SEPEKAN TERAKHIR
  Jumat, 20 April 2018   -HARI INI-
  Kamis, 19 April 2018
  Rabu, 18 April 2018
  Selasa, 17 April 2018
  Senin, 16 April 2018
  Minggu, 15 April 2018
  Sabtu, 14 April 2018
POKOK RENUNGAN
Hidup bersama Tuhan Yesus berarti hidup yang memiliki harapan.
DITULIS OLEH
Sdr. Dwi Winarno
Kontributor
Renungan Lain oleh Penulis:
Home  »  Renungan  »  Manusia Yang Berpengharapan
Manusia Yang Berpengharapan
Jumat, 22 September 2017
Manusia Yang Berpengharapan
Amsal 23:18

Seorang pemuda yang sedang menyelesaikan pendidikan sarjana tentu berharap mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kemampuan yang dimilikinya. Ia terus berusaha mencari dan mendapatkan pekerjaan. Ia akan mencari peluang untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang tepat bagi dirinya. Cita-cita semasa belajar seolah-olah akan segera didapatkan. Mimpi-mimpi ketika menjalani perkuliahan dalam angan sudah terbayang nyata. Ia memiliki harapan yang besar untuk masa depan yang gemilang. Harapan itu pasti sesuatu yang indah dan yang baik karena ada keyakinan pasti bisa meraihnya.

Kitab Amsal 23:18 memberitahu bahwa masa depan dan harapan yang baik itu tetap ada. Meskipun harus dengan perjuangan yang berat. Kadang masa depan yang diimpikan dan harapan yang indah selalu dibayangkan, namun untuk menggapainya membutuhkan kerja keras dan usaha, tentunya juga berdoa dan berserah diri kepada Tuhan. Kata demi kata dalam ayat ini mengandung makna yang dalam jikalau setiap kita merenungkan lebih dalam. Meskipun kadang kita kehilangan harapan, seakan-akan hidupnya tidak ada yang bisa diharapkan, namun Tuhan menyediakan harapan yang tid...selengkapnya »
Pada saat Berlin Timur dan Barat berselisih pada tahun 1950-an, kedua negara dipisahkan oleh sebuah tembok raksasa yang dibangun oleh pihak dari Berlin Timur, Jerman Timur yang disokong oleh Uni Sovyet. Tembok Berlin didirikan pada tanggal 13 Agustus 1961 oleh pemerintahan komunis Jerman Timur di bawah pimpinan Walter Ulbricht. Kehidupan di kedua Berlin itu sangat jauh berbeda. Berlin Timur sangat miskin dan ketinggalan, sedangkan Berlin Barat makmur dan kaya. Kehidupan Berlin Barat yang demikian maju, rupanya menimbulkan iri hati mendalam dan kebencian penduduk Berlin Timur. Ada jurang kesejahteraan yang sangat jauh , bagaikan bumi dengan langit. Suatu hari warga Berlin Timur mengumpulkan tumpukan sampah, lalu dengan sengaja dibuang ke Berlin Barat dengan cara melemparkannya melewati tembok setinggi 3 meter berkawat duri yang menjadi pemisah kedua kota kembar itu. Hal itu sengaja mereka lakukan juga dimaksudkan sebagai upaya provokasi untuk memancing kemarahan warga Berlin Barat. Dengan cara ‘sederhana’ itu, mereka ingin memantik chaos [keributan] guna memperuncing konflik Blok Timur Rusia cs dengan blok Barat Amerika cs. Tapi, penduduk Berlin Barat ternyata tidak marah walaupun pada awalnya kaget melihat sampah-sampah busuk itu bertebaran di dekat tembok wilayah mereka. Reaksi warga Berlin Barat sungguh di luar dugaan pihak Berlin Timur. Warga Berlin Barat tidak membalas dengan melakukan hal yang sama [melempar balik sampah-sampah itu ke Berlin Timur]. Mereka justru mengumpulkan sejumlah makanan yang lezat lalu dilemparkan balik ke Berlin Timur dengan sebuah tulisan: “Terima kasih atas pemberiannya. Kami hanya bisa memberi apa yang kami miliki. Semoga bisa bermanfaat bagi kalian, saudara-saudaraku sebangsa.” Akibatnya, sungguh luar biasa! Penduduk Berlin Timur akhirnya merasa sangat malu karena setelah mereka melempari sampah ke seberang tembok, malah dikembalikan dalam bentuk makanan serta masih menganggap mereka saudara sebangsa. Semenjak saat itu, tak ada lagi sampah dan kotoran yang dibuang warga Berlin Timur ke Berlin Barat. Mereka takluk oleh kebaikan dan kebajikan warga Berlin Barat [Tembok Berlin akhirnya diruntuhkan pada tanggal 9 November 1989]. Mengubah kejahatan menjadi kebaikan bukanlah sesuatu yang asing bagi pengikut kristus sebab kristus Yesus sendiri telah melakukan dengan menanggung semua kutukan dan kebencian dengan kasiNya yang Agung dan besar. Sehingga jika dapat dikatakan untuk semua kejahatan dan permusuhan bisa diubah jika kita sebagai pengikut Kristus menerapkan hukum kasih, dan meneladankan hidupnya diantara masyarakat yang ada.
Pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu. Hari pertama dimulai hari Sabtu sore, Markus tampaknya menunjukkan bahwa para wanita itu selesai membeli rempah-rempah pada malam sebelumnya, dan datang ke kubur Yesus pada pagi hari sebelum ada orang lain di sana [Markus 16:1,2]. Pagi itu para perempuan melihat fakta batu penutup kubur telah terguling, bahkan mereka terkejut ketika melihat mayat Yesus sudah tidak ada. [Lukas 24:2,3]. Saat mereka termangu-mangu, tiba-tiba datang dua orang berdiri dekat mereka memakai pakaian berkilau-kilau. Kedua orang itu membawa kabar yang melebihi pemikiran perempuan-perempuan itu, bahwa Yesus telah bangkit dan mendahului mereka ke Galilea [Lukas 24:4-7]. Respon luar biasa perempuan-perempuan itu, mereka lari memberitakan semua itu kepada teman-temannya. Kebangkitan Kristus yang kita rayakan pada hari Paskah, memberi kita sukacita karena kemenangan iman itu terbukti. Seperti para perempuan itu setelah melihat fakta kubur kosong, mereka semakian percaya apa yang dijanjikanNya, ’...Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.’ [Markus 8:31]. Yesus telah bangkit dari kematianNya!. Hebatnya, kuasa kebangkitanNya itu didahului oleh tanda-tanda yang ajaib: terjadi gempa bumi yang dahsyat dan turunnya malaikat dari langit yang wajahnya bagaikan kilat dengan pakaian putih seperti salju [Matius 28:1-3]. KuburNya yang kosong membuktikan kuasaNya sangat hebat dan dahsyat. Maka dari itu setiap orang percaya tidak perlu takut dan ragu dalam mengiring Kristus. KebangkitanNya benar-benar memberi keyakinan dan kepastian akan jaminan keselamatan kekal bagi kita. Mari, jangan sia-siakan keselamatan yang telah kita terima ini karena keselamatan kekal itu hanya ada di dalam Yesus. Sangat memprihatinkan jika ada orang percaya yang rela meninggalkan iman Kristus demi mendapatkan pasangan hidup, jabatan atau kemewahan dunia ini. Rasul Paulus mengatakan,’Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.’ [1 Korintus 15:14]. Kristus telah bangkit! Tidak seharusnya kita menjalani hidup ini dengan ketakutan dan keraguan. Sebaliknya, mari kita tatap masa depan dengan kepala tegak karena kita memiliki Tuhan yang hidup. Beritakanlah kabar kesukaan ini kepada dunia!
Mengalami Tuhan yang bangkit Yohanes 20:24-29 Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: ’Kami telah melihat Tuhan!’ Tetapi Tomas berkata kepada mereka: ’Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.’ [ayat 25] Tomas tidak percaya bahwa Tuhan Yesus bangkit dan hidup. Sebelumnya murid-murid yang lain telah berjumpa dengan Yesus yang bangkit, tetapi waktu itu Tomas tidak ada bersama mereka. Tomas tidak mengalami Tuhan yang bangkit karena dia tidak ikut berkumpul bersama murid-murid yang lain. Tomas termasuk tipe orang yang sulit percaya sebelum melihat bukti. Dia menuntut bukti kebangkitan Yesus dengan cara meraba atau menyentuh dengan tangannya sendiri tubuh Yesus yang bangkit. Lalu Yesus menampakkan diri dan mempersilahkan Tomas mencucukkan jarinya ke dalam lobang bekas paku dan mencucukkan tangannya ke dalam lambung-Nya. Apa yang bisa kita pelajari dari peristiwa ini? Pertama, bahwa Tuhan Yesus yang bangkit itu adalah pribadi yang riil, nyata. Dia bukan sekedar ada dalam cerita atau dalam angan-angan para murid. Dia hadir secara nyata di tengah murid-murid-Nya. Dia menyatakan bahwa Dia tetap hidup dan berkuasa, seperti sebelum Dia mati di kayu salib. Dia juga tetap hidup sampai hari ini. Kita bisa mengalami kehadiran-Nya secara nyata pula. Kedua, Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di tengah persekutuan murid-murid-Nya, ketika mereka sedang berdoa bersama. Tomas ketinggalan menyaksikan Tuhan karena dia tidak ikut persekutuan mereka. Di sini kita melihat betapa pentingnya persekutuan orang percaya atau ibadah bersama. Tuhan Yesus hadir dan menyapa umat-Nya yang bersatu hati di dalam doa, sebab Dia sendiri pernah berkata: ’Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.’ [Matius 18:20]. Marilah kita merindukan kehadiran Tuhan yang bangkit di dalam hidup kita. Amin. Pdt. Goenawan Susanto
Seorang kusir koboy akan mengendalikan kudanya menuju ke sasaran sesuai dengan apa yang akan ditujunya. Demikian juga masalah hidup, setiap orang dikendalikan oleh apa yang ada dalam dirinya sesuai sasaran yang akan dicapainya. Hidup Paulus dikendalikan oleh ”panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” itulah sebabnya ia ingin sekalimengenal kuasa kebangkitan Yesus, ia rela menderita demi bersekutu dengan Yesus yang juga sudah menderita untuk dia. Bahkan Paulus menganggap segala sesuatu rugi tanpa pengenalan akan Yesus yang jauh lebih mulia dari apapun di dunia ini [ayat 8]. Sekarang apa yang mengendalikan hidup kita? Banyak orang yang hidupnya dikendalikan oleh sesuatu yang keliru sebagai contoh : 1.Dikendalikan oleh rasa bersalah: mereka dipermainkan oleh masa lalu, menghukum diri sendiri tanpa sadar bahkan melarikan diri dengan bersembunyi dalam hal-hal kenikmatan dunia [narkoba, diskotik, dugem dsb] 2.Dikendalikan oleh kemarahan dan kebencian: mereka gampang tersinggung, sensitif bahkan kalau marah sampai meledak-ledak tak terkendali sehingga menimbulkan kerugian dalam dirinya, orang lain dan lingkungan sekitarnya. 3.Dikendalikan oleh rasa takut: banyak hal yang dapat membuat kita takut, kuatir namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh rasa takut, kuatir maka tanpa sadar kita sudah membangun penjara bagi diri kita. 4.Dikendalikan oleh materialisme: uang, harta memang berguna namun ketika uang dan harta menjadi tujuan yang utama maka ia sudah terjebak di dalam materialisme, ketika sudah terjebak ia rela mengorbankan harkat dan harga diri itulah sebabnya ia akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya [korupsi, merampok, mencuri, prostitusi dsb]. 5.Dikendalikan oleh kebutuhan pengalaman: pengakuan memang sudah menjadi kebutuhan setiap orang namun jika hidup kita sudah dikendalikan oleh keinginan untuk selalu diakui, maka sesungguhnya kita sedang menggadaikan hidup kita kepada penilaian orang lain/dunia ini. Seperti pertanyaan yang di atas, apa yang mengendalikan hidup anda ? memang hidup harus memiliki tujuan, tanpa tujuan hidup tanpa arti. Apa tujuan hidup kita? yaitu sesuai dengan rencana dan kehendak Allah. Jangan gantikan hanya dengan kekayaan, keberhasilan, kemasyuran, kesenangan karena semua itu hanya sampingan bukan tujuan. Jika kita mengerti rencana dan kehendak Allah atas hidup kita maka kita sedang menuju kepada hidup yang berarti, terfokus, termotivasi dan menjadikan hidup ini menjadi lebih mudah untuk dijalani karena ada Tuhan Yesus Kristus yang menyertai kita. Amin.
BARCODE BBM CHANNELS
RENUNGAN HARIAN
Kebaikan Yang Terbalik
16 April '18
Mengasihi Tanpa Memandang Status
13 April '18
Swa Bhuwana Paksa
09 April '18
Copyright © 2012 All rights reserved. Designed and Developed by GIA Dr. Cipto Semarang