SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. [2 Timotius 4:2]
DITULIS OLEH
Pnt. Andreas Haryanto
Penatua
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Kuasai Diri
Kuasai Diri
Rabu, 01 November 2017
Kuasai Diri
2 Timotius 4:2-5
Petrus dan Yohanes ditangkap dan dihadapkan ke Mahkamah Agama. Setelah berdebat, Mahkamah Agama melarang rasul-rasul itu untuk mengajar dalam nama Yesus. Mereka menolak larangan itu dengan mengatakan bahwa mereka lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Di hadapan Mahkamah Agama, mereka mengatakan bahwa Allah telah meninggikan Yesus Kristus yang telah disalibkan dan menjadi Juruselamat supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Anggota Mahkamah Agama marah, mereka disesah sebelum dilepaskan. Mereka menguasai diri untuk bertahan dalam penderitaan dan menganggap penderitaan itu layak mereka terima oleh karena nama Yesus.

Paulus memberi nasihat kepada Timotius untuk menguasai diri dalam segala hal sehingga sabar menderita pada waktu menjadi pemberita Injil dan menunaikan pelayanan. Orang tidak lagi dapat menerima ajaran sehat dan kesukaannya mengundang guru-guru sesuai kehendaknya untuk memuaskan telinganya. Dalam situasi seperti itu yang walaupun tidak baik waktunya, tetaplah memberitakan Firman. Nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Saat ini sangat sulit untuk mengajak orang untuk mengen...selengkapnya »
Seorang guru bijak mendatangi muridnya yang tampak murung. ’Kenapa kau murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini?’ sang guru bertanya. ’Guru hidupku penuh masalah. Sulit bagiku untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya.’ jawab sang murid. Sang guru tersenyum. ’Nak, ambillah segelas air dan dua genggam garam, bawalah kemari.’ Si muridpun beranjak pelan tanpa semangat, mengambil gelas dan garam yang diminta gurunya. ’Coba ambil segenggam garam dan masukkan ke gelas air itu’, kata gurunya. ’Sekarang kau minum airnya sedikit.’ Si muridpun melakukannya. Wajahnya meringis karena minum air asin. ’Bagaimana rasanya?’ tanya sang guru. ’Asin sekali dan perutku jadi mual.’ jawab sang murid. ’Sekarang kau ikut aku.’ Sang guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat pondokan mereka. ’Ambil garam yang tersisa dan tebarkan ke danau.’ Si murid menebar garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. ’Sekarang coba kau minum air danau itu.’ kata sang guru. Si murid menangkupkan kedua tangannya mengambil air danau, dan membawa ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di kerongkongannya, sang guru bertanya kepadanya. ’Bagaimana rasanya?’ ’Segar sekali.’ kata si murid. ’Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?’ ’Tidak sama sekali’ kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas. ’Nak.’ kata sang guru setelah muridnya selesai minum. ’Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah diketahui oleh Tuhan, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia inipun demikian. Tidak ada satupun manusia, walau dia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah. Rasa ’asin’ dari penderitaan yang kita alami itu sangat tergantung dari besarnya hati yang menampungnya. Jadi nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan hati dalam dadamu itu sebesar danau.’ Si murid terdiam mendengarkan. Milikilah hati yang lapang, hati yang penuh dengan ucapan syukur dan yang sanggup menampung setiap perkara yang terjadi dalam hidup kita.
Dalam sebuah cerita ilustrasi di dalam kelas, seorang guru mulai bercerita tentang kehidupan seekor Koala. Koala ini sedang belajar melakukan yang terbaik atas apa yang diperbuatnya. Pertama-tama, ketika masih kecil, seekor Koala belajar untuk melompat, lari, dan bahkan bernyanyi. Ia terus mencoba sampai bisa. Setelah itu ia juga mencoba sesuatu yang baru, mungkin banyak waktu yang diperlukan untuk mampu melakukannya. Namun ia tetap mencoba dan belajar melakukan sesuatu yang terbaik. Bahkan ia melatih dirinya sampai ia mampu menguasainya. Ia selalu mencoba lakukan yang terbaik dengan bekerja keras. Apa yang ia telah mulai, ia berusaha untuk tetap menyelesaikan meskipun kadang tidak menyenangkan. Prinsip yang dimiliki seekor Koala ini adalah tetap melakukan yang terbaik dari setiap kegiatan yang dilakukannya. Kitab Amsal 14 merupakan salah satu bagian dari kitab Amsal yang berisikan ucapan-ucapan bijak atau yang sering kita sebut hikmat. Hikmat adalah pengetahuan dan pengertian akan apa yang benar, adil, tulus, dan jujur yang tentunya berasal dari Tuhan dan bersumber kepada Tuhan. Khusus di ayat 23, yaitu dalam tiap jerih payah ada keuntungan. Setiap manusia yang hidup pasti tidak pernah terlewatkan dari sebuah kegiatan. Baik dalam pendidikan, pekerjaan, dan pelayanan. Semua itu membutuhkan tenaga, pemikiran, dan kerja keras. Ayat ini mengingatkan bahwa setiap jerih lelah yang dilakukan akan mendatangkan keuntungan. Bukankan tahun ini target jemaat Tuhan adalah melakukan yang terbaik untuk keselamatan jiwa-jiwa? Itu berarti ada sesuatu yang harus dikerjakan, ada hal-hal yang harus diupayakan supaya dapat terpenuhi. Dari apa yang akan kita kerjakan tersebut membutuhkan yang namanya jerih lelah, butuh pengorbanan dan butuh tindakan. Melakukan yang terbaik tidak bisa hanya berdiam diri, melainkan harus berjerih lelah untuk menjangkau jiwa-jiwa bagi Tuhan. Dan pastinya dalam berjerih payah itu, butuh hikmat dari Tuhan. Saudara terkasih, kita telah dipanggil Allah untuk turut bekerja dalam ladang pelayanan di dunia ini. Kita dipanggil untuk melakukan perintah Allah, yaitu mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kita juga alat kepanjangan tangan Tuhan untuk memberitakan Injil Tuhan. Oleh sebab itu, mari belajar melakukan yang terbaik dari setiap bagian kehidupan kita untuk menghasilkan buah yang berdampak bagi sesama. Bahkan sampai mendatangkan keuntungan bagi kemuliaan nama Tuhan.
Mengapa Tuhan Yesus tidak langsung naik ke Surga ? Mengapa harus menunggu di bumi selama 40 hari ? Salah satu alasannya adalah membuktikan bahwa Tuhan Yesus benar-benar bangkit dan hidup [Kis 1:3]. Berulangkali Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Sehingga mereka benar-benar percaya sepenuh hati dan tidak meragukan kebangkitan-Nya. Soren Kierkegaard membagi prilaku manusia ke dalam 3 tingkatan. Pertama, Aesthetic yaitu orang yang melakukan sesuatu hal berdasarkan apa yang dia suka. Tingkat ini bicara soal perasaan nyaman. Kedua, rasional yaitu menilai sesuatu berdasarkan masuk akal atau tidak, benar atau salah. Sesuatu akan dilakukan kalau masuk akal dan benar. Ketiga, iman kehendak Tuhan yang menjadi prioritas. Merasa nyaman itu perlu, bertindak rasional juga dibutuhkan. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu kehendak Tuhan. Tomas adalah salah satu murid Yesus yang sulit percaya karena ia tidak melihat sendiri kebangkitan Yesus. Mungkin Tomas sangat kecewa. Perasaannya tergoncang melihat melihat Yesus di tangkap, diadili, disiksa, digantung di kayu salib sampai mati. Tomas berpikir dengan logikanya sendiri, sehingga dia menolak saat murid-murid lain memberi kesaksian bahwa mereka melihat Yesus bangkit. Banyak peristiwa dalam hidup kita yang bisa menggoncang perasaan. Kita bisa hilang pengharapan. Pikiran tidak mampu melihat kemungkinan-kemungkinan yang dapat Allah lakukan. Ketika dukacita, masalah berat menimpa, kita bersikap dan bertindak sebatas perasaan dan logika saja. Tuhan Yesus menegur Tomas: “Berbahagialah orang yang tidak melihat tetapi percaya.” Kita harus memiliki sikap berdasarkan pertimbangan iman. Iman melampaui perasaan dan logika manusia karena iman bersumber dari Firman Tuhan, Dengan iman yang teguh kita akan menjadi orang yang berbahagia.
Banyak tokoh di dunia ini terus menginspirasi masyarakat luas untuk jangka waktu yang cukup lama. Di antaranya Martin Luther King, Jr., yang berjuang melawan diskriminasi ras di Amerika Serikat, Mother Theresa, yang rela terjun langsung ke lapangan untuk merawat orang sakit di India, William Wilberforce, yang berjuang menghapus perbudakan di Inggris, Romo Mangun yang berjuang di Yogyakarta, untuk merubah kondisi masyarakat di Kali Code, dan masih banyak lagi tokoh lainnya. Apakah kunci keberhasilan mereka? Mereka terus menjagai komitmen yang telah dibuat. Walaupun harus mengalami masa-masa berat, mereka pantang menyerah sehingga mencapai akhir perjuangan. Alkitab juga mencatat tokoh-tokoh yang menjaga komitmen hingga akhir. Contohnya Paulus. Setelah bertobat, ia memberitakan Injil, terutama kepada bangsa bukan Yahudi. Hal ini bukan perkara yang mudah. Begitu banyak tantangan berat menghampirinya, dari kaum Yahudi, dari orang-orang bukan Yahudi, dari alam [2 Korintus 11:23-33], bahkan dari penyakit tubuhnya [2 Korintus 12:7,8]. Namun, ia tetap dapat menjaga komitmennya. Rahasianya? Dari waktu ke waktu ia menjalani pertandingan iman dengan selalu melupakan apa yang di belakang [dalam bahasa Yunani kata ’melupakan’ di sini tidak sama seperti kalau kita lupa sesuatu. Kata ini lebih berarti tidak berfokus ke masa lalu, tetapi kepada tujuan, visi hidup di depan] dan mengarahkan diri pada tujuan hidupnya, yakni memenuhi panggilan Tuhan [Filipi 3:13,14]. Apakah berbagai tantangan juga terus menghantam kita, sehingga kita sulit menjaga komitmen? Seperti Paulus, kita ini hamba yang dituntut untuk taat, maka mintalah kekuatan dari Tuhan. Seperti Paulus, kita ini hamba yang Tuhan pilih dan layakkan untuk menjadi saksi-Nya, maka ingatlah pentingnya tugas yang harus terus kita kerjakan. Sebab hanya dengan kekuatan yang datangnya dari Tuhan sajalah kita dimampukan untuk tetap setia dan tetap berkomitmen untuk mengikut dan melayani-Nya.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kebaikan Yang Terbalik
16 April '18
Memuliakan Tuhan
04 April '18
Melakukan Yang Terbaik
23 Maret '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang