SEPEKAN TERAKHIR
  Senin, 19 Februari 2018   -HARI INI-
  Minggu, 18 Februari 2018
  Sabtu, 17 Februari 2018
  Jumat, 16 Februari 2018
  Kamis, 15 Februari 2018
  Rabu, 14 Februari 2018
  Selasa, 13 Februari 2018
POKOK RENUNGAN
Bila kita sedang mengalami persoalan hidup, jangan terlalu terfokus pada jalan keluarnya, tapi berfokuslah untuk menemukan bagian mana dari karakter kita yang hendak diubah oleh Roh Kudus supaya hidup kita makin berkenan kepada Bapa.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Manfaat Persoalan Hidup Bagi Orang Percaya
Manfaat Persoalan Hidup Bagi Orang Percaya
Kamis, 28 September 2017
Manfaat Persoalan Hidup Bagi Orang Percaya
Roma 8:28-29

Persoalan hidup adalah realitas yang tidak bisa dihindari oleh semua manusia karena kita hidup di bumi yang sudah terkutuk dan makin rusak [Kejadian 3:17-19, 2 Timotius 3:1-5]. Persoalan hidup yang banyak diperkarakan dan dianggap penting adalah masalah kesehatan, pendidikan, pekerjaan, keuangan, jodoh, keturunan, dll. Anugerah Keselamatan tidak membuat orang percaya kebal terhadap persoalan hidup. Sebetulnya Tuhan mengizinkan persoalan hidup dialami orang percaya justru untuk kebaikan mereka yang mengasihi-Nya supaya iman dan rohani bertumbuh dewasa.

Bapa yang maha adil mempunyai tatanan yang universal, yaitu “hukum tabur tuai” [Matius 5:45; Galatia 6:7-8]. Hukum ini terkait dengan tanggung jawab hidup manusia, termasuk orang percaya. Contoh, untuk sehat harus menjaga kebiasaan hidup sehat sejak usia dini [konsumsi makanan minuman sehat, olahraga, istirahat, pengendalian emosi]. Untuk bisa lulus jadi sarjana, mahasiswa harus rajin belajar, tidak memboroskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Untuk berhasil dalam pekerjaan, harus kerja keras, rajin, hemat dan memiliki perilaku/watak yang baik.

Menghadap...selengkapnya »
“…aku ki kurang sabar piye to jeng? Wes puluhan tahun dikecewak’ke, disakiti atiku….tak ampuni terus..,nek wong liyo mesti wes ora tahan ngadepi wong koyo de’en, tapi nek ngene terus, opo yo aku kudu sabar terus? Kudu ngampuni terus?, aku wes kesel… capek jeng, wes cukup kesabaranku, sabar kan yo ono bates’e to jeng…” Demikian curhatan seorang ibu kepada temannya dalam menghadapi suamianya. Mungkin kita pernah mengalami saat-saat seperti itu, jenuh dan capek ketika harus terus menerus bersabar dan mengampuni anggota keluarga ataupun teman yang tak henti-hentinya menguji kesabaran kita. Sebagai manusia yang tidak sempurna, naluri dan kedagingan kita tentu tidak selamanya terkontrol. Ada kalanya emosi kita terpancing untuk membalas setiap ketidak adilan yang kita terima. Ketika kita hanya memikirkan kedagingan, maka sudah pasti amarah, dendam dan membalas ketidak adilan menjadi hal yang wajar dilakukan, mengingat manusia tidak memiliki kekuatan untuk bisa bersabar dan mengampuni. Dan kata-kata “kesabaran ada batasnya, karena manusia lemah” menjadi permakluman bagi kita. Itulah standart kita, manusia yang penuh kelemahan. Tapi ternyata bukan itu yang diinginkan Tuhan dari umatNya. Dia ingin kita memiliki standart yang sama dengan Nya dalam hal mengampuni. Dalam Matius 18:21-22, Petrus mengajukan standart tujuh kali dalam mengampuni seseorang, tapi Tuhan Yesus menginginkan kita mengampuni seseorang tujuh puluh kali tujuh. Bukan hanya sampai disitu, bahkan Tuhan Yesus mengatakan bahwa Bapa di Sorga tidak akan mengampuni kita, apabila kita tidak mengampuni orang lain dengan segenap hati. Artinya selama manusia masih mempunyai hati, selama itu pula dia harus mengampuni sampai kedasar hati, sampai segenap hati. Artinya tidak ada celah untuk tidak mengampuni kepada siapapun. Wow…..berat sekali standart yang ditetapkan Tuhan buat kita, rasanya terlalu tinggi buat manusia yang sangat lemah ini. Tapi bagi Tuhan tidak ada hal yang mustahil. Roh kuduslah yang akan terus menerus mengingatkan kita untuk berusaha mencapai standart tinggi itu. Roh kudus yang akan selalu mengajar kita menghadapi ujian kesabaran yang serasa tak ada habisnya, sampai kita bisa memenuhi standart yang diberikan Tuhan bagi kita.
Waktu berjalan begitu cepat, bulan Januari telah lewat dan kita masuk ke bulan ke-2 tahun ini. Ada hati yang berbunga-bunga tapi ada juga hati yang kelabu, yang pasti tidak seorang pun dari kita tahu apa yang akan terjadi di hari-hari yang kan kita lalui. Hati kita dipenuhi banyak tanda tanya: Bisakah ? Mungkinkah ? Rasa kawatir dan takut sering menghantui hidup kita. Banyak ketidakpastian berkecamuk dalam pikiran dan hati kita. Namun satu hal yang harus kita tahu pasti bahwa Allah ada di pihak kita, jika Allah di pihak kita, siapakah lawan kita? Dalam janji Allah ini ada 3 hal yanag harus kita pahami. Pertama: Allah berada di pihak kita! Bagaimana kita mengetahui dengan pasti? Mempercayai-Nya dan berada dalam kehendak-Nya ? Bukankah di dalam Yesus Kristus kita dipilih dan ditentukan dari semula untuk menjadi menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Kita juga dipanggil-Nya, dibenarkan-Nya dan dimuliakan-Nya. Kedua: Allah memberikan kekuatan dan kemenangan kepada kita. Kepastian ini kita peroleh karena Ia telah memberikan Anak-Nya Yang Tunggal, Yesus Kristus sebagai anugerah terbesar dalam hidup kita. Itu artinya bahwa Ia juga akan memberikan hal-hal lainnya yang kita butuhkan [ayat 32]. Ketiga: Persekutuan kita dengan Allah tidak akan dapat dipisahkan oleh apapun juga dalam dunia ini. Kesulitan hidup bisa saja datang menghadang tetapi bersama Tuhan, siapa takut? [ayat 35]. Mari kita melangkahkan kaki kita menapaki hari-hari di depan kita dengan penuh percaya akan penyertaan-Nya yang kekal.
Keyakinan yang kokoh dalam Injil Roma 1:16-17 Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ’Orang benar akan hidup oleh iman.’ Kita tidak mungkin meyakinkan orang lain akan sesuatu yang kita sendiri tidak meyakininya. Misalnya kita merekomendasikan sejenis daun tertentu yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan suatu penyakit. Kalau kita belum mengalami sendiri khasiat penyembuhan daun itu, maka kita tidak mempunyai keyakinan untuk kita rekomendasikan pada orang lain. Paling kita hanya bisa berkata: ’Katanya daun ini berkhasiat untuk menyembuhkan. Tapi pastinya saya tidak tahu....’ Beda kalau kita sendiri mengalaminya. Kita akan berkata: ’Daun ini sangat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit ini. Buktinya saya sembuh karena daun ini.’ Demikian juga jika kita ingin meyakinkan orang lain akan kebenaran Injil Kristus, maka kita harus terlebih dahulu mengalami kebenaran dan kuasa Injil Kristus itu. Rasul Paulus sangat giat mengabarkan Injil karena dia mempunyai keyakinan yang kokoh kepada Injil. Dia meyakini bahwa Injil sanggup menyelamatkan orang berdosa, bahwa Injil sanggup mengubah hidup seseorang. Dia sangat meyakini kuasa Injil karena dia sendiri sudah mengalaminya. Hidupnya diubahkan oleh Injil Kristus. Dulunya dia adalah seorang yang menentang iman kepada Kristus, sehingga dia selalu benci dan menganiaya orang yang percaya kepada Kristus, tetapi sejak dia berjumpa dengan Yesus, dia berubah menjadi seorang yang giat memberitakan Injil Kristus. Melalui pelayanannya banyak orang menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Kalau seorang belum pernah mengalami kuasa Injil Kristus, maka tidak mungkin dia meyakini kuasa Injil. Maka kuncinya adalah mengalami terlebih dahulu. Sesudah mengalaminya, barulah dia dapat bercerita kepada orang lain tentang kuasa Injil itu. Kalau kita ingin menyelamatkan jiwa-jiwa yang terhilang, maka kita terlebih dahulu harus mengalami kuasa Injil. Setelah itu baru kita bisa mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil. Keyakinan itulah yang membuat kita giat membawa jiwa-jiwa kepada Kristus. Marilah kita merindukan pengalaman-pengalaman baru bersama dengan Tuhan Yesus. Tuhan memberkati kita. Pdt. Goenawan Susanto
Hidup dalam keharmonisan Roma 12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Sebuah paduan suara akan menghasilkan nyanyian yang merdu jika semua anggotanya saling menyesuaikan suara mereka. Semua jenis suara, baik sopran, alto, tenor dan bas, jika diselaraskan dengan baik akan menciptakan paduan suara yang indah. Apabila ada suara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah itu akan mengganggu paduan suara itu dan menciptakan suara sumbang atau disharmoni. Demikian juga tidak boleh ada suara yang terlalu keras atau menonjol. Seperti halnya dengan paduan suara demikianlah kehidupan kita di dalam komunitas, baik itu di masyarakat umum, gereja, atau bahkan komunitas apa saja. Agar hidup berkomunitas menjadi indah, maka setiap orang yang ada di dalam komunitas itu harus saling menyesuaikan dirinya dengan yang lain. Semuanya harus selaras dan seimbang sehingga terjadi sebuah harmoni. Jika ada yang ingin menonjol, berkuasa, bahkan mendominasi yang lainnya, maka akan terjadi disharmoni, dan kehidupan berkomunitas menjadi tidak bisa dinikmati. Agar tercipta sebuah paduan suara yang indah maka semua anggota harus berlatih dengan disiplin. Memang dibutuhkan latihan yang cukup keras, agar tidak menjadi paduan suara yang asal-asalan. Di dalam latihan itu semua anggota belajar menyelaraskan suaranya dengan yang lain. Suara yang salah, yang tidak sesuai dengan notasi, atau yang sumbang, yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, harus dikoreksi. Setiap anggota paduan suara harus siap dikoreksi. Jika tidak, maka dia akan mengganggu paduan suara itu. Demikian juga dalam kehidupan berkomunitas, kita perlu berlatih untuk menyelaraskan diri kita dengan yang lain. Kita harus mau dikoreksi. Memang pada waktu dikoreksi kita merasa tidak enak. Tetapi di situ akan kelihatan siapa yang sungguh-sungguh ingin hidupnya memuliakan Tuhan atau ingin menuruti kehendak hatinya sendiri. Kiranya Tuhan menolong kita sehingga dapat mewujudkan keharmonisan dalam hidup berkomunitas. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Siapa Takut !
01 Februari '18
Keyakinan Yang Kokoh Dalam Injil
21 Januari '18
Hambatan Menjadi Peluang
27 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang