SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
“Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” [1 Yohanes 3:16].
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Lahir Untuk Peduli
Lahir Untuk Peduli
Sabtu, 06 Januari 2018
Lahir Untuk Peduli
Matius 20:27-28; Lukas 9:10-11

Ungkapan ini tepat sekali dikenakan pada Tuhan Yesus. Dia peduli kepada manusia yang telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang terhilang tanpa pengharapan ditemukan kembali oleh Penciptanya, untuk mewarisi Kerajaan-Nya. Kita sebagai umat tebusan-Nya harus menjadikan ungkapan ini tidak sekedar slogan saja, tetapi suatu tema kehidupan yang di praktikkan. Tuhan Yesus datang bukan untuk dilayani tetapi untuk melayani, bukan untuk dipedulikan tapi mempedulikan [Matius 20:27-28]. Sesungguhnya untuk mengaplikasikan ungkapan ini secara benar, diperlukan pertaruhan yang sangat mahal, yaitu segenap hidup kita.

Kepedulian terhadap sesama harus lahir dari kerelaan memberi diri, dan hanya kita sendiri yang bisa menggairahkannya sesuai dengan kehendak bebas yang sudah Tuhan karuniakan. Dalam kisah orang Samaria yang baik hati, kepedulian yang dimiliki oleh orang Samaria lahir dari kesadaran diri yang murni/tulus, suatu kepedulian tanpa pamrih [Lukas 10:30-37]. Imam dan Lewi dalam kisah tersebut tentuya sudah memahami tentang kepedulian terhadap sesama, tetapi mereka tidak memiliki hati untuk orang lain.
...selengkapnya »
Sebuah penggalan lirik lagu yang berbunyi “kita dipilih dari segala bangsa, kita dipilih jadi umat-Nya, kita dipilih dan dikuduskan-Nya, membawa kemuliaan hanya bagi Dia”. Lirik dari lagu ini tegas mengatakan bahwa kita sebagai orang-orang yang menjadi umat Allah yang dikuduskanNya dari keadaan yang semula tidak kudus menjadi kudus oleh karena Dia, dan kita memiliki tugas yaitu untuk menjadi alat bagi kemuliaan-Nya. Tuhan memiliki tujuan bagi setiap kita, umat yang dikasihi-Nya. Sebuah hal yang luar biasa bagi kita yang pada dasarnya adalah manusia yang berdosa. Namun, oleh karena kasih karunia Allah kita memperoleh pengampunan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Karena Allah sendiri yang telah memilih kita untuk menjadi umat-Nya maka dari itu kita perlu meresponi panggilan tersebut dengan benar. Hidup benar dan kudus di hadapan Tuhan sebagai wujud dari rasa syukur kita kepada Allah dan juga sebagai wujud bakti kita kepada-Nya. Dalam kitab Imamat 20:26 dikatakan bahwa Tuhan adalah kudus dan kita juga haruslah kudus, karena Ia telah memisahkan dan memilih kita sebagai umat kepunyaan-Nya. Maka sangat jelas bagi kita untuk hidup kudus sesuai dengan Firman-Nya. Hidup kudus berarti menjaga hidup kita untuk tetap lurus berjalan dalam kebenaran Firman Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dan dengan demikin kita yang telah dikuduskan oleh karena Dia, dapat membawa terang kemuliaan Allah untuk kita tunjukan kepada dunia ini supaya menjadi berkat bagi orang-orang yang belum percaya kepada-Nya. Jemaat Tuhan yang terkasih, marilah kita menjadi umat Tuhan yang membawa terang kemuliaan-Nya melalui apa yang ada pada diri kita melalui sikap hidup kita. Dengan hidup lurus sesuai dengan firman-Nya, maka dengan itu pula nama Tuhan semakin dipermuliakan. Jika kita telah dipilih menjadi umat pilihan-Nya, maka kita juga memiliki tugas tanggung jawab untuk mempermuliaakan Tuhan.
“ Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu” Seandainya Tuhan menyampaikan kalimat itu kepada kita, kira-kira apa yang akan kita minta ya.? Tentu kita akan minta kesehatan dan umur panjang, atau berkat yang melimpah, keluarga yang diberkati dan rukun, suami/istri dan anak-anak yang cinta Tuhan, financial yang cukup, hutang-hutang lunas semua, bisnis yang lancar jaya dan masih banyak lagi daftar yang akan kita sodorkan. Itu logis dan manusiawi, karena kita memang memerlukan semua itu dalam kehidupan kita. Tapi coba kita lihat apa jawab Salomo, ketika kalimat itu disampaikan Tuhan kepadanya dalam kitab 1 Raja 3:5. “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara….” [1 Raja 3:9]. Ternyata bukan umur panjang dan kekayaan yang diminta oleh Salomo, tetapi hikmat dalam menimbang perkara. Salomo tidak meminta sesuatu yang hanya berfokus kepada kehidupan pribadinya saja [ kesehatan, umur panjang, berkat, kekayaan dll ] tetapi lebih memilih permintaan yang berkwalitas, yaitu permintaan yang menambah value atau nilai dalam kepribadian nya. Hikmat, kesabaran, pengendalian diri, kerendahan hati, hati yang dipenuhi Kasih, kemurahan, adalah beberapa contoh permintaan yang berkualitas, karena bukan saja pribadi kita yang akan merasakan, tapi orang-orang disekitar kitapun akan menerima dampaknya, ketika itu semua diberikan Tuhan kepada kita. Ketika Salomo meminta hikmat kepadaNya, Tuhan memberikan banyak masalah/persoalan dalam kehidupan Salomo supaya Salomo bisa mempraktek kan apa yang sudah dimintanya. Begitupun bagi kita, saat kita minta kesabaran/kerendahan hati/hati yang dipenuhi Kasih, Tuhan akan menghadapkan kita dengan berbagai masalah/persoalan, dengan maksud supaya kitapun bisa mempraktekkan apa yang sudah kita minta. Tuhan tidak hanya memberikan sebatas yang diminta Salomo, yaitu hikmat untuk menimbang perkara, tapi Dia menambahkan apa yang tidak diminta Salomo. ”... dan juga apa yang tidak kau minta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan sepanjang umurmu…” [1 Raja 3:13]. Karena itu tidak perlu kawatir dengan apa yang kita butuhkan, karena Dia akan menambahkan apa yang tidak kita minta, ketika kita belajar untuk mengajukan permintaan yang lebih berkualitas kepada Nya.
Secara alamiah seorang ibu mengandung selama 9 bulan 10 hari bias juga kurang atau lebih. Selama hamil dia akan menderita, tidak bebas bergerak dengan perut yang membesar, sulit untuk tidur dengan normal, sering mual dan juga sering tidak mempunyai selera makan. Badan menjadi tambah berat sehingga cepat lelah. Pada waktu bersalin merasakan sakit yang tak terlukiskan. Di tengah penderitaan waktu hamil dan bersalin dia tidak pernah menyerah karena penderitaan yang dialami pasti hanya sementara. Penderitaan itu akan diganti dengan sukacita dengan lahirnya seorang bayi yang mungil dan memberi kebahagiaan bagi sang ibu dan keluarganya. Setiap makhluk di dunia termasuk orang Kristen bisa mengalami penderitaan yang datang silih berganti selama masih hidup dalam dunia. Seperti seorang ibu yang sakit waktu bersalin, anak Tuhan pantang menyerah bila penderitaan datang karena yakin bahwa penderitaan yang dialami saat ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang kelak akan didapatkan. Roh Kudus akan membantu sebagai perantara berdoa kepada Allah ketika kita tidak dapat berdoa karena beratnya beban. Dalam setiap penderitaan Allah ikut bekerja untuk mendatangkan kebaikan kepada kita. Yang harus dilakukan pada waktu ada masalah adalah tetap tekun dalam iman kepada-Nya. Kita tidak kebal terhadap masalah yang datang silih berganti dan mendatangkan penderitaan. Janganlah menyerah pada penderitaan tetapi tetaplah tekun dalam beribadah, berdoa, baca, renungkan dan lakukan Firman-Nya karena hal itu adalah bagian kita. Penderitaan ada masanya dan selama dalam penderitaan Roh Kudus akan memberi kekuatan. Dan dibalik setiap masalah pasti ada rencana Tuhan yang indah bagi kita. Ingatlah bahwa setiap penderitaan yang kita alami tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima.
Pak Petrus seorang aktivis pelayanan sebuah Gereja terserang penyakit kangker lever akut. Menurut diagnosis dokter usianya tinggal tiga bulan lagi. Namun karena kuasa mujizat Allah, pak Petrus dianugrahi Tuhan waktu 15 tahun lagi. Setelah dirinya sembuh dan mendapatkan kesempatan hidup selama 15 tahun, waktu tersebut tidak dia sia-siakan. Pak Petrus semakin giat melakukan pemberitaan Injil bagi jiwa-jiwa yang belum mengenal Tuhan Yesus. Selama periode 15 tahun pak Petrus berhasil memenangkan banyak jiwa-jiwa baru melalui kesaksian hidupnya sendiri. Sebagai orang percaya kita mempercayai ada kehidupan kekal setelah kematian. Kita juga meyakini bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali ke dunia untuk kedua kalinya. Kita juga yakin bahwa hidup kita di dunia ada batasnya. Oleh sebab itu renungan kita hari ini berbicara tentang bagaimana kita mempergunakan waktu yang tersisa dari kehidupan kita saat ini [ayat 2]. Kita juga belajar dari Mazmur 90:10 bahwa setiap kita mendapatkan jatah kehidupan antara 70-80 tahun. Berarti saat ini kita memiliki waktu yang tersisa dari kehidupan kita untuk berjaga-jaga dan mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memasuki kekekalan atau untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus kedua kalinya. Hal-hal apakah yang harus kita lakukan dengan sisa waktu yang tersedia saat ini ? Pertama, Bersikaplah militan terhadap dosa apapun yang menggodai diri kita untuk melakukannya [ayat 1-3]. Kita harus tegas berani bersikap melawan kuasa dosa yang mencoba menggoda diri kita. Tentu saja ini merupakan perjuangan hidup yang tidak mudah bagi kita. Karena selama bertahun-tahun kita sudah membiasakan diri untuk menuruti hawa nafsu dosa apalagi sekarang kita harus berhenti dari kebiasaan tersebut. Contoh, orang kecanduan rokok, pornografi, miras, berjudi akan sangat susah berhenti apabila dalam dirinya sendiri tidak ada tekad dan komitmen untuk berhenti dari kebiasaan buruk tersebut. Makanya ayat 2 berkata agar kita tidak menuruti kedagingan kita, tetapi menggunakan sisa waktu kita untuk melakukan kehendak Allah. Salah satu cara melakukan kehendak Allah kita harus berani sangkal diri dan pikul salib untuk mengikuti Tuhan Yesus Kristus. Kedua, Kuasailah dirimu supaya kita mampu melakukan kehendak Allah [ayat 7 – 11]. Untuk bisa hidup tenang, berdoa dan mengasihi seseorang dibutuhkan penguasaan diri. Terlebih untuk mengasihi dan berdoa bagi orang yang menjadi musuh kita, yang menyakiti hati kita, yang telah mengecewakan kita pada zaman ini. Dunia yang sedang bergejolak dan penuh persaingan serta permusuhan hanya dapat dimenangkan oleh pribadi-pribadi yang dapat menguasai diri. Tanpa penguasaan diri, kita akan terseret arus masuk kepusaran dunia yang penuh hawa nafsu saat ini. Oleh sebab itu pergunakanlah waktu yang tersisa untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang bernilai kekekalan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Tuhan Yesus Teguh Iman Dan Mengutus
14 April '18
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Berhenti Menjadi Gelas
07 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang