SEPEKAN TERAKHIR
  Selasa, 12 Desember 2017   -HARI INI-
  Senin, 11 Desember 2017
  Minggu, 10 Desember 2017
  Sabtu, 09 Desember 2017
  Jumat, 08 Desember 2017
  Kamis, 07 Desember 2017
  Rabu, 06 Desember 2017
POKOK RENUNGAN
Bila kita sedang mengalami persoalan hidup, jangan terlalu terfokus pada jalan keluarnya, tapi berfokuslah untuk menemukan bagian mana dari karakter kita yang hendak diubah oleh Roh Kudus supaya hidup kita makin berkenan kepada Bapa.
DITULIS OLEH
Bp. Gunawan Laksmana
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Manfaat Persoalan Hidup Bagi Orang Percaya
Manfaat Persoalan Hidup Bagi Orang Percaya
Kamis, 28 September 2017
Manfaat Persoalan Hidup Bagi Orang Percaya
Roma 8:28-29

Persoalan hidup adalah realitas yang tidak bisa dihindari oleh semua manusia karena kita hidup di bumi yang sudah terkutuk dan makin rusak [Kejadian 3:17-19, 2 Timotius 3:1-5]. Persoalan hidup yang banyak diperkarakan dan dianggap penting adalah masalah kesehatan, pendidikan, pekerjaan, keuangan, jodoh, keturunan, dll. Anugerah Keselamatan tidak membuat orang percaya kebal terhadap persoalan hidup. Sebetulnya Tuhan mengizinkan persoalan hidup dialami orang percaya justru untuk kebaikan mereka yang mengasihi-Nya supaya iman dan rohani bertumbuh dewasa.

Bapa yang maha adil mempunyai tatanan yang universal, yaitu “hukum tabur tuai” [Matius 5:45; Galatia 6:7-8]. Hukum ini terkait dengan tanggung jawab hidup manusia, termasuk orang percaya. Contoh, untuk sehat harus menjaga kebiasaan hidup sehat sejak usia dini [konsumsi makanan minuman sehat, olahraga, istirahat, pengendalian emosi]. Untuk bisa lulus jadi sarjana, mahasiswa harus rajin belajar, tidak memboroskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Untuk berhasil dalam pekerjaan, harus kerja keras, rajin, hemat dan memiliki perilaku/watak yang baik.

Menghadap...selengkapnya »
Pada Olimpiade 2012 di London, ada pemandangan yang tak biasa di lintasan lari. Seorang pelari bernama Oscar Pistorius menarik perhatian penonton karena tidak memiliki kaki dan berlari menggunakan dua buah kaki palsu yang terbuat dari serat karbon. Walau tidak mendapat medali, dia mencatat waktu tercepat ke 13 dari 49 peserta. Ketika di Paralimpiade 2012 di London, dia mendapat medali emas di lari estafet 4 x 100 meter. Dia lahir tanpa tulang fibula [betis], sehingga pada usia 11 tahun kedua kakinya diamputasi sampai lutut. Di tengah kekurangan secara fisik dan kesulitan yang dihadapi, dia tekun untuk berlatih lari dengan kaki palsunya. Dia tekun dan disiplin dalam berlatih sesuai aturan-aturan yang diharuskan bagi pelari. Karena ketekunannya, dia berhasil menjadi juara pada usia 25 tahun. Setiap orang percaya harus meninggalkan beban dosa dan dengan tekun berlomba dalam kehidupan yang diwajibkan. Walaupun banyak rintangan dan kesulitan tetap harus dilakukan dengan mata yang tertuju kepada Kristus yang membawa iman kita kepada kesempurnaan. Dia yang mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib sebagai ganti sukacita yang disediakan bagi-Nya. Sekarang Dia duduk di sebelah kanan tahta Allah. Jangan kita menjadi lemah dan putus asa karena dalam pergumulan kita melawan dosa belum sampai mencucurkan darah. Sebagai manusia, masing-masing kita mempunyai kekurangan, tetapi tetaplah tekun dalam melatih diri untuk menang dalam perlombaaan hidup. Dalam menghadapi tantangan dibutuhkan ketekunan untuk mengalami Tuhan setiap hari melalui perenungan Firman-Nya. Di tengah kesulitan dan himpitan, tetaplah mata rohani kita tertuju kepada Kristus yang akan menyempurnakan iman kita. Jangan kita putus asa dan kehilangan iman di tengah penderitaan, ingatlah bahwa penderitaan kita belum sebanding dengan penderitaan-Nya.
Ibu berasal dari desa. Sempat mengenyam pendidikan di Semarang, lalu kembali lagi ke kampung halaman. Keluarga Ibu berasal dari Tiongkok, mamanya bahkan tak bisa berbahasa Indonesia. Mereka pun menganut adat istiadat dan kepercayaan masyarakat Tiongkok asli. Ketika Ibu menikah dan diboyong ke Jakarta, bisa dibayangkan betapa besar kejutan budaya yang dialami. Tinggal bersama ayah dan Ibu mertua yang berpendidikan Belanda dan beragama Kristen tentunya berbeda jauh dengan keluarga yang ada di desa. Namun Ibu selalu mengingat bahwa keluarga mertuanya tidak pernah memandang rendah kepadanya. Oma, Opa dan para tante saya selalu memperlakukan Ibu dengan baik. Opa saya memahami bahwa ibu saya kesepian. Jauh dari sanak keluarga dan harus menyesuaikan diri dengan keluarga besar yang baru tentu terasa berat. Untuk mengurangi beban perasaan Ibu, secara teratur Opa membawakan buku-buku yang menarik untuk dibaca. Opa juga mengutus seorang kerabat untuk menemani Ibu jalan-jalan dan sesekali makan di luar. Jika saya yang saat itu masih bayi jatuh sakit, Ibu dan Opa akan bergantian menggendong saya sepanjang malam. Padahal Opa masih harus bekerja dari pagi hingga petang. Bisa dibayangkan betapa lelahnya. Meskipun pernikahan Ibu akhirnya kandas di tengah jalan ... kenangan akan keluarga mertua yang sangat baik membuat Ibu tidak asing dengan nilai-nilai Kristiani. Padahal Ibu saat itu masih menganut keyakinan lain. Bahkan ketika saya yang sudah duduk di bangku SD bingung harus menulis apa di kolom agama, Ibu tidak memaksa saya mengikutinya. Saya diberi pilihan, boleh mengikuti agama Opa atau keyakinan Ibu. Dan saya memilih mengikuti keyakinan Opa. Ketika pada akhirnya Ibu menanggapi ajakan saya untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, saya yakin bahwa jauh sebelum itu, kesan yang sangat baik dari keluarga mertua Kristiani telah membuka jalan baginya untuk percaya. Kasih dan ketulusan yang diterima Ibu dari keluarga Opa telah mempersiapkan hatinya untuk menerima Yesus Kristus sang Juruselamat. Terpujilah nama Tuhan.
Hari Pengucapan Syukur adalah hari libur nasional yang diperingati di beberapa negara, di antaranya adalah Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Jepang, dll. Warga Amerika Serikat merayakannya pada Kamis keempat di bulan November, sedangkan warga Kanada merayakannya pada Senin kedua Oktober. Pada mulanya Thanksgiving merupakan peristiwa jamuan makan yang diadakan warga pendatang di Amerika Serikat sebagai ucapan syukur atas keberhasilan panen mereka. Jamuan makan di musim gugur yang berlangsung sampai tiga hari itu dihadiri pula oleh penduduk asli Amerika yang tinggal tak seberapa jauh dari tanah yang mereka tempati. Pada perkembangannya, peringatan Thanksgiving Day bergeser menjadi sekedar momen mudik bagi mereka yang merayakan. Dan buat sebagian orang yang terlalu sibuk untuk berkumpul dengan keluarga besar, Thanksgiving Day tak ubahnya seperti hari libur nasional biasa. Hari Pengucapan Syukur mulai kehilangan makna. Manusia memang mudah teralihkan. Mudah lupa. Banyak kemurahan yang diterima dari Tuhan, dianggap biasa. Sedikit kesusahan yang diijinkan terjadi, dianggap malapetaka. Berkali-kali dianugerahi belas kasihan, tidak sadar juga. Manusia memang gudangnya lupa. Tetapi umat kepunyaan Tuhan tidak boleh menyerah pada kecenderungan daging. Mari tetap mengingat semua kebaikan Tuhan; mari tetap mengucap syukur karena kasih setia-Nya tak berkesudahan. Biarlah setiap hari yang kita jalani menjadi hari pengucapan syukur.
Hati yang tenang Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang. Kehidupan kita dikendalikan oleh hati. Apakah kita sedang tertawa, atau sedang sedih , atau sedang marah ditentukan oleh bagaimana keadaan hati kita. Apakah kita sedang bersemangat menjalani hidup ini, ataukah sedang lesu tak bersemangat, juga ditentukan oleh keadaan hati kita. Kesehatan tubuh kita juga dipengaruhi oleh keadaan hati kita. Sebagaimana Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi hati yang iri membusukkan tulang. Firman Tuhan berkata: ’Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.’ [Amsal 4:23]. Oleh karena itu betapa pentingnya menjaga hati kita, agar selalu memancarkan kehidupan yang baik. Tetapi seringkali situasi di luar mempengaruhi bahkan mengendalikan keadaan hati kita. Misalnya tekanan-tekanan hidup, perkataan-perkataan yang negatif dari orang di sekitar kita, atau berita-berita tentang situasi politik atau ekonomi yang membuat kita kecil hati, semua itu seringkali merampas sukacita dan damai sejahtera dari dalam hati kita. Menjaga hati agar tetap tenang merupakan kunci dari hidup sehat dan bahagia. Hati yang tenang adalah hati yang selalu dekat dengan Tuhan. Di dalam dekat dengan Tuhan ada perlindungan yang sebenarnya. Itu bukan sekedar perasaan, tapi sungguh sebuah realitas. Firman Tuhan sendiri memberikan jaminan itu: ’Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.’ [Mazmur 62:2-3] Jemaat yang dikasihi Tuhan, jika Anda ingin hidup dengan sehat dan memiliki hati yang tenang, jalanilah hidup ini dengan mempercayai Tuhan. Sekalipun dalam hidup ini kita tidak bisa mengendalikan semuanya, tetapi jika kita selalu berada dekat dengan Tuhan, kita mendapatkan perlindungan dan hati kita akan merasa tenang. Tuhan memberkati. Pdt. Goenawan Susanto
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Penyangkalan Diri
29 November '17
Kejujuran Dan Kepercayaan
26 November '17
Hidup Bersama Mertua
14 November '17
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang