan Yesus memberikan sebuah teladan cara mengatasi tindakan kebencian, yaitu dengan memberikan pengampunan. Pengampunan adalah suatu cara yang ampuh untuk mematahkan kebencian. Di Minggu Paskah ini marilah kita belajar mengikuti jejak Yesus. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Jadilah Sahabat Yang Jadi Berkat
21 Maret '18
Sudah Selesai
28 Maret '18
Pergunakanlah Waktu Yang Tersisa
24 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang