SEPEKAN TERAKHIR
  Minggu, 21 Januari 2018   -HARI INI-
  Sabtu, 20 Januari 2018
  Jumat, 19 Januari 2018
  Kamis, 18 Januari 2018
  Rabu, 17 Januari 2018
  Selasa, 16 Januari 2018
  Senin, 15 Januari 2018
POKOK RENUNGAN
Hidup bersama Tuhan Yesus berarti hidup yang memiliki harapan.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Manusia Yang Berpengharapan
Manusia Yang Berpengharapan
Jumat, 22 September 2017
Manusia Yang Berpengharapan
Amsal 23:18

Seorang pemuda yang sedang menyelesaikan pendidikan sarjana tentu berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuan yang dimilikinya. Ia terus berusaha mencari dan mendapatkan pekerjaan. Ia akan mencari peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Cita-cita semasa belajar seolah-olah akan segera didapatkan. Mimpi-mimpi ketika menjalani perkuliahan dalam angan sudah terbayang nyata. Ia memiliki harapan yang besar untuk masa depan yang gemilang. Harapan itu pasti sesuatu yang indah dan yang baik karena ada keyakinan pasti bisa meraihnya.

Kitab Amsal 23:18 memberitahu bahwa masa depan dan harapan yang baik itu tetap ada. Meskipun harus dengan perjuangan yang berat. Kadang masa depan yang diimpikan dan harapan yang indah selalu dibayangkan, namun untuk menggapainya membutuhkan kerja keras dan usaha, tentunya juga berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Kata demi kata dalam ayat ini mengandung makna yang dalam jikalau setiap kita merenungkan lebih dalam. Meskipun kadang kita kehilangan harapan, seakan-akan hidupnya tidak ada yang bisa diharapkan, namun Tuhan menyediakan harapan yang tid...selengkapnya »
Dalam sebuah film, drama, atau teater tentunya terdapat peran utama dan pemeran pendukung. Bahkan juga ada yang bekerja di balik layar untuk membantu menyukseskannya. Setiap peran dan bagian tentu bekerja sesuai dengan fungsinya supaya berjalan dengan lancar. Pemeran pendukung harus mendukung cerita supaya tokoh utama semakin nyata dan kelihatan kiprahnya. Demikian dengan yang bekerja di balik layar pasti mempersiapkan segala sesuatu sesuai dengan kebutuhan per bagian. Sehingga setiap peran menjalankan bagiannya supaya berjalan baik. Dan semuanya itu tentu selalu tertuju kepada sang tokoh utama sebagai pemegang peran yang penting. Dalam Yohanes 1:1-18 adalah Sang Firman yang menjadi manusia. Ia datang sebagai manusia untuk menyelamatkan manusia berdosa. Ia yang adalah Allah merelakan diri-Nya dan mengambil rupa menjadi hamba supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya mendapatkan terang yang ajaib. Sang Firman datang sebagai Terang untuk membawa manusia yang hidup di dalam kegelapan. Ketika Terang itu datang ke dunia, maka Terang itu akan bercahaya dan kegelapan tidak akan menang melawannya. Sang Firman tersebut menjadi tokoh utama di dalam dunia ini. Oleh sebab itu, Yohanes Pembaptis diutus untuk mendahului-Nya sebagai penunjuk jalan dan mempersiapkan akan kedatangan Sang Tokoh Utama. Selain mempersiapkan kedatangan Sang Firman, Yohanes Pembaptis juga memberikan kesaksian tentang Terang itu supaya nyatalah Terang itu sampai ke seluruh bumi. Jemaat terkasih, di akhir tahun ini mari kita menunjukkan identitas kehidupan kita sebagai anak-anak Allah. Kita memang bukan pemeran utama, tetapi kita adalah pendukung dari pemeran utama tersebut. Oleh karena itu, mari kita memberikan kesaksian tentang Sang Tokoh Utama atau Sang Firman itu kepada semua orang. Sehingga Sang Tokoh Utama menjadi semakin besar dan mahsyur ke seluruh bumi. Banyak orang yang hidup di dalam kegelapan akan menerima Terang dari Sang Firman.
Dihargai dan dipulihkan Yesaya 43:1, 4a [1] Tetapi sekarang, beginilah firman TUHAN yang menciptakan engkau, hai Yakub, yang membentuk engkau, hai Israel: ’Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku. [4] Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, ..... Satu minggu kita sudah menjalani tahun 2018. Di depan kita ada hari-hari yang penuh ketidakpastian. Firman Tuhan di atas memberi kita kekuatan agar kita tidak takut menjalani hari-hari di depan kita. Bangsa Israel pernah mengalami hari-hari yang penuh kesulitan, oleh karena kesalahan mereka sendiri. Mereka meninggalkan Tuhan dan berpaling kepada illah-illah lain. Maka Tuhan menyerahkan mereka kepada bangsa lain yang menindas mereka. Yerusalem dikepung oleh tentara Babel dan akhirnya jatuh ke tangan bangsa asing itu. Mereka ditawan dan diangkut ke negeri Babel dan di sana dipekerjakan sebagai budak. Dalam kondisi itu harga diri mereka terinjak-injak. Mereka dipermalukan dan dihina. ’Katanya punya Allah yang perkasa, kok kalah? Katanya umat pilihan dari segala bangsa, kok malah jadi budak?’ Mereka menjadi bangsa yang kehilangan harga diri. Martabat mereka direndahkan. Suatu penderitaan yang sangat memedihkan hati dialami oleh umat Allah. Allah mengutus nabi Yesaya untuk menyampaikan berita tentang kelepasan dan pemulihan. ’Biarpun harga dirimu telah jatuh, dan engkau merasa dirimu tak berharga, tetapi engkau tetap milik-Ku. Engkau tetap berharga dimataKu,’ kata Firman Tuhan. Bagi saudara yang merasa terhina, yang merasa harga dirinya sedang terinjak-injak, Tuhan sedang berbicara kepada saudara, bahwa engkau berharga di mata-Nya. Tuhan akan memulihkan keadaanmu. Jika engkau menyerahkan hidupmu kepada-Nya, Dia akan mengangkat engkau, sehingga engkau tidak akan lagi dipermalukan. Bacalah Yesaya 49:7, ’Beginilah firman TUHAN, Penebus Israel, Allahnya yang Mahakudus, kepada dia yang dihinakan orang, kepada dia yang dijijikkan bangsa-bangsa, kepada hamba penguasa-penguasa: ’Raja-raja akan melihat perbuatan-Ku, lalu bangkit memberi hormat, dan pembesar-pembesar akan sujud menyembah, oleh karena TUHAN yang setia oleh karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang memilih engkau.’ Pdt. Goenawan Susanto
Alkisah, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, sehingga dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat & menutupi peralatan kerjanya dengan kain, rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi tetangga ini senyumnya terasa tidak tulus. Pasti dia pencurinya. Besoknya, tetangganya bahkan terasa jadi ramah berlebihan karena biasanya jarang menyapa, kali ini menyempatkan berbasa-basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya dua hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin. Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan di laci dapur. Istrinya yg sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri & senyumnya juga tulus-tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri? Persepsi membentuk kenyataan, pikiran kita membentuk sudut pandang kita. Apa yang kita yakini akan semakin terlihat oleh kita sebagai kenyataan. Sebagai contoh, apapun yang dilakukan orang yang kita cintai adalah baik dan benar. Anak nakal dianggap lucu, kekasih pelit dianggap berhemat, orang cerewet dibilang perhatian, keras kepala dibilang berprinsip & makanan tidak enak dibilang bergizi. Hidup tidak pernah & tidak ada yang adil, tidak ada benar salah, kita ciptakan sudut pandang kita sendiri. Kita menemukan apa yang kita ingin temukan. Apa yang terlihat bukan kenyataan, kenyataan adalah siapa kita & bagaimana kita memandang semuanya itu. Pandangan kita berubah mengikuti perubahan jaman & keadaan. Firman Tuhan mengajarkan kepada kita orang percaya untuk memiliki pikiran yang benar dan objektif terhadap apapun. Terlebih ditahun yang baru kita jalani ini marilah kita melihat dan mengerjakan sesuatu dengan cara pandang yang benar dan mulia agar tidak terjadi kemunduran. Ada kehidupan yang lebih baik dan senantiasa melihat kejadian hidup dan orang lain dengan pengertian yang benar.
Damai dalam badai ???? Mana mungkin....! Yang ada takut, bingung, kalang kabut saat badai datang.... Tahun 2017 dengan segala kenangan manis & pahit telah kita tinggalkan. Termasuk di dalamnya badai kehidupan yang terkadang menerpa kita bahkan mungkin membuat kita trauma dan gentar menapaki hidup di tahun yang baru ini. Dari kehidupan Raja Daud yang sering menghadapi berbagai tantangan bak badai yang tiada henti, ada beberapa nasehat sang pemazmur agar kitapun dapat juga menghadapi badai kehidupan yang sewaktu-waktu Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan ini. 1. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang yang berbuat curang sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. [ayat 1,2] 2. Percayalah kepada Tuhan, lakukanlah yang baik; bergembiralah karena Tuhan serta serahkan hidup kepada Tuhan maka Tuhan akan memunculkan kebenaran kita seperti terang dan hak kita seperti siang. [ayat 3-6] 3. Tidak usah takut karena Tuhan menetapkan setiap langkah hidup kita yang berkenan kepada-Nya dan apabila Tuhan ijinkan kita jatuh tidak akan sampai tergeletak sebab Tuhan menopang tangan kita dan anak cucu kita tidak akan terlantar hidupnya. [ayat 23-25] 4. Nantikanlah Tuhan dan tetap ikuti jalan-Nya [ayat 34] 5. Hiduplah dengan tulus hati , jujur dan suka damai maka pasti ada masa depan dalam hidup kita.[ ayat 37] Dengan berbekal nasehat-nasehat pemazmur ini, mari kita mantap memasuki tahun 2018 !! Jika badai datang hadapi dengan damai yang dari Tuhan.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Masih Adakah ’Happy New Year’
11 Januari '18
Melupakan Yang Di Belakang
10 Januari '18
Demonstrasi Kasih Allah
08 Januari '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang